Pelakor tak pantas bahagia
Bab 1 Dosa Terlarang

Malam telah beranjak, perlahan Maya masuk dalam ruangan dengan cat dinding warna merah maroon. Aroma bunga mawar segar menyeruak manis dalam indera penciumannya. Seprei dengan warna senada membuat kamar hotel bintang lima itu tampak semakin indah. Ada banyak bunga mawar terhampar di atas ranjang berukuran king itu. Maya mengulum senyum tatkala mendapati Danu, berdiri di depan kamar mandi dengan gagahnya. Rambutnya basah terlihat segar. Sejenak dia terpaku melihat lelaki yang berstatus bukan suaminya itu, berdiri dengan mata menyalang tajam. Tatapan matanya tak ubah bagai serigala yang siap mengoyak mangsa. Maya tak tahu apapun lagi, ketika Danu berjalan mendekat, lalu tangannya memegang pucuk kepala Maya, Sebuah kecupan mendarat di kening, kedua mata, dan pipi. Pelan tangannya terulur merengkuh tubuh Maya dalam pelukannya, dia mengangkat maya ke atas ranjang berukuran king. Deru napas Danu terdengar jelas. Maya memejam mata. Hari ini, dinding kembali bersaksi, terjadinya dosa besar antara dua anak manusia yang berhasil masuk dalam jerat nafsu tak terkendali. "Terimakasih untuk malam ini! Aku tak tau, bagaimana hidupku tanpamu! Seandainya bisa memilih, maka aku akan memilih mengulang takdir, agar aku bisa bertemu dirimu terlebih dahulu. Bukan Airin!" bisik lembut Danu di telinga Maya. Maya hanya tersenyum, tenaganya sudah habis. Bahkan untuk bersuara saja dia tak mampu. Sungguh Danu, lelaki dambaan setiap wanita. Perawakannya yang tinggi, dengan kulit sawo matang, menambah kharismanya sebagai lelaki. Drrt ... drrt ... drrt! Belum lagi terpejam, telpon Danu berbunyi. ISTRIKU memanggil. Begitulah, teks yang terbaca di layar kaca benda berukuran 6 inci tersebut. Sekali geser, maka terdengar suara dari sebrang sana. "Halo, Mas ... pulang jam berapa?" "Sebentar lagi sayang," jawab Danu. "Kalau bisa, pulang sekarang, Mas! Aku rindu." rengek wanita itu. "Iya, sedikit lagi. Mas pulang, sudah dulu sayang. Kalau telponan terus, kapan kerjaan selesai." Danu memberi alasan. "Hati-hati di jalan, Mas," ucap wanita itu penuh perhatian. Iya, I miss you." balas Danu. Lalu menutup telpon. Tangannya kembali melingkar di pinggang Maya, dia ingin istirahat sebentar sebelum pulang bertemu istrinya. Maya yang mendengar percakapan mereka tak bisa berbuat apa-apa, dia sadar dirinya hanya selingan di kala Danu senggang. Bagi Danu, Aira adalah dunianya. "Pulanglah, pemilikmu sudah menunggu," usir Maya. Danu pura-pura tak mendengar kata kekasih gelapnya, dia sudah sangat tau karakter gadis berbintang Virgo yang sedang dia dekap. Bagaimana tidak, mereka adalah teman sejak dari bangku sekolah menengah pertama. Sempat terpisah saat mereka diterima pada universitas berbeda kota. Kalau dulu mereka tak pernah bermimpi untuk saling suka, saling menyapa pun tak pernah. Beda saat mereka bertemu kembali. Kerjasama perusahaan, membuat mereka mau tak mau harus sering bersama. Merasa tak direspon oleh Danu, Maya melepaskan tangan lelaki itu dari pinggangnya. Dirinya telah terbakar cemburu, lebih baik dia mandi dulu. Semoga setelah mandi, perasaannya bisa lebih segar. Danu yang merasa Maya menjauh, segera bangkit dari posisinya. Memungut pakaian yang terserak di lantai, memakainya dan segera keluar dari kamar itu. Tak lupa, beberapa lembar uang merah dia simpan di atas bantal. Samar terdengar bunyi pintu kamar di buka, Maya menghentikan aktivitasnya. Handuk yang menggantung dia tarik lalu memakainya. Melangkah keluar dari kamar mandi, dia melihat uang merah di atas tempat tidur tambah membuat hatinya marah. Dia mengambil pakai yang terhambur di lantai, memakai lalu berlalu meninggalkan hotel yang sering mereka gunakan untuk memasuki kasih. ***** "Bagaimana, apa dia akan pulang?" tanya bu Marni kepada menantunya. Airin, tak siap dengan pertanyaan sang mertua. Baginya, hal biasa bila Danu tak pulang. Tapi kali ini berbeda. Dia tak mungkin berbohong kepada wanita berwajah tegas itu. Ibu mertuanya tiba-tiba saja datang tadi sore, saat Danu masih di kantor. Beralasan karena di rumahnya sepi, jadi dia akan tinggal di rumah anaknya itu. "Kok cuma tersenyum, jawab kalau di tanya!"  ujar bu Marni lagi. "I— ya, Bu! Katanya sebentar lagi." Airin menjawab dengan Gagap. "Apa memang dia suka meninggalkan kamu sendiri?" tanya bu Marni. Lagi-lagi, Airin hanya bisa mengangguk. Entah kenapa, dia sama sekali tak bisa bohong kepada wanita berkharisma itu. Bu Marni yang melihat anggukan lemah menantunya merasa marah. "Kurang ajar! Dasar suami tak bertanggungjawab," maki bu Marni. "Rin, jawab yang jujur! Apa Danu selingkuh?!" bu Marni merasa ada yang aneh dengan anak lelakinya itu. Tak ada cara lain, dia harus mendengar semua cerita dari menantunya. "Ti— dak tau, Bu!" cicit Airin. "Istri apa kamu?! Suami jarang pulang, kamu bilang tidak tau apa-apa? Jadi, tugas kamu sebagai istri itu apa?!" teriak bu Marni. Hatinya dongkol, dia seperti ingin menelan orang. "Bu, sudah yagh marahnya! Nanti darah tinggi ibu kumat." Mira, adik Danu bersuara. " Tak usah ikut campur, Mira! Ibu tak suka jika punya anak dan menantu pembohong," potong bu Marni. Baru saja bu Marni menyelesaikan ucapannya, suara mobil Danu telah memasuki pekarangan. Mengetahui hal itu, bu Marni kemudian duduk di sofa, tepat di samping Airin berada. Ceklek! Terdengar bunyi kunci, pintu terbuka dengan pelan. Suara langkah terdengar mendekat. Danu tertegun, tak menyangka kalau ibunya ternyata datang. "Eh, Ibu. Sejak kapan datang? Kok, tidak bilang-bilang," tanya Danu. "Dari mana kamu?" tanya bu Marni dingin. "Dari kantor, Bu!" Pelan Danu menjawab. "Pembohong! Sejak kapan orang berkantor sampai jam dua dini hari?" Bu Marni bertanya. Matanya menatap sinis anak pertamanya itu. Danu terdiam, tak menyangka akan di tanya seperti itu. "Heh, kenapa diam? Jawab!" tuntut bu Marni. "Besok saja bicaranya, Bu. Aku capek!" Danu berusaha mengelak. Prang!! Prang!! Bu Mira melemparkan asbak tepat ke wajah Danu. Untung saja, Danu sempat mengelak. "Apa-apaan sih, Bu!" protes Danu. "Makanya, jawab! Kamu dari mana? Sama siapa? Kalau tidak, jangan salahkan Ibu. Kalau semua barang di dalam rumahmu hancur!!" ancamnya lagi. "Bukan urusan, Ibu!" hardik Danu. "Apa katamu? Bukan urusan Ibu! Kalau kamu masih hidup dengan uangku! Semua urusan kamu, jadi urusan Ibu," ucap bu Marni sambil berkacak pinggang. Danu terdiam, tak ingin memperpanjang masalah. Dia melangkah memasuki kamar. Meninggalkan yang lain di ruang tamu. Melihat Danu melangkah, semakin membuat bu Marni emosi. "Anak durhaka, set*n kamu!"l Mira mengusap lembut lengan ibunya. "Sabar, Bu! Nanti besok marahnya di lanjutkan." Airin yang melihat hal itu, tak bisa berbuat banyak. "Bu, Airin ke kamar dulu," pamit Airin, kemudian berlalu menyusul suaminya. Airin membuka pintu. Terlihat Danu sedang terduduk di pinggir tempat tidur, tangannya menutup muka. Pelan Airin mendekati suaminya. "Mas... ." "Tinggalkan, Aku! Jangan berpura-pura peduli. Semua ini gara-gara kamu!" potong Danu, saat mendengar suara istrinya. "Ma— af," ucap Airin terbata. "Aku tidak butuh kata itu. Aku butuh kamu, pergi selamanya dari hidupku!" Penuh penekan Danu berkata seperti itu. "Astaghfirullah," lirih Airin. Air mata tak mampu dia bendung.

Bab 2 Semoga Kau Cepat Mati

Selama ini dia bersabar dengan kelakuan suaminya. Tapi, ucapannya barusan. Membuatnya sadar. Dia sama sekali tak ada artinya lagi. "Salahku apa, Mas?! Apa kurang baktiku padamu? Apa tak cukup pengorbananku selama ini? Sampai-sampai, aku rela tak di anggap oleh kedua orang tuaku," protes Airin, sambil sesenggukan karena menangis. "Kau tanya kurangmu? Heh, Airin Putri Wijaya! Kamu tak sadar dengan dirimu yang sekarang? Apa yang bisa aku harapkan dari Wanita cacat sepertimu?! Tak ada!!" Maki Danu. Hening, kata-kata Danu tepat menancap di lubuk hati Airin. Air mata yang sedari tadi sudah mengalir di pipi tirusnya, hilang tak bersisa. Bak di tarik kembali masuk ke kelopak matanya. "Terus apa maumu sekarang, Mas?" tanya Airin tegar. "Mauku? Aku ingin bersama Maya, dan kalau kamu masih mau hidup bersamaku. Jangan banyak tingkah!" ucap Danu, terang-terangan. "Jangan harap! Selama aku masih hidup kamu tak akan pernah bisa bersatu dengan pelac*r itu!!" teriak Airin, dia tak mau kalah dengan Danu. Danu yang mendengar kata-kata istrinya itu hanya terdiam, matanya memancarkan amarah, dia berdiri dari duduknya, melangkah pelan mendekati Airin, tubuhnya sedikit membungkuk, tangannya menumpu pada kursi roda, wajahnya mendekati telinga Airin, lalu berbisik. "Kalau begitu, semoga kau cepat MATI." Tangan Danu mendorong kursi roda yang diduduki Airin dengan keras. Kursi tersebut mundur, dan menghantam dinding. Kursi Roda terbalik dan Airin terjungkang ke samping. Danu melangkah keluar, meninggalkan istrinya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Saat melintasi ruang tamu, terlihat ibu Marni dan Mira sedang berbincang. "Mau kemana kamu?" cegah bu Marni ketika melihat Danu. "Cari hiburan, di sini suntuk." Jawab Danu tapi tak menghentikan langkahnya. Tak berapa lama, terdengar bunyi mobil berlalu. "Mir, kamu tidur sama mbak mu saja! kasian dia tidur sendiri, pasti dia sedih," perintah bu Marni. "Iya, Bu. Kalau begitu, Mira ke kamar saja, liat kondisi mbak Airin." Bu Marni mengangguk, lalu kembali menonton TV. Mereka sengaja tak tidur, sebentar lagi suara adzan subuh berkumandang. Jangan sampai kalau tidur sekarang, kebablasan. Sampai tak sholat subuh. "Bu... Ibu... tolong, tolong." Terdengar teriakan dari dalam kamar Danu. Sesaat setelah Mira berlalu. Bu Marni yang mendengar teriakan anaknya,  berlari menuju kamar. Di pintu masuk, dia hampir saja bertabrakan dengan Intan, perawat yang selama ini menjaga Airin. Di depan pintu bu Marni berhenti, dia syok melihat menantunya tergeletak. Kursi roda menindih tubuhnya yang kurus. Intan yang juga melihat hal itu, segera menggeser tubuh bu Marni, agar dia bisa masuk. "Mir, bantu angkat bu Airin ke tempat tidur," ucap Intan, tangannya menepuk pelan bahu Mira. Mira tersentak, kemudian mengikuti arahan Intan. Dengan susah payah, mereka berdua berhasil membaringkan Airin di tempat tidur. "Bu, boleh minta tolong telpon ambulance! Bu Airin harus segera mendapatkan penanganan medis yang serius," pinta Intan. "Ehh... nggak usah telpon ambulance," tolak bu Marni. "Ta—" "Saya tau, biar kita saja yang bawa Airin  kalau tunggu mobil, kelamaan," jelas bu Marni. Intan bernapas lega, tadinya dia berfikir bu Marni tak mau Airin di bawa ke rumah sakit. Ternyata yang dia fikirkan salah. "Mir, siapkan mobil, nanti Ibu dan Intan yang angkat Airin." Bu Marni memberi instruksi kepada anak bungsunya itu. Mira bangkit, gegas berlari keluar kamar, menyambar kunci mobil Airin yang tergantung di dinding dan menuju garasi untuk menyiapkan mobil. Tak sampai lima belas menit, mobil telah membela jalan raya yang sunyi dengan kecepatan tinggi. Tujuan mereka, Rumah sakit terdekat. "Mir, berapa lama lagi sampai rumah sakit? Darah tak berhenti mengalir dari kepala kakakmu," tanya Airin. Sebentar lagi, tinggal satu tikungan, kita sudah sampai. Mira kembali menambah kecepatan, dia sudah melihat papan nama rumah sakit yang mereka tuju. Mobil membelok, memasuki rumah sakit. "Langsung, ke IGD,"  titah Intan. Sesampainya di IGD, mereka di sambut oleh beberapa petugas yang dengan cekatan menurunkan Airin dari mobil. Mengangkat dan memindahkan ke brangkar, Airin di dorong masuk ke ruang penanganan. Dokter telah standby, mereka langsung memeriksa denyut nadi dan jantung Airin. Dokter memerintahkan memasang Alat monitor untuk memantau denyut jantung dan tekanan darah. Saat pemasangan tiba-tiba. Tiiiiiiiit... tiiiiiiiiiiiiit! "Dok... pasien dok!" ***** Drrrt... drrrt... drrrt. Ponsel Danu bergetar, tapi di abaikan olehnya. Setelah tau kalau yang menelpon adalah Mira. "Pasti dia sudah melihat Airin," gumam Danu. Tangannya mencengkram setir mobil dengan erat, hatinya masih panas. Dia tak menyangka, kalau Airin yang selama ini pendiam, bisa dengan lantangnya berteriak. "Pasti ini ulah ibu," Fikirnya. Drrrt... drrrt... drrrt. Kembali ponselnya bergetar. Di rasanya benda pipih yang sedari tadi berada di kursi samping. Di usapnya layar enam inci tersebut, foto dia dan Maya yang sedang berpelukan jadi wallpapernya. Kembali terpampang nama Mira di layar panggilan sebagai panggilan tak terjawab. Di tekan tombol power di samping, kemudian memilih matikan. Danu tak ingin di ganggu. Karena tak tahu hendak ke mana, dia memilih melajukan mobilnya ke rumah Maya. Baginya, Maya adalah obat di kala hatinya gundah. Tiga puluh menit kemudian, Danu telah sampai di sebuah rumah tipe 34, bercat putih dan berpagar besi berwarna hitam. Motor Maya terparkir, berarti dia juga sudah pulang dari hotel. Setelah memarkir mobil, Danu melangkah menuju pintu. Merogoh kantong celananya, mencari kunci duplikat rumah Maya. Hanya sekali putar, pintu itu terbuka. Nampaklah ruang tamu yang masih gelap, Danu langsung saja masuk, tak lupa dia menutup pintu. Tujuannya adalah kamar Maya, hanya perlu beberapa langkah. Dia sudah berada di pintu kamar kekasih gelapnya itu. Dipegangnya handel pintu dan di putar. Ceklek! Pintu terbuka lebar setelah di dorong pelan, Danu menggeleng. "Maya suka sekali tak mengunci pintu." Kamar juga nampak gelap, tapi siluet tubuh Maya yang sedang berbaring cukup jelas terlihat. Danu mendekat, kemudian ikut berbaring di samping Maya. Tak butuh waktu lama, Danu telah terlelap di samping kekasihnya itu. ***** “Bagaimana, Mir? Kakakmu bisa di hubungi?” tanya bu Marni. Dia memerintahkan Mira untuk memberi tahu Danu kalau Airin mereka bawa ke rumah sakit. “Masih belum aktif, Bu,” jawab Mira. “Dimana sih itu anak, istri jatuh malah dia tinggalkan,” omel bu Mirna. Dia sama sekali tak berfikir kalau Danu yang membuat Airin seperti itu. “Coba, telpon semua temannya yang kamu kenal,” titahnya lagi. “Untuk apa sih Bu? Mas Danu di kasih tau. Jelas-jelas dia tak peduli.” Protes Mira. Mira memang jengkel dengan kelakuan kakaknya itu, dia sangat menyayangi Airin. Bahkan dia lebih menganggap Airin sebagai saudara daripada Danu. “Dia kan, suaminya.” Bu Marni menjawab sambil berlalu.

Bab 3 Dua Lawan Satu

Niatnya, bu Marni hendak ke kantin. Kantuk sudah datang bertamu, dia tak mau tidur sebelum tau bagaimana kondisi menantunya.   Belum beberapa langkah dia berjalan, pintu tempat Airin di tangani terbuka. Seorang Dokter berpakaian APD lengkap keluar dari ruangan tersebut. “Keluarga saudara Airin!” ucapnya. “Kami, dok!” seru Mira sambil mengangkat tangan. Bu Mirna yang mendengar panggilan dokter, juga ikut mendekat.   “Pasien Airin sedang dalam kondisi kritis, sempat tadi selama penanganan dia anfal. Untungnya kami masih bisa mengembalikannya. Jadi, untuk penanganan lebih intensif, kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU. Mohon keluarga mengurus administrasinya segera.” Jelas dokter.   “Baik, Dok! Kami urus sekarang. Tapi, tolong selamatkan menantuku.” Balas bu Marni.   “Kami usahakan yang terbaik, Bu! Mungkin itu saja, saya permisi, mau kembali menangani pasien.” Kedua tangan dia tangkupkan di depan dada, lalu dia beranjak pergi.   “Mir, tolong hubungi siapapun teman kakakmu yang kau kenal.” Kembali, bu Marni memerintahkan anaknya itu.   “Kenapa bukan Ibu, yang telpon orang di kantor kak Danu. Dijamin pasti Ibu langsung dapat info konkret.” Mira memberi saran.   “Iya... ya, kok Ibu nggak kepikiran.” Di rogohnya tas merek gincu, lalu mengeluarkan telpon merek apel tergigit.  Entah siapa yang dia hubungi, setelah berbasa basi sejenak. Bu Marni mulai menanyakan tentang Danu. Orang yang bu Marni telpon bercerita tentang apa yang dia tau. Hampir setengah jam, bu Marni menelpon. Ekspresi wajahnya sering berubah-ubah, ketika mendengarkan cerita orang tersebut. Setelah menutup panggilan telponnya, Mira mendekati ibunya tersebut. “Bagaimana, Bu? Dapat kak Danu di mana?” Mira bertanya kepada ibunya. “Sudah, benar dugaan Ibu. Kakakmu itu selingkuh, Mir. Selama ini dia telah membohongi kita,” ucap bu Marni, tangisnya pecah. Dia tak menyangka, kalau anaknya sebesar itu. “Semua orang di perusahaan sudah tau,” lanjutnya lagi. “Jadi, Ibu akan berbuat apa?” tanya Mira. Sebenarnya, Mira sudah lama tau kalau Danu punya selingkuhan. Tapi, saat bertanya kepada kakaknya. Dia malah di ancam. Kalau dia memberi tahu kepada ibu mereka, maka Danu akan menceraikan Airin. Danu tahu betul kekhawatiran Mira. “Sebentar juga, kamu akan tau,” jawab bu Marni. ***** Maya merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya. Saat berbalik, dia tersentak kaget. Melihat Danu telah terlelap di sampingnya. Pelan-pelan di pindahkan tangan kokoh itu dari pinggangnya. Dia bangkit menuju kamar mandi. Sejujurnya, dia masih marah kepada Danu. Karena, meninggalkannya sendiri di kamar hotel. Dia sudah berjanji dalam hati, untuk tak bertemu lagi dengan suami orang tersebut. Tapi, ketika melihat Danu tertidur di sampingnya, keinginan rersebut pergi entah kemana. Maya membersihkan diri dengan cepat, dia berencana membuat sarapan untuk Danu. Saat keluar dari kamar mandi, Danu masih tertidur. Nampaknya dia terlihat lelah, Maya tak ingin mengganggunya. Setelah berpakaian, dia melangkah ke dapur. Membuka kulkas, mengeluarkan semua bahan makanan untuk membuat nasi goreng sea food. Makanan favoritnya dan Danu. Sedang asyik berkutat di dapur, terdengar ketukan di pintu luar. Maya menghentikan kegiatannya, mempertajam pendengaran. Jangan sampai dia salah dengar, kembali pintu depan di ketuk. “Siapa sih, pagi-pagi sudah bertamu!” gerutunya. Diletakkannya pisau dengan sembarangan, lalu mencuci tangan. “Sabar!” teriaknya ketika ketukan di pintu semakin cepat dan keras. Lebih tepatnya di gedor. Setengah berlari Maya membuka pintu, saat pintu terbuka, dia melihat seorang wanita paruh baya, bersama seorang anak gadis berdiri di depan pintunya. “Ogh, ini pelac*r yang berani menggoda anak saya?” tanya bu Marni ketika pintu rumah Maya terbuka. Dia memegang gagang pintu, mendorongnya. Lalu memaksa masuk, Maya yang tak siap dengan perlakuan bu Marni tak bisa berbuat apa-apa. “Di mana kamu sembunyikan anak saya?” tanya bu Marni sambil tersenyum. Tapi,  dari intonasi suaranya jelas tersimpan amarah yang siap di salurkan. “Maaf, saya tidak tau siapa anak Ibu!” elak Maya. Padahal, dia tau jelas kalau wanita itu Ibu kekasih gelapnya. “Selain pelakor, kamu ternyata pembohong juga!” sindir bu Marni. “Jaga mulut Ibu! Saya tidak kenal anda. Jadi, tolong pergi dari rumah saya,” usir Maya. “Hehehehehe, rumah kamu? Rumah ini di beli dari uang saya, jangan mimpi kamu punya rumah,” bu Marni tertawa, lalu mencemooh wanita yang ada di depannya. “Apa buktinya?” tantang Maya. “Dasar, wanita jala*g. Jangankan rumah, bahkan perabotan rumah, baju, sampai BH dan Celana da*am kamu di beli pake uang saya,” cecar bu Marni. Plak... plak! ***** Plak... plak! Maya menampar wajah bu Marni. Lalu berkata “Jaga bicara anda! Saya bisa lebih kasar dari ini.” Bu Marni memegang wajahnya yang perih, dia tak menyangka Maya akan berani menamparnya. Biasanya, pelakor akan ketakutan kalau di datangi. Berbeda dengan Maya, dia malah melawan. “Pantas Danu bertekuk lutut di kakinya, wanita sia*an ini punya karisma,” batin bu Marni. Tak menerima ibunya di tampar, Mira maju dan menarik rambut Maya, sampai dia terhuyung ke belakang. “Jangan beraninya sama orang tua, kalau kamu mau bertarung. Ayok, lawan saya.” Mira bekata dengan penuh amarah. Rambut panjang Maya masih dalam genggamannya. Maya yang tak bisa menjaga keseimbangan akhirnya terjatuh. Bugh! Badannya menghantam meja kaca dan Prang! Kaca meja pecah, Maya terduduk di atas pecahan kaca. Melihat hal itu, Mira tambah menarik rambut Maya. Maya memegang tangan Mira, berusaha melepaskan rambutnya. Karena merasa kekuatan Mira besar, akhirnya Maya mencakar Mira dengan kukunya yang panjang. “Aduh,” teriak Mira. Tangannya terlepas dari rambut Maya. “Ternyata kucingnya, kucing garong, Bu,” ucap Mira kepada ibunya. Bu Marni yang mendengar perkataan anaknya itu ikut tersenyum, lalu berkata. “Hati-hati, Nak! Dia bukan kucing garong. Tapi, kucing gila.” Ejekan Mira dan bu Marni, kembali menyulut emosi Maya. Dia segera bangkit dan mendekati Mira. Dia menendang kaki Mira, sampai Mira tersungkur. Kakinya dengan cepat menginjak punggung Mira agar tak bergerak. Melihat hal itu, bu Marni menarik tangan Maya untuk menjauh dari Mira. Merasakan tangannya di tarik, dia segera berbalik dan menghentakkan tangannya. Bu Mirna terhuyung ke belakang.  Untung saja dia tak jatuh. “Se*an memang kalian, beraninya keroyok. Coba satu lawan satu!” seru Maya dengan napas yang ngos-ngosan.   “Banyak bicara kamu,” timpal Mira yang tiba-tiba telah berada di belakang Maya.  Lengannya dia kalungkan di leher Maya, membuat wanita cantik itu tak bisa bernapas. Sekuat tenaga, dia memukul tangan Mira. Tapi tenaganya kalah dari tenaga adik Danu tersebut. Wajah Maya sudah memerah, dia sudah mulai kehilangan oksigen. Tangannya masih memukul-mukul lengan lawan. Bu Marni duduk di sofa menyaksikan kekasih anaknya kehabisan napas, dia sama sekali tak punya niat untuk melerai. Dia tau Mira tak akan membunuh wanita itu.

Lanjut baca