PROLOG “Apa?! Janda beranak empat? Apa kamu tiba-tiba sudah tidak laku, Denny! Kemana perginya wanita-wanita muda yang sering kamu bawa ke rumah ini? Kok tiba-tiba malah mau menikahi wanita yang sudah janda dan punya banyak anak?” Yanny langsung berdiri dari duduknya, menatap tidak percaya kepada putra kesayangannya yang berada di hadapannya. “Tenang dulu, Ma? Diana bukan seperti yang Mama bayangkan, meskipun sudah punya anak empat, dia masih muda dan sangat cantik. Dia dulu teman kuliahku ketika di Samarinda.” Denny berusaha menenangkan ibunya yang langsung panik begitu pria tampan berusia tiga puluh tahun itu meminta izin menikahi mantan kekasihnya tujuh tahun yang lalu. Diana Angelina, wanita cinta pertama Denny kala berusia dua puluh tahun. Kembali bertemu tanpa sengaja di sebuah mall, membuat Denny merasakan lagi cinta yang berusaha ia lupakan selama tujuh tahun ini. Meskipun dulu Diana meninggalkannya begitu saja karena tertarik dan menikah dengan pria yang lebih mapan, tidak membuat Denny membenci wanita yang cantik jelita itu. Ia masih berharap suatu hari nanti, Diana akan kembali kepadanya. Harapan Denny terkabul, sang belahan jiwa tiba-tiba menjanda. Cinta lama mereka bersemi kembali. Pria yang kini sudah semakin mapan itu bertekad tidak akan melepaskan sang kekasih untuk kedua kalinya. Ia akan menikahi janda cantik itu meskipun ia harus menjadi ayah sambung bagi keempat putra putri Diana yang masih kecil-kecil. *** Butuh Waktu dan Perhatian Jika kau bilang cinta saja sudah cukup Itu salah Jika kau pikir sayang juga sudah cukup Kau keliru Coba sempatkan ‘tuk lihat isi hatiku Apakah diriku bahagia selama ini? Bisakah kau sedikit peka? Ku butuh waktu dan perhatian Suara nyanyian dari pemenang Indonesian Idol itu sudah yang ke sekian kalinya didengarkan Diana. Nada dan liriknya serasa cocok sekali dengan perasaannya selama ini. Menikah selama tujuh tahun tidak membuatnya merasa bahagia menjalani kehidupan berumah tangga dengan sang suami. Pacaran selama tiga bulan, lalu menikah, kemudian menjalani hari-hari yang membosankan. Padahal dulu, wanita berusia tiga puluh tahun itu sangat berharap perkawinannya akan berjalan sesuai dengan keinginannya karena bisa menikah dengan laki-laki idamannya. Reynaldi yang ganteng, berbadan atletis dengan sikap yang cool, membuat Diana benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah lelah dibucinin oleh beberapa orang pacar sebelumnya, ia jadi muak dan ingin mencari pasangan yang membuatnya menjadi budak cinta. Sosok itu adalah Rey yang mahal tersenyum dan dingin terhadap para wanita. Diana masih teringat ketika Rey melamarnya tujuh tahun yang lalu. “Diana, aku ingin kita menikah saja, kamu siap?” Ucapan Rey membuat Diana merasa melambung tinggi ke udara. Tanpa ada ucapan ‘aku mencintamu’ dari Rey sebelumnya, tiba-tiba pria pujaannya itu mengajak menikah. “Oh, My God, mimpi apa aku semalam, bisa dilamar oleh laki-laki impianku ini.” Diana bicara dalam hati dengan rasa bahagia tak terkira. “Aku siap jadi istrimu, Mas Rey,” jawab Diana dengan wajah merona bahagia. Kencan selama tiga bulan, meski hanya sekedar makan malam, nonton, dan jalan-jalan, sudah cukup bagi Diana untuk memutuskan menjadi istri Reynaldi Yahya--seorang pengusaha tambang batubara yang berusia dua puluh delapan tahun. Diana merasa mereka akan menjadi pasangan yang ideal nantinya. Ia memang butuh seorang pendamping yang lebih tua dari dirinya yang baru berusia dua puluh tiga tahun. Mungkin hanya dua tahun pertama saja Diana merasakan kebahagiaan dalam mengarungi kehidupan berumah tangga dengan Rey. Namun, sejak anak keduanya lahir, ia merasa sudah mulai bosan. Sifat tak acuhnya Rey yang awalnya ia sukai, ternyata malah akhirnya membuat Diana merasa tak bahagia. Rey benar-benar tak peduli padanya dan asyik dengan dunianya sendiri. Malah untuk nafkah batin mereka saja, harus Diana yang memulai duluan, meraba semua bagian sensitif dari sang suami. *** “Mas, ntar siang kita ajak anak-anak jalan-jalan ke mall, yuk. Aku juga pengen jalan-jalan sama kamu, Mas. Sejak Jane lahir, kita belum pernah lagi keluar bersama.” Diana mengajak suaminya yang sedang sarapan bersamanya di pagi hari Minggu itu. “Aku gak bisa, ada janji pergi mancing sama Ivan,” jawab Rey sembari mengelap mulutnya dengan tisu. Ia sudah mengakhiri sarapannya, padahal makanannya masih tersisa sepertiga lagi di piring. Lelaki yang kini berusia tiga puluh lima tahun itu dengan cuek mengambil rokoknya dan berlalu ke teras depan rumah mewah mereka. Diana menatap kepergian sang suami dengan hati yang sakit. Entah apa salahnya, sehingga Rey memperlakukannya seperti itu. Padahal tidak ada yang kurang dari dirinya. Meski sudah melahirkan sebanyak empat kali, Diana selalu sukses mengembalikan berat tubuhnya ke berat normalnya. Senam rutin dan yoga yang selalu dijalaninya setiap hari, membuat wanita berusia tiga puluh tahun itu tetap cantik dan langsing. “Awas kamu, Mas. Aku akan bikin kamu menyesal suatu hari nanti,” desis Diana dengan mata yang menyala. Kedua tangannya pun terkepal kencang di atas meja makan. *** “Diana!” Seseorang memanggil wanita yang sedang asyik memilih-milih sepatu yang ada di hadapannya. “Denny? Ya, ampun ... kemana aja selama ini? Sudah lama sekali ya, kita gak ketemu!” Diana berseru kaget begitu dilihatnya seorang pria tampan tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Mantan pacar Diana tujuh tahun yang lalu sebelum menikah dengan Reynaldi. “Aku pulang ke Balikpapan begitu lulus kuliah dulu, tapi setahun terakhir ini aku tinggal di Samarinda lagi karena kerjaan,” jawab Denny sembari menyodorkan tangannya mengajak Diana bersalaman. Mata bermanik hitam itu menatap tajam wajah wanita yang sangat ia cintai dulu. “Kamu sama siapa, Den? Kok sendirian?” Diana bertanya begitu dilihatnya tidak ada orang lain bersama Denny. “Aku memang masih sendiri, belum punya pendamping sejak seseorang tiba-tiba memutuskan hubungan kami karena tertarik dengan pria lain.” Denny menjawab sedikit ketus. “Hm … maaf ya, Den, kalau yang kamu maksud itu aku.” Diana menatap dengan rasa bersalah laki-laki yang tampak semakin tampan dan mapan. Sangat jauh berbeda kala masih menjadi pacarnya dulu. “Mama …!” Terdengar teriakan dua anak kecil yang berlari datang menghampiri Diana dan Denny yang masih berdiri saling bertatapan. “Eh, Tian, Kevin, kalian kok berdua? Mbak Sinta dan Mbak Ella mana?” tanya Diana kepada kedua anaknya yang berusia enam tahun dan lima tahun. “Tuh!” Si sulung Tian menunjuk dua orang babysitter yang berjalan dengan kepala mencari-cari. Sinta mendorong trolly Kellan--anak ketiga Diana yang berusia satu setengah tahun. Balita laki-laki itu duduk di trolly-nya. Sedangkan Ella mendorong troly Jane—si bungsu yang baru berusia enam bulan. Bayi cantik itu tampak tidur pulas dalam trolly-nya. Diana melambaikan tangan begitu melihat kedua babysitter itu datang mendekat ke arah mereka. “Maaf, Bu. Tadi Tian dan Kevin tiba-tiba saja lari, untung kami gak kehilangan jejak.” Sinta langsung minta maaf begitu tiba di hadapan Diana. “Gak apa-apa, mungkin karena mereka lihat saya.” Diana tersenyum memaklumi pengasuh anak-anaknya itu. Tadi ia memang meninggalkan mereka sebentar di arena bermain anak-anak yang tidak terlalu jauh dari tempat ia memilih-milih sepatu. “Ini anak kamu semua, Diana?” tanya Denny dengan wajah tak percaya. Matanya menatap heran wanita cantik dan langsing yang bediri di hadapannya itu. Wajah yang tidak banyak berubah dari ketika masih menjadi kekasihnya tujuh tahun yang lalu. Malah tampak lebih cantik dan seksi saat ini. “Iya, Den.” Diana menjawab sedikit tersipu malu karena kepergok Denny ternyata ia terlalu subur. “Hm ... produktif sekali, ya?” gumam Denny. Diana mendengarnya, membuat ia semakin malu. “Mama? Tian lapar,” rengek gadis ciliknya. “Kevin mau makan pizza, Ma!” teriak Kevin tak mau kalah dari sang kakak. “Iya, ya, Sayang. Ayuk, kita makan pizza.” Diana menenangkan kedua anaknya sembari menggandeng tangan mereka. “Den, aku pamit dulu ya, mau ajak anak-anak makan siang dulu,” ucap Diana kepada pria yang masih berdiri bengong. “Oh, hm … Diana, boleh aku yang traktir kalian makan pizza?” tanya Denny penuh harap, meski masih ada kekesalan di hatinya terhadap Diana, tapi rasa ingin tahu tentang kehidupan mantan pacarnya itu cukup besar. “Rame begini, Den?” Diana tertawa kecil. “Gak apa-apa, gak bakalan bikin aku bangkrut, kok,” jawab Denny ikut tertawa. “Ya, udah, ayuk.” Diana langsung berjalan bersama kedua anaknya. Diikuti oleh kedua babysitter yang mendorong trolly bayi. “Suamimu kok gak ikut nemenin, Diana?” tanya Denny yang duduk di hadapan sang mantan begitu mereka tiba di restoran pizza. “Lagi mancing dia,” jawab Diana santai. Ia sibuk menyuapi Kellan yang duduk di kursi khusus anak-anak. Tian dan Kevin yang sudah bisa makan sendiri duduk bersama kedua babysitter di meja sebelah mereka. Sang adik bayi masih tertidur pulas di trolly-nya. “Kamu bahagia menikah dengan laki-laki itu, Diana?” tanya Denny pelan. Matanya tiada lepas menatap wanita yang namanya masih awet di hatinya, meski sudah tak terhitung entah berapa orang wanita cantik yang sudah dipacari dan dikencaninya selama tujuh tahun terakhir ini. Wanita-wanita itu hanya sekedar mampir mengisi kekosongan hatinya setelah ditinggal kawin oleh Diana, cinta pertamanya. Diana menatap Denny sejenak, ia tak menjawab, malah kemudian kembali asyik menyuapi anaknya. Sesekali potongan pizza itu juga masuk ke mulutnya. Tidak luput dari perhatian Denny yang lebih tertarik memperhatikan Diana daripada menghabiskan potongan pizza di piringnya. “Aku langsung pulang dulu ya, Den. Anak-anak udah pada ngantuk, nih.” Diana langsung pamit begitu makanan mereka sudah habis semua. “Aku antar, ya?” Denny masih berat melepas Diana pergi. Ia masih menyimpan rindu yang mendalam untuk wanita cantik di hadapannya itu. “Gak usah deh, tadi aku bawa mobil sendiri. Makasih ya, Den, atas makan siangnya.” Kali ini Diana yang duluan mengajak bersalaman. “Sebentar, tolong tulis nomor Hp-mu dulu.” Denny malah menyodorkan ponselnya ke tangan Diana. Diana menatap ragu benda pipih yang berpindah ke tangannya. Namun, nomor ponselnya tetap diketik, lalu diserahkan kembali ke pemiliknya. Kemudian terdengar suara nyanyian sang juara Indonesian Idol yang lagunya sangat disukai Diana. Itu suara dering ponsel Diana dari dalam tas selempang miliknya. “Itu nomorku.” Denny mematikan ponselnya, lalu menyodorkan tangannya untuk bersalaman. “Hati-hati di jalan,” ujarnya lagi sambil menggengam erat tangan halusnya Diana. Senyum di wajah tampannya tampak sangat mempesona. Diana menganggukkan kepalanya dengan rasa haru, melihat perhatian kecil dari mantan pacar yang begitu menggilainya dulu.
Diana baru saja akan merebahkan tubuhnya di pembaringan berukuran besar yang ada dalam kamarnya, ketika ponselnya di atas nakas berbunyi. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. “Mungkin Mas Rey yang telpon,” pikir Diana buru-buru mengambil ponselnya. Namun, ternyata itu panggilan dari Denny, sang mantan yang siang tadi ditemuinya di mall. “Hallo ... ada apa telpon malam-malam, Den?" tanya Diana pelan. “Iseng aja! Hm ... aku tebak pasti suamimu belum pulang, 'kan?” “Kok, kamu tahu?” tanya Diana seperti orang bodoh. “Ya, tahulah. Kalau ada suamimu, mana berani kamu mengangkat teleponku, iya, 'kan?” “Kamu mau apa, Den? Mau terus mengejekku?” tanya Diana ketus ketika terdengar Denny tertawa geli. “Maaf, Diana. Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya ingin ngajak kamu bertemu lagi besok siang, bisa 'kan?” “Buat apa, Den? Aku tuh udah istri orang dan sudah punya banyak anak. Kenapa kamu masih mau menemuiku?” “Karena aku tahu, kamu gak bahagia, Diana.” “Siapa bilang? Aku bahagia, kok!” “Jangan bohong! Aku sangat mengenal dirimu. Dua tahun lamanya kita dulu pacaran, sebelum kamu pergi dengan laki-laki itu.” “Denny! Itu sudah masa lalu. Untuk apa diungkit lagi!” “Aku tidak pernah bisa melupakan hal itu.” “Eh, Den, udah dulu, ya? Sepertinya suamiku pulang.” Diana ingin memutus pembicaraan mereka begitu didengarnya pintu kamar dibuka dari luar. “Ok, pokoknya besok jam satu siang, aku tunggu kamu di kafe depan pintu masuk mall tadi.” Denny langsung menutup pembicaraan mereka sebelum Diana sempat menjawabnya. Bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka. Diana buru-buru menyelipkan ponselnya ke bawah bantal di samping ia duduk. “Kok belum tidur?” tanya Reynaldi yang melihat sang istri masih duduk di ranjang mereka. “Nungguin kamu, Mas. Kok mancing ikan sampe malam begini. Cantik gak ikannya?” sindir Diana dengan hati cemburu. Jangan-jangan suaminya bukan memancing ikan, tapi memancing wanita cantik. “Ngawur kamu! Udah, tidur aja duluan. Aku mau mandi dulu.” Reynaldy langsung menuju kamar mandi. Diana menatap punggung suaminya dengan mulut seksinya maju dua senti. “Mas ....” Diana meraba dada kekar sang suami yang baru merebahkan diri di sampingnya setelah selesai mandi. Air hangat yang mengguyurnya tadi membuat Reynaldi langsung mengantuk. “Aku lelah, mau tidur dulu! Besok pagi aja mainnya.” Reynaldi membalikkan tubuh, memunggungi sang istri. “Huh! Siapa juga yang mau ngajak main,” gerutu Diana yang kemudian ikut membalikkan tubuhnya, memunggungi sang suami. Rey tersenyum samar mendengar gerutuan sang istri dengan mata yang terpejam. Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halusnya. Diana tidak bisa terlelap, malah bayangan wajah Denny yang semakin tampan dan keren hadir di pelupuk matanya, membuatnya terus mengingat laki-laki yang ditinggalkannya begitu saja dulu karena terpikat oleh Reynaldi yang lebih dewasa dan mapan. “Apa besok aku temui aja si Denny di mall, ya? Aku harus bilang padanya langsung, agar jangan menghubungi aku lagi. Ntar, kalau Mas Rey tahu, bisa berabe jadinya,” pikir Diana resah. Tangan Reynaldi yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, membuat Diana sadar dari memikirkan sang mantan pacar. Ia membalikkan tubuh menghadap suaminya. Ujung jemarinya mengusap halus garis wajah tampan dengan cambang tipis yang tercukur rapi. Wajah Reynaldi tampak tenang dengan dengkuran yang halus. Tangannya masih memeluk tubuh Diana dengan erat. Diana tersenyum getir. Hanya dalam kondisi tidak sadar, Rey akan melakukan hal romantis itu terhadap tubuh langsing miliknya. “Mungkin kau pikir aku hanya sebuah guling, Mas,” bisik Diana sembari menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, memeluk lelaki tercintanya. Tidak lama kemudian ia pun tertidur pulas. *** Pagi itu, Diana terbangun duluan, sang suami masih dalam posisi memeluknya dari belakang. Pelan Diana meraba sesuatu yang menyentuh kulitnya. Sesuatu yang membuat Diana merasa terbakar. “Ayo, ambil itunya,” bisik Rey yang ternyata sudah terbangun karena ulah istrinya. Diana tidak perlu berdiri mengambil barang yang diminta sang suami dari laci meja riasnya, ia dengan cepat mengambil benda kecil yang sudah disiapkannya di bawah bantal setiap malam. Ia harus disiplin sendiri kalau tidak ingin anak ke lima mereka akan hadir. Si bungsu baru berusia enam bulan saat ini. Diana memang sangat subur, sekali saja berhubungan suami istri tanpa memakai pengaman, bulan depan dipastikan ia akan hamil. Terbukti dari dua orang anak terakhirnya yang lahir setahun sekali. Begitu juga dengan anak pertama dan anak keduanya yang berjarak hanya setahun saja. Diana sudah pernah memakai alat kontrasepsi, tapi tubuhnya tidak cocok dengan salah satu alat tersebut. Akhirnya, hanya si latex itulah yang dipakai setiap kali mereka bercinta. Usai melakukan kegiatan suami istri, Rey segera berlalu ke kamar mandi, tanpa ada ciuman singkat atau pelukan hangat untuk sang istri yang masih terkulai lemas di ranjang. Diana pun tidak mempermasalahkan ketidakpedulian suaminya itu, rona wajahnya malah terlihat sangat bahagia. Meski Rey tidak terlalu antusias dalam kegiatan suami istri itu, tapi fisiknya yang kuat mampu membuat sang istri puas berkali-kali. Wanita cantik bertubuh seksi itu harus bekerja keras sendiri. Ia tidak peduli, meski terlihat seperti wanita nakal. Hanya bercinta dengan Rey, satu-satunya kegiatan yang bisa membuatnya bertahan dalam menjalani rumah tangga dengan cinta tak berimbang itu. *** “Aku siang ini mau ke Berau, mungkin sekitar seminggu. Ada teman yang ngajak nambang di sana,” ujar Reynaldy saat sarapan pagi bersama istri dan kedua anaknya yang akan berangkat sekolah. Tian dan Kevin yang masih di taman kanak-kanak. “Lama banget seminggu, Mas. Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti.” Diana menatap suaminya dengan netra yang tiba-tiba mengembun. Ia memang tidak pernah menutupi perasaannya terhadap sang suami selama ini. “Ah, kamu kayak ABG aja, masa udah tujuh tahun berlalu masih juga rindu-rinduan.” Reynaldi tertawa geli melihat istrinya yang sejak awal mereka menikah sangat terobsesi padanya. Bahkan hampir tiap hari istri cantiknya itu meminta jatah batin padanya, gak ada bosan-bosannya. Kadang Rey heran dengan kecanduan istrinya yang tidak berubah sejak awal mereka menikah. “Jadi, Mas gak pernah merasa rindu sama aku ya, saat berjauhan?” Diana bertanya dengan sedih. Meski suaminya sering pergi ke luar kota, tapi hanya dua-tiga hari saja. Ia pasti akan sangat merindukan suaminya itu nanti, meskipun selama berada di rumah pun, Rey juga tidak terlalu memperhatikannya. Laki-laki itu hanya sibuk dengan rokok dan ponselnya di teras rumah mereka hingga tengah malam. “Duh, males deh, pagi-pagi udah bahas hal yang gak penting kayak gini. Diana-Diana, udah anak empat juga, kok, masih membahas cinta dan rindu. Udah, sana! Anterin Tian sama Kevin! Ntar telat lagi sekolahnya.” Reynaldi tanpa peduli dengan perasaan istrinya, membawa gelas kopinya ke teras. Ia pasti akan merokok lagi di sana sebelum berangkat. Airmata Diana hampir saja luruh, jika Tian tidak menyentuh tangannya. “Ma? Kakak udah selesai sarapannya.” Sang putri sulungnya menatap dengan wajah polos. “Oh, udah selesai ya, Sayang. Pinter anak mama.” Diana membantu mengusap mulut Tian dengan tisu. “Ayo, Kevin, cepatan habisin makanannya, Nak.” Diana mengalihkan perhatian pada anak keduanya. Ia berusaha menghilangkan rasa sedih atas sikap sang suami dengan sibuk mempersiapkan keperluan sekolah kedua anaknya. Pekerjaan rutin yang ia lakukan setiap hari. Mengantar dan menjemput kedua anaknya itu sekolah. Tidak ada sopir pribadi di rumah mereka. Suaminya bilang, anak-anak itu lebih aman kalau diantar oleh salah satu orang tuanya. Diana pun dengan senang hati melakukannya, karena ia tidak punya kegiatan lain selain mengawasi keempat anak-anak mereka. Apalagi ada dua orang babysitter yang membantu mengurus semua anak-anaknya. Untuk urusan mengurus rumah juga ada Tuti--Asisten Rumah Tangganya. Hidup yang sudah sempurna sebenarnya. Namun, hanya satu yang kurang, yaitu waktu dan perhatian dari suaminya.
Denny melambaikan tangannya begitu melihat Diana yang berjalan masuk ke dalam kafe. Wanita itu terlihat sangat menawan dengan rambut panjangnya yang diwarnai kecoklatan. Kacamata lebar berlensa coklat menghiasi wajah cantiknya yang putih bersih. Siapa yang menyangka di tubuh ramping itu pernah melahirkan empat orang anak. “Sorry, Den. Nidurin anak-anak dulu, repot kalau harus membawa mereka,” ucap Diana seraya duduk di kursi kafe paling pojok yang dipilih Denny. “Gak apa-apa, aku juga baru tiba kok,” balas Denny sambil tersenyum tipis. Padahal ia sudah satu jam menunggu di kafe itu. “Kamu mau makan apa, Diana?” Denny menyodorkan buku menu makanan ke hadapan Diana. “Aku pesan minuman aja deh, barusan habis makan di rumah.” Diana mengedarkan pandangan ke penjuru kafe. Ia berharap semoga saja tidak ada orang yang mengenalnya. “Jus alpukat?” suara Denny membuat wanita cantik itu kembali menatap pria yang duduk di hadapannya. “Kamu masih aja ingat sama minuman kesukaanku.” Diana tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya yang tersusun rapi, membuat Denny diam-diam menelan saliva. “Iya, dong. Aku mengingat semua kesukaanmu, semua yang ada padamu.” Denny menatap tajam mantan pacarnya itu. Diana memalingkan wajahnya ke arah lain dengan rasa bersalah. Ia tidak menyangka Denny masih mengingat semua tentang dirinya, padahal sudah tujuh tahun berlalu. “Kamu kerja di mana sekarang, Den?” Diana mengalihkan pembicaraan. “Di perusahaan leasing mobil,” jawab Denny singkat. “Terus di sini kamu sendirian?” “Iya.” “Kenapa kamu belum menikah juga sih, Den?” tanya Diana penasaran. “Karena aku masih menunggumu, Diana,” jawab Denny mengagetkan Diana. “Ih, kamu mendoakan aku menjadi janda, ya?” Diana tertawa geli mendengar ucapan Denny. “Bisa aja kamu bercanda, Den.” “Aku serius, Diana. Meski terdengar jahat, aku memang berharap kamu berpisah dari suamimu.” Ucapan Denny membuat Diana tertegun. Apalagi kemudian tak disangka Diana, mantan pacarnya itu meraih tangannya yang diletakkan di meja. Mata Diana membelalak begitu Denny tangannya. Bibir kenyal laki-laki itu terasa hangat menyentuh ujung jemarinya. “Kamu apa-apaan sih, Den? Ntar kalau ada kenalanku yang melihat, gimana?” Diana menarik dengan cepat tangannya yang masih dalam genggaman tangan kekar pria masa lalunya itu. “Maaf, Diana. Aku tidak bisa menahannya, jangan marah, ya?” “Hm … jadi apa maksudmu mengajakku datang ke sini, Den? Aku gak bisa lama-lama. Sebentar lagi anak-anakku segera bangun tidur. Mereka pasti akan nyariin aku.” Diana melihat jam tangan yang melingkar di tangan mulusnya. “Gak ada maksud apa-apa, Diana. Aku masih kangen saja sama kamu. Kemarin sore kita cuma bertemu sebentar. Aku masih ingin mengobrol denganmu.” “Tapi, next, kita tidak baik bertemu seperti ini lagi, Den. Aku adalah istri seseorang dan ibu dari empat orang anak,” ucap Diana tegas. “Aku melihatmu tidak bahagia, Diana,” ujar Denny dengan berani. “Ngawur kamu, Den. Itu tidak benar. Aku bahagia, kok. Buktinya anak-anakku banyak.” Diana membantah sambil berdiri dari duduknya. “Itu bukan jaminan, Diana,” jawab Denny bersikukuh. “Aku pulang dulu! Terima kasih atas minumannya. Tolong jangan menghubungiku lagi, Denny.” Diana bersiap ingin berlalu ketika didengarnya laki-laki dihadapannya bicara, “jika kamu butuh seseorang, jangan lupa menghubungi aku, Diana. Aku selalu ada untukmu.” Diana terpaku sejenak menatap pria berdagu belah yang ada di hadapannya itu. Ia menghela napas panjang melihat kegigihan mantan pacarnya yang sejak dulu masih saja menjadi budak cinta untuk dirinya. Tanpa bicara apa-apa lagi, Diana melenggang pergi dari hadapan Denny yang masih menatapnya tak berkedip. *** “Diana, aku belum bisa pulang ke Samarinda, ya? masih ada yang perlu diurus di Berau.” “Duh … belum kelar juga ya, Mas? Ini sudah lebih dari seminggu, lho?” rengek Diana begitu menerima panggilan dari suaminya. “Kamu harus terbiasa, Diana. Kalau proyek di Berau ini deal, kita akan sering berpisah seperti ini.” “Astagaa, aku ikut ke Berau kalau begitu. Gak mau aku jauh-jauh kayak gini,” balas Diana keras kepala. “Ah, kamu kayak anak kecil aja! Oh, ya, anak-anak gimana? Sehat ‘kan?” “Anak-anak semua sehat, aku yang gak sehat,” keluh Diana. “Kamu sakit apa? Udah ke dokter belum?” “Sakit rindu! Memangnya ada dokter jual obatnya.” Diana mendengar Reynaldi terbahak di seberang sana. “Sabar … kamu cari kegiatan apa lah, biar gak pikirin rindu terus. Udah ya, ini mau ketemuan sama orang, nih.” Diana belum menjawab apa-apa ketika suaminya sudah langsung memutuskan panggilannya. “Mas Rey kebiasaan, orang belum selesai ngomong udah main putusin aja,” gumam Diana dengan wajah cemberut. “Hari libur begini enaknya kemana, ya? Masa akhir pekan mau rebahan di rumah aja,” pikir Diana sembari membuka layar ponselnya. Aplikasi hijaunya sudah terlihat banyak chat yang belum dibukanya. “Denny ngapain lagi sih! Masih aja miscall dan ngirim WA. Udah dibilangin juga, jangan berharap lebih jauh lagi.” Diana mengomel dalam hati begitu melihat banyak pesan dari sang mantan pacar. Diana mengabaikan saja tanpa membaca atau membalas pesan dari Denny. Ia kemudian malah tertarik dengan pesan Riska--teman akrabnya ketika masih kuliah dulu. Ia segera menghubungi ponsel temannya itu. “Diana, datang ya, ke acara reuni kampus kita ntar malam.” “Jam berapa acaranya, Ris? Duh, kok malam Minggu, sih? Bukannya besok siang aja hari Minggu,” balas Diana. “Gak apa-apalah, Diana, ‘kan membawa pasangan ini. Ya, ajak lho, suami gantengmu.” “Nah, itu dia. Mas Rey masih di Berau, belum pulang,” keluh Diana. “Hm … apa kamu mau aku samperin ntar malam?” “Aku gak usah ikut aja ya, Ris? Males banget ntar cuma jadi nyamuk kamu dan suamimu,” ujar Diana tiba-tiba. Padahal ia sebenarnya sangat ingin ikut di acara reuni yang sudah diadakan selama dua tahun terakhir ini. Untung Reynaldi mau menemaninya setiap acara itu dilaksanakan. Hanya kali ini saja sang suami tidak bisa menemani. “Yah, ikut dong? Gak seru kalau primadona kampus kita dulu tidak hadir, hahaha.” “Bisa aja kamu ngerayu, Ris. Ya, udah, ntar aku usahain datang deh, gak usah dijemput! Aku bawa mobil sendiri aja,” putus Diana dengan senyum di wajahnya. Ia sudah membayangkan serunya bertemu dengan teman-teman lamanya. Ia tidak bisa melewatkan begitu saja. Suara riang Riska di seberang sana juga membuat Diana semakin bersemangat. *** Diana menghubungi berkali-kali nomor ponsel suaminya, tapi hanya nyanyian suara Judika yang terus terdengar. Akhirnya dengan kesal ia mengirim pesan, meminta izin kepada sang suami, bahwa ia akan pergi ke acara reuni kampusnya. “Bodolah, kalau nanti Mas Rey marah. Salah sendiri itu Hp gak diangkat,” gerutu Diana sembari mengambil kunci mobil di meja riasnya. Sekitar setengah jam di perjalanan, Diana tiba di lokasi acara yang diadakan di Hotel Aston Samarinda. Ia langsung menuju ruangan yang sudah dipesan panitia. Suara musik langsung terdengar ketika ia masuk ke ruangan itu. Langkahnya terhenti sejenak di depan pintu yang sudah tertutup kembali. Mata indahnya memindai seluruh ruangan yang sudah ramai oleh teman-teman seangkatannya semasa kuliah dulu. “Akhirnya kamu datang, Diana, setelah tidak membaca pesan-pesanku samasekali,” sambut seseorang yang tiba-tiba sudah berada di sisinya. Diana cukup kaget melihat Denny yang sudah berdiri di sampingnya. Ia benar-benar tidak menyadarinya. Diana mengamati sosok beralis tebal dengan sorot mata tajam bak elang mengincar mangsa. Bibir tipis merah dan seksi. Rahang kokoh serta tegas. Juga satu lagi yang mungkin membuat semua wanita ingin melemparkan diri ke pelukan badan tinggi tegap dan gagah itu, wajahnya yang tampan mempesona. Mata keduanya bersobok, saling mengunci.