'Cinta pertama tak selamanya berhasil' Sepertinya kalimat itu benar adanya. Cinta pertama hanyalah bagian dari rasa penasaran seorang remaja yang masih kebingungan dengan jati dirinya, bumbu-bumbu cerita hiasan masa remaja bahkan mereka menganggap dirinya sudah dewasa hanya karena cinta. Walaupun begitu aku juga pernah merasakannya,merasakan menjadi seorang remaja yang penasaran apa itu Cinta dan menganggap hanya dengan Cinta semua akan baik-baik saja dan bahagia selamanya layaknya animasi disney series yang sering ku tonton waktu masih kecil selalu berakhir happily ever after. Naif? tentu saja tapi dengan kenaifan itu aku pernah merasakan kebahagian seakan dunia ada dalam genggaman tanganku yang mungil ini dan setidaknya aku perlu berterimakasih untuk itu. Setiap ada orang yang bertanya seperti apa Cinta pertamaku,aku selalu teringat 'dia'. Wangi vanilla selalu mengingatkan akan dirinya,dia... domino jatuh dan kebodohan terbesarku. Aku bukan gadis populer seperti Selena ratu kecantikan lambang sekolah SMA GANDHI tapi aku juga bukan gadis culun kutu buku seperti Susan penghuni tetap perpustakaan.Aku hanya Tiffany seorang gadis yang menghargai waktunya, belajar jika waktunya belajar dan bermain jika waktunya bermain.Singkat kata aku hanyalah remaja 17 tahun dengan rutinitas monoton belajar,bermain dan... cinta. Aku menjalani keseharian ku yang tertata bahkan hampir menyerupai jadwal harian yang wajib bahkan telah menjadi kebiasaan di setiap hari ku hingga...'dia' datang dan dengan seenaknya mengacaukan kehidupanku. Mungkin sebenarnya bukan dia yang mengacaukannya tapi aku yang dengan rela menyerahkan diriku jatuh ke dalam pesonanya waktu itu dan berakhir menyesal hari ini. "Hai kamu yang ada disana, setidaknya aku perlu mengucapkan terima kasih kepadamu untuk menjadi kenangan masa remaja ku dan sempat melukiskan pelangi cerah.Walaupun pada akhirnya kamu juga yang mendatangkan awan mendung di antara kita..." "Mari berbahagia... dengan jalan masing-masing ah,aku harap kamu yang bahagia". **************** 12 Juli 2018 Biar aku perkenalkan diri secara resmi namaku Tiffany Ananda Putri mahasiswa baru angkatan 39 tahun 2018 jurusan sejarah kuno GM University. kehidupan penuh tantangan mahasiswa baru akan segera dimulai dan selamat datang cerita baru. menginjakan kaki untuk pertama kali nya di gerbang utama universitas impian membuat perasaan campur aduk yang tak bisa di jabarkan memenuhi hatiku.tak bisa dipungkiri rasa pencapaian yang membanggakan membuatku bahagia. Kata orang usaha tak akan mengkhianati hasil tapi menurutku kadang hasil tak akan sepadan dengan usaha.Ya... itu hanya menurutku saja karena untuk masuk kesini aku berusaha lebih keras dari siapapun setidaknya semua telah aku korbankan. "Bukankah ini seperti mencari jarum di luasnya samudra?" Sebuah suara imut yang sedang menggerutu membuyarkan lamunan mengenang perjalananku yang penuh duri. Ok ini berlebihan tapi aku memang terharu sampai hampir menangis! "Halo kakak, mau berteman denganku?"suara itu terdengar kembali tapi sepertinya kali ini dia berbicara kepadaku. Aku menunjuk diri ku sendiri untuk memastikan bahwa yang ia ajak bicara adalah aku.Seorang gadis berkepang dua berdiri dengan senyum polos di sampingku mengulurkan tangan kanannya menunggu untuk ku sambut,aku memperhatikan dia dari ujung kepala hingga ujung kaki tak ada yang aneh dengan dirinya hanya saja aku merasa dia terlalu polos dan... lugu. Sepertinya dia juga mahasiswa baru disini dan aku menebak dia sedikit lebih muda dari ku,sedikit hanya sedikit. "Tiffany." Aku menyambut uluran tangan darinya. "Aku tebak kita satu angkatan jadi jangan panggil aku kakak,"ucapku dengan mengisyaratkan bahwa kita sama-sama membawa koper besar untuk masuk asrama. Gadis itu menganggukkan kepala seakan mengerti dan kembali tersenyum. "Melanie, tapi panggil Mey lebih saja lebih praktis,"ucapnya sembari mengayunkan tanganku berulang kali. Aku mencoba menarik bahkan sedikit memaksa Mey untuk melepaskan ayunan tangannya pada ku. "Hey apa kamu masuk kemari juga karena dewa tampan itu?"Mey kembali bersuara tapi kali ini dengan sedikit berbisik bersiap untuk membuka bahan gosip. Aku mengernyitkan dahi tidak mengerti apa yang gadis ini maksud. Dewa tampan? Siapa itu? Dewa tampan yang satu-satunya aku tau hanya Dewa Hermes dalam mitologi Yunani. Mey menghela nafas menatap tak percaya padaku. "Kau tidak tau dewa tampan?" aku menganggukkan kepala,tentu saja aku tau dewa tampan yang Mey maksud jika tidak bagaimana bisa aku menyebut diri ku sendiri sebagai mahasiswa sejarah? "Tentu saja Dewa Hermes dewa paling tampan tapi Zeus juga tak kalah tampan,"ucapku sembari mengingat kembali pelajaran sejarah. "Lupakan saja!" Belum selesai aku menjelaskan Mey sudah lebih dahulu menarik tanganku. *** Universitas GM menggunakan sistem asrama sekolah yang akan rolling kamar setiap semester baru di mulai, sebenarnya itu tidak terlalu nyaman untuk orang introvert seperti diri ku yang harus berdaptasi dengan orang asing setiap semester baru dimulai.Tapi disitulah tantangan yang sebenarnya,karena aku telah memilih GM artinya aku akan merubah sifat introvert ku. Aku menghembuskan nafas panjang memegang gagang pintu.Semoga teman sekamarku orang yang ramah mudah diajak bergaul walaupun tidak ramah sekalipun,setidaknya mereka bukan orang mysophobia bahkan kemungkinan terburuk mereka bukan orang yang suka memerintah. "Halo aku Tiffany mahasiswa tahun pertama jurusan sejarah kuno,mari kita saling membantu dan berteman,"ucapku dengan sekali tarikan nafas. Hening.... Tak ada suara yang terdengar bahkan aku tak mendengar suara helaan nafas seorang pun. Apa aku salah masuk kamar? Atau kamar ini kosong? Itu tidak mungkin kan? Mengepalkan genggaman tangan lebih kuat dan sedikit membuka mata,otak pintarku memikirkan banyak kemungkinan tentang keheningan di sini. "Wow... perkenalan yang mengejutkan," ucap seorang gadis yang baru keluar dari kamar mandi dan melewatiku. Ada tiga orang di dalam kamar,satu orang berambut pendek dan sedikit tomboy yang tadi keluar dari kamar mandi,satu orang yang sedang menatapku melongo tapi akhirnya dia hanya mengangguk dan kembali membuka bukunya di meja belajar,dan satu orang lagi yang sedang berbaring di atas ranjang sunsun dia... Mey. "Halo Zeus,"ucap Mey menuruni ranjangnya dan menarik ku masuk ke dalam ruangan. "Zeus?"ucap gadis-gadis itu bersamaan. Mey nampak terkejut dengan suara mereka dan mengedipkan matanya untuk menenangkan diri. "Benar zeus. Kalian tau Tiffany ini bahkan tidak tau siapa dewa tampan kampus kita yang dia tau hanya Zeus manusia purba yang paling tampan menurutnya,"ucapnya menggebu-gebu. "Kau tidak tau dewa tampan?" "Kau masuk kesini bukan karena dewa tampan?" Ada apa dengan mereka? Kenapa sekarang sangat bersemangat sekali berbeda dari saat aku datang? Sebenarnya siapa dewa tampan itu? Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban dan reaksi mereka bahkan terkesan berlebihan menurutku. "Sungguh surga telah memberimu kerugian yang besar untukmu,"ucap Mey penuh drama sembari mengotak-atik ponselnya. "Lihat ini! dewa tampan pujaan semua gadis,kebanggaan fakultas sejarah kita,permata berharga GM University," lanjutnya yang tak kalah lebih drama.Hampir saja aku muntah mendengar pujian yang lancar mengalir dari mulut Mey. Tapi tunggu...kenapa orang yang ada di photo yang di tunjukan Mey ini tidak asing? Sepertinya aku mengenalnya tapi tidak mungkin dia kan? "Siapa dia?" aku harus memastikan itu bukan dia. "Jimmy Stevano Cavaro dewa tampan kita." Dan ucapan Mey mengantarkan petir di siang bolong ke arah ku. ***
Murid baru datang ke kelas ku tapi aku malas untuk beramah tamah lagipula itu hal yang wajar untuk tidak mengenal teman satu kelas,ya setidaknya itu hal yang wajar untukku.Lebih baik memikirkan rencana untuk membeli novel baru tanpa di marahi oleh ibu mengingat koleksi novel yang terlalu banyak menurut ibu tapi terlalu sedikit untukku. "Tiffany."Sebuah suara panggilan membuyarkan lamunan ku tentang novel. Aku pikir, aku mengenal suara yang memanggilku tapi untuk apa wali kelas memanggilku.Aku tidak berbuat salah hari ini aku juga tidak tidur di dalam kelas. "Hei! kamu tidak tidur disana kan?"ucapnya terdengar kembali tapi kali ini membuatku tersadar jika sedari tadi aku memunggungi beliau. Aku berbalik badan dengan memasang senyum manis lima jari berharap memang tidak ada kesalahan yang aku perbuat hari ini. "Bapak David yang terhormat ada apakah gerangan?"ucapku basa-basi. "Cepat kemari!"ucapnya melambaikan tangan ke arah ku. Aku menghampiri beliau dan menunduk hormat. "Ada apa pak?" "Kamu mau ke kelas kan?tolong ajak dia sekalian,dia murid pindahan satu kelas denganmu," ucap wali kelas menjelaskan tanpa memberiku kesempatan untuk bertanya. "Jimmy kamu ikut dengan Tiffany dia ketua kelasnya,"lanjutnya. Pak David berlalu pergi setelah menitipkan anak baru itu padaku sepertinya dia sedang buru-buru terlihat langkah kakinya yang tergesa. Aku memandangi Jimmy dari atas ke bawah,proporsi tubuh yang sempurna aku menebak tinggi cowok ini 170cm cukup untuk membuatku terlihat kerdil di sampingnya yang hanya memiliki tinggi badan 155cm. Sungguh dunia yang tak adil. "Jimmy,"ucapnya menyodorkan tangannya dan aku baru menyadari jika dia mempunyai senyum yang manis dan dimple kecil tampak malu-malu keluar jika dia tersenyum. "Aku tau." Tanpa memperdulikan basa-basinya aku pergi meninggalkan Jimmy. **** Semua orang tau jika kesan pertama akan selalu melekat kepada kita tak peduli seberapa buruk hal orang itu lakukan kepada kita.Begitu juga dengan Jimmy,waktu itu aku tidak mengira bahkan tak sekalipun terbesit olehku jika vanila akan begitu menyakitkan untukku. Haruskah aku mengutuk aroma vanila yang ada di dunia ini atau menyalahkan diriku karena bertemu dia atau bahkan membenci takdir yang telah mengikat kami berdua?. Aku tidak tau dan itu masih abu-abu untukku. *** Suasana kelas sangat rusuh tak ada yang namanya ketenangan disini bahkan aku saja terpaksa menjadi ketua kelas jika saja waktu itu aku tidak di jebak pasti sekarang aku lebih memilih untuk tidur di UKS. Biar aku ceritakan sedikit tentang sekolah ku,SMA GANDHI sekolah favorit ke dua di kotaku hanya sebagian kecil orang yang dapat masuk kesini bahkan tes masuknya saja sudah melebihi tes masuk perguruan tinggi.Berterima kasihlah kepada otakku yang pintar ini dan dapat membuatku masuk ke sini,walaupun berada di urutan ranking lima ratus tapi tidak dapat menyangkal fakta jika aku sudah menjadi siswa di SMA Gandhi. Ini masih tahun pertama sekolah menengah dan beberapa bulan lagi ada kenaikan kelas dan pembagian jurusan. Tentu saja aku sangat ingin masuk IPA karena fakultas kedokteran adalah tujuan ku. Sudahi cerita tentang sekolah dan kembali ke suasana kelas yang masih tetap seperti pasar malam,sia-sia saja aku berteriak menyuruh mereka diam. Aku bagaikan semut kecil yang berteriak melawan sekumpulan gajah yang artinya itu tidak ada gunanya. Aku membanting buku sejarah yang tebal di atas meja guru dan untungnya berhasil. "Kalian cepat duduk!"aku menunjuk sekelompok anak lelaki yang sedang asyik menggelar konser di atas meja. "Ada anak baru namanya Jimmy."Mempersilakan Jimmy untuk perkenalan,aku pergi untuk menemui meja kesayanganku. Belum sempat aku mengistirahatkan kepalaku yang berat seseorang lebih dulu menahan kepalaku. "Pinjam catatan fisika," ucapnya tak tau malu. "Catatan jawaban tugas,"timpal ku mengerti maksudnya. "Catatan matematika."Satu orang lagi yang lebih tak tau malu. "Kalian, sangat serasi!"balasku menggerutu. Mereka adalah Sasha dan Felix sahabat terbaikku walaupun aku baru mengenalnya saat acara orientasi tapi aku menyukai mereka.Sasha dan Felix sudah berteman sejak mereka kecil bahkan bisa dikatakan mereka sudah bersama sejak baru lahir karena orang tua mereka yang bersahabat. Disaat aku mengelus dada dengan kelakuan pasangan dua sejoli itu tiba-tiba kursi di sampingku bergeser dan tebak siapa yang berani menggeser kursi keramat ku. Aku menaikkan satu alis ku untuk bertanya dan pelaku utama itu hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. Oh kurang ajar sekali! "Siapa yang menyuruhmu duduk di sini?"tanyaku ketus. "Lalu aku harus duduk dimana?semua tempat sudah terisi lagipula aku anak baru,"ucap Jimmy santai tanpa beban. Mataku mengitari seluruh kelas. Memang tidak ada tempat yang kosong tapi itu juga bukan alasan untuk duduk di kursi kesayanganku,kan? Lagipula aku juga tidak suka ada orang lain yang ada di dekatku. "Hai tampan, kenalin Sasha lambang kecantikan SMA Gandhi yang baru,"ucap Sasha dengan centilnya. Felix nampak tidak suka dengan Sasha yang sok akrab tapi aku bisa menyimpulkan Felix cemburu dengan Sasha yang memuji Jimmy tampan. "Kerjakan tugasmu!" ucap Felix dengan menjewer telinga Sasha untuk menghadap ke depan. "Hey,lepaskan tangan bau mu!" Jimmy masih betah duduk di sana tak berniat untuk pindah,mungkin aku harus menggunakan kekerasan untuk mengusirnya menendangnya dari kursi,mungkin. "Perhatikan semua! beberapa bulan lagi kenaikan kelas jadi minggu ini hingga minggu depan kalian ada ujian kejuruan," ucap wali kelas yang tiba-tiba masuk mengacaukan rencana ku mengusir Jimmy. "Jimmy nanti temui saya di kantor,Tiffany bantu Jimmy beradaptasi sebagai ketua kelas dan teman sebangku juga,"lanjut Pak David. "Tap...." "Baik Pak!" ucap Jimmy yang dengan berani memotong ucapanku. Aku melotot ke arah Jimmy tapi sang empu hanya tersenyum lembut. "Sebagai ketua kelas dan teman sebangku!kata wali kelas," ucap Jimmy sebelum berlalu pergi dari kelas. Huh! sungguh aku tak percaya dengan kelakuan anak baru itu,belum satu hari dia menjadi anak baru tapi sudah berani menjajah daerah kekuasaan ku. *** "Aku tidak mau makan! aku sedang diet Felix." "Kau tidak mau makan nanti biar aku yang ngadu sama ibumu!" "Dasar tukang ngadu!" "Makanya makan Sasha." "Diam!" Dasar penyamun,otakku sedang kepanasan seperti ini mereka malah ribut sendiri hanya karena diet dan makan. Aku pergi meninggalkan Felix dan Sasha memberikan kebebasan ruang untuk berdebat di kantin.lebih baik aku ke rooftop menyendiri dan menikmati kebebasan karena hanya tempat itu yang sepi tanpa kebisingan manusia. "Hai ketua kelas." Aku memutar bola mata mendengar sapaan dari orang itu. Kenapa harus dia lagi? Apa tidak cukup hanya bertemu dengan di kelas? Kenapa Jimmy ada dimana-mana? ***
Akhirnya yang ditunggu datang juga,apalagi jika bukan bel pulang sekolah. Sungguh surga ke dua setelah bel makan siang untuk kami para pelajar. "Ayo main sebentar sebelum pulang,"ucap Sasha bersemangat. "Kalian mau main kemana?"timpal Jimmy tiba-tiba bahkan tidak ada yang mengajaknya bicara. Dasar si pencari perhatian!. "Kalian main saja sendiri."Aku terlalu malas untuk keluar rumah hari ini apalagi Jimmy si rese ini juga akan ikutan nanti,menambah kadar kebosanan ku saja. "Benar kalian main saja sendiri,"ucap Jimmy lagi lebih cepat dari kereta. Express. "Bukannya tadi kau bertanya?"balas Sasha yang juga heran dengan kelakuan cowok aneh ini. "Apa salahnya aku bertanya?lagipula aku mengira Tiffany akan ikut."Mengabaikan omong kosong tak berguna milik Jimmy aku sudah selesai merapikan alat tulis ke dalam tas dan bergegas untuk pulang. *** "Hei... tunggu aku!"interupsi dari seseorang menghentikan langkah ku yang hampir mencapai gerbang utama sekolah. "Kenapa jalanmu seperti pencuri di kejar polisi? cepat sekali,"lanjutnya dengan nafas terengah. "Siapa suruh kau mengejar ku Tuan Jimmy?" Yup... yang mengejar ku Jimmy si cowok aneh yang selalu ada di mana-mana bahkan muncul ditempat yang tak terduga. "Ayo pulang!"tanpa menjawab pertanyaan ku Jimmy malah menarik tanganku. 'Apa maksud cowok aneh ini?' "Kau gila ya!"aku menghempaskan tangan Jimmy yang tanpa izin menggandeng tanganku. Jimmy memandangi tanganku yang terlepas dari genggamannya dan mengangkat satu alisnya sebagai pertanyaan. Tak lama kemudian cowok itu tersenyum simpul dan berdiri tegak memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana seragam sekolah. "Tentu saja aku tidak perlu menjadi gila hanya untuk mengajakmu pulang bersama,"ucapnya santai. Benar tebakanku ada yang salah dengan cowok ini kenapa dia selalu mencari gara-gara dengan ku sepanjang hari ini. Jimmy si cowok aneh ini benar-benar orang gila. Aku melewatinya membiarkan orang aneh ini menikmati waktunya sendiri. "Tunggu aku!hey ketua kelas!" Walaupun aku tidak memperdulikannya tapi aku masih mengetahui jika cowok itu terus saja mengikuti ku sepanjang jalan bahkan hingga sampai di daerah komplek rumahku.Walaupun tidak ingin negative thinking tapi tidak bisa di pungkiri aku masih mewaspadainya. "Kau!" Aku sudah terlalu geram dengan kelakuannya,sungguh tidak sopan mengikuti orang yang baru dikenal yang bahkan belum genap satu hari hingga ke rumahnya apalagi seorang gadis. 'Apa selain gila dia juga memiliki masalah dengan otaknya?' Jimmy hanya mengangkat kedua bahunya dengan tangan yang masih setia di dalam saku celananya dan berlalu melewatiku. Aku melongo tak percaya melihat dirinya. "Hei berhenti disana,orang aneh!" aku mengejar Jimmy berniat menghentikan kegilaannya. "Jimmy sudah pulang sekolah?" Aku berhenti mengejar cowok itu saat aku melihat mama menyapa Jimmy di depan apartemen kami. "Mama mengenalnya?" Bukannya mendapatkan jawaban malah mendapat pukulan di lengan oleh mama. "Sudah mama bilang semalam jika hari ini nak Jimmy akan pindah kemari!" balasnya. "Lalu apa urusanku dengannya?" tanyaku sewot karena mama yang entah alasan apa memukulku,apalagi di depan cowok ini. Sedikit melukai harga diriku! "Tentu saja urusanmu! karena nak Jimmy hanya seorang diri disini orang tuanya tinggal di luar negeri dan menitipkannya ke kita,"ucap mama yang hampir terpancing emosi juga. Aku ingat sekarang,semalam mama memang mengatakan akan ada anak sahabatnya yang akan pindah di unit apartemen di samping rumah kita tapi aku tidak menyangka yang di maksud mama itu cowok menyebalkan di depanku ini. Jimmy tiba-tiba menghampiri mama dan merangkul pundak mama,merayu dan menenangkannya. "Sudahlah tante lagipula aku bisa menjaga diri sendiri,lihat bukannya aku sudah besar sekarang?"ucapnya dengan mengedipkan matanya padaku dan mengajak mama untuk masuk ke dalam. Aku melongo tak percaya,bahkan aku lebih tidak percaya dengan mama yang meninggalkan anak gadisnya sendirian. Kenapa rasanya aku semakin tak suka padanya ya?. Dasar tukang cari perhatian!. **** Nasi di depanku rasanya sudah seperti semangkuk batu yang enggan aku sentuh.Selera makan ku menguap entah kemana apalagi kedatangan seorang yang tak ingin aku lihat untuk selanjutnya ikut bergabung di meja makan. "Ayo di makan dagingnya nak Jimmy. lihat tubuhmu begitu kurus," ucap mama mengambilkan sesendok daging kepada Jimmy. Yup... orang itu Jimmy,orang yang menghilangkan nafsu makan ku. Hendak saja aku ingin angkat kaki dari meja makan sebelum kakak laki-laki ku bersuara. "Bakso ikan kesukaanmu,Fany,"ucapnya meletakan beberapa bakso ke dalam mangkuk nasiku. Memang kakakku yang terbaik! "Bagaimana kabar ayahmu Jimmy sudah lama paman tidak bertemu dengannya." "Papa sedang melakukan penelitian di situs sejarah yang baru ditemukan jadi sedikit sibuk akhir-akhir ini." "Kehidupan arkeolog memang tidak mudah,"ucap mama yang seakan mengerti saja. "Kamu tau nak Jimmy?dulu waktu kalian kecil aku dan ibumu pernah berjanji untuk menikahkan kalian," lanjut mama dengan tertawa kecil tapi berbeda dengan ku yang langsung tersedak jus jeruk yang sedang aku minum. Kakak menepuk punggungku pelan,menenangkan ku dari berita besar yang mengejutkan itu. "Sudahlah itu kan hanya perjodohan waktu kecil,mereka sudah besar sekarang," ucap ayah mengembalikan suasana yang canggung. "Iya aku tau,sudah ayo makan." Aku melirik ke arah Jimmy tapi yang aku lihat malah cowok itu yang mengedipkan matanya ke arahku. Aku mendengus melihat kelakuannya,sepertinya hanya aku yang terkejut dengan berita masa kecil itu. Setelah makan malam Jimmy masih belum pulang dan malah asyik berbincang dengan mama dan papa dan aku, sungguh tak peduli. Aku sedang mengerjakan tugas di dalam kamar ketika kakak ku datang dengan segelas susu. Kakak tersenyum mengelus puncak kepalaku sebelum duduk di ranjang samping meja belajar. "Sedang belajar apa?"tanyanya mengintip buku otonomi tubuh yang sedang aku baca. "Calon dokter keluarga kita memang sangat rajin," lanjutnya tersenyum lembut ke arahku. "Tentu saja aku harus rajin supaya bisa menyusul mu ke fakultas kedokteran kelak." Tujuanku memang fakultas kedokteran tapi keinginanku yang sebenarnya adalah untuk selalu bersama kakak.Aku sangat mengaguminya,kakak sekarang kelas tiga SMA jurusan IPA dia sangat pintar bahkan berhasil mendapatkan rekomendasi ke fakultas kedokteran terbaik di negara ini.Selain pintar dia juga laki-laki yang lembut tidak pernah meninggikan suaranya kepada wanita yang paling penting dia sangat menyayangiku,betapa beruntungnya wanita yang kelak menjadi istrinya. "Tidurlah lebih awal malam ini,"ucapnya kembali mengelus kepalaku. "Kak,"panggilku sebelum dia benar-benar keluar dari kamar. "Aku pasti bisa masuk fakultas kedokteran." Kakakku hanya mengangguk dan tersenyum sebelum menghilang di balik pintu. *** _to be continued_