Sandiwara Sonya
Bab 1 Prolog

Sonya Ayudia Prameswari selalu menyadari dirinya. Otaknya tidak begitu cemerlang dalam bidang akademik. Ia bahkan seolah hanya menjadikan ijazah sarjananya sebagai dokumen peninggalan dalam brangkasnya. Kecantikan dan kepiawaian Sonya dalam berakting membawa pada kesuksesan menjadi aktris yang bahkan pernah meraih pemeran wanita film terbaik. Namun ia sadar bahwa hal tersebut juga memaksanya harus menjaga citra dirinya. Satu skandal saja bisa menghancurkan karier yang susah payah dibangunnya. Terlebih lagi jika itu skandal percintaan. Namun karena kecerobohannya, Sonya pun masuk pusaran pemberitaan media, setelah tertangkap oleh kamera paparazzi digendong oleh lelaki yang wajahnya samar masuk ke sebuah gedung apartemen. Paparazzi yang tidak puas, lalu mengorek lebih dalam tentang siapa saja yang tinggal dalam gedung apartemen tersebut. Nama Erlangga Abimanyu kemudian menyeruak dan membuat heboh. Pasalnya Erlangga adalah aktor tampan yang sedang dieluh-eluhkan oleh wanita di Indonesia. Sekaligus lawan main Sonya dalam sebuah film romansa yang akan digarap salah satu production house. "Jika kau keluar sekarang maka karier kita akan hancur." Erlangga berdiri di samping tempat tidur, di mana Sonya baru saja bangun dengan kepala yang sedikit pusing. "Siapa suruh kau membawaku ke sini? Tunggu ... apa yang sudah kau lakukan kepadaku?" Sonya menyilangkan kedua tangannya di depan dada setelah menyadari keberadaan dan situasinnya saat ini. Erlangga menghela napas panjang. "Bukan aku." "Apa?" Tiba-tiba dari arah belakang Erlangga, muncul laki-laki lain yang tidak dikenali Sonya. "Aku tidak membawamu. Kau yang masuk ke mobil Erlangga diam-diam. Tidak mungkin meninggalkanmu di parkiran basement," ungkap seorang laki-laki dengan wajah datar. Sonya memegang rambutnya frustrasi. "Berakhir sudah karierku." Erlangga pun memutar otak. Ia lalu menjentikkan jarinya. "Ah, bagaimana kalau Kak Nevan saja yang mengaku sebagai kekasih Sonya, sehingga media akan berpikir bahwa yang ada di apartemen ini hanya ada Kak Nevan dan Sonya." Ucapan Erlangga sontak membuat mata Sonya membulat. Namun ketika wanita itu menatap laki-laki bernama Nevan tersebut, lelaki itu malah mengangguk singkat. "Sekalian aku bisa menghindari perjodohan yang direncanakan Ibu," tukas Nevan membuat wajah Erlangga semringah. Kedua laki-laki itu lalu memandang Sonya yang masih melongo tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. "Hanya pilihan ini yang tepat Sonya. Pilihan yang menyelamatkan kita bertiga," ucap Erlangga yang membuat pandangan Sonya tertunduk sambil berpikir keras. "Maksudmu berpura-pura menjalin hubungan?" Kepala Sonya perlahan mendongak dan menatap Nevan. "Anggap saja kau sedang bersandiwara seperti dalam film. Hanya saja ini di dunia nyata," tandas Nevan, lalu menyeringai kecil. Sonya terdiam sejenak. Namun pada akhirnya mengangguk pelan. "Deal!"

Bab 2 Terjerat Skandal

''Apa kau sudah tidak waras?'' Sebuah majalah dibanting di atas meja yang berada di hadapan wanita bernama Sonya Ayudia Prameswari. Wanita itu tidak melirik ke arah majalah, melainkan mendongak menatap seorang wanita berusia empat puluhan yang memakai blazer sama sepertinya. ''Aku tahu bahwa aku melakukan kesalahan,'' ujar Sonya mengakui judul berita utama dalam sampul majalah yang bertuliskan, Aktris Sonya Mengakui Menjalin Hubungan dengan Nevan Gentala Mahesa, Kakak Laki-Laki dari Aktor Erlangga Abimanyu. Sonya tidak melihat ke arah majalah. Melainkan memilih bertopang dagu, setelah melipat kakinya antara satu sama lain. Bersikap santai seolah apa yang sedang menjadi pemberitaan bukanlah sesuatu yang menghebohkan. Padahal platform media sosial seperti Twitter sudah membicarakan berita tentang Sonya dan Nevan, hingga menempati trending topic nomor satu di Indonesia. Wanita yang satunya sudah memijit pelipisnya dan ikut duduk di hadapan Sonya. ''Untung saja pria yang kau akui sebagai kekasihmu, bukan pria sembarangan.'' Alis Sonya terangkat. Ia memajukan badannya ke depan untuk menatap lebih jelas wajah wanita di depannya itu. ''Mbak Sesil, bukankah Nevan kakaknya Erlang?'' Sonya yang telah mengenal Erlangga sejak tujuh tahun lalu, sudah terbiasa menyebut nama lelaki iu dengan sebutan Erlang. Hal yang baru didengar pertama kali oleh Sesil, selaku direktur utama SS Entertaiment—agensi yang membawahi Sonya. Mata Sesil terbelalak mendengar nama Erlang yang seolah akrab di lidah Sonya. ''Kau mengenal Erlangga dengan baik atau ... dia mantan kekasihmu?'' Tawa Sonya pecah seketika mendengar sangkahan Sesil. ''Tentu saja bukan. Aku mengenal Erlangga tanpa kesengajaan. Kami bisa dibilang tidak dekat, namun juga tidak asing satu sama lain.'' Mata Sesil menyipit memandang Sonya. Ia mulai penasaran akan cerita bagaimana Sonya bisa mengenal Erlangga, tetapi skandal percintaan anak asuhnya itu lebih penting sekarang. ''Bagaimana dengan Nevan? Dia setuju-setuju saja kau akui sebagai kekasihnya?'' Pertanyaan Sesil membuat Sonya tersenyum lebar. ''Ya, I need him, like he needs me.'' Ucapan ambigu Sonya menjadikan Sesil mengernyit pelan. Namun ia percaya akan perkataan wanita itu. ''Tidak kusangka Nevan akan bersedia melakukan sandiwara denganmu.'' Sonya mendengkus pelan. ''Bukankah Nevan yang harus bersyukur bisa menjalin hubungan dengan seorang aktris sepertiku,'' ujarnya dengan penuh nada percaya diri. Ia tidak merasa angkuh atau berlebihan akan bagaimana ia melihat dirinya yang selalu terpampang setiap jeda iklan di televisi atau bagaimana ia bisa membintangi banyak proyek film yang bisa sampai lima film dalam setahun. Tidak lupa akan wajahnya yang berseliweran pada sampul majalah kenamaan. Mata Sesil terbelalak mendengar hal itu. ''Kau sungguh merasa seperti itu terhadap Nevan?'' Kepala Sonya mengangguk tanpa ragu. Ia bahkan menyisir rambut panjangnya dari arah depan ke belakang, seolah sedang menunjukkan pesonanya. Untung saja mata bulat, hidung mancung, kulit putih pucat dan bibir tipis yang tidak akan membuat orang ragu bahwa dirinya adalah wanita cantik. ''Ya, tentu saja.'' ''Apa kau sadar siapa itu Nevan?'' Sonya menarik napas sejenak. ''Diakan kakak dari—'' ''Bukan itu,'' sanggah Sesil dengan cepat. Mengetahui bahwa Sonya akan mengatakan bahwa Nevan adalah kakak laki-laki dari Erlangga. Fakta yang telah mereka bicarakan tadi. ''Nevan adalah anak salah satu menteri saat ini, sekaligus pengusaha yang sukses. Dia bukan hanya terkenal, karena kekayaan dan kepopuleran Erlangga, tetapi pengaruh politik dri Ayahnya.'' Mulanya raut wajah Sonya samar tampak santai bercampur jenuh membicarakan tentang Nevan. Namun mendengar kata pengaruh politik, membuat wanita itu menunjukkan amarah yang memuakkan. Ia lalu bangkit berdiri dan memandang ke arah Sesil yang masih duduk. ''Aku lelah, bisa aku pulang sekarang?'' Meski Sesil masih ingin membahas banyak hal tentang skandal percintaan tersebut. Namun sebagai wanita dan orang terdekat Sonya, ia mengerti bagaimana isi pikiran dan perasaan Sonya. Ia tahu bahwa meskipun Sonya tampak tidak peduli dan acuh, tetapi wanita itu pasti mulai stres akan pemberitaan dan sorotan yang ada saat ini. Sesil ikut bangkit dan melangkah mendekati Sonya. ''Baiklah. Istirahatlah di apartemenmu, bukan, pasti mereka menunggu di depan gedung apartemenmu,'' ujarnya merujuk kata mereka kepada wartawan yang sudah tidak sabar mendapat wawancara eksklusif dengan Sonya. “Aku akan ke apartemen Gege, lagipula wartawan tidak mengenalnya,” balas Sonya mendapat anggukkan kepala dari Sesil. Sesil yang mengurus segala urusan pekerjaan Sonya melalui manajer yang ia pekerjakan, juga mengenal dengan baik beberapa kehidupan pribadi Sonya, meski itu tidak semuanya. Salah satunya adalah persahabatan Sonya dengan Gege, seorang pelukis yang selama ini bersembunyi dibalik nama sebenarnya. ''Hati-hatilah. Aku akan membatalkan seluruh jadwalmu seminggu depan.'' Sonya mengangguk sambil tersenyum tipis. “Thanks Mbak Sesil.” Ia memeluk sekilas wanita yang sudah dianggapnya sebagai salah stau orang kepercayaannya. Ia lalu berjalan menuju pintu untuk pulang. Bukan kembali ke tempat tinggalnya, tetapi pulang untuk melepas segala atribut keartisannya untuk sementara. Ya sementara. Keluar dari gedung SS Entertaiment, Sonya terpaksa diantar oleh sopir dengan sedan sederhana yang selalu dipersiapkan agensi kala artisnya masuk pemberitaan. Sedangkan mobil van yang selalu dipakai Sonya dibiarkan di tempat parkir bersama wartawan acara berita selebritis yang mungkin sudah membidik mobil van tersebut dari segala sisi dengan lensa kamera yang panjang. Apartemen Gege jelas tidak semewah dan sebesar milik Sonya. Namun aktris tersebut sangat senang berkunjung ke sana, di samping bisa menikmati pajangan lukisan Gege yang juga menjadikan salah satu ruangan dalam apartemennya sebagai studio, ia juga iri akan pemandangan apartemen Gege yang langsung menghadap ke laut. Berbeda dengannya yang berada di jantung Kota Jakarta. ''Jadi Sonya dan Nevan?'' Gege menyodorkan es susu kopi ke hadapan Sonya. Minuman favorit sang aktris yang padahal dalam layar televisi lebih sering terlihat menikmati espresso atau latte. ''Ayolah Ge, kau tahu itu hanya kesalahan,'' balas Sonya setelah menyeruput minumannya dengan sedotan terbuat dari aluminium. Ia memandang lekat sahabatnya itu. Gege adalah seniman sejati, bahkan rambut wanita itu dicat berbagai warna seperti biru, merah muda, hijau, dan ungu, dengan warna pirang sebagai dasar. Namun hal itu sangat cocok dengan warna kulit putih Gege yang dikaruniai sebagai garis keturunan Tionghoa. Bahu Gege mengendik samar. ''Jadi ceritakan padaku kesalahan itu?'' Ia yakin bahwa Sonya belum membeberkan secara jelas apa yang terjadi, bahkan kepada Sesil sekalipun mungkin. Ia sangat mengenal Sonya yang tidak akan bercerita jika belum pada suasana nyaman dalam diri wanita itu. ''Kau tahu Lena? Dia mengundangku ke acara ulang tahunnya. Tentu saja berlangsung dengan privat dan kami sebagai tamu kebanyakan saling mengenal. Lena bermain truth or dare dan ... botol selalu mengarah kepadaku. Daripada menceritakan kisah masa laluku, tentu aku memilih menegak bir yang mungkin kuhabiskan hampir dua botol,'' ujar Sonya menceritakan kronologi awalnya. Gege tampak datar menanggapinya. Cerita Sonya belum menarik perhatiannya. ''Lalu bagaimana kau bisa berakhir di apartemen Erlangga dan ... ternyata bersama dengan Nevan?'' Sonya menarik napas sejenak. ''Aku linglung ketika akan pulang. Aku menghubungi Farah manajerku untuk menjemputku di rumah Lena. Ketika aku menaiki mobil yang kusangka milik Farah, ternyata itu milik Erlangga yang dikendarai oleh Nevan. Tahu-tahu keesokan harinya aku sudah berada di apartemen Erlangga.'' Alis Gege terangkat, bersamaan dengan sebelah tangannya juga untuk meminta Sonya menjeda ceritanya. ''Apakah Nevan ikut pesta Lena juga?'' Sonya menggeleng dengan cepat. ''Sebelum meninggalkan apartemen Erlangga, Nevan sempat bilang bahwa dia mengunjungi rumah Pamannya yang bersebelahan dengan rumah Lena.'' Ia menaikkan kedua tangannya di atas meja, lalu terulur meremas rambutnya dengan frustrasi. ''Mobil itu terparkir di luar, tepat pada perbatasan pagar Lena dan Paman Nevan tersebut, sehingga ketika aku melihat lampu merah bagian belakang mobil, kuasumsikan bahwa itu adalah Farah dan langsung masuk ke dalam.'' ''Jadi Nevan membawamu ke apartemen dengan sadar dan sengaja?'' tanya Gege kini dengan nada cukup antusias. Ucapan Sonya kali ini membuatnya antusias. ''Entahlah. Nevan bilang bahwa dia masuk kembali ke rumah Pamannya, karena melupakan ponselnya tanpa mematikan mesin mobil. Kurasa pada saat itu aku menyelinap masuk tanpa sadar,'' jawab Sonya dengan ingatannya yang samar. ''Lalu bagaimana jika ternyata ... ternyata Nevan sudah berada di dalam mobil ketika kau masuk?'' Sonya mendesis pelan. ''Mungkin saja, kalau dia ternyata penggemarku,'' balasnya sambil menahan senyum. Gege berdecak lidah. Ia lalu bangkit berdiri, karena mulai menyadari ucapan Sonya yang terdengar bergurau. ''Masuklah ke kamar dan tidur. Pasti kepalamu cukup sakit sekarang.'' Helaan napas keluar dari mulut Sonya. Ia mengubah posisi menjadi bersandar pada bahu kursi. ''Kadang aku lelah menjalani kehidupan seperti ini.'' Gege yang akan kembali ke studionya, berbalik sejenak. ''Tapi kembali ke masa lalu juga bukan pilihan bukan?'' Perkataan Gege membuat Sonya tersenyum tipis, lalu membenarkan dengan anggukan kepala. ''Never,'' gumamnya tanpa ragu. Sonya tertidur di dalam kamar Gege. Sedangkan sang pemilik kamar sibuk menggapai kreatifitasnya di studio. Sonya bahkan melewatkan makan malam, karena terlalu lelah secara fisik dan mental dan itu membuat Gege tidak tega membangunkan wanita itu. Tepat pada pukul enam pagi, sebuah suara bising memaksa Sonya membuka matanya. Ia mengenali suara tersebut sebagai bunyi nada deringnya pada ponsel model lama yang bahkan hanya mengandalkan jaringan 3G saja. Maklum saja, ponsel pintar yang selama ini digunakannya bekerja, telah dimatikannya sejak kemarin. Tanda tidak ingin diganggu, karena beberapa produser acara talk show mengetahui nomornya pada ponsel pintar tersebut. Kening Sonya berkerut menatap layar ponsel lawasnya. Sebuah nomor yang tidak dikenalnya kini memanggil suara padanya. Ia tampak ragu mengangkatnya, tetapi nomor pada ponsel itu hanya diketahui oleh segelintir orang yang benar-benar dekat dengannya. Atas dasar itu, ia mencoba mencari tahu siapakah gerangan yang berhasil mengetahui nomor rahasianya itu. ''Halo?'' angkat Sonya berbicara pelan. ''Sonya?'' Sonya terlonjak kaget, merasa familier dengan suara pria yang meneleponnya. ''Nevan?'' ''Ya ini aku. Bisa kita bertemu?'' Sonya terperanjat mendengar suara Nevan yang bernada tidak seperti meminta, melainkan memerintah dirinya. ***

Bab 3 Bertemu Kekasih Palsu

''Sonya, ayo sarapan.'' Gege memasuki kamarnya, mendapati Sonya tengah duduk terpaku di atas kasur sambil menatap teleponnya yang dipegangnya. Ia lalu mendekat dan menepuk punggung sahabatnya itu. ''Apa kau kerasukan sesuatu?'' Sonya menoleh dan menatap lekat Gege. ''Gawat.'' ''Apa?'' tanya Gege bingung. Tanpa menjawab, Sonya lalu bangkit dari tempat tidur. ''Nevan mau bertemu denganku.'' Alis Gege terangkat, namun wajah wanita itu tidak benar-benar terkejut. ''Lalu?'' ''Aku tidak mungkin kembali ke apartemenku saat ini, wartawan dan media pasti masih berada di depan gedung dan mencurigai setiap mobil yang masuk bahkan petugas kebersihan mungkin juga dipakai mereka sebagai mata-mata,'' terang Sonya sambil berpikir keras. Gege yang masih belum mengerti hanya terdiam sejenak. Ia kemudian berniat keluar dari kamar untuk menuju meja makan. Namun tangannya ditahan oleh Sonya. ''Nevan akan ke sini!'' ''Apa?'' Gege segera berbalik begitu mendengar ucapan wanita itu. ''Apa maksudmu?'' ''Ge, aku tidak mungkin bertemu dengan Nevan di kafe atau restoran, karena pelayan dan pengunjung bisa mengenali kami,'' balas Sonya dengan nada serius. ''Lalu kenapa harus di sini?'' tannya Gege merasa sedikit keberatan. ''Ini tempat yang sempurna untuk pertemuan kami. Namun yang lebih penting adalah ... aku butuh pakaian terbaikmu,'' ujar Sonya lebih memusingkan hal lainnya. ''Maksudmu kau ingin meminjam bajuku?'' Sonya mengangguk dengan cepat. ''Tidak mungkin aku bertemu dengan Nevan dengan penampilan kucel seperti ini. Terlebih aku ini ... seorang selebritis,'' ucapnya meletakkan tangannya di depan dada. Gege menghela napas frustrasi. ''Bukankah Nevan sudah melihat kecerobohanmu sewaktu mabuk dan tertidur di apartemen Erlangga?'' ''Oleh karena itu, kali ini dia harus terkesan, agar tidak meremehkanku dan ... memanfaatkan gosip tentang kami dengan seenaknya.'' Sonya tahu pasti apa motif Nevan menyetujui rencana gila Erlangga agar mereka mengaku di depan media sebagai pasangan kekasih. Sonya merasa dirinya akan sedikit direpotkan oleh Nevan yang mengakuinya sebagai kekasih untuk lelaki itu menghindari perjodohannya yang telah diatur oleh orang tua pria itu. Pada akhirnya nanti ia yakin bahwa Nevan akan membawanya bertemu dengan orang tua lelaki itu. "Kau tahu bukan, aku tidak mempunyai pakaian mewah dan glamor seperti kesukaanmu," ujar Gege yang bukan tipikal wanita yang suka berbelanja pakaian. Ia hanya lebih suka memakai pakaian yang nyaman di tubuhnya dan cenderung membeli pakaian yang unik dan penuh warna. Sonya mendesis sejenak. Ia lalu segera mendekati lemari Gege dan membukanya dengan cepat. ''Kau pasti memiliki sesuatu yang bisa kupakai?'' Tangan Sonya kemudian putus asa memilah pakaian Gege yang kebanyakan hanya berjenis kaus oblong, sweater, jaket denim atau overall. Bukan sama sekali gaya berpakaiannya. ''Kau benar-benar tidak mempunyai pakaian yang menunjukkan sisi feminim dan keluguan?'' tanya Sonya menyipitkan mata. Gege mendengkus pelan. ''Kau bahkan tidak lugu Sonya.'' ''Bagaimanapun aku butuh kesan wanita yang sempurna di hadapan Nevan nanti,'' balas Sonya kini memijit pelipisnya. ''Oh sepertinya aku ada.'' Gege yang mengingat sesuatu kemudian membuka lemarinya yang satu dan Sonya mengetahui dengan jelas bahwa itu lemari berisi pakaian Gege yang sudah tidak terpakai, namun masih layak dan biasanya Gege akan memilah-milihnya untuk disumbangkan ke yayasan amal yang membutuhkan. Gege kemudian mengeluarkan salah satu baju bergaya printed long dress yang berwarna putih dengan corak bunga kecil yang minimalis dan Sonya mengenal dengan jelas gaun panjang tersebut. ''Kau tidak pernah memakainya?'' tanya Sonya kini menatap serius Gege. Gege mengulas senyum tipis. ''Pernah ketika merayakan hari itu.'' Sonya mendengkus pelan. ''Aku memberimu tahun lalu gaun ini sebagai hadiah ulang tahun. Kau tahu? Ini merek Chanel dengan edisi musim panas terbatas!'' ''Kau tahu bukan Sonya bahwa gaun seperti ini bukan gayaku dan sesuatu yang bukan diriku, membuatku tidak akan nyaman memakainya,'' kilah Gege menjadikan Sonya berdecak lidah. ''Baiklah. Kurasa ini cukup. Aku akan mandi dan ... kau pasti punya pakaian dalam baru bukan?'' Tawa Gege langsung membahana. ''Tentu saja, pelancong sepertiku selalu punya persiapan seperti itu.'' Tanpa membuang waktunya Sonya segera masuk ke kamar mandi untuk selanjutnya bersiap nanti, sebelum Nevan datang ke apartemen Gege. ♥♥♥ Pada tempat lain, Erlangga kini menikmati waffle dan americano sambil menatap Nevan yang terlihat santai membaca artikel melalui ponsel lelaki itu. ''Kau benar-benar ingin tahu tentang Sonya?'' tanya Erlangga serius. ''Bagaimanapun beritanya sudah keluar dan Sonya telah mengkonfirmasinya atas kesepakatan kami ... kurasa sebentar lagi Ibu akan mendengar kabar itu dan ... meminta bertemu dengan Sonya,'' jelas Nevan dengan santai. Erlangga mengusap dagunya. ''Baiklah. Sonya debut beberapa tahun sebelum aku melakukannya.'' Erlangga yang diharapkan akan membantu Nevan bekerja di perusahaan, nyatanya memutuskan terjun ke dunia hiburan setelah lulus kuliah jurusan Teknik Arsitektur. Menjalani kuliah susah payah, tidak membuat lelaki itu berniat berkarier pada bidang tersebut. ''Apa yang ingin kau ketahui soal Sonya?'' tanya Erlangga ingin mengetahui lebih spesifik informasi yang ingin didapatkan oleh kakak laki-lakinya itu. ''Sifat, latar belakang keluarga, pendidikan, skandal dan ... mantan kekasihnya.'' Erlangga melongo mendengar perkataan Nevan. ''Aku menjawabnya, bukan berarti aku kenal baik dengan Sonya. Beberapa kudengar dari rekan selebritis lainnya. Kau tahu bukan, beberapa artis wanita yang iri akan kesuksesan Sonya sering membicarakannya.'' Nevan mengangguk kecil. ''Kau sendiri bertemu pertama Sonya di lokasi syuting?'' Kepala Erlangga menggeleng dengan cepat. ''Aku bertemu dengannya ketika kuliah di Amerika Serikat, tapi ... secara sifat aku akan mengatakan sesuai kesannya terhadap Sonya ketika bertemu wanita itu. Sonya baik dan ... apa yang cerminan dalam layar kaca dan artikel, sebagian besar tidak seperti itu.'' Erlangga menyinggung tentang bagaimana pemberitaan terus menggambarkan sosok Sonya yang glamor, elegan, seksi dengan tubuh berbalut berbagai brand ternama. ''Latar belakang keluarga?'' Erlangga termenung sejenak. ''Sonya jarang menyinggung soal keluarganya, menurut artikel ibunya telah meninggal dan ayahnya tinggal di luar negeri,'' lanjutnya bercerita. ''Bagaimana dengan pendidikan dan mantan kekasihnya?'' tanya Nevan sekali lagi. Erlangga berdecak lidah. ''Pendidikan? Apa hubungannya dengan kesepakatan kalian? Tenanglah, Sonya itu sarjana dan ... soal mantan kekasih, yang kuketahui ... selama menjadi artis, Sonya hanya pernah menjalin hubungan dengan dua lelaki.'' ''Siapa mereka?'' ''Hm, pertama adalah seorang pemain sepak bola dan mantan Sonya katanya minta putus, karena Sonya hampir tidak punya waktu untuk sang mantan. Kemudian yang kedua adalah sesama pemain film, tapi rumor mengatakan bahwa mereka menjalin hubungan untuk menaikkan pamor film yang mereka bintangi,'' jelas Erlangga terperinci. ''Mereka terlibat cinta lokasi?'' tebak Nevan. Erlangga menjentikkan jari membenarkan. ''Walaupun sudah banyak penyanyi ataupun aktor lain menyatakan perasaannya kepada Sonya.'' ''Bagaimana kau tahu?'' ''Karena sebagian besar adalah temanku di dunia hiburan. Bahkan beberapa di antaranya tergila-gila pada Sonya.'' ''Lalu skandal?'' '''Terbaru adalah penyalahgunaan obat-obatan terlarang, tapi Sonya dibebaskan, karena negatif, meski itu ditemukan di tasnya.'' Nevan kemudian bangkit berdiri. ''Aku mengerti.'' Ia berbalik badan dan berlalu pergi. Meninggalkan Erlangga yang kini bersedekap di depan dada. ''Apakah Nevan bisa mengatasi Sonya?'' Ia tidak menampik bahwa beberapa sifat Sonya menurutnya cukup gila juga. ♥♥♥ Nevan menyetir langsung menuju salah satu gedung apartemen di mana Sonya memberinya alamat melalui telepon tadi. Ia bisa melihat bahwa apartemen tersebut bukan yang terbaik di Jakarta, tetapi menarik karena berada di dekat lautan. Seperti dugaannya, ia sama sekali tidak melihat wartawan atau kerumunan orang, sehingga bebas untuk masuk lobi. Pria itu kemudian naik ke salah satu unit apartemen yang disebut oleh Sonya tadi. Begitu berdiri di depan pintu, ia segera memencet bel dan pintu apartemen terbuka. Menampilkan sosok Sonya yang sudah berpakaian rapi dengan hiasan wajah, lengkap dengan kacamata hitam. Tidak lupa boots panjang berhak tinggi yang juga dipakainya. ''Ayo masuk,'' seru Sonya pelan memandang Nevan dari balik kacamatanya. Ia lalu menjatuhkan bokongnya di atas sofa. Sedangkan Nevan duduk di depan Sonya sambil menatap datar wanita itu. ''Jadi apa tujuanmu mau bertemu?'' tanya Sonya melipat kakinya satu sama lain. ''Apakah kau tidak merasa gelap? Kau membelakangi jendela dan ini terlalu pagi untuk memakai kacamata hitam ... bukan, ini bahkan di ruangan tertutup,'' ujar Nevan meragukan analisis sifat Sonya yang didengarnya dari Erlangga tadi. Tanpa Nevan sadar, ada Gege yang terkekeh mendengar penuturan pria itu dari balik pintu kamar. Sonya mendengkus pelan. Ia melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di atas meja. ''Kenapa kau ingin bertemu?'' tanyanya kini ketus. ''Kurasa kita butuh bukti untuk membenarkan tentang hubungan kita,'' ujar Nevan menjadikan dahi Sonya berkerut. ''Bukti?'' ''Kau pikir media dan masyarakat akan langsung percaya?'' Sonya tersenyum miring. ''Mereka hanya butuh konfirmasi dariku. Lagipula kencan setiap artis selalu privat.'' ''Tapi tidak denganku,'' balas Nevan dengan cepat. ''Apa maksudmu?'' tanya Sonya tidak mengerti. ''Ibuku sebentar lagi mungkin ingin bertemu denganmu,'' jawab Nevan dengan wajah serius. Sonya berusaha tetap tenang. ''Ibumu pasti mengenalku. Dia pasti akan langsung percaya, cukup kita bertemu nanti tanpa harus ada bukti segala,'' ujarnya merasa bahwa bukti yang diinginkan Nevan akan terasa merepotkan baginya. ''Ibuku tidak mengenalmu.'' Tangan Sonya melambai. ''Tidak mungkin. Wajahku hampir setiap hari menghiasi layar televisi melalui iklan. Belum lagi jika diundang ke acara on air dan pemutaran filmku,'' tuturnya terdengar sombong. ''Ibuku tinggal di luar negeri. Dia seorang Diplomat di Belanda,'' balas Nevan menjelaskan dengan cepat. Hal itu kemudian membuat Sonya terdiam. Ia mengira bahwa ibu Nevan mungkin ibu rumah tangga biasa atau kaum sosialita yang sering ditemuinya. Namun kata diplomat membuatnya langsung membayangkan bahwa ibu Nevan bukan jenis wanita yang bisa dibuatnya terpesona dengan senyuman manis dan foto bersama. ''Jadi jika dia ingin bertemu denganku, maka ... aku harus terbang ke Belanda?'' tanya Sonya memikirkan hal lainnya. Nevan mengangguk pelan. ''Ibuku tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di sana. Sekarang ... bisa kita bicara tentang membuat buktinya?'' Sonya menggigit bibir bawahnya. Merasa bahwa rencana awal Erlangga kini malah menjebaknya dalam sebuah kerumitan yang sangat kompleks. ''Baiklah, aku mengerti,'' balasnya dengan helaan napas panjang, lalu mulai melepas satu per satu boots yang dipakainya. Menjadikan Nevan mengangkat sebelah alisnya begitu melihat kaki polos Sonya yang kukunya telah dicat warna merah. Terlebih lagi Sonya seolah merenggangkan kedua kakinya itu. ♥♥♥

Lanjut baca