Pelangi di Ujung Senja
Bab 1 Merindu sekilas Bayang semu

Part 1 Merindu sekilas bayang semu Kadang aku rindu kembali ke masa lalu. Rindu meneguk secawan harap meski tak jua menghirap. Tentang sebuah hati yang tulus mencintai, tetapi hanya luka justru membersamai. Hingga harus kubeli duka yang kau pajang di laman hatimu. Kuat dan tak mengenal rapuh. Meski berjuta rasa kian melepuh, untuk memperpendek jarak agar tak menjauh. Akankah ada kata 'kita' atau itu hanya fatamorgana? Besar inginku untuk menggapainya, sungguh. Sekarang, tinggal aku yang harus menghabiskannya sendiri. Dalam perjamuanku bersama sunyi. Kini, senja tak lagi sama. Sebab hidup seolah tiada lagi bermakna dan aku hanya bisa memasrahkan bukan memaksakan. Segenap rasa cinta yang telah usai. Mungkin dalam hati, tetapi tidak dalam laci memori. 'Seandainya saja aku bisa menghentikan langkah waktu, maka akan kuhentikan detik ini juga dan akan kuputar kembali ke masa lalu yang penuh dengan kebahagiaan bersama Rizwan,' begitulah kiranya kata hati Maya yang saat itu sedang risau menantikan bergulirnya waktu. Perasaan dan hatinya diliputi kegundahan bagai disayat sembilu. Wajah cantik dan cerianya telah berubah muram, karena sejuta rasa kecewa tengah membelenggu akibat dari sebuah ketidakberdayaan dan membuatnya harus berpasrah pada keputusan tangan takdir. Setiap bahtera pasti akan menemukan dermaganya. Laut tak mungkin terpisah dari pantainya dan sepanjang apa pun aliran sungai pasti akan menuju muara. Meski ia telah menyerahkan hati pada seorang lelaki yang tak jarang membuatnya menangis di pelukan malam, tetapi rasa cintanya tak pernah pudar seperti rembulan yang enggan meninggalkan nabastala kala fajar perlahan menyingsing di ufuk timur. Malam merangkak menuju pada kepekatan. Diikuti bunyi dersik yang mengalun sendu, membuat hawa dingin kian terasa pilu, karena besok pagi ia harus menikah dengan lelaki pilihan keluarga. Reza. Lelaki berwajah tampan dan penuh perhatian itu sangat mencintainya. Hingga menyerahkan segenap hati dan jiwa hanya padanya. Menaruh harapan besar agar ia bisa mewujudkan mimpi dalam kenyataan dengan menjalani biduk rumah tangga bersama sang gadis pujaan penuh dengan limpahan cinta dan kasih sayang. Sedikitpun ia tidak menyadari, bahwa sebuah badai telah siap meluluh-lantakkan hingga membuatnya hancur berkeping-keping pada bahtera yang akan dikemudikannya nanti. Satu-satunya perasaan yang dimilki gadis itu untuknya hanya sebatas sebagai teman. Tidak lebih. Cinta sucinya telah diserahkan pada Rizwan. Lelaki yang sanggup menenggelamkan Maya pada kedalaman samudra cintanya. Namun, saat ini sepertinya garis nasib lebih berpihak pada Reza, sebab bahwa ia harus mengarungi bahtera kehidupan ini dengan lelaki kharismatik itu dengan rela ataupun terpaksa. Gadis berhidung mancung itu harus menerimanya sebagai seorang suami. Maya. Gadis cantik berpenampilan sederhana tetapi tetap anggun menawan seperti bunga daisy itu harus menerima nasib yang telah ditentukan sebab perjodohan. Semua karena janji yang telah disepakati oleh dua orang sahabat sejak duduk di bangku SMA. Baskoro--ayah Maya telah berhutang budi pada Syarif--almarhum ayah Reza yang telah memberikan bantuan uang untuk membayar biaya persalinan istrinya. Saat itu kondisi ekonomi Baskoro tengah terpuruk. Lalu, mereka bersepakat untuk menjodohkan anak-anaknya, jika keduanya mempunyai buah hati yang berbeda jenis kelamin. Rupanya Allah Swt mengijabah keinginan dua sahabat itu. Lahirlah Reza dan Maya. Mereka pun tumbuh dan berkembang secara bersama. Keakraban dua keluarga itu terjalin begitu mesra. Bahkan, lebih pantas disebut seperti saudara. Maya masih berdiri di samping jendela kamar dan sengaja membiarkan sepasang bulir bening dari kolam netranya deras mengalir, sederas langit menumpahkan air matanya ke bumi malam itu. Gadis berparas ayu itu bangkit dan melangkahkan kaki menuju jendela kamar yang tertutup rapat. Ia berdiri di samping jendela itu, lalu dengan perlahan dibuka dan disibakkan tirai yang menutupi. Sesaat kemudian ditengadahkan wajahnya ke atas, mata indah dengan bulu mata lentik itu menatap langit. Meski rinai menghalangi pandangan, tetapi ia masih dapat melihat dengan jelas wajah cantik sang rembulan dengan purnama sempurna. Tiba-tiba ia teringat, bahwa ini purnama ke tujuh saat seharusnya Rizwan datang menepati janji untuk menikahinya. Namun, sampai detik ini lelaki itu tak terdengar kabar beritanya. Ia bagai lenyap ditelan bumi. 🍃🍃🍃 Jam dinding yang sedang berdentang dua belas kali mengagetkan hati Maya. Setiap bunyi dentangannya seperti sebilah belati yang seakan mengiris-iris hati dan mengoyak pikiran gadis berparas lembut itu. Maya tertunduk lesu mengingat janji itu. Ia berjalan ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana. Menelungkupkan wajah ke dalam tumpukan bantal. Sedetik kemudian tampak merembas basah. Lelehan bulir hangat telah menyebar memenuhi permukaan bantal bersama suara isakan yang terdengar berat. Sebuah batu besar seolah sengaja dihimpitkan ke dada, hingga membuat jalan napasnya terasa sesak. Bahkan, malam ini telah memaksa netranya untuk tak sedetikpun dapat terpejam meski hanya sekejap. Berulang kali gadis berparas ayu itu bertanya dalam hati, 'Dimanakah Rizwan, bagaimana kedaan lelaki berwajah manis itu dan mungkinkah ia akan datang untuk memenuhi janji? Sebab tujuh purnama telah terlewati dengan perasaan nyeri di dada sebelah kiri. Masih mungkinkah harapannya itu akan terpenuhi? Entahlah ... ia benar-benar tak mampu berpikir lagi.' Perlahan ia bangun dari pembaringan dan hendak menyeka sisa airmata yang masih saja menggenangi pipi dengan membasuh air dari wastafel yang berada di ruang sebelah kamar mandi. Setelah selesai gadis itu memandang wajahnya yang kian menirus di pantulan cermin. Pandangannya mengarah ke lemari buku yang berada di sudut kamar. Seketika ia teringat dengan buku diary berwarna pink--hadiah dari Rizwan saat ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga tersimpan di salah satu laci lemari buku itu. Segera ia mengayunkan langkah masuk kembali ke kamar dan mengambilnya. Maya membuka diary itu dengan hati berdebar. Lembar demi lembar untaian kata yang terangkai dan tersusun indah menjadi kalimat seakan sanggup membuat kembali jiwanya menggelepar, karena benih cinta tumbuh begitu kuat mengakar. Di buku catatan harian itu tertulis semua kenangan indah, saat merajut hari-hari bersama Rizwan. Mereka bilang Carbonado adalah berlian hitam alami dari Brazil, dan itu berlian terbaik yang mereka punyai untuk saat ini. Rizwan menghabiskan hampir semua uang tabungannya selama ia bekerja untuk membelikan Maya cincin emas murni bertahtakan berlian itu. Di saat mereka menikmati kemewahan senja yang menawan dengan rona warna emasnya, diiringi debur ombak yang bergulung dan berkejaran di pinggir pantai, Rizwan memberikan sekotak beludru berwarna merah hati pada Maya. Lalu, gadis berkulit putih itu perlahan membukanya dan menemukan sebentuk cincin emas murni bertahtakan berlian hitam, modelnya sederhana dan elegan. Meski Maya tidak pernah tertarik pada perhiasan, karena hampir tidak pernah memakainya, tetapi Rizwan seringkali memberi Maya kejutan, membuatkan perhiasan dari bunga daisy yang dirangkai menjadi cincin, gelang, atau bahkan dijalin sedemikian rupa membentuk tiara. "Bunga daisy ini mirip sepertimu, Maya, sederhana dan menawan." Lelaki berwajah manis itu menyelipkan bunga daisy ke telinga Maya, lalu tersenyum. Seperti ensiklopedia berjalan, Rizwan akan menjelaskan panjang lebar pada Maya. "Kau lihat kelopaknya yang berwarna putih? Dan yang di tengah itu berwarna kuning berbentuk seperti mata? Sebenarnya daisy adalah dua bunga yang tumbuh menjadi satu. Seperti kau dan aku, indah, ya?" Rizwan selalu pandai membuat gadis itu tersipu. "Kau tahu, nama daisy berasal dari Bahasa Inggris kuno Daes Eag yang artinya mata sebuah hari, karena bunga ini mekar saat siang dan kembali kuncup di malam hari." Rizwan kembali menatap Maya sambil tersenyum-senyum, "Sepertimu yang membuatku bersemangat melewati siang dan menenangkan saat diingat ketika malam menjelang." Lagi, Maya salah tingkah. Malu. "Hebatnya lagi, ekstrak daisy bisa menjadi obat, kaya akan vitamin C, memiliki kemampuan meredakan batuk dan gangguan pencernaan, bahkan meredakan rasa sakit setelah pembedahan … sepertimu …." Rizwan menoel ujung hidung Maya. "Bersamamu hilang keletihan badan dan penatnya pikiran." "Sudah, sudah … kalau perkataanmu itu makanan, sudah pasti membuatku kekenyangan karena dirayu habis-habisan." Maya tertawa sambil menatap cincin yang terbuat dari rangkaian bunga daisy itu. Rizwan tertawa tergelak. Kenangan itu selalu membekas dalam hati dan pikiran Maya. Tertuang berupa rangkaian aksara yang tersusun rapi hingga membentuk seperti sepenggal kisah yang sempurna di buku diary. Setiap kali membacanya setiap kali pula rindu menyergap dengan pongah meraja dan mengusik jiwa hingga Maya selalu ingin mengulang kembali masa indah itu. Ditambah sebuah syair telah Rizwan tuliskan tanpa sepengetahuan darinya, karena buku harian itu sempat menghilang dua hari. Maya dibuatnya kelabakan, karena ia merasakan separuh jiwanya seperti melayang. Ya ... buku diary itu tidak hanya sebagai catatan biasa, tetapi lebih seperti oksigen yang dibutuhkan setiap saat bagi tubuh agar bisa hidup dan bernapas. Namun, di suatu hari mendadak buku diary itu telah berada kembali di kamarnya dengan setangkai bunga mawar merah segar berada di atas meja tulis. Rupanya Rizwan sengaja mengambilnya. Sebuah syair dipersembahkan hanya untuknya dan setiap kali rindu datang menyergap ia akan membacanya secara berulang -ulang, karena syair itu merupakan ungkapan dan janji cinta Rizwan. Masihkah kau bertanya? Tentang aku Tentang kamu Tentang kita Dan arti dari hubungan ini? Sedangkan kau telah .... Menyematkanku di hatimu Mengerti, bahwa cinta ini hanya milikmu Dan menjadikanku milikmu selamanya Namun, mengapa masih ada keraguan dihatimu? Bukankah kau ... Telah memahami diriku seutuhnya Kau adalah cahaya dalam gelapku Pesona dalam rinduku Dan keharuman bunga surgaku Bahkan, bintang pun telah berbisik bahwa kau adalah rembulan dalam hidupku Langit dan matahari bersedia menjadi saks sertai tersenyum seolah membenarkan itu Sedangkan cakrawala membentangkan tangannya yang tak bertepi Dengan menghadirkan keindahan warna pelangi cintanya Untukmu 🍃🍃🍃 Sesaat kemudian ditutupnya buku catatan harian itu, diusap dengan penuh perasaan yang remuk redam dan dipeluk erat seraya ditempelkan ke dada. Sepasang bulir hangat dari kolam.netra kembali menggelinding cepat dan jatuh membasahi dagu. Lalu, ditutupnya buku diary warna pink itu dan direbahkannya lagi tubuh yang serasa lemah lunglai ke atas tempat tidur. Mata indah dengan bulu mata lentik itu dengan pandangan sayu menatap langit-langit kamar. Sebuah bayangan telah jelas tergambar. Cinta pertamanya harus kandas, justru di kala rembulan memendarkan cahaya berkilau keperakan membuat wajah bumi yang gelap kembali bersinar. Namun, ia seolah tak tersentuh oleh pancaran itu, sebab bayangan maya telah menutupi. Kelelahan jiwa akibat rasa sedih yang datang mendera membuat kedua netranya tanpa sadar terpejam. Tak terasa hari sudah pagi. Sinar mentari yang hangat menerobos masuk ke celah-celah kaca jendela diikuti embusan angin membuat tirai tipis berkibar-kibar. Maya terbangun, kala sapuan lembut cahaya mentari pagi menerpa wajah cantiknya. Gadis itu menggeliat, mengerjap dan mengusap-usap netranya. Ia pun segera bangkit dari tempat tidur kala terdengar pintu kamarnya ada yang mengetuk. "Maya bangun dan buka pintunya," titah suara lembut dari seorang perempuan paruh baya yang telah berdiri di depan pintu kamar. Bersambung

Bab 2 Tante Sukma

Tante Sukma Di antara perjumpaan dan perpisahan kita pernah berjuang menyatukan beragam perbedaan sekuat tenaga, tak terkecuali karakter dan ego yang saling bertarung, hingga cinta yang pada akhirnya memutuskan, apakah menyerah atau tetap mempertahankannya? Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda dari usianya telah berdiri di depan pintu kamar Maya. Wanita berparas ayu dengan tutur kata lembut itu telah mengasuhnya. Memberinya limpahan kasih sayang dan segenap perhatian pada gadis cantik itu. Dia adalah Sukma--Tante Maya adik dari ayahnya yang bernama Baskoro. Dia yang merawat Maya sekaligus berperan sebagai ibu, sejak Wulan meninggal. Saat itu Maya berusia tiga tahun. Seorang anak kecil yang malang. Namun, Sukma telah membesarkannya dengan limpahan kasih sayang dan perhatian yang besar, hingga gadis kecil berpipi chubby itu tak pernah merasa kekurangan cinta seorang ibu. Bahkan, wanita bertubuh langsing dengan tinggi sempai itu telah menganggapnya seperti anak kandung. "Sebentar Tante." Suara Maya menyahut dari dalam kamar dan melangkah membukakan pintu. Di hadapannya Sukma telah siap dengan membawa seorang perias. Lalu, keduanya bergegas masuk ke kamar Maya. Beberapa saat kemudian Sukma berucap sambil memegang lengan Maya dan menatapnya dalam, "Maya, segera bersihkan badanmu dan bersiap untuk dirias. Sebentar lagi keluarga Reza, penghulu dan para tamu undangan akan datang. Hari ini kau akan menikah. Aku ingin hari ini kau harus terlihat lebih cantik dari biasanya dan Reza akan terpesona karenanya, hingga ia tak akan mengalihkan pandangan walau sedetik pun. Doaku, semoga kalian hidup berbahagia selamanya. Dan segera beri aku seorang cucu yang wajahnya secantik dirimu atau setampan Reza." Maya hanya diam, lalu mengeratkan pelukan. Ia tak mau rasa sedih yang tengah dirasakannya saat ini diketahui Sukma. "Hei ... ada apa ini? Apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku, Maya?" tanya Sukma penuh selidik. Wanita itu sangat tahu dengan perubahan sikap ataupun gestur tubuh Maya, jika ada sesuatu yang dirasa tak beres oleh gadis itu. Tiba-tiba punggung tangan Sukma terasa hangat, karena sepasang bulir bening telah membasahinya. "Mengapa kau menangis? Apa kau tidak bahagia dengan pernikahan ini? Katakanlah! Sebelum semuanya terlambat." Sukma merenggangkan pelukan Maya dan menatapnya dengan intens. "I-ini tangis bahagia sekaligus kesedihan, Tante. Karena sebentar lagi aku tidak bisa tinggal di sini lagi," jawab Maya sembari memaksakan menyunggingkan senyum ke arah Sukma. "Tapi bukan berarti kau tidak bisa mengunjungiku, 'kan? Rumah ini selalu terbuka untukmu, Maya," balas Sukma meyakinkan. Maya tersenyum dan sekejap kemudian melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sukma merapikan kamar Maya yang berantakan, ia merasa sedikit heran, karena tidak biasanya kamar Maya seperti itu. Si perias ia persilahkan duduk di kursi dan segera mempersiapkan semua peralatan make-upnya. Setelah kamar Maya terlihat rapi, terdengarlah pintu kamar mandi dibuka. Perlahan dengan langkah gontai gadis cantik berbulu mata lentik itu menuju meja rias. Wajahnya kini terlihat lebih segar dan badannya berbau harum. Sukma memegang kedua lengan Maya, lalu menuntun dan mendudukkannya di atas kursi di depan meja rias. Si perias pun dengan cekatan segera merias Maya. Sukma dengan sabar menemani dan menungguinya. Ia ingin hari itu Maya tampil cantik dan memesona. Jujur, di dalam lubuk hati Sukma sebenarnya ia merasa sedih harus melepas Maya. Terlebih lagi ia sangat menyayangi keponakannya itu. "Sukma ...." panggil Baskoro yang tengah berdiri di ruang keluarga, dimana kamar Maya terhubung langsung dengan ruangan itu. "Ya, Mas," jawab Sukma sambil melangkah keluar kamar menemui Baskoro. "Apa Maya sudah siap? Sudah pukul 8.30 dan penghulu sudah datang. Begitu juga dengan sebagian tamu. Sedangkan tiga puluh menit lagi Reza dan keluarga besarnya akan tiba," kata Baskoro dengan tidak tenang. "Sabar dan tenang, Mas! Lima menit lagi make-up Maya selesai, tinggal merapikan saja. Sudah sana, Mas temui saja para tamu! Aku akan menjemput Maya," jawab Sukma menenangkan kekhawatiran kakaknya. Baskoro mengangguk dan menuju ke halaman depan yang tampak indah dengan hiasan dominan warna putih dan bergaya klasik, tetapi kesan sakral begitu kentara. Di tempat itu acara ijab qobul putrinya akan dilangsungkan. Beberapa menit kemudian tampak rombongan dari keluarga Reza sudah datang dan ia pun menyambut dengan penuh kehangatan. Sukma kembali ke kamar dan dilihatnya Maya yang sudah selesai dirias masih duduk di kursi dengan mematut diri di depan cermin. "Cantik sekali kau hari ini Maya ... hmmm Reza pasti akan terpesona dengan kecantikanmu ini dan aku yakin pandangannya tak akan beralih sedetik pun ke arah yang lain," pujinya sembari meletakkan tangannya di bahu Maya. Sukma benar-benar mengagumi kecantikan keponakan kesayangannya itu. Perias itupun juga ikut memuji kecantikan Maya dengan berucap seraya memberi selamat, "Sungguh beruntung Mas Reza bisa menyuntingmu, Mbak Maya dan Selamat menempuh hidup baru, Semoga kalian berdua bahagia selamanya." Maya membalas ucapan dari si perias dengan senyuman hambar. Ia hanya memberikan pelukan dan tak membalas ucapan selamat darinya. Lalu, ia bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Gadis cantik itu bergeming. Tak sedikit pun rona kebahagiaan terpancar dari air mukanya. Sukma bergegas menghampiri perias itu yang tengah sibuk memasukkan peralatan make- upnya ke dalam koper rias berukuran sedang. Lalu, mengucapkan terima kasih. Beberapa saat kemudian perias itu segera berlalu dari kamar Maya. Hening. Suasana mendadak berubah menjadi senyap. Maya bergelut dengan pikirannya. Sukma yang sedari tadi memperhatikan dan mengetahui sebabnya, lalu menarik kursi dan dudk di hadapan Maya. "Kau masih mengharapkan kedatangannya?" tanya Sukma memecah keheningan. "Ya, Tante. Bahkan aku sangat berharap dengan kedatangannya, karena ia telah berjanji padaku." "Janji? Kalau Rizwan menepati janji, seharusnya satu bulan yang lalu ia sudah datang dan menikahimu hari ini. Bukankah ayahmu sudah cukup memberinya waktu? Tapi sampai detik ini, tak terdengar kabar beritanya. Kamu harusnya bersyukur kepada Allah Swt, Maya. Karena Dia masih mau memberikan pertolongan pada keluarga kita dari rasa malu yang sangat besar dengan mengirim Reza untuk menyelamatkan kehormatan keluarga ini. Selain tampan, berpendikkan tinggi, berwawasan luas, punya masa depan yang gemilang dan berasal dari keluarga kaya yang terhormat. Terlebih ia sangat mencintaimu sejak kalian masih duduk di bangku kuliah." "Tapi aku tidak mencintainya ... bagaimana bisa aku menjalani pernikahan ini dengan menjadi istrinya, Tante? Sedangkan hati dan cintaku hanya untuk Rizwan," jelas Maya dengan nada sangat kecewa. Lalu katanya lagi, "Aku menganggap Reza hanya sebagai teman dan itulah bentuk hubungan yang hanya aku bisa berikan padanya." Sukma menatap lekat pada Maya seraya menghela napas panjang dan menegembuskannya perlahan. Beban berat seolah menghimpit dadanya hingga jalan oksigen terasa terhambat. Namun, ia tak berhenti berusaha meyakinkan gadis itu. Sekeras apapun batu bila air terus mengguyurnya, lama kelamaan akan berlubang juga. Sebuah ungkapan yang memberinya kekuatan untuk menggoyahkan keteguhan hati Maya. "Maya, kau tau ... lebih baik dicintai daripada mencintai, karena itu akan memberikan kebagiaan yang sesungguhnya dalam hidup. Mencintai tak jarang sering dilukai dan dikecewakan serta harus banyak menelan pil kepahitan. Aku tidak akan membiarkan pengalaman buruk masa laluku akan terulang kembali padamu." "Aku telah tenggelam ke dasar samudera cinta Rizwan, Tante. Dan rasanya sulit untuk kembali bangkit," sanggah Maya dengan netra berkaca-kaca. "Kau bukan tenggelam, tapi sengaja menenggelamkan rasa cintamu berdiam di sana. Tanpa ada kemauan sedikitpun untuk meraih permukaan, Maya," kilah Sukma berusaha membangkitkan semangat hidupnya. Maya menatap Sukma dalam-dalam, ia tahu apa yang dimaksud tantenya itu. Sukma adalah salah satu korban dari rasa 'Mencintai' itu. Ia telah banyak dikecewakan dan nasibnya tidak beruntung untuk mendapatkan cinta Arga, karena lelaki itu telah mengkhianatinya dengan menikahi Freya--sahabat Sukma sejak di bangku SMA, hingga ia patah hati dan sempat ingin bunuh diri, hingga seorang psikiater berhasil menyembuhkannya. Sejak saat itu Sukma memutuskan tidak menikah sampai kapan pun. Perempuan paruh baya itu lebih memilih mengabdikan hidupnya untuk membesarkan, merawat dan mendidik Maya. Apalagi ia sudah tak beribu. Berkat pengertian yang telah Sukma berikan membuat Maya tersadar dan sedikit demi sedikit gadis berparas ayu itu berusaha berdamai dengan perasaan serta masa lalunya. Sesaat kemudian ia kembali melontarkan pertanyaan pada Sukma, "Tante bolehkah aku bertanya satu hal lagi yang kuanggap penting, karena selalu menjadi pertanyaan yang mengganjal di dalam hati sekaligus benakku." Sukma menggenggam tangan Maya, lalu bertanya, "Apa itu?" "Mengapa kita--para gadis harus selalu meninggalkan rumah dan kampung halaman tercinta, tempat kita dibesarkan dan merasakan curahan kasih sayang dari keluarga untuk hidup bersama dengan keluarga suami atau rumah sendiri yang lingkungan dan orang-orangnya baru kita kenal?" "Maya, itu sudah menjadi kodrat seorang gadis. Jika ia telah menikah, maka harus meninggalkan rumah serta kampung halaman tercinta untuk mengikuti suami. Mengabdi adalah kewajiban mutlak sebagai seorang istri, menjaga diri dan kehormatan keluarganya adalah tanggung jawab terbesar dari para istri. Lalu, melahirkan, membesarkan dan mendidik anak-anak dengan limpahan kasih sayang serta perhatian termasuk tugas utama kita sebagai seorang ibu sekaligus orang tua. Kelak jika mereka dewasa, kita pun akan ditinggalkan oleh mereka dan begitu seterusnya. Itulah 'Kehidupan' yang akan terus berputar dan harus kita jalani seperti mata rantai yang tiada terputus." Kini Maya mengerti dan memeluk Sukma. Ia merasa beruntung meiliki tante seperti dirinya, selain sayang, ia juga penuh perhatian hingga Maya merasa tidak kekurangan sedikitpun kasih sayang dari seorang ibu, walau ia tak pernah melihat wajah atau pun merasakan dekapan hangat dari ibu kandungnya sendiri, karena Tuhan telah memanggilnya lebih dulu, ketika ia masih kecil. Mereka saling tersenyum dan berpelukan. Bersambung

Bab 3 Tragedi di Pernikahan

#Day03 #30HariMenulisNovelBatch3 Tragedi di Pernikahan Tak seorang pun tahu jalan hidup yang harus ditempuh, karena takdir juga tak mengenal kata keluh. Meski rindu hingga melepuh dan cinta mengharapkan jarak yang tak ingin menjauh, tetapi apalah daya, jika sauh tak mempunyai kayuh. Akankah ia kan dapat berlabuh? Sebab hujan telah melemparkannya tak lagi utuh. Ada sedikit rasa lega di hati Maya setelah Sukma berhasil memberinya support dan meyakinkan perasaannya. Kemudian mereka saling melepaskan pelukan dan berdiri menatap. Gurat ketenangan terpancar dari air muka gadis itu. Membuat rasa gelisah di hati wanita paruh baya berkulit putih itu telah berkurang. Tak lama kemudian Sukma berkata, "Kau harus siap dan membuang jauh impianmu hidup bersama Rizwan. Janganlah melihat mimpi dengan mata terbuka, karena saat mata terbuka mimpi yang kau lihat akan sirna. Hadapi dan lihatlah kenyataan yang ada serta sambut masa depan cerah yang diipersembahkan Reza hanya untukmu!" "Apakah aku mampu untuk mencintainya, Tante ?" tanya Maya dengan tertunduk lesu. Seandainya ia bisa memilih, tentu membatalkan pernikahannya dengan Reza adalah hal terbaik yang selalu diinginkannya, karena saat ini yang terlihat dari sorot netra lembutnya itu hanya kegelapan. Maya seolah sengaja bersembunyi di balik pekatnya belantara sunyi. Membuat paras cantik yang biasanya berseri itu terlihat muram. Bahkan, suram, karena sinar matahari terjatuh pada seraut bayang yang tampak merapuh hingga pada akhirnya nanti akan meluruh. "Aku yakin kau mampu, asal ada kemauan untuk memberi Reza kesempatan. Tidak ada yang mustahil. Dan setiap usaha tidak akan mengkhianati hasil." "Benarkah, karena aku sendiri tidak begitu yakin pada diriku sendiri, Tante," jawab Maya diliputi perasaan gamang. Jujur, saat ini ia merasakan bimbang. "Bukalah sedikit hatimu dan biarkan setitik demi setitik embun cinta Reza membasahi keringnya hatimu pada dirinya. Rasakanlah kemurnian dan kesejukan embun cintanya! Pelan, tetapi pasti kau akan merasakan keajaibannya, hingga kau pun akan berpasrah pada ketulusan cinta Reza. Bila saat itu tiba biarlah waktu yang akan menjabarkan semua itu," balas Sukma sembari menatapnya lekat. "Haruskah aku memercayai takdir, bahwa nama Rizwan memang tidak tertulis pada garis nasib di tangan dan lembar kehidupanku?" ucap Maya terbata disertai mata berkaca- kaca. Sukma menghampiri dan mengelus lembut pipi Maya, ia tak akan membiarkan buliran bening yang sudah bermuara di kedua netra gadis itu lolos begitu saja. Lalu, dengan tenang wanita paruh baya yang bertubuh langsing itu berkata, "Mungkin saja dalam takdirmu tertulis nama Reza dan mungkin ia memang pilihan terbaik dari Allah Swt. Sebagai seorang manusia, kita hanya bisa menjalani ketentuan mutlak-Nya tanpa tahu rahasia dibalik semua itu. Tapi yang pasti Dia lebih mengerti apa yang terbaik bagi hambanya." Maya yang belum beranjak dari tempat duduk, segera memeluk erat pinggang ramping Sukma sembari berucap, "Doakan aku Tante, agar aku bisa bahagia menjalani kehidupan ini bersama Reza ", Sukma melepaskan pelukan Maya. Mengangkat kedua lengannya agar berdiri seraya mendoakan, "Doaku selalu menyertaimu, Semoga kalian dilimpahi kebahagiaan." Perlahan wanita paruh baya itu mendaratkan ciuman ke kening Maya. "Sekarang, bisakah kita keluar dari kamar ini dan menuju ke tempat ijab qobul? Semua sudah menunggumu," pintanya pada Maya dengan tatapan sendu. "Baiklah Tante!" jawabnya sembari mengangguk pelan. Lalu, keduanya bergegas meninggalkan kamar dan melangkahkan kaki ke tempat yang telah disiapkan untuk ijab qobul. Reza yang sedari tadi gelisah menanti kedatangan calon istrinya, seketika berubah. Wajah tampannya terlihat berseri-seri kala melihat Maya berjalan menuju ke arahnya. Lelaki rupawan itu tak pernah melepaskan pandangan ke arah mana pun selain pada gadis itu. Ia benar-benar terkesima dengan penampilan dan keanggunan Maya. Membuat gadis cantik itu merasa rikuh kala harus duduk di samping Reza. Lelaki jangkung itu sungguh terkesima dengan kecantikan calon istrinya. Maya terlihat lebih cantik dari biasanya. Saat pandangan mereka bertemu, mendadak degup jantungnya berdetak kian tak menentu diikuti iris coklatnya yang tak berkedip kala menatap dan mengagumi kecantikan gadis itu. Sungguh Maha Karya yang terlihat begitu sempurna telah Allah Swt ciptakan untuknya. Reza seakan tak percaya, gadis yang dicintainya secara diam-diam sejak di bangku SMA itu, sebentar lagi akan menjadi istrinya. Apalagi mereka kini telah duduk bersanding berdua dengan disaksikan puluhan pasang mata yang tertuju padanya tengah menghadap penghulu dan bersiap melaksanakan ijab qobul. Tak ayal degup di dada kembali berulah. Kali ini debarannya lebih kencang sampai tak terukur lagi, hingga tanpa sadar tangan kanannya bergetar seperti terkena sengatan arus listrik lemah. Beruntung tak ada yang melihat dan ia pun segera menyembunyikan tangannya itu dibalik saku celana hitam. Reza benar-benar telah dibuat mabuk kepayang oleh pesona kecantikan gadis itu, hingga menyerahkan seluruh jiwa dan raga hanya untuknya serta bertekad untuk selalu membahagiakan Maya. Cinta memang tak bermata, apalagi terjatuh pada hati yang tengah menggila, hingga fatamorgana tampak seperti nyata. Namun, saat fakta menyingkap kebenarannya, masih adakah singgasana tanpa mahkota itu akan tetap bertahta? Atau hanya tinggal puing-puing lara yang justru membenamkannya ke dalam samudera luka. Jalan takdir memang begitu rumit. Membuat hidup menjadi sulit, meski cinta telah ditempuh dengan segenap rasa yang membukit. Mungkin jalan terbaik adalah pamit agar duka tak lagi pedih menghimpit. Garis nasib memang mempunyai cara tersendiri berbicara pada manusia. Ia sulit untuk dimengerti ataupun dipahami, karena semua itu tergantung pada Kuasa Illahi, hingga tak seorang pun tahu apa yang akan berlaku atas dirinya nanti. Seperti kata pepatah 'Manusia hanya bisa merencanakan dan keputusan berada di tangan Allah SWT.' Ketentuan dan keputusan-Nya berlaku mutlak tanpa bisa seorang pun yang bisa berkata tidak. 🍃🍃🍃 Suasana tampak hening dan khidmat saat prosesi ijab qobul dimulai. "Bisa kita mulai acara ijab qobulnya, Pak Bas?" tanya Penghulu yang duduk berhadapan dengan Baskoro dan kedua calon mempelai. "Ya Pak Penghulu. Silahkan ...!" jawab lelaki setengah baya yang masih terlihat awet muda itu. Meski uban telah merata bertebaran di rambut dan kumis, tetapi kegagahan serta kewibawaan masih jelas terpancar dari raut mukanya yang tetap terlihat kharismatik. "Baiklah. Tolong Bapak dan calon mempelai laki-laki saling berjabat tangan! Lalu, calon mempelai laki-laki menjawab pertanyaan dan melanjutkan kata-kata yang saya ucapkan dengan satu tarikan napas." "Baik, Pak," jawab Reza mantap. "Saudara Reza Hardyanta Syarif ... saya nikah dan kawinkan Anda dengan Maya Kamala Bestari binti Baskoro Widyatmoko dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas dan uang seratus juta dibayar tunai!" ucap Pak Penghulu sembari menghentak tangan Reza. Lalu, dengan mantap dan tegas Reza menjawab pertanyaan Penghulu, "Saya terima nikah dan kawinnya Maya binti Baskoro--" Belum selesai Reza menjawab pertanyaan Penghulu saat acara ijab qobul sedang berlangsung, mendadak ia terkejut dan menoleh ke samping. Dilihatnya Maya berdiri dan berlari menuju pada seorang laki-laki yang tengah berjalan gontai memasuki halaman, tempat acara ijab qobul sedang dilangsungkan. Seketika lelaki berkaca mata itu menghentikan langkah dan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Maya menenggelamkan wajah di dada bidang laki-laki itu dengan menangis tersedu-sedu sembari berucap pilu, "Rizwan, mengapa baru sekarang kau datang dan ingin menepati janji? Sebelum semua terlambat ... lekas bawa aku pergi dari sini! Di sini tak ada yang mengerti dengan cinta kita ...." Laki-laki itu kemudian mendekap Maya begitu erat. Melepaskan beban rindu yang teramat sangat. Perlahan ia melonggarkan pelukan sembari menatap wajah kekasihnya begitu lekat dan berusaha menenangkannya. Belum sempat ia berucap, tiba-tiba Baskoro sudah berdiri di hadapannya dengan penuh kemarahan. Baskoro menarik paksa lengan Maya dan membawanya kembali duduk di hadapan Penghulu. "Maya ... apa yang telah kau lakukan?! Kembali ke kursi ijab qobul dan jangan membuat malu keluarga!" "Tidak Ayah! Aku tidak mau memenuhi perintahmu untuk kali ini. Aku mohon! Ayah tahu aku sangat mencintai Rizwan dan aku akan kembali ke kursi ijab qobul itu, jika bersama Rizwan bukan dengan Reza!" tolaknya sambil berurai airmata. Semua yang hadir merasa heran dan membelalakan mata. Mereka bingung melihat acara tadinya penuh khidmat itu menjadi kacau karena kegaduhan. Baskoro mencengkeram tangan Maya dan hendak menyeretnya kembali duduk di kursi untuk melaksanakan acara ijab qobul. Namun, Reza mencegahnya sambil berkata, "Jangan memaksa Om. Tolong lepaskan lengan Maya! Biarkan ia menjelaskan semuanya dan saya siap mendengarkan kebenarannya." Bersambung

Lanjut baca