Penyesalan datang setelah semua kesempatan habis. Perasaan saat lenyapnya nyawa dalam raga ketika manusia tak sengaja berbuat ceroboh. Saat mata sang bidadari tertutup bersamaan dengan lisannya yang cerewet diam untuk selamanya. Penyesalan itu semakin menumpuk. Menjadi gunung yang suatu saat akan meletus. Mengeluarkan semua yang terpendam. Di mana rasa kecewa, cinta, obsesi, keluar menjadi sebuah alasan pembelaan diri. Pemuda berkulit eksotis itu bukan seorang atlet, ia adalah perampok sekaligus pembunuh berantai. Tubuhnya diikat di kursi besi dengan kabel terbuka yang terhubung pada kursi besi itu. Jika saja ia menjawab salah, atau berkilah, aliran listrik akan menyengat tubuhnya. Ia duduk di bawah sinar lampu putih, sorot matanya menatap penuh kebencian pada seorang detektif di depannya. Rusli, pria tambun itu menghela napas panjang. Ruang sempit yang sering dikunjungi bersama para narapidana itu seakan menyerap oksigen yang dibutuhkannya. "Kamu orang aneh," ucapnya sambil terkekeh, terdengar seperti ejekan. "Bagaimana cara berpikirmu, anak muda? Bagaimana ibumu bisa bahagia jika anak satu-satunya begini?" "Diam kau, bangsat!" Rusli terdiam sejenak, ia menatap datar ke arah pemuda itu beberapa detik, lalu tersenyum ramah. "Rupanya aliran listrik yang menyengat tubuhmu seperti sebuah kemoceng yang menggelitik, ya?" Rusli menatap pemuda di depannya sambil tersenyum. "Apa yang kau inginkan sebelum sidang terakhir dilaksanakan. Kamu tahu, tidak ada kesempatan saat itu! Dan hukuman mati adalah hal pasti." Rusli berkata dengan tegas. Ia mulai berdiri. Remot kontrol berukuran kecil yang sedari tadi ia pegang, segera dimasukan ke dalam saku. Raut wajah yang sedang marah itu perlahan melunak, wajahnya ditekuk dengan mata yang mulai berembun. "Pulang," jawab pemuda itu dengan suara parau. Rusli memalingkan wajah sambil menahan tawa. Lalu ia mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu pada meja kayu yang dingin, ia menatap ke arah pemuda di depannya. "Kalau begitu, banyak-banyaklah berdoa!" Rusli kembali berdiri tegak, lalu beranjak meninggalkan ruang interogasi. Dalam kesendirian yang hanya beberapa menit saja, pemuda itu tersenyum tipis. "Bagaimana bisa Tuhan mengabulkan doaku, hidupku saja sangat jauh darinya." Dua orang petugas masuk dan melepas rantai yang mengikat tubuh pemuda itu pada kursi besi, tapi tidak dengan borgolnya. Sipir penjara itu sikapnya sangat dingin, setiap ucapannya yang keluar bagaikan petir. "Jalan!" titah salah satu sipir penjara. Pemuda itu berjalan dengan tenang menuju sel tempat ia ditahan. Melewati lorong gelap yang di kiri dan kanannya adalah para tahanan di balik jeruji besi, lalu melewati lorong temaram yang sepi dan dingin. Lorong bawah tanah, lembab dan sesak. Pintu besi yang berlapis itu dibuka, pemuda itu masuk tanpa menunggu disuruh. Ruangan yang ia tempati sangat sempit, hanya cukup untuknya duduk dengan kaki menjulur. Sementara tinggi ruangan tersebut tiga kali lipat dari tinggi badannya yang hanya 187cm. Pemuda itu menengadah ke arah langit-langit, matanya menatap ke sudut kanannya, di sana ada ventilasi, sempit dan tak mungkin diraih. Kedua tangannya mengepal, matanya sulit untuk dipejamkan kemudian memerah, bibirnya berkedut dan akhirnya melukiskan senyum serta air mata yang mengalir deras. Pemuda itu bernama Fauzan, seorang narapidana atas kasus pembunuhan berantai serta perampokan. Sebenarnya, cukup sulit untuk polisi menangkapnya. Jejaknya selalu terhapus. Namun, saat terakhir ia melakukan perbuatannya, saat itulah nasib sialnya. Atau mungkin, dia berniat mengakhiri perbuatannya. Karena pada saat ia ditemukan, ia sedang duduk terkulai di hadapan seorang gadis. Fauzan menghela napas berat. Ia mengubah duduknya menjadi duduk jongkok menghadap tembok, tangannya mendekat ke dinding yang cat putihnya sudah menguning. Tangannya bergerak, menempelkan besi borgol ke dinding, lalu membuat coretan-coretan abstrak. Jika dilihat lebih dekat, itu adalah gambar yang sudah ia buat selama satu tahun di penjara sempit ini. Fauzan melanjutkan karya seninya itu sambil tersenyum getir. Setiap coretan abstrak itu memiliki arti dan ceritanya masing-masing. Fauzan selalu bergumam saat mencoret dinding yang dingin itu. Gumaman yang jika didengarkan dengan baik merupakan ceritanya sendiri. Cerita yang mungkin ingin ia bagi, meski hanya dirinya sendiri sebagai pendengar yang baik. "Anak muda yang malang," ucap sebuah suara berat. Fauzan yang sedang berkutat dengan coretannya dan menggumamkan cerita itu segera menoleh ke belakangnya. Lalu memindai sekeliling ruangan sempit itu. Tidak ada siapapun di sana. Ia tersenyum getir, lalu kembali menatap tembok yang sudah ia coret. "Memaafkan masa lalu itu tidak mudah, tapi berusahalah." Suara itu kembali muncul. Fauzan bergeming, ia menghentikan kembali aktivitasnya. Namun, kali ini ia tidak menoleh ke belakangnya. Ia pikir, mana mungkin ada orang lain di ruangan isolasi ini. "Kamu siapa? Apa hanya halusinasiku saja?" tanya Fauzan menatap dinding yang hanya berjarak dua puluh senti itu. "Aku? Bisa saja dirimu, atau apapun yang ingin kamu anggap." Fauzan menyunggingkan senyum tipis. Kini ia berdiri lalu memutar badannya. Kembali ia memindai ruangan sempit tempatnya berdiri. Tidak ada siapapun selain dirinya di sini. "Jangan bercanda!" teriak Fauzan frustrasi. "Aku tidak bercanda. Oh, bukannya dunia hanyalah sebuah panggung sandiwara? Bagaimana kalau aku menawarkan sesuatu yang menarik untukmu?" Suara itu menggema di ruangan sempit. Fauzan menelisik ruangan yang dingin dan pengap itu. Ia mencari sosok yang terus mengajaknya bicara. "Kau masih saja mencariku, apa kau ingin melihatku?" tanya suara itu. Fauzan tak memedulikan pertanyaan dari suara itu. Ia mencoba mencari suara tanpa sosok yang berputar di kepalanya. "Ah, baiklah. Aku di sini!" serunya. Fauzan segera menoleh ke arah kanan dari tempatnya berdiri. Tempat asal suara itu berada. Sosok bening perlahan muncul dari dinding yang bercat putih pudar. Sosok itu membentuk wajah dengan tubuh seperti manusia. Berdiri sejajar dengan Fauzan. Rambutnya hitam kemerahan, warna kulitnya putih kemerahan. Matanya hitam pekat menatap Fauzan. Ia tersenyum lebar, menimbulkan lesung pipit di sisi kanan pipinya. Fauzan menatap sosok itu. Ia seolah sedang bercermin. Hanya saja sosok itu tak diborgol seperti dirinya. "Aku sudah bilang, bahwa aku adalah dirimu!" ucapnya sambil menunjukan jari telunjuknya ke arah Fauzan. Fauzan masih bergeming. Sedetik kemudian ia tersenyum mengejek. "Tak mungkin!" gumamnya sambil memalingkan wajah. "Apa yang kau tawarkan itu?" tanya Fauzan dengan nada pelan. "Mencari anak kunci di tumpukan jerami." "Hahaha! Konyol!" umpat Fauzan. Lalu ia tertawa tanpa henti. "Ayolah. Bukannya kamu kangen pada sosok ibumu?" Fauzan menoleh ke arah sosok itu. "Bercandamu tidak seru." "Baiklah. Nikmati masa-masa terakhirmu sebelum hukuman mati di mulai." Sosok itu perlahan memudar. Luruh seperti kertas puzzle yang berhamburan. Senyumnya masih terlukis. Fauzan menghela napas. "Baiklah, aku mau dengan tawaranmu itu," gumam Fauzan. Sosok itu tersenyum lebar. Lalu lenyap menjadi tumpukan kertas puzzle dan berserakan di lantai yang dingin. Kertas itu memudar, menimbulkan semburat cahaya yang menyilaukan. Fauzan berusaha menutupi pandangannya dari cahaya yang menyilaukan itu. Namun, tanpa ia sadari, tubuhnya limbung dan jatuh ke lantai. Matanya terpejam dengan tubuh tengkurap. "Apa yang kau sesali? Sejauh mana penyesalan itu sehingga memaafkan begitu sulit? Ayo kita kembali, kembali mengingat di mana kejadian itu dimulai. Akar dari sebuah kekecewaan. Kau akan merasakan sakit yang bertubi-tubi, tapi nikmatilah! Hal ini tak akan terulang dua kali. Jika kamu sudah menemukan kunci itu, cari tahu namaku, dan kamu akan tersadar kembali. Dan bila kamu tidak berhasil mengetahui namaku, kamu akan mati. Satu hal yang perlu kamu ingat baik-baik. 'Jangan mengulangi kesalahan yang sama'. Mulai sekarang, ingatanmu kuhapus semua!" Suara itu menggema kembali, lalu bernyanyi. Membuat kesadaran Fauzan perlahan menghilang. Nina bobo ooo nina bobo. Bobolah yang nyenyak, sampai sakitmu hilang ….
Seperti daun yang jatuh tak pernah menyalahkan angin, begitu juga hati yang patah tak ingin menyalahkan takdir. Maut yang tak bisa dihindari oleh makhluk yang bernyawa. Air mata jatuh meluapkan kecewa, tapi tidak dengan seorang anak yang duduk di sudut rumah, wajahnya tanpa ekspresi. Ia adalah Fauzan. Fauzan masih membisu, matanya menatap lalu lalang para pelayat dan tatapannya berhenti pada kerumunan warga di tengah rumahnya. Suara pelayat yang sedang membacakan al-Qur'an Surah Yasin itu membuat siapa saja yang mendengarkan merasa tenteram. Lalu tatapannya beralih ke samping kanannya, seorang wanita berkerudung hitam dan berbaju putih itu sedang khusyuk membaca surah Yasin. Ia adalah ibunya, Ningrum. Fauzan kembali menatap jenazah yang tertutup kain jarik di tengah rumah. Jenazah itu sudah dikafani dan tinggal mengantarkannya ke rumah terakhir. Jenazah itu adalah---Ridwan---ayahnya. Ridwan meninggal karena kecelakaan. Ia terjatuh dari pohon aren saat mengambil air nira. "Kalau Mang Kono tidak mengambil kayu ke arah sana, mungkin Mang Ridwan tidak akan ditemukan secepat ini," bisik seorang ibu-ibu yang duduk di samping kiri Fauzan. Bisikannya pelan, tapi cukup terdengar dari dekat. "Tapi lebih baik ditemukan dalam keadaan hidup, bukan jasadnya," jawab ibu-ibu berkerudung navy di sampingnya. "Orang jatuh dari ketinggian segitu mana ada yang selamat, Nur. Mana di bawahnya bebatuan. Kasihan Fauzan yang masih kecil, sudah ditinggalkan ayahnya." Nur menoleh sekilas ke arah Fauzan, lalu mencubit wanita di samping kirinya. Keduanya kembali membaca Al-Qur'an lagi. Setelah jasad Ridwan dikebumikan, Fauzan masih belum berbicara. Ningrum yang sedang sibuk merapikan karpet yang berantakan dengan sampah kertas, sekilas ia melihat anaknya itu, lalu mendekat. Ia mengusap pucuk kepala anaknya. Membuat Fauzan mendongak, keduanya saling tatap. Ningrung tersenyum, meski ujung bibirnya berkedut. "Nak, jangan bersedih, kalau bersedih kasihan ayah di alam sana. Jangan bersedih, kita doakan ayahmu." "Ya," jawab Fauzan singkat. Ningrum menghela napas panjang, lalu mengusap kembali pucuk kepala anaknya sambil tersenyum. "Anak sholeh." Ningrum kembali ke aktivitasnya, saat sedang membersihkan karpet dengan sapu lidi. Fauzan mendekat. Ningrum kembali menoleh sekilas lalu menyapu kembali sampah pada karpet yang masih tersisa. Fauzan duduk di samping ibunya, membuat Ningrum menghentikan kembali aktivitasnya. "Bu!" panggilnya. "Ya?" Ningrum menjawab sambil duduk menghadap anaknya. "Siapa yang mau mengantarku pergi ke masjid, mulai hari esok?" Ningrum terdiam lagi, apa yang harus ia katakan pada anaknya itu. Biasanya yang mengantar Fauzan ke masjid saat azan maghrib adalah Ridwan. Bahkan, ayahnya itu selalu menunggu Fauzan sampai kegiatan mengaji selesai, lalu melaksanakan salat Isya berjamaah. "Ibu yang akan mengantarmu," jawab Ningrum sambil tersenyum. "Sebentar lagi mau Maghrib, nanti beres shalat, semua teman-teman akan datang ke rumah kita untuk mendoakan ayah. Jadi, bisakah sekarang berangkat sendiri dulu?" tanya Ningrum hati-hati. Fauzan mengangguk sebagai jawaban. Ia pun segera membantu ibunya merapikan karpet. Setelah selesai, barulah ia mengambil kain sarung yang sudah usang beserta Al-quran. "Aku pergi dulu, Bu. Assalamu'alaikum." Fauzan menyalami tangan ibunya, lalu setelah terdengar jawaban salam dari Ningrum, ia bergegas turun dari rumah untuk berangkat ke masjid. Fauzan tiba di masjid tepat saat azan maghrib berkumandang. Ia bergegas mengambil air wudhu supaya tidak tertinggal salat berjamaah. "Kirain nggak ngaji, tau gitu kita berangkat bareng," ucap Karvo saat Fauzan mengambil shaf di dekatnya. "Tadinya sih, mau absen," jawab Fauzan sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Semua murid yang sudah tiba di masjid segera melaksanakan salat berjamaah. Setelah salat selesai, ustaz yang menjadi imam itu memutar duduknya. Menghadap ke arah jamaah yang terdiri dari muridnya. "Hari ini mengajinya di tunda dulu, kita akan berangkat ke rumahnya Bu Ningrum untuk acara tahlilan. Besok, kita mulai lagi mengajinya," ucap Ustaz Yoyo. Fauzan menundukan wajah, barulah saat ini kesedihan terlukis di wajahnya. Karvo yang duduk paling dekat dengannya segera menepuk pundak Fauzan dengan tujuan menenangkan sahabatnya itu. "Zan. Ayo kita berangkat!" ajaknya setelah beberapa murid keluar dari masjid. Arip, Agus, Ijon dan Karvo berjalan tak jauh dari Fauzan. Keempat temannya itu tak berkata apa-apa, bahkan tidak punya kata-kata untuk menghibur sahabatnya. "Zan, kamu yang kuat, ya!" seru Karvo sambil menepuk pundak sahabatnya itu. Fauzan terdiam, memberi senyum tipis. "Kalian masuk lewat pintu rumah, ya!" ucap Fauzan, lalu ia beranjak pergi ke arah pintu dapur. Teman-teman mengajinya sudah tiba lebih dulu di rumahnya. Tidak hanya murid dari ustaz Yoyo yang hadir, bapak-bapak pun banyak yang hadir di acara tahlilan tersebut. Saat memasuki pintu dapur, ada Nur dan Rasih di sana sedang membantu Ningrum menyiapkan cemilan untuk para tamu. Fauzan bergegas masuk lalu menyalami tangan ibunya serta mengucap salam. Hari berganti, sesuai adat di kampung, acara tahlilan dilakukan sampai hari ketujuh. Fauzan masih terlihat pendiam dan berbicara seperlunya. "Nak. Cepat habiskan makanannya, teman-temanmu sudah menunggu di depan!" perintah Ningrum sambil merapikan jemuran. "Iya, Bu!" Fauzan segera menyimpan piring kotor ke dalam baskom. Setelah selesai meneguk segelas air, ia keluar rumah sambil menjinjing sepatu. Ia akan memakai sepatu itu sambil duduk di ambang pintu. "Rum, hari ini mau buat cemilan apa? Aku hanya bawa tepung beras sama gula," ucap Nur sambil membawa sangku yang terbuat dari anyaman bambu. "Yang ada saja, Nur." Ningrum menjawab sambim menoleh. Pakaian sudah selesai dijemur di kawat jemuran. Ningrum membuang air sisa pada baskom dan bergegas menghampiri Nur. Fauzan menghampiri ibunya, lalu ia mencium tangan Ningrum sambil mengucapkan salam. "Eh, tadi pagi sekali Mang Kono ke sini memberikan belanjaan. Kita masak itu juga buat acara nanti." Ningrum berjalan menuju pintu dapur bersama Nur. Fauzan yang baru saja bergabung dengan teman-temannya untuk berangkat sekolah, mulai meragu mengambil langkah saat mendengar ucapan ibunya barusan. Otaknya mulai mengingat kejadian subuh tadi, tak lama kemudian ia menghela napas berat sambil melangkah menyusul keempat temannya. Kelima anak itu berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Menyusuri jalan setapak yang hanya cukup dilalui oleh manusia dan kendaraan beroda dua. Melewati padang rumput ilalang yang luas serta semilir angin yang membuat embun pagi bergelayut di ujung daun ilalang. "Zan, nanti pulang sekolah main bola, yuk!" ajak Arip yang langsung mendapat sikutan dari Karvo. Fauzan menoleh sekilas, lalu menatap tanah yang diinjaknya lagi tanpa menjawab. "Sesekali main lah, Zan!" ucap Arip lagi. "Iya, Zan. Jangan di rumah terus," ucap Agus. Ia berjalan sambil menatap Fauzan. Yang ditatap masih fokus pada tanah yang di pijaknya. "Aku takut, setelah Ayah pergi, Ibu juga ikut pergi," gumam Fauzan samar terdengar oleh keempat sahabatnya. Keheningan menyelimuti sepanjang perjalanan menuju sekolah. Hari-hari berikutnya pun sama, Sikap Fauzan belum kembali ceria. Hingga acara tahlilan ke sepuluh dan selanjutnya setiap hari ke sepuluh sampai genap hari ke empat puluh. Fauzan masih menutup diri dan enggan bermain.
Embusan angin dingin menerpa pepohonan, membuat pohon meliuk-liuk. Sinar matahari yang baru muncul di ufuk timur sedikit terhalang oleh awan hitam. Musim penghujan datang bersama langit yang selalu mendung. Tidak mengenal waktu pagi atau siang hari, hujan akan turun saat awan tak mampu menampung butiran air. Hari ini disebut 'matangpuluh'. Hari ke empat puluh kepergian Ridwan. Tepat di hari minggu, membuat Fauzan lebih senang duduk di serambi rumah dan sesekali membantu ibunya jika dibutuhkan. Dari sekian banyak warga yang membantu, satu orang yang membuat Fauzan menatap kesal ke arah pria itu. Tubuhnya tambun, tatapan matanya selalu berbinar saat bertemu dengan Ibunya. Ia adalah Kono. Karvo dan ketiga sahabatnya datang dan menghampiri Fauzan. Keempat anak itu saling sikut. Hingga akhirnya Agus memberanikan diri untuk angkat bicara. "Fauzan, main, yuk!" ajak Agus. "Hooh, kita maen bola, mumpung masih pagi." Karvo menimpali. Fauzan masih terdiam, tatapannya tak lepas dari Kono yang sedang memotong kayu bakar. "Sejak ayahmu meninggal, kamu nggak pernah main lagi bareng kita, padahal sudah hari ke empat puluh," ucap Arip. Kini Fauzan menoleh ke arah teman-temannya, terutama Arip. "Aku nggak suka sama Mang Kono. Setiap hari dia datang dan membawa kayu bakar." Keempat temannya itu serempak menoleh ke arah kanan dari tempat mereka berkumpul, tepatnya depan pintu dapur. "Ibuku juga tiap hari datang, kan, Zan!" bisik Ijon. "Rumah kalian kan dekat, nggak aneh, sedangkan Mang Kono lumayan jauh rumahnya." "Dia mau deketin ibu kamu, mungkin, Zan," celetuk Karvo sambil terkekeh. Fauzan lalu mendelik kesal. "Dah, kita main," ucapnya sambil beranjak pergi. Fauzan pergi bersama keempat temannya tanpa pamit kepada Ningrum. Mereka menyusuri jalan setapak menuju tanah yang lapang, di sanalah tempat mereka bermain bola bersama anak-anak dari kampung tetangga. "Zan, ke mana saja baru nongol?" tanya Dasep. "Iya. Kirain nggak akan main lagi!" "Kamu nggak akan pindah, kan, Zan?" tanya Ocid. Ketiga anak-anak itu mendekat ke arah Fauzan dan keempat temannya. "Pindah ke mana? Ibuku betah di sini." "Sudah kumpul semuanya?" tanya Agus mengalihkan pembicaraan. "Sudah!" "Kita hom pim pah untuk membagi tim!" seru Agus. Anak-anak dari dua kampung yang berbeda usia itu mulai berdiri membentuk lingkaran. Semuanya ada 18 orang, terdiri dari kakak kelas dari Fauzan, juga adik kelasnya. "Hom pim pah alaiyum gambreng!" Lirik lagu hom pim pah itu dinyanyikan bersama sambil menggerakan satu telapak tangan. "Agus sama Himan, gunting batu kertas dulu. Biar adil, siapa yang akan jadi anggota di timku," ucap Fauzan sambil berkumpul dengan tim-nya. "Gunting, batu, kertas!" ucap keduanya bersamaan. "Yes, aku menang!" teriak Agus sambil berlari ke arah tim Fauzan. Permainan sepak bola itu pun dimulai. Sementara di rumah, Ningrum bersama tetangganya yang membantu menyiapkan makanan untuk acara tahlilan, sesekali mengawasi keadaan di luar rumah. "Nur, lihat Fauzan, tidak?" tanya Ningrum dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Paling juga main sama Karvo," ucap Nur sambil mengipasi nasi yang baru diangkat dari atas panci. Tungku masih mengepul, kayu bakar yang keras dan berukuran sedang itu dilahap api. Di atas tungku, ada wajan yang berisi air santan bercampur rempah-rempah. Aroma masakan menguap, menggelitik indra penciuman dan membuat gemuruh pada perut yang sedang demo. "Ini sudah mau sore, acara berdoa akan segera dimulai. Aku titip rumah dulu, ya, Nur. Mau nyusul Fauzan," ucap Ningrum. "Kamu di sini saja, Rum. Biar aku yang nyusul. Sekalian mau ke warung Mak Kasih." Nur membetulkan kerudungnya, lalu hendak berdiri dari duduknya. "Tapi, Nur." "Fauzan pasti sama Karvo." Nur langsung berdiri, ia mulai berjalan menuju pintu ke luar. "Terima kasih, ya, Nur." Nur mengangguk, Ningrum masih menatap Nur sampai sosok itu terhalang oleh dinding kayu rumahnya. Nur berjalan menyusuri jalan setapak, sebelum ke lapang, Nur singgah di warung. "Mak!" ucap Nur sambil melongok ke dalam jendela warung. Seorang wanita paruh baya keluar dari dapur. Ia berjalan sambil membetulkan kain jarik yang melilit di pinggangnya. "Ya!" jawab wanita itu. "Beli kopi lima bungkus, telur seperempat saja," ucap Nur. Matanya tertuju pada bungkusan roti. Tangannya dengan sigap menghitung roti yang akan dibelinya. Ia juga tidak lupa membeli beberapa jajanan untuk anaknya. Setelah selesai belanja, Nur melanjutkan perjalanannya, menyusuri jalan setapak dan tak lama, tibalah ia di lapang. Kedatangannya disambut sorak sorai anak-anak yang fokus pada permainan bolanya. "Avo!" teriak Nur dari sisi lapang. Anak berambut ikal yang sedang menendang bola itu seketika menolah. Namun, tak menghentikan sorak sorai dari teman-temannya. "Pulang!" teriak Nur mengisyaratkan anaknya untuk pulang. "Ajak Fauzan juga!" perintahnya. Karvo yang masih berdiri di tengah lapang itu seketika celingukan mencari Fauzan. "Sudahan mainnya, woy!" teriak Karvo. Seketika anak-anak yang sedang memperebutkan bola itu berhenti. "Zan, kita pulang. Sudah sore. Yang lainya juga." "Masih seru, nih!" teriak Ocid tidak terima. "Ibuku sudah nyusul!" ucap Karvo sambil menunjuk ke arah sisi lapang dengan isyarat. "Besok kita lanjutkan mainnya," ucap Fauzan sambil berjalan mendekati Karvo. Kelima anak-anak itu memisahkan diri dari teman-temannya. Mereka berjalan keluar lapang untuk menemui Nur. "Nanti mau berangkat ngaji bareng?" tanya Agus kepada Fauzan. Fauzan terdiam. Pikirannya, tak mungkin ia meminta diantar terus oleh ibunya meski ibunya tak pernah protes. "Iya, aku nanti berangkat sama Karvo." "Sip!" seru Agus sambil mengacungkan jempol. Setibanya di pertigaan, Agus berpisah dari keempat temannya. "Bi Nur, Mang Kono masih ada di rumah?" tanya Fauzan sambil menoleh ke belakang. Nur terperangah, lalu kemudian ia terdiam. "Sudah pulang sepertinya tadi siang." Keempat remaja itu berpisah, Fauzan berjalan menuju rumahnya. Ia memasuki rumah melalui pintu dapur. Suasana rumahnya masih ramai. Ada Mak Jum dan Rasih yang sedang bebungkus. "Assalamu'alaikum," ucap Fauzan sambil memasuki rumah. "Cepat mandi, lalu makan. Seharian kamu belum makan," ucap Ningrum sambil berjalan di belakang Fauzan. "Bu," panggil Fauzan. "Ya?" "Ibu nggak akan ninggalin Fauzan, kan?" tanya Fauzan saat keduanya berada di kamar. Pintu kamar terbuka lebar, membuat Ningrum menutup sedikit rapat pintu kamar itu. "Kenapa bertanya seperti itu, Nak?" tanya Ningrum sambil duduk, mensejajarkan tingginya dengan Fauzan. "Aku takut, ibu juga pergi." Ningrum tersenyum, ia mengusap pucuk kepala anaknya. "Ibu tidak akan meninggalkanmu, Ayah pulang karena sudah waktunya untuk pulang." Fauzan merangkul ibunya. "Ibu jangan pergi, Fauzan janji akan jadi anak yang baik. Mulai hari ini, ibu tidak usah repot-repot mengantar aku ke masjid." "Wah, anak ibu sudah besar rupanya!" seru Ningrum sambil mengacak rambut Fauzan. "Sudah, sana mandi. Lalu makan," ucap Ningrum sambil melepaskan pelukan anaknya.