Mantan Tapi Menikah?
Bab 1 Putus

Seorang gadis yang berusia sekitar 17 tahun, duduk di bangku sebuah tempat tongkrongan yang biasa ia kunjungi. Gadis tersebut masih menggunakan pakaian seragam putih abu-abu yang habis di coret coret menggunakan spidol sebagai lambang atas kelulusan nya di SMA Tunas bangsa. Sambil menunggu kekasihnya datang, gadis tersebut memainkan handphone genggam miliknya untuk mengisi rasa bosan. Setelah hampir 30 menit menunggu, akhirnya yang ditunggu pun tiba, seorang Pria yang seumuran dengan nya datang menggunakan pakaian Putih abu-abu yang sama persis dengan pakaian yang dipakai oleh gadis tersebut. "Udah lama lo nunggu disini?" Tanya Ridan. "Berjamur gue nungguin lo disini!" ketus Maya. "Lo udah mesan?" "Udah ni," ujar Maya sambil menunjuk 2 gelas yang bersisi kopi dan 3 mangkok kosong. "Lo mau mesan lagi gak?" tanya Ridan memastikan. "Enggak deh." Kemudian Ridan langsung memanggil pelayan café tersebut untuk meminta buku menu. Setelah selesai memilih menu yang ia pesan, Pelayan tersebut langsung pergi untuk membuat beberapa menu yang di pesan oleh Ridan. "Tumben lo ngajak gue ketemuan?" Tanya Ridan. "Ada yang mau gue omongin ke lo." "Tentang apa?" Maya menghembuskan nafasnya secara kasar. "Tentang hubungan kita yang kita jalani sekarang." Ridan menaikan alis sebelah matanya. "Kenapa?" Maya menatap Maya secara sekilas. "GUE MAU KITA PUTUS!"sarkas Maya. "Oh" Melihat reaksi Ridan membuat Maya tak mengerti mengapa ia bisa suka pada cowok seperti Ridan. "Cuman oh doang?" Tanya Maya meyakinkan karena ia tak menyangka bahwa Ridan hanya memberikan reaksi seperti itu. "Terus lo mau gue nangis? bunuh diri? ngancurin hidup gue? Lagi pula ada untungnya juga kita putus karena gue gak harus berakting di depan lo lagi! " ketus Ridan. "Gue juga tau kalau lo di depan gue Cuma pura-pura doang, jadi untuk apa kita teruskan hubungan ini. Toh gue juga gak punya perasaan sama sekali ke lo, lagi pula lo itu bukan tipe gue!" ketus Maya tak mau kalah. "Bagus deh, jadi gue gak merasa bersalah sama lo!" "Gue harap, setelah perpisahan ini kita gak akan dipertemukan lagi." "Gue harap juga begitu." Setelah mendengar ucapan dari Ridan Maya pun langsung pergi meninggalkan Ridan beserta hutang makanan yang tak sempat ia bayar. *** Setelah kejadian itu, mereka pun tidak pernah bertemu dan tidak pernah mengabari dan menanyakan kabar masing-masing atau loss kontak. Maya sudah ngeblok nomor handphone Ridan dan sudah unfollow akun Instagram milik Ridan. Sedangkan Ridan tak jauh beda dengan Maya, ia pun sudah mengganti nomor handphonenya. Mereka berdua menjalani kehidupan masing-masing sebagaimana tidak pernah terjadi sesuatu, serta mereka tidak pernah mengikuti acara Reunian yang diadakan oleh teman-temanya. Setelah lulus SMA, Maya masuk universitas di luar negeri dan mengambil jurusan yang melenceng dari jurusan yang ia ambil selama SMA. Jurusan yang ia ambil tak lain adalah manajemen bisnis hasil dari paksaan kedua orangtuanya dengan alasan untuk melanjutkan bisnis yang dijalani oleh ayahnya. Sedangkan Ridan, masuk universitas ternama di Indonesia yaitu universitas Gajah mada dan mengambil jurusan kedokteran. perusahaan ayahnya berkembang pesat dan memiliki cabang di berbagai daerah. Bukan hanya itu, Maya juga dapat membuat nama perusahaan ayahnya menjadi terkenal di seluruh penjuru dunia, sehingga tak jarang banyak investor berbondong - bondong untuk menawarkan kerja sama dengan Maya karena laporan keuangan perusahaan yang dikelola maya Relevan atau dapat dipercaya. Sedangkan Ridan pun sedemikian, setelah lulus dari universitas dan mendapatkan gelar dokter S1 di kampusnya, ia pun langsung mengambil alih Rumah sakit milik keluarganya dan berperan sebagai Dokter bedah rumah sakit yang dimiliki oleh keluarganya. Tak butuh waktu lama, Ridan berhasil membuat Nama rumah sakit keluarganya menjadi terkenal di seluruh pelosok Indonesia. Tak hanya itu, Ridan juga berhasil membuat namanya dikenal sebagai semua orang sebagai Dokter Bedah yang tampan dan muda, sehingga banyak Fans yang dimiliki oleh Ridan. Walaupun mereka berdua sudah Sukses dan mapan, namun sayang diusia yang ke 24 mereka belum menemukan jodoh. Bagi mereka tidak ada waktu untuk mencari jodoh Karena mereka percaya kalau jodoh itu sudah diatur oleh sang maha pencipta. Berbeda dengan kedua orang tua mereka terutama Mama, baik mama Ridan maupun Maya selalu mempermasalahkan dengan kondisi anak mereka masing-masing yang tak pernah mengenalkan pasangannya kepada kedua orang tuanya. Tak jarang dari mereka selalu berdebat dengan anak-anaknya karena masalah sepele yang tak lain adalah kondisi anaknya yang belum menemukan pasangan. *** Seorang gadis yang berusia 24 tahun sedang duduk di kursi kebangganya dengan memeriksa beberapa dokumen perusahan. Gadis tersebut tak lain adalah Maya, Maya sedang melakukan aktivitas sehari-seharinya yaitu mengecek dan menandatangani dokumen yang terkait dengan perusahaan. Setelah Maya menyelesaikan semua pekerjaannya, ia pun langsung pergi ke sebuah Café langganannya yang sering dikunjungi sewaktu SMA dulu. Pada saat ia sedang menunggu pesanan makanan nya, tiba-tiba seorang wanita yang berusia 25 tahun datang menghampiri Maya. "Maya?"tanya wanita tersebut memastikan. "Rania?" "Iya ini gue Rania teman lo sewaktu SMA," ucap Rania sambil mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Tempat duduk yang diduduki oleh Maya. "Lo apa kabar Maya?" "Alhamdulilah baik." "Lo kemana aja sih selama ini?" "Gue kuliah landon," jawab Maya. "Lo kenapa sih gak pernah ikutan acara Reunian dengan kita?" "Gue sibuk ngurusin perusahaan." "Ciee yang sekarang udah sukses…" Maya sedikit terkekeh mendengar ucapan Rania. "Btw lo sekarang kerja apa?" "Gue kerja di rumah sakit," ucap Rania sambil memperlihatkan Papan nama yang tertera di baju miliknya. "Ciee yang sekarang udah jadi dokter..." "Btw lo sendirian aja ni? " Tanya Rania karena ia melihat Maya hanya makan sendiri. Maya menaikan sebelah alisnya. "Seperti yang lo lihat sekarang." "Lo udah pesan makanan?" "Ni udah,"ucap Rania sambil menunjuk beberapa kantong plastik yang berisi makanan. "Itu makanan buat Rasya?" "Bukan, ini buat rekan kerja gue, lagi pula Rasya sekarang lagi menjalankan misi Negara." "Emang Rasya kerja dimana?" "Dia sekarang kerja sebagai prajurit negara Indonesia." "Keren banget dia." "Kabar Ridan gimana?" Tanya Rania penasaran karena ia tak pernah melihat Ridan. "Gue Udah putus dengan Dia." “Btw gue minta nomor handphone lo dong," ucap Rania sambil memberikan Handphone miliknya ke Maya. "Oke," ucap Maya sambil mengetikan beberapa digit nomor handphone milikinya. "Nanti gue pc kan ya." "Oke" "Gue duluan ya, soalnya gue ada operasi," pamit Rania. Setelah Riana pergi, Maya pun langsung menyantap makanan yang ia pesan. Setelah selesai menyantap makanan, ia pun langsung bergegas pergi ke kantor karena ia akan mengadakan meeting dengan klien.

Bab 2 Reunian

*** Di lain tempat, seorang pria yang berusia sekitar 24 tahun sedang melakukan kunjungan ke berbagai daerah pelosok, pria tersebut tak lain adalah Ridan. Ridan sedang melakukan kunjungan ke berbagai daerah untuk melakukan penelitian sebuah wabah virus yang menyebar di berbagai daerah. Pada saat ia sedang melakukan penelitian, Tiba-tiba saja seorang pria yang menggunakan pakaian tentara datang menghampiri Ridan. "Rasya?" tanya Ridan memastikan. "Iya ini gue!" teriak Rasya dengan gembira, karena ia tak pernah menyangka bahwa ia akan dipertemukan dengan Ridan sahabatnya waktu jaman SMA dulu. "Keren lo…" puji Ridan karena ia merasa bangga melihat sahabatnya itu menjadi tentara nasional Indonesia. "Lo juga keren." "Bisa aja lo." "Btw lo selama ini kemana aja?" "Gue sibuk" "Gue minta nomor handphone lo dong," ucap Rasya sambil memberikan handphone miliknya kepada Ridan. Setelah selesai memberikan nomor handphone miliknya kepada Rasya, ia pun langsung bergegas pamit dari hadapan Rasya karena ia ingin mengunjungi beberapa tempat lagi. *** Sedangkan di lain tempat, seorang Gadis sedang memarkirkan mobil miliknya di lokasi parkir yang berada di depan halaman rumahnya. Gadis tersebut tak lain adalah Maya. Kali ini Maya sengaja pulang cepat karena papa-nya, tadi siang menelpon dan meminta ia pulang cepat untuk menghadiri acara makan malam yang diadakan oleh keluarga besarnya di rumahnya. Setelah selesai memarkirkan mobilnya, ia pun langsung bergegas menuju ke kamarnya untuk melakukan ritual mandinya. Setelah selesai mandi, Maya pun langsung memasang baju berupa dress berwarna putih yang akan dipakai pada saat menghadiri acara keluarganya. Setelah selesai, ia pun langsung turun kebawah untuk makan bersama keluarga besarnya. "Hai Maya," sapa Mira sepupunya. "Hai apa kabar lo Mira?" "Alhamdulilah baik, oh iya Ni anak gue yang nomor 2," ucap Mira sambil menunjuk anak Lelaki yang berusia sekitar 3 tahun. "Hallo, namanya siapa?" sapa Maya terhadap anak lelaki tersebut. "Randi tante," ucap sang anak sambil menyalami tangan Maya. "Mama laper…!" rengek seorang anak perempuan yang berusia 5 tahun kepada Mira. "Kasian dia udah kelaperan, Yasudah ayo kita makan,"ajak Papa Maya. Selama aktivitas makan berlangsung, hanya hening yang dirasakan karena dalam adat keluarga mereka pantang yang namanya bicara saat makan. Setelah selesai makan, Maya pun langsung membantu tantenya untuk membersihkan sisa makanan. Setelah selesai membereskan sisa makanan, maya pun langsung bergabung dengan anggota keluarganya yang sedang berkumpul di ruang tamu. Topik yang menjadi tema pembicaraan antara keluarganya tak lain adalah soal Jodoh. "Maya kapan nikah?" Tanya Risna-Tante Maya. "Nanti keburu tua lo," tambah Risna Mendengar ucapan tantenya membuat Maya merasa muak dengan sikap tantenya yang selalu ikut campur urusan orang lain. "Tante kapan pakai hijab. Nanti keburu di jemput ajal lo. Canda ajal :v" sindir Maya yang berhasil mendapatkan cubitan dari mama nya. Setelah sekian lama berbincang, akhirnya acara kumpul keluarga pun usai. Setelah semua sudah selesai, Maya pun langsung pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Pakaian yang digunakan maya adalah pakaian Santai yaitu paduan dari baju kaos berlengan pendek dengan celana pendek selutut. Karena merasa lelah dengan aktivitas seharian, Maya pun langsung merebahkan tubuh mungilnya diatas Kasur kesanganya. Pada saat ia sedang Istirahat, Tiba-tiba saja handphone milik maya berbunyi yang menandakan bahwa ada yang memanggilnya. "Iya Hallo," ucap Maya dengan seberang Telepon. "Ini gue May, Rania," suara dari seberang telpon. "Kenapa lo telpon gue?" "Lo mau gak kalau kita besok ngadain reunian?... soalnya besok Rasya sudah pulang dan yang lain pun pada bisa," jelas Riana dari seberang telepon. "Malas gue." "Please...kali ini aja Maya, lagi pula Ridan gak ikut kok." "Yudah iya." "Thanks Maya sayang... yang lupa save nomor wa gue ya," ucap dari seberang telepon. "ok," ucap Maya sambil mematikan sambungan telepon secara sepihak. *** Gadis bernama Maya Astuti Ningsih sedang menatap seorang pria yang duduk di depannya dengan tatapan penuh dengan amarah - Ridan Alexander. Rasanya ia ingin sekali menerkam hidup-hidup pria tersebut. Dia kesal karena dia bertemu lagi dengan orang yang sangat ia benci. Itu semua berawal dari teman teman alumni SMA nya yang mengajak mereka reunian. "Kok kalian diam aja sih? Maya dan Ridan kalian masih marah ya? gara- gara kita bohongin kalian berdua? sini gabung sama kita," ajak Leni teman sekelas Maya dan Ridan waktu SMA. "Ogah," jawab Maya dan Ridan secara bersamaan. "Cie... Kompak," sorak teman sekelas Maya dan Ridan secara bersamaan. Sempat membuat semua orang yang berada di cafe menatap heran meja yang sedang mereka tepati. "Gitu ya... kalau jodoh," tambah Rania sahabat Maya. "Nyebelin banget sih!" "Ya udah jangan bete gitu dong. Mending kita main truth or dare," ajak Riska sang mantan sekretaris mencairkan suasana. "Gue gak ikutan deh, gue pulang duluan," gumam Maya sambil mengambil ancang ancang berdiri. "Etsss...mau kemana? gak ada yang pulang duluan. walaupun lo mau pulang duluan lo harus ikuti semua perintah gue selama 1 minggu," ancam Rania. "Ogah." Karena Maya merupakan tipe orang yang tidak suka diatur. "Ya udah ayo ikutan," ajak Rasya pacar dari Rania sekaligus sahabat dari Ridan. Rasya meminta seorang pelayan agar membawakan botol bekas. Dan permainan pun dimulai. Perlahan Rania memutar botol kosong diatas meja, semua mata tertuju pada botol yang sedang berputar di atas meja. "HYYYAAA!" seru Tita saat botolnya menuju kearah Rasya. "Anjir kenapa gue duluan sih!"sarkas Rasya tak terima. "Truth or dare?" tanya Rania. "Dare aja deh." Rasya memilih dare karena ia tahu apa yang akan terjadi kalau dia memilih truth maka Rania akan menanyakan semua rahasia Rasya. "Oke sekarang kita tentuin dare buat Rasya," ajak Rania dengan semangat. Kemudian mereka semua - terkecuali Maya dan Ridan, Berdiskusi untuk menentukan dare yang akan dijalankan Rasya. "Udah dapat Sya." "Apaan?" tanya Rasya tak sabar. "Pulang dari sini, lo harus cium banci yang ada di perempatan jalan. Nanti lo Video dan lo kirim fotonya di group sebagai bukti," Jelas Aluna panjang lebar. Mendengar dare yang diberikan oleh teman-teman nya, membuat Rasya menggelengkan mata-nya tak percaya selagi kepalanya ikut menggeleng menggeleng. "Gila lo semua! ogah ah." "Eh gak ada penolakan," sangga gadis bernama Alia. "Gila lo! gue geli banget yang namanya banci lah kalian? malah nyuruh gue cium banci lagi bisa ayan gue." "Cuman sekali cium kok, lo sambil tutup mata juga gak papa," ucap Rania meyakinkan. "Oke lah." Pasrah Rasya. Kemudian mereka pun melanjutkan permainan tersebut. perlahan Rasya memutar botol tersebut dia tas meja. Semua mata tertuju pada botol tersebut. "HYYYAAA! sekarang lo yang kena Lun," ucap Rasya dengan semangat. "Truth or dare Lun?" tanya Rasya. "Dare lah," angkuh Luna. Mereka semua-terkecuali Maya dan Ridan berdiskusi tentang Dare yang akan dijalankan oleh Aluna. "Udah dapat Dare nya Lun," ucap Alia. "Apaan? gue gak mau yang kayak Rasya tadi di suruh nyium banci." tanya Aluna dengan penasaran. "Enggak kok," ucap Rasya dengan menampakan senyum kelicikannya. "Terus apaan?" "Lo harus memegang anak tikus, terus lo Foto dan fotonya lo share ke kita," jelas Alia. "Gila lo pada! kalian kan tau sendiri gue paling geli sama anak tikus, baru ngeliat aja gue udah kencing apalagi nanti gue megang auto pingsan gue,"elak Aluna. "Gak ada penolakan,"sanggah Rasya. "Ya udah iya,"pasrah Aluna. Kemudian mereka pun melanjutkan permainan tersebut. Begitulah, kebanyakan dari mereka lebih memilih dare daripada truth. semua tantangan pun bermacam macam yang mengaju adrenalin. "Sekarang giliran lo Tita yang memutar botolnya." "Oke sekarang kita mulai ya," ucap Tita dengan semangat. Semua mata tertuju antara Ridan dan Maya karena cuman mereka berdua yang belum pernah kena dalam permainan truth or dare. "Yeyhhhh...lo Maya yang kena, akhirnya yang ditunggu pun kena juga," ucap Rania. "Truth or Dare?" tanya Tita. "Dare." Maya lebih memilih Dare karena ia merupakan tipe cewek yang tidak suka dengan pertanyaan dan lebih suka dengan tantangan. Kemudian mereka pun berdiskusi tentang Dare yang akan dijalankan oleh Maya. Berbeda dengan Ridan yang acuh tak acuh dengan permainan tersebut. Dia sibuk dengan game online yang ada di handphone milik nya. "Oke Maya, kita sudah dapat Dare buat lo,'' ucap Rania. "Apaan?" tanya Maya dengan penasaran. "Lo harus balikan lagi sama Ridan. Dan kami tunggu undangan kalian satu bulan kemudian," jelas Tita. Ridan yang sibuk dengan permainan game di handphone nya pun menoleh ''Kok gue di bawa- bawa? kan yang kena dia bukan gue ngapain gue di bawa bawa! ogah gue balikan sama dia apalagi sampai hubungan ke serius...ih amit amit deh,'' cerocos Ridan. ''Eh! Elo kira lo aja yang gak mau? gue juga gak mau kali balikan lagi sama lo! bisa stress gue kalau sama lo terus.'' ''Udah-udah, kalian ini sudah umur 24 tahun masih anak kecil,'' ucap Rasya menengahi. ''Gue pokoknya gak mau jalani dare nya.'' kekeh Maya. ''Etsss gak bisa... kita udah konsisten sama permainan nya. Kalaupun kalian gak mau jalani Dare nya kita sendiri yang akan bertindak.'' Kemudian tanpa pikir panjang Maya dan Ridan pun bergegas pulang ke rumah masing masing. ''Mau kemana kalian berdua?''tanya Rania. ''Pulang!'' jawab Maya dan ridan kompak. ''Cieee kompak…'' sorak teman teman Maya dan Ridan secara bersamaan. "Dari dulu sampai sekarang tetap gak ada perubahan, selalu sama-sama dimana ada Maya disitu ada Ridan," ucap Rania. "Kalian masih ingat gak? waktu mereka berdua dipanggil ke kantor oleh pak tono?" Tanya Rasya mengingat momen waktu SMA. "Yang waktu mereka berdua sama-sama berdiri terus disoraki satu kelas," ucap Rania sambil mengingat. "Itu momen yang tak akan bisa terlupakan." ''apa sih kalian!'' desis Maya dengan kesal sambil meninggalkan teman teman yang menurut nya sangat menyebalkan.

Bab 3 Ketemuan

*** Maya sudah sampai di rumahnya. pada saat dia ingin melewati ruangan tamu dia melihat kedua orang tuanya sedang berbincang serius. tanpa pikir panjang Maya langsung menghampiri kedua orang tuanya dan menyalami tangan kedua orang tuanya. walaupun Maya terkenal sebagai cewek yang arogan dia tidak pernah melupakan kewajiban nya kepada orang tuanya. ''Assalamualaikum. Ma, Pa,'' ucap maya sambil menyalami kedua orang tuanya. "Waalaikumsalam anak mama yang cantik,''ucap mama-puspita. ''Bagaimana acara Reunian? lancar? ada yang cocok gak?''tanya papa maya-Perdi. ''Alhamdulillah lancar kok pa." ''Bagaimana kondisi mereka semua? pasti banyak perubahan ya?''tanya mamanya maya- Puspita. ''Kondisi mereka sekarang sangat baik kok ma. Banyak dari mereka yang sudah sukses. Ada yang udah nikah bahkan ada yang sudah memiliki anak,'' jelas Maya. ''Tuh teman teman kamu aja udah ada yang menikah dan punya anak. Lah kamu kapan bisa kayak mereka? ingat lo umur kamu udah tua. Mama capek dikatain terus sama tetangga dan saudara. Mereka sering nanyain kapan kamu nikah? apalagi coba yang kamu cari? kamu sekarang udah sukses udah punya perusahaan sendiri." ''Pokok nya Maya, mama mau kamu segera mungkin cari jodoh kalau dalam bulan ini kamu belum bisa kenalin ke kita, kita sendiri yang akan jodohkan kamu,"tambah Papa Maya. ''Maya ke kamar dulu ya ma, pa,'' pamit Maya karena ia paling malas kalau orang tuanya membahas masalah jodoh. ''Anak kamu tuh ma. Dibilangin malah kayak gitu,'' ucap papa Maya menyalahkan istrinya. ''Itu lo kamu yang buat. Makanya keras kepalanya mirip sama kamu," bela Astuti. ''Wanita selalu benar." *** Sedangkan di lain tempat, seorang pria sedang memasuki Rumah miliknya yang tak lain adalah Ridan. Pada saat sedang melewati ruang tamu, ia sontak kaget karena melihat kedua orang tuanya ada di sofa miliknya. "Loh Mama sama Papa kok bisa disini? Bukanya Papa lagi ngerjain bisnis di luar negri?" Tanya Ridan. "Ada yang mau kami omongin sama kamu." "Ngomongin apa?" Tanya Ridan penasaran dan langsung mengambil tempat duduk berada di dekat Mama nya yang berhadapan dengan sofa yang diduduki oleh Papa nya. "Umur kamu sekarang udah berapa?" Tanya Mama Ridan. "24." "Kamu gak ada niatan gitu buat cari jodoh atau cari pacar?" Tanya Mama Ridan. "Belum ada niat Ma." "Apa yang harus kamu tunggu lagi Ridan? umur kamu sudah matang dan kamu sudah mapan buat berkeluarga. Mama malu setiap kali kumpul keluarga mereka semua nanyain ke Mama kapan kamu nikah? Lihat semua sepupu kamu udah pada nikah dan pada punya anak. Mama juga pengen kayak mereka. Pokoknya Mama gak mau tau bulan depan kamu harus sudah kenalin sama Mama." "Iya Ma," ucap Ridan mengiyakan karena ia tipe orang yang tidak suka membantah omongan kedua orang tuanya terutama wanita yang sudah melahirkan ia ke dunia ini. Setelah selesai mengobrol dengan kedua orang tuanya, Ridan langsung menaiki tangga rumah miliknya untuk membersihkan badan. Membersihkan badan setelah melakukan aktivitas di luar rumah, adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh Ridan, karena Ridan adalah seorang dokter yang mengutamakan kebersihan dan kesehatan. Setelah selesai melakukan ritual mandi, Ridan langsung mengambil pakaian rumahan berupa baju kaos berwarna hitam dan celana pendek selutut yang biasa dipakai pada saat di rumah. Setelah melakukan aktivitas nya Ridan pun mengecek handphone genggam miliknya untuk melihat berapa notifikasi yang ia lewatkan. Satu notifikasi yang menyita perhatian Ridan yang tak lain adalah notifikasi dari grup alumni teman-teman SMA nya yang sedang membahas dare yang akan mereka jalani. Rasya: Gue udah jalani dare gue, yang lain juga udah jadi tinggal @Ridan and @Maya yang belum ngerjain dare yang kita kasih. Leni: Kapan kalian akan jalani dare yang kita kasih? Maya: Kalau gue gak mau jalani dare nya gimana? Riana: Ya lo harus jalani! Ridan: Kok kalian pada maksa sih? Rasya: Itukan kewajiban lo! Lagi pula kita udah jalani semua kok dare nya, kalo lo gak percaya coba lo liat chatan kita dari awal. Dila: Lo tau kan kita nekatnya gimana? Melihat chatan group Alumni SMA membuat Ridan menjadi malas membuka Handphone genggamnya, dan lebih memilih mematikan handphone miliknya serta lebih memilih beralih ke alam mimpi. Seorang pemuda sedang memasuki halaman rumah sakit yang terkenal di kotanya, pemuda tersebut adalah Ridan, ya Ridan adalah seorang dokter sekaligus pemilik dari rumah sakit tersebut. Ridan langsung pergi ke rumah sakit karena ada seorang pasien yang sedang kritis. Setelah selesai melakukan tindakan ridan pun bergegas ke rumahnya untuk segera pulang ke rumahnya. setelah sampai di rumah Ridan langsung pergi ke tempat surga dunia yaitu tempat tidur. Sebelum tidur ia pun terpikirkan soal dare yang dilontarkan tadi kepadanya. Ia pun mengambil benda pipih di dalam sakunya. Dengan cepat dia menghubungi Maya, karena dia ingin memastikan tentang dare tersebut. Cewek urak urakan (panggilan untuk Maya) RIDAN: Woy besok kita ketemuan nanti gue share tempat ketemunya Cewek urak urakan: Hm *** Keesokan Harinya, Maya dengan Ridan sedang mengadakan pertemuan di sebuah café yang sering mereka kunjungi selama pacaran. "Kenapa lo mau ngajak gue kesini?" tanya maya to the point." "Sabar gak usah ngegas, btw lo udah pesan?" Sedangkan yang ditanya hanya diam. Ridan sudah mengerti tentang Maya, dengan segera ia langsung memanggil pelayan Café tersebut dan meminta buk menu. "Coffee latte nya 2 ya mbak," ucap Ridan sambil memberikan buku menu ke pelayan tersebut. Dan pelayan tersebut langsung pergi untuk membuatkan pesanan mereka. Ridan memang masih ingat menu kesukaan Maya pada saat mereka pacaran, sehingga dia pun langsung memesan coffe latte. "Gue banyak kerjaan! jadi cepat kasih tau gue kenapa lo ngajak gue kesini?" Tanya Maya dengan Sinis. Tak lama kemudian minum yang di pesan oleh Ridan pun datang. ''Tunggu, kita minum dulu oke''ucap Ridan. Mereka berdua pun langsung meminum minuman mereka masing-masing. “Jadi, maksud gue nyuruh lo datang kesini itu... gue mau bahas masalah dare di acara reunian semalam. Gue nyesel banget udah datang di acara reunian semalam, akibat acara reunian semalam gue jadi terjebak sama manusia kayak lo,''cerocos Ridan. ''Hei! lo kira lo aja yang nyesel karena udah datang di acara reunian tersebut? gue lebih nyesel...! gue gak nyangka aja, bisa ketemu sama orang kayak lo dan terjebak dalam permainan sialan itu! ''ucap Maya tak mau kalah ''Pokoknya gue gak mau jalani dare tersebut!'' ''Lo kira lo aja yang gak mau? gue lebih...! Gak terbayang gue jalani hidup gue sama lo! yang ada bisa stress gue!'' ketus Maya. ''Terus kayak mana dong? lo kan tau sendiri mereka itu teman- teman bangsat. Mereka bisa nekat kalau sampai semua keinginan mereka tidak terpenuhi. Yang gue takuti, nanti mereka bisa bertindak macam macam,'' ucap Ridan. ''Iya juga ya kan, terus gimana?'' tanya Maya. “Kalau kita pura-pura pacaran gimana?'' ''Lo belum bisa move on dari gue ya? ngaku lo,'' Curiga Maya. ''Dih geer banget sih! jadi orang itu gak usah kegeeran, udah lama kali gue move on dari lo! atau jangan jangan lo ya? yang belum move on dari gue,'' curiga Ridan. ''Apa sih, lo jadi orang geer banget!'' ''Gimana? Mau gak lo jadi pacar pura-pura gue?'' tanya Ridan. ''Pokoknya gue gak mau titik!" Kekeh Maya pergi meninggalkan café dan langsung menuju ke kantor. "Minuman lo siapa yang bayar?'' teriak Ridan. ''Lo yang bayarin!" teriak Maya dari pintu café.

Lanjut baca