"Gak semua yang kamu lihat itu benar adanya. Sebab kebenaran tak hanya sebatas diindera oleh mata." -The Young Bloods- Adam itu sok ganteng, sok dingin dan sok gak peduli-- itulah yang ada di pikiran Hawa. Seperti beberapa menit sebelumnya, lelaki itu melenggang pergi meninggalkannya begitu saja. Oh iya, dan satu lagi, Adam itu juga tidak peka dan menyebalkan! Kesal Hawa dalam hati. Saat dia mengatakan bahwa Juna ingin mengantarnya pulang, bukankah Adam harus melarangnya dan tetap mengajaknya pulang bersama seperti biasa? Tapi sekarang apa?! Hawa harus rela pulang bersama Juna-- kakak kelasnya yang sok famous seantero sekolah-- dalam keadaan mulut tertutup rapat. Yah, Hawa terpaksa menerima ajakan Juna. Syukurlah, mobil yang dikendarai sopir Juna, sudah memasuki kawasan perumahan Indah Permai, itu artinya Hawa akan segera tiba di rumahnya. "Rumah Hawa di blok A, ya Pak. Jadi berhenti di sini saja ga pa-pa. Udah deket soalnya." Jelas Hawa mencondongkan tubuhnya ke depan seraya menunjuk ke sisi kiri jalan. "Kak Juna makasih, ya, udah repot-repot nganterin Hawa" Hawa menoleh ke sang supir dan mengatakan terima kasih juga, sebelum ia benar-benar masuk ke halaman rumah di hadapannya. "Sama-sama Wa, Kakak senang bisa nganter kamu. Kakak pulang ya. Bye!" Jawab Juna dengan kedua ujung bibir tertarik saking senangnya, yang selanjutnya hanya dibalas senyum terpaksa di bibir gadis itu. Setelah mobil berwarna silver benar-benar hilang di telan kejauhan, Hawa membalas ucapan Juna dengan suara rendah, "Bye." Hawa beranjak dari depan gerbang untuk memasuki rumahnya yang saat ini tertutup rapat. Kemana orang di dalamnya? Pikirnya heran. "Kak?! Ke sini dulu aja!" Suara seorang wanita cantik yang ada di halaman rumah tetangganya, itu berhasil mengintrupsi langkah gontai Hawa. Wanita dengan pipi tirus dan gigi ginsul itu adalah Bundanya--Loly--. "Iya Bun. Nanti Hawa ke sana. Hawa mau ganti baju dulu, ya Bun" Sudah Hawa duga, Ayah Bunda dan si adik kecilnya itu sedang bertamu ke rumah tetangga mereka, siapa lagi kalau bukan rumah Syifa dan Ridwan. "Eh, Kakak tadi kenapa gak barengan sama Adam, pulangnya?" Tanya bundanya penasaran. "Males! Udah ah, Hawa masuk dulu Bun." Entah kenapa, pertanyaan Bundanya berhasil membuat Hawa kembali sebal mengingat lelaki sok dingin dan tidak peka macam Adam! *** Hawa sebenarnya malas sekali jika harus bertemu dengan Adam. Akan tetapi, ia juga tak mau jadi anak pembangkang dengan mengabaikan permintaan Bundanya yang menyuruhnya untuk ke rumah tetangga mereka. Siapa lagi kalau bukan rumah si lelaki tidak peka, Adam. Keluarga Adam dan Hawa memang sudah sangat dekat, bahkan Kakek-Nenek sampai kedua orang tua pun tidak hanya sekadar rekan kerja, tetapi juga sahabat. Tak heran jika mereka bahkan tinggal di satu perumahan yang sama, bahkan rumah mereka hanya dipisahkan oleh taman. Hampir dua belas tahun ia selalu bertatap muka dengan anak pertama Tentenya itu, dan hampir setiap hari pula ia dibuat kesal karena Adam acap kali melihatnya sedang tak mengenakan khimar. Fyi, kamar mereka sama-sama terletak di lantai atas rumah masing-masing. Bahkan balkon mereka pun berhadapan satu sama lain. "Adam! bisa gak sih, gak usah liatin Hawa kalo Hawa lagi gak pake khimar!" "Gak bisa. Adam punya mata buat ngeliat." "Ish! Adam ngeselin!" Dsrettt! Kaca yang memisahkan kamar dengan balkon Hawapun ditutupnya dengan kuat. Tiap kali Hawa ingat kejadian itu, ia selalu kesal dengan wajah Adam saat itu. Mata lelaki itu bahkan tak berkedip sepersekian detik, membuatnya kelimpungan mencari keberadaan khimar instan yang biasa ia pakai-- yang sayang saat itu ia sedang mengeringkan rambut dan lupa kalau kaca jendelanya masih terbuka lebar-- lalu terjadilah kejadian tak mengenakkan itu. Jujur, Hawa tidak suka dan sangat takut sesaat setelah kejadian itu. Meskipun dia belum baligh, tapi tetap saja ia merasa kesal jika ada lelaki bukan mahram yang memandang auratnya seperti itu, termasuk Adam sekalipun. Untuk itu, Hawa selalu memastikan jendela kamar serta gordennya tertutup rapat. "Wa, kok tadi gak barengan sama Adam kenapa? Hawa lagi berantem sama Adam, iya nak?" Kekesalannya pada Adam terasa kembali menyeruak, saat wanita dengan mata bulat yang besar itu bertanya seperti Bundanya tadi. Kenapa orang-orang sangat peka jika ada yang tidak beres dengannya dan Adam? Segitu kelihatan kah? "Eng-Enggak kok Tan. Hehe tadi kebetulan aja, Kak Juna--kakak kelas Hawa-- nawarin buat pulang bareng. Hawa gak enak nolak terus soalnya." "Oh seperti itu, kirain ada apa-apa gitu. Eh siapa tadi nama Kakak kelasmu?" "Kak Juna, Tan" "Tapi, Tadi Ayahmu tanya sama Adam, katanya kamu pulang sama Juned? Juna sama Juned itu kembar, atau gimana?" Tanya Syifa polos. "Hah? Juned? Mungkin maksudnya Juna, Tan. Soalnya Kak Juna gak ada kembaran setahu Hawa." "Ah, sepertinya iya. Adam ini ada-ada saja!" Syifa hanya terkikik geli mengingat kelakuan anak pertamanya itu. "Hawa pasti belum makan, kan? Ke meja makan gih! Tante masak banyak. Si Adam juga lagi makan. Barengan aja sekalian." "I-iya Tante. Nanti Hawa ke sana" "Jangan nanti Wa, sekarang aja. Hawa gak boleh telat makan siang." "Baik Tan. Hawa ke sana sekarang." *** Kemudian di sinilah Hawa berada, di meja makan bersama lelaki yang tadi siang meninggalkannya begitu saja di sekolah. Baik Hawa maupun Adam, sama-sama menyantap makan siang dalam diam. Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu, bisa-bisanya ia tak mengatakan apapun setelah meninggalkan Hawa begitu saja. "Adam! Tadi siang kenapa ninggalin Hawa gitu aja?" Hawa angkat bicara duluan dengan nada menggebu gebu, membuyarkan keheningan yang sempat menyelimuti mereka. "Bukannya Hawa bilang, Hawa pulang sama si Juned? Kok jadi Adam yang salah, sih?!" Adam tak mau kalah, nada bicaranya pun menjadi tak santai. Perempuan tuh ribet banget sih! Pikir Adam saat menatap gadis dengan wajah ditekuk di hadapannya ini. "Adam! Gak boleh ganti nama orang sembarangan! Namanya Juna. Kak Ju-na, bukan Juned!" Adam hanya memutar bola mata dengan malas. Bukannya Juned lebih bagus, ya? Pikir lelaki itu tanpa dosa. "....." "Lagian, Hawa juga lebih suka pulang sama Adam kok, bukan sama Kak Juna." "Terus, kenapa tadi ikut si Juneeed?!" Gemes Adam pada gadis di hadapannya kini. "Adam tuh gak ngerti banget sih! Hawa kan, gak enak nolak ajakan Kak Juna terus-terusan. Harusnya Adam dong yang larang Hawa ikut kak juna!." "Kalau gak mau? Harusnya bilang gak mau! Gak usah ribet kayak gini." "Harusnya Adam tuh peka!" Sunggut gadis itu dengan mata berkaca-kaca. Katakan saja dia cengeng! Entah kenapa air matanya selalu mendesak ingin keluar saat dirinya sedang kesal dan sakit hati seperti ini. Hening seketika. Adam, lelaki itu menghela nafas berat. Gadis ini benar-benar membuatnya serba salah. "Adam minta maaf, kalau gitu." Adam menyerah, namun gadis itu tetap diam. Membuatnya semakin merasa bersalah. "...." "Adam gak maksud ninggalin Hawa, kok" "Hiks! Hiks!" Gadis itu menangis? Membuat Adam mengusap wajahnya frustrasi. "Adam janji gak bakalan ninggalin Hawa lagi!" "...." "Jan-Janji?!" Gadis itu mendongak dan menodongkan jari kelingking mungilnya di hadapan Adam. "Iya, janji!" Entah kenapa, Adam selalu merasa lemah saat melihat gadis-- yang jari kelingking kecilnya itu sedang bertautan dengan kelingking besarnya-- ini menangis. Pertahanan yang ia bangun susah payah, seolah dapat dirontokkan begitu saja hanya karena tangisan seorang Hawa. Adam tak habis pikir. Kenapa ia harus mewarisi kelemahan Buyanya itu. Lihatlah! Bukankah Hawa benar? Adam itu sok dingin. Padahal aslinya lelaki ini begitu hangat bukan. ***
"Bukankah rasa yang sebenarnya itu, tak cukup hanya didefinisikan dengan kata?" -The Young Bloods- Hampir saja Adam dituduh yang tidak-tidak, oleh kedua orang tuanya serta orang tua gadis yang ada di hadapannya ini. "Bang! Lain kali Abang jangan terlalu mudah mengambil keputusan! Ingat, berpikirlah berkali-kali saat akan mengambil keputusan. Pikirkan risiko apa yang nantinya akan Abang hadapi" "Coba Abang pikir? Gimana kalo si Juned itu ngapa-ngapain Hawa?" Lah. Bukannya Hawa harusnya mikir kayak gitu? Tanya Adam polos dalam hatinya. "Sudah Wan. Adam gak salah kok. Si Kakak aja yang cengeng. Makanya gampang nangis," "Dam, Om sangat berterima kasih, selama ini Adam sudah jagain Hawa di sekolah. Kalau Om boleh minta tolong lagi ke Adam, Om minta Adam selalu ada di sisi Hawa. Terutama saat Hawa di sekolah, ya nak?" "Siap Om. Adam mungkin gak bisa janji, tapi Insyaa Allah Adam akan lakukan yang terbaik yang Adam bisa, Om." Syukurlah, baik Buya ataupun Om Robi terlihat tak marah padanya. Adam hanya tersenyum tipis saat kedua orang dewasa itu berlalu setelah menepuk kedua bahunya. Hawa. Gadis ini benar-benar membuatnya serba salah. Bagaimana bisa dia menangis hanya karena Adam meninggalkannya di sekolah. Bukankah Hawa sudah kelas dua SMP? Tapi kenapa tingkahnya masih seperti anak kelas lima SD? Mungkin hanya Hawa dan Allah yang tau. Pikir Adam kemudian. "Puas?!" Tanya Adam dengan nada bicara yang dingin. Hawa, gadis itu hanya menunduk dalam dalam. "Dam, Hawa gak maksud bikin Adam kena marah kok," jelas gadis itu dengan wajah bersalah yang sangat terlihat. "Gak maksud, tapi udah kejadian, kan?! Udahlah, Adam mau ke kamar. Hawa pulang sana! Istirahat." Usir Adam yang berhasil membuat mata gadis di hadapannya mulai berkaca-kaca lagi. "Ja-Jangan nangis lagi! Hawa jelek kalau nangis." Bohong Adam dengan mata yang hanya menatap lurus ke depan. Bukan ke wajah Hawa, hanya saja fokus matanya seolah menatap wajah gadis itu. "Jadi kalau Hawa gak nangis, Hawa cantik?" Tanya gadis itu dengan polos, membuat Adam mengulum senyum tak tahan dengan kepolosan gadis di hadapannya ini. "Iyaiyaiya. Hawa cantik kalo gak nangis. Udah sana pulang, istirahat." Titah Adam yang dihadiai tatapan cemberut Hawa. "Adam kok ngusir Hawa sih?!" "Gak ngusir, Wa. Adam cuma gak mau Hawa kecapekan karena berdiri dari tadi." "Iyaiyiya. Hawa pulang nih!" Sunggut Hawa sambil ingin berlalu meninggalkan Adam, namun suara lelaki itu mengintrupsi langkahnya. "Jangan lupa salam!" "Assalamu'alaikum!" "Wa'alaikumussalam." Entah kenapa, tapi lagi-lagi kedua sudut bibir Adam kembali tertarik ke atas dengan mudah. Hampir saja Adam khilaf dan ingin memengacak puncak kepala gadis itu, kalau saja ia tak ingat bahwa ditusukkan paku panas dari neraka, itu lebih baik daripada ia menyentuh perempuan bukan mahramnya. Setelah memastikan Hawa benar-benar memasuki rumahnya, Adam melangkahkan kaki menuju kamarnya. *** Suara tetesan hujan yang menampar jendela kaca kamar saling bersahutan samar-samar berhasil membuat lelaki--dengan kaus oblong warna hitam serta celana santai panjang-- itu membuka matanya perlahan. Ia baru saja tertidur sehabis isya. Tangannya beralih meraba sisi kanan kasurnya dan meraih benda persegi panjang. Sudah jam sepuluh malam ternyata. Adam memilih bangkit dari posisi berbaringnya, lalu tak sengaja menatap ke sisi jendela kamar. Astaghfirullah. Jendela kaca itu masih terbuka lebar hanya gorden putih yang berayun ke sana ke mari, yang menutupi separuh jendelanya. Adam bergegas ke sisi jendela dengan niat menutup nya dengan rapat, namun saat sibuk meraih kaca berukuran lebar itu, matanya kembali menangkap sesuatu yang tak beres. Lampu kamar yang ada di seberang rumahnya juga dalam keadaan hidup dan jendela kamar itu pun terbuka lebar. Apa gadis itu juga ketiduran seperti dirinya? Kenapa jam segini jendela kamar itu belum tertutup? Entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Perasaan cemas dan khawatir yang tertuju pada gadis pemilik kamar seberang. Adam menyambar benda persegi panjang yang tergeletak di kasur dengan tergesa. Benda itu menampilkan deretan kontak yang ada salah satunya nomor ponsel Hawa. Dengan cepat Adam menggeser layar ponselnya ke kanan. Tidak diangkat! Gadis itu benar-benar membuanya khawatir. Adam memilih keluar kamar setelah menyambar hoodie berwarna hitam yang tergantung bebas. "Bang, mau ke mana?!" Tanya Ridwan saat anak lelakinya itu melangkah dengan buru-buru. "Ke rumah Hawa, Ya" "Mau ngapain, Bang? Hawa udah tidur kali. Tadi Bunda sama Ayahnya juga pamitan mau keluar sebentar sama Azam." Benar-benar! Setelah mendengar penjelasan Buyanya, Adam semakin merasa cemas dan kesal dalam waktu bersamaan. Bagaimana bisa gadis itu begitu ceroboh. "Abang keluar sebentar aja, Ya!" Pamit Adam dengan buru-buru melangkah keluar rumah. Nafasnya ngos-ngosan saat ia sudah berdiri di depan rumah Hawa. Duk! Duk! Duk! Pintu besar dengan handle berwarna keemasan itu digedornya dengan kuat. Bel rumah yang terpasang di sisi kanan pintu itu terasa percuma. Adam bahkan sudah berkali-kali menekan benda kecil itu, namun tak ada respon apapun dari penghuni di dalam. "Wa!" "HAWA!" Masa bodo jika ia akan diteriaki tertangga lain karena terlalu berisik, salahkan saja gadis yang ada di dalam sana. Tetap tak ada respon apapun dari dalam. Membuat Adam berdecak frustrasi. Saat itu juga ia teringat sesuatu yang membuatnya kemudian berlari menuju sisi kanan rumah Hawa. *** "Adam! Ngapain di kamar Hawa?!" Lelaki yang dipanggil Adam itu hanya bergeming di tempatnya berdiri. Entah apa sudah dilakukan lelaki itu, dengan rambut setengah basa dan pakaian yang lembab. Satu lagi, wajahnya begitu pucat. "Hawa kan udah bilang ka-" belum sempat gadis itu melanjutkan kalimatnya, Adam, tanpa aba-aba lelaki itu menarik tubuh Hawa dan membawanya ke dalam pelukannya. Membuat gadis itu tak punya kesempatan untuk menghindar ataupun menolak. Sebab, sketika itu juga tubuh Hawa menegang seolah sedang dialiri sesuatu. Ada desiran aneh yang tak pernah ia rasakan dan tak ia mengerti arti dari respon tubuhnya saat ini. Kaget. Tentu saja, siapa yang tidak akan kaget saat seorang cowok datang ke kamarmu lalu membawamu ke dalam pelukannya secara tiba - tiba. Tanpa aba - aba dan tanpa permisi. Sedangkan Adam, lelaki itu merasa lega saat ia mendapati cewek yang ada di pelukannya saat ini dalam keadaan baik - baik saja. Akan tetapi, tetap saja, ingin sekali rasanya Adam meneriaki gadis yang ada di pelukannya ini dengan kencang, "KAMU GAK TAU BETAPA KHAWATIRNYA AKU?!" namun nyatanya bibirnya kelu. Tak ada sepatah katapun yang mampu lolos dari bibir lelaki itu. Hanya gerakan refleks seperti inilah yang tubuhnya mampu lakukan. Bagaimana jika ada orang jahat yang masuk ke kamar ini? Bagaimana jika gadis dipelukannya ini kenapa-kenapa? Bagaimana jika Adam terlambat datang ke sini? Begitu banyak bagaimana bagaimana lainnya yang kini menari-nari di kepala lelaki itu saat ini. Sampai sebuah suara teriakkan kencang berhasil mengitrupsi pikirannya. "ADAM! HAWA! KALIAN BERDUA NGAPAIN?!" ***
"Ketakutan akan hal-hal yang belum terjadi, itu sebenarnya bukti bahwa kita hanya makhluk lemah. Sebab, Allah lah yang Maha Kuat dan Kuasa." -The Young Bloods- "ADAM!" "ADAAAAAM!" Syifa memekik panjang di samping telinga anak lelakinya itu. Jam yang setia berdetak di dinding kamar Adam bahkan sudah bergerak menuju angka 7, namun anak lelakinya ini tak kunjung bangun. Begitulah anak - anak zaman now. Disuruh tidur susah. Disuruh bangunpun susah. Pikir Syifa seraya menggeleng saat menatap anak lelakinya yang masih setia berpetualang di alam mimpinya. Syifa--Umi Adam--itu rasanya sudah kehabisan cara untuk membangunkan anak pertamanya ini. Membuatnya menghela napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar. "Ampuuuun! Yaaa!" Pekik Adam tiba-tiba seraya tubuhnya bangun dengan nafas yang tersengal. Tiba - tiba saja Adam terbangun dengan dada yang bergemuruh. Keringat dingin rasanya sudah mengalir di antara punggungnya yang tertutup kaus yang ia kenakan. "Umi?!" kaget Adam saat mendapati Syifa yang sedang menatapnya dengan wajah dongkol seraya menggelengkan kepala pelan, sebelum akhirnya bertanya pada anak sulungnya itu dengan penuh selidik. "Kamu mimpi buruk, Bang?" tanya Syifa seraya duduk di sisi kasur anak lelakinya. Wajah anaknya itu benar - benar seolah begitu ketakutan. Entah apa yang anaknya alami di alam mimpinya yang panjang. "Buruk Mi. Buruk banget!" jawab Adam bergidik ngeri saat ia membayangkan adegan demi adegan yang ia alami dalam mimpi panjangnya tadi. Lalu adegan yang paling membuatnya merinding adalah saat di mana ia diseret - seret oleh buyanya. Suara buyanya begitu menggelegar saat mengatakan kalau akan menikahkannya dengan Hawa karena mendapati mereka dalam keadaan berpelukan. "Siapa suruh begadang sampe malem?! cepat mandi sana! Kamu gak mau telat ke sekolah kan, Bang?!" Tiba - tiba saja Uminya berteriak di samping telinga Adam dengan sederet omelannya yang khas. Saat itu juga mata Adam automatis mencari keberadaan jam dinding dan seketika itu juga matanya membulat sempurna saat menemukan benda itu. Pasalnya jarum jam yang terpatri di dinding kamarnya sudah bergerak menuju angka setengah delapan pagi. "Astaghfirullah! Umii! Kok baru bangunin Abang?" ringisnya seraya bergegas bangkit menyibak selimut yang menutupi setengah tubuhnya. "Baru bangunin matamu! Umi udah teriak-teriak dekat telinga kamu bahkan! kamu tetap gak bangun-bangun! Masih syukur gak Umi siram pake air bak!" tukas Syifa dengan menggebu. Bagaimana bisa anak sulungnya ini mengatakan hal seperti tadi saat ia sudah kewalahan membangunkannya yang tidur layaknya orang koma. "Tega amat sih Mi sama anak sendiri?" cicit Adam seraya menatap uminya dengan wajah teraniaya. "Siapa suruh tidur kayak orang mati suri?! Udah sana! mandi! Hawa udah nungguin di bawah!" seru uminya seraya melangkah ke luar kamar. Saat Uminya menyebut nama gadis itu, memori otak Adam kembali memutar kejadian yang ia alami di mimpinya semalam. Bagaimana jika mimpi itu pertanda buruk? Adam menggelengkan kepalanya dengan kuat, berharap ingatan akan mimpi tadi malam tidak membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Lelaki itu buru-buru meraih handuk yang tersampir di kursi yang menghadap meja belajarnya. Bergegas memasuki kamar mandi membersihkan tubuh. Setelah itu siap - siap mengenakan setelan seragam sekolahnya. *** Adam bergegas menuruni anak tangga, setelah siap dengan setelan seragam sekolah serta tas yang tersandang di lengan kanannya ia berjalan menuju meja makan. Hanya ada si kecil Zahra yang sedang duduk manis sambil melahap sarapan rotinya dan- Hawa? gadis itu sibuk berdiri di depan pentry entah apa yang sedang dilakukannya di sana. Adam menarik kursi yang berhadapan dengan adik kecilnya itu dan mulai menyantap roti yang telah di letakkan telur mata sapi di dalamnya. "Adam kok gak bilang-bilang kalo udah di bawah?!" Tanya Hawa saat menyadari lelaki itu sudah rapi dengan seragamnya. "Hai Hawa! Adam udah ada di bawah. Sedang sarapan sekaligus mendengarkan omelan seorang gadis yang cerewet!" Balas Adam dengan nada mengejek. Membuat gadis bermata besar dan hidung mancung yang kecil itu mendengus sebal. "Ihhh! Adam! ngeselin banget tau gak?! Hawa kan cuma nanya!" Sunggut gadis itu seraya menarik kursi di samping Zahra yang sudah belepotan selai. "Adam kan cuma cerita!" Elak adam tak mau disalahkan. Lelaki ini selalu saja menang jika berdebat denganya, pikir Hawa seraya mendelik tajam ke arah Adam yang kini sudah menghabiskan rotinya dan mulai meminum segelas susu. "Adam tunggu di depan! Cepat habisin sarapannya! nanti telat." "Zahra? Abang berangkat, ya?" yang hanya dibalas Gadis kecil itu dengan anggukan kepala. Sebab mulutnya terlalu sibuk mengunyah roti kesukaannya. Zahra bahkan hanya bergeming saat Adam mengecup pipi tembemnya. Setelah mengatakan kalimat itu, Adam berlalu meninggalkan Hawa begitu saja. "Ihhhh! kok, jadi Adam yang nungguin Hawa? Kan, tadi Hawa yang nungguin Adam?!" Pikir gadis itu sambil menelan habis rotinya. Saat menuju mobil, Adam melihat keberadaan Umi dan Buyanya yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Umi dengan tanamannya dan Buya sibuk dengan koran dan laptopnya. "Mi? Ya?" Panggil Adam seraya menatap keduanya bergantian. Syifa menghentikkan kegiatannya sejenak lalu menghampiri suami dan anak sulungnya itu. "Loh, Bang? kok malah kamu yang keluar duluan? Hawa mana?" tanya Syifa seraya menyapukan pandangan ke dalam rumah. "Biasa Mi, cewek mah ribet! lama." "Mi? Ya? Adam pamit dulu ya kalau gitu." Setlah mencium punggung tangan kedua orang tuanya, Adam kembali melangkah menuju mobil dan duduk di samping. Menunggu Hawa yang datang dengan wajag kesalnya karena Adam meninggalkannya di meja makan. [ di Mobil ] Seperti biasa, Adam akan duduk di depan--di samping Pak Maman(sopir keluarga Adam). Lalu Hawa duduk di kursi belakang sendirian. Perempuan itu masih kesal karena Adam berbalik menunggunya. Bukankah dia yang harusnya nunggui Adam tadi? Pikir gadis itu tak terima. Entahlah kenapa Hawa berpikiran seribet itu. Apa penting siapa yang menunggu dan siapa yang ditunggu? Entahlah. Hanya Allah dan gadis itu yang tau alasannya. "Non Hawa kok diam sekali, ya?" Tanya Pak Maman basa basi. Sebab biasanya Hawa akan mengoceh tentang banyak hal, mulai dari jam dia bangun sampai menanyakan kabar keluarga Pak Maman. Yah, seperti itulah Hawa. Gadis itu sangat aktif berbicara, namun seketika ia akan menjadi gadis yang paling pendiam saat dia sedang kesal dan marah. Menurut Hawa, diam adalah cara terbaik yang harus ia lakukan saat kesal ataupun marah. Sebab, jika mengoceh dan teriak-teriak hanya akan menguras energi dan biasa menyebabkan penuaan dini. "Hawa lagi kesal sama seseorang, Pak!" Balas Hawa seraya menatap tajam lelaki di samping pak Maman. Siapa lagi kalau bukan Adam. "Kesal kenapa, Non?" Tanya Pak Maman pura-pura tak tau. "Kesal aja! Pokoknya Hawa kesal!" "Kalo kesal bilang! jangan nyindir-nyindir gitu!" "Kalo salah itu, harusnya tau diri! Jangan diem aja!" Balas gadis itu tak mau kalah. "Ya Allah? Salah Adam apa? kenapa tulang rusuk Adam selalu marah?" Ucap lelaki itu melankolis. "Adam!.. Gak lucu tau gak!" "Gak lucu, tapi mukanya mau ketawa?! Iyain aja." Lalu, sepanjang perjalanan menuju sekolah, keduanya saling meledek satu sama lain. Hawa, gadis itu kembali menjadi Hawa yang suka berceloteh mengenai banyak hal. Sepertinya kekesalannya terhadap Adam sudah berkurang, atau mungkin hilang. *** Sepanjang koridor sekolah, beberapa pasang mata terus memperhatikan dua sejoli yang kini sedang mengobrol santai. "Adam? Tante Syifa bilang, Adam semalam mimpi, ya? Pasti mimpiin Hawa, kan? Iya kan? Iya dong?!" Adam hanya tampak berpikir sejenak. Bagaimana bisa, gadis di sisi kanannya ini tau bahwa dirinya ada di mimpi Adam? "Ge er banget! Adam cuma mimpi buruk. Gak ada hubungannya sama Hawa!" "Ihhh! Iyain aja, napa?!" "Soalnya, semalam Hawa juga mimpiin Adam. Tapi Hawa gak mau cerita!" "Lah! tadi ngapain bilang?! Dasar aneh!" "Adam ke kelas dulu, Hawa hati-hati, ya?!" "Harusnya Adam yang hati-hati!" "Assalamu'alaikum!" "Wa'alaikumussalam. Makasih udah nganterin Hawa ke kelas!" Pekik Hawa ke arah Adam yang dibalas lambaian tangan olehh lelaki itu, sebelum ia benar-benar menghilang ditelan kejauhan. "Wa! Lo beneran gak ada apa-apa sama si freezer?" entah sejak kapan, tapi sekarang perempuan dengan hijab putih instan yang dan wajah dengan penuh selidik itu tiba-tiba mendongak menatap Hawa. "Na! kamu tuh ya, seneng banget bikin aku kaget!" Protes Hawa sembari berlalu menuju kursinya. "Tuh tuh! mau ngelak lagi kan?!" Tuduh Husna seraya mengekori Hawa dan ikut duduk di samping gadis itu. "Lagian! pertanyaan kamu itu gak penting! hampir tiap hari kamu nanya kayak gitu!" Sunggut Hawa dengan tatapan bosan pada Husna--sahabatnya di kelas-- namun, sahabatnya itu tak pernah menyerah. "Lagian! hampir tiap hari juga si Freezer nganterin Lo ke kelas. Kayak anak TK aja! diantar tiap hari." Ejek Husna yang dibalas Hawa dengan tatapan tajam. "Udah ah, Na! Kamu tuh ya, gak bosen-bosen ngatain Adam manusia freezer! Asal kamu tau, ya Na! Adam itu orang yang hangat! di luarnya aja kayak freezer, tapi dalemnya itu kayak selimut yang memberikan kehangatan di kala dingin." "Tuh tuh tuh!" todong Husna sambil menunjuk-nunjuk wajah Hawa dengan jari telunjuknya. "Apa gue bilang?! Lo suka kan, sama si Freezer? Ngaku?!" Tuduh Husna dengan nada ngegas khasnya. Hawa hanya mengedik dan mengembuskan nafas lelah. Percuma bicara sama sahabatnya ini, Hawa tak akan menang. Sebab gadis itu paling malas jika harus adu mulut. *** Bunyi bel istirahat merupakan alarm kebahagiaan bagi kebanyakan siswa. Bagaimana tidak, mereka hampir lima jam penuh bertatap muka dengan papan tulis dan guru--yang kadang membuat siswa ngantuk karena gaya belajarnya yang membosankan-- serta materi-materi yang harus mereka telan mau tidak mau. "Dam?!" Panggil seorang lelaki yang merupakan teman sebangku Adam. "Bisa ngobrol bentar?" Adam hanya mengangguk. Lalu mengekori sahabatnya yang baru saja memintanya berbicara empat mata. Lelaki itu menghentikan langkahnya saat mereka sudah mencapai rooftop sekolah. Biasa, rooftop adalah salah satu tempat favorit bagi sebagian siswa. Sebab di sini tak hanya menyajikan ketenangan, tapi juga keindahan, saat angin bertiup lembut dan membuat dedaunan pohon dan bunga di sini bergoyang mengikuti belaian sang angin. "Ada apa? No?" Tanya Adam pada sahabatnya yang ia panggil No. "Serius amat sampe ngajak ke sini?" tambah Adam sembari menatap ke sekeliling atap. "Gue mau tanya sesuatu sama Lo, Dam. Gue harap Lo jawab jujur, ya?" Adam hanya mengangguk. "Lo suka sama Hawa?" Adam tersentak kaget saat Juno bertanya seperti itu. Apa maksud pertanyaan Juno? Pikir Adam. "Maksud lo? Kok, lo tiba-tiba nanya gitu?" Adam balik bertanya dan menatap Juno dengan penuh selidik. "Ayolah, Dam! Lo pasti ngerti kan maksud pertanyaan gue?" Adam hanya menghela nafas dan menghembuskannya dengan lambat. "Gue suka sama Hawa! Kenapa? Bukannya wajar kalo gue suka dan sayang sama adik gue sendiri?!" "Hawa bukan adek lo, kalo lo lupa!" Sela Juno membenarkan. "Maksud gue, Hawa udah gue anggep kayak adek gue sendiri!" "Ooh. Gitu? Bagus deh!" Balas Juno dengan perasaan lega. "Memangnya kenapa? Apanya yang bagus sih No?" tanya Adam tak mengerti. Atau lelaki itu pura-pura tidak mengerti? Entahlah. "Gue suka sama adek lo! si Hawa." Deg! saat itu juga Adam dibuat diam oleh pengakuan Juno--sahabatnya--yang kini tersenyum lega. Entah kenapa, ada sesuatu yang mencelus ke perasaannya yang membuatnya tak tenang. Seperti sebuah perasaan asing yang membuatnya entah kenapa, menjadi tak suka pada pernyataan Juno. Apa yang salah pada Adam? Kenapa ia seperti tak suka saat mengetahui ada lelaki lain yang menyukai gadis cengeng dan ceroboh itu? Ah, sepertinya Adam hanya tak ingin Hawa didekati oleh lelaki manapun karena ingat kalau Om Robi-ayahnya Hawa--itu sudah menaruh kepercayaan padanya untuk menjaga gadis itu selama di sekolah. Tidak kurang dan tidak lebih. Pikirnya mantap seraya mengangguk - angguk dan mulai berlalu meninggalkan rooftop sekolah. ***