Gita Sukma : Lagu Dari Jiwa
Bab 1 1 | Tarot Reader

TAHUNAN menjomblo kuat, giliran mengantri nasi goreng lima belas menit saja, Oceana sudah muntab. Gadis dengan surai karamel itu berkali-kali berdecak sembari menilik arloji tuanya. Menit-menit berharga yang seharusnya bisa ia habiskan untuk menonton Run BTS justru dibuang untuk mengantri nasi goreng yang  selalu lewat depan kost kakak sepupunya yang lambe turah --Jisha Kalila. Baru tiba di Surabaya sejam lalu, Oceana kelaparan. Jisha tak menyediakan makanan lain di kost kecuali Indomie ayam geprek. Oceana pecinta Indomie garis keras tapi sudah seminggu ini ia makan makanan instan kaya monosodium glutamat alias micin itu. Oceana tak menyebut ini bosan karena haram hukumnya menaruh kata bosan dan Indomie dalam satu kalimat. Ia hanya butuh menu lain malam ini, besok pagi barulah makan Indomie lagi. "Pak, nasi goreng pesenan saya pedes banget ya!" ingat Oceana pada bapak penjual nasi goreng yang tengah memberikan pesanan pada antrian depannya, pemuda seusianya yang sepertinya baru pulang kerja. Bapak penjual tak menyahut ucapan Oceana, tapi ia membuka tempat bumbu yang disinyalir gadis itu sebagai wadah cabai. "Waduh Mbak, *lombok-nya habis." *cabai Oceana ingin memaki sekarang. "Ya gak enak dong kalo gak ada cabenya, Pak." Bapak penjual menggaruk kepala, "Tak beli dulu nak warung *cedak tikungan iku ya, Mbak." *dekat Otaknya menimbang, daripada makan nasi goreng tanpa cabai sepertinya menunggu beberapa menit lagi tak apa. Oceana lantas mengangguk, "Yaudah deh, tapi jangan lama-lama ya, Pak!" "Siap Mbak, tak lari-lari kayak Naruto," ucap si bapak sembari mengambil beberapa uang pecahan ribuan di kotak penyimpanan uang dan bergegas membeli cabai. Oceana menghela napas, gadis itu memasang airpods-nya sembari mengedar pandang, meneliti setiap jengkal lingkungan indekost kakak sepupunya. Aneh. Biasanya suasana di daerah sini masih ramai dengan aneka kegiatan masyarakat hingga tengah malam. Ia melihat arlojinya lagi. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Masih satu jam setengah lagi tapi daerah sini telah sunyi. Gadis itu menatap langit malam, cahaya lampu jalanan membuat bias kuning oranye menyelimuti gelap cakrawala. Temaram. Membuat bulu kuduk gadis itu meremang sejemang. "Anjir, lama banget sih beli cabenya. Apa gue cabut aja ya?" monolognya seperti pasien rumah sakit jiwa. Netranya lantas menyisir area pertokoan di sebelah utara, semua toko tutup. Gelap gulita, kecuali sebuah toko di pojokan yang memancarkan cahaya lampu bohlam kuning. Plang kayu dengan lampu tumblr terpasang, menggantung di atas jendela. Plang itu bertuliskan nama toko: S O U L - R I V E R "Sejak kapan ada toko barang antik?" Oceana melepas airpods-nya, "Seinget gue empat bulan lalu gak ada toko beginian." Empat bulan yang lalu ia mengunjungi Surabaya, kota kelahirannya. Gadis itu menetap di Jakarta, tapi ia sering mengunjungi tempat yang mendapat julukan kota pahlawan ini untuk melepas penat atau sekedar ingin kabur dari rutinitas ibu kota. Gadis itu menimbang sejenak sembari menggigit bibirnya. Menunggu itu membosankan. Dari pada gabut, ia pun melangkahkan tungkainya menuju toko itu. Kaki rampingnya melangkah pelan seiring dengan hembusan angin malam yang menerbangkan sebagian rambutnya, peristiwa alam yang jarang sekali terjadi di kota besar padat penduduk seperti Surabaya. Angin itu membawa aura yang tak dapat Oceana jelaskan. Aura seperti yang kerap kali ia rasakan kala mata batinnya masih terbuka, bertahun-tahun silam saat ia menginjak remaja. Dari toko, sayup-sayup lagu Danilla Riyadi menyahut. Gadis itu mengintip lewat jendela, nampak sosok tampan dengan tengah bersenandung mengikuti lagu "Kalapuna". Di tangannya terdapat setumpuk kartu yang tengah ia kocok. Pintu dengan ornamen kaca dan kelambu tembus pandang milik toko terpasang tanda 'buka', Oceana pun membuka daun pintu dan masuk. Senyum terkembang lengkap dengan dua deret gigi kelinci milik pemuda tampan itu menyambut dirinya, "Pelanggan terakhir kami hari ini, selamat datang!" serunya dari balik meja kasir. Oceana hanya tersenyum tipis lantas menilisik seisi ruangan. Ada barang unik di sana, mulai dari buku-buku kuno dengan kertas usang kecoklatan, mainan anak tahun '90, piringan hitam musik lengkap dengan printilan alat tulis dengan model klasik namun estetik. Sebuah piano hitam di sudut ruangan menarik perhatian gadis itu. Oceana duduk dan mulai menjentikan jemarinya di tuts hitam putih, mencipta nada indah di udara. Satu-satunya lagu yang ia ciptakan di tahun ke dua SMA. "Maaf, tapi Anda tidak boleh memainkan piano ini," tegur si pemilik gigi kelinci. "Ini barang istimewa toko yang tak ternilai harganya," tambahnya, kilat biru safir menyala di netranya. Oceana tersentak menatap obsidian si gigi kelinci, tapi entah bagaimana ia tak bisa menanyakan keanehan barusan. Lidahnya kelu saat hendak bersuara. "Sebagai gantinya, mari Anda coba kartu tarot di meja," tawar Gigi Kelinci sembari menunjuk mejanya tadi. Tak bisa ditolak, Oceana mengekori pemuda itu ke meja kayu. "Sudah pernah diramal dengan tarot, Oceana?" Oceana mengernyit, "Kok tau nama gue?" "Magic, sihir bisa menuntaskan masalah," ucapnya lantas tertawa kecil. Oceana ngeri, ia curiga dengan si gigi kelinci ini. Apakah ia sejenis dengan, Harry Potter, Roy Kiyoshi atau mama Lauren? "Your phone case, young lady, ada nama Anda di sana," tunjuk Gigi Kelinci pada ponsel dalam genggaman Oceana dengan dagunya. "Oceana Bluesha, nama yang cantik." Fiuuhhh. Oceana bernapas lega, ia kira jika Gigi Kelinci ini anak indigo. Gadis itu sudah jera berhubungan dengan dunia ghaib dan seisinya, cukup masa remajanya saja. Oceana sudah tenang sekarang, tak ingin berurusan dengan makhluk tak kasat mata lagi. "Tarot card is," ucap si gigi kelinci dengan senyum misterius memikat, "beautiful and mystical experience that can help you better understand your unique journey through the spiritual, emotional, and physical world. It gives you a glimpse within, offering you a mirror into your own soul." Oceana tak bergeming, tentang hal itu tentu ia tahu. Kartu tarot memang terkadang sering digunakan sebagai alat untuk melihat kedalaman jiwa, segala hal yang berhubungan dengan prediksi nasib, masa lalu, masa kini, atau bahkan masa depan. "Ceritakan pada saya alasannya." "Hah?" Giigi Kelinci berhenti mengocok kartunya sejenak, lantas tersenyum dan melanjutkan lagi "Apa yang membawa Anda kemari?" tanyanya. "Saya tau ada sesuatu yang mengusik Anda." Oceana mengerjap, otaknya memproses ucapan si gigi kelinci barusan. Benar, ia memamg sedang lari dari perasaan itu. Kekosongan yang selama berbulan-bulan terakhir menggerogoti semangatnya, mengacaukan banyak ritme kehidupannya. "Kosong," tebak Gigi Kelinci tepat. Ia lantas menyiapkan deck tarotnya, menebar kartu yang ia kocok sedari tadi hingga berjejer rapat rapi. "Mari kita pahami kekosongamu." Oceana menelan salivanya ada gelenyar cemas dalam dadanya. Giigi kelinci menjentikkan jari telunjuknya di meja membuat ketukan beritme yang menambah aura mistis yang semakin terasa sekarang. "Kita mulai dari Major Arcana, resapi kekosongamu lantas pilih tiga kartu yang menarik hatimu!" titahnya. Oceana menutup netranya, menyelami segala perasaan hampa yang ia rasakan akhir-akhir ini. Degub jantungnya berpacu cepat, keringat dingin menetes di dahi dan punggungnya. Kedua tangannya mengepal. Kehampaan dan kosong itu terasa. "Apa ada seseorang yang hadir di benakmu, Oceana?" Oceana tak menjawab karena ia kini sedang fokus dengan bayangan lelaki dengan senyuman sehangat mentari pagi yang pernah ia simpan namanya di hati. Senyum sebening embun pagi yang tak pernah ia miliki. Senyum secerah rembulan malam yang hanya bisa ia pandang dari kejauhan. Kosong itu berganti sesak kala memori dan bayang si pemilik senyum itu menyeruak dalam benak. Memanggil segala memori masa putih abu-abu yang tersimpan rapat dalam alam bawah sadar. Air mata mengalir perlahan seiring Oceana membuka mata. "Jangan menangis!" ujar Gigii Kelinci sembari menyodorkan tissue yang ada di meja, "sudah siap mengambil kartu?" Oceana mengangguk, ia menghapus air matanya dengan tissue. Beberapa jenak setelahnya, tangan gadis itu terulur memilih tiga kartu yang menarik hatinya. "Mari kita buka kartu pertama, simbol masa lalu." tukas gigi kelinci membuka kartu pilihan pertama Sean. "The Death." Ia menyodorkan kartu itu pada Oceana. "Akhir, mengulang kembali, berubah, rugi, keniscayaan, transisi." Oceana sedikit gusar, the death 'kan kematian. "Dua arti Oceana, di masa lalu Anda telah melepas diri, akhir dari sebuah era. Arti kebalikannya menghadapi rasa takut akan ketetapan." "Ah, gue emang pernah lepas dari masa kelam gue, but now, I'm totally fine." "Glad to know that, Oceana!" Gigi kelinci lantas membuka kartu kedua. "The Strength." Gigi Kelinci menyodorkan kartu itu pada Oceana.  "Kekuatan batin, kebijaksanaan, keberanian, keyakinan, kemauan dan ketabahan." "Gue gak merasakan itu semua." Gigi kelinci merotasikan matanya, "Let me explaine, first, Oceana." Ia bersidekap, "The Strength adalah bukti bahwa Anda kuat sebenarnya. Semua ujian yang sedang Anda rasakan justru menjadi jalan pembuka untuk menemukan diri sendiri, mengatasi tantangan hidup yang menjatuhkan." "Sumpah, gue gak ngerti." "Saya kira manusia sekarang sudah pintar," gerutu Gigi Kelinci. "Pikir ulang jika Anda tidak mengalami kekosongan itu, Anda tidak akan menemukan tempat ini sekarang." Oceana mengernyit, kok ngegas? "Kita menuju kartu terakhir," kata Gigi Kelinci sembari membuka kartu, senyum dingin menyerupai seringai muncul lagi. "The Fool." "Kesucian, awal, kemurnian, kebebasan, potensi, semangat, resiko." "Kebodohan, maksudnya?" Seringai terbit di wajah rupawan Gigi Kelinci "Kebodohan bukan kebodohan. Kau akan memulai hubungan baru Oceana. Awal baru dengan seseorang." "Hubungan apa nih, kalo cuma FWB ya *kecut lur!" kata Oceana. "Siapa juga yang mau berhubungan sama gue?" *Kiasan : gak asik "Ada Oceana, mungkin sosok melintas di benakmu tadi." Oceana membeku. Apakah benar ia? Si pemilik senyum sehangat mentari? "Gak ... mungkin." Oceana terbata-bata. "Semua mungkin jika Tuhan menghendaki." "Apa mungkin gue ketemu dia lagi?" desisnya "Apa bisa gue ketemu Kak Narendra Wilaga?" 🌊🌊🌊 Mau dikata apalagi? Wilaga si keyboardist Echo Sound terjebak hal klise yang dialami pekerja seni. Kehabisan ide —jawaban konyol yang sontak membuat Mister Park atasannya murka. Ia sadar penuh jika lirik buatannya mainstream. Lirik gubahannya ampas, seperti puisi buatan anak taman kanak-kanak. Tak ada sesuatu yang mampu membuat hati teriris pun bergemuruh. Tak ada yang membangkitkan getar dalam dada atau ratusan kupu-kupu menggelitiki perut. Liriknya tak bernyawa dan tak menyentuh sama sekali. Hanya deret kalimat biasa, ibarat kata hanya raga tanpa jiwa. Wilaga tak tahu bagaimana membuat lirik yang menyentuh hati. "Cuk, gini terus gue beneran dipecat Mister Park!" umpatnya seraya mengangkat badan dan terduduk. Ia memasang  kasar tudung hoodie hitamnya lantas meraih gawai mahal yang sedari tadi tergeletak di sisi kanannya.  Wilaga butuh itu sekarang. Racun sekaligus obat segala rasa kosongnya. Pereda sejenak kebuntuan yang ia rasakan sekaligus yang mengacaukan algoritma hidupnya. Penyebab dirinya menemukan gersang ide dan hilang imajinasi. Lagu dan musik sialan. Melodi yang menggali rasa hampa dan kerinduan yang seakan tak menemui kata sirna. Wilaga buru-buru memutar musik yang ia unduh dari aplikasi Soundcloud beberapa bulan lalu. Lagu yang mengirim kutukan sekaligus anugrah pada dirinya. Musik itu mengalun, sayup-sayup meraba indera rungu lewat udara. Wilaga memejamkan kedua obsidiannya. Meresapi makna yang tertuang dalam melodi dan nada. Perlahan sesak dan rindu merasuki jiwanya. I'm blinded by the night you left behind Found myself in everything you are Maybe some time later I'll be fine But I'll let you go some other night I'm blinded by your night If only I knew how to let this go If only I didn't know you at all I wish I never have sung this song But I'll let you go some other night You have me in dark and you stole my night I wish for the day to never light Entah, ada sakit dan rindu yang membawa candu di lagu itu. Sejatinya, pemuda itu menyukai lagu emosional dengan melodi menyedihkan. Namun tak pernah ia menjadi tak berdaya dan kehilangan arah jika lagu telah usai. Ia menangis menyanyikan lagu dengan lirik yang mengiris, namun tak pernah semua itu ikut terbawa seusai menyanyikannya. Ada ruang kosong di hatinya yang mendadak terbuka saat mendengar nada-nada barusan. Menuntut seseorang segera mengisi dan hidup di dalamnya. Bodohnya, Wilaga tak tahu siapa. Perlahan tangannya terayun meraba pipinya yang basah dengan air mata. Ia tersenyum miris memandang ke luar jendela yang menampakan panorama malam. Ada yang menghancurkan sudut hatinya acap kali lagu itu terdengar. Namun, keindahan dalam sakit itu menjadi sesuatu yang selalu ingin ia nikmati. Magis benar lagu ini. Tanpa judul, tanpa nama penyanyi atau penggubahnya. Membuat Wilaga merasa tak berdaya menulis lirik dan nada. Ia yakin tak akan bisa menyaingi lagu seindah ini. Ia merasa kerdil, lagunya hanyalah remahan dibandingkan lagu yang ia dengar. Wilaga kagum sekaligus insecure. Tiba-tiba sakit itu kembali. Napasnya tersengal. Leher Wilaga serasa tercekik. "Sebenernya gue kenapa?" desisnya kesakitan. []

Bab 2 2 | Chaotic Life

"MAS Willy, lo disuruh tidur sama Mama," ujar adiknya —Septavio Arlaga. Cowok kurus itu berdiri di ambang pintu studio membawa sarung bantal dan selimut baru. Sensasi tercekik oleh sesuatu yang tak terlihat di leher Wilaga mendadak lenyap. Pemuda itu langsung memasang wajah datar seolah segalanya baik-baik saja. "Iya, bentar lagi. Cerewet banget sih lo!" Septa merotasikan kedua hazelnya, "Gue tau lo cinta sama musik-musik lo, tapi please jaga kesehatan. Kasian Mama kepikiran lo terus." Septa melempar selimut dan sarung bantal itu ke muka Wilaga. Wilaga tersenyum masam karena tuduhan adiknya. Siapa yang tak ingin tidur? Pemuda itu ingin sekali terlelap dan beristirahat, tapi akhir-akhir ini ia tak bisa memejamkan dwinetranya. Semenjak mendengar lagu misterius itu, Wilaga tak pernah bertemu nyenyak dalam tidurnya. Mimpi buruk. Mana bisa ia terlelap jika di setiap ia memejamkan mata, ia terjebak di lorong gelap dengan bayangan menakutkan bermata violet mengejarnya? Cih, Septa mana paham dengan hal seperti ini? "Chat Mama sama Papa gak pernah lo bales," seloroh Septa membuyarkan lamunan Wilaga. "Chat dari temen-temen lo juga dianggurin." "Gue sibuk, Dek Tata." "Sibuk bukan alasan buat lupa sama Mama Papa atau gak bales chat dari orang yang peduli sama lo, Mas Willy!" balasnya. "Masa gini aja harus gue ingetin. Yang lebih tua gue apa lo sih sebenernya? Heran gue!" "Ponsel gue lagi airplane mode," kilah Wilaga karena merasa diomeli adiknya. "Temen lo, Mas Jay sama Bang Jo nyariin tuh. Mereka mau ke sini." Remaja itu mendengus, "Percuma punya wajah ganteng tapi yang ngapel cowok mulu. Kapan sih lo ngenalin cewek ke Mama?" Wilaga menunjukkan tangan terkepal yang siap digunakan untuk adu jotos, "Gue normal ya, masih doyan Jennie BLACKPINK!" Septa tak menggubris, ia masuk ke ruangan Wilaga dan memunguti kertas serta bungkus makanan yang berserakan. "Wah homoan lo dateng tuh," celetuk Septa saat melihat ke bawah jendela. Jonatan dan Jay turun dari mobil. Wilaga langsung menatap tajam, ia melangkah dan memiting kepala adiknya. "JANCUK! SAKIT WOII, WILLY THE KIDZZZ!" jerit Septa membahana. "GUE LEBIH TUA DARI LO, PANGGIL GUE MAS WILLY!" Wilaga mengeratkan siksaannya. Septa terengah-engah, "Pokoknya gue bakalan ngadu kalo temen lo cowok semua. Biar Mama makin yakin kalo lo homo!" Seringai jahat muncul di wajahnya, "Mampus dicoret dari Kartu Keluarga!" Wilaga tersenyum kecut kemudian melepas pitingannya, "Gue masih suka cewek." Pemuda itu lantas memandang adiknya sendu, "Gue masih suka dia." "Gue seneng sih lo gak homo, tapi bisa gak sih ganti ceweknya? Cari cewek yang bener." Septa mencebik sembari memegangi lehernya, "Jangan pacar temen lo atau cewek itu. Lo bego kalo belum ngelupain dia." "Kalau pacarnya Mas Jay gue udah move on," tukasnya, "tapi kalau dia ...." "Mana bisa gue lupain cinta pertama?" lanjut Wilaga. 🌊🌊🌊 Waktu terus bergerak, tapi liriknya hanya jalan di tempat alias mangkrak. Wilaga kecewa dengan dirinya sendiri. Jika Mister Park kesal dengannya, Wilaga lebih kesal lima kali lipat dibandingkan bosnya itu. Terkadang memang begitu bukan, kita mudah membenci diri sendiri dibanding membenci orang lain? "Emang bener sih ini kayak puisi anak sekolah dasar," tukas Jay sembari meletakkan gulungan kertas Wilaga di atas meja. "Udah paling bener lo main sinetron aja sama si Jo." Ujaran Jayapati membuat Jonatan mendelik. Ide main sinetron bersama Wilaga adalah sebuah bencana baginya. "Ngadi-ngadi bener orang tua kalo ngomong, mending gue jadi penyanyi dangdut daripada satu sinetron sama dia. Malu-maluin," gerutunya. Jonatan dan Jayapati kini datang ke rumah Wilaga. Mereka bertiga berkumpul di studio milik tuan rumah. Wilaga hanya mendengus mendengar penuturan teman-temannya itu. Menyulut puntung rokoknya dengan bara api kecil dari pemantik yang selalu ia bawa kemana-mana akhir ini. Lelaki dengan rahang tegas itu tak pernah menyentuh benda yang dijuluki pembunuh perlahan ini semenjak SMP. Exception. Untuk masa terendah dalam hidupnya kali ini, ia membutuhkan nikotin. "Kalo lo ngerokok pasti ada yang ganggu pikiran lo. Kerjaan lo berantakan, lo mengisolasi diri sendiri," tebak Jonatan yang mendapat anggukan setuju dari Jayapati. Wilaga tak menyahut. Ia justru menghembuskan asap nikotin dari hidung dan mulutnya, sengaja membuatnya membumbung di udara. Jonatan yang melihat ini tersenyum masam, lantas berjalan mendekati jendela dan membukanya. Ia perokok, tapi sebal jika ada orang merokok sembarang seperti Wilaga kali ini. "Lo kalo mau mati, mati aja sendiri, bangsat!" Jayapati mendelik jengkel. "Jangan ngajakin orang ke akhirat cepet-cepet, gue belum kawin sama Abby!" Wilaga meremas rambutnya tak peduli omelan Jayapati dan tatapan tajam Jonatan. "Gue merasa goblok banget gak bisa bikin lirik," ucap Wilaga sembari menengadah, memandang langit-langit studio musiknya. "Mengakui kesalahan wajib, self blamming dan merundung diri sendiri itu gak boleh." Jayapati melirik wajah sejawat satu band-nya itu. "Dari jaman kita masih bau ketek dia selalu gitu terus, Mas. Sering nyalahin diri sendiri!" sahut Jonatan kesal pada sahabat sebayanya ini. Ia kenal sekali dengan Wilaga. Kedekatan mereka telah terjalin sejak mereka masih buluk, belum mengenal apa itu deodorant dan masih ingusan hingga sekarang gantengnya bikin jejeritan dan masuk level kurang ajar. Saat keduanya telah lulus kuliah dan bekerja di bidang yang berbeda —Jonathan memilih seni peran dan acting, sementara Wilaga berkelut dengan musik, Echo Sound, dan pianonya— keduanya tetap sering bertukar kabar dan dengar pendapat perihal musik dan saling berkomentar pedas tentunya. "Kalian percaya gak kalo gue gak bisa bikin lagu gara-gara lagu lain?" Jonatan dan Jayapati saling pandang, sama-sama tak memahami pertanyaan random Wilaga. "Beberapa bulan yang lalu gue iseng-iseng download lagu di Soundcloud," cerita Wilaga. "Gue nemuin satu lagu yang bikin gue resah, sedih, kangen, tapi gak tau kangen siapa. Bajingan banget!" "Ah, ini sih gara-gara lo kelamaan jomblo kali, Will. Coba lo cari pacar biar gak halu mulu, setau gue jomblo emang rentan stress dan lebih beresiko kena serangan jantung." Pemuda itu menyipit menyelidik, "Jangan-jangan lo masih kepikiran pacarnya Mas Jay, ya? Siapa namanya, Ebi? Abai? Abby?" "ABIGAIL KIM, BEGO!" seru Jayapati ngegas. Tak terima kekasihnya disebut-sebut. Wilaga mendengus mendengar nama gadis yang sempat mengusik hatinya. Abigail, pemilik fansite yang sempat membuatnya sempat bersaing dengan Jay. "Anjir, kagak. Gue udah mupon ya! Lagian kalo gak jodoh dan dia gak suka masa gue maksa." Jayapati tertawa jahat, merasa menang dari Wilaga karena ia yang dipilih Abigail. "Lo kan tau sendiri emak gue maunya dapet menantu yang punya darah Jawa, Jo!" "Santai kali gak usah pake kuah," tukas Jonatan sembari mengusap wajahnya yang tempias dengan ludah dari mulut Wilaga. Ia pun berpikir keras, Wilaga jarang dekat dengan perempuan hanya ada dua gadis yang terang-terangan disukai sahabatnya ini. Salah satunya Abigail, kekasih dari Jayapati si gitaris Echo Sound. Dan .... "Anjrit, jangan bilang cewek itu! Lo masih kepikiran dia ya?" Jayapati kini memandangnya iba, "Gue bersyukur lo gak suka sama cewek gue. Tapi gue masih prihatin kalo lo belum move on dari cewek itu. YA TUHAN, BANYAK IKAN DI LAUTAN, BANYAK CEWEK LAIN DI LUAR SANA!" Wilaga sedikit tercubit hatinya saat Jonatan dan Jayapati membahas dia. "Kangen sih dikit, eh banyak," koreksinya sendu. Melihat keseriusan Wilaga, kedua sahabatnya ingin tertawa tapi juga iba. "Ada hal lain selain dia bikin gue gak tenang. Ini tentang kerjaan, ini tentang lagu. Setiap kali gue denger lagu ini, gue merasa kecil, gue merasa gak bisa menyaingi lagu itu," lantas ia melanjutkan dalam hati, kadang gue bahagia tapi kadang gue merasa sesak dan tecekik. Mendengar testimoni Wilaga, Jayapati menjadi penasaran, "Siapa penyanyinya? Gue kenal beberapa musisi indie sih." Wilaga memetik jemarinya, "Nah, itu! Lagu itu tanpa judul, tanpa nama penyanyinya." Wilaga menghela napas panjang. "Setelah mendengar lagu itu, gue jadi insecure, tiba-tiba gue blank dan gak bisa nulis lirik." Cowok itu lantas membuka ponselnya dan memutar lagu yang dimaksud. Sepersekon selanjutnya alunan itu mulai berputar, nada demi nada merangkai suara. "Coba deh kalian dengerin." "Gue gak terlalu paham lagu enak itu gimana, tapi menurut telinga awam gue lagu ini ear catching, kalo masuk Spotify bakalan jadi hits lagu ini!" Jonatan mengangguk. "Bagus kan lagunya, easy listening parah! Udah macem ketergantungan gue sama ini lagu," ujar Wilaga penuh binar di matanya. "Tapi sayang banget gara-gara lagu ini, Mister Park marah-marah, project gue berantakan," dan gue sering tersiksa, lanjutnya dalam hati. "Ketergantungan tuh sama Allah bukan sama lagu. Lo kurang ngaji Will," sahut Jayapati. "Wajah lo gak pantes buat ceramah, Mas Jay." Jayapati langsung menjejali mulut Wilaga dengan roti isi coklat di depannya, "Udah gak usah bacot, diam itu emas!" Wilaga dengan mulut penuh masih ingin berucap dan membalas, namun urung terlaksana lantaran Jonatan membuat gerakan memerintah untuk diam. Maybe some time later I’ll be fine But I’ll let you go some other night "Wait! Gue kenal lirik ini." Jonatan mengernyit, mendengar petikan lirik. "Kayaknya composer lagu ini berhubungan sama Stay Artsy." "Stay Artsy?" tanya Jay. Wilaga merasa dadanya sesak. "Iya, dia webtoonist," Jonatan segera membuka aplikasi komik daring menunjukkan sebuah bio profile yang berisi kutipan lirik tadi. "Dia bilang, kata-kata ini bagian tersembunyi dirinya." 🌊🌊🌊 "Jadi dia suka sama penyanyi model jamet gini?" "Willy Wonka, look at him! Kemana-mana gantengan gue, lo tau gen keluarga Daniswara ganteng semua kan? Apalagi gue ini mengemban gen unggulan dari unggulan Daniswara yang gantengnya kayak bangsawan Korea!" Jayapati berkacak pinggang, "Seharusnya nih tukang gambar ngidolain gue!" Wilaga merotasikan netranya saat mendapati kebiasaan buruk sahabat bangsatnya ini. Kebiasaan nyinyir dengan bumbu kesombongan seperti tadi saat berkomentar soal Pamungkas —idola dari produser lagu yang membuat Wilaga resah beberapa waktu terakhir. Terberkatilah Tim Intelijen keluarga Park dan Daniswara. Berkat bantuan tim intel Jayapati dan Jonatan, Wilaga berhasil menemukan beberapa informasi perihal produser lagu itu. Mulai dari alamat surel hingga hal-hal yang ia sukai. "Percuma ganteng tapi alergi macem-macem." Jonatan menyahut sarkas, "Apa tuh, alergi serbuk bunga, gak macho!" Air muka Jayapati memerah, ia mengacungkan jari tengahnya. Urat malunya masih berfungsi rupanya. "Kadang gue malu punya sepupu macem Mas Jay." Wilaga terkekeh senang saat Jonatan menistakan cowok cungkring  yang lebih tua dua tahun dari mereka. "Gak usah ketawa lo Willy Wonka juragan permen, lo juga gak macho. Keluar malem aja masih minum tolak angin dulu." Wilaga tertawa terpingkal-pingkal dengan julukan Willy Wonka si juragan permen coklat yang ia dapatkan karena nickname-nya yang mirip dengan nama tokoh fiksi sebuah film. Jonatan menyahut, "Mulut bule bangsawan negeri oppa-oppa lentur banget emang!" "Cuk, mbahku iki yo mbahmu loh," maki Jayapati tapi langsung ganti topik pembicaraan "By the way,  Pamungkas bisa main piano sama gitar?" tanya Jayapati kaget saat menatap layar laptop yang menampilkan live perform Pamungkas. "Anjir, enak juga sih lagunya, gue jadi pengen collab." [nenekku ini nenekmu juga loh] "Yeuu, tadi bilang dia jamet sekarang kepincut kan lo!" sungut Wilaga mendapati perubahan persepsi Jayapati. "Kalo kata gue sih, daya tarik Pamungkas bukan di wajah, daya tariknya di musik. Lagu-lagunya gak kayak musisi indo kebanyakan," terang Wilaga. Jayapati manggut-manggut, fokus menatap layar. Wilaga yang tadinya duduk kini merebahkan dirinya di sofa, "Menurut kalian dia kenal gue gak ya?" "Si tukang bikin komik?" sahut Jayapati masih fokus ke layar. "Webtoonist, Mas!" koreksi Jonatan sedikit sewot. "Mana gue tau, gue kan Jay," jawabnya menyebabkan Jonatan ingin menonyor Jayapati. "Tapi, kalo dia penikmat musik indie harusnya sih kenal Echo Sound, band kita kan lumayan famous." "Gue pengen menghina tapi omongan Mas Jay bener. Mestinya dia tahu Echo Sound dan tahu lo, pianisnya," sahut Jonatan. Jay mengangguk membenarkan sembari main game di gawainya. Pamungkas masih bernyanyi di laptop, menjadi back sound percakapan ketiga lelaki itu. "Tapi sampe sekarang email gue belum dia bales." Wilaga mengacak surai hitamnya, "Gimana nih project gue?" "Sabar, si —eh siapa namanya?" tanya Jayapati "Stay Artsy." "Nama aslinya?" tanya Jonatan. "Gue gak ngerti. Tim Intel kalian cuma ngasih alamat email sama preferensi musik, film, dan situs yang sering dia kunjungi," ujar Wilaga lirih. "Makannya gue manggil dia keluar dari persembunyiannya pake Pamungkas, penyanyi kesukaannya." "Oh, dia cewek apa cowok ya?" Jay mulai menggunakan otaknya. Berspekulasi. "Kalo cowok jangan belok lo, Will! Masih banyak cewek lain selain si Abby sama cewek itu." "Bajingan! Gue normal, gue udah move on!" sangkal Wilaga meski hatinya mendadak rindu dia. "By the way, kok lo nebak dia cowok sih?" Jayapati melipat dahinya, "Biasanya yang pinter composing lagu kan cowok. Gue ngerasa yang bikin cowok, meskipun yang nyanyi cewek. Emang yang bikin lagu mesti yang nyanyi, enggak kan?" "Kok feeling gue dia malah cewek ya?" "I'm not sure!" Jayapati melirik sekilas, "Jangan-jangan ladyboy?" "Kalau gue sih yakin dia cowok, cerita webtoon dia aja perang-perangan game  sejenis Sword Art Online gitu," spekulasi Jonatan. "Bang Iyan juga yakin dia cowok." "Ya si Iyan 'kan expert banget di musik. Biasanya prediksi dia bener. Gue satu tim sama Jo dan Brian, tim composer cowok berbatang," sahut Jayapati sembari bermain game cacing-cacingan. Wilaga tersenyum kecut hingga sebuah denting notifikasi menginterupsi. Ia segera meraih gawainya. Bersamaan bunyi tersebut tiba-tiba hujan turun dengan deras disertai gemuruh dan petir. Langit malam dihiasi cahaya kilat yang saling unjuk eksistensi. Pintu serta jendela bergerak tertutup dan terbuka sendiri digoyang angin kencang nan tajam yang seolah hendak menggores apapun yang dilewati. Air hujan membasahi balkon, membuat tempias di sana-sini. "Ramalan cuaca udah kayak omongan fuck boy, kagak bisa dipercaya!" ujar Jayapati meletakan gawainya dan menutup jendela yang terbuka tertutup menghasilkan orkestra derit yang memekakkan telinga. "Ngaca, Mas sepupu bangsatku! Lo juga fuck boy," umpat Jonatan. "Katanya terang hari ini, kenapa tiba-tiba hujan petir gini sih!" lanjut Jayapati menggerutu tak peduli umpatan Jonatan. Wilaga tak menyahut lagi karena tiba-tiba ia meremang, entah bagaimana ia merinding sendiri. Ada yang aneh dengannya, ia merasa gugup. Keringat dingin keluar dari punggung serta dahinya, beberapa kejap pandangannya blurry, beberapa kejap terang. Ia menggelengkan kepalanya lantas melakukan tujuan awalnya membuka notifikasi ponsel. From : stayartsy To : softpiripiri Hi! Menindaklanjuti tawaran dan pertanyaan kamu, ada baiknya kita bertemu langsung saja. Emailkan saja waktu dan titik temunya. Regards, stayartsy Wilaga mengulum senyum kecil. Tanpa menyadari bahwa ikatan takdir mulai diurai saat ia mendapat balasan surel ini. Tanpa menyadari bahwa dwinetra dengan sorot violet menatapnya tajam dari balik jendela yang baru saja Jayapati tutup dengan rapi. []

Bab 3 3 | Titik Temu

SIAPA di dunia ini yang tidak mencintai gratisan? Hampir semua orang menyukainya. Misalnya saja makanan dengan cita rasa standar jika gratis level nikmatnya naik berkali-kali lipat. Oceana yang manusia biasa banyak khilaf banyak dosa juga suka hal berbau gratisan. Ia memang anak sultan, tapi kini ia sedang hidup bersama standar masyarakat kelas menengah yang membuatnya tidak bisa foya-foya. Orang tuanya tidak setuju ia menjadi webtoonist, hal inilah yang membuat kedua orangtuanya tidak memberi tunjangan finansial sejak tiga tahun lalu. Hidup sebagai rakyat jelata mengajarinya banyak hal, salah satunya tidak menolak rejeki dan  mencintai segala hal berbau gratisan. Alasan-alasan itu yang membuatnya rela membongkar identitasnya dan datang ke cafe tengah kota demi bertemu dengan si pemberi barang gratisan. Oceana bersyukur. Sejujurnya, kemarin ia merasa dipecundangi dunia karena tak bisa melihat konser Pamungkas. Namun, semesta selalu punya cara unik untuk menyadarkan manusia agar tidak mudah men-judge dan berprasangka buruk pada takdir. Selalu ada jalan. Selalu ada pertolongan jika kita terus berupaya dan berpikiran baik pada pencipta. Seperti kemarin, saat Oceana mulai merasa kesal dengan nasib, ia tertampar dengan fakta bahwa Tuhan sedang baik padanya. Tiba-tiba seseorang yang mengaku fans dari lagu ciptaannya menawari tiket VIP menonton penyanyi favoritnya itu. Si pemberi tiket berkata bahwa ia adalah penikmat lagu yang ia gubah saat ia masih SMA. Lagu yang sebenarnya merupakan himne luka dan patah hatinya. Lagu yang tercipta saat air matanya sedang deras mengucur menangisi takdir yang tak berpihak padanya. Sore, di cafe tengah kota. Titik dan waktu temu, guna membahas timbal balik apa yang hendak diminta oleh penggemarnya ini. Oceana melangkahkan tungkai, menyusuri trotoar karena ojek online yang ia tumpangi harus memutar jauh jika mengantarnya sampai depan cafe —yang mana bisa menghabiskan tiga puluh menit waktunya. Belum lagi kemacetan di lampu merah yang membuat waktu terbuang. Dari pada berlama-lama, gadis itu memutuskan untuk jalan kaki saja. Cukup menyebrang dan berjalan beberapa ratus meter ia sudah bisa tiba lebih cepat dibanding saat naik ojek. Lagi pula Oceana suka berjalan, memandangi gedung pencakar langit dan manusia lain yang berlalu lalang dengan ribuan macam ekspresi. Mengamati ekspresi wajah cemberut, kalap entah dikejar apa, air muka sedih gundah gulana, atau wajah sumringah penuh senyuman selalu menjadi hal menarik yang tidak bisa ia nikmati jika sedang naik kendaraan. Mengobservasi tindak-tanduk manusia lain serasa menyenangkan bagi gadis itu. Sore ini mendung padahal bulan ini sudah masuk musim panas. Tak ada mentari dengan sinar teriknya, ia tertutup dengan awan kelabu yang sepertinya siap mengguyur hujan dalam waktu-waktu dekat. Jakarta menjadi tak begitu bengis udaranya. Oceana mempercepat langkahnya hingga angin membelai wajah dan menerbangkan anak rambutnya, setia mengikuti sampai ia tiba di pelataran cafe yang dimaksud Softpiripiri. Ah, berbicara perihal Softpiripiri, ada yang membuat Oceana tersenyum geli. Menurutnya nama itu sangat lucu, seperti nama second account pada Twitter atau Tumblr. Ia selalu terkekeh sendiri jika menyebut user name itu. "Namanya lucu banget sih. Dedek SMA jaman sekarang pinter banget bikin username," celetuknya setengah tersenyum berpikir jika Softpiripiri adalah anak SMA. Oceana menggeleng kepala mengusir pikiran konyol di benaknya. Ia harus segera tiba. Cafe itu nampak lebar karena didominasi ornamen kaca dan kayu sehingga jarak pandang semakin banyak yang dijangkau —ilusi jika tempat itu luas. Oceana merapikan rambut dan outfit-nya yang sempat diterpa angin sore. Gadis itu lantas melenggang masuk. Ia menyapu pandang ke seluruh ruangan, hanya ada beberapa pengunjung yang sibuk dengan dunia masing-masing. Oceana memilih duduk di sudut ruangan, spot nyaman karena menghadap sebuah mini stage lengkap dengan alat-alat musik yang kini mulai riuh oleh beberapa orang yang hendak mengisi live music. Pandangannya lantas teralih ke jendela yang menampakkan jalanan dan langit sore yang tak jingga kali ini. Langit kelabu, mendung semakin asyik bergelayut di sana. Kilatan petir tanpa suara gemuruh nampak jelas tertangkap netranya. Aneh, gelenyar dingin merambati tengkuknya. Pertanda jika ada yang tak beres dengan sekitarnya. "Pesanannya, Kak!" ucap pelayan cafe membuyarkan atensinya. Oceana  tersenyum tipis melihat pelayan itu kala meletakan pesanannya di meja. "Oh ya, ini ada bonus untuk Kakak sebagai pengunjung kami yang ke sembilan puluh sembilan hari ini." Sebuah cermin vintage dengan bingkai kayu diletakkan pelayan itu di atas meja. "Wow, thank you!" sahut Oceana, "Kenapa harus ke sembilan puluh sembilan? Tidak sekalian seratus saja?" Pelayan itu tersenyum miring dengan raut serius, "Sembilan puluh sembilan adalah lambang lengkap, simbol kesempurnaan alam ..." Air mukanya kembali ramah. "... begitu, Kak! Ada yang mau dipesan lagi?" Oceana menggeleng. Pelayan itu tersenyum tipis dan pergi. Sejemang selanjutnya ia menatap cermin itu, meneliti setiap ukiran dengan aksara jawa kuno yang tak dapat gadis itu pahami. "Antik banget sih, jangan-jangan udah ada sebelum jaman penjajahan nih." Ia bercermin, menatap pantulan wajahnya yang kini pucat karena lip tint-nya mulai memudar. Gadis itu lantas mengambil perona bibir dari sling bag dilanjut memoles dan meratakannya dengan jari tengah dan telunjuknya. Hingga sepersekon selanjutnya ia melihat bayangan wajahnya di cermin itu lengkap dengan kilat netranya, membara bak api menyala. Sorot netra yang pernah menghilang Kini. Tiba-tiba kembali lagi. Sontak Oceana menjatuhkan cermin itu ke atas meja. 🌊🌊🌊 Septavio Arlaga : jangan lupa ke dokter! lo nyusahin kalo sakit :/ Wilaga menutup ponselnya. Ia mendengkus usai membaca pesan singkat dari adiknya. Memang Wilaga manja saat sedang sakit, tapi tidak seharusnya adiknya itu menunjukkan bebannya pada Wilaga. Lagian, jika Septa sakit ia juga gantian  mengurusnya. Tapi, Septa juga ada benarnya sedikit. Wilaga sakit, Septa repot! Seperti tiga hari ini misalnya. Septa mencari daun sirih dan menyiapkan puluhan bungkus kapas untuk Wilaga. Semenjak kunjungan teman-temannya malam itu, Wilaga tak henti-hentinya mimisan. Darah segar menetes dari hidungnya sehingga membuat adiknya was-was. Kakaknya ini tak pernah mengalami mimisan sepanjang hidupnya, cuma sekali dulu saat adu otot perkara berebut peran menjadi ranger merah dengan Brian alias Bang Iyan si bassist Echo Sound yang waktu masih SD tetangga kompleknya. Wilaga mimisan karena Brian curang meninju tepat di hidungnya. "Bangsat, ini kayak darah mens aja netes terus!" makinya sembari menyumpal hidungnya dengan tissue. Pemuda itu segera masuk cafe, ia harus menyelesaikan urusannya dengan si pemilik lagu lalu pergi ke dokter, badannya sudah cukup lemas sebenarnya. Septa yang tadi baru pulang kuliah mengomel karena Wilaga tetap nekat pergi dengan kondisi badan seperti ini. Ia membuang sumpalan tissue dari hidungnya ke tempat sampah di samping pintu. Lantas menyisir ruangan dengan kedua obsidiannya, mencari keberadaan gadis surai karamel dengan kemeja baby blue oversized dan black mini skirt. Wilaga langsung berspekulasi jika gadis ini penyuka korean style. "Yaelah, pengabdi Oppa Bambang Style," gumamnya saat membaca ulang surel si Stay Artsy. Misteri apakah penggubah lagu itu laki-laki atau perempuan sudah terpecahkan saat Wilaga mendapat surel balasan, karena dengan jelas penggubah itu menyebutkan ciri-ciri tubuhnya seperti rambut panjang coklat karamel, dan deskripsi pakaian perempuan. Wilaga tersenyum tipis saat menatap gadis yang duduk membelakanginya, menatap ke jalanan tak peduli dengan sekelilingnya. Gadis itu mirip dengan ciri-ciri yang disebutkan. Nampak punggung saja cowok itu yakin jika gadis itu cantik. Jangan oleng, Willy. Lo kalah saing sama Jaehyun NCT! Ia melangkah menghampiri gadis itu selangkah demi selangkah. Sementara ... Langit semakin kelam. Hujan tiba-tiba mengguyur di luar. Angin kencang berhembus di depan cafe, menggoyang kasar dahan dan ranting di bahu jalan. Petir menyambar, suaranya bak orkestra dengan nada yang menakutkan dan memekakkan telinga. "Hai!" Wilaga menyapa, menatap side profile gadis itu. Sepersekon selanjutnya si gadis menoleh. Netra mereka bertemu, bersitatap dan bersirobok dengan banyak kejutan dan tanda tanya yang tersalur lewat sorotnya. Petir menyambar lagi, gemuruhnya lebih kencang dari sebelumnya. "Oceana?" Wilaga berucap dengan binar di matanya. Ia tersenyum tipis tak peduli dengan cuaca yang makin menggila di luar di sana. "It's been a long time, ini beneran Oceana Bluesha?" Gadis itu tercekat sesaat. Oceana Bluesha. Oceana selalu suka saat suara pria ini menyebut namanya. Memanggilnya dengan lembut dan lengkap. Seperti lagu-lagu dari Sheila on7 yang tak bosan ia dengar. Gadis itu larut dalam keterkejutannya, ia hanya mengerjapkan mata. Tubuhnya membeku, menatap dua netra yang penuh binar balas menatapnya. Binar manik favoritnya sepanjang masa. "Ini kayak cerita FTV." Wilaga masih terus berceloteh. "Sekian lama kita ketemu lagi." Petir makin menggila, Oceana masih membatu di tempat, mematung menghadapi presensi Wilaga di depan mata. Ia masih mengumpulkan kesadaran setelah dua kali mendapat kejutan. Kejutan baik dan buruk. Pertama, kemampuannya yang kembali. Kedua, pertemuannya dengan Wilaga setelah sekian lama. "Boleh gue duduk?" Oceana mengangguk perlahan. Wilaga segera menghempas tubuhnya ke kursi kayu di samping Oceana. Ada yang berubah, ada yang masih sama. Aroma tubuh Wilaga masih seperti dulu, perpaduan aroma maskulin, manis permen, serta manis susu. Perbedaanya tentu saja gaya rambutnya yang kini sedikit memanjang. Kenapa sekarang jadi mirip oppa-oppa boy band sih? Ah, Wilaga juga sekarang terlihat lebih kurus dari dulu. Hari ini wajahnya pucat, bibirnya kering dan sorot matanya sedikit sendu. Wangi tubuhnya dan perasaan gue masih sama. "Jadi selain bakat menggambar lo juga jago compose lagu?" ujar Wilaga memecah kesunyian di antara keduanya. Tanpa basa-basi, ceria seperti dulu. Oceana tak menyahut ia menatap Wilaga dalam sembari memegang cermin kuno hadiah dari cafe tadi dengan erat. Fakta bahwa Wilaga masih mengingatnya membuat degub jantungnya lebih cepat dua kali lipat. Ayo jawab Oceana, kenapa lo jadi bego sih! "Oh, sorry, lo gak nyaman ya? Gue terlalu SKSD deh kayaknya." Mendengar Wilaga yang canggung, Oceana menghela napas. Sebenarnya bukan karena ia kesal atau merasa tak nyaman dengan kehadiran Narendra Wilaga —manusia yang paling ia sukai di bumi ini. Pemuda pertama yang memberi banyak gelitik kupu-kupu di perutnya. Pemuda pertama yang membuatnya jatuh cinta. Tapi sudah aturannya. Api dan air tak bisa menyatu. Bulan dan matahari tak bisa berpadu. Begitu pula Wilaga dan Oceana tak boleh bertemu. Semenjak aturan itu ditentukan, Oceana mengubur perasaannya pada Wilaga. Tapi sayang, perasaan itu bangkit lagi seiring dengan kosong hati yang ia rasakan beberapa bulan ini. Ah, ramalan Gigi Kelinci benar rupanya. "Gak kok, gue cuma kaget dikit, soalnya bisa ketemu Kak Willy lagi," kata Oceana. "Aku kira Softpiripiri itu anak SMA." Wilaga yang tadi canggung kini tersenyum, menampilkan deret gigi rapi serta kerut lucu di sekitar matanya. "Gue kan emang soft dari dulu." Ia terkekeh kemudian. "Untung aja lo inget gue, kirain lupa." Mana mungkin gue ngelupain manusia favorit gue di bumi ini. "Enggak kok, masih inget." Wilaga nyengir lagi, "Ternyata lo punya banyak sisi tersembunyi ya, Oceana?" Oceana mengernyit. "Jujur aja gue gak nyangka lo bisa bikin lagu yang bikin gue baper gak kira-kira," ucap Wilaga. "Setiap dengerin lagu itu gue berasa dicintai banget, tapi di sisi lain gue merasa kayak udah menyakiti seseorang, penyesalannya membuat gue kosong," terkadang gue juga tercekik, lanjutnya di dalam hati. "Gue kangen banget, tapi gak tau kangen sama siapa. Kayak ada sosok hilang yang minta ditemukan." Wilaga berucap, masih dengan senyuman sehangat mentari pagi. Senyuman khas yang tak pernah berubah, selalu membuat Oceana terkesima. "Gue mau minta tolong sama lo?" Oceana mengerjapkan netra, terkesiap karena dua hal; 1. Mendengar penuturan Wilaga dan; 2. Darah segar yang menetes dari hidung individu di dekatnya ini. Wilaga terdiam saat Oceana menatapnya, "Oh, shit! Mimisan lagi ya gue? Ini gak elit banget. Lagi serius juga pake berdarah segala!" tutur Wilaga sembari meraih tissue di saku kemejanya dan menyumpal hidungnya lagi. "Kak Will ...." "Maaf ya, Oceana, aku mimisan pas lagi serius gini, lo jangan jijik ya!" oceh Wilaga tapi dengan tersenyum. Ia  menahan darah mimisannya dengan tissue. Oceana menatap dengan cemas takut menjadi satu, "Sejak kapan Kak Willy mimisan begini?" "Tiga hari sih. Ini habis ketemu lo, gue mau ke dokter buat periksa." "Tiga hari lalu berarti sejak Kak Willy terima email ya?" Wilaga mengerjap dan berpikir sejenak, "Kayaknya, habis temen-temen main ke rumah jadi mimisan mulu. Badan lemes, tulang kayak mau rontok semua." Oceana terdiam sesaat. Mereka-reka fragmen kenangan di benaknya, mengingat kembali kejadian tahunan silam. Sama, dia masih lemah kayak dulu. "Tapi gue masih kuat kok." "Kak Willy harus pulang sekarang," perintah Oceana. "Lo khawatir karena gue sakit?" tanya Wilaga yang sempat-sempatnya usil saat tissue menutupi lubang hidungnya. Oceana diam. "Santuy! Gue sehat kok, paling cuma kecapekan sama stress doang. Lagian gue masih punya urusan sama lo. Masa iya langsung pulang gini." "Gue gak mau ketemu lo, Kak." Sedetik. Dua detik. "Kenapa, lo gak kangen sama gue?" tanya Wilaga lirih, sedikit terluka. Kangen banget, jawab batinnya yang berlainan dengan mulutnya, "Enggak, gue gak kangen sama lo. Please, sekarang lo pulang ya, Kak!" "Kenapa lo gak mau ketemu gue?" Gadis itu tak menjawab, ia diam seribu bahasa. Wilaga mengangkat kedua tangannya ke udara membuat gerakan pasrah, "Okay, gak masalah, at least berikan gue nomer ponsel. Biar gue gampang kontak lo." "Gue gak mau berhubungan sama lo, Kak," desis Oceana. "Kita gak boleh bertemu sekarang atau kapanpun," tambahnya. "Maksud lo?" Oceana hendak menjawab, tapi suaranya tercekat keluar saat derit dari bingkai dan kaca jendela terdengar. Kaca-kaca jendela itu bergetar diterpa angin dan tempias hujan. "Ada angin puting beliung?" tanya Wilaga mengamati jendela di depan mereka. Sepersekon selanjutnya terdengar suara gemuruh bercampur suara kaca retak. "Ini gempa?" Wilaga nampak khawatir, bibir dan wajah pucatnya semakin menjadi-jadi. Oceana menatap kaca jendela, pandangannya tajam, menghunus objek yang ia pandang. Birainya berbisik dalam bahasa aneh yang tak dipahami oleh Wilaga. "Oceana? Ayo pergi sekarang, bahaya diam sini!" ucap Wilaga takut tak terkira. Takut jika terkena bencana alam, takut jika ia dan Oceana terluka. "Enggak, mereka bakalan ngejar Kakak kemanapun Kakak pergi." "Maksud lo?" Wilaga melihat semburat violet dan jingga di langit lewat kaca jendela, lagi-lagi ia meremang. "Itu apaan? Kok horor gini sih?" Ia merapatkan diri pada Oceana. Oceana melirik Wilaga lantas mengulurkan tangannya padanya. "Pegang tangan gue!" "Maksudnya?" "Pegang atau kakak bakalan mati!" []

Lanjut baca