Suasana rumah berlantai dua ini sepi. Hanya ada aku dan Bayu—bayi sembilan bulanku yang telah tertidur pulas, usai kuberikan asupan ASI hampir setengah jam lamanya. Bayu kubiarkan tertidur di dalam Box Bayi, yang terletak di ruang tengah. Sementara aku di dapur menyiapkan semua pekerjaan yang masih terbengkalai. Tak lupa semua pintu kukunci, agar aku terbebas dari rasa was-was saat asyik bekerja nanti. Kuraih piring kotor yang menumpuk di wastafel, dan mencucinya dengan cekatan. Karena, masih banyak pekerjaan yang menantiku setelahnya. Terlarut beberapa saat oleh tugas-tugas yang masih menumpuk, tiba-tiba, aku dikejutkan oleh bunyi ketukan beruntun dipintu, diiringi suara laki-laki yang memanggil namaku. Aku melirik ke pintu kaca yang berada di sisi kiriku. Wajah lesu Mas Dion membias dari balik kaca, sambil memberikan isyarat padaku untuk membukakan pintu. Bergegas kucuci tangan yang masih berlumuran busa sabun, mematikan air keran, dan menyeka kedua tangan pada washlap yang menggantung di hadapanku, lalu melangkah cepat ke pintu. Lelaki itu menatapku lesu. Pintu kubuka pelan, sambil mengamati wajah Mas Dion—lelaki itu. Pasti ia mau ngetem lagi di kamar lamanya pagi ini. Padahal setiap ia pulang ke rumah di jam-jam segini, hatiku selalu risih, karena hanya ada aku, dia dan bayi sembilan bulanku di rumah yang cukup besar ini. Mas Dion adalah kakak iparku yang kedua setelah Kak Dea, yang kini mengikuti suaminya tinggal di Jakarta. Kemudian baru suamiku—Mas Divo. Mertuaku dua-duanya masih bekerja, Papa tahun ini pensiun sementara Mama dua tahun lagi. Nyaris setiap hari mereka tak pernah di rumah, selain hari libur kerja. Suamiku sendiri sudah dua bulan dipindah-tugaskan ke ibu kota. Ia hanya bisa pulang di hari Sabtu saja. Minggu sore sudah harus berangkat kembali ke ibu kota. Sementara itu, Mas Dion? Dua bulan sudah ia juga tinggal disini. Bertepatan dengan kepindahan suamiku, Mas Dion malah mendapatkan permasalahan dalam rumah tangganya. Hubungannya dengan Mbak Vera sedang dalam masa ujian berat. Khabar yang kudengar, Mas Dion telah mengucapkan kata cerai padanya. Sebenarnya, Mas Dion itu ganteng. Tubuhnya atletis, kulit putih dan berhidung mancung. Walaupun ia dan Mas Divo sama-sama putih, tapi aku harus akui, Mas Dion lebih unggul selangkah dilihat dari face dan tubuhnya. Keunggulan itulah yang membuat seorang putri konglomerat tergila-gila padanya. Mbak Vera yang merupakan putri tunggal pengusaha property di ibu kota. Sayang, hubungan mereka sedang melewati masa sulitnya. “Nggak kerja ya, Mas?” tanyaku setelah pintu kubuka. “Enggak! Mas masih pusing.” jawabnya singkat, masih dengan ekspresi lesu. Ia melangkah ke dalam, kemudian duduk di kursi santai ruang keluarga yang terpajang televisi ukuran cukup besar di dindingnya. “Vi, bikinkan Mas minum, ya?” pintanya kemudian setelah bobotnya ia henyakkan di lantai. Ia menyandarkan punggungnya di bibir kursi. “Iya, Mas.” jawabku kemudian. Aku langsung menuju dapur, mengambil gelas dan wadah. Kemudian memasukkan gula, kopi dan menyiramnya dengan air panas. Asap mengepul dari kopi yang kuseduh. Kemudian kuaduk dan membawanya ke hadapan Mas Dion. “Makasi, ya? Kamu memang isteri idaman,” ucapnya sambil tersenyum. Aku terkejut. Kulihat ia kembali tersenyum sambil menatap padaku. “Sayangnya ….” “Sayangnya apa, Mas?” tanyaku heran. “Sayangnya aku tak menemukan perempuan seperti kamu.” Aku makin kaget. Serasa dua pupil mata membesar karenanya. Sambil mengernyitkan kening, aku pun berlalu darinya dari hadapan Mas Dion. Sudut mataku masih dapat menangkap sunggingan senyum aneh di bibirnya. Aku kembali ke dapur dan larut dengan pekerjaanku sebagai pengganti Mama mertuaku. Karena Mama memang tidak suka dengan ART. Tanpa peduli lagi apa yang ia kerjakan di ruang itu. Pekerjaan yang menumpuk menguras tenaga dan konsentrasiku. Cucuran keringat jatuh di pelipis dan kening. Beberapa menit berlalu, gerakanku terhenti. Aku dikejutkan dengan suara tangisan Bayu dari ruang tengah--tempat ia kuletakkan tadi. Tanpa menunggu lagi segera kuberlari cepat menghampiri putra semata wayangku itu. Takut terjadi apa-apa bila terlalu lama membiarkan ia terbangun dan menangis sendiri. Namun, baru saja tiba di pembatas ruang tengah dan ruang makan, langkahku tiba-tiba terhenti. Bayu sudah berada dalam gendongan Mas Dion. Ia terlihat berupaya menenangkan tangis Bayu sambil memeluk dan menciumi dengan hangat. Melebihi sikap yang pernah dilakukan Mas Divo. Aku terdiam mengamatinya. Menyadari kehadiranku, ia mengangkat wajahnya menatapku, sambil mengusap-usap punggung Bayu yang menghadap padanya. Aku tersenyum, dia balas tersenyum. Bayu masih saja merengek. Tak sanggup membiarkan anakku dengan tangisannya, kuulurkan tangan meraih Bayu dari gendongan Mas Dion. Ia menyerahkan Bayu padaku. Tanpa sadar tangannya sedikit menyentuh tubuh bagian depanku. Aku terperanjat. Namun, ekspresi lelaki itu hanya datar saja. Ia seakan tak menyadarinya. Walau awalnya aku kaget, tapi melihat ia seperti tak menyadasinya, aku pun mengacuhkannya. Kurasa aku tak perlu membesar-besarkan masalah ini. Mungkin ia memang tak sengaja. “Hai, ganteng. Jangan nangjs lagi! Kasian Mimi, capek kerja sendirian,” ujarnya pada Bayu. Aku cuma tersenyum. Kemudian bersipa-siap hendak berlalu darinya. Namun, lagi-lagi langkahku terhenti. Mas Dion meraih jemari Bayu, dan mengajak Bayu bermain. “Ganteng, sayang Papa Dion. Ci-luk ... ba! Ci-luk ... ba!” Aku tetsenyum, sekedar menghargai itikad baiknya menenangkan Bayu. Bayu tertawa, Mas Dion ikut tertawa melihat tawa lucu anakku. Ia kemudian mendekat dan menciumi Bayu yang sedang dalam gendonganku. Aku terperanjat. Wajahnya terasa amat dekat denganku. Rambut ikalnya yang masih menguarkan aroma shampo, berada tepat di bawah wajahku. Aku merenggangkan tubuh dari Bayu. Menghindari rasa tak nyamanku. “M-maaf, M-mas. A-aku bawa Bayu dulu, ya? Sepertinya dia haus,” ujarku menghentikan keteganganku. Ia mengangkat wajahnya dan tersenyum, “Oh …. ya udah! Disini aja!” Aku mendelik. What! “N-nggak, Mas. Di dalam aja. Bayu biasa sambil tiduran,” kilahku padanya. Kemudian tanpa menunggu jawabannya, aku pun berlalu darinya dengan mentralkan rasa bergidik yang kurasakan. Masih dapat kulihat sungingan senyuman yang tiba-tiba hadir di sudut bibirnya. Entah apa maksudnya.
Jarum jam di dinding kamarku menunjukkan pukul sepuluh malam. Hari ini jadwal kepulangan Mas Divo, tapi belum ada tanda-tanda ia pulang. Aku resah dan bingung, tak biasanya ia tak menepati janji begini. Kalaupun ia telat, ia tak pernah lupa memberi kabar padaku. Namun, tidak untuk kali ini. Handphone-nya yang sedari tadi kucoba hubungi juga tidak menyala sama sekali. Lama menunggu tanpa memejamkan mata sama sekali membuat aku kebelet ke kamar mandi. Sebenarnya aku risih untuk keluar dari kamar apalagi aku tahu, ada Mas Dion di rumah. Namun, apa dikata, kamar mandi satu-satunya untuk keluarga cuma kamar mandi yang berdekatan dengan dapur, selain kamar mandi di kamar Kak Dheea yang setiap harinya terkunci. Desakan alam membuatku tak mampu lagi bertahan, akhirnya kuberanikan juga keluar kamar. Kubuka pintu pelan dan melangkahkan kaki menuju ruang keluarga yang tersambung dengan dapur dan kamar mandi. Suasana temaram membuat aku berjalan pelan. Mataku menangkap cahaya lampu yang masih terang benderang dari ruang keluarga juga biasan cahaya warna warni yang bergantian, pertanda masih ada yang menghidupkan televis di sana. Pastinya itu Mas Dion. Ia terbiasa tidur paling akhir di rumah ini, dan selalu duduk di hadapan televisi sambil memegangi sebatang rokok untuk menemaninya. Langkahku terhenti di pembatas ruang. Aku ragu untuk melewatinya. Kukumpulkan segala kekuatan dan nyali untuk tetap kesana. Namun, langkahku kembali terhenti. Tubuhku merinding. Netraku menangkap Mas Dion yang sedang fokus menatap layar televisi dengan tontonan yang membuat aku risih. Adegan yang menyesakkan dada. Namun, aku juga tak bisa bertahan dengan rasa sesak yang juga berpacu. “U-huk! U-huk!” terpaksa alarm kubunyikan. Mas Dion terkejut dan mendelik ke arahku. Tubuhnya yang tadi tergolek di kasur santai serta merta bangkit dan duduk. Secepat kilat tampilan layar berganti biru. Ia pura-pura mencari siaran baru. Aku pura-pura tak melihatnya. Kulintasi dia sambil menunduk. “K-kamu b-belum tidur, ya?” tanyanya gagap. Terlihat ia berusaha menenangkan diri. Aku menoleh dan tersenyum tipis. “Belum, Mas. Habis bobo’in Bayu,” ujarku sambil terus berlalu tanpa melihat lagi padanya. Usai menunaikan hajat, aku pun keluar dari kamar mandi, menutup rapat pintu dan membalikkan tubuh untuk kembali ke kamarku. Lagi-lagi aku terkejut dan langkahku terhenti. Mas Dion telah berdiri tepat di depanku. Mematung sambil melipat dua tangannya dan menyandar di dinding dapur. Aku melotot sambil memegangi dadaku. Jantungku berdegub kencang, nafasku serasa sesak. Tubuhku sedikit gemetaran dan pikiranku langsung meliar kemana-mana. Cuplikan berita-berita menyeramkan langsung menari-nari di benakku. Apa yang mau ia lakukan di sini? Apakah ia berniat jahat padaku? Atau jangan-jangan ia sedang mabuk atau menggunakan narkoba, karena beban fikiran yang tak mampu ia kendalikan? Mengapa ia berdiri di tempat gelap ini? Padahal ia tahu kalau aku tadi di kamar mandi. Pasti ia bermaksud jahat. ”M-mas, m-mau apa?’ tanyaku gugup dengan tangan mulai berkeringat, padahal cuaca sangat dingin. “Ya, mau ke kamar mandi, lah!. Masa mau bobo. Kamu udah siap, ‘kan?” jawabnya dengan gaya slengek’an. Serta merta aku menghempaskan nafas lega sambil memejamkan mata sesaat. Gila! Padahal aku sudah berpikir terlalu jauh. “U-udah, M-mas! A-aku sudah siap, kok,” jawabku lagi. Ia menyunggingkan senyuman di bibirnya. Kemudian berjalan melintasiku dengan jarak yang cukup dekat denganku. Hanya beberapa centi meter saja. Sehingga hembusan angin tubuhnya menerpa tangan dan tubuhku. Aroma parfum yang masih melekat kuat di bajunya, ikut menguar memasuki rongga penciumanku. “Aku juga … kebelet!” ujarnya lagi sambil berlalu. Kemudian pintu itu tertutup rapat. Detik berikutnya terdengar bunyi air keran yang mengalir deras. Aku terdiam, sebelum akhirnya berlalu dari tempat itu. meninggalkan aku yang masih terpelongo dengan sikapnya. Sampai di kamar, aku duduk di bibir ranjang. Pikiranku terusik dengan sikap Mas Dion beberapa waktu belakangan, termasuk yang terjadi barusan. Aku merasa ada sedikit kejanggalan dari sikapnya. Sepertinya, ia memang sengaja melakukan ini. Tapi untuk apa? Apa ia ingin mengangguku? Istri adik kandungnya sendiri? Drrrt drrrt. Gawaiku bergetar. Aku melirik pada biasan cahaya yang merembes di sisi sarung bantal. Dengan cepat kuraih handphone itu. “Barangkali saja pesan dari Mas Divo,” bisikku dalam hati. Kutatapi layar handphone itu berulangkali. Lagi-lagi aku dibuatnya kaget. Kelakuan pria itu benar-benar membuat otakku berpikir keras. Buat apa dia ngirim pesan malam-malam begini? Bukankah, barusan juga ketemu di luar? “Vi besok kalau mas ketiduran, tolong bangunin mas jam delapan, ya?” Aneh! Dia benar-benar bersikap aneh beberapa waktu belakangan. Padahal dulunya ia sangat berwibawa, terlalu menjaga adabnya padaku, Menegurku saja seperlunya. Namun, sejak tinggal di sini, ia sok akrab dan sok dekat. Bahkan, perbuatannya banyak yang di luar kelaziman. Mau apa sebenarnya lelaki itu? Belum habis jelajah pikirku tentang sikap Mas Dion, tiba-tiba gawaiku berkedip lagi, sebuah notif kembali muncul. “Vi, kog cuma dibaca doang? Emang nggak mau bantuin, Mas ya?” Aku tersentak, seakan tersadar dari sebuah mimpi, cepat-cepat kugerakkan jempol mengetikan balasan. “Iya, Mas. Besok aku bangunin.” Langsung kukirim padanya. Kemudian gawai kuletakkan kembali di dekat bantal dan berniat menghempaskan tubuhku ke ranjang. Namun, kembali niatku kuurungkan. Netraku kembali terusik. Gawaiku kembali berkedip diiringi lagu kesayangan yang kusetel sebagai nada panggilan lagu kesayangaku. Buru-buru kuraih lagi gawai itu. “Mas Divo!” desisku sambil langsung meraihnya kasar dan mengusap tanda angkat pada panggilannya serta meletakkannya di telingaku. “Assalammualaikum, Mas. Mas dimana? Kenapa, sih, dari tadi nggak bisa dihubungi?” tanyaku seakan merajuk. “Buka pintu, Sayang, kok masih aktif jam segini?” ‘Astaga, Mas! Mas udah di depan, ya? Kok aku nggak dengar suara mobil Mas?” “Yah! Ditanya nggak dijawab, malah balik tanya.” “Iya, Mas. Soalnya aku benar-benar nggak denger,” sahutku kemudian. “Iya, habisnya kamu asyik nge-chat, kan?” “Enggak kok, Mas. Aku cuma ngeliatin bentar. Tadi udah tidur, trus kebangun, kebelet ke kamar mandi,” kilahku, tak ingin Mas Divo tahu yang kualami barusan. “Ya, udah! Buruan bukain pintu, dingin di luar, nih.” Aku tersenyum, meskipun itu tak terlihat sama sekali oleh Mas Divo. “Okey, Mas. Bentar aku bukain.” Handphone kumatikan dan bergegas keluar kamar mencari kunci pintu di ruang tamu. Kemudian membuka kunci dan grendel-nya. Benar saja, Mas Divo sudah berdiri di depan pintu. Pakaiannya kusut, wajahnya terlihat sangat lelah. “Kok malam kali pulangnya, Mas?” rajukku manja. Kusalim punggung tangan suamiku dan menuntunnya masuk ke dalam. “Lembur! Tadi ada pemeriksaan dari pusat. Mas nggak tahu kalau kamu masih bangun, kalau tau kan bisa bawain sesuatu.” Mas Divo mentowel hidungku mesra. Aku tersenyum. “Nggak papa, Mas. Eh, Mas mau tidur langsung apa mau sesuatu dulu?” tanyaku dengan ekspresi lucu, sambil mengamit lengan Mas Divo manja. “Mau minuman hangat saja. Dingin, mana di jalan sepi lagi,” curhat lelaki kesayanganku itu. Aku mengangguk sambil tersenyum. Kamipun langsung melangkah ke ruang keluarga. Sampai di belakang, mataku jelalatan mencari keberadaan Mas Dion. Namun, aku tak menemukannya. Sepertinya ia telah masuk ke kamarnya setelah mengirim pesan padaku tadi. Aku pun menyiapkan minuman yang diminta Mas Divo, sementara suamiku itu, langsung berlalu ke kamar untuk menganti pakaiannya.
Pagi ini, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Sebelum sholat subuh, aku telah bangkit dari ranjang meninggalkan Mas Divo dengan dengkuran halusnya. Ia tampak sangat kelelahan, sehingga tak menyadari kalau aku sudah beranjak dari sisinya. Memang, setiap ia berada disini, aku selalu mengusahakan yang terbaik untuknya. Meladeninya semaksimal mungkin, urusan ranjang, makan dan penampilan selalu kunomor-satukan, agar aku tetap istimewa di matanya, meski aku tak mendampinginya selama lima hari kerja. Sebelum Mas Divo bangun aku telah berpenampilan cantik, dan makanan kesukaan pun telah tersedia. Itulah target juga obsesi terindah dalam hidupku, sejak ijab suci itu ia lafadz-kan di depan ayah dan semua pihak keluargaku. Hal itu juga yang sering jadi bahan perbandingan di keluarga ini bila mereka telah membahas Mbak Vera pada Mas Dion, selalu aku yang di bawa-bawa. Padahal apa urusannya? Toh, aku begini karena rasa tanggung jawabku pada keluarga kecilku, Mas Divo dan Bayu. Karena aku hidup disini, di rumah mertuaku, rasa tanggung jawab itu juga meluap pada keluarga suamiku itu. Habis, siapa lagi? “Mas, nggak salat, Sayang?” bisikku mesra di telinga Mas Divo. Aku tersenyum kala ia menggeliat, dan memelukku mesra. “Kamu sudah mandi, ya?” bisiknya di telinggaku dengan suara serak. “Ih, bangun, dong! Belum bersih-bersih udah main peluk-peluk, aja,” ujarku sambil melepaskan diri dari Mas Divo. Mas Divo malah menggerakkan jemarinya yang berada tepat di rusukku, sehingga aku berteriak kegelian. “Divo! Viona! Ayo cepatan salat, nanti keburu pagi!" Lengkingan suara Mama membuat kami terdiam. Mas Divo terkekeh menertawakanku. Aku cemberut dan mencubit pinggangnya. Ia balas mencubit hidungku. Kemudian Mas Divo bangkit dari ranjang. “Ayo! Daripada dipanggil Mama lagi nanti,” ujarnya sambil merangkulku. Aku tersenyum. Kami pun keluar dari kamar berbarengan. Aku bergegas ke dapur menghampiri Mama yang telah sibuk menyiapkan sarapan kami. “Udah salat, Viona?” tanya Mama ketika aku baru saja berada di sampingnya. “Udah, Ma, tadi,” jawabku singkat sambil meraih piring kotor dan mengucek-nguceknya dengan busa sabun serta membilasnya. “Vi! bangunkan dulu Mas Dion, gih! Mama lupa, Mama rasa dia belum salat!” Aku terdiam sejenak, antara ragu dan kaget. Haruskah aku kesana? Ke kamar Mas Dion? Ah!. ‘Ohya, Mas Divo tadi, kok belum juga nongol di sini, ya? Padahal tadi udah barengan. Apa nyambung tidur lagi? Padahal, ‘kan juga belum salat,’ pikirku dalam hati. Kuletakkan piring yang tadi kucuci, dan membersihkan tangan dari busa sabun. Kemudian bergegas kembali ke kamar. Namun, ketika aku melewati kamar Mas Dion, senyumku langsung mengembang melihat Mas Divo yang melangkah ke arahku sambil menyandang handuk di bahunya. Kami berpapasan. Ia menyempatkan diri melayangkan tangan jahilnya ke bokongku. Aku kaget. Kukejar ia sambil mencubit lengannya, yang membuat ia mengaduh sambil mengusap-usap lengannya. “Ada apa Di?” tanya Mama mengejutkan kami. Beliau menoleh ke arah kami, maklum si Bontot. Aku tergelak tertahan. Mas Divo menggaruk-garuk kepalanya sambil menyunggingkan senyuman padaku. “Nggak kok, Ma. Cuma kesandung!” Mas Divo mengulum senyum dan melanjutkan langkahnya ke kamar mandi, setelah sebelumnya melayangkan ciuman kilat ke pelipis Mama. Kini giliranku yang harus membangunkan Mas Dion. Kebetulan, tempat aku berdiri tadi tepat di depan pintunya. Aku mematung sejenak, sambil mengambil nafas panjang, kemudian menghempaskannya kasar. Pintu kamarnya sedikit terbuka. Antara ragu dan sungkan aku menguatkan hati untuk memanggilnya dari sana. “Mas ... Mas Dion? Bangun, Mas! Salat dulu!” ujarku pelan. Namun, tak ada jawaban. Hening. Kembali kuulangi sambil mengetok-ngetok pintu kamarnya pelan. “Mas Dion … Mas? Mama suruh Mas bangun. Salat dulu!” teriakku lagi. Beberapa kali kuulangi, tapi tetap tak ada jawaban. Terakhir, aku akan coba sekali lagi sebelum pasrah, biar Mama saja yang membangunkannya, bila kali ini ia tetap tak mau bangun. “Mas ... Mas Dion? Mas disu—“ Belum sempat kata-kata itu kulanjutkan, sesosok tubuh tegap berkulit putih yang hanya menggunakan celana pendek, berdiri tegak di hadapanku. Tubuhnya yang sejengkal lebih tinggi dariku, menatapku slengek’an dengan senyum konyolnya. Terus terang netraku menangkap kilau cahaya di kulitnya yang bersih. Entah apa perawatan kulit yang ia lakukan, wajahnya terlihat glowing bangun tidur. Tubuhnya yang selama ini tertutup setelan rapi ternyata sangat putih dan bersih. Apakah ia suka ke salon? Facial? Spa? Atau ia menyimpan benda-benda kosmetik di lemarinya? Aku yang perempuan, minder dibuatnya. Entah berapa lama aku terpaku, aku tak tau. Entah karena kaget, tiba-tiba ia muncul setelah lama kupanggil, entah karena melihat tubuh gl¬owing-nya. Yang pasti, aku sedikit ternganga melihat keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini. “Mandang orang jangan gitu! Non muhrim!” katanya mengejutkanku. Membuat wajahku serasa memerah menahan malu. Buru-buru kualihkan pandanganku sambil menetralkan hati yang kaget bukan kepalang. Kurang ajar, bisa-bisanya ia mempermalukanku. Tiba-tiba ia melangkah melewatiku yang masih sibuk menetralkan diri, sambil berbisik, “Kamu keramas, ya?” ujarnya kemudian sambil tersenyum puas. Aku mendelik. “What?! Maksudnya--’ Aku terhenti. Dan hanya bisa menatapi punggungnya dari belakang dengan wajah geram. Apa-apaan sih, dia? *** Waktu sarapan telah tiba. Semua anggota keluarga sudah stand-bye di tempat masing-masing kecuali Mas Dion. Hanya dia yang belum muncul. Barusan ia melintasi ruang ini dari kamar mandi menuju kamarnya. Melewati Aku yang masih membereskan sisa pekerjaan di dapur. Setelah semua usai, aku melangkah menuju meja makan, dan duduk di samping Mas Divo. Detik berikutnya kulihat Mas Dion memasuki ruangan. Penampilannya sudah rapi, aroma wangi maskulin menguar di ruang makan. “Loh, Yon! Tumben pagi?” ejek Mama, sambil melirik Mas Dion. “Temu klien, Ma. Ada yang mau ngajak partner-an di ibu kota,” jawabnya sambil mencomot tempe goreng tepung yang ada di meja. Kemudian duduk tepat di hadapanku. Aku mendelik. Sykurlah! Berarti buka cabang di ibu kota? Artinya ia nggak akan disini lagi. Ia membuka piring yang tadi kutelungkupkan, kemudian mengambil nasi, lauk dan sayur. Aku hanya mengamatinya, sambil memulai suapan pertamaku. Wajah acuhnya mengingatkanku dengan semua kelakuannya beberapa hari ini, terlebih subuh tadi. Sikap slengekan dan urakan yang membuatku malu, tapi juga geram. Terlebih bisikannya tadi yang kurasa tidak pada tempatnya. Sementara kulihat ia sepertinya sudah melupakan itu. “Vi, kamu senang nggak, dsini? Masih kerasan, nggak?” tiba-tiba Mama membuka pembicaraan diantara dentingan suara sendok dan piring yang bersahutan. Aku terkejut dan menoleh pada Mama. Kemudian senyum manis kuberikan pada Mama yang masih mengamatiku diantara aktivitasnya menyantap makanan. “Maafin Mama, ya? Selalu ngasih kamu pe-er yang nggak habis-habisnya.” Wanita 50-an yang telah kuanggap sebagai ibu itu berucap dengan nada mellow-nya. Menatapku syahdu. Aku tersenyum sambil mengunyah sisa makanan di mulutku dengan pelan. “Nggak apa-apa, Ma. Nggak ada pekerjaan yang berat kok. Sama aja waktu Viona tinggal sendiri,” “Aku liat Viona betah kok, Ma,” timpal Mas Dion sambil menatapi makanannya. Aku mendelik. Perlahan gerakanku melambat. Bener-bener ampun sama manusia yang satu ini. Apa dia nggak tau, yang membuat aku nggak betah itu malah dia! Risih dengan kelakuannya! “Syukurlah! Mama cuma cemas Viona ngerasa di bebani.” “Nggak, lah!” tukas Mas Dion lagi dengan cepat, tapi tetap sambil fokus dengan makanannya. Aku makin terperanjat. Kenapa dia yang jawab lagi, sih? Aneh! “Perasaan yang Mama tanya Viona, deh. Kenapa yang jawab kamu, Yon? Lagian kog kamu tahu isi hati Viona?” Tiba-tiba Susana hening. Semua menatap pada Mas Dion, kemudian padaku, tak terkecuali Mas Divo. Aku ikutan deg-degan dibuatnya. Sementara itu Mas Dion juga terkesiap. Menyadari situasi tegang yang mulai menyelinap, buru-buru aku menetralkan situasi. Takut akan jadi masalah nantinya. “Iya nih. Mas Dion sok pinter nebak hati orang. Tapi, Mas Dion bener loh, Mas. Aku seneng.” Aku tersenyum. Kali aja Mas Dion ngeliat aku happy-happy aja di sini, Makanya ia bilang begitu. Meski ketemu Mas Divo hanya sekali seminggu,” ucapku kemudian sambil menatap Mas Divo mesra. Mas Divo tersenyum, kemudian mengucek-ngucek kepalaku mesra. Mas Dion menatap kami dengan tatapan dingin, kemudian menyunggingkan senyum anehnya. Mama dan papa ikut tersenyum. Semua kembali melanjutkan makannya. Hanya lelaki itu yang masih saja menatap kami dengan aneh, sebelum akhirnya kembali menyantap makanannya. “Syukurlah, Nak. Mama Papa senang kalian saling dekat. Meskipun Viona menantu di rumah ini, tapi kamu sudah menganggapnya sebagai adikmu kan, Yon? Makanya kamu respect. Ya kan, Pa?” “Hu um,” jawab mertua laki-lakiku itu sambil terus mengunyah, menikmati gelembung makanan di mulutnya. Sementara Mas Dion mendengkus dan tersenyum konyol sambil kembali menikmati makannya. “Oh ya, Yon. Gimana masalahmu? Sudah ada itikad baik dari Vera?” tanya Papa kemudian pada lelaki dihadapanku itu. Wajahnya seketika berubah memucat. Aku mengalihkan pandangan kembali pada santapanku, tak ingin menyudutkannya, karena pasti setelah ini, namaku akan di bawa-bawa lagi. ‘Iya, Yon. Mama kasian melihatmu begini. Nggak baik lama-lama sendiri, banyak mudhorat-nya. Cepat selesaikan, kamu mau baikan lagi sama Vera atau nggak?” tanya Mama kemudian. “Kalau mau baikan lagi, didik Vera jadi isteri yang baik. Tuh lihat, Viona, cantik, pinter, jago masak, dan bertanggung jawab sebagai istri.” Mas Divo tersedak. Hingga ia terbatuk berulangkali. Segera kuberikan air putih yang sebenarnya sudah ada di depannya. Ia meminumnya. “Hati-hati makannya, Divo. Udah besar, juga!” gerutu Mama berikutnya. Mas Dion hanya melirik sekilas, tanpa komentar. Bahkan untuk pertanyaan Papa dan Mama pun juga tak ada jawaban. Aku tak ingin berlama-lama kalau sudah membahas tentang Mbak Vera. Kasihan Mas Dion, jadi bulan-bulanan terus karena aku. Lagian, nggak enak dibanding-bandingkan saat kita ada disana. Segera kuhentikan makanku dan beranjak dari tempat dudukku. “Maaf, Ma, Pa. Viona ke kamar dulu. Mau liat Bayu, takut entar dia bangun.” Mama dan Papa tersenyum bersamaan dan mengangguk padaku. Selang beberapa saat berada di kamar, Mas Divo muncul dengan senyum ringannya sambil merangkulku hangat dari belakang. Ia mengecup hijabku penuh kasih. “Makasi, cinta.” “Apaan sih, Mas.”