Bab 1 "Niar, cepat bersihkan bekas ompol anakmu ini. Bau banget kalau nggak buru-buru!" Suara Ibu terdengar sedang marah-marah pada Istriku. Aku sengaja diam dulu di balik pintu, sebelum masuk rumah. Mereka sepertinya tak menyadari kalau aku sudah datang. Diam adalah cara terbaik untukku saat ini. Aku ingin menyelidiki keadaan di sekitar rumah. "Ba-baik, Bu. Sebentar aku ambil pel-nya dulu," timpal Niar. "Kamu ini anakmu dikasih diaper napa? Bocor Mulu tuh. Rumah Ibu nanti bau semua!" Istriku hanya diam saat dimarahi seperti itu. Lalu dia ke belakang, mungkin mencari alat pel. "Kamu ini, dikasih tau malah nyelonong aja!" balas ibu tanpa adanya sahutan dari Niar. Aku tak tahan mendengar Ibu memarahi Niar --- Istriku. Mendengarkannya saja hatiku terasa sakit. Mengapa Ibu tega bersikap kasar seperti itu pada Niar? Apa karena aku tak ada di rumah? Baiklah, lebih baik aku buktikan sendiri. "Assalamualaikum. Niar, Abang udah pulang nih!" Aku memasuki rumah, lalu mencium tangan Ibu. Ibu agak panik dan takut. Matanya melebar, Ibu menghela napas kasar. "Kenapa, Bu?" tanyaku seolah aku tak tau apa yang sedang terjadi. "Eh, anu. Nggak ada apa-apa, kok!" Ibu gugup menjawab. Tak lama Niar muncul dengan alat pel di tangannya. Aku memandangi dan tersenyum padanya. "Niar, kamu sedang apa? Abang dah pulang nih!" Aku membentangkan tanganku ingin dipeluk olehnya. Tapi, dia hanya menoleh saja. Lalu melanjutkan pekerjaannya. "Niar kenapa, Bu?" Aku menanyai Ibu. "Nggak tau, nggak ada apa-apa kok. Dia cuma sedang bersihin bekas ompol Farhan. Tadi anakmu ngompol sembarangan di situ." Ibu menjelaskan padaku. Niar hanya diam, fokus pada pekerjaannya mengepel lantai. Setelah selesai, dia ke belakang. Ia tak menggubrisku sama sekali. Aku bagai angin yang lalu baginya. Aku duduk di ruang tamu. Ibu masih gugup, lalu ia menawariku minum. "Minum apa Den?" tanya Ibu. "Aku minum kopi aja, Bu. Niar juga udah tau," kataku. Lalu Ibu ke belakang, tak lama Niar membawakanku kopi di cangkir. Tak ada senyum di wajahnya. Aku menangkap gurat kesedihan di matanya. Ia juga tak mau menatap mataku, pandangannya selalu ia alihkan dariku. "Niar, kamu nggak cium tangan suamimu?" tanya Ibu. Dia pun melangkah, tapi tanpa tersenyum sedikitpun saat mencium tanganku. Aku memegang kedua lengannya. "Kamu kenapa, sih?" Ku guncang-guncang tubuh Istriku. Dia hanya menggeleng. Lalu berontak, ingin keluar dari cengkramanku. Niar malah kembali ke belakang. Aku bagai seorang pendosa baginya yang tak ia pedulikan. "Bu, coba jelaskan ada apa ini?" Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi pada Niar. "Nggak ada apa-apa, Den! Istrimu sendiri yang tak sopan. Masa sama suami melengos aja. Bener-bener ini!" Ibu kesal dengan kelakuan menantunya. "Masa sikapnya jadi seperti itu padaku, Bu? Kalo nggak ada apa-apa, nggak mungkin Niar seperti itu," desakku pada Ibu. Aku berusaha meminta penjelasan pada Ibu. Ibu tak mau menjelaskan apapun, malah mengangkat bokongnya dari sofa. "Makanya kamu, Den. Nggak usah kamu manjain perempuan itu. Yang ada dia ngelunjak, Den!" Ibu berkata sembari membulatkan kedua matanya. Setelah itu, beliau masuk ke kamarnya. *** Di rumah ini ada tiga keluarga, keluargaku, kakakku, dan orang tuaku. Aku bekerja di luar kota pulang sepekan sekali. Makanya aku menitipkan Istriku pada Ibu. Aku memberi Istriku uang belanja sebulan tujuh juta rupiah. Aku pegang uang cuma dua juta saja. Ibu juga aku beri tiga juta rupiah untuk uang belanjanya. Dan untuk Kakakku aku beri satu juta, karena gaji suaminya masih kecil katanya. Makanya Ibu menyuruhku memberinya tambahan uang belanja. Jadi, kalau permasalahan di uang, sangat tidak mungkin. Karena aku sudah memberinya lebih. Masa untuk beli diaper aja nggak ada? Sampai rumah Ibu penuh ompol. Setelah menghabiskan kopi, aku masuk ke kamar. Lampunya mati saat aku masuk. Lalu kunyalakan lampunya. "Jangan dinyalakan, Bang! Aku nggak mau kena masalah lagi," kata Niar. Aku bingung. Masa menyalakan lampu jadi masalah. Masalah di sebelah mananya? "Nggak masalah, Dek! Kamu kegelapan nyusuin Farhan. Kasian dia juga, gelap!" Aku mencoba menjawab dengan versiku. "Pokoknya, matikan!" Niar malah berteriak padaku. "Iya, iya, Dek. Abang matikan ya!" Aku ketakutan melihat sorot mata Niar, lalu mematikan lampu kamar. Niar tetap menyusui Farhan. "Icha mana Niar?" "Icha? Oh, dia sedang senang-senang dengan Ibu." Aku tak mengerti maksud Niar, kalau Icha sedang senang-senang sama Ibu. "Maksudnya apa?" "Iya, Icha sedang jajan." "Kenapa minta sama Ibu? Kan kamu udah dikasih jatah sama aku buat jajan Icha." Niar diam lagi. Mungkin dia takut salah jawab. Atau uang yang kuberikan sudah habis olehnya? "Jawab Niar!" "Habis." "Tuh kan, bener kata Ibu. Kamu nggak bisa megang uang. Sampai-sampai beli diaper aja kamu nggak bisa. Udah, mulai bulan depan, uangnya Abang titip ke Ibu. Biar Icha jajan sama Ibu juga. Nanti buat belanja kamu minta aja sama Ibu!" Niar menghela napas kasar. Tiba-tiba dia menangis, Farhan meronta-ronta di pangkuan Niar ingin menyusu. Tapi Niar malah menangis semakin kencang dan tak mau menyusuinya. "Dek! Cukup, nggak usah lebay. Kamu itu harus bisa nabung. Uang yang Abang kasih pasti nggak ada sepeserpun kamu tabung. Abang nggak habis pikir sama kamu, memangnya gampang cari duit?" Tiba-tiba tangis Istriku berhenti. Dia bangkit dari sisi ranjang, dan membanting Farhan ke tengah ranjang. "Dek, masa kamu menidurkan Farhan dengan dibanting seperti itu? Kalau Farhan kenapa-napa gimana coba?" Aku menghampiri anak keduaku. Ia juga menangis setelah dibanting ibunya. "Aku ... Aku ... " Gawaiku berbunyi. "Sebentar, Niar!" Aku keluar untuk mengangkat telepon yang ternyata dari Bosku. Selesai mengangkat telepon, aku berniat kembali ke kamar, tapi aku melihat mobil kakakku dan suaminya baru datang. Mereka membawa banyak barang bawaan. "Waah, habis belanja nih kayaknya." "Iya dong. Karena kita baru dapat cuan. Eh kapan kamu datang, Den?" tanya Kakakku -- Ayu. "Tadi sore, Kak," jawabku. "Hei, Bang Aldo!" Aku menyapa Kakak Iparku. "Apa kabar, Bro!" "Baik, Bang! Abang gimana?" "Sangat baik, Den! Yuk, masuk!" Kami berbincang hingga larut, aku sampai lupa kalau harus bicara dengan Niar. Setelah jam sepuluh malam aku baru masuk ke kamarku. Tiba-tiba aku melihat Istriku tertidur di samping Farhan. Tapi ... Aku melihat ada obat yang sudah terbuka telah di minum Istriku sepertinya. Tapi kan dia tak boleh sembarang minum obat karena sedang menyusui. Aku mencari spesifikasi obat yang diminum Istriku. Ketika ku lihat, ternyata itu adalah obat penenang. 'Ya Allah, untuk apa Niar meminum obat ini?' gumamku. Bersambung,
Bab 2 Pagi-pagi Niar sudah ke dapur menyiapkan sarapan. Ku lihat dia nampak biasa saja saat menyiapkan sarapan, tak ada yang salah dengannya. Lalu setelah itu dia mencuci piring dan peralatan bekas ia masak. Ibu datang menghampirinya. Ia langsung mundur, lalu mengambil pekerjaan lain. Lanjut ke menyapu dan mengepel rumah kami. Rumah ini cukup luas dan ada lantai duanya. Bisa-bisanya Niar menyapu dan mengepel semua bagian rumah. "Den, ayo makan dulu!" Ibu memanggilku untuk makan. Aku menghampiri Ibu di meja makan. Di meja makan sudah ada Kak Ayu, Bang Aldo, Icha, Farrel, Ayesa dan Ibu. Farrel dan Ayesa adalah anak-anaknya Kak Ayu. Mereka semua sudah siap untuk sarapan. "Lho, kok, Niar mana ya?" Aku mencari keberadaan istriku. Ia tak terlihat diantara yang ada di meja makan. "Niar masih di kamar tadi. Mungkin Farhan rewel," kata Ibu. Memang benar, sekarang Biar sudah di kamar setelah tadi ia mengerjakan pekerjaan rumah. "Ya sudah, aku susul Niar dulu ya! Kalian makan saja duluan." Aku akan ke kamar, melihat keadaan Niar dan mengajaknya sarapan bareng-bareng. "Kamu makan saja dulu. Nanti habis makan, baru susul Istri kamu!" timpal Ibu. "Maaf, Bu. Aku lihat tadi Istriku sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah. Apa salahnya aku panggil dia sekarang untuk sarapan bersama? Kasihan dia, mana sedang menyusui kan, Bu?" Aku tak tega jika hanya Niar yang tak akan bersama kami. Aku harus menyusulnya, memanggil Niar untuk sarapan bersama. Ibu terdiam mendengar jawabanku. Segera ku hampiri Istriku di kamar. Kamar masih gelap, tak ku coba untuk menyalakannya lagi. Bisa-bisa marah lagi seperti kemarin. Niar sedang menyusui Farhan. Aku mendekatinya, duduk di samping Niar. "Dek, kita sarapan dulu, yuk!" Aku mengajaknya keluar dan menyentuh lengannya. Dia hanya diam, tak mau mengangkat wajahnya. Aku mengangkat wajah istriku, ternyata dia sedang menyusui sambil menangis. "Dek, kamu kenapa?" Aku merapikan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. "Bang ... Aku benci pada diriku!" isaknya. Aku mengernyitkan dahiku, tak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Niar. "Kenapa memangnya?" tanyaku sambil membelai rambutnya. Niar bergeming. Ia tak mau berkata-kata lagi. Ia hanya menangis. "Ya udah, kamu nangis aja dulu!" Aku membiarkan ia meluapkan emosinya. Tak mungkin aku membawanya ke meja makan sekarang. Bisa-bisa ia malah membuat Ibu marah. Tak lama Icha datang. Ia menarik tangan mamanya. "Mama, ayo makan!" Mamanya bergeming tak mau ikut dengannya. Tangan Icha lepas dari Niar, aku menyambut tangan Icha. Ia masuk di pelukanku. "Iya, sayang. Sebentar Mama juga makan." Lalu Icha memegangi tangan mamanya lagi, ia tarik sampai mamanya mau bangun. Akhirnya ia mau juga untuk mengikuti kami ke ruang makan. Niar dan aku sarapan ditemani Icha, sementara Farhan kami tinggal di kamar, karena ia tertidur. Niar makan tidak terlalu banyak. "Aku kenyang, Mas." Niar beranjak membersihkan bekas makannya, lalu membawanya ke dapur. Niar tak muncul-muncul, aku mencarinya ke dapur juga. Ternyata Niar sedang cuci piring. Ku lihat semua pekerjaan di rumah ini, Niar yang kerjakan. Padahal dia masih punya bayi. Sementara Ibu sedang asyik menonton serial Ku Menangis, Kak Ayu sedang sibuk dengan gawainya, dan Bang Aldo sedang mengurus burung kesayangannya. Aku heran dengan penghuni rumah ini, nggak ada rasa ibanya pada Istriku. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sementara pekerjaan rumah dikerjakan oleh Niar. "Sayang, sini Abang bantuin. Bolehkah?" Aku mencoba menghampiri Niar, kali saja bisa mengurangi bebannya. "Nggak usah!" jawabnya singkat. Bukan aku yang cepat menyerah. Akan kucoba terus sampai ia mau kubantu. "Biar cepet beres, Sayang. Nanti kita habis ini jalan-jalan, yuk!" Aku jadi teringat dosaku padanya, sejak menikah tak pernah mengajaknya jalan-jalan sekalipun. Niatku menikah dengannya saat itu, agar ada yang bantu kerjaan di rumah Ibuku. Tapi ternyata ibu malah kesenengan dan semua niatku terjadi. Aku sebenarnya ingin mandiri, mengontrak rumah. Tapi, kuurungkan itu, karena Ibu memintaku tinggal bersamanya. Katanya sayang uangnya jika dipakai ngontrak. Mending di tabung buat beli rumah. Namun, Niar bilang uang yang ku beri tiap bulan sudah habis. Salah dia sendiri tak pernah memintanya untuk memisahkan sebagian untuk nabung. Aku merasa yakin Niar bisa membaginya. Tapi ternyata tidak seperti itu. Uang-uang itu tak pernah bersisa. Aku heran juga ia belanja apa sampai habis sebesar tujuh juta sebulan. Sementara kulihat baju-baju atau penampilannya tak sebanding dengan uang yang kuberikan. Gara-gara melamun, aku sampai kehilangan jejak Niar. Dia sudah tak ada di tempat cuci piring. Aku mencarinya ke kamar. Tetap tak ada. "Niar, kamu di mana?" Aku mencari Niar di setiap sudut ruangan. Kemana dia pergi, cepat sekali menghilangnya. Kulihat di ruang tamu, Mama sedang bersama Kak Ayu menerima banyak tamu. Katanya mereka sedang membicarakan seragam Ibu-ibu untuk tampil di salah satu stasiun televisi. "Gimana kalau baju model ini?" tanya salah seorang Ibu yang ada di sana. "Bagus, tapi kurang blink-blink ah!" jawab Ibu. "Cari yang model lebih mewah," sahutnya. "Tapi nanti harganya mahal." "Tenang aja, nanti saya yang tanggung biaya seragaman kita," jawab Ibu. Apa? Ibu mau menanggung biaya seragaman? Uang dari mana? Memangnya Ibu punya uang banyak? Pusing sekali menghadapi Ibu, main bayarin seragaman ibu-ibu. Mending ada uangnya, kalau enggak, nanti minta padaku. Kupanggil ibu sebentar untuk menanyakannya. "Bu, ke sini sebentar!" Aku memanggil Ibu dari balik pintu. Ibu berjalan ke arahku. "Ada apa, Den?" Ibu datang menghampiriku sambil senyum-senyum. "Memangnya Ibu punya uang untuk seragaman Ibu-ibu? Kok malah mau Ibu yang bayarin?" "Eh, enggak Den. Ibu cuma bercanda. Mereka bayar sendiri-sendiri kok," jawab Ibu. "Tadi jelas banget aku dengar Ibu mau membayarkan seragaman Ibu-ibu. Bagaimana ya, Bu?" tanyaku. "Enggak, Den. Tenang aja. Lagian ibu nggak punya uang sebanyak itu. Tanya aja sama Ayu kalau nggak percaya. Udah ya, Ibu ditunggu temen-temen." Ibu melengos ke teman-temannya. Aku kembali mengingat Niar dan mencarinya kembali. Urusan Ibu nanti aku selidiki lagi. Lalu aku bertanya pada Icha yang sedang diam di antara banyak orang. "Cha, Mama di mana? Icha lihat nggak?" tanyaku pada Icha. "Nggak lihat. Mungkin Mama sedang jemur baju, Pa!" kata Icha. Aku menuju ke belakang, ke tempat jemuran. Benar saja, Niar sedang sibuk menjemur baju. Niar sepertinya habis mencuci dan menjemur pakaian orang-orang serumah. Sedangkan Ibu dan Kak Ayu malah sibuk diskusi mencari baju seragam. Apa Niar tak pernah diajak pengajian ya? Hanya Kak Ayu dan Ibu yang sibuk tadi. Niar malah sibuk di belakang gini. Bersambung
Bab 3 Benar saja, Niar sedang sibuk menjemur baju. Sedangkan Ibu dan Kak Ayu malah sibuk diskusi mencari baju seragam. Apa Niar tak pernah diajak pengajian, ya? Ia terlihat lelah dan letih. Perjuangannya menjadi istri sekaligus ibu bagi kedua anakku tak bisa kubalas dengan emas permata sekalipun. Aku sangat tau pekerjaan ibu rumah tangga sangat banyak. Aku menghampiri Niar dan membantunya. Aku tuh biasanya tak pernah sekhawatir ini. Biasanya aku biarkan saja Istriku berbuat sesukanya. Kali ini senyuman itu hilang. Aku penasaran dengan apa yang terjadi dengannya. Aku mengambil sebuah baju untuk ku jemur juga di sebelah baju yang Niar sudah jemur. Lalu, Niar malah mengambilnya kasar, dia tak mau aku membantunya. "Sayang, ayo kita jalan-jalan ke redomart! Abang lihat, Istri-istri lain pada seneng jalan-jalan, walau cuma ke redomart." Aku tersenyum semanis-manisnya. Berharap ia akan memperhatikanku dan membalas senyumanku yang manis ini. Namun, Niar tak menggubris perkataanku. Dia malah sibuk menjemur semua baju. Hingga aku merasa jamuran ada di sebelahnya. Niar malah sibuk dengan pekerjaannya. Aku harus menghela napas berkali-kali karena bersabar dengan terdiamnya istriku. "Niar, jawab pertanyaan Abang!" ucapku tegas. Ingin kudekati, tapi takut ia malah menjauh. Cukuplah jarak beberapa langkah darinya. Niar tersentak. Dia menepuk-nepuk dadanya, lalu menghela napas kasar. Kulihat matanya basah, namun ia buru-buru menghapusnya. "Abang mau apa sih? Kerjaan Niar belum selesai, Bang! Nggak ada waktu!" Jawaban Niar malah membuatku menghela napas berkali-kali. Benar saja, tak lama Ibu berteriak dari dalam. Aku pun sekarang mengamati Niar dari jauh, mau tau apa yang akan dilakukan Ibu pada istriku. "Niar ... Mana minum untuk teman-teman Ibu?" Ibu bersungut sembari berkacak pinggang. Kupandangi mereka untuk memastikan jawaban dari Niar. "Iya, Bu. Sebentar ya! Aku baru selesai menjemur," katanya. "Jangan banyak alasan! Ibu tak butuh seribu alasan darimu!" ucap Ibu lantang. "Iya, Bu." Niar manut, ia langsung ke dapur untuk melaksanakan titah dari Ibu untuk membuatkan minuman bagi para tamu. Setelah disuguhi minuman, Ibu meminta Niar membawakan cemilan. Tapi kok terlihat Niar mencari-cari cemilan di sana dan tak ada cemilan apa-apa di dapur. Aku selalu mengikuti langkahnya, untuk tahu apa yang akan dilakukan istriku. Kemudian ku lihat Niar menuju kamarnya. Ia mengambil uang dari dompetnya. Selanjutnya ia ke luar, ke warung dekat rumah. Ternyata dia membeli kue-kue untuk tamu-tamunya Ibu. 'Astaga, jadi selama ini Niar melakukan ini semua! Lancang sekali Ibu yang meminta banyak, tapi tak menyediakan uangnya. Sudah tenaganya, uangnya pun dari istriku. Sementara istriku tak diajak berbincang dengan tamunya,' gumamku. Lama-lama mata ini basah melihat kenyataan ini. Betapa kerasnya kehidupan istriku tinggal bersama keluargaku. Niar menyuguhkan pada tamu Ibu. Lalu dia kembali ke belakang, tanpa ikut bergabung dengan mereka. Ya Allah, kasihan sekali Niarku. Maafkan aku Istriku. Kamu malah jadi seperti ini, karena memang aku yang salah dari awal. *** Aku melihat Niar sekarang sudah di kamar, sedang menyusui Farhan. Mungkin ia sedang tertidur. Aku tak mau mengganggunya. Tak lama, terdengar suara Icha yang berteriak dari kamar mandi. Ia memanggil-manggil mamanya. "Mama, udah!" Icha mengatakannya berkali-kali. Terdengar suara Kak Ayu bicara pada Icha. "Icha, berisik! Mamamu malas banget, pasti sedang tidur dia!" desis Kak Ayu. Bisa-bisanya Kak mengatakan kalau Niar malas, yang ada ia kecapekan karena sudah mengurus keluarga ini. Aku langsung naik pitam, yang malas bukannya Kak Ayu? Istriku sudah kerja dari bangun tidur tadi sampai tadi melayani tamu Ibu. Mengapa Kak Ayu malah seperti itu. Aku langsung menghampiri Icha. Mencoba untuk menc*bokinya. Saat akan masuk kamar mandi, aku dicegah oleh Ibu. "Deni, kamu nggak boleh menc*boki anakmu! Itu tugas perempuan. Bisa-bisa nanti kamu jadi budak istrimu! Belum lagi, Icha kan anak perempuan, sebaiknya sama Istrimu!" Ibu melarangku. "Nggak apa-apa dong, Bu. Lagian Icha masih kecil. Niar juga sedang tidur, Bu!" jawabku pada Ibu. "Apa? Jam segini dia tidur? Kalau sedang punya bayi, dilarang tidur jam segini!" Ibu menimpali sembari melebarkan matanya. "Ah, Ibu ada-ada aja. Lagian Farhan sekarang sudah satu tahun kok!" jawabku santai. "Kamu ini, dikasih tau malah ngeyel! Cepat panggil Istrimu buat ceb*kin Icha!" kata Ibu sembari menunjuk ke arah kamarku. Aku bergeming, tak mau beranjak. Ibu gusar. Giginya gemerutuk tanda ia menahan emosinya. Akhirnya Ibu berkata juga. "Apa harus Ibu yang panggil?" katanya. "Jangan, Bu. Biar aku saja," kataku. Kemudian aku membangunkan Niar yang sedang terlelap dengan Farhan di kamar. Aku tak tega sih sebenarnya, tapi Ibu tak bisa dibantah. "Sayang, bangun. Tolong ceb*kin Icha. Dia habis BAB," kataku. Kemudian Niar terbangun dan mengerjapkan matanya, ia langsung menuju kamar mandi, lalu menc*boki Icha. Icha semringah melihat Mamanya datang karena aku memandanginya dari kejauhan sembari menggendong Farhan yang juga telah terbangun. *** Aku mendatangi ruang tamu. Masih berantakan, gelas-gelas dan piring-piring bekas acara Ibu tadi. Lalu Ibu memanggil Kak Ayu karena melihatku mengamatinya. "Ayuuu ... Cepat kamu bereskan ini!" sahut Ibu sembari memegangi gelas-gelas kotor yang akan beliau angkut ke dapur Kak Ayu keluar dari kamarnya dengan cemberut. "Apa sih, Bu. Biasanya juga kaaan--" Ketika melihatku, dia mencoba tersenyum manis. Aku melebarkan kedua mataku pada Kak Ayu, ia mencoba menghindari tatapanku. "Eh, iya biar Ayu aja yang beresin, Bu." Kak Ayu mengambil semua bekas makanan dan minuman. Aku mengernyitkan dahi. Ternyata kelakuan Ibu dan Kak Ayu kurang ramah pada Niar. Satu rahasia terungkap saat ini. "Bu, aku mau bicara sama Ibu, bisa?" tanyaku. "Iya, bicara tentang apa?" "Tentang Niar. Ibu menyuruh Istriku berbagai pekerjaan di rumah ini. Sementara Ibu dan Kak Ayu santai saja ku lihat dari tadi." Aku langsung ke pokok pembicaraan. Wajah Ibu berubah. Ia menjadi khawatir dan ketakutan. "Eh, itu. Begini, jadi biasanya kita bareng-bareng kok ngerjainnya. Cuma hari ini aja kita rasa ribet. Jadi Niar yang ngerjain semua. Kadang Kak Ayu yang ngerjain seharian juga pernah. Tergantung situasi dan kondisi," jelas Ibu. Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Ibu. "Baiklah, berarti besok Niar nggak boleh kerja. Giliran Ibu atau Kak Ayu. Aku mau ajak Istriku dan anak-anak jalan." Aku memanas-manasi Ibu. "I-iya. Silahkan aja. Memang sesekali Niar harus diajak jalan. Kasian kalau di rumah terus." "Iya, Bu. Terima kasih dukungannya. Semoga kata-kata Ibu murni keluar dari hati Ibu." Aku mengangkat bokongku. Lalu meninggalkan Ibu yang masih membulatkan kedua matanya. 'Maaf, Bu. Deni mau menguji ketulusan Ibu saja. Semoga Ibu memang tidak berpura-pura.' Aku bermonolog saat berjalan menuju kamar. "Niar, aku mau ajak kamu main besok!" Aku membuka pintu kamar. Niar sedang menangis. Aku tak tau kenapa dia menangis lagi. "Bang, jangan suka sok pahlawan!" Bersambung