Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai, tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang, tanah kita, tanah surga. Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman Koes plus, Kolam susu Kini ku dengarkan berulang kali lagu itu lewat sebuah earphone. Aku mengenal lagu itu lewat sebuah radio. Sore itu, aku sedang menonton televisi di ruang tengah, ayah pulang dan langsung menyalakan radio. Aku berteriak padanya. Kesal. Lalu, ayah menghampiri dan menyuruh mendengarkan lagu yang di siarkan radio. Sejenak saja katanya. Dengan wajah kesal aku terpaksa mengikuti apa yang ayah pinta. Aku ikuti langkah kakinya. Sesampainya di depan rumah, radio itu memutarkan lagu kolam susu. Terasa asing sekali di telinga. Ayah menjelaskan arti filosofis dari lagu itu. Bibir muramku melengkung menjadi senyuman. Kata ayah lagu itu sering sekali di putar, tapi aku hanya mengingat film kartun. Wajar saja, waktu itu aku berusia sepuluh tahun. Usia dimana film – film kartun adalah film teristimewa. Semenjak ayah mengenalkanku pada kolam susu, lagu itu menjadi salah satu daftar lagu favorite. Lagu itu mampu membuatku semakin bangga menjadi bagian dari nusantara, Indonesia. Bagiku itu adalah lagu nasionalisme asyik yang tidak lekang oleh waktu. Faktanya Indonesia memang masih seperti yang di katakan koes plus, makanan masih berlimpah. Meski rakyat belum sepenuhnya sejahtera. Itu hanya versiku, seorang anak remaja belasan tahun yang belum mengenal dunia secara nyata. Lagu kolam susu yang di nyanyikan dengan suara lembut oleh Koesplus, grup musik yang sukses di tahun 60 dan 70 an, memang asyik. Terdengar sedikit berlebihan memang jika lagu itu di hubungkan dengan kenyataan. Bukankah secara logika kita hanya akan memetik apa yang kita tanam?. Jika kita menanam padi kita akan memanen padi. Jika kita menanam biji mangga kita akan memetik buah mangga. Lalu jika tongkat, kayu dan batu yang kita tanam apa yang kita petik suatu hari nanti? Berapa lama tongkat, kayu dan batu memberikan hasil panen, kita akan memanen tongkat, kayu dan batu kemudian memasak dan menggantikan nasi sebagai makanan pokok?. Ah, mana bisa perut lemak mencerna tongkat, kayu dan batu dengan baik. Apa pencipta lagu itu pernah tinggal di negeri dongeng yang ada di Indonesia. Dimana tempatnya? Jika memang ada?. Atau mungkin sang pencipta lagu sedang terlelap dalam tidur malamnya. Kurasa tidak. Lagu tersebut menggambarkan tentang kekaguman band koes plus terhadap tanah air Indonesia yang kaya akan sumber daya alam. Sang pencipta lagu adalah orang hebat yang mampu memahami keadaan geografis Indonesia. Dan aku merasa lirik itu adalah gambaran nyata dari keadaan tanah di wilayah Indonesia. Sangat luar biasa sekali memang tanah Indonesia. Begitu banyak tambang emas, tambang minyak, tembaga, air, sungai, perkebunan, pertanian, kesuburan tanahnya. Hanya sedikit saja kita berkeringat, kita tidak perlu takut kelaparan. Karena dari Sabang sampai Merauke begitu banyak jenis tanaman yang bisa tumbuh dan berkembang dengan baik di negeriku tercinta, Indonesia. Itu sih bagi orang yang mau berusaha dan bekerja, bukan bagi orang yang hanya berpangku tangan dan melamun tanpa beban. Keadaan alam seperti ini sudah diakui di dunia internasional, makanya pada masa lalu Indonesia menjadi daerah jajahan negara – negara lain. Lihat saja dari sisi sejarah, Indonesia pernah dijajah berbagai negara seperti Jepang, Inggris, Belanda, Perancis dan sebagainya. Kedatangan para penjajah ke Indonesia bukan sekedar basa – basi atau mau berlibur. Tetapi mereka menyadari potensi kekayaan alam di Indonesia dan bertujuan untuk mengambil kekayaan alam itu. Tak hanya itu, mereka juga menerapkan pemaksaan kerja yang tidak manusiawi. Bekerja mati – matian tanpa pembayaran. Tak terbayangkan kondisi seperti itu terjadi selama 3,5 abad di masa lalu saat masa penjajahan Belanda. Dan negara – negara lain yang lamanya pun mencapai beberapa tahun. Jika aku hidup di zaman itu, aku sudah menjadi butiran debu. Atau menjadi patung di dalam lemari karena takut mati terkena belati. Dan terpaksa harus berpura – pura mati saat kompeni lewati beberapa senti di depan gang menuju pintu rumah. Iya, langsung terjatuh. Tak sadarkan diri. Tak bergerak sama sekali. Dan menahan karbondioksida yang berteriak membawa kawanan. Sedih memang jika teringat perjuangan para pahlawan. Perjuangan mereka sampai berdarah – darah mempertahankan tanah air seakan tak ada harganya. Saat pengakuan kekayaan alam Indonesia sudah dimiliki secara mutlak melalui proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, lagi – lagi negara ini kehilangan orang yang menyadari betapa mengagumkannya negeri ini. Banyak orang Indonesia lebih bangga dengan keadaan alam yang ada di luar negeri. Miris sekali melihat orang negeriku, aku teringat akan sebuah petuah yang mengatakan “Rumput tetangga terlihat lebih hijau dan segar”. Kurasa itu benar. Dan aku? Tak dapat mengambil peran untuk sebuah perubahan. Hanya menyaksikan. Diam. Tanpa perlawanan. Indonesia itu hebat. Buktinya saja tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Banyak sekali penafsiran yang dapat kita peroleh dari lirik tersebut. Salah satunya bahwa tongkat kayu di maksud dengan sejumlah tanaman yang bisa di daya gunakan dengan cara stek batang, seperti singkong, ubi jalar, dan lain sebagainya. Sedangkan batu adalah konotasi dari biji – bijian yang nampak seperti batu. Dalam hal ini seperti ubi, kentang, talas, wortel, dan umbi – umbian lainnya. Penafsiran lain menyatakan bahwa Indonesia adalah negeri yang sangat subur, segala macam tanaman yang di tanam di Indonesia dapat tumbuh dengan baik dan subur. Bahkan pohon kurma yang biasa tumbuh di negeri tandus nan gersang bisa tumbuh subur di Indonesia yang beriklim tropis. Rasanya terlalu jauh jika aku mengatakan tanaman – tanaman yang tumbuh di seluruh negeriku. Akan ada puluhan ribu spesies tumbuhan jika aku ceritakan. Belum lagi klasifikasi dari masing – masing spesiesnya. Akan ada ribuan lembar yang aku butuhkan untuk mengungkapkan. Karena menurut Kominfo, kekayaan alam tumbuhan di Indonesia meliputi 30.000 jenis tumbuhan dari total 40.000 jenis tumbuhan di dunia. Dengan 40% tumbuhan endemik Indonesia itu pun hanya 20% yang teridentifikasi. Cukup dibayangkan saja bagaimana penatnya jika ku jelaskan semuanya. Kau tak akan bisa makan dan tidur selama beberapa windu. Makanya, Tak perlu jauh berkeliling nusantara untuk membuktikannya. Mungkin bisa aku tunjukkan sebagian kecil makna dari lirik lagu itu. Aku buktikan kesuburan tanah negeriku di desa tempat aku tinggal, Banyumudal kecamatan Moga kabupaten Pemalang, Jawa tengah, Indonesia.
Hari masih terlalu dini untuk menyapa orang dengan selamat pagi. Kabut masih terlalu tebal untuk melakukan aktifitas. Tubuh masih terlalu dingin untuk beranjak dari selimut tebal yang menutupi diri ini. Meski telah mendengar adzan subuh berkumandang, aku memutuskan untuk menunggu cuaca sedikit bersahabat. Aku mengintip dari balik selimut, kak Arda telah bersiap – siap untuk pergi ke mushola menunaikan shalat subuh berjamaah. Melihatku masih terbaring dengan selimut tebal, kak Arda berjalan ke arahku. Meraih ujung selimut yang menutupi tubuh dan menariknya sekuat tenaga. “Kamu kapan ujian Nasionalnya dek?” Tanya kak Arda setelah membuka selimutku. “Dua minggu lagi kak”. Gerutuku sambil berusaha meraih selimut untuk menutupi tubuhku lagi. Diluar masih dingin. “Persiapkan dengan baik ya dek, kerjakan dengan jujur dan tenang. Kakak akan sangat bangga berapapun hasilnya jika itu adalah hasil kerja keras kamu sendiri”. Ucap kakak. Aku mengangguk pelan dan tidak bisa berkata apapun. Mendengar nasihatnya, aku langsung bangun dari tempat tidur dan memeluknya dengan erat. Kakak memang selalu berpesan seperti itu. Tak pernah berpesan untuk mendapatkan nilai tinggi tapi berpesan untuk menjadi manusia yang lebih baik. “Belajarlah karena ingin menjadi lebih baik bukan karena ingin mendapatkan nilai terbaik. Meski nilai menjadi patokan. Jangan pernah menggadaikan apapun untuk mendapatkan itu. Teruslah belajar dengan penuh semangat. Maka dengan izin Allah apa yang diinginkan akan datang dengan sendirinya termasuk nilai terbaik. Pengetahuan yang sebenarnya bukan terlihat dari besar nilai yang dicapai didalam kertas tetapi dari cerdasnya otak dan hati nurani untuk bisa mengendalikan segala sesuatu dengan tenang dan penuh tanggung jawab.” Begitulah pesan yang sering aku ingat dari kakak. “Ayo kita pergi ke mushola bersama. Meminta kepada Allah agar Ujian kamu di berikan kelancaran”. Pinta kak Arda. “Iya kak” Jawabku sembari melepaskan pelukanku. Aku yang sedari tadi malas untuk beranjak dari tempat tidur menjadi malu untuk kembali berbaring dan berselimut. Aku pun berjalan ke kamar mandi. Mengambil air wudhu. Memakai mukena putih dan pergi ke mushola bersama kak Arda. * * * Satu hari menjelang Ujian Nasional. Hari itu hari minggu. Kakak menyuruhku untuk meminta restu kepada nenek serta sanak saudara yang berada di kampung. Terlebih dahulu aku meminta do’a restu Ayah dan Ibu. Kemudian meminta do’a restu sanak saudara secara langsung dengan mengunjungi rumah mereka di temani kak Arda. Mungkin ini terdengar berlebihan, tetapi adat orang kampung memang begitu. Do’a restu dijadikan langkah awal untuk melakukan banyak hal. Aku sudah bersiap – siap sejak pagi – pagi sekali layaknya hendak berangkat ke sekolah. Memakai gamis abu – abu pemberian kakak tahun lalu sebagai hadiah karena mewakili sekolah dalam lomba olimpiade sains. Meskipun tidak meraih juara apapun, tapi kakak tidak pernah kecewa dengan apapun hasil yang aku peroleh. Sekali lagi dan berulang – ulang kali kemudian, aku selalu menjadi penggagum sosok kakak yang begitu istimewa bagiku. Kakak yang tidak pernah memarahiku. Kakak yang selalu menuntun dan mengajariku. Kakak terbaik satu – satunya yang pernah ada di dunia. Jika suatu hari nanti aku mempunyai seorang adik, aku ingin menjadi seperti Kak Arda, yang sangat di sayangi dan di banggakan oleh adiknya. Kakakku menggunakan kaos hitam dengan celana jeans panjang berwarna biru miliknya. Seperti biasa. Sederhana. Setelah kakak selesai bersiap – siap, kakak berteriak memanggil – manggilku yang sedari tadi belum keluar. “Fina.... Fin...”Teriak kakak di ruang depan kamarku. Aku terdiam. Tidak menjawab teriakan kakak. Aku sedang bingung memilih jilbab yang cocok dengan gamis itu. Kakak tidak sabar menungguku yang tanpa suara. Kakakpun menggetuk pintu kamar dengan keras sampai akhirnya memutuskan membuka pintu kamar dan memasuki kamar. “Tok.... tok.... tok” Suara pintu kamar di ketuk oleh kakak yang sudah lama menunggu. “Fina... kakak masuk ya”. Lanjut kak Arda. “Iya” Jawabku singkat setelah membukakan kunci pintu kamar dan kembali memilih – milih jilbab yang cocok. “Ayo, kita pergi sekarang. Nanti kalau sudah pergi ke sawah, kita tidak bisa bertemu dengan mereka”. Saran kakak. “Fina bingung Kak Arda...” Ucapku. “Bingung kenapa dek?” Tanya Kak Arda. “Jilbab yang cocok dipakai dengan gamis ini yang mana?” Tanyaku sambil menunjukkan gamis yang telah aku pakai. “Itu gamis yang kakak belikan tahun lalu?” “Iya Kak Arda”. Ungkapku sambil menunjukkan senyuman termanisku. “Kamu duduk yang manis di sofa. Kakak ambilkan dua jilbab, nanti kamu pilih salah satu” Tegas Kak Arda sembari berjalan ke arahku dan mengambil semua jilbab yang sedang aku pegang. Meski Kak Arda seorang laki – laki, tetapi pilihan warna dan perpaduan yang di pilihkan Kak Arda selalu terlihat manis jika digunakan. Aku suka sekali. Padahal, kau tau sendiri bagaimana Kak Arda?. Kak Arda seringkali hanya memakai kaos hitam atau warna gelap lainnya dengan celana hitam atau biru dongker kemanapun perginya. Entah dari mana Kak Arda belajar perpaduan warna yang begitu mengesankan. Aku pikir karena Kak Arda sering mengantar Ibu pergi ke pasar dan melihat berbagai macam pakaian dan aksesoris yang di gunakan oleh setiap orang yang Kak Arda lalui. Atau memang kak Arda sebenarnya mempunyai bakat alami dalam bidang fashion. Atau belajar dari kekasihnya yang cantik jelita. Entahlah. Aku langsung berjalan ke arah sofa yang ada di depan tempat tidurku. Duduk tenang sambil memperhatikan gerakan yang Kak Arda lakukan. Sesekali mengikuti ekspresi wajahnya yang membingungkan. Atau menggeleng – gelengkan kepala sambil memajukan bibir dan menyipitkan matanya. Kemudian kembali mencari jilbab lain yang ada di lemari. Sepuluh menit kemudian. Kak Arda berjalan ke arahku membawa dua potongan helai jilbab berwarna abu – abu bercorak bunga warna pink dan jilbab abu – abu dengan paduan warna biru dongker yang sedikit memudar. Pilihan jilbab dengan paduan warna yang Kak Arda pilih memang mengesankan sekali bagiku. Gamis abu – abu polos yang aku genakan terlihat sangat anggun dan manis jika di padukan dengan salah satu jilbab yang Kak Arda pilihkan. Aku memilih warna abu – abu bercorak bunga warna pink. Aku segera menggenakan jilbab itu. Kak Arda menungguku di sofa. Selesai menggunakan jilbab, Kak Arda mengajariku untuk meminta do’a restu kepada Ayah dan Ibu terlebih dahulu kemudian berkeliling ke sanak saudara. “Kita menemui Ayah dan Ibu dulu ya dek”. Ujar Kak Arda setelah aku selesai menggunakan jilbab. Aku mengangguk pelan. “Nanti kalau minta do’a restu Ayah dan Ibu yang ikhlas. Tundukkan pandangan kamu di hadapan mereka. Meski pendidikan kita di atas Ayah dan Ibu, tapi mereka jauh lebih tinggi kedudukannya dari pada kita. Ingatlah, kita bisa bersekolah sampai tingkat atas itu karena perjuangan Ayah dan Ibu. Jadi setinggi apapun pendidikan kita, kita akan menjadi rendah jika bersikap sombong di depan Ayah dan Ibu.” Nasehat Kak Arda sambil menggandengku untuk menemui Ayah dan Ibu. “Iya ka, Ayah dan Ibu sudah di sawah ya kak?” Tanyaku karena Kak Arda menggandengku ke arah pintu keluar rumah. “Tidak. Ayah sedang merawat tanaman di depan rumah dan Ibu sedang memberi makan kelinci di samping rumah”. Ucap Kak Arda. Saat ini di kampungku memang sedang marak – maraknya memelihara kelinci. Hewan mungil yang menggemaskan dengan corak warna yang menyenangkan. Kelinci termasuk mamalia kecil dengan telinga besar dan ekor pendek. Badannya di tutupi dengan bulu – bulu yang sangat halus jika di sentuh. Kelinci berkembang biak dengan cara beranak (vivipar). Dulunya, hewan ini adalah hewan liar yang hidup di Afrika hingga ke daratan Eropa. Asal kata kelinci berasal dari bahasa Belanda, yaitu konijntje yang berarti “anak kelinci”. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mulai mengenali kelinci saat masa kolonial, padahal di Pulau Sumatera ada satu spesies asli kelinci Sumatera (Nesolagus Netscheri) yang baru di temukan pada tahun 1972. Sekarang kelinci menjadi hewan jinak bahkan hewan peliharaan yang menggemaskan. Melihat peluang yang begitu besar, Ayah ikut memelihara kelinci. Kelinci yang Ayah miliki sudah lumayan banyak. Ada warna putih, pink, coklat dan campuran antara putih dengan pink. Kelinci yang Ayahku miliki tidak memakan wortel seperti kebanyakan cerita yang aku dengar di televisi. Kelinci Ayah cukup di beri makan rumput, bahkan sesekali memakan kangkung. “Ayah,,,” Panggilku setelah melihat Ayah yang sedang menyirami tanaman di depan rumah. Ku lepaskan tanganku dari pegangan Kak Arda. Kak Arda berdiam diri di depan pintu, menyandarkan tubuhnya ke pintu yang ada disampingnya. Aku berlari ke arah Ayah. “Ayah, Fina besok mau ujian. Fina minta do’a restu dari Ayah” Ungkapku setelah di depan Ayah. Ayah meletakkan kran yang di gunakan untuk menyiram tanaman. Aku menundukkan wajahku di hadapan Ayah. “Iya Ayah akan selalu mendo’akan yang terbaik untuk Fina. Belajar yang rajin dan serahkan segala hasilnya kepada Allah ya Fin”. Ucap Ayah. Aku mengulurkan tanganku sebagai tanda meminta izin untuk mencium tangan Ayah. Ayah mengulurkan tangannya. Aku mencium tangan Ayah dan Ayah mengusap kepalaku seakan sedang menunjukkan do’a restu yang tulus tanpa pamrih. Kemudian aku berlari ke arah Ibu yang sedang berada di samping rumah dan meminta do’a restu beliau. “Ibu, Fina besok mau Ujian Nasional. Do’akan Fina ya bu” Pintaku sambil memeluk Ibu dari belakang. Ibu meletakkan sayuran yang sedari tadi dipegang. Lalu berbalik badan, mencium keningku dan memelukku dengan erat. Kepalaku basah dengan tetesan air mata ibu. “Iya, Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Fina. Tanpa Fina minta pun Ibu selalu mendo’akan Fina. Meminta kebahagiaan Fina kepada sang pemilik Fina” “Terimakasih Ibu, Fina tidak bisa berjalan tanpa do’a restu dari Ayah dan Ibu” Ungkapku. “Iya nok. Kamu mau kemana?” Tanya Ibu setelah memperhatikan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nok adalah panggilan seseorang kepada anak perempuan yang lebih muda, biasanya di gunakan kepada anak – anak yang usianya masih remaja. Semacam panggilan sayang. “Mau ke rumah nenek dan saudara – saudara Fina yang ada di sekitar sini. Kak Arda menyuruh Fina untuk meminta do’a dari mereka supaya besok Ujian Nasionalnya bisa mengerjakan dengan lancar”. Ujarku. “Iya benar sekali itu. Terkadang saat kita melakukan suatu kesalahan yang tanpa sengaja melukai hati seseorang dan sampai sekarang orang itu belum memaafkan, itu akan menghambat apa yang akan kita kerjakan nantinya.” Tambah Ibu. “Ya sudah. Kami berangkat dulu bu”. Pamit kak Arda pada Ibu setelah berada di depan Ibu. Kemudian mencium tangan Ibu dan pergi bersamaku. Dari kejauhan aku merasa air mata ibu masih menetes. Ibu, aku sayang padamu. Tak akan mengecewakanmu. Semoga itu airmata doa ketulusan agar aku di beri kemudahan. Aku berjalan dengan kak Arda ke arah selatan, rumah nenek berada tepat di seberang jalan. Sesampainya disana nenek sedang terbaring lemah di kamar tidur depan yang bersebelahan dengan pintu masuk. Aku tidak melihat paman dan bibi di sekitarku. Mungkin mereka sudah pergi kesawah. Aku tau jika nenek bukan tipe orang yang selalu tertidur di atas tempat tidur. Dengan berat hati aku membangunkan nenek dengan menyentuh bahunya sambil memanggil dengan lemah lembut. “Nek.. nenek.. bangun sudah siang” Ujarku penuh lemah lembut. “Dek, mungkin nenek sedang lelah”. “Nenek tidak pernah tidur di pagi hari kak” Jawabku. Aku mengerti kegiatan apa yang di lakukan nenek setiap hari karena aku sering menemani nenek beraktifitas. Semenjak kakek meninggal nenek selalu merasa kesepian. Untuk menghilangkan rasa sepi tersebut, aku berusaha selalu menemani aktifitas yang nenek lakukan di hari libur. Nenek adalah orang tua dari Ibu. Orang tua Ayah sudah meninggal jauh sebelum aku dilahirkan di dunia. Lama sekali nenek tidak bangun dari tempat tidur. Tidak bergerak sama sekali. Aku takut ada hal yang tidak di inginkan terjadi. Aku tidak ingin kehilangan nenek untuk saat ini. Aku berusaha tetap tenang. Kembali memanggil nenek yang terus berbaring di tempat tidur. Kak Arda terdiam disampingku. Tak berapa lama kemudian, bibi datang menghampiri. “Fina... Arda.. sejak kapan kalian datang?” Sapa bibiku. “Sekitar lima belas menit yang lalu bi”. Jawabku. “Fina, nenek sedang istirahat jangan diganggu ya” Kata bibi sambil memegang bahuku. “Nenek baik – baik saja kan bi?” Tanyaku. “Iya, nenek hanya butuh istirahat saja”. Jelas Bibi. Aku berjalan meninggalkan nenek. Menatapnya cemas penuh harap. “Oh ya bi, Fina besok mau ujian do’akan Fina ya supaya bisa mengerjakan dengan baik”. Pintaku setelah duduk di sofa ruang keluarga dengan Bibi dan Kak Arda. “Iya Fina. Siap. Kamu ujian nasionalnya besok?” Tanya Bibi. “Iya, penentuan belajarku selama tiga tahun di SMA hanya pada tiga hari kedepan”. Keluhku. “Harus berapa kali lagi Kak Arda mengatakannya denganmu Fin? Kalau belajar itu bukan di lihat dari hasil nilai ujian. Biarkan itu menjadi sistem pemerintah. Tapi tidak pada kehidupan yang kamu jalani. Berapapun nilainya, jika selama masa tiga tahun belajar kamu di SMA sudah terekam dengan baik itu yang menjadi hal utamanya. Bukan selembar kertas berisi nilai – nilai. Mengerti?” Tegas Kak Arda. “Hehehe,,, Iya Kak Arda”. Jawabku “Oh ya paman dan yang lain dimana bi?” Tanyaku. “Mereka sedang sarapan di meja makan. Fina dan Arda sudah sarapan?” Kata Bibi. “Fina kesana dulu ya, menemui mereka”. “Kak Arda disini saja ya”. Ujar Kak Arda. Aku berjalan ke arah meja makan yang berada di rumah bagian paling belakang. Aku merasa ada suatu rahasia saat pertemuanku dengan bibi tadi. Matanya merah, lebam dan terus mengeluarkan air. Nampak seperti orang yang menangis seharian atau ada sesuatu yang sangat menyedihkan menimpanya. Aku terus berjalan untuk menemui paman dan yang lain. Di sisi lain, Kak Arda dan bibi terus berbincang – bincang di ruang keluarga. “Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Kak Arda pada Bibi. “Kamu bisa mengajak Fina pergi keluar selama satu hari?” “Memangnya kenapa bi?” Tanya Kak Arda semakin penasaran dan kebingungan. “Nenek sudah meninggal sejak subuh tadi. Sedangkan besok Fina harus mengikuti ujian nasional. Bibi tidak ingin ini menganggu Fina saat mengerjakan ujian. Bibi sengaja belum mengumumkannya. Bibi sangat takut menganggu psikologi Fina yang sudah sangat dekat sekali dengan neneknya”. Jelas Bibi. “Jangan bercanda dengan hal seperti itu bi.” Tutur Kak Arda. “Bibi tidak sedang bercanda dengan hal seserius itu. Memangnya kamu pikir bibi berharap nenek untuk meninggal dan kemudian mendapatkan banyak warisan?” Ungkap bibi dengan nada marah dan tangis yang semakin menjadi. “Kenapa bibi bisa sebegitu tenangnya saat ada Fina. Seperti tidak terjadi apa – apa. Bahkan bibi hanya mengatakan bahwa nenek sedang beristirahat”. Ucap Kak Arda yang tanpa terasa mengeluarkan airmata. “Apa kamu tega membiarkan Fina mengetahui hal ini saat mau menghadapi ujian?” “Akan lebih menyakitkan jika Fina tidak bersama nenek untuk yang terakhir kalinya”. “Setidaknya Fina sudah melewati masa ujiannya”. “Lalu, jika selama satu hari aku mengajak Fina pergipun pasti Fina akan mengetahuinya saat pulang nanti. Bukankah lebih baik Fina melihat neneknya untuk yang terakhir kali?” “Kamu ajak Fina keluar selama satu hari dan mampir ke rumah budhe kamu yang di kota dekat sekolah SMA Fina, bilang saja supaya tidak terlambat untuk datang kesekolah dan sudah meminta izin Ayah – Ibu kalian. Semua anggota keluarga sudah mengetahui kabar duka dan sudah mengetahui rencana untuk menyembunyikan hal ini dari Fina”. Jelas Bibi. “Ayah dan Ibu sudah mengerti juga?” Tanya Kak Arda. “Sudah”. Tegas Bibi. “Apa mereka menyetujui hal ini?” Tanya Kak Arda. Bibi mengangguk pelan sebagai tanda bahwa Ayah dan Ibu juga menyetujui hal ini terjadi. “Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mutlak”. Pasrah Kak Arda berusaha menenangkan diri. “Sepulang dari silaturahmi Arda akan mengajak Fina ke rumah budhe di kota dan menyuruhnya tinggal disana”. Lanjut Kak Arda. “Terimakasih Arda. Bibi percaya jika Arda yang menyuruh, Fina tidak akan menolaknya. Karena Arda adalah sosok yang sangat Fina sayang dan kagumi”. “Iya bi”. Beberapa menit kemudian aku datang menghampiri Kak Arda dan Bibi yang masih saja berada di ruang keluarga. Aku semakin terheran – heran dengan keadaan rumah bibi saat ini. Kunjunganku di awali dengan kondisi nenek yang terbaring lemah di tempat tidur, aku bahkan seperti tidak merasakan hembusan nafas nenek sama sekali. Semoga aku salah akan hal ini. Lalu, di sambut dengan mata lebam bibi dan baru saja aku melihat paman dan yang lain seperti sedang di timpa musibah yang sangat besar dan sekarang saat aku kembali menemui Kak Arda dan bibi, Kak Arda pun matanya merah meski terus memaksakan senyuman di wajahnya. “Fina sudah selesai?” Tanya Kak Arda. Aku mengangguk pelan. “Ya sudah, ayo kita ke yang lainnya”. Perintah Kak Arda. “Sebentar kak, Fina ingin menunggu nenek bangun. Fina belum meminta do’a restu dari nenek”. “Fina sayang, nenek sedang beristirahat. Kata dokter saat nenek sedang beristirahat jangan di ganggu karena dapat mempengaruhi kesehatannya”. “Fina tidak akan membangunkan nenek lagi, bi. Fina hanya ingin menunggu disini. Duduk dengan manis di samping nenek”. “Kita pergi ke yang lain dulu saja dek. Nanti kalau mereka sudah pergi bekerja susah untuk di temui”. Saran Kak Arda. “Baiklah. Bi, Fina pamit pulang dulu ya. Sekali lagi Do’akan untuk ujian Fina besok ya bi”. Pintaku. “Iya Fina”. Aku dan Kak Arda berjalan meninggalkan rumah bibi menuju ke rumah sanak saudara yang lainnya. “Kak, Fina sebenarnya bingung dengan keadaan di rumah bibi dan yang lainnya” Ujarku selesai berkunjung ke rumah saudara – saudaraku. “Bingung kenapa dek?” “Apa Kak Arda tidak merasa ada yang aneh?” “Aneh bagaimana?” “Aneh, kunjungan kita selalu di sambut dengan tangisan”. “Kakak tidak begitu memperhatikan mereka”. Ucap Kak Arda sambil garuk – garuk kepala. “Kak Arda juga sepulang dari rumah bibi matanya merah dan lebam”. Ungkapku. “Tidak. Kamu saja yang berlebihan”. “Iya, lihat sekarangpun masih lebam matanya” Kataku sambil menunjuk ke mata Kak Arda yang masih lebam dan merah. “Kakak takut jika tidak di terima di perusahan itu bagaimana dek, sebentar lagi mau bulan ramadhan. Kakak tidak mengerti harus mendaftar pekerjaan dimana lagi”. Keluh Kak Arda. “Kak Arda....” Ujarku sambil memeluknya dalam isak tangis. “Kamu jangan menangis” Perintah Kak Arda. “Fina janji nanti kalau Fina selesai ujian nasional akan menemani Kak Arda mencari pekerjaan, nanti Fina juga akan bekerja untuk membantu Ayah dan Ibu”. Tuturku masih dalam pelukan Kak Arda. “Bukan itu maksud kakak” “Kak Arda memiliki banyak kemampuan yang bisa di jadikan pekerjaan. Seperti membuat rajutan, atau kerajinan tangan lain” Saranku. “Tetap saja jika hanya bergantung pada hal itu, tidak akan banyak membantu” “Fina tidak ingin Kak Arda bekerja di Ibu kota. Nanti Fina tidak bisa bertemu setiap saat dengan Kak Arda lagi”. “Kalau Fina tidak bertemu lagi dengan nenek, apa Fina akan merasa sangat sedih” Tanya Kak Arda. Aku terkejut mendengarnya. Sejenak terdiam. “Kenapa kak Arda bertanya seperti itu?” “Usia itu tidak ada yang tau dek, apalagi nenek sudah sangat tua. Tadi pagi saja perlu istirahat lebih dari seperti biasanya”. Ungkap Kak Arda. “Iya juga sih kak. Apa pertanyaan ini ada hubungannya dengan mata merah dan lebam semua saudara – saudara Fina”. “Astaga.... Adekku tercinta. Ini misalkan saja. Mungkin mereka sedih karena Kak Arda bercerita bahwa Kak Arda hanya menjadi beban Ayah dan Ibu jika tidak segera mendapatkan pekerjaan”. “Kak Arda tidak sedang berbohong?” “Tidak”. “Yakin?” Ujarku sambil menatap tajam mata Kak Arda. “Iya dek” Ucap Kak Arda sambil tersenyum meyakinkanku. “Kapan Kak Arda pernah berbohong dengan Fina?” “Entah, hanya Kak Arda dan Allah yang tau tentang kebenarannya bukan?” “Dek, saudara kita yang dikampung sudah kita kunjungi, saudara di kota belum kan? Bagaimana kalau kita kesana hari ini nanti kamu sekalian menginap disana selama tiga hari biar ujiannya tidak terlambat dan berangkatnya juga tidak gugup”. Saran Kak Arda. “Fina nanti tinggal dimana kak?” “Di rumah Budhe Hesti yang rumahnya dekat sekolah SMA kamu itu” Jelas Kak Arda. “Fina tanya Ayah dan Ibu dulu ya kak”. “Siap”. Sesampainya di rumah, langsung aku katakan keinginanku untuk menginap di rumah Budhe Hesti dan Pakdhe Diro. Ayah dan Ibu sangat menyetujui hal tersebut. Aku langsung bersiap – siap. Kak Arda hanya mengantarku sampai terminal bus di dekat pasar Moga. Katanya Kak Arda ada keperluan penting. Biasanya kepentingan penting itu kepentingan jalan – jalan dengan temannya. Jadi, tak perlu aku tanyakan lagi mengenai hal itu. Aku rasa teman – temanku yang lain tidak ada yang seribet ini saat hendak menghadapi ujian nasional. Entah aku yang mempersulit atau aku yang menjadikannya ribet. Yang aku tau, aku hanya mengikuti saran dari Kak Arda yang menjadi sosok teladan dalam hidupku. Beberapa jam kemudian, aku sampai di rumah Budhe. Budhe menyuruhku untuk masuk dan berberes – beres. Kemudian berpamitan untuk pergi bersama Pakdhe Diro. Aku ditinggal bersama asisten rumah tangga Budhe. Aku mengerti bahwa budhe dan pakdhe adalah orang yang sangat sibuk. Tidak heran jika mereka jarang di rumah. Budhe adalah kakak kedua dari Ibu. Kakak pertama ibu berada di ibu kota bersama sang suaminya. Mereka mempunyai dua orang anak yang sekarang sedang berada di pondok pesantren.
Selama ujian Nasional aku selalu berangkat tepat lima menit sebelum ujian di mulai. Ada dua alasan yang menyebabkanku melakukan hal tersebut. Pertama, aku tidak ingin berbincang – bincang dengan temanku sebelum ujian dimulai karena itu bisa menganggu konsentrasiku dalam mengerjakan soal nantinya. Kedua, aku tidak ingin belajar dengan mereka. Bukan bermaksud menganggap mereka bodoh sehingga aku tidak mau belajar dengan mereka. Hanya saja aku tidak bisa mengingat apa yang aku pelajari dengan baik saat sebelum ujian aku belajar yang lain bersama teman – teman. Jika hal itu terjadi, aku hanya akan mengingat apa yang aku pelajari bersama teman – teman sebelum ujian. Lalu, belajarku selama ini akan sia – sia. Maka lebih baik aku memutuskan untuk berangkat ke sekolah lima menit sebelum ujian dimulai. Dan seusai sholat subuh aku sama sekali sudah tidak membuka buku lagi. Aku memanfaatkan waktu untuk olahraga dan menyiapkan sarapan kemudian makan bersama Budhe Hesti dan Pakdhe Diro. Kehadiranku di rumah Budhe ternyata membuat senang. “Sejak ada kamu, Budhe merasa Nuke ada di rumah ini. Meskipun kalian berbeda dan terpaut usia lima tahun, tetap saja Budhe merasa sedang ada Nuke dirumah ini” Ujar Budhe saat sedang sarapan di meja makan. Nuke adalah anak Budhe dan Pakdhe yang pertama. Ia sedang duduk di kelas dua SMP dan berada di pondok pesantren Darul Amanah, Kendal. Sedangkan anak keduanya bernama, Azka. Ia berusia sepuluh tahun. Azka pun sudah di pondok pesantren kan di Cilacap. Perbedaan wilayah itu karena permintaan dari mereka masing – masing saat di berikan tawaran. “Iya benar Fin, nanti kalau ujiannya sudah selesai sering – sering main ke sini ya. Pakdhe sama Budhe sering merasa kesepian”. “Siap”. Jawabku sambil terus melanjutkan sarapan. “Fina ingin seperti Nuke dan Azka Budhe”. Lanjutku. “Kenapa memang?” Tanya Budhe. “Fina ingin mondok di pondok pesantren. Tidak perlu sejauh Nuke atau Azka. Cukup pondok pesantren yang dekat dengan rumah pun tak mengapa”. Jelasku. “Nanti lulus SMA, Fina kuliah sambil mondok saja”. Saran Pakdhe. “Memangnya boleh?” “Boleh sayang, Fina inginnya dimana?” Tanya Budhe. “Di Pekalongan saja Budhe yang dekat. Nanti biar bisa di jenguk setiap minggu, hehehe”. “Tidak malu terus di jenguk?” Tanya Budhe dengan nada mengejekku. “Hehehe, Belum tau”. Jawabku. “Ya sudah, dipikirkan nanti setelah pengumuman ujian nasional saja Fin”. Saran Pakdhe. “Siap, Fina berangkat ujian dulu ya Budhe, Pakdhe. Do’akan Fina”. Pintaku. “Assalammualaikum” Ucapku setelah sampai dipintu depan rumah. “Waalaikumsalam” Jawab Budhe dan Pakdhe dari dalam rumah. Hari itu adalah hari terakhirku ujian nasional. Selesai ujian nasional, Budhe dan Pakdhe sudah di depan gerbang sekolah. Tanpa berpikir panjang, aku berlari kearah mereka. Menyapa mereka dengan senyuman hangat. Wajah mereka nampak gelisah. Entahlah. “Budhe” sapaku saat Budhe membuka jendela mobil. “Fina. Sudah selesai?” “Sudah Budhe. Hari ini Fina pulang kerumah kan? Tanyaku. “Iya. Tidak ganti baju dulu” “Tidak perlu. Budhe kenapa? Matanya merah?” Tanyaku sambil meneliti wajah Budhe yang nampak gelisah. “Fina....” Panggil Budhe. “Iya Budhe” Jawabku dengan melemparkan senyuman. Tangan Budhe membuka lebar. Aku memaknainya dengan segera memeluk erat tubuh Budhe. Dalam pelukan itu, aku mendengar isak tangis Budhe. Ku tatap Pakdhe. Pakdhe menutup wajah dan memalingkannya dariku. “Ada apa Budhe?” Tanyaku kemudian. “Budhe sedih Fina sudah tidak tinggal bersama Budhe lagi”. Jelas Budhe. “Nanti Fina bisa sering main kesini bareng Kak Arda Budhe” Ucapku. “Fina sehat terus ya...” Pinta Budhe. “Iya Budhe. Jangan sedih. Fina nanti akan sering kesini bareng Kak Arda” Ucapku sekali lagi. Kami masuk mobil. Budhe duduk di belakang bersamaku. Terus memeluk tubuhku berulang kali. Pakdhe sesekali melihat Budhe dengan wajah sedih dari kaca mobil di samping kepalanya. Tak lama kemudian kami sampai di desa. “Beeb.. Beeb..” Klakson mobil Pakdhe di bunyikan sebagai sapaan pada tetangga yang Pakdhe kenal di desa sambil membuka kaca mobil dan tersenyum padanya. Pakdhe memang orang yang ramah. Meski sudah mendapatkan kekayaan yang berlimpah, Pakdhe tidak lupa dari mana berasal. Pakdhe juga tidak bersikap sombong dan congkak pada orang – orang di desa saat berkunjung ke desa seperti saat ini. Tak heran meski sudah tidak tinggal di desa, masih banyak orang desa yang mengenal Pakdhe dengan baik. “Assalammualaikum” Teriak Pakdhe setelah sampai di depan rumahku dan turun dari mobil sedan hitamnya. “Waalaikumsalam” Jawab Kak Arda dengan kencang yang langsung berlari ke arah kami. “Kamu sehat nak?” Tanya Pakdhe saat Kak Arda bersalaman dengan Pakdhe. “Alhamdulillah Pakdhe, Fina bagaimana di sana pakdhe. Merepotkan?” Tanya kak Arda. “Tidak sama sekali. Selama Fina tinggal bersama kami, kami sangat senang. Seperti di temani anak sendiri” Celetuh Budhe sambil terus berada di sampingku. “Syukurlah budhe”. Ucap Kak Arda. “Apa Fina sangat betah di rumah Pakdhe dan Budhe?” Tanya Kak Arda menundukkan kepalanya di depanku. Aku mengangguk pelan. “Oh ya Kak Arda, Ayo kerumah nenek. Fina mau bercerita tentang ujian Fina” Ajakku. “Sekarang?”Tanya Kak Arda. “Iya Kak Ardaku tersayang”. Jawabku. “Di izinkan tidak Pakdhe?” Ujar Kak Arda kepada Pakdhe dengan nada bercanda. “Tidak mengerti pakdhe. Itu urusan kalian. Pakdhe dan Budhe ke dalam dulu ya Arda”. Kata Pakdhe sambil mengajak budhe masuk ke dalam rumah “Iya Pakdhe, terimakasih”. Ujar Kak Arda. Aku tertawa puas. Aku menarik lengan Kak Arda. Berlarian menuju rumah nenek. Sesampainya di rumah nenek, Kak Arda menyuruhku masuk sendirian. Kak Arda duduk di teras sendirian sambil bermain ponsel. Mungkin sedang asyik dengan kekasihnya. Biarkan saja. “Fin, kamu yang sabar ya”. Ungkap bibi. “Kenapa bi?” “Sebenarnya nenek sudah meninggal sejak kamu di titipkan di rumah Pakdhe”. Ucap Bibi terbata – bata. “Inalillahi wainnailaihi roji’un” Ujarku terkejut. Pandanganku kosong. Memoriku kembali pada tiga hari yang lalu pada wajah semua saudaraku didesa. Mata mereka yang merah dan lebam di hari yang sama terjadi karena berita duka. Pada ucapan bibi yang mengatakan “nenek butuh istirahat”. Dan pada jadwal kegiatan kakak yang mendadak ada kepentingan itu. Aku ingin marah pada semua orang. Tapi, Bibi menjelaskan sebabnya. Aku terus menangis, menangis dan menangis. “Arrrrrgghhhhhhhhh.....” Teriakku sekencang mungkin. Sampai terdengar dari luar. Kak Ardapun langsung menghampiriku. “Fina??” “Kak Arda kenapa?” Teriakku terus meneteskan air mata. “Fina sudah mengetahui berita dukanya?” Tanya Kak Arda masih dengan nada tenang. “Sudah. Bibi baru saja menceritakan semuanya pada Fina tadi. Fina kecewa dengan Kak Arda. Fina menganggap Kak Arda tidak pernah berbohong ke Fina. Kenapa Kak Arda bohong sama Fina... Kenapa kak?” “Fina masih ingat apa yang Kak Arda tanyakan sebelum kak Arda mengantar Fina ke rumah Pakdhe di sana?” “Tanya apa?” “Kalau Fina sudah tidak bisa bertemu lagi dengan nenek, apa Fina merasa sangat sedih?. Ingat?” Ungkap Kak Arda mengingatkan. “Tapi, kak Arda tidak bilang itu terjadi? Saat Fina tanya kenapa mereka bersedih, kak Arda menjawab tentang pekerjaan kak Arda”. “Kak Arda tidak berbohong. Berita duka itu memang menjadi topik utama, tapi kesedihan kakak jika belum bekerja menjadi berita duka sampingannya”. Jelas Kak Arda. “Fina benci Kak Arda” Tegasku. Kemudian berlari meninggalkan Kak Arda di rumah nenek. Kak Arda mengejar tanpa suara, hanya tetap berada di belakangku yang entah berjalan ke mana. Aku larut dalam kekecewaan dan kesedihan yang tidak terungkapkan. Isak tangisku semakin menjadi. Rasa kecewaku pada Kak Arda sangat besar. Rahasia yang Kak Arda sembunyikan dariku hanya karena ujian. Aku kecewa pada Kak Arda yang selalu mengatakan bahwa nilai bukan segalanya, tapi saat ada berita duka Kak Arda setuju jika berita duka bisa membuatku tidak tenang menghadapi ujian. Seakan dengan berita duka itu, nilaiku akan turun. Aku merasa kehilangan sosok Kak Arda. Kak Arda yang tak pernah hanya terpaku pada hasil akhir. Kak Arda yang lebih menghargai proses. Kak Arda yang selalu berpikiran positif. Dari kejadian itu, seolah Kak Arda lebih mementingkan nilai daripada perasaanku saat mengetahui nenek meninggal. Tapi, ada titik dimana aku sangat mengerti apa yang dilakukan kak Arda adalah benar. Aku sadar bahwa Kak Arda selalu melakukan segala sesuatu penuh dengan pertimbangan tanpa buru – buru. Berlahan aku bisa mengerti alasan kak Arda menyetujui hal itu dilakukan padaku. Aku berusaha mengingat semua yang di lakukan Kak Arda padaku selama ini. Aku sedikit tenang. Tapi sesaat kemudian aku teringat bahwa kak Arda tidak memberitahukan bahwa nenek telah meninggal. Setidaknya sebelum bertemu Kak Arda aku sudah berusaha untuk sedikit memahaminya. Aku teringat akan sebuah pepatah tua yang mengatakan bahwa satu kesalahan yang dilakukan seseorang mampu menghapus segala kebaikan yang pernah dilakukan. Kurasa itu terjadi saat ini padaku. Semua kebaikan yang Kak Arda lakukan padaku seolah musnah hanya karena satu kesalahan yaitu, tidak memberitahu padaku tentang berita duka yang terjadi pada nenekku tercinta. Sekitar tiga puluh menit kemudian kakiku sudah sangat lelah. Bahkan tak sanggup untuk berjalan. Lunglai. Kak Arda berlari menghampiriku. Memegang tubuhku yang hampir terjatuh sepenuhnya ke tanah. Aku masih terdiam seribu bahasa. Melihat Kak Arda yang terus berusaha membuatku berbicara. Aku menutup mataku, karena sedang tidak ingin melihat Kak Arda. Bibirku berkomat – kamit berbicara tanpa suara. Hidungku naik turun tak beraturan. Air mataku kembali mengalir dari mataku yang terpejam. Masih dalam mata tertutup, ada tangan lembut yang mengusap air mata itu. Aku tau itu adalah tangan Kak Arda. Seketika aku langsung membuka mata, menangis sejadi – jadinya di depan Kak Arda. Aku melihat senyuman dari Kak Arda. Tapi, aku membalasnya dengan pukulan yang berulang ke arah tubuhnya. Kak Arda hanya diam dengan terus tersenyum. Sampai aku lelah dan jatuh terduduk sambil menundukkan kepala. “Sudah lega?” Tanya Kak Arda saat aku terduduk di tanah “Kak Arda menyebalkan” Jawabku. “Lalu?” “Kak Arda tidak sayang sama Fina”. “Fina boleh mengatakan apapun, tapi tentang perasaan, hanya kak Arda yang bisa mengungkapkan dengan pasti” Jelas Kak Arda. Aku kembali menangis lagi. Seakan tidak bisa mengatakan apapun lagi selain air mata. “Kalau Fina masih ingin menangis, menangis saja dulu sampai Fina merasa lega. Kalau Fina ingin memarahi Kak Arda, marah saja sampai tersampaikan semua amarah itu”. Lanjut Kak Arda. “Kak Arda menyebalkan”. Ucapku dan menangis kembali. Beberapa menit kemudian. Aku merasa sudah cukup menangis dan memarahi Kak Arda. Aku tegakkan kepalaku. Aku menatap wajah Kak Arda yang masih saja tersenyum dengan tulus padaku. Dengan cepat, aku langsung memeluk Kak Arda. “Kak Arda minta maaf ya dek” Ujar Kak Arda saat aku memeluknya. Kak Arda memang orang yang paling mengertiku. Menerima kemarahan yang aku arahkan padanya. Menghadapiku dengan begitu sabarnya. Menunggu sampai aku bisa lega dengan sendirinya. Dan kemudian menenangkan semuanya saat aku sudah bisa memeluknya sebagai tanda memaafkan. “Iya kak” Jawabku singkat. “Kak Arda sama sekali tidak berniat untuk berbohong pada Fina. Kak Arda hanya mengalihkan fokus Fina saat itu. Fina lebih memahami Kak Arda dari siapapun, Kak Arda percaya bahwa Fina bisa memahami sikap Kak Arda. Fina, Kak Arda sangat sayang sekali sama Fina. Fina boleh bilang apapun yang Fina suka. Fina boleh bilang Kak Arda jahat, pembohong, penipu atau apapun. Tapi, tolong jangan katakan Kak Arda tidak menyayangi Fina. Fina boleh membenci Kak Arda. Tapi, Fina harus paham dan sadar jika Kak Arda akan selalu dan terus menyayangi Fina sebagai adik tersayang yang Kak Arda miliki” Jelas Kak Arda saat aku dalam pelukannya. Aku masih terdiam tanpa berbicara sepatah katapun. “Fina tau kenapa Kak Arda melakukan itu?” Tanya Kak Arda. Aku hanya menggelengkan kepala. “Awalnya Kak Arda tidak setuju dengan ide tersebut, tapi berhubung Kak Arda mengetahui betapa besar rasa sayang Fina ke nenek, maka Kak Arda takut jika Fina terlalu larut dalam kesedihan. Kak Arda bukan takut Fina tidak mendapatkan nilai buruk saat ujian. Tapi, Kak Arda takut Fina jatuh sakit jika hari itu terluka karena berita duka dan keesokan harinya sakit karena soal ujian yang berbelit. Maka harus ada satu yang di selesaikan dulu. Tidak harus dua berita itu di jadikan satu dalam satu waktu. Dan akhirnya Kak Arda setuju untuk mengikuti ide mereka dengan membiarkan Fina ujian dulu nanti selesai ujian akan diberi tahu tentang berita duka itu. Kak Arda tau bagaimana Fina akan bereaksi setelah tau berita duka, Kak Arda sudah siap dengan itu semua yang akan Fina lakukan. Kak Arda mengaku salah dan meminta maaf yang telah terjadi. Apapun yang bisa menenangkan Fina akan Kak Arda lakukan setelahnya. Maafkan Kak Arda ya dek” Jelas Kak Arda dengan nada tulus dan penuh harap, “Tapi Kak Arda berbohong”. Tegasku. “Sudah Kak Arda katakan bahwa Kak Arda tidak berbohong dengan Fina tentang apapun. Kak Arda hanya mengalihkan fokus Fina”. Ulang Kak Arda. “Bagaimana cara mengalihkannya. Fina merasa di tipu”. “Dengan mengajak Fina ke rumah Budhe di kota”. Jelas kak Arda. Aku terdiam sejenak. Dan tersenyum seketika. “Iya juga, Fina baru ingat, hahaha” Jawabku. “Maafkan Kak Arda ya dek” Pinta Kak Arda. “Iya Kak Arda”. Kataku sambil menghapus bekas air mata dipipi dan menggantinya dengan senyuman simpul. “Alhamdulillah Kak Arda baru saja melihat pelangi di gelapnya alam semesta”. Ucap Kak Arda, aku tersipu malu mendengar ucapan Kak Arda. “Nampaknya alam semesta baik – baik saja dan tidak gelap”. Ucapku sambil melihat ke arah langit yang begitu cerah dengan teriknya mentari, berpura – pura tak mengerti maksud kak Arda. “Kak Arda sedang sakit, hahaha” Lanjutku sambil memegang jidat Kak Arda. “Tidak bisa Kak Arda tunjukkan. Semestanya sudah secerah mentari, bagaimana bisa Kak Arda tunjukkan kegelapan itu?” Pungkas Kak Arda dengan gaya berpikir menghadap ke arah langit. “Mau melihat keceriaan alam semestanya Kak Arda yang tadinya gelap gulita?”. Tawar Kak Arda. “Boleh” Jawabku singkat. “Ayo bangun, Kak Arda tunjukkan”. Tutur Kak Arda sambil mengulurkan tangan untuk membantuku bangun berdiri. Setelah aku berdiri, Kak Arda menyuruhku berjalan ke depan. Aku mengikuti perintahnya. Kak Arda menarikku dari belakang saat aku melewati jendela rumah tetangga. Tangannya menuntun wajahku melihat ke arah kaca bening itu. “Itu alam semestanya Kak Arda. Kalau alam semesta itu gelap gulita semua tiada berarti lagi bagi Kak Arda. Hangat teriknya mentari, sejuknya embun pagi, indahnya warna pelangi, mempesonanya senja, gemuruhnya ombak laut, semua hanya seperti gelapnya langit, perihnya luka dan gemuruhnya petir yang membuat semua orang ketakutan. Itu yang bisa Kak Arda rasakan saat alam semestanya Kak Arda suram. Bagi Kak Arda, alam semesta yang tiada batas bisa bersekat karena kemuraman wajahmu dek. Janji ya jangan mengatakan Kak Arda tidak menyayangi Fina. Kalau perlu beritahu Kak Arda apa yang harus dilakukan supaya Fina percaya betapa besar rasa sayang yang Kak Arda miliki untuk Fina”. Ungkap Kak Arda sambil menunjuk ke arah wajahku yang nampak jelas di kaca jendela. “Tidak perlu Kak. Semua yang telah berlalu menjadi bukti betapa besar Kak Arda menyayangiku. Tidak perlu selalu ada karena Kak Arda bukan Tuhan. Tidak perlu berusaha sempurna karena Kak Arda hanya manusia biasa. Fina, ingin Kak Arda bersikap sewajarnya saja seperti biasa. Seperti itu saja sudah menunjukkan betapa besar rasa sayang Kak Arda. Jadi tidak perlu berlebihan. Bukankah sesuatu yang berlebihan itu tidak baik Kak?”. Jawabku “Kesedihan yang berlebihan juga tidak baik. Jangan terlalu larut dalam kesedihan ya. Fina ingat tentang firman Allah yang mengatakan bahwa Setiap yang bernyawa pasti akan mati?” “Iya itu surat Al Imran ayat 185. Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian” Ucapku “Benar sekali. Fina boleh sedih atas kepergian nenek. Tapi jangan berlebihan ya. Ikhlaskan kepergian nenek”. Saran Kak Arda “Siap kak” Aku menghapus bekas air mata yang ada dipipiku. Aku berhasil bersikap tenang. Amarahku sudah terlampiaskan. Kesedihanku sudah tertumpahkan. Kini, aku berjalan dengan tenang menuju ke rumah untuk bertemu Ayah dan Ibu yang sedang berbincang dengan Pakdhe dan Budhe. Kak Arda mengikuti dari belakang. “Assalammualaikum Ayah, Ibu” Sapaku saat sudah berada di depan pintu yang terbuka. Dariluar nampak mereka tengah berbincang – bincang hangat ditemani secangkir teh manis dan biskuit yang tersedia di meja tamu. “Waalaikumsalam” Jawab Ayah, Ibu, Pakdhe dan Budhe dari dalam rumah. “Anak Ayah sudah pulang. Bagaimana Ujiannya sayang?” Kata Ayah yang melihatku berjalan ke arah ruang tamu dan menyalami semua orang satu persatu. “Ayah tau, ujiannya luar biasa”. Jawabku. “Kamu bisa menjawab dengan baik?” “Kalau ujiannya luar biasa, jawaban yang aku berikan pasti istimewa. Tapi, kalau Ayah menanyakan hasil ujiannya, masih menjadi rahasia”. Ungkapku. “Kalau nilai jangan dijadikan prioritas ya yah. Pengetahuan yang sesungguhnya bukan dilihat dari nilai yang didapatkan. Tapi dari pengetahuan yang sudah melekat di dalam hati dan pikiran. Kalau nilainya bagus tetapi tidak bermoral bagaimana?, lihat hasil belajar Fina dari sikap dan tingkah lakunya yang semakin bagus”. Kak Arda berusaha mengingatkan Ayah yang terdengar berharap nilai Fina yang sempurna. “Iya nak, tenang saja. Ayah hanya bertanya tidak memberikan tuntutan”. Jelas Ayah. Kak Arda tersenyum senang mendengar jawaban ayah yang sesuai harapan. “Fina, Ibu minta maaf ya?” Ucap Ibu. “Untuk apa bu?” “Karena terlambat memberitahukan kabar duka pada Fina” Ungkap Ibu. Raut wajahnya penuh penyesalan. Matanya berkaca – kaca seolah teringat dengan peristiwa kehilangan tempo hari. Mulutnya bergetar menandakan sulitnya untuk memberitahukan kabar duka itu. “Ibu.... tidak apa – apa. Fina mengerti. Fina percaya semua melakukan ini untuk kebaikan Fina. Terimakasih ya bu. Awalnya Fina memang kecewa tapi Fina sudah bisa menerima itu dengan lapang dada. Ibu jangan bersedih. Allah lebih menyayangi nenek dari pada kita. Jadi, Allah menyuruh nenek pulang, agar bisa menemani kakek disana. Ibu jangan sedih ya” Ujarku dengan penuh senyuman. Ibu pasti membayangkan sikapku yang akan mengamuk jika tau berita duka ini. Sekali lagi, aku memang kecewa dengan sikap mereka. Tapi, Kak Arda berhasil menenangkanku. Aku bersyukur sekali mempunyai kakak seperti Kak Arda. Kesedihan dan kekecewaan besar yang bersemayam di dalam hati bisa dikalahkan dengan kelembutan hati. Sikap aroganku dihadapi dengan tenang sampai emosiku bisa terkontrol dengan baik. Ibu yang terlihat panik menjadi tersenyum lebar melihat sikapku yang tenang. “Fina ingin istirahat sebentar. Nanti ba’da asar Fina mau berziarah ke makam nenek ya”. Pintaku. “Iya nak” Jawab Ibu. Kak Arda duduk bersama mereka untuk berbincang – bincang. Aku berpamitan untuk istirahat. Dan berjalan meninggalkan mereka menuju ke kamar tidurku yang berada tepat di belakang ruang tamu. Sesampainya di kamar tidur. Ku rebahkan tubuhku yang masih menggunakan seragam abu – abu. Aku ingin langsung mengistirahatkan tubuhku. Tapi, mataku tak kunjung terpejam. Teringat akan hari – hari yang aku lalui bersama nenek. Mataku menatap langit – langit rumah. Tak lama kemudian meneteskan air mata. Aku kembali menangis dalam keheningan. Kesedihanku memang berhasil di kendalikan. Namun bukan berarti kesedihan itu bisa sepenuhnya dihilangkan. Kehilangan seseorang yang sangat berarti sangat menyiksa diri. Aku tidak lagi menyalahkan kak Arda ataupun keadaan. Aku menyalahkan diriku. Saat aku datang ke rumah nenek, bukankah nenek sudah lemah tak berdaya di atas tempat tidur. Bukankah nenek tak terbiasa dengan hal itu?. Harusnya aku tidak pergi begitu saja melihat kebiasaan nenek yang tidak seperti biasanya. Air mataku keluar semakin deras membayangkan hari itu. Sungguh itu salahku yang tak mampu memahami apa yang terjadi. Kematian memang takdir. Waktu hanya berlalu. Jadi, bukan mereka yang salah. Bukan salah Allah y ang memanggil nenek dengan kematian. Bukan salah waktu yang datang tak tepat. Takdir itu sudah di tuliskan dengan jelas dan pasti. Kematian nenek pun sama. Ini salahku yang tak memahami keadaan nenek saat itu. Bodoh sekali. Setelah beberapa waktu aku menyalahkan diri, akupun terlelap tidur. Ku harap kalian tau bagaimana perasaanku. Sedih. Gelisah. Kacau sekali rasanya. Tak bisa kuungkapkan lagi. Tapi, ku mohon jangan salahkan siapapun untuk hal ini. Biarkan semua menjadi indah dengan bimbingan dari yang maha kuasa. Aku sudah cukup tegar dan tenang meski tetap saja mengalirkan air mata. Percayalah! * * * Selesai sholat ashar berjamaah di masjid dekat rumah, aku dan Kak Arda pamit kepada Ayah dan Ibu untuk berziarah ke makam nenek. Ternyata Ayah dan Ibu juga akan berziarah kemakam nenek. Kamipun berziarah bersama ke makam nenek. Kami pergi ke makam nenek menggunakan mobil milik Budhe dan Pakdhe yang sekarang sedang berkunjung di rumah bibi. “Assalammualaikum” Sapa ku yang terlebih dahulu sampai di rumah bibi. “Waalaikumsalam keponakan” Jawab bibi penuh kegirangan yang melihatku datang dengan senyuman. “Bibi minta maaf ya Fin” Ucap Bibi setelah aku berdiri di depannya. “Tidak apa – apa bi. Fina mengerti. Budhe sama Pakdhe masih disini?” Tanyaku. “Masih. Katanya mau mengantar Fina berziarah ke makam nenek” Jelas Bibi. Aku mengangguk tegas. “Anak kakak sudah dewasa ya. Bisa menerima kenyataan dengan tenang”. Ujar Bibi setelah Ayah, Ibu dan Kak Arda baru saja sampai di rumah Bibi. “Siapa dulu kakaknya”. Ucapku. “Kenapa yang di bawa – bawa Arda bukan kalian kak?” Sindir bibi pada ayah dan ibuku. “Lho,, lho,,, lho,,, ini rahasia anak muda bibi” Ujarku. Di susul dengan gelak tawa. “Ya sudah lah. Urusan anak muda” Kata Bibi sambil tertawa terbahak – bahak. Budhe dan Pakdhe pun menghampiri kami. Mengatakan sudah siap untuk pergi berziarah ke makam nenek. Kami berpamitan kepada bibi yang berada di rumah sendirian karena paman sedang bekerja. kami pun berangkat naik mobil milik Pakdhe. Sesampainya di pemakaman. Aku ingin sekali menangis lagi di atas nisan nenek. Tetapi aku merasa malu karena sudah bersikap tenang tapi tiba – tiba kembali bersedih. Kami mengawali ziarah dengan mengusap batu nisan nenek sebagai tanda salam kepada ahli kubur. Kemudian membacakan do’a tahlil yang dipimpin oleh Ayah. Selesai berdo’a, aku meminta izin untuk bercerita kepada nenek. Aku pun di izinkan. Mereka tidak pergi meninggalkanku. Mereka khawatir aku akan bersedih kembali. “Assalammualaikum nenek. Nek, Fina sudah selesai ujian nasional. Fina minta maaf ya nek karena tidak bisa menghadiri pemakaman nenek waktu itu. Tapi, Fina janji akan selalu mendo’akan nenek dari sini. Fina tau kalau Allah lebih menyayangi nenek dari siapapun. Makanya nenek sudah di panggil sejak beberapa hari yang lalu. Nanti kalau nenek merindukan Fina mampir di mimpi Fina ya nek. Fina sayang sekali dengan nenek. Jika kematian memisahkan jasad nenek dengan Fina, tenang saja masih ada ribuan kenangan yang mampu mengurangi rasa kehilangan. Nenek yang bahagia ya disana. Fina ikhlas jika nenek bersama Allah karena sudah berada di penjagaan terbaik sepanjang masa. Nenek kan sudah dekat sama Allah nanti pintakan kesuksesan Fina ya nek, biar Fina tidak mengecewakan Ayah dan Ibu. Fina sedang menunggu pengumuman, nanti Fina pasti akan melanjutkan ke perguruan tinggi dan juga menjadi santri supaya bisa mendo’akan nenek dengan baik. Kita lanjutkan nanti lagi ya nek. Fina mau pulang ke rumah dulu. Kalau nenek ingin mengetahui perkembangan Fina, nenek kan bisa mengintip dari atas sana. Fina pamit nek. Assalammualaikum” ucapku di depan makam nenek. Selesai aku mengungkapkan perasaanku yang tak menentu itu, kami pulang ke rumah. Ziarah pun di akhiri dengan kembali mengusap batu nisan nenek. Jika kita bertemu dengan orang lain kita perlu menyapanya dengan sopan, seperti mengucapkan salam dan bersalaman. Begitu pula jika kita berziarah ke makam, kita harus mengucapkan salam terlebih dahulu kepada ahli kubur yang akan kita ziarahi dan mengakhirinya dengan salam pula. Caranya seperti yang sudah dilakukanku dan keluargaku yaitu mengusap kedua batu nisannya, sebagai tanda salam.