Kejujuranmu seputih kapas yang bersih sebelum terkena noda, tetapi kamu lupa bahwa hati perempuan serapuh kaca. —Queena Bulan Latief— “Saya terima nikah dan kawinnya Queena Bulan Latief binti Jacob Al Latief dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas batangan seberat 100 gram dibayar tunai.” Untaian kalimat sakral janji pernikahan terucap lantang dan lancar dari seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan garis rahang tegas dan wajah yang tampan. Wajah yang sedari terlihat tegang akhirnya sedikit lega ketika berhasil mengucapkan ijab kabul. “SAH!” Suara sahutan terdengar diiringi untaian doa panjang yang diaminkan semua orang. Alfan Fatih Herlambang kini telah resmi menyandang status suami dari Queena Bulan Latief. Perlahan sang pengantin yang berbalut kebaya berwarna putih itu menoleh ke arah sang suami dan mencium punggung tangannya, diakhiri dengan laki-laki tersebut yang memberikan kecupan di kening dengan sikap canggung. Suasana haru menyerbu dada. Perempuan itu masih tak menyangka bahwa kini statusnya telah berubah hanya dalam waktu singkat. Tidak ada hubungan sepasang kekasih yang pernah terjadi. Namun mereka sudah sedikit saling mengenal karena telah melewati beberapa pertemuan untuk mengurus pernikahan. Pada malam hari, acara dilanjutkan dengan resepsi di sebuah hotel bintang lima yang terletak di kawasan Jakarta Pusat. Suasana meriah dan mewah itu mengiringi perayaan pernikahan mereka. Tamu yang diundang juga tak main-main karena dua keluarga besar itu merupakan salah satu pengusaha sukses dengan bisnis yang tersebar di mana-mana. Kemeriahan yang tidak akan mungkin dilupakan begitu saja. Para penyanyi terkenal Indonesia turut hadir dan memeriahkan acara tersebut. Pesta itu usai menjelang tengah malam, satu persatu tamu mulai meninggalkan tempat acara. Semua keluarga sudah kembali menuju kamar yang telah disediakan, termasuk juga dengan sepasang pengantin baru. Malam ini mereka semua akan menginap di hotel. Di sebuah kamar dengan tipe president suites, yang telah dihias dengan kelopak bunga membentuk sebuah hati di atas ranjang. Benar-benar disiapkan untuk pengantin baru yang akan melewati malam panjang. Keduanya melangkah ke dalam dan pintu tertutup dengan otomatis. “Bersihkan dirimu, aku perlu bicara setelah ini, Bulan.” Alfan berlalu menuju balkon setelah berbicara. Bulan memilih menuju kamar mandi dan perlahan melepaskan seluruh aksesoris yang menempel pada tubuhnya. “Mas Alfan,” panggil Bulan ketika laki-laki itu masih berada di balkon. “Kamu sudah selesai mandi?” “Sudah, Mas.” Alfan langsung berbalik dan berjalan melewati Bulan begitu saja tanpa melirik. “Duduklah. Ada yang ingin kukatakan.” Mereka duduk berhadapan. Bulan melihat tatapan sang suami selalu menghindar, seperti enggan menatap dan menolak kehadirannya secara halus dengan bersikap acuh tak acuh. “Ada apa, Mas?” Perasaan Bulan tiba-tiba menjadi tidak enak. Ada sesuatu yang akan terjadi, tetapi taktahu itu apa. “Maaf,” ujar Alfan dengan suara berat. Bulan mengerutkan kening dan menghela napas pelan, merasa bingung dengan kata maaf yang terlontar tiba-tiba tanpa penjelasan. “Aku akan mengatakan sebuah kejujuran ini kepadamu,” sambung Alfan seraya mendongak menatap sang istri. Baru kali ini mereka saling menatap dengan intens dalam jarak dekat. Tatapan mereka terasa berbeda, juga degupan jantung seakan lebih cepat dari biasanya, tetapi dengan alasan yang berbeda. “Kamu menakutiku, Mas.” Bulan bergidik ngeri. Alfan menarik napas pelan. “Aku serius. Dengarkan baik-baik,” lanjutnya. Hening beberapa saat, “Sebenarnya diriku sudah memiliki istri.” Deg! “Jangan bercanda, Mas Alfan!” Bulan menggelengkan kepala dengan keras menolak ucapan laki-laki yang ada di hadapannya. Ini candaan yang benar-benar tidak lucu! “Itulah kenyataannya. Aku sudah menikah dan sudah memiliki istri lain.” Ucapan itu jelas sangat menyakiti hati Bulan. Baru beberapa jam mereka menjadi pasangan pengantin yang bahagia, tetapi mulai detik ini sang suami meruntuhkan segala kebahagiaan yang baru dirasakan. Alfan memang laki-laki yang jujur, tetapi kejujuran ini benar-benar sangat menyakitkan dan memorak-porandakan hatinya. “Lalu kenapa kamu mau menerima perjodohan ini jika pada akhirnya harus ada yang terluka?” Bulan sekuat tenaga menahan isak tangis. “Aku minta maaf, karena ini keinginan kedua orang tuaku dan tidak bisa kumenolaknya.” Bulan tertawa miris. “Lalu memilih membuatku sakit hati, begitu? Kamu jahat, Mas!” “Aku mencintai Zahra,” ucap Alfan dengan tertunduk. Mulai bercerita tentang apa yang terjadi. “Kami sudah menikah secara siri sekitar setahun yang lalu saat ditugaskan oleh Papa untuk mengurus cabang di Bandung.” “Kenapa bukan perempuan itu saja yang kau nikahi? Kenapa harus aku yang dijadikan perempuan bodoh yang menikahi suami orang?” “Papa dan Mama tidak setuju dengan Zahra karena alasan klasik, yaitu bibit, bebet, dan bobot yang tidak sepadan. Mereka juga menganggap istriku itu tidak tulus.” Bulan memilih mendengarkan walaupun hatinya terasa perih dan sesak. “Karena kami saling mencintai dan memilih untuk menikah diam-diam. Beberapa bulan kemudian, ibunya jatuh sakit hingga harus dirawat dengan perawatan insentif. Papa mengancam akan mengeluarkanku dari daftar ahli waris jika tidak menyetujui perjodohan ini. Aku butuh biaya untuk tetap merawat ibu mertuaku dan menghidupi mereka,” ungkap Alfan yang sama sekali tidak menyentuh hati. “Lalu kamu mengorbankan aku yang tidak tahu apa-apa?” sahut Bulan dengan cepat. “Kamu tidak tega membuatnya menangis, tapi kamu membuatku menangis. Apa itu adil, Mas? Aku tidak tahu apa-apa, kamu menumbalkanku karena keegoisanmu.” Tak pernah dibayangkan oleh Bulan bahwa perjodohan ini membawanya dalam kehidupan yang rumit. Baru saja menyandang status istri dari seorang Alfan Fatih Herlambang, tetapi ternyata ia hanya yang kedua kembali mengoyak sudut hati. Mimpi-mimpi dan harapan tentang kehidupan yang bahagia ternyata hanyalah sebuah angan yang tertiup angin. “Lebih baik kita berpisah saja, Mas.” Bulan mengucapkannya dengan lirih. “Lalu apa yang akan dikatakan orang-orang pada keluarga kita? Kita baru saja menikah, Bulan. Bagaimana cara menjelaskan ini kepada keluarga?” Bukan karena emosi sesaat Bulan memutuskan memilih berpisah, tetapi sudah melalui beberapa pertimbangan. Salah satunya karena tidak ingin menyakiti hati perempuan yang telah menjadi istri pertama dari Alfan, walaupun dia sendiri tengah terluka. Sebenarnya bukan salah Bulan jika ternyata menjadi yang kedua, karena ia hanya korban dari keegoisan Alfan yang menutupi kebohongan. Andai … andai dia tahu bahwa sang suami telah menikah walau secara siri, tentu hal pertama yang akan dilakukan adalah menolak perjodohan ini. “Istrimu tahu tentang ini?” Bulan melihat sang suami menggeleng dengan wajah muram. “Bagaimana jika dia tahu?” Alfan kembali menggeleng dengan lemah. “Aku akan mengatakannya,” sambungnya dengan lirih. “Kamu benar-benar ….” Bulan sampai tidak dapat menyelesaikan ucapannya. “Maaf,” ucap Alfan lagi. Apa kata maaf bisa mengembalikan keadaan? Ragaku memang baik-baik saja, tetapi hati ini terluka, Mas, batin Bulan perih. Dada perempuan itu menjadi sesak, air mata meleleh begitu saja. Kepalanya seperti baru saja dipukul palu godam. Pandangan mata tiba-tiba kabur dan sesak itu membuat Bulan jatuh tak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang Alfan langsung menghubungi dokter dan memintanya datang ke hotel. Dokter mengatakan bahwa Bulan mengalami syok berat dan akhirnya jatuh pingsan. Alfan memaki dirinya sendiri. Gumaman kata maaf terus keluar dari bibir, merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Setelah mendapatkan suntikan vitamin, dokter berpesan banyak hal untuk tidak membuatnya stres dan banyak pikiran. To Be Continue ....
“Jangan terlalu banyak berpikir. Dokter mengatakan kamu tidak boleh terlalu stress.” Alfan duduk di sisi ranjang seraya menatapnya dengan perasaan bersalah. “Maaf semua ini karena aku,” sambungnya dengan helaan napas yang terdengar penuh tekanan. “Mari kita bercerai saja, Mas. Aku tidak mau ada di antara hubungan kalian berdua. Lebih baik kita akhiri saja sebelum semuanya menjadi lebih rumit.” Alfan menggeleng. “Lalu aku harus bagaimana? Jangan egois, Mas.” Bulan memekik dengan suara tertahan. Alfan tertunduk. “Kamu takut kehilangan warisan orang tuamu?” tanya Bulan menebak. Kebungkaman Alfan cukup menjawab semuanya. “Apa kamu tidak berpikir tentang perasaanku, hatiku dan hidupku yang telah kamu permainkan?” tuding Bulan dengan suara lemah. “Aku korban dari kebohonganmu, Mas. Kamu menghancurkan hidupku.” “Aku terpaksa, Bulan. Tolong mengertilah,” keluh Alfan merasa frustasi. “Lalu siapa yang akan mengerti diriku, Mas?” Baliknya dengan lembut namun penuh sindiran. “Kamu yang menarikku ke dalam pusara luka ini. Dan kamu memintaku untuk mengerti. Apa kamu memang tidak punya hati, Mas?” Alfan membanting gelas yang ada di dalam genggaman tangannya. “Aku terpaksa demi istriku. Aku dipaksa oleh keadaan, Bulan. Aku juga tidak ingin melakukan ini,” ujar Alfan dengan suara yang meninggi. “Lalu apa artinya aku, Mas?” lirih Bulan dengan suara yang hampir tak terdengar. Alfan kembali bungkam karena tak bisa menjawab pertanyaan Bulan. Seketika itu juga tangis Bulan pecah, ia ingin menyatakan kekecewaan, menyuarakan protes namun lidahnya keluh. “Jangan seperti ini,” ucap Alfan dengan nada frustasi. Bulan menghembuskan napas kasar. “Lalu aku harus bagaimana?” “Tolong jangan melibatkan orang tua kita ke dalam urusan ini.” Permintaan Alfan membuatnya kembali dilanda kekecewaan. “Tapi kedua orang tuamu juga bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku!” “Kita bisa mencobanya, Bulan. Pernikahan ini bukan mainan,” ujar Alfan membuatnya tertawa dengan miris. “Seharusnya kamu mengatakan itu pada dirimu sendiri, Mas. Aku di sini hanya membela diriku karena ketidakadilan yang kamu lakukan. Kamu yang mempermainkan ikatan suci ini,” balas Bulan yang selalu bisa menjawab ucapan Alfan dengan mudah. Alfan memilih tak menjawab dan berjalan menuju balkon kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul empat menjelang pagi, namun mereka masih saja belum menghentikan perdebatan. Dengan perginya Alfan, lelaki itu memilih menghindar dan memberikan waktu kepada Bulan untuk memikirkan ucapannya. Diakui Alfan, ia memang yang paling bersalah karena semua ucapan yang dikatakan Bulan semuanya adalah benar. Ia egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang-orang yang terseret di dalamnya. “Maaf Bulan, semua ini aku lakukan karena aku terlalu mencintai Zahra. Dia cinta pertamaku.” Asap rokok mengepul di sekitar Alfan. Satu batang, dua batang hingga ia lupa telah menghabiskan berapa batang. Ia masih bertahan duduk di balkon bahkan ketika awan gelap sudah berubah terang. Bulan baru saja keluar dari kamar mandi dengan dress selutut dengan model yang simple namun tetap terlihat anggun. Matanya melihat ke arah balkon sejenak sebelum mendudukkan diri di hadapan meja rias. Tak lama ponselnya berdering. Bulan langsung mengambil ponsel dengan bentuk apel digigit itu dan langsung menjawab panggilan. “Halo, Mam. Ada apa?” tanya Bulan langsung. “Kami menunggu kalian di restoran. Jangan lama-lama.” “Mami dan yang lain bisa sarapan lebih dulu. Mas Alfan belum bangun, Mam.” Bulan beralasan. “Tidak ada penolakan, Bulan. Kami menunggu. Oh ya katakan pada Alfan, jangan memulainya lagi karena kita semua sudah menunggunya.” Terdengar ledakan tawa dari seberang panggilan. “Okay, Mam.” Bulan mendengus pelan dan menaruh ponselnya sebelum beranjak menuju balkon mencari suaminya. Melihat posisi Alfan yang tidur seperti itu membuat Bulan merasa kasihan. Perlahan langkah kakinya mendekat dan duduk di sofa tunggal. Manik cokelat miliknya menatap lelaki itu dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. “Mas Alfan, bangun.” Tangan Bulan menyentuh bahu suaminya dengan pelan. “Hmm,” bergumam tapi tidak juga membuka mata. Bulan akhirnya menepuk lengan itu sekali lagi dengan sedikit keras hingga sang empunya terkejut dan langsung membuka mata. “Cepat mandi. Keluarga kita sudah menunggu di bawah. Jangan lama-lama,” ucap Bulan yang seketika membuat Alfan menoleh melirik jam di pergelangan tangannya. “Iya.” Keduanya turun bersama menuju restoran yang terletak di lantai dasar. Keduanya masih dalam kebungkaman masing-masing. “Memang dasar pengantin baru. Jam segini baru bangun,” sindir Mama Silvi yang tak lain adalah ibunya Alfan. Bulan tersipu. “Maaf Ma,” ucapnya. “Tidak apa-apa. Mama dulu juga pernah muda.” Sambil terkekeh wanita paruh baya itu menggoda. “Bukankah begitu, Pa?” Mama Silvi menatap suaminya, Papa Andre. Akhirnya mereka melakukan sarapan yang cukup telat karena harus menunggu pengantin baru yang terlambat datang. Namun tak ayal mereka memang menikmati kebersamaan itu. Godaan dan candaan dilontarkan Mama Silvi dan Papa Andre kepada anaknya. Apalagi melihat mata mereka berdua yang jelas memiliki kantung mata membuat siapapun jelas tahu bahwa mereka berdua kurang tidur, namun tidak ada yang tahu alasan sebenarnya. *** Pada akhirnya setelah melihat bagaimana dua keluarganya berbahagia atas pernikahan mereka, Bulan urung mengatakan yang sebenarnya kepada orang tuanya. “Berikan kesempatan pada pernikahan ini, Bulan. Kita pasti bisa menjalaninya.” “Bagaimana dengan istrimu?” tanya Bulan. “Aku yang akan mengatakan semuanya. Ini semua salahku,” jawabnya. “Jika istrimu berarti untukmu, lalu apa artinya aku di antara kalian, Mas?” Suara Bulan kembali terdengar. “Aku masih belajar menerima semua ini, Bulan.” Pada akhirnya Bulan meminta waktu dan kesempatan untuk memikirkan ucapan Alfan, walaupun ia tidak yakin bahwa semuanya akan berjalan dengan baik. Karena ia tahu bahwa sejatinya tidak ada wanita yang mau jika suaminya dibagi dengan wanita lain, termasuk dirinya. Walaupun hubungannya dengan Alfan belum menumbuhkan debaran dan getaran di hati, sejujurnya Bulan hanya menginginkan pernikahan sekali selama hidupnya. “Tolong, jangan katakan apapun pada keluarga kita.” Bulan mengangguk menyanggupi permintaan Alfan. “Di depan semua orang, kamu adalah satu-satunya istriku.” “Tapi pada kenyataannya, akulah istri keduamu.” Bulan tersenyum miris. “Sekali lagi, maafkan aku, Bulan. Akulah yang paling bersalah di sini,” sahut Alfan. “Kamu memang bersalah.” Alfan mengangguk. “Kamu jahat, Mas.” Alfan kembali mengangguk membenarkan ucapan Bulan. Tangis Bulan kembali pecah. Kenapa kehidupan rumit ini harus menyapa dirinya? Apa kesalahannya hingga ia harus berada di titik ini. “Maaf.” Hanya itulah yang mampu diucapkan Alfan atas rasa bersalahnya. Ini benar-benar seperti mimpi buruk untuknya. Ketika keinginan dan harapan tak sesuai dengan kenyataan, Bulan memilih berserah diri kepada sang pemberi kehidupan. Memohon dan berharap bahwa semua ujian yang datang padanya segera menemukan jalan terbaik. “Ya Allah, jika memang takdirku harus seperti ini. Hamba mohon kuatkan diri ini dan besarkan hati hamba untuk menerima segala sesuatu yang sudah terjadi.” “Amin.” Bulan terisak pelan ketika ia baru saja menyelesaikan sholat di sepertiga malam. Manusia hanya bisa berencana, tapi kuasa Tuhan tetaplah yang utama. Dan di atas sajadah ini Bulan memohon ampun atas segala dosa-dosanya dan memohon yang terbaik untuk hidupnya. Jika memang ini takdir yang telah digariskan untuknya. Semoga ia sabar dan tegar dalam menjalaninya. Satu kata sederhana yang sulit untuk dilakukan. Sudah tiga hari tiga malam Bulan dan Alfan menginap di hotel. Sudah dua malam pula Bulan meminta petunjuk pada sang pemberi kehidupan. Hingga pada akhirnya ia memilih bertahan menjadi istri seorang Alfan Fatih Herlambang. Istri yang sah secara hukum dan agama. Perempuan pertama dan satu-satunya yang diketahui adalah istri dari Alfan Fatih Herlambang. Namun pada kenyataannya, ia kembali harus tertampar akan statusnya bahwa ia hanyalah yang kedua. Siap ataupun tidak. Ia harus berbagi suami dengan perempuan yang diketahui bernama Zahra. “Terima kasih, Bulan.” Alfan menatapnya dengan ketulusan. Bulan mengangguk. “Pulang sekarang?” tanya Alfan. “Mampir ke rumah dulu. Aku mau ngambil barang-barang keperluanku.” Alfan mengangguk. “Kamu tidak ingin mampir ke suatu tempat?” tanya Alfan membuka obrolan. Bulan menggeleng. “Tidak, terima kasih,” ucapnya. Alfan menyeret satu koper berukuran sedang yang berisi pakaiannya dan Bulan selama menginap di hotel. Setelah cek out, mobil yang dikendarai Alfan melaju membela padatnya kota Jakarta yang tidak pernah tidur. Apalagi ketika siang hari seperti ini, kemacetan menjadi hal yang biasa terjadi. Mobil yang dikendarai Alfan sudah masuk ke dalam halaman rumah yang sangat luas bergaya eropa dengan pilar-pilar besar sebagai ciri khasnya. Rumah milik keluarga Latief ini memang berbeda dari yang lain karena dibangun ulang oleh pemiliknya. Juga menjadi salah satu rumah yang sangat luas dan besar dengan halaman yang luas karena menggabungkan empat kavling untuk mendapatkan rumah impian. Rumah yang indah dan mewah dengan mobil berbagai merk berjajar rapi di garasi. Bulan turun diikuti Alfan. Mereka berdua langsung masuk dan disambut dengan asisten rumah tangga yang sedang membersihkan pajangan dinding di ruang tamu. “Non Bulan sudah kembali,” sapa wanita paruh baya itu sambil melempar senyum tipis. Bulan mengangguk dan balas tersenyum. “Selamat datang, Den Alfan.” “Terima kasih, Bi.” “Non Bulan dan Den Alfan mau makan siang? Bibi siapkan ya,” tawarnya kepada sepasang pengantin baru tersebut. Alfan mengangguk. “Terima kasih, Bi.” “Sama-sama, Den Alfan.” Tidak perlu ditanya kemana kedua orang tua Bulan. Sudah pasti mereka sedang bekerja dan akan pulang larut malam untuk tidur dan kembali di pagi hari. Entah apa yang kedua orang tuanya cari hingga lupa waktu bahkan terkadang sampai lupa pada anak sendiri hanya untuk mengejar materi yang bahkan lebih dari cukup mereka miliki. “Boleh aku jalan-jalan di sekitar sini?” tanya Alfan membuyarkan lamunan wanita cantik itu. Bulan mengangguk. “Mau menemani?” tanya Alfan. Banyak hal yang ingin Alfan ketahui tentang Bulan, tapi entah mengapa ia tak bisa memulainya. Bulan menggeleng. “Aku harus membereskan keperluanku, Mas.” “Ya sudah.” Bulan menuju kamarnya untuk mengambil keperluannya sedangkan Alfan berkeliling rumah. Alfan dan Bulan duduk di meja makan menyantap makanan yang telah disediakan. Sesekali Alfan menoleh ke arah istrinya yang makan dengan sangat pelan dan penuh kehati-hatian. “Kenapa melihatku?” tanya Bulan membuat Alfan tersedak karena merasa ketahuan. Uhuk! Uhuk! “Hati-hati, Mas.” Bulan menyodorkan segelas air ke arah suaminya. “Terima kasih, Bulan.” Hingga pada sore harinya, Alfan menemui Bulan yang saat itu sedang duduk di samping kolam renang. Wajah wanita itu terlihat seperti kehilangan banyak semangat. Ada raut kesedihan dan luka yang tersorot dari manik matanya. “Bulan,” panggilnya membuat wanita itu menoleh. “Ya,” sahutnya dengan pelan. “Jika butuh sesuatu kamu bisa memintanya pada bibi.” Alfan tertawa. “Aku ingin melihat senyum di wajahmu. Siapa yang bisa membantuku melakukannya?” Terdengar manis tapi sayang mulut itu juga yang telah tertutup rapat menutupi dusta. “Mencoba merayuku?” tanya Bulan dengan datar. “Sayangnya aku bukan wanita yang mudah melupakan,” sambungnya dengan wajah menunduk memandangi pantulan dirinya di permukaan air. “Aku hanya sedang berusaha mengakrabkan diri. Kita harus saling mengenal,” ucap Alfan. “Maybe not now. Kita masih sama-sama membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, Mas.” Bulan menghembuskan napas pelan diiringi desahan lirih dari bibirnya. Hening untuk beberapa saat sampai Bulan memilih mengakhiri kegiatannya. Ia menoleh menatap Alfan sekilas sebelum meninggalkan kolam dengan tatapan mata Alfan yang masih mengikutinya. “Aku bersalah. Bagaimana aku bisa menebus semuanya?” lirihnya sambil tertunduk. To Be Continue ….
Bulan dan Alfan turun dari lantai dua. Mereka akan langsung pergi ke rumah pribadi milik Alfan. Kedua orang tuanya sudah menunggu di ruang tamu. Beberapa koper besar sudah dimasukkan ke dalam mobil lebih dulu. Bulan memeluk Mami Tari dan Papi Jacob secara bergantian. “Jaga dirimu baik-baik, Nak.” Mami Tari mengelus rambut panjangnya. “Mami juga. Jaga kesehatan dan berhentilah bekerja terus menerus.” “Iya,” jawab Mami Tari dengan senyum yang dipaksakan. “Aku akan sangat merindukan kalian.” Bulan berbicara dengan mata yang berkaca-kaca. Papi Jacob memeluk Alfan. “Titip putriku, Nak. Cintai dan sayangi dia seperti kami mencintainya.” Tapi kalian lebih mencintai pekerjaan dibandingkan aku anak kalian, batin Bulan. “Baik. Saya akan berusaha membahagiakan Bulan.” Bahkan untuk pertama kalinya kamu sudah menggoreskan luka, batin Bulan. “Jadilah wanita shalihah yang selalu menurut apa kata suami. Kamu bukan lagi bebas melakukan apa pun semaumu. Kamu harus meminta izin pada suamimu. Kamu paham, Bulan?” Nasihat Mami Tari padanya. “Iya, Mam.” Kedua orang tua itu akhirnya melepas kepergiannya dengan sedikit drama mengharukan. Akhirnya mobil yang dikendarai Alfan meninggalkan rumah tempatnya dibesarkan. Diikuti mobil lain yang membawa beberapa koper besar keperluan Bulan. Tentu saja mobil sport ini tidak akan bisa memuat koper-koper berukuran besar tersebut. Jalanan padat merayap. Bulan memilih menyadarkan kepalanya dan memejamkan mata. “Ada apa Bulan?” tanya Alfan memecah keheningan. “Tidak apa-apa, Mas. Aku cuma sedikit mengantuk.” “Pusing?” tanya Alfan lagi. “Tidak, Mas.” Mobil yang dikendarai Alfan sudah berhenti di sebuah rumah mewah yang tidak terlalu besar dengan dua lantai. “Bulan, bangun. Kita sudah sampai.” Alfan menyentuh bahu Bulan dengan pelan agar tak mengagetkan wanita itu. “Bulan,” panggilnya sekali lagi. Perlahan Bulan membuka mata dan menatap sekitar. “Kita sudah sampai,” ucap Alfan yang mengerti akan kebingungan Bulan. “Maaf aku ketiduran,” ujar Bulan dengan suara serak. Alfan mengangguk. Kemudian keduanya turun dari mobil. Bulan melihat dua orang lelaki mengeluarkan koper-koper dari dalam mobil. Setelah selesai Alfan memberikan beberapa lembar kepada mereka dan langsung pamit pergi. Alfan mengajak Bulan masuk ke dalam rumah. “Ayo aku antar ke kamar.” Bulan mengangguk dan mengikuti langkah Alfan yang telah melangkah lebih dulu. “Rumah ini punya lampu otomatis. Saat sensor menunjukkan bahwa ada orang di sekitar maka lampu akan tetap menyala,” jelas Alfan. Bulan mengagumi desain rumah ini. Keduanya sampai di lantai dua. Ada beberapa kamar di lantai dua yaitu kamar tamu dan kamar utama. Sedangkan di lantai dasar hanya kamar khusus pekerja rumah. Ceklek! Pintu terbuka dan seketika lampu menyala. “Kamu istirahat saja dulu. Biar besok bibi yang membantumu menyimpan keperluanmu.” Bulan mengangguk. Setelah mencuci muka, ia langsung naik ke atas ranjang. Ia tak lagi melihat Alfan di dalam kamar. Pikiran yang masih kacau ditambah dengan tubuh yang lelah membuat tak butuh waktu lama bagi Bulan akhirnya terlelap di bawah selimut. *** “Ada apa Ra? Kenapa belum tidur, ini sudah larut malam.” “Aku tidak bisa tidur, Mas. Kepikiran kamu. Kayaknya aku merasa ada sesuatu yang terjadi sama kamu.” “Itu cuma pikiranmu saja. Tidur Ra, ini sudah larut malam.” “Aku kangen, Mas.” “Lusa aku datang. Oh ya bagaimana perkembangan ibu?” “Masih sama, Mas.” “Sudah tidak apa-apa, ibu pasti sembuh. Kamu yang sabar dan jangan lupa berdoa.” “Terima kasih Mas. Aku mencintaimu.” “Aku lebih mencintaimu, Ra.” “Ya sudah aku mau tidur. Mas Alfan jaga kesehatan di sana ya.” “Iya. Good night, Sayang.” Alfan memutuskan panggilan setelah berbicara dengan Zahra, istrinya. Setelah itu ia memilih merebahkan tubuhnya di sofa dan memilih memejamkan mata. Tanpa diketahui oleh Alfan bahwa Bulan mendengar dengan jelas obrolan tersebut. Tiba-tiba hatinya didera rasa sakit dan kecewa yang mendalam. Itu manusiawi karena Alfan adalah suaminya. Bulan membungkam mulutnya agar tak mengeluarkan suara. Kenapa rasanya sesakit ini, batin Bulan dengan air mata yang sudah meleleh. Diam-diam Bulan terisak dengan pelan dibalik selimut yang menutup tubuhnya. Ia tidak menyangka bahwa rasanya akan semenyedihkan ini. Mampukah ia berbagi suami dengan wanita yang lebih dulu menjadi istri dari suaminya? Bulan yang semenjak subuh tidak melihat keberadaan Alfan, bergegas mencuci muka dan sikat gigi. Setelah itu ia turun ke bawah mencari keberadaan suaminya. “Pagi, Bi.” Bulan menyapa bibi asisten rumah tangga. “Pagi, Non.” “Masak apa, Bi? Ada yang bisa aku bantu?” tawar Bulan. “Tidak Non, jangan. Non duduk saja.” Bibi menolak dengan halus. “Nanti Marni yang akan bantu Non di lantai atas. Marni lagi pergi ke pasar, sebentar lagi pasti sudah pulang.” Bulan mengangguk. “Di sini ada tiga asisten rumah tangga termasuk bibi. Bibi cuma masak dan bertugas di dapur. Lainnya dipegang Marni sama Yuli,” jelas wanita paruh baya itu. Bulan kembali mengangguk. Semalam mereka memang tak sempat bertemu. “Mas Alfan ke mana, Bi?” “Den Alfan kalau pagi begini lagi olahraga, Non. Biasanya keliling kompleks,” jawab Bibi. Setelah meneguk segelas air dingin, Bulan memilih pergi kembali ke kamarnya. Ceklek! “Lho sudah bangun,” ucap Alfan yang baru saja masuk ke kamar dan melihat Bulan duduk di sofa dengan televisi yang menyala. Kaos yang dipakai terlihat basah hingga mencetak jelas bentuk tubuhnya yang tegap. Bulan menoleh. “Dari mana, Mas?” “Lari keliling kompleks,” sahutnya. Bulan mengangguk. “Aku mandi dulu ya.” Bergegas masuk ke kamar mandi tanpa menunggu sahutan dari Bulan. Setelah itu Bulan bangun dan berjalan menuju lemari untuk menyiapkan pakaian suaminya. Celana kain selutut dengan kaos polos menjadi pilihan. Bulan menyiapkan pakaian tersebut di atas ranjang dan kembali duduk di sofa. Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, Alfan keluar dengan handuk yang hanya melilit tubuh bagian bawahnya. Matanya melihat pakaian yang ada di atas ranjang. Kemudian tersenyum tipis dan mengambilnya. Alfan kembali masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. “Terima kasih, Bulan.” Bulan tersenyum dan mengangguk. Andai saja ia tidak mengetahui fakta bahwa lelaki ini telah memiliki istri lain, mungkin Bulan akan sangat bahagia. Tapi lagi dan lagi kenyataan itu kembali menamparnya akan sebuah status bahwa ia hanyalah istri di atas kertas. Dan mencoba bersikap baik-baik saja itu ternyata tidak semudah bayangan. Butuh tenaga ekstra untuk menutupi segalanya. Tok! Tok! Tok! “Non Bulan, Den Alfan, sarapan sudah siap.” “Iya, Mbak.” Alfan balas berteriak. Alfan berpaling menatap Bulan. “Itu Mbak Marni.” Bulan mengangguk. “Mau sarapan sekarang?” tanya Alfan. “Iya,” sahut Bulan. Keduanya akhirnya berjalan bersama menuju meja makan. Tidak banyak obrolan yang bisa dilakukan sepasang pengantin baru tersebut. Mereka berdua sepertinya masih canggung walaupun keduanya mencoba bersikap biasa saja. Bulan mengambilkan makanan untuk Alfan. Ia melayani suaminya dengan baik walaupun di sudut hatinya masih ada luka menganga. “Selamat makan,” ucap Alfan dengan senyum tipis yang sangat manis. Ponsel milik Alfan bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Bulan pura-pura tidak peduli, namun sekilas matanya melirik ke arah Alfan yang menatap ponselnya dengan raut tegang. “Bulan,” panggil Alfan lirih. “Ada apa, Mas? Kenapa Mas Alfan tegang?” tanya balik Bulan. Alfan langsung bangkit dari kursi. “Aku harus ke Bandung. Ibu mertuaku mendadak kritis.” Deg! Bulan mematung. Alfan langsung bergegas menuju kamarnya tanpa mempedulikan Bulan yang diam saja. Tak lama Alfan turun dengan pakaian yang sudah rapi. Kemeja panjang yang dilipat sampai sebatas siku membuatnya terlihat semakin tampan. “Aku pergi dulu, Bulan. Kamu hati-hati di rumah. Maaf harus meninggalkanmu,” ucap Alfan. “Hati-hati di jalan, Mas Alfan.” Suara Bulan lirih, Alfan jelas tak akan mendengarnya karena lelaki itu sudah menghilang dari hadapannya. Tanpa terasa buliran bening itu membasahi pipinya. Mulai sekarang kamu memang harus terbiasa, Bulan. Karena suamimu bukan hanya milikmu, batinnya. Bulan tak lagi melanjutkan sarapan. Napsu makannya menguap begitu saja ketika melihat kecemasan yang tergambar di wajah Alfan. Sampai siang hari Bulan masih mengurung diri di dalam kamar. Beberapa kali Mbak Marni dan Mbak Yuli datang untuk menawarkan makan siang namun ditolaknya begitu saja. Tak lama ponselnya berdering kembali, tanda pesan masuk dari Mama Silvi yang menawarkan paket liburan kepadanya. Bulan tersenyum miris dan mencibir dirinya sendiri. Kamu adalah pengantin baru yang paling menyedihkan, Bulan. Baru beberapa jam menikah, suamimu mengatakan kejujuran yang menyakitkan, dan kini kau harus ditinggalkan begitu saja, batinnya mengasihani diri sendiri. To Be Continue ….