CINTA TAK MEMILIKI POLA
Bab 1 Rider Wanita

Aku melirik jam yang melingkar di tangan, memastikan sudah waktunya untuk kembali ke rumah dan beristirahat bersama 2 malaikatku. Jarum jam menunjukkan angka 10 tepat, aku merogoh saku jaket kebesaran dan mengambil HP, baru saja aku berniat mematikan aplikasi ojek online, ponsel ku mengeluarkan nada keras tanda orderan baru masuk. Melihat nama pemesan yang tertera, aku langsung merasa ragu untuk menerimanya, tapi melihat tempat yang dituju oleh si pemesan tidaklah jauh dari tempat tinggal ku, aku cepat menerimanya. Gegas kutekan beberapa angka yang tertera di aplikasi dan tersambung. ["Selamat malam, dengan pak Ardi?"] Tanyaku membuka percakapan. ["Benar,"] jawab seorang pria di seberang. [" Maaf… Bapak barusan pesan ojek ya, Pak?"] tanyaku memastikan. [" Iya, maaf… Kok suara perempuan ya? Apa memang perempuan?"] tanyanya balik. Seperti biasa, melihat namaku di aplikasi orang pasti menyangka kalau aku adalah seorang laki-laki, karena nama yang tertera pada aplikasi adalah Dirgana. P. [" Iya pak, benar. Jadi, bagaimana pak? apa Bapak keberatan kalau yang mengantar perempuan?"] tanyaku lagi. [" Oh, iya... tidak apa - apa. Jemput sesuai aplikasi ya,"] jawabnya langsung. Aku mematikan sambungan telepon setelah menutup pembicaraan dan langsung mengarahkan motorku ke tempat penjemputan yang juga tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri tadi. Bismillah, aku meminta perlindunganNya selalu, apalagi di jam-jam seperti sekarang dan dengan pemesan ojek laki-laki. Tempat penjemputan sebenarnya sih di tengah kota, masih banyak kendaraan berlalu-lalang. Tapi, tetap saja aku harus waspada. Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku bersamaan dengan tepukan, ku arahkan pandangan ke sebuah warung yang gelap, aku melihat beberapa laki-laki berdiri di sana. Dua orang laki-laki memintaku datang ke arah mereka lewat lambaian tangan. Kuarahkan stang motor ke tempat orang-orang yang memanggilku barusan, sambil terus melafalkan doa meminta penjagaan dari sang pemilik dunia. "Saya pikir tadi laki-laki," kata salah seorang dari laki-laki yang tadi melambaikan tangan ke arahku. Aku hanya merespon ucapannya lewat senyuman sopan saja, seraya menenangkan hati dan perasaanku. "Saya minta tolong antar kan nenek ini, ya." Aku menatap ke arah tangannya menunjuk, seorang perempuan tua keluar dari balik warung yang hanya diterangi cahaya lampu lima Watt berwarna oranye. Aku lekas mengucap hamdalah di dalam hati, lalu melebarkan senyuman. "Nenek beruntung, tukang ojeknya perempuan. Jadi, nenek nggak perlu takut," ucap salah seorang dari belakang. "Alhamdulillah, iya nak... Terima kasih banyak ya…." kata si nenek. "Sama-sama nek... hati - hati," jawab para laki-laki itu berbarengan. "Hati-hati bawa motornya buk, Uni." Pesan mereka padaku sebelum aku berlalu, aku tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan sopan, lalu membunyikan klakson dan berlalu. Ku kendarai motor dengan hati - hati, bahkan cenderung pelan. Mengingat kalau wanita yang duduk di boncengan motorku adalah seorang nenek tua. "Darimana Nek, kok malam - malam sendirian?" tanyaku membuka pembicaraan. "Baru sampai dari Bukittinggi, udah jam segini angkutan umum udah gak ada lagi," jawab si nenek ramah. "Nenek sendirian saja ke Bukittinggi? Kenapa gak ajak anak atau cucu?" tanyaku lagi. Mengalir lah cerita si nenek, kalau dia menemui anak dan cucunya di Bukittinggi. Anaknya hanya satu, tinggal bersama keluarganya di sana. Si nenek hanya tinggal sendirian di Padang. Karena lebaran pertama si anak dan cucu tidak pulang ke Padang, si nenek memberanikan diri datang mengunjungi sendiri di lebaran kedua ini, pengennya buat surprise ternyata si nenek yang dapat surprise karena si anak justru sudah sampai di Padang ketika dia berada di Bukittinggi. Menurut beliau, beliau masih cukup kuat berjalan-jalan sendirian, jadi tidak butuh ditemani. Cara bicara si nenek yang lucu mampu menghangatkan suasana, aku langsung teringat ibuku di rumah. Usianya belum setua si nenek, tapi kemana - mana masih aku temani. Tapi, itu juga karena aku yang memaksa. Aku tidak akan mungkin tega membiarkannya pergi ke sana kemari sendirian. "Ini nak, terimakasih banyak, hati - hati... Semoga berkah untuk anak-anaknya, ya…." Ucap si nenek setelah aku mengantarkannya. Aku memang bercerita kepadanya tadi kalau aku memilih pekerjaan ini demi anak-anakku. "Sama-sama, Nek… Mari, saya permisi dulu," ucapku berpamitan, setelah memasukkan upah mengantarkannya langsung ke saku celana. Rasanya tidak perlu dihitung, kalau pun kurang aku ikhlas. Aku kasihan melihatnya yang sudah tua, tinggal sendirian, dan sedang bahagia karena ternyata si anak dan keluarganya sudah berada di Padang untuk mengunjunginya. Sebelum melajukan motor tadi, aku sudah mematikan aplikasi biker di ponsel, sudah waktunya pulang dan berkumpul bersama mama dan anak-anakku. Aku tahu sekali, kedua anakku belum akan tertidur sampai aku tiba di rumah. Buat kedua anakku, saat menjelang tidur adalah saatnya berbagi cerita tentang kegiatan mereka selama seharian, bercanda, saling ejek dan berebut pelukan dariku. Aku sangat menikmati waktu-waktu seperti itu. Entah berapa lama lagi aku bisa bercanda bersama keduanya, mengingat semakin hari usia mereka semakin bertambah, waktu mereka buatku pastinya akan semakin berkurang nanti. * Namaku Dirgana Putri, aku seorang single parents yang harus membesarkan dua orang anakku sendirian. Mantan suamiku sudah lama tak membiayai kebutuhan kedua anakku, jadi aku lah yang harus banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anak ku yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku hanya tamatan SMA, karena itulah aku memilih bekerja sebagai pengemudi ojek on line. Selain karena pekerjaan ini tidak membutuhkan ijazah sarjana, aku juga bisa mengatur waktu bekerja sendiri. Sehingga, aku masih bisa mengurusi anak-anak sementara aku bekerja mencari nafkah. Aku tinggal bersama kedua anak dan Ibuku di rumah orang tuaku, rumah yang ditinggalkan almarhum Ayah untukku dan Ibu. Sejak kecil hingga saat ini, aku tak pernah hidup berpisah dengan Ibu. Bahkan setelah menikah dulu pun, aku dan suami tinggal bersama beliau. Sebagai anak tunggal, aku tentu tidak mungkin meninggalkan Ibu seorang diri. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjaga beliau sampai akhir hayat. * Nada pemberitahuan masuk dari ponselku berbunyi, pertanda orderan ojek memanggil. Ku perhatikan sebentar tujuan jemput dan tujuan antar yang tertera di aplikasi, lalu segera menekan tulisan OK yang ada pada layar. ["Selamat siang, dengan Ibu Ajeng?"] ["Ya, benar."] ["Saya dari Gojek, Bu… Titik jemputnya sesuai aplikasi ya, Bu?"] ["Iya, Dek."] ["Ok, ditunggu ya, Bu… Terima kasih, selamat siang,"] ucapku menutup percakapan. Lekas kukenakan jaket hijau kebesaran, lalu menyandang tas punggung dan segera keluar dari kamar menuju teras. Setelah berpamitan pada Ibu dan si bungsu, Fajri, aku segera menyalakan mesin motor dan berlalu meninggalkan rumah. Bismillah… Semoga perjalanan hari ini lancar, pintu rezeki dibukakan dan aku bisa pulang dengan selamat untuk beristirahat bersama anak-anak… Aamiin.

Bab 2 Menolong Wanita Tua

Aku kembali melirik jam tangan, masih sore dan orderan hari ini sepi. Aku kembali sibuk dengan ponsel ku, buka-buka sosial media dan mengecek perjalananku hari ini. Baru 3 orderan yang aku dapatkan. Aku menghela nafas berat dan menghembuskannya dengan cepat, sepertinya hari ini akan zonk lagi seperti kemarin. "Sabar... Rejeki gak kemana kak," ujar salah satu teman sesama pengendara ojek yang sedari tadi menemaniku bersama tiga pengendara ojek lainnya, dia seperti tahu keresahan ku. "Anak bujang mana tau rasanya pulang ke rumah gak bawa uang," kataku menimpali. Mereka semua tertawa mendengar jawabanku, sambil tetap asyik dengan game di gawai nya masing-masing. "Lagian... Bukannya cari suami, malah keluyuran," timpal yang lain mengejek. Aku menarik nafas bermaksud untuk membalas membalas ejekannya, tapi sebuah teriakan di seberang menghentikan rencanaku. Aku dan keempat rekan pengendara ojek, menoleh cepat ke arah seseorang yang berteriak tersebut. " Tolong!! Tolong!!" Aku lekas turun dari motor dan berlari ke arah perempuan yang berteriak minta tolong di seberang, diikuti oleh rekan-rekanku yang lain. Kami langsung menyeruak masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang sudah lebih dulu mendatangi perempuan yang berteriak tadi. Untuk seseorang yang berukuran tubuh sepertiku, tidaklah sulit untuk menyingkirkan orang - orang yang berperan sebagai penonton yang berkerumun. Kedua mataku membelalak kaget begitu melihat seorang wanita tua tengah terduduk di aspal, tangan dan kakinya terluka dan wajahnya pucat. Beliau seperti orang yang sedang shock, tapi aku pun tak tahu apa yang terjadi. Aku lekas berdiri lagi dan berlari ke arah warung, mengambil satu botol air mineral, membayarnya lalu kembali ke tempat wanita tadi yang terduduk lemas tadi. Botol air mineral, yang sudah ku buka penutupnya lebih dulu, kuserahkan pada wanita tersebut, beliau langsung meraih botol air mineral yang aku serahkan dan meminum isinya sampai setengah. "Apa yang terjadi uni (kakak)?" tanyaku pada perempuan muda yang tadi berteriak minta tolong. "Ibu ini terjatuh saat sedang jalan tadi, saya yang berjalan di belakangnya jadi panik. Makanya saya minta tolong," jawab wanita muda yang berteriak minta tolong tadi. "Jadi uni bukan anak atau keluarganya?" tanya temanku yang lain. "Bukan," jawab wanita muda itu lagi, masih dalam keadaan panik. Orang - orang yang tadi berkerumun, satu persatu mulai pergi. Setelah beberapa dari mereka mengabadikan kejadian tadi. Aneh… Mereka berkerumun hanya untuk mengabadikan, bukan memberi pertolongan. Miris…. Aku mengambil tissue dari dalam tas punggung yang selalu ku bawa, lalu mengeluarkan beberapa lembar tisu dari lubang pembungkusnya. " Maaf ya buk…." Aku meminta izin terlebih dahulu sebelum membersihkan wajah Ibu itu, wajahnya sudah tidak pucat seperti di awal tadi setelah minum. Bagian wajah sebelah kanannya sudah dikotori pasir, mungkin bagian wajah tersebut sudah sempat mendarat di jalanan saat jatuh tadi. Inilah alasan kenapa aku tidak pernah membiarkan mama pergi sendirian, hal seperti ini yang aku takutkan. Ku lanjutkan dengan membersihkan tangan dan kakinya yang kotor dan terluka. "Ibu tinggal dimana?" tanyaku pelan, setelah melihat kondisinya mulai stabil. "Jalan Andalas," jawabnya singkat. "Ibu ingat nomor ponsel anak atau suami Ibu yang bisa dihubungi, biar kami bantu menghubungi untuk menjemput ibu." tanya salah satu temanku. "Tas saya di jambret tadi di sana, saya gak hafal nomor anak saya," jawabnya sambil menangis. Aku mengelus tangannya, mencoba menenangkan. "Kalau saya antar kan ibu pulang, apa ibu ingat jalan menuju rumah?" tanyaku lagi. " Ingat nak, ingat... Bisa tolong antar kan ibu nak?" Sahut Ibu tersebut sambil tersenyum senang. Aku membalas senyumannya, lalu menganggukkan kepala. "Ya sudah kak, antar lah kak," ujar salah seorang rekan pengemudi ojek on line yang tadi duduk bersama-sama denganku sebelum kejadian. Aku berdiri dan kembali ke tempat aku memarkirkan motor sebelumnya, lalu menyalakan mesin motor dan membawanya ke tempat si ibu yang masih duduk lemas. Rekan-rekanku membantu si ibu naik ke boncengan motorku. "Peluk saya yang kuat bu, kalau ibu pusing tolong beritahu saya ya," pintaku setelah si ibu mendapatkan posisi duduk yang nyaman di boncengan ku. Setelah beliau mengiyakan, aku mulai menjalankan motor dengan pelan. * "Ini nak, ini rumah saya." Aku memberhentikan motor tepat di depan sebuah rumah mewah. Dua orang satpam yang sedang berdiri di depan pagar cepat menghampiri kami dan membantu si ibu turun dari motorku. "Nyonya!! Alhamdulillah Nyonya sudah kembali," ucap salah seorang dari satpam tersebut. " Ma!!" Teriakan itu seketika mengejutkan aku, seorang laki - laki muda berlari ke arah si Ibu. Nampak sekali kecemasan di wajahnya juga di wajah orang-orang yang tadi memanggil beliau dengan kata " Nyonya." Laki - laki itu langsung memeluk dan membelai wajah ibunya yang kacau, lalu mengajak ibunya masuk ke dalam rumah. Salah seorang satpam tadi mendatangiku, "Berapa ongkosnya uni?" tanya si satpam sesaat setelah Nyonya nya masuk ke dalam rumah bersama laki-laki muda tadi. "Tidak pak, saya hanya membantu mengantarkan saja," jawabku menolak untuk dibayar. "Bukannya si uni ini ngojek?" tanya satpam itu sambil melirik ke arah jaket yang aku kenakan. " Iya, saya tukang ojek. Tapi saya tidak dipesan, memang berniat membantu saja. Si ibu tadi jatuh di dekat tempat saya mangkal, tolong sampaikan pada keluarganya agar diobati dulu luka-luka di kaki beliau," ucapku sambil meninggalkan pesan, satpam tersebut mengangguk mantap. "Saya permisi dulu, Pak… Mari," ucapku sebelum berlalu, lagi-lagi satpam tersebut tersenyum dan mengangguk sopan. "Terima kasih banyak, Uni," ucap si satpam sebelum malu berlalu. Sekarang, giliran ku lah yang mengangguk dan tersenyum sopan kepada si satpam. Setelah berpamitan, aku segera tancap gas dan pergi menjauh. Entah kenapa aku jadi merindukan mama. Mungkin sudah saatnya aku pulang, membawa berapapun yang sudah aku dapatkan hari ini. Lagipula, ini masih suasana libur, orderan juga pasti masih sepi. * Author POV "Mulai besok, Mama tidak boleh lagi keluar rumah sendirian!" Pemuda itu berkata dengan tegas, tangannya sibuk membersihkan luka - luka yang ada di tangan dan kaki wanita yang dia panggil " Mama ". "Makanya carikan aku menantu untuk menemaniku kemanapun aku pergi," Ucap sanh Mama sambil meringis menahan sakit. "Iya, sebentar lagi aku dan Nadia akan menikah. Jadi,.... " "Tidak!" sang Mama lekas memotong ucapan si anak. Si anak menghentikan kegiatannya dan menatap mata mamanya yang berkilat dan membesar. "Mama tidak mau punya menantu seperti Nadia, dia aja sibuknya minta ampun, bagaimana dia bisa menemani Mama! Tiap bulan keluar negeri, reunian gak habis - habis, ngabisin duit aja. Mending kalau dia keluar negeri untuk bekerja atau seenggak - enggaknya pergi tuh pakai uang sendiri, ini nggak... Apa - apa pakai duit kamu. Cinta sih cinta Dim, tapi nggak gini juga!" Sang Mama terus mengomel sambil berlalu meninggalkan anaknya yang hanya diam terpaku. Anak laki - laki itu hanya bisa menghela napas, dia merasakan betapa susahnya meyakinkan sang mama soal hubungannya dengan Nadia. Sudah setahun dia meyakinkan mama, tapi mama tetap saja tidak setuju. "Aduh!!" Anak laki-laki itu mengaduh sambil memegang kepala belakangnya yang dilempar sesuatu. Dia langsung membalikkan badan dan menatap Sang Mama yang berdiri menatapnya dari depan pintu kamar mandi. "Yang nganterin gua pulang tadi gimana?" Sang mama menatap ke arahnya dengan wajah mengejek. "Dia? Mama minta aku nikahi tukang ojek tadi?" tanya anak laki-laki itu sambil mengelus kepalanya yang masih terasa sakit akibat lemparan botol obat merah. "Udah lu bayar belum ongkos ojeknya? Udah bilang terimakasih belum? Sarap lu!" bentak sang mama sambil kembali masuk ke dalam kamarnya. "Tapi, boleh juga saran lu. Dia baik, gua suka!!" Lanjut sang mama sambil berteriak dari kamar mandi. Si anak cepat menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. "Nggak sekalian anak uni Rahmi aja yang mama nikahin sama aku, dia juga baik!" Sahut sang anak sambil berdiri dan melangkah menuju kamarnya. "Akan gua pertimbangkan!" Sahut sang mama masih dari dalam kamar mandi, sementara si anak sudah berlalu keluar dari kamar mamanya dan masuk ke dalam kamar pribadinya.

Bab 3 Tiba-Tiba Mogok

"Dimas ke Bukittinggi 2 hari ma," ucap Dimas sambil menyendokkan nasi goreng ke atas piringnya. "Sendirian?" tanya mama yang asyik mengupas apel sambil menemani Dimas sarapan. "Sama Andi lah, mau pergi sama siapa lagi?" jawab Dimas santai. Andi adalah sahabat sekaligus orang kepercayaannya dalam menjalankan bisnis selama ini. "Gak sama Nadia kan?" Dimas langsung tercekat, lalu menyambar gelas berisi air putih yang ada di samping piringnya. Mama melirik santai ke arahnya, membuat Dimas semakin salah tingkah. "Kesuksesan hanya titipan Dim, semua akan hilang kalau kamu melakukan hal - hal yang dilarangNya." Mama bicara dengan sangat santai, lalu memasukkan satu persatu potongan buah apel, yang sudah beliau kupas sebelumnya, ke dalam mulut. Dimas terdiam, tak mampu menjawab ucapan sang mama. * Selepas sarapan, Dimas dan Andi langsung berangkat menuju Bukittinggi. Dimas lebih banyak diam sejak berpamitan pada mama sebelum berangkat. Pikirannya sudah buntu tentang hubungannya dengan Nadia yang tidak juga mendapat restu dari sang mama. Andi yang tidak mau mengganggu, ikut diam dan fokus pada jalanan di depannya. Seketika mata Dimas tertuju pada sebuah motor yang berada di depan mobilnya saat berada di lampu merah. Seorang wanita berhijab mengenakan jaket hijau kebesaran pengemudi ojol, mengendarai motor tersebut. Tiba-tiba saja Dimas ingat siapa wanita pengemudi ojol yang berada di atas motor tersebut. "Ini uni yang mengantarkan mama pulang kemarin bukan ndi?" tanyanya pada Andi. Andi melihat ke arah yang ditunjuk Dimas. "Kayaknya sih iya Dim," jawab Andi ragu. Lampu merah berubah menjadi hijau, semua kendaraan yang tadinya berhenti mulai jalan kembali. Tapi, motor yang berdiri di depannya tidak. Dimas dan Andi hanya diam memperhatikan, tampak perempuan yang mengendarai motor itu tiba-tiba saja turun dan mendorong motornya ke sisi jalan. Terlihat dia sangat kesulitan meminta ruang kepada pengendara lain untuk untuk menepi sambil mendorong sendiri motornya, Dimas dengan cepat turun dari mobil. "Tunggu gua di depan Ndi," ucapnya memberi perintah sambil turun dari mobil, lalu menutup pintu mobil dengan cepat. Dimas mengejar dan mengambil alih mendorong motor. Sementara si perempuan mengangkat tangan kirinya meminta ruang untuk menepi pada kendaraan-kendaraan lain. "Kenapa Uni?" tanya Dimas setelah sampai di sisi jalan dan menegakkan motor tersebut, perempuan itu menaikkan bahunya tanpa membuka masker yang menutupi setengah bagian dari wajahnya. Keningnya sudah berkeringat, dia mengatakan sesuatu, tapi Dimas tidak bisa mendengarnya dengan jelas, karena mulutnya yang tertutup masker. Dimas memberikan tanda untuk menurunkan maskernya, perempuan itu menuruti. "Tadi masih nyala, tapi tiba - tiba saja mati," jawab wanita pengemudi ojol tersebut. Tebakan Dimas benar, wanita pengemudi ojol itu adalah wanita yang mengantarkan sang mama pulang beberapa hari yang lalu. "Gimana Dim?" Andi datang menghampiri, Dimas mencoba menekan starter motor itu beberapa kali, tapi tidak nyala. Menekan klakson, berbunyi. Dia lalu mencoba menyalakan mesin motor dengan di engkol dan berhasil. Perempuan itu bernapas lega. "Coba cek akinya aja nanti uni," kata Dimas. "Iya... iya... Terimakasih banyak," ucap perempuan itu sambil menangkupkan tangan di depan dada. Dimas dan Andi menganggukkan kepala sambil tersenyum, lalu berbalik badan untuk kembali ke mobil. Tapi, Dimas tiba - tiba teringat sesuatu, dia berbalik lagi ke arah wanita tadi untuk menyampaikan sesuatu yang terlupa, tapi wanita tersebut sudah tak ada lagi di sana. Dimas menghela nafas dan melanjutkan langkah menuju mobilnya. * "Kenapa Di?" mama Dirgana menyambut kepulangan anaknya dengan kening mengernyit. Baginya aneh, ini masih sore tapi Dirgana sudah memutuskan untuk pulang. "Mogok tadi ma, tiba - tiba mesin motor mati dan gak bisa distarter... hufttt...." jawab Dirgana lemah. "Trus?" "Terpaksa ganti aki, habislah uang pegangan," jawab Dirgana lemah, mama hanya tersenyum. "Anak-anak udah pulang ngaji ma?" tanya Dirgana pada sang mama. "Belum, kalau udah pulang pasti udah ribut lihat kamu pulang cepat," jawab mama. "Sudah, makan dulu sana… Setelah itu istirahat!" Ucap Mama memberi perintah, Dirgana mengangguk lemah. "Mamaaaa!!!" teriakan dua bocah yang jarak usianya hanya tiga tahun itu mengagetkan Dirgana. Dia mengurungkan niat untuk makan, langsung menyambut kepulangan kedua anaknya itu. "Mama udah pulang, jalan - jalan...." Fachri si bungsu merayu. Bahagia mereka sangat sederhana, tapi itupun kadang tak mampu aku berikan. "Iya, Ma… Jalan - jalan yok...." Ucap Fiza si sulung ikut merayu. "Mama makan dulu ya, kalian udah makan?" tanya Dirgana pada kedua anaknya, keduanya menjawab lewat anggukan mantap. "Selesai Mama makan, kita jalan - jalan ya…." Fachri si bungsu kembali memastikan. "Iya... iya... Ganti pakaian kalian dulu." ucap Dirgana memberi perintah. Fachri dan Fiza berteriak girang, berlari masuk ke dalam rumah dan cepat mengganti pakaian. Dirgana mengikuti langkah cepat anak-anaknya dari belakang, sementara di dalam rumah suara keduanya sudah mengalahkan suara sinetron di TV yang sedang ditonton neneknya. Berkali - kali si nenek meminta mereka mengecilkan suara, tapi tetap saja suara mereka berdua memenuhi ruangan. Seolah-olah mamaku sedang menonton sinetron yang menayangkan adegan seorang istri muda dan istri tua yang sedang merayakan kematian suaminya bersama-sama. Dirgana hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat keributan antara kedua anaknya dengan si nenek. * Dirgana menatap langit gelap tanpa bintang dalam diam, pikirannya jauh terbang ke masa depan kedua anaknya. Ketakutan seketika melanda, mengingat pendapatan ojol yang tidak seberapa, sementara si sulung Fiza sebentar lagi akan masuk SMP. Dirgana menghela nafas berat, lalu menghembuskannya perlahan. "Sudah malam, Di." Dirgana terperanjat kaget, lalu menoleh ke belakang. Mama sedang berdiri di dekat pintu sambil menatapnya dari sana. "Iya, Ma." Mama melangkah mendekati Dirgana, lalu ikut duduk di samping anaknya. "Ada apa?" Dirgana kembali menoleh dan menatap sang mama, kemudian menghela nafas panjang. "Fiza tahun depan SMP," jawab Dirgana lemah, mama menghela nafas berat dan menghembuskannya perlahan. Beliau tahu apa yang dipikirkan anak tunggalnya itu, tapi beliau juga tak punya jalan untuk meringankan beban pikiran anaknya itu. "Jalani saja apa yang ada saat ini, Di… Percayakan jalannya pada Tuhan, minta lah bantuan hanya kepada Nya saja, In Sya Allah Tuhan akan memberikan jalan terbaik." Dirgana kembali menghela nafas panjang, lalu mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan. "Jangan menyerah, Di… Mama yakin kamu mampu menghadapi masalah ini," tambah sang Mama memberi kekuatan, Dirgana menoleh lagi dan menatap sang Mama, lalu tersenyum. "In Sya Allah, Ma… Di juga yakin kalau Di mampu, hanya saja terkadang Di takut kalau tak bisa memenuhi kewajiban Di sebagai Ibu sekaligus sebagai Ayah untuk Fachri dan Fiza." Mama tersenyum lembut, lalu mengusap bahu Dirgana. "Jangan sampai tenggelam dalam ketakutan, jangan sampai kamu tak percaya kalau Tuhan itu ada. Dia akan memberikan apa yang kamu butuhkan, Di… Intinya berusaha dan terus berdoa, agar Tuhan ingat kalau kamu sedang membutuhkan bantuan Nya." Dirgana mengangguk mantap, ketakutannya seketika hilang. Masih ada waktu beberapa bulan lagi, tak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi besok, apalagi beberapa bulan ke depan. Dirgana memantapkan hati untuk lebih bekerja keras lagi, agar dapat mewujudkan mimpi dan cita-cita kedua anaknya di masa depan.

Lanjut baca