Hingga Akhir Waktu
Bab 1 Episode 1

Sebuah ruangan bercat putih serta tercium bau obat-obatan yang sangat menyengat, dua orang pria tengah memperdebatkan sesuatu, terlihat san kakak memaksa adiknya untuk sementara waktu menggantikan dirinya berbaring di atas ranjang rumah sakit yang seharusnya ditempati dirinya, sedangkan sang adik berusaha untuk menolaknya. "Kak, Fransis. Istrimu akan menjengukmu, kenapa kau menyuruhku berpura-pura menjadi dirimu si?" protesnya. Fransis adalah seorang pria dengan ciri rambut hitam, kulit putih , mata setajam elang, hidung mancung, bibir seksi serta garis rahang tegas, dengan tinggi 191 cm. Pria itu mengidap kangker lambung stadium akhir, tak akan ada yang mengira jika dirinya adalah orang sakit karena dia memiliki tubuh yang berotot , dia paling tak suka jika harus berurusan dengan rumah sakit. "50 jt, aku batalkan," ancamnya. Dia memamerkan cek itu didepan sang adik, membuat pertahan sang adik luntur dan diapun bersedia menggantikan posisi sang kakak untuk sementara. "Jangan! baiklah, aku akan menggantikan posisi kak, Fransis. Tapi aku tidak tanggung kalau nanti penyakit kak Fransis semakin parah, aku juga tidak mau tau kalau-." ucapannya terpotong oleh sang kakak. "Soici .." sebutnya dengan nada memberi peringatan. Soici adalah adik Fransis, pria itu memiliki kulit kuning, mata sendu, hidung mancung, rambut hitam, tinggi 179. "Iya, baiklah. Tapi kuliahku bagaimana?" protesnya. Pria itu masih mencemaskan kuliahnya. "Aku akan mengurusnya," pungkas Fransis. "Baiklah, sku setuju. Sekarang berikan cek itu," tagihnya pada sang kakak setelah dia menyetujui ide gila sang kakak. Fransis langsung melempar cek itu dengan wajah penuh kepuasan. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok gadis dengan rambut panjang sepinggang, kulitnya putih, mata bulat dan bibir tipis merah alami. Gadis 17 tahun itu berniat mengunjungi sang suami yang mendadak pingsan setelah pernikahan selesai, dia tak bisa membedakan maka suami dan adik iparnya dikarenakan wajah mereka yang bagai pinang dibelah dua, hanya warna kulit dan mata mereka yang membedakan, namun Fransis lebih suka menggunakan kaca mata hitam hingga tak begitu jelas. "Kak, Fransis, bagaimana kabarmu hari ini?" sapa gadis itu basa-basi. "B-baik, tentu saja aku baik istriku yang cantik,"jawab Soici berpura-pura sebagai Fransis. Pria itu melirik sang kakak, namun kakaknya hanya datar-datar saja. "Sukurlah kalau begitu," balasnya. Gadis itu mengalihkan perhatiannya pada sosok pria yang berdiri disamping ranjang Soici, matanya terpaku pada sosok itu. Tatapan setajam elang seakan mampu menembus kerelung hatinya yang paling dalam, hingga membuatnya tak mampu beralih darinya. Tak perduli dengan pria yang masih berbaring di atas ranjang yang masih memperhatikan dirinya. "Sepertinya, Sonia benar-benar jatuh cinta pada kak Fransis, lihat saja caranya memandang kak Fransis, seakan dia tidak menghiraukan kehadiranku disini," batinnya nelangsa. "Jangan menatapku!" perintah Fransis dingin. Buru-buru dia mengalihkan pandangannya. Suara datar itu benar-benar menggetarkan hati gadis itu. Soici hanya memandang iba pada kakak iparnya itu diapun berusaha untuk menghibur gadis itu. "Kak, maksudku, Soici," kata Soici meralat ucapannya, saat melihat tatapan membunuh dari kakaknya, hampir saja dia membongkar rahasia mereka. "Soici, jangan dingin begitu kalau bicara dengan kakak iparmu, dia jadi ketakutan dan gemetar," lanjutnya pura-pura memberi peringatan. "Terserah!" balas Fransis acuh. Setelah itu dia meninggalkan sang istri bersama adiknya dalam ruangan itu. "Sonia, jangan diambil hati ya? sebenarnya dia orang yang baik, tapi masa remajanya hilang," kata Soici mendadak sendu. Dia brusaha menghibur kakak iparnya, namun ekspresinya mendadak sendu saat mengingat bahwa sejak kecil kakaknya seperti kehilangan masa remajanya. Gadis itu hanya mengangguk. "Aku mengerti, kalau begitu aku berangkat sekolah dulu, ya? "pamitnya. Pria itu mengangguk memberi izin. "Oh, ya, Sonia." Pria itu kembali memanggil kakak iparnya hingga membuat gadis itu mengurungkan niatnya. "Ya, "jawabnya. "Dia satu gedung dengannya, hanya dia di universitas sedangkan kau SMA, "jelasnya. Entah kenapa hati gadis itu merasa berbunga mendengarnya, Soici dapat melihat pancaran kebahagiaan di wajah kakak iparnya tersebut. "Kau kenapa? " tanyanya pura-pura tak tau. Gadis itu hanya menggeleng tak mau memberitahukan yang sebenarnya. "Kau, menyukainya? " tanya Soici memastikan. Sonia mendongak menatap mata pria yang dikiranya adalah suaminya, ia merasa bersalah karena sempat-sempatnya merasa berbunga hanya karena satu gedung dengan pria yang dianggap sebagai adik iparnya. "Aku istrimu, aku tidak akan pernah mengkhianatimu, "janjinya. "Berangkatlah, hati-hati, " ucap Soici penuh perhatian. Gadis itu tersenyum lalu berbalik dan meninggalkan pria yang dikira adalah suaminya itu sendirian. "Kak, Fransis benar-benar aneh, Sonia sangat cantik dan juga baik, kenapa dia tidak mau dengannya? memang si, usianya sepuluh tahun lebih muda darinya, tapi,'kan, itu tidak jadi soal, andai saja akulah yang benar-benar menjadi suaminya, "gumam Soici yang menyesalkan sikap kakaknya. Sonia berada di depan kelasnya hingga sebuah buku melayang dan mengenai kepalanya, akibat terkena lemparan buku yang lumayan keras tersebut membuatnya sedikit meringis kesakitan bahkan dia sempat memegangi kepalanya, "kenapa masih diam?! ambil buku itu, lalu kau kerjakan tugasku! kalau tidak selesai, berikan saja punyamu padaku! "perintah seorang gadis yang berjalan angkuh ke arahnya. Sonia membungkukan tubuhnya hendak mengambil buku tersebut, namun belum sempat ia mengambil buku tersebut, sebuah jari yang lebih besar darinya sudah terlebih dulu mengambil buku tersebut, gadis itu mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pemilik tangan yang telah mengambil buku tersebut, seorang pria yang dikiranya sebagai adik iparnyalah yang ternyata mengambilnya, dia kembali menegakkan tubuhnya dan memperhatikan pria tersebut. Fransis membolak-balikkan halaman buku yang tadi dilempar pada istrinya, meski dia belum memiliki perasaan apapun terhadap gadis itu, tapi nalurinya sebagai seorang suami yang harus melindungi istrinya tak merelakan sang istri mendapat perlakuan semena-mena dari teman sekelasnya, "jadi, kau tidak bisa mengerjakan soal-soal di buku ini?"tanyanya tanpa memandang gadis itu. Gadis itu sangat kesal melihat sikap Fransis yang seakan tak merendahkannya, dia tak tau darimana pria itu berasal dan tiba-tiba sudah membuatnya jengkel dengan pertanyaan tersebut, ia juga tidak tau apa hubungan mereka,"siapa kau?! dan untuk apa kau datang kesini?! "sungutnya. "Itu bukan jawaban yang ku inginkan nona cantik, "tukasnya. Setelah itu ia menutup buku tersebut dan menatap pemilik buku tersebut dengan tatapan mengejek. Gadis itu benar-benar sedang diuji kesabarannya, bagaimana bisa ada seorang pria yang bersikap tak memandangnya seperti ini, padahal selama ini semua pria yang dia temui mulai dari yang tingkat SMA sampai bapak-bapak akan segan terhadapnya, baru kali ini dirinya bertemu pria semacam ini, "tentu saja aku bisa, aku hanya malas saja mengerjakannya, "kilahnya. Fransis menaikkan sebelah alisnya mendengar alasan murahan seperti itu, dia bukan tak tau siapa gadis itu, semua orang bahkan membicarakannya kalau dia suka membully temannya hanya karena dirinya anak pemilik sekolah ini, tapi itu tak berpengaruh untuknya. Brak... "Kalau begitu, kerjakan sendiri! "perintahnya sambil melempar buku itu kepada pemiliknya, pria itu melemparnya tepat di wajah gadis itu, sama seperti apa yang dilakukan pada istrinya. Setelah membuat anak pemilik sekolah itu kesal setengah mati, Fransis mengalihkan perhatiannya pada sang istri dan menatapnya tajam, "jangan pernah bersedia diperintah, apa lagi diperintah oleh gadis pemalas seperti itu, ingat itu! "perintahnya. Cup... Setelah memerintah sang istri,dia langsung mengecup singkat kening gadis itu membuat gadis itu membeku di tempat akibat ulahnya, dan tanpa merasa bersalah dia langsung meninggalkan sang istri yang masih sock akibat ciumannya yang tiba-tiba. "Apa barusan dia menciumku?"gumam Sonia tak percaya. Dia menyentuh keningnya sendiri, ia merasa seperti mimpi mendapat ciuman dari seorang yang dikiranya sebagai adik iparnya tersebuy. Gadis itu menggelengkan kepala saat menyadari apa yang dilakukan pria itu tidaklah benar, tidak sepantasnya seorang adik ipar mencium kakak iparnya di depan umum. "Ini tidak benar, aku kakak iparnya, dia tidak boleh melakukan ini padaku, aku harus bicara denganya, "monolognya. Saat dia hendak melangkahkan kakinya, bel pertanda kelas dimulai terdengar di telinganya, hingga dia harus mengurungkan niatnya. "Mungkin nanti saja jam istirahat, lagi pula sekolahku berdekatan dengan kampusnya, "monolognya. Setelah itu, ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kelas. **** Fransis berjalan tegap di koridor, ekspresinya yang datar dan tatapan matanya setajam elang mampu menyita perhatian seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berpapasan dengannya. Seorang gadis cantik berjalan menghampirinya dan langsung menggadeng tangannya dengan manja, membuatnya tak nyaman karena kehadiran gadis itu, "Soici, kamu lama sekali datangnya, tau tidak? aku sudah merindukanmu, "ucapnya manja. Fransis sangat tidak suka dengan sikap manja gadis itu, tapi dia harus bersikap sabar karena sekarang dia menyamar menjadi adiknya, karena bisa jadi gadis itu adalah kekasih adiknya,"Soici, kenapa kamu diam saja? biasanya akan langsung memeluku dan memberiku hadiah, "ucapnya lagi.

Bab 2 Episode 2

"perempuan rendahan, aku tidak akan memelukmu atau memberimu hadiah, "batin Fransis merendahkan. Mereka berjalan bersama secara beriringan dengan gadis itu masih dengan senang hati menggandeng lengannya. "Soici, "panggil Erika manja. Kesabaran pria itu benar-benar sudah habis sekarang, dia pun berbalik dan menatap tajam gadis itu hingga gadis itu terpaksa melepaskan lengan pria itu, hatinya merasa takut dan seluruh tubuhnya gemetar, baru kali ini ia merasa takut melihat tatapan mata sang kekasih. "Kau terlalu berisik, wanita rendahan! "desis Fransis tajam. Erika langsung terdiam membeku, ia sekali lagi tak menyangka kalau pria yang selama ini selalu bersikap romantis terhadapnya kini berubah menjadi seorang pria yang sangat dingin dan bermulut pedas. "Soici, "cicitnya. "Diam! jangan mengejarku lagi, "bentak Fransis. Setelah itu ia meninggalkan Erika yang masih dalam keadaan sock menerima perlakuan kasarnya. Erika hanya bisa menatap punggung pria yang dikiranya sebagai sang kekasih itu nanar, dadanya terasa sesak, baru kali ini ia di perlakukan serendah ini oleh seorang yang dia sayang. Dua orang gadis berjalan menghampirinya,kedua gadis itu tak mengerti kenapa sahabatnya terlihat sangat sedih dan sock, "Erika, apa yang terjadi? "tanya salah satu diantara mereka. "Itu benar, Erika, kau kenapa? "tanya yang satunya. "Aku tidak tau apa salahku, dia begitu dingin padaku, bahkan tadi dia menyebutku wanita rendahan, "ucap Erika. Lelehan air mata mulai berjatuhan membasahi pipinya, bahkan kedua temannya itu seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh temannya itu,mereka tau bahkan gadis itu sedang menceritakan tentang kekasihnya Soici Sugami, tapi mereka tak tau bahwa yang tadi ditemui adalah orang lain yaitu Fransis Lonenlis saudara kandung Soici Sugami. "Sudalah, Erika, mungkin,Soici,tidak sengaja mengatakan itu, "ucap salah satu teman menenangkan gadis itu,gadis itu bernama Yuki. "Itu benar, Erika, mungkin, Soici,habis berkelahi, dan dia kalah hingga sangat marah pada dirinya sendiri, jadi dia melampiaskannya padamu, "timpal gadis yang bernama Miki. "Itu tidak mungkin, Soici, tidak akan begitu, " sanggah Erika. "Sudalah,sebaiknya kita masuk, sebentar lagi dosen sastra akan segera datang, semoga dia lupa pada tugas membuat puisi yang diberikan pada kita, "sahut Yuki menengahi pembicaraan. "Setuju! "seru Erika dan Miki bersamaan. Setelah itu mereka bertiga pergi menuju kelasnya. ****** Fransis kini sudah berada di ruang kelasnya,ia duduk dengan nyaman di bangkunya, di sampingnya seorang gadis duduk di bangku dengan kepala tertunduk dan wajah memerah karena kedatangan pria itu,"P-pagi, Soici, "sapanya gagap. "Hn, "jawab Fransis tak jelas. Tak lama kemudian ia merasakan rasa tak nyaman menghinggapi perutnya, dia mengumpat dalam hati, harusnya sebelum pergi dia meminum obatnya terlebih dulu agar penyakitnya tak kambuh sembarangan. Pria itu mencengkram perutnya saat nyeri itu semakin menjadi, dia bahkan sampai menundukkan kepalanya dan memjamkan matanya seakan menikmati rasa sakit yang kini menyambanginya. Seorang gadis yang bernama Nadza Edogawa, dia merupakan orang yang sangat perduli pada Soici, tapi pria itu sama sekali tak perduli terhadapnya, dia justru memilih Erika sebagai kekasihnya. Gadis itu memperhatikan Fransis yang dikiranya adalah pujaan hatinya yang sedang menundukkan kepala sambil memejamkan matanya, kemudian ia beralih pada tangan pria itu yang sedang mencengkram perutnya, dia pun berfikir kalau pria itu ada masalah dengan pencernaannya. "Soici, kamu kenapa? "tanya Nadza khawatir. Pria itu diam tak menjawab, hal itu membuat gadis itu semakin khawatir padanya. "Perut, Soici, sakit? "tanyanya memastikan. Lagi-lagi tak ada jawaban. Gadis itu teringat bahwa ia pernah menemukan sebuah botol obat di meja pria itu dan kebetulan dia membawanya,ia pun segera mengambil obat yang ada di dalam tasnya lalu menyerahkan pada pria itu. "Ini, obatmu, minumlah! "serunya. Fransis tersentak dan langsung membuka matanya, ia memiringkan kepalanya dan menoleh pada gadis itu, dia hanya menatap datar gadis itu, tapi dalam hati, dirinya kebingungan darimana dia mendapatkan obat miliknya. Mengerti kebingungan pria itu, dia pun langsung menjelaskannya, "Ini, waktu itu kau ketinggalan, jadi aku mengambilnya,aku juga sudah tau itu obat untuk sakit apa, "jelasnya. "Brengsek! pasti,Soici,yang seenaknya membawa obat milikku, akan ku beri pelajaran kau nanti! "umpat Fransis dalam hati. "Kangker lambung, Soici, apa itu-."ucapan gadis itu terpotong saat Fransis langsung mengambil obat itu. "Bukan, ini milik kakakku, "potongnya. "Tapi, kau terlihat kesakitan, "kata Nadza heran. Jika itu obat milik kakaknya, kenapa pria itu yang kesakitan. "Jangan bicara apapun tentang apa yang kau lihat! "perintah Fransis. Gadis itu pun mengangguk, dia ingat bahwa pria yang dia sukai itu punya seorang kakak yang wajahnya sangat mirip dinginnya, orangnya dingin dan tak suka senyum namanya Fransis Lonenlis, kini ia yakin bahwa pria di depannya ini adalah kakaknya bukan pria yang disukainya. "Baiklah, aku janji, sekarang minumlah obat anda! "serunya. Pria itu tak menduga kalau gadis itu bisa mengenalinya, ia bisa membedakan antara dirinya dan adiknya, padahal istrinya saja tak bisa mengenalinya. "Ugh... "keluhnya saat rasa sakit yang dia alami kian bertambah,gadis itu pun semakin khawatir. "Kita keruang kesehatan saja, ya? "ucapnya panik. "Hn,"jawab pria itu tak jelas. Pria itu langsung membuka penutup botol itu lalu mengeluarkan isinya setelah ini menelannya. "Tuan-,"ucap gadis itu terpotong. "Soici,panggil aku,Soici,di sini, "ucap Fransis. Gadis itu tersenyum mengangguk, dia pun menuruti permintaan pria itu. "Soici, bagaimana kalau aku mengantarkanmu keruang kesehatan saja, agar kau bisa istirahat, "bujuknya. "Hn, "jawab Fransis singkat. Gadis itu memandangnya bingung. Perlahan Fransis mulai dari tempat duduknya, tapi dia tak dapat menegakkan tubuhnya karena rasa sakit yang ia alami belum juga reda, mengerti penderitaan pria itu, Nadza langsung memapahnya. "Maaf, tadi aku masih tidak mengerti arti jawabanmu, ayo! aku bantu kau berjalan, "serunya. Pria itu pun tak menolak bantuan yang diberikan gadis itu. Mereka pun berjalan meninggalkan ruang kelas. Fransis langsung direbahkan di atas ranjang yang ada di ruang kesehatan setibanya di sana, pria itu merasa ini adalah hari yang sangat sial untuknya, pertama penyakitnya kambuh disaat yang tidak tepat, kedua dia lupa membawa obat, dan terakhir dia harus terbaring di atas rajang kesehatan, sungguh menyebalkan. ***** "Harusnya kau jangan diam saja, Sonia! kau harus melawan kalau, Masako membullymu, "ucap salah satu temannya. Pria itu menyerngit mendengar nama istrinya disebut. Bukankah ini ruang kesehatan kampusnya,Soici,tapi kenapa ada suara istrinya disini, pikirnya. "Aku tidak apa-apa, Sieru, "jawab Sonia. Tidak salah lagi, itu memang suara istrinya, apa ruang kesehatan kampus adiknya digabung?pria itu masih berkutat dengan pikirannya sendiri, tapi tidak membiarkan itu terlalu berlarut lama.

Bab 3 Episode 3

"Beruntunglah kami menemukanmu, terlambat sedikit saja kau bisa mati karena tenggelam dalam kolam, "sahut temannya yang lain. "Itu benar, Sonia, kau harus melawan, "timpal Sieru setuju. "Miseru, Sieru, aku tahu kalian sangat mengkhawatirkan ku, tapi aku tidak mau dikeluarkan dari sekolah, lagi pula aku hanya murid biaya siswa, pasti guru tidak akan ada yang dipihakku, "ucap Sonia pasrah. Fransis sudah tidak tahan lagi, ia tidak suka melihat seorang yang lemah dan hanya bisa pasrah saat ditindas tanpa ada usaha untuk melawan, meski tubuhnya masih terasa sangat lemah dan rasa sakitnya belum sepenuhnya reda tapi dia tak boleh membiarkan ini terus terjadi, pria itu menyibak gorden yang menjadi tirai penghalang diantar mereka. "Masako, itukah nama perempuan itu? "tanyanya dingin. Sonia terkejut melihat seorang pria yang dikiranya sebagai adik iparnya itu mendengar pembicaraan mereka,terlebih lagi pria itu juga terbaring di atas ranjang ruang kesehatan. "Soici, apa yang kau lakukan?kenapa wajahmu terlihat pucat?"tanyanya khawatir. Perlahan gadis itu bangkit dari ranjangnya, ia turun menghampiri pria itu, dia menatapnya penuh khawatir. "Ada apa dengan wajahmu? "tanya Fransis pura-pura tak tau. Gadis itu menjadi bingung, ia menyentuh wajahnya sendiri, dia merasa wajahnya baik-baik saja tak ada masalah, lalu kenapa pria itu berkata seperti itu?. "Memang kenapa dengan wajahku, aku merasa wajahku baik-baik saja, Soici, "jawabnya heran. "Maksudku, kenapa wajahmu terlihat cemas dan panik!"ucap Fransis menjelaskan. "Tentu saja, itu karena aku cemas melihat wajahmu yang terlihat pucat, lagi pula kau terlihat seperti menahan sakit, apa itu salah, Soici? "balas Sonia sekaligus memintak pendapatnya. "Benar, lalu kenapa kau tidak terlihat cemas saat dirumah sakit tadi? "tanya Fransis seperti orang cemburu. Gadis itu mulai memikirkan ucapan pria itu, memang benar, dirinya tidak merasa khawatir sama sekali saat melihat orang yang dikiranya sebagai suaminya itu terbaring di atas ranjang rumah sakit, tapi dirinya begitu cemas melihat orang yang dikiranya sebagai adik iparnya itu terlihat pucat bahkan seperti menahan sakit. "Apa maksudmu, Soici, tentu saja aku sangat khawatir pada kakakmu, "kilahnya. "Hn, "jawab Fransis tak jelas. Dalam hati pria itu tak akan percaya begitu saja ucapan istrinya, dia bukan orang bodoh yang bisa dibohongi dan tak dapat membedakan mana yang jujur dan tidak, pria itu mengalihkan perhatiannya pada sang istri,ia hanya menatap datar gadis itu. "Eh,Soici,kamu jangan ceritakan ini pada kakakmu,ya? Fransis pasti tidak akan suka melihat sikapku ini, "pinta Sonia memohon. "Tentu saja aku tidak akan suka melihat sikap lembekmu itu, "batin Fransis kesal. "Pokoknya kau jangan ceritakan apapun padanya! "kali ini gadis itu justru memberikan perintah. Fransis hanya diam saja tak perduli dengan permintaan atau permohonan istrinya, untuk apa juga dia cerita, kalau dia sendiri sudah mendengar langsung dari mulut istrinya sendiri. "Memang apa yang akan dilakukan oleh tuan,Lonenlis,Sonia,hingga kau terlihat ketakutan seperti itu?"tanya Sieru penasaran. "Dia akan melakukan seauatu padanya, yang muungkin bahkan tak akan bisa kalian bayangkan sebelumnya,"jawab Sonia sambil membayangkan sosok sang suami tercinta. "Kau berlebihan, Sonia, memang apa hubunganmu dengan tuan,Lonenlis,Itu?"tanya Miseru penasara. Gadis itu hanya merasa sangat heran kenapa sahabatnya itu bisa tau banyak tentang orang lain. "Dia... suamiku,"jawab Sonia. Semua orang yang ada disitu memandangnya tak percaya. Fransis hanya tersenyum tipis, "Tapi kau bahkan tak mengenaliku, "batinnya miris. "Suamimu? "ulang Nadza sambil melirik Fransis. Gadis itu merasa aneh pada sepasang suami istri tersebut. "Bisakah kalian keluar! aku mau tidur, "sela Fransis sambil kembali naik keatas ranjangnya dan bersiap untuk tidur kembali. Mereka langsung menoleh pada pria itu dengan tatapan tidak suka. "Tapi, Soici-."Sonia hendak protes namun dipotong terlebih dulu oleh Nadza. "Baiklah, Soici, aku akan keluar, "potongnya. Tapi sebelum keluar,ia terlebih dulu mengecup pipi putih pria itu, tanpa perduli ada hati yang sedang meradang melihat kecupan itu. Gadis itu bahkan tak perduli saat pria itu langsung menatap tajam dirinya, menurutnya mereka berdua sangat lucu dan kekanakan, setelah itu dia pun benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu. Sonia merasa aneh dengan dirinya,ia merasa kesal pada gadis itu lantaran telah mencium pipi pria yang dikiranya adalah adik iparnya tersebut, ia memandang Fransis yang sudah kembali memejamkan matanya, Sieru dan Miseru ikut keluar karena merasa ada yang perlu mereka omongkan, dan tinggalah sepasang suami istri itu dalam ruan kesehatan. "Apa hubunganmu dengannya?! "tanyanya kesal. Pria itu tak menjawab karena memang tak ingin, ia justru pura-pura tidur. Gadis itu memandang sendu suaminya, seandainya saja dia tau kalau pria didepannya adalah suaminya sendiri mungkin kejadiannya akan berbeda. "Aku tidak tau ada apa denganku, tapi jika aku boleh jujur, aku sangat tak suka melihatnya mencium pipi putihmu ini, aku merasa senang saat kau menciumku tadi, aku tau aku salah, kau adalah adik iparku, tapi... aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri, sampai aku berharap kau adalah suamiku, "ucap Sonia sambil mengusap pipi pria itu yang tadi dicium oleh Nadza seakan ia ingin membersihkan bekas ciuman itu. "Kau tau? aku tak rela siapapun menyentuhmu, aku jahat, 'kan, Soici? semoga kakakmu akan memaafkanku, "ucapnya lagi. Setelah itu ia menyingkirkan tangannya dari wajah sang suami, dia mendekatkan wajahnya pada wajah sang suami, mengeliminasi jarak diantara mereka. Cuuup... Ia pun mencium bibir sexi milik sang suami. "Itu ciuman pertamaku, "ucapnya sambil terus menatap bibir itu. Setelah itu ia mengangkat wajahnya kembali. "Aku menyukaimu, adik ipar, itu ciuman pertamaku, "katanya. "Hn, jadi begitu?! "ucap Fransis sambil membuka matanya dan menatap lurus gadis itu. Sonia membulatkan matanya, dia kelabakan karena ternyata pria itu tak sungguh-sungguh tidur, padahal dia pikir pria itu sudah tidur pulas, sekarang dia jadi malu sendiri. Gadis itu langsung menundukkan wajahnya tak berani memandang wajah pria itu, ia yakin sekarang pasti pria itu memakinya dalam hati, ah, kenapa dia bisa sebodoh itu ketahuan mencium bibir adik iparnya dan itu adalah ciuman pertama miliknya, bagaimana kalau pria itu akan melaporkannya pada suaminya. Perlahan Fransis bangkit dari ranjang, ia mendudukkan dirinya di tepinya, "Jadi kau ingin aku yang jadi suamimu? "tanyanya menggoda. Tanpa sadar gadis itu langsung mengangguk, tapi saat kesadarannya kembali, ia buru-buru menggelengkan kepalanya, dia merutuki kebodohannya, "Bagaimana kalau nanti dia lapor pada kakaknya? "batinnya takut. Fransia tersenyum geli melihat ekspresi takut pada wajah istrinya, sebuah seringai jahil menghiasi bibir pria itu. Perlahan Fransis turun dari tempat tidurnya, dia berjalan memutar dan berdiri tepat di belakang istrinya.

Lanjut baca