Jakarta, Kota Megapolitan yang selalu jadi tujuan kaum urban bertaruh nasib. Mentari pagi ini bersinar dengan anggun menampakkan kuasanya sebagai Ratu Semesta. Seorang wanita bertubuh mungil terlihat ikut berdesakan antre hendak memasuki bussway. Badannya yang mungil memudahkannya menyusup di antara para penumpang lain. Sial! tak ada kursi kosong. Dengan berat hati, dia berdiri dengan menenteng tas kerjanya. Yah, tak apalah daripada terlambat. Perkenalkan, namaku Freeya Aqila Hasbie Rasyid. Kata teman- temanku, wajahku yang oriental ini sangat khas. Yah, tentu saja, aku keturunan campuran Tionghoa dan Turki. Berwajah oriental, tapi tak bermata sipit. Perawakanku yang mungil kudapat dari ibuku yang Tionghoa. Sementara rambut cokelat dan mataku yang hijau kecoklatan, kudapat dari ayahku yang Turki. Ini adalah hari pertamaku kerja di Jakarta. Sebelum ini, aku kerja di Bandung, di sebuah perusahaan kecil. hingga F. Company merekrutku. "Presdir, bukankah ini sama artinya Anda menjualku?" protesku dua minggu yang lalu. Mengingat aku direkrut F. Company demi perusahaan yang aku tempati mendapat suntikan dana. "Aya, F. Company adalah perusahaan besar, kau bisa mengasah kemampuanmu di sana," terang Presdir Antoni. Aku hanya bisa mendengus kesal. Huft! Karena melamun, aku tak sadar kalau aku sudah sampai di halte depan gedung F. Company. Benar kata Arsyila, sahabatku, F. Company memang perusahaan besar dengan gedung yang begitu megah. Dengan langkah pasti, aku memasuki lobi perusahaan. Seorang resepsionis cantik menyambutku dengan senyum ramah. "Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" Kusodorkan surat panggilan kerja yang kudapat tiga hari yang lalu. Gadis itu sekilas melihatnya. Dia tampak berbincang dari intercom dan tersenyum. "Mbak Freeya, sudah ditunggu HRD." "Silakan naik ke lantai 8! Ruang HRD, tepat di depan lift." "Terima kasih." Aku berjalan buru-buru hendak memasuki lift, hingga tiba - tiba aku menabrak seseorang. Bbbrruuukkkk! Ceklek. Tubuhku terhuyung membuat salah satu heelsku patah. Sial! Kupandangi punggung lelaki yang bertabrakan denganku berlalu tanpa sepatah katapun. "Dia pergi tanpa mengucapkan maaf?" gumamku dalam hati. Sekalian kupatahkan heels yang satunya. Yah, walaupun aku jadi susah berjalan. Tok tok tok. Kuketuk pintu bertuliskan R. HRD. "Masuk!" Kkkrrreeekkkk. Suara pintu berderit saat kubuka. Di belakang meja nampak sesosok lelaki tampan berpenampilan rapi, tersenyum kearahku. Tangannya terulur mengisyaratkan agar aku segera duduk. "Terima kasih," ucapku sembari duduk. "Freeya Aqila Hasbie Rasyid," baca lelaki yang namanya tertera di papan di meja bagian depan Anggara Samudra. "Silakan tanda tangani kontaknya!" ucapnya seraya menyodorkan selembar kertas di atas map biru. "Baca dulu!" "Kamu terikat kontrak 5 tahun dengan perusahaan kami." "Silakan ajukan keberatan, jika ada poin kontrak yang janggal!" Setelah memastikan sekali lagi tak ada yang janggal, kububuhkan tanda tanganku di atas kertas putih itu. Lelaki itu menyodorkan sebuah tanda pengenal. Ada fotoku di sana. "Aku Anggara Samudra." "Kamu bisa panggil aku, Gara!" "Selamat bergabung di F. Company!" Gara mengulurkan tangannya yang langsung kujabat dengan penuh semangat. Kusunggingkan senyum termanisku. "Mari! Kutunjukan ruanganmu!" "Iya." Aku mengekori Gara yang melenggang sembari menunjukkan ruanganku. Divisi Pengembsngan Proyek berada di lantai 40. Di ruangan ini, ada sekitar 12 orang.yang tampak berkutat dengan laptop masing-masing. Mereka serempak berdiri saat melihat Gara dan aku masuk. "Selamat pagi." "Pagi ... !" "Perkenalkan, dia adalah Ketua Divisi Pengembangan Proyek yang baru, Freeya Aqila Hasbie Rasyid," kata Gara dengan suara tegasnya. "Selamat datang dan selamat bergabung." "Terima kasih." "Mohon kerja samanya," ucapku dengan sedikit menunduk. Mereka satu per satu menyalamiku dan memperkenalkan diri. Seorang gadis cantik menyalamiku dan memelukku. "Aku Kinar. Kamu akan duduk bersebelahan denganku," ujarnya. "Panggil saja aku, Aya!" "Oke." Kinar menatap ke arah bawahku saat dia menyadari jalanku yang aneh. Aku tersenyum kecut menyembunyikan rasa maluku. "Kenapa?" "Patah saat aku tabrakan sama orang tadi di depan lift. Daripada aneh, ya sekalian kupatahkan saja yang satunya," terangku. "Tenang! Aku pesankan sebentar." *** Di ruangan Direktur F. Company, ruangan yang sebagian besar bersekat kaca ini terlihat tenang. Di belakang meja, duduk seorang lelaki tampan dengan perawakan tinggi atletis tengah memainkan sebuah papan nama dari kayu berlapis kaca, bertuliskan CEO DEMAS FABIAN. Aku berdiri mematung. Huh! Aku mendengus, bukankah dia lelaki yang menabrakku tadi? Dia CEO yang membeliku? Terus kumainkan jemariku sembari menunggu dia selesai memeriksa CV milikku. Dia menatapku dengan tatapan yang tak kusukai. Dia bangkit dan ganti duduk di atas meja. "Freeya Aqila Hasbie Rasyid, Ratu Presentasi, benar?" Aku hanya mengangguk. "Berapa lama kerja di perusahaan sebelumnya?" "Bukankah sudah tertera di CV? Ngapain nanya?" gumamku dalam hati. "2 tahun," jawabku datar. "Tahu kan, kenapa aku merekrutmu?" "Tahu." Aku masih ogah-ogahan menjawabnya. Entah kenapa, aku begitu kesal dengan lelaki di depanku ini. Aku merasa seperti budak belian. Dia memicingkan mata ke arahku. Aku balas menatapnya. Disodorkannya setumpuk berkas kepadaku. Tanganku hampir saja kewalahan. "Revisi! Sebelum jam 3 sudah harus ada di mejaku!" perintahnya dingin. "Hah! Yang benar saja? Anda bercanda?" protesku geram. "Oh! Protes? Akan aku tambah pekerjaanmu!" ancamnya. "Tapi ini penindasan!" "Anda menukarku dengan suntikan dana untuk perusahaan Tuan Antoni!" "Tapi, bukan berarti Anda bisa memperlakukanku seperti budak belian!" "Berlaku semena-mena!" "Semena-mena? Aku tidak suka ada orang yang berani membalas tatapanku," semprotnya. "Keluar! Dan kerjakan perintahku!" bentaknya. Tanpa ba bi bu, aku langsung membalikkan badan. Dalam hati, aku mengumpat. "DASAR TIDAK WARAS!" baru sampai di pintu, suara beratnya menghentikanku. "Kenapa sepatumu?" Dia bertanya dengan nada dingin. "Menurutmu?" tanyaku dengan sedikit menekan gigiku. "Ada lelaki tidak bertanggung jawab menabrakku. Dia berlalu begitu saja tanpa ucapan maaf." "Saya permisi!" Aku meninggalkan ruangan itu tanpa memedulikan dia yang masih terpaku. Hah? Hari-hari berikutnya, pastilah akan seperti neraka bagiku. *** Pada saat jam makan siang, Kinar menyodorkan sebuah bungkusan dan nasi kotak untukku. Dengan penuh semangat kubuka bungkusan itu. Heels warna hitam yang sama persis dengan punyaku. Aku langsung memakainya. Senyumku terkembang menatap Kinar. "Akan aku ganti," ucapku. "Jangan membuatku malu!" "Anggap itu hadiah perkenalan kita!" "Terima kasih." "Ayo makan!" ajaknya. "Hah? Kalau aku makan, yang ada pekerjaanku tidak kelar," keluhku. "Presdir biasanya tak sekejam ini!" "Huuh! Entahlah." "Mungkin dia sensi padaku." Kupegangi kepalaku yang mulai senut-senut. Layar komputerku tampak garis-garis efek mataku yang mulai pedih. Sial! Hari pertama kerja, aku sudah tersiksa. Dan aku harus menjalani ini selama 5 tahun? Tepat pukul 3 sudah, kusodorkan berkas revisi di atas meja presdir dingin itu. Dia menatapku tajam. Segera kualihkan pandanganku mengitari ruangan. "Not bad!" ucapnya. Hhuuuhhh! Aku mengerjakannya dengan maraton. Hampir membuat kepalaku pecah dan hanya terlontar kata "not bad" dari mulutnya. Ini batu saat pelajaran Bahasa Indonesia tentang kalimat pujian, dia absen kali ya? "Keluarlah! Eh ... bawa ini! Pelajari! ini, bahan presentasi buat besok!" Presdir Demas menyodorkan proposal. "Baik." "Kalau tidak ada hal lain, saya permisi," pamitku sambil mengangguk. "Silakan!" sahutnya tanpa menoleh ke arah tempatku berdiri. Sumpah! Kalau aku tidak butuh pekerjaan, sudah kulempar CEO songong itu pake heels. Ini hari pertama kerja dengan kesan pertama yang AMBYYAARRR.
Kulangkahkan kakiku menyusuri trotoar. Badanku berbelok memasuki superblock Apartment Signature Park Grande dibilangan MT Haryono Jakarta Timur. Kalian pasti bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang karyawan biasa sepertiku bisa tinggal di kawasan superblock ini? Sedikit bocoran ya. Apartment ini aku dapat dari Kail, seorang lelaki tampan tajir melintir blesteran indo-jerman. yang selama tiga tahun ini aku pacari. Pertama, aku menolak keras pemberiannya. Namun, Kail berdalih ini demi keamananku. Karena dia tak bisa menjagaku, akhirnya untuk menghindari perdebatan lebih panjang, aku menerimanya. Terserahlah jika orang berkata aku ini matre, tapi setiap wanita menginginkan kenyamanan bukan kemelaratan. Aku tidak munafik. "Selamat malam, Pak," sapaku pada kedua security yang berjaga. "Malam, Neng." "Baru pulang, Neng?" "Iya, Pak." "Mari, saya masuk dulu Pak!" "Iya, silakan!" Aku melenggang memasuki lobi apartment. Sayup terdengar ponsel di dalam tasku bergetar. Intro lagu Wali Band: Di dirimu aku menemukan Yang mencintaiku Yang menyayangiku Di dirimu aku ketakutan Kau biarkanku Kau tinggalkanku Sepenggal lirik lagu milik Wali Band ini menandakan ada panggilan masuk di ponselku. Aku coba merogoh ponsel di dalam tasku. I get it ... ! Terpampang wajah tampan Kail kekasihku di layar ponselku. Serta merta aku mengangkatnya. "Sayang .... " "Miss you!" seruku renyah. "Miss you too, Sayang!" "Sudah pulang?" "Ini baru sampai di lobi." "Bagaimana kerjamu hari ini?" "Buruk," sahutku lesu. "Why?" "Bosku menyebalkan!" "Baru pertama kerja, dia sudah memberiku setumpuk berkas." "Dia itu dingin seperti sebongkah es!" "Wajahnya datar, serius banget, udah kayak jalan tol," lanjutnya. "Dulu pas pembagian senyum, dia absen kali ya?" Terdengar Kail tergelak keras. Kulihat pintu lift terbuka dua orang keluar. aku buru-buru masuk. Hatiku serasa mencelos saat aku balik badan, orang yang aku bicarakan berdiri tepat di hadapanku bersama wajah dinginnya. "Sejak kapan dia berdiri di sana?" gumamku dalam hati. "Apa dia mendengar semua ucapanku?" batinku. Kontan aku menutup panggilan teleponku. Kutekan anak panah naik menuju lantai 5. dia keburu masuk sebelum pintu lift menutup. Oh God! Dia berdiri tepat di sebelahku. What? Tinggiku tidak sampai sebahunya? Ni orang tinggi amat, ya? dari bayi dikasih makan galah kali, ya? Dalam hati aku terus berhitung, ni bongkahan es batu apa iya tinggal di lantai 5 juga? Sekilas kulirik wajah bongkahan es itu. Hmm ... ! Dilihat dari dekat, dia cukup tampan, ah tidak! Ssangat tampan malah. "Hheeeiiii, Aya' apa kau ini? Mana boleh kau memuji lelaki lain!" "Kail jauh lebih tampan," gumamku pada diriku sendiri. Rahangnya yang sedikit menonjol, mata sipit, alisnya sedikit tebal, hidung mancung, bibirnya yang merah berpadu dengan kulit putih bersih, disempurnakan dengan tubuh yang tegap atletis. Uwoow!! dia mirip artis Korea yang sering aku tonton. Do Kyung Soo, ah bukan! Bukan! Dia lebih mirip Hsu Thassapak dengan penampilannya yang cool abis. Ini mana yang benar? "Tapi dia memang sangat tampan," batinku Pintu lift terbuka, aku bergegas keluar. Aku kira, dia akan terdiam di lift menuju lantai berikutnya. Namun, dugaanku salah. Dia mengekor di belakangku. Aahh tidak! Tidak! Jangan lagi, terdengar suara pintu berderit. Aku menoleh. Whaattt! Dia tinggal bersebelahan denganku? Aku buka pintu dengan sidik jariku. Aku nyalakan lampu dan berlari ke dapur. Kubuka kulkas untuk mengambil air minum dan kutenggak hingga setengah. "Kesialan apa ini?" "Aku harus tinggal bersebelahan dengan bongkahan es itu?" "Masih belum cukup apa, menyiksaku di kantor?" Aku bermonolog sendiri sambil mondar-mandir. sesekali kutarik napas dalam-dalam. Cobaan apa ini? Kuacak-acak rambutku meskipun tak gatal sama sekali. "Bodo ah!" Pagi ini, aku sedang mematut diri di depan cermin. Aku memakai rok sepan setinggi lutut warna tosca tua dan atasan tosca muda dengan kerah membentuk dasi panjang yang membalut tubuhku dengan pas. Rambut panjang cokelatku aku ikat satu. Kupoles wajahku naturaly Kusempurnakan penampilanku dengan heels coksu dan jam branded perfecto! Aku turun ke kantin apartement untuk sarapan. Sudah kupegang piring dan gelas sampai kulihat bongkahan es sedang menikmati makanannya. Aku sedikit kikuk. Aku sapa tidak, ya? Sapa? Tidak? Sapa? Tidak? Ah, bodo amat! Di kantor dia memang bossku, tapi di sini dia orang yang tak ingin aku kenal. Kuitarkan pandanganku sampai kutemukan meja kosong di ujung. aku baru akan mulai makan saat kulihat dia beranjak pergi. "Hei ... ! Aku di sini! Apa kau tak melihatku sama sekali?" jeritku dalam hati. "Dasar batu ... !" gerutuku. Saat keluar lobi, aku berpapasan dengan Haris, asisten Presdir Demas. Dia menatapku tak berkedip membuatku risih. "Sampai segitunya Bang, ngeliatin aku?" "Woi ... ! Aku masih makhluk bumi juga loh, ya," gumamku dalam hati. Kantor sudah cukup ramai. a1ku langsung menuju ruang meeting di lantai 58. Di sana sudah ada Qalila, sekertaris Presdir Demas. Dia tampak sibuk nenyalakan layar LED dan membagikan proposal di tiap meja sehingga dia tidak menyadari keberadaanku. "Selamat pagi," salamku. "Selamat pagi, Mbak Freya." "Awal sekali?" "Biar bisa bersiap-siap!" "Hm ..., tak salah Presdir merekrutmu." "Waktu dan hasil adalah prioritas," ujarku. "Salut lah," pujinya. "Sudah lama jadi sekertaris Presdir?" "Sudah lima tahun." Aku terdiam beberapa waktu. 5 tahun? Dia mampu bertahan selama itu dengan Presdir yang dingin itu? Semua Ketua Divisi sudah berkumpul. Aku duduk di posisiku hampir sebagian besar ketua divisi adalah lelaki. Hanya aku dan dua gadis di depanku yang perempuan. 10 menit berlalu, muncul Presdir Demas dengan setelan jas abu-abunya matanya lurus ke depan tanpa ekspresi. "Waktuku tidak banyak, silakan mulai rapatnya!" "Divisi Pemasaran." Kulihat wajah ketua divisi itu sangat tegang. Dengan sedikit gemetar, dia memaparkan kurva pemasaran yang terus menurun sebulan ini. "Bukankah aku sudah suruh kalian cari solusinya?" bentaknya. "Bagaimana kalau kita turunkan harga di pasaran?" Presdir Demas melotot. "Kau pikir, perusahaan ini tempat obral apa?" bentaknya lagi. "L Company melounching produk laptop terbaru mereka 1 bulan sebelum kita." "Makanya, pemasaran semakin menurun." "Apa ada usul lain?" "Bagaimana kalau kita merilis rancangan berikutnya?" "Itu akan berpengaruh pada perilisan berikutnya," potongku Presdir terdiam sesaat. Dia menopang dagunya dengan kedua punggung tangannya. "Tambah fungsinya!" "Tekan budgetnya!" "Tingkatkan performa dan designernya!" "Saya mau, semua revisi sudah harus ada di mejaku nanti sore," ucapnya seraya menatap tajam kearahku. "Tapi Presdir-" "Tolong beri kami sedikit kelonggaran waktu!" pintaku. "Tidak ada alasan." "Kami manusia, bukan robot. Otak kami ada overload-nya," tukasku. "Aku membayarmu untuk bekerja, bukan untuk melawanku," semprotnya. "Tapi bukan untuk ditindas dan dieksploitasi." "Kau! Salin peraturan perusahaan 10 kali!" "Gajimu aku potong 50% karena berani melawanku!" "Ini semena-mena!" teriakku. "Pastikan berkasnya ada di mejaku!" "Atau kau hanya melihat gajimu berlalu begitu saja," ancamnya sambil lalu. "Dasar batu ..., " batinku geram. "Kau barani sekali!" "Jangan membuat masalah dengan Presdir!" saran Qalila. "Cepat minta maaf!" "Aku tidak salah, untuk apa minta maaf ?" "Kau ini!" Aku sampai melupakan makan siangku gara-gara berlarian ke sana ke mari minta data dari tiap divisi. "Hah, biar kukebut seperti apapun tidak akan selesai sore ini. Teman satu divisiku sudah menyerah. Aku melangkah menuju mesin fotocopy sebelum ke tempat Presdir. Hei ... ! Kenapa mesin ini tak beroperasi? Kuperiksa sepertinya baik-baik saja. Sedikit kupukul dan tiba-tiba menyala. Aku terkesiap. Haaah, lega. Aku sudah berdiri di depan ruangan Presdir bersama berkas dan mackbook-ku. Aku hanya perlu mengumpulkan keberanian untuk menemuinya. Nok nik rasanya jantungku. Dengan tangan bergetar, kuketuk pintu itu. Tok tok. tok. "Masuk!" Pintu berderit saat kudorong. Nahasnya,lengan bajuku kecantol gagang pintu. Aku hampir kehilangan keseimbangan, kertas berkasku berterbangan karena aku mencoba menyelamatkan mackbook-ku. "Aaaaaaaahhhhhh!" "Berkasku," pekikku. Kupunguti kertas yang berserakan di lantai. Dari tempatku ini, aku bisa melihat bongkahan es itu terpaku menatapku. Oh God! Kulihat sedikit senyum dari sudut bibirnya yang membentuk lesung di pipinya. "Do Kyung Soo!" pekik hatiku. Kusodorkan berkas yang sudah kurapikan. "Itu baru setengah. Setengahnya besok ya, Presdir?" rajukku. "Designernya?" Kuulurkan mackbook-ku. Dia menatap bergantian dari mackbook ke arahku. Setelah menatapku kembali ke mackbook, aauuuhhhh, aku jadi salah tingkah. "Divisi kami menyanggupi permintaan Anda. tapi besok." "Baiklah." "Kau boleh keluar!" Aku menatapnya dengan aneh. Dia bahkan tak berterima kasih sama sekali. "Baik." Aku sudah di ambang pintu saat kudengar dia menahanku. spontan aku menoleh. "Iya." "Besok berpakaianlah lebih longgar!" perintahnya tanpa melihatku. Kupandangi tubuhku sendiri dari atas ke bawah. Tidak ada yang salah. Pakaianku lebih sopan daripada karyawati lain yang memakai rok mini atau mini dress tanpa lengan. "Ni orang, sakit?" desisku. "Baaaiiikkk, Presdir!"
Jam dinding yang menempel di dinding ruang tamu berdenting. Memekik memecah kesunyian malam. Teng teng teng teng. Berdenting entah berapa kali. Kututup telingaku dengan bantal. Aku mengutuk dalam hati. "Awas aja, kulepas besok bateraimu!" Baru hendak memejam ganti ponselku yang bergetar tanpa kulihat ID Callernya langsung kuselipkan ponselku di balik bantal. "Tolong! Aku mau tidur," ucapku karena ponsel terus bergetar. "Aku ngantuuukk." Kulanjutkan tidurku, tak kupedulikan ponselku yang bergetar. Hingga suara dentuman keras seperti petasan memaksaku bangun. Kutarik ponselku dari balik bantal. Ada puluhan panggilan vicall dan pesan dari Kail. HAPPY BIRTHDAY MY LOVE! Turunlah! Aku di bawah. Begitu bunyi pesannya. Serta merta aku berhamburan keluar. Aku baru ingat ini adalah hari ulang tahunku. Welcome to 24 years old untuk diriku! Saat tiba di lantai bawah, aku dibuat terkesima oleh suasana lobi yang tersulap menjadi lautan bunga, boneka, dan puluhan kado. Aku berlarian menghampiri semua itu seperti orang gila. Kucari sosok yang kurindukan di setiap sudut. Tidak ada laku melangkah keluar. Tiba di tangga terakhir, aku dikejutkan oleh suara dentuman kembang api yang membuncah di udara. Kudongakkan kepalaku terpampang di langit malam bendar cahaya kembang api merangkai tulisan HAPPY BIRTHDAY. Kututup mulutku yang ternganga, saking terharunya. Kurasakan sebuah tangan melingkar lembut di pinggangku dari arah belakang. Napasnya yang harum berada tepat di samping wajahku. "Happy birthday, Sayang!" bisik Kail tepat di teingaku Suaranya yang begitu lembut membuatku merinding di kecupnya tengkukku dengan lembut. Ssseeerrr! Aku serasa ingin terbang, kuremas tangannya yang melingkar di pinggangku. "I Love U!" "Love U too," balasku. "Terima kasih, Sayang!" "Ini manis sekali!" pujiku. Kail membalikkan badanku, sekarang kami berhadapan. Dipeganginya kedua pipiku di kecupnya bibirku sesaat dan tersenyum. "Ini hanya kejutan kecil." "Kita lihat kejutan utamanya!" Aku menurut saja saat Kail menarikku ke arah area parkir. Di sana kudapati sebuah mobil sport import keluaran Germany berwarna merah yang masih terbungkus plastik dihiasi pita besar warna kuning. Tak terasa, air mataku meleleh Kail tampak kebingungan. "Sayang." "Why?" "Ini spesial untuk kekasihku yang cantik." "Aku tidak mau kekasihku ini kepanasan naik busway." "Tapi Sayang, dengar!" "Aku tidak bisa menerima ini." "Ini ... ini berlebihan." "Kemarin baru saja 1 unit apartment mewah, dan sekarang mobil." "Aku bukan tak menghargai pemberianmu, Sayang." "Tapi, aku akan lebih suka bila kau donasikan uang untuk membeli mobil ini, ke panti jompo, panti asuhan, atau ke yayasan amal lainnya." "Aku pastikan, aku akan lebih mencintaimu." Kupandangi wajah tampan kekasihku ini dengan teduh. Kubelai lembut pipinya dengan penuh kasih. Kail meraih tanganku dan dikecup. Aku balas senyumnya yang manis di rengkuhnya tubuh mungilku ini dalam pelukannya. Dikecupnya rambutku dengan lembut sembari menghirup wangi rambutku. "My little angel." "Terbuat dari apa hatimu ini?" keluhnya. "Kau tahu, Sayang?" "Semua gadis menginginkan pria yang royal yang bisa memenuhi semua keinginannya." "Bahkan, tak sedikit dari mereka yang menghalalkan segala cara untuk menggait pria kaya." "Kenapa kau begitu spesial?" "Sayang tahu, untuk siapa aku tercipta begitu spesial?" tanyaku sembari mendongakkan kepalaku. "Siapa, hem?" "Mikail Machalister," kusebut namanya dengan lengkap dan tersenyum manis. Kail mencolek hidungku dan semakin mempererat pelukannya. Digoyang-goyangkannya tubuhku. "Baiklah, waktunya make a wish." Kail mengambil kotak besar dari dalam mobilnya. Dia mengapit lenganku untuk kembali ke apartment. Kail menyalakan lilinnya dan memintaku make a wish. Aku terpejam beberapa saat dan kutiup lilinnya. "Sayang, apa yang kamu minta?" tanya Kail yang penasaran. Aku tak langsung menjawab, aku juga ingin membuatnya semakin penasaran. Kupotong kuenya, dan kutaruh di piring kecil. "KAMU," ucapku seraya menyodorkan kue. "Sayangkuuuuu!" serunya dengan muka memerah. "Kemarilah!" "Tidak!" Aku bangkit dan berlari yang langsung disusul Kail. Kami jadi berkejaran di ruang tamu. "Aaaaaaahhhhhhhh!" Kail mencolekkan krim kuenya ke wajahku hingga belepotan. Aku pasang muka jelek karena kesal. "Bersihkaaaaann!" teriakku. Kail datang menghampiriku dengan membawa tisu. Aku duduk di sofa dengan napas yang masih tersengal-sengal. "Malaikatku, kemarilah!" "Hem?" Aku mendekatkan wajahku. Perlahan Kail mengusap krim di pipiku, ditatapnya mataku dengan begitu teduh. Didekatkannya wajahnya ke wajahku dekat, dekat, dekat sekali, hingga aku bisa merasakan deru napasnya yang lembut dan hangat. Saat dia mulai memiringkan kepalanya, auto mataku terpejam. Bibirnya yang lembut berpagut dengan bibirku. Dilumat dan dicecap softly. Kubalas lumatannya perlahan. Lidahnya benerobos memasuki mulutku namun hanya beberapa saat aku melepas ciumannya kami. "He-hem," tawaku. "Apa begini, cara Machalister membersihkan krim di wajah?" "I Love You, Sayang," tuturnya. "Ha ha ha lihat hidungmu!" seruku. "Kenapa?" Kucolek hidungnya dan kuperlihatkan bekas krim di ujung jariku. "Seperti badut," kelakarku. "Cantik sekali!" Kail mengecup keningku. Perlahan bibirnya turun hingga hidung kami saling bertemu. Kembali dicecapnya bibirku, bahkan kali ini jauh lebih bernafsu. Dipegangi wajahku seolah ingin menenggelamkan dirinya dalam pagutan ini. Kucoba memegangi tangannya yang mulai terasa menekanku. Kucoba undurkan kepalaku, tapi sebelah tangannya mundur dan menahan tengkukku. Bibirnya mulai turun ke leherku, disapunya dengan bersih bagian itu. "Sa ... Sayaaaaannnggg!" panggilku dengan suara bergetar. "Jangan!" "I promise I don't make kissmark at there." "Emuaaacchhh," kecupku. "Baiklah." Tergambar gurat kekecewaan di wajahnya. Kusandarkan kepalaku di dadanya yang bidang. Dia mengusap-usap lenganku. "Besok malam kita adakan syukuran di panti, bagaimana?" "Boleh," sahutku. "Aku akan habiskan banyak waktu denganmu." "Uuuuhhh! Terima kasih," seruku sumringah. "Sekarang istirahatlah!" "Aku akan pulang," pamitnya. "I love you!" seruku di ambang pintu. Kupandangi Kail yang melangkah pergi. Saat lelaki itu memasuki lift, seseorang keluar dari sana. Presdir Demas? Ini jam berapa dia baru pulang? Wajah tampannya terlihat kuyu, eeehhh! Eehh! Eehh, dia melihat ke arahku. Aku buru-buru bersembunyi di balik dinding. Secara aku hanya memakai hot pant, tank top dengan luaran transparan. Haeehh! Nanti kena tegur lagi akunya. He he! Sebelum pergi kerja, aku meminta petugas apartment untuk membungkus semua boneka dari Kail. Pagi ini, aku sedang mencatat notulen dari hasil rapat kemarin. Karena bicaranya yang nerocos kayak beo jadi aku merekamnya. Aku masih asyik dengan ponselku ketika Presdir Demas mengadakan inspeksi mendadak. Aku kaget ketika seseorang menepuk bahuku auto kuputar kursiku. "Apa sih, Nar?" Tenggorokanku tercekat saat yang kudapati bukanlah Kinar, tetapi Presdir Demas. Buru-buru kusunggingkan senyun. "Selamat pagi, Presdir!" Demas menarik paksa headphone yang masih bertengger di kepalaku hingga membuat poniku jatuh menutupi mataku. "Kasar sekali!" seruku sembari menyunggar poniku. "Bagus ... bagus sekali!" serunya seraya menjentikan jari tepat di depan wajahku. "Temanmu sibuk bekerja, kau asyik mendengarkan MP3." "Luar biasa!" "Kau lembur sampai jam 10!" tandasnya. Kurebut headphone di tangannya dan kupasang di telinganya. Dengan santai, balik kujentikkan jariku di depan wajahnya. "MP3?" "Ya ya ya. Suara Anda itu jauh lebih merdu daripada MP3 manapun." Yah, tentu saja wajahnya memerah. Karena itu bukanlah MP3, tapi suaranya saat marah-marah di rapat kemarin. "Apa dengan sifat keras Anda, memungkinkan karyawan Anda untuk dengerin MP3?" "Mimpi kali, ya?" "Lain kali, cari alasan yang lebih bagus untuk memarahiku!" cibirku. "Bawa design-nya ke ruanganku!" perintahnya sambil lalu. "Dasar batuuuuu!" geramku. "Hobi banget bikin masalah, Ay." "Kok aku sih? Dia yang mulai!" "Dia yang cari gara-gara denganku!" "Ay, apa masalahmu sama dia? Dia itu baik." "Bodo, ah. Ini sebenarnya yang salah siapa?" "Aku malas bicara sama kamu," ucapku kesal. "Ay, begitu saja ngambek!" Aku duduk menunggu Presdir selesai memeriksa design di mackbook. Tak ada pembicaraan apapun di antara kami. diam diam kucuri pandang si Batu yang cool ini. Do Kyung Soo, ah! "Apa yang kamu lihat?" semprotnya. Ampun ... ketahuan mencuri pandang. "Tiidaakkk." elakku. "Target, kapan produksi?" "Presdir menerima rancangan saya?" tanyaku girang. "Bawa saja ke bagian produksi!" ujarnya. "Yyyyyyeeeeeee!" "Yyyeeesss!" "Kau ini kekanakan sekali," cibirnya menahan senyum. "Maaf." Kata itu terlontar begitu saja dari mulutku. hingga menyulut senyum terbit dari sudut bibir Demas yang merah. "Keluarlah, dan bawa rancanganmu ke bagian produksi!" "Baik, Presdir." Di luar ruangan, aku berlonjak kegirangan, usahaku tidak sia-sia kutebar senyum sepanjang koridor. Pukul 17.00, aku keluar dari gedung F. Company, terlihat Kail sudah bertengger di mobilnya. Aku bergegas menghampirinya. "Silakan, Tuan Putri," ucap Kail seraya membukakan pintu mobil untukku. "Terima kasih!" "Siap, Sayang?" tanya Kail di belakang kemudi. "Mau kemana kita?" "Rumah DORA!" kelakar Kail yang membuatku tertawa. "Special place," kata Kail berikutnya. Mobil sport warna hitam milik Kail melaju membelah jalanan Kota Jakarta. Aku tak tahu ke mana mobil Kail ini membawaku. Karena sedikit lelah, aku lebih banyak diam. Kail sesekali mengecup punggung tanganku dan tersenyum. Setelah hampir satu setengah jam perjalanan, akhirnya mobil Kail berbelok ke sebuah jalanan yang cukup luas dengan aneka bunga yang tertata apik membentuk tulisan. LOVE CAFE Aku berdiri mengagumi bangunan yang ada di hadapanku. Love Cafe ini cukup unik. Dindingnya terbuat dari kayu berukir dihiasi lampu tumbler yang cantik. Sekali melangkah masuk, aku langsung disambut oleh suasana winter. Dua orang pelayan langsung melayaniku. Aduh ..., aku jadi merasa saltum. Aku hanya pakai mini dress yang aku beri outer half shoulder warna merah. Yah, sudahlah. Kail menarik kursi untukku. Aku ikut saja. "Ini adalah kado makan malam sederhana karena kamu menolak hadiahku kemarin." "Ini lebih dari cukup." "Ini semua adalah makanan kesukaanmu," ucapnya. "Aku tersanjung sekali! Terima kasih." "With my pleasure, Sayang." Seorang pelayan wanita membawa nampan dengan piring yang masih tertutup Kail mengisyaratkan agar aku membukanya. "Bukalah!" Kubuka tutup saji dari stainleesstele itu. Aku terkesiap karena isinya adalah sebuah cincin cantik bertahtakan berlian. Kututup mulutku karena saking terharunya. "Will you marrie me?" "Ini ... ini mendadak sekali," ucapku terbata-bata. "Sayang," desak Kail. "Aku ... aku mau," jawabku gugup. Kail menyematkan cincin itu di jari manisku. Dikecupnya punggung tanganku. "Terima kasih karena telah menerima lamaranku," ucap Kail. "Hem!" "Setelah ini, aku tidak harus tersiksa karena jauh darimu." "Aku bahagia sekali, Sayang." "Sama, Sayang," sahutku. "Ayo kita makan! Setelah ini, kita akan ke panti." "Ayoooo!" Alunan lagu romantis mengiringi makan malam kami. Hatiku kacau balau sebenarnya, Kail melamarku tanpa sepengetahuan orang tuaku. Kail mengajakku berdansa. Hatiku makin kacau. "Sayang, kita pulang!" "Sayang sakit?" "Aku hanya ingin cepat pulang." "Baiklah." Selesai membagikan bingkisan dan amplop untuk anak panti, Kail mengantarku pulang. Kail yang begitu cemas, memegangi dahiku. Aku tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Sayang," ucapku lembut. "Apa kamu tidak bahagia dengan lamaranku?" "Kamu belum siap?" "Tidak, Sayang. Aku sangat bahagia." "Nanti kalau aku sudah siap, aku akan cerita." "Baiklah. Aku antar masuk." "Tidak perlu, aku masuk sendiri," tolakku. "Take care." Kail mengecup keningku lembut. Baru aku turun dari mobil. Aku melangkah gontai memasuki lobi. Aku tertegun saat melihat sesosok yang aku kenal berdiri di depan lift. Kulongok jam di tangan kiriku. Pukul setengah sebelas, Presdir Demas baru pulang?