"Ras, mas ceraikan kamu sekarang juga dengan talak tiga. Mulai hari ini kamu bukan lagi istriku! Silahkan pergi dari rumah ini sekarang juga! Karena mulai saat ini kita bukan lagi suami istri!" ucap Mas Danu, lelaki berwajah tampan yang sudah dua tahun ini menjadi suamiku. Aku nyaris jatuh tersungkur ke atas lantai jika tak berpegangan pada dinding di belakangku saat mendengar ucapan laki-laki yang sangat kucintai itu. Tega ia menceraikan aku tanpa tedeng aling-aling. Tanpa sedikitpun penjelasan apa salah dan kurangku padanya. Selama ini meski hidup sederhana, hubungan kami nyaris tidak ada masalah yang berarti. Meskipun belum dikaruniai keturunan, dan keluarga Mas Danu juga tidak terlalu dekat dan menyukaiku, tetapi karena aku banyak mengalah, maka rumah tangga kami cenderung adem ayem saja. Tak banyak percekcokan terjadi di antara kami. Semua baik-baik saja. Lantas jika tiba-tiba Mas Danu menceraikan aku, bahkan tak tanggung-tanggung lagi dengan talak tiga, salahkan jika aku mempertanyakannya dan nyaris tidak bisa mempercayainya sama sekali? Bak petir menyambar di siang hari bolong, kalau tidak ada Pak Brahma dan Pak Dicky, tetangga sebelah rumah yang dimintai Mas Danu untuk menjadi saksi, mungkin aku benar-benar tak akan percaya jika Mas Danu sudah mengucapkan kata cerai itu padaku. "Tapi kenapa, Mas? Apa salahku hingga kamu harus menceraikan aku seperti ini?" aku masih terisak, menuntut penjelasan gamblang dari suamiku itu. Namun, mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutku, Mas Danu hanya berdecih. Lama, hingga aku harus mengulangi kembali pertanyaan itu. "Mas, tolong jawab apa salahku?" "Maaf, Laras. Kamu nggak salah. Mas yang salah karena mas nggak sabar hidup dalam kesulitan dan kesusahan bersama kamu. Mas capek harus kerja keras banting tulang setiap hari tapi nggak kaya-kaya juga, Ras! Makanya mas ingin bercerai dari kamu. Mas ingin hidup sukses tanpa perlu capek kerja keras lagi setiap hari! Tadi siang mas sudah menerima tawaran menikah dengan Sonia, janda tempat mas bekerja sebagai tukang angkut barang selama ini di toko sembako miliknya. Bu Sonia mengajak mas menikah tapi tidak mau dimadu atau diduakan, dia mau jadi satu-satunya istri mas. Itu sebabnya mas terpaksa menceraikan kamu, Ras. Maafkan, mas ya. Mas nggak bisa memenuhi janji awal kita menikah untuk tetap setia sama-sama dalam suka dan duka, sehidup semati. Mas nggak kuat menghadapi cobaan dan ujian pernikahan kita. Itu sebabnya mas minta maaf. Pergilah, Ras. Pergilah. Semoga kelak kamu berjodoh dengan lelaki lain yang lebih baik dari mas," ucap Mas Danu panjang lebar sembari menunduk menyembunyikan raut wajah yang kelihatan getir, tapi tetap saja mendengar perkataan Mas Danu itu, kedalaman hatiku serasa disiram air cuka. Pedih dan perih. "Ya, sudah, Mas. Kalau kamu memang sudah bertekad bulat menceraikan aku, aku bisa apa. Talak ada di tangan suami dan kamu sudah mengucapkan itu di depan dua orang saksi. Jadi, talak yang kamu ucapkan itu sudah pasti sah. Tapi aku mohon beri aku waktu hingga besok pagi karena hari ini sudah sore. Bus antar kota antar propinsi yang biasa rute ke desa bapak dan ibu mungkin sudah nggak ada lagi. Jadi izinkan malam ini aku menginap ya. Besok pagi-pagi insyaallah aku pulang," sahutku akhirnya berusaha menerima kenyataan dengan terpaksa. Hati ini masih sakit rasanya. Tapi mau bagaimana lagi, talak sudah diucapkan dan tidak mudah dicabut kembali. "Tadinya aku mau ngajak kamu ke desa, Mas, karena ibu dan bapak habis jual tanah ke perusahaan minyak yang mau menggunakan tanah di desa kami sebagai lokasi pengeboran minyak, tapi syaratnya bapak dan ibu harus pindah ke daerah lain. Itu sebabnya bapak dan ibu nyuruh pulang. Nyuruh kita nyari rumah, kendaraan dan bikin usaha dagang. Tapi karena Mas sudah mentalak aku, terpaksa aku pulang sendiri. Mungkin ini sudah nasibku, Mas. Semoga Mas bahagia dengan Sonia ya," sahutku dengan ekspresi sedih yang tidak bisa kutahan. Mendengar perkataanku, tiba-tiba Mas Danu melebarkan matanya, menatapku ingin tahu. "Memangnya berapa hasil penjualan tanah itu, Ras?" tanya laki-laki itu seolah ingin tahu. Mendengar pertanyaannya, aku menghela nafas sambil menyahut ringan. "Kata bapak, semuanya sepuluh miliar rupiah, Mas. Ibu minta aku mengelola uang ganti rugi itu bareng Mas, karena mereka sudah tua jadi ibu dan bapak akan beli rumah kecil aja buat mereka dan sisanya buat kita. Tapi kamu sudah mentalak aku, jadi gak mungkin lagi aku ngajak kamu pulang ke bapak dan ibu besok pagi, Mas. Terpaksa aku pulang sendiri. Doakan ya, aku selamat dalam perjalanan," ujarku berusaha tenang lalu masuk ke dalam kamar untuk mulai berkemas karena besok pagi aku harus segera pergi meninggalkan rumah ini.
"Ras, tunggu! Kamu bilang bapak dan ibu kamu baru jual tanah? Kapan?" Mas Danu membuntuti langkahku ke dalam kamar. "Kemarin, Mas. Tadi pagi aku pengen cerita tapi kamu keburu berangkat kerja. Jadi aku tunda dulu, eh tiba-tiba malah kamu talak aku seperti ini," sahutku sambil mengambil tas pakaian lalu mulai memasukkan baju-bajuku ke dalamnya. "Ehm, iya ... tapi itu kan karena mas nggak tahu! Kalau mas tahu pasti ..." Mas Danu tak melanjutkan kalimatnya. Ia terlihat menggaruk-garuk kepalanya, salah tingkah. "Kalau tahu kenapa, Mas?" Aku menghentikan gerakanku lalu memicingkan mata ke arahnya. "Ng-nggak papa, Ras... Oh ya jadi besok kamu beneran mau pergi?" Mas Danu mengalihkan pembicaraan, masih terlihat salah tingkah. "Lha iya dong. Bukannya Mas yang nyuruh aku pergi?" tanyaku balik. "Nggak juga sih. Nggak harus besok. Lusa atau kapan-kapan juga gak papa kok," sahutnya membuatku bingung. "Kok gitu? Bukannya tadi Mas suruh aku buru-buru pergi karena kita bukan suami istri lagi ya?" Aku menatap heran pada Mas Danu. "I-iya betul. Tapi ... itu kan kalau kamu nggak keberatan. Kalau kamu keberatan ya nggak usah." "Nggak usah? Maksudnya?" Aku tak mengerti, merasa aneh dengan sikap Mas Danu yang tiba-tiba plin plan begini. Tadi menyuruhku buru-buru pergi karena ia hendak segera menikah dengan Sonia, tapi setelah mendengar pengakuanku kalau aku hendak membantu ibu mengurus uang hasil ganti rugi tanah yang bernilai milyaran rupiah itu tiba-tiba saja ia hendak menahanku agar tidak buru-buru pulang ke ibu dan bapak. Apa maunya sebenarnya? "Nggak usah buru-buru pulang maksudnya, Ras. Karena...talak itu kan masih bisa diperbaiki. Nanti mas tanya ustad, masih bisa nggak dibatalkan. Oh ya, kalau misalnya bisa dibatalkan, apa kamu masih mau pulang, terus apa kamu sudah cerita sama bapak dan ibu kalau.... kalau... barusan mas sudah ngucapin talak sama kamu? Kalau belum, nggak usah diomongin dulu ya?"tanyanya lagi. "Emangnya kenapa, Mas? Mendengar perkataan Mas Danu aku makin bingung. Bukannya kalau tadi aku jadi pulang, bapak dan ibu juga bakalan tahu kalau aku dan dia sudah berpisah? "Ng-nggak. Mas cuma berpikir sebaiknya mas aja yang ngantar kamu kalau kamu mau pulang. Soalnya Jawa itu kan jauh, Ras. Mas khawatir kamu ada apa-apa di jalan. Apalagi bapak dan ibumu nyuruh mas pulang bareng kamu, kan?" sahutnya lagi. Mendengar perkataannya, aku menjadi bingung sendiri. Bukannya tadi dia mengusirku pergi dan saat itu tak bertanya siapa yang akan menemaniku dalam perjalanan menuju kampung halaman dan ia juga tak terlihat khawatir sedikit pun meski tahu aku hanya seorang diri dalam perjalanan? Lalu kenapa sekarang tiba-tiba ia menjadi begitu peduli dan khawatir pada keselamatanku dalam perjalanan???
"Nggak usah, Mas. Makasih. Biar aku pulang sendiri aja. Mas kan udah talak tiga aku di depan saksi. Nggak pantas rasanya kalau kita masih pergi berdua. Apa kata tetangga nanti, Mas? Pak Brahma dan Pak Dicky pasti sudah bilang ke mana-mana kalau kita sudah bercerai. Aku punya perasaan, Mas. Nggak enak sama orang-orang," sahutku sambil meneruskan kesibukanku memasukkan pakaian yang masih bisa dipakai ke dalam tas besar yang akan kubawa pulang ke kampung halaman nanti. "Tapi Jawa Timur itu jauh, Ras. Mas khawatir ...," ujarnya lagi. "Ngapain Mas khawatir? Tadi waktu nalak aku Mas nggak kelihatan khawatir kok. Kenapa sekarang tiba-tiba cemas aku kenapa-kenapa di jalan?" sahutku dengan tatapan tajam ke arahnya. Mendengar jawabanku, Mas Danu terlihat kikuk. "Ya ... khawatir juga dong, Ras. Tapi tadi kan belum sempat ngomong. Sekarang aja baru sempat ngomong kalau perempuan itu sebenarnya nggak boleh pergi jauh-jauh sendirian," kilahnya. Aku menggelengkan kepala. "Nggak usah, Mas. Lagian aku udah sering kan pulang sendiri? Dua kali aku pulang nggak Mas temani karena Mas lagi sibuk kerja. Jadi, biarkan besok aku pulang sendiri. Oke!" Mas Danu terlihat kecewa mendengar penolakanku, tetapi akhirnya ia kelihatan pasrah. "Ya, sudah kalau gitu. Terserah kamu saja. Kalau nggak mau dianterin, ya udah. Tapi malam ini kamu masih tidur di kamar ini kan? Kita ... masih bisa tidur bersama satu kamar, kan?" Aku menggeleng. "Nggak, Mas. Aku tidur di depan TV aja sambil nonton drama Korea. Udah ya, Mas. Aku solat dulu. Habis itu aku mau nonton TV," pungkasku lagi. "Ya, udah," sahutnya pasrah. **** Aku sedang asyik menonton drama Korea di televisi saat pintu rumah diketuk pelan dari luar. Dengan malas kutinggalkan benda segiempat di depanku untuk menuju pintu dan membukanya. Begitu terbuka, kulihat sosok Bu Sonia, wanita yang katanya sudah melamar Mas Danu untuk menjadi suaminya itu tegak di luar dengan dandanan menor seperti biasanya. Bibirnya yang tebal dipoles lipstik warna merah menyala dan tubuhnya yang gemuk tampak membentuk gelombang di sana sini karena dress ketat yang membalut tubuhnya hampir kesulitan menyembunyikan lemak yang bertebaran di mana-mana itu. Melihatku ada di sana, wanita itu tampak kaget. "Laras? Kok kamu masih ada di sini? Gimana sih, bukannya Mas Danu sudah ngusir kamu?" tanyanya dengan nada kaget dan tak suka. Mendengar pertanyaannya, aku memaksakan senyum. "Benar, Bu. Mas Danu memang sudah mengusir dan mentalak tiga saya. Tapi saya minta waktu sampai besok pagi untuk pulang karena Jawa itu jauh, Bu. Harus pesan tiket bus minimal sehari sebelum berangkat. Tapi ibu tenang saja karena besok pagi saya bakalan pergi kok. Oh ya, Bu. Ibu mau apa? Mau ketemu Mas Danu?" "Iya. Ada? Saya mau ajak dia makan malam di rumah karena saya udah masak makanan kesukaan dia. Tapi, ditelpon telpon kok nggak diangkat-angkat, makanya saya buru-buru ke sini. Nggak biasa-biasanya Mas Danu nolak telepon dari saya soalnya," sahut wanita itu sambil masuk dan memanggil-manggil Mas Danu.