"Reyhan ada di dalam?" tanya seorang wanita cantik dengan postur tubuh yang sexy. Ellen tak henti-henti menatapnya dari atas ke bawah membuat wanita itu geram sendiri. "Woy! Kamu budeg ya? Aku tanya! Reyhan ada di dalam gak?" tanya wanita itu sekali lagi dengan sedikit emosi. "A-da. Masuk saja," sahut Ellen gelagapan. Wanita itu berjalan pergi segera dengan tatapan sinisnya. "Bilang dari tadi kek!" Sampai pintu ruangan CEO itu tertutup, Ellen menghembuskan napasnya. Ellen adalah seorang sekretaris dari seorang CEO muda dan kaya di perusahaan Lee Corp. Sudah sering sekali, Ellen kedatangan wanita seperti tadi. Tidak heran, karena CEO-nya memang sangat tampan. Tapi BEJAT! Sehari mungkin ada sekitar 5 orang wanita berbeda yang menjadi pemuasnya. Hari telah berakhir. Ellen segera merapikan berkas-berkasnya dan bersiap untuk pulang. Saat ingin beranjak, pintu CEO terbuka menampilkan Reyhan yang baru saja keluar dengan wanita yang menggelendoti tangannya. "Beb, masa gak bisa sekarang? Aku maunya shopping sekarang. Nanti, tas brand itu keburu habis. Ayolah Beb!" rengek wanita itu. Ellen masih setia menunduk pada CEO-nya. "Gak bisa, honey! Mama Papa minta aku pulang sekarang, katanya penting. Besok saja ya beli tasnya. Janji deh, aku beliin dua langsung." Mata wanita itu langsung berbinar senang dengar Reyhan akan membelikannya dua tas langsung. "Benar ya? Oke deh kalo gitu kamu hati-hati pulangnya. Aku pulang duluan," ujar wanita itu. Reyhan hanya menampik senyumnya dan wanita itu pergi. Gak ngerti juga, kenapa gak Reyhan yang mengantarnya pulang? "El? Kamu belum pulang?" Ellen lalu ngedongak menatap CEO tampan itu. "Sebentar lagi," sahut Ellen pelan. Ya sudah. Aku duluan. Kamu hati-hati di luar, rok kamu kependekan." Reyhan menunjuk rok Ellen yang di atas lutut itu, lalu pergi. Ellen menatapnya kesal. "Dasar bejat!" Kalau saja Reyhan dengar ini, mungkin besok Ellen sudah gak kerja di Lee Corp. "Apa? Papa mau jodohin aku? Ayolah, Pa! Ini sudah dunia modern. Perjodohan itu sudah punah," rengek Ellen pada Papanya yang kini duduk di hadapannya. "Kalau gak dijodohin sampai kapan kamu mau ngelajang? Papa juga mau punya cucu kayak teman-teman Papa yang lainnya," sahut papanya tak mau kalah. "Papa mah kejauhan. Aku belum mau nikah. A-ku masih mau kerja, Papa." Ellen mencekal keningnya. "Ma, aku gak mau dijodohin," adunya pada mamanya. "Sayang, kamu turuti saja apa kata Papa kamu. Itu juga demi kebaikan kamu, sayang." Mamanya kini mengusap punggung Ellen. Ellen menderu napasnya pasrah. Sulit untuk membantah permintaan orang tua. "Kamu pikirkan sampai besok pagi. Tapi, kalau kamu sampai menolak, Papa gak mau ngomong sama kamu lagi." Papanya beranjak dari ruang keluarga. Mamanya sangat khawatir sekarang. "Pa! Gak boleh gitu dong Pa! Itu namanya Papa nyudutin aku biar mau dijodohin! Papa mah!" teriak El memanggil Papanya, tapi tak digubris. "Mama. Aku gak mau Ma," rengek El peluk Mamanya. "Kamu turuti saja permintaannya Papa. Gak mungkin Papa melakukan ini kalau bukan demi kebaikan kamu, Sayang." Mamanya setia mengusap kepala Ellen yang menempel di dadanya. Ellen tampak diriasi oleh MUA yang dibayar langsung oleh keluarganya. Pagi tadi, Ellen setuju untuk perjodohan itu. Dan hari ini, akan langsung pertemuan keluarga. Ellen nampak cantik dengan balutan dress putih di atas lutut dan make up yang natural karena memang Ellen sudah cantik walaupun gak pakai make up. "Sayang, kamu udah selesai?" Wajah mamanya muncul saat pintu kamarnya terbuka. "Sudah Ma," sahut Ellen dari cermin. "Ayo turun! Itu calon suami kamu sudah di bawah," girang mamanya. Oke, sekarang Ellen malah deg-degan mendengar 'calon suami'. Ellen menarik napasnya tiga kali, lalu mengikuti mamanya dari belakang. "Astaga! El, kamu cantik banget! Nggak salah memang, Mama jodohin kamu sama anak Mama," ujar wanita paruh baya yang kayaknya bakal jadi Mama mertuanya Ellen. Ellen mendudukan dirinya dan menyapa kedua calon mertuanya. "Sabar ya, Sayang! Calon suami kamu masih ke toilet sebentar," ucap wanita itu lagi. Ellen hanya mengangguk. "Sayang, kamu lama deh, di toiletnya. Sini cepat! Calon istri kamu sudah lelah menunggu." Ellen menoleh ke orang yang baru saja keluar dari toilet. Ellen melongo, menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Reyhan-ssi?" lirih Ellen. Reyhan menatapnya tak kalah kaget. "Jadi, kalian sudah kenal? Wah, bisa makin cepat ini pernikahannya," ujar laki-laki sepertinya itu Papanya Reyhan. "Apa?" kaget Ellen. "Baru perkenalan keluarga masa sudah mau menikah saja, Pa, Ma," rengek Ellen pada orang tuanya. "Gapapa Sayang, lebih cepat lebih baik," sahut Ny. Retno senyum ke arah Ellen. Reyhan hanya diam memandangi Ellen yang kini duduk di depannya. Ellen tampak gugup ditatap seperti itu. "Mama, Papa, Ellen permisi ke toilet sebentar." Ellem pergi begitu saja. Reyhan menatap kepergian Ellen. "Ma, Pa, Rey menyusul Ellen sebentar." Setelah diberi anggukan, Reyhan beranjak mengikuti Ellen di kamarnya. Menatap keluar dari balkonnya. Cklek! Ellen menoleh, didapati Reyhanberada di sana. Ellen tercegang, Reyhan masuk ke area kamarnya. "Kamar kamu rapi juga." Reyhan mengangguk-ngangguk. "Ngapain kamu ikutin aku? Sana keluar." titah Ellen tak suka. "Gak boleh galak-galak sama calon suami," sahut Reyhan mendekat. Ellen berdecih. "Dih! Ngarep banget sama perjodohan kayaknya." Tak dilihat, Reyhan kini menyeringai. "Kamu gak mau punya suami yang husbandmaterial kayak aku, ehm? Nanti menyesal loh." Reyhan mengusap pelan pipi Ellen. Tolong Ellen sekarang, jantungnya mungkin sudah hilang. "Apaan sih! Sana jauh-jauh!" Ellen mendorong tubuh Reyhna. Namun, malah ditarik balik dan ya! Ellen jatuh ke pelukan Reyhan. "Gak ada yang boleh menolak aku. Paham?" Reyhan mengusap rambut Ellen. Ellen berontak melepas pelukan Reyhan. "Siapa yang buat peraturan gitu? Gak ada ya, begituan!" Reyhan tertawa sebentar melihat Ellen tampak sangat marah sekarang. "Untuk pertama kali wanita menolak aku." Reyhan menyeringai. "Iyalah, aku gak kayak cewek-cewek kamu ya. Yang mau dimainin demi barang-barang branded itu!" Ellen mengunci kedua tangannya di dada. "Itu sebabnya, aku suka sama kamu." Reyhan kembali menyeringai. Ellen menatap bingung pada Reyhan yang kini menatap ala pria BEJAT!
"Loh, Ellen? Hari ini kamu kerja?" tanya mama saat Ellen keluar kamarnya dengan setelan kerja yang rapi. "Iyalah, Ma." Ellen menyeruput susu di gelas yang memang dibuatkan untuknya. "Bukannya hari ini kalian fitting gaun pengantin?" Tak sengaja Ellen muncratkan cairan susu dari mulutnya. Mengusap bibirnya sebentar. "El! Ish jorok deh! Pake tisu!" Mama memberi Ellen selembar tisu, karena ia hanya mengelap bibir dengan tangan. Jorok banget emang! "Fitting gaun pengantin Mama bilang? Emang nikahannya kapan? Cepat sekali fitting gaunnya?" "Minggu depan hari H. Kalian sih main di kamar saja. Ya sudah orang tua saja yang membicarakan tanggalnya. Dan minggu depan tanggal pernikahannya." Ellen tampak melongo membuka besar mulutnya, yang ditingkem langsung oleh mamanya. "Ganti baju sana! Reyhan bentar lagi jemput. Kamu gak usah kerja. Lagian calon suami kamu kan CEO-nya, malah kerja," omel mama ninggalin Ellen ke dapur. Ellen masih berdiri memikirkan ucapan mamanya yang belum sempat tercerna. Reyhan baru saja jemput Ellen dengan Lambhorgini Grey-nya. Gak perlu heran, CEO barangnya pasti elit semua. "Kenapa gak cerita kalau tanggal pernikahannya minggu depan?" ketus Ellen saat baru saja masuk mobil seharga ratusan juta USD itu. "Aku juga baru tahu," sahut Reyhan pelan. Ellen nampak menggerutu memandang arah lain dengan melipat tangannya di dada. "Eh-eh! Jangan macam-macam ya!" sentak Ellen saat Reyhan mendekat pada tubuhnya. Arah mata Reyhan sangat pas ke bibir kecil Ellen, jadi salah tingkah dia. Tangan Reyhan menarik setbelt memasangkan pada tubuh Ellen. "Pakai setbelt, biar aman." Reyhan mengulum senyum dan fokus ke kemudinya. Ellen sekarang sedang mengumpat dirinya yang dengan kepedeannya berpikiran Reyhan akan macam-macam padanya. Ellen sudah mencoba sekitar tiga gaun yang beratnya gak perlu diragukan. Namun, selalu ditolak oleh Reyhan. Ini yang pakai gaun, Ellen atau Reyhan sih? "Ganti!" sarkas Reyhan. "Reyhan! Aku capek bolak-balik ganti gaun terus. Mana berat lagi! Sudahlah, aku mau yang ini saja. Ini yang paling cocok untukku," kesal Ellen saat Reyhan memintanya ganti lagi. "Kamu bilang cocok? Gaun terbuka gitu kamu bilang cocok? Kamu mau pamer belahan ke tamu undangan? Gak! Ganti!" Dengan terpaksa Ellen kembali masuk ke dalam kamar ganti. Jangan lupakan wajah kesal dan mulut yang terus menggerutu! Taeyong menyeringai setelah punggung Ellen lenyap dari balik pintu. "Kamu sexy juga ternyata." Sekitar 20 menit menunggu. Mata Reyhan terbelalak saat Ellen keluar dengan balutan gaun yang cantik di tubuhnya. "Gimana?" tanya Ellen jutek, "jangan minta aku ganti lagi!" Tak menggubris pertanyaan Ellen, Reyhan malah mendekat memperhatikan Ellen dari jarak dekat. "Mbak, saya ambil yang ini!" pinta Reyhan pada pelayan wanita di sebelah Ellen. Akhirnya, Ellen bisa bernapas lega setelah berjam-jam sesak dengan gaun-gaun yang menempeli tubuhnya. Pulang dari tempat fitting pakaian pengantin, Reyhan membawa Ellen ke restaurant terdekat. Mengisi ulang energi yang hilang tadi. Sehabis makan, Ellen ingin pulang untuk beristirahat. Reyhan mengiyakan. Saat lampu merah. Reyhan memperhatikan baik-baik sisi samping wajah Ellen yang terlelap di sebelahnya. "Ternyata kamu juga cantik kalo lagi tidur," gumam Reyhan pelan. Tak percaya, sekarang Reyhan mengulum senyumnya. Ellen membuka matanya. Hal pertama yang dilihat adalah pelafon. Pelafon yang berbeda dari biasanya. Lalu, matanya menelusuri sudut ruangan yang ditempatinya sekarang. Bahkan, seprai pink yang membalut kasurnya berubah menjadi abu gelap. "Ini bukan kamar aku!" Ellen beranjak bangun dari posisi tidurnya. Berjalan keluar membuka pintu kamar asing itu. Saat mendekat tangga hendak turun. Dia mencium aroma masakan, mengikuti arah aroma itu hingga membawanya pada dapur. "Reyhan, jadi ini rumah kamu?" sentak Ellen saat mendapati Reyhan yang sedang mengoseng-ngoseng penggorengan. Dia masak. "Kamu sudah bangun? Sini duduk!" titah Reyhan. Ellen mendekat spontan. "Kamu gak apa-apain aku kan? Kita belum muhrim ya Bapak Reyhan Saputra!" Ellen menutup tubuhnya dan memandang sinis pada Reyhan. "Sedikit," sahutnya tetap fokus pada penggorengan. Ellen terbelalak. "YA REYHAN SAPUTRA! KAMU SUDAH MENYENTUHKU SEBELUM NIKAH? KURANG AJAR!" teriak Ellen menutup tubuhnya. Ellen meyumpah serapahi pria di depannya yang entah telah melakukan apa padanya. Reyhan tertawa gemas. Mematikan kompornya dan mendekat pada Ellen. Ellen memundurkan langkahnya hingga tubuhnya terbentur tembok. "YA! YA! APA YANG KAMU LAKUKAN?" Ellen tetap menyilangkan kedua tangannya. Reyhan menyentuh tegkuk Ellen, membuatnya menggeliat geli. Reyhan menyeringai. "Mau aku contohin?"
Ellen baru saja masuk kamarnya dengan menghentak-hentakan kakinya. Tak lupa bibir yang sejak tadi menyebit sumpah serapahnya. "Rey, itu Ellen kenapa ngamuk-ngamuk?" tanya Arman, Papa kandung Ellen. Reyhan tertawa kecil. "Dia marah karena kugoda," sahut Reyhan mengundang tawa ramai dari Arman. "Ada-ada saja." Reyhan dan Arman masih saja menertawakan tingkah Elsa. "Kamu mau langsung pulang, Rey?" tanya Zahra, Mama Ellen. "Aku pulang saja, Ma. Besok aku ke sini lagi." Zahra dan Arman mengantar Reyhan keluar. Hingga lambhorgibi ratusan juta USD itu menghilang dari pagar rumah, mereka kembali masuk. Hari H akhirnya tiba. Ada ribuan tamu undangan yang datang. Baik dari kolega ayah Reyhan maupun ayah Ellen. Membuat Ellen yang sedari tadi berdiri menyalami tamu undangan terlihat sangat lelah. "Rey, aku capek," rengek Ellen pada Reyhan yang masih senantiasa memaparkan senyumnya pada tamu undangan. "Kamu istirahat aja dulu!" titah Reyhan. Ellen mengangguk. Lalu berjalan gontai masuk ke ruangan yang memang dikhususkan untuk pengantin istirahat. "Sayang, kamu kok di sini?" tanya Zahra saat mendapati Ellen yang merebahkan dirinya di ranjang kecil. "Ellen capek berdiri berjam-jam di sana Ma," sahut Ellen lemas. Zahra mendengkus lirih. "Ya sudah, kamu istirahat saja!" Ellen segera memejamkan matanya. Saat membuka matanya, didapati pelafon yang berbeda dari sebelumnya. Ini rumah Reyhan. Ellen membangunkan tubuhnya tepat dengan Reyhan yang baru saja keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan dirinya. "Kamu sudah bangun? Mau mandi sekarang? Aku siapkan air hangat," ujar Reyhan. Ellen mengangguk. Reyhan kembali masuk ke kamar mandi. Suamiable banget kan Mas Reyhan? Sekitar setengah jam membersihkan diri. Ellen keluar dengan handuk yang membalut tubuhnya dan handuk kecil yang melilit di rambutnya. "Rey, koper aku belum dibawa ke sini?" Ellen mencari-cari kopernya ke sana-sini sedari tadi. Reyhan yang mendengar ucapan Ellen, mendekat ke arahnya. "Kayaknya belum," sahut Reyhan ikut mencari koper Ellen. "Terus aku pakai baju apa? Masa iya pake handuk terus?" Reyhan tersenyum remeh. "Kamu bisa pakai baju aku. Tapi kalau mau pake handuk saja juga gapapa." Wajah Reyhan berubah mesum. Ellen menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Reyhan, hingga membuat Reyhan tertawa receh. Reyhan berjalan mendekati tubuh Ellen hingga Ellen menubruk lemari besar milik Reyhan. "Kenapa takut? Jangan lupa kita sudah suami istri." "Ka-kamu mau ngapain?" gugup Ellen karena ini pertama kalinya merasakan hal seperti ini. Iyalah! Orang dia masih lugu. Gak pernah pacaran, malah sudah menikah saja. Reyhan mendekatkan bibirnya pada wajah Ellen. Ellen segera menutup matanya. Reyhan tersenyum senang. "Aku mau ambilkan baju. Jangan tutup mata gitu!" pinta Reyhan menggeser tubuh Ellen lalu membuka pintu lemari. Jangan tanyakan kondisi jantung Ellen sekarang! Dia menarik napas tiga kali. Meraih baju yang diberikan Reyhan. Lalu, masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Keluar dari kamar mandi, Ellen mengenakan kemeja putih oversize yang cukup menutupi sampai pahanya. Reyhan asik memainkan ponselnya dengan bersandar pada headboard ranjangnya. Ellen duduk di meja rias mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang melilit di kepalanya. Melihat itu, Reyhan meletakkan ponselnya dan mendekat pada Ellen. "Biar aku yang keringkan." Reyhan meraih handuk yang dipegang Ellen. "Gak usah. Aku bisa sendiri." Ellen menolak. "Oh! Mau jadi istri durhaka? Gak nurut sama suami?" sarkas Reyhan. Ellen membalikan tubuhnya, duduk menghadap Reyhan. Tapi- "Sudah sini! Balik!" Ellen kembali membalikkan tubuhnya, Reyhan menggosok lembut rambut Ellen dengan handuk. "Kalo gini terus, jantung aku makin gak sehat, Reyhan," batin El. "Oh iya, aku kok bisa ada di sini? Perasaan aku tidur di ruang pengantin," gumam Ellen di sela-sela Reyhan mengeringkan rambutnya. "Aku yang bawa kamu pulang. Kasian kamu capek sekali," sahut Reyhan. Entah itu dilhat atau enggak, tapi sekarang Ellen sedang mengulum senyumnya. Malam pertama menjadi pengantin semakin membuat jantung Ellen berdebar kencang. Pikirannya berlomba-lomba memikirkan apa yang akan Reyhan lakukan padanya karena ini malam pertama mereka. Ellen menutup wajahnya dengan selimut. Menenggelamkan tubuhnya di sana. Saat pintu kamar terdengar tertutup, detak jantung Ellen berdetak dua kali lipat dari sebelumnya. "Ellen? Kamu sudah tidur?" Reyhan menyibak selimut, ditatapnya wajah Ellen yang terlihat cemas. "Kamu kenapa? Kok keringetan?" tanya Reyhan saat melihat keringat di pelipis Ellen. "Nggak tahu, gerah saja," sahut Ellen asal. "AC-nya kan sudah menyala. Masa gerah?" Reyhan merebahkan tubuhnya di sebelah Ellen. Ellen melototkan matanya saat Reyhan mendusel-dusel di ceruk lehernya. "Kita belum main kamu sudah keringatan saja." Reyhan mengeluarkan smirknya. Oh God! Tolong Ellen sekarang, jantungnya sudah maraton. Reyhan menatap nanar Ellen dengan jarak yang sangat dekat hingga Ellen bisa merasakan deruan napas Reyhan pada wajahnya. Reyhan menyeringai saat mendapati wajah Ellen yang berubah merah seperti tomat. "Mau main sekarang?"