Alga menatap foto seorang perempuan cantik di tangannya, kemudian mengelus gambar itu untuk beberapa saat, dan ingatannya melayang pada kejadian hampir setahun silam. "Sah ...!" ucap saksi yang hadir saat Alga selesai mengucap ijab qobul dihadapan penghulu. Dia menghembuskan napas beratnya, dan sebuah tepukan hangat dipundaknya, membuat Alga berpaling. Lelaki itu melihat senyum bahagia terukir di wajah ayahnya yang sudah mendampinginya dihari bahagianya ini. "Bahagia--" Benarkah ini hari bahagia? hati kecil Alga ingin berteriak. Nyatanya dia tak pernah menginginkan menikah secepat ini, disaat dia sebenarnya telah memiliki kekasih terlebih dengan perempuan asing yang belum dikenalnya. Alga mengedarkan pandangan, mencari sosok perempuan yang sudah dinikahinya. Tapi dia tak menemukan perempuan itu. Pelaminan sederhana yang ada di rumah ini kosong ... bahkan sejak dia dan rombongan keluarganya baru datang ke rumah ini. "Maaf ... Maemunahnya masih di kamar, belum selesai dirias, sebentar lagi dia akan datang kalo sudah selesai," bisik lelaki paruh baya yang Alga kenal sebagai Paman istrinya tersebut. Tapi hingga waktu berlalu, dan penghulu sudah beranjak pulang, perempuan yang bernama Siti Maemunah itu belum juga menampakkan dirinya. "Bagaimana Pak Arman--? mempelai perempuanya sudah siap? ini sudah saatnya mau foto-foto," bisik seorang fotografer yang sudah diundang untuk mengabadikan momen pernikahan hari ini. Lelaki bernama Arman itu tampak gelisah. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran. "Maaf semuanya. Sebentar saya lihat dulu ke dalam," ujarnya sambil berlalu. Dia membungkuk kecil pada Alga dan keluarga menantunya itu. "Apa yang terjadi, Pah?" tanya Ela, Ibu Alga yang dijawab dengan gelengan, Alga hanya mengamati keadaan disekelilingnya tak mengerti. Situasi tampak normal, masih banyak tamu-tamu yang berdatangan ke tempat ini, hanya saja pelaminan yang seharusnya menjadi tempatnya duduk masih sepi, dia pun enggan berpindah duduk dari tempatnya sekarang ke tempat yang dipenuhi hiasan bunga-bunga tersebut. Ayah Alga tampak melihat ke arah jam tangannya. Pak Arman belum juga keluar sejak pamit ke dalam tadi. "Bagaimana ini?" Ibu Alga mulai khawatir, dan dari arah pintu besar yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah, tampak beberapa orang mondar mandir dengan langkah langkah cepat. "Sesuatu telah terjadi," gumam Alga melihat keadaan itu. "Jangan-jangan istrimu kabur, Mas," celetuk Dian, adiknya dengan senyum miring. "Huss." Ibu Alga buru-buru mencubit lengan putrinya yang memang duduk di sampingnya. "Jangan bicara yang enggak-enggak, jangan dulu berprasangka," ucap Ibu Ela lagi. Dian hanya tertawa kecil. "Mau taruhan, Bu? " "Sudah-sudah ... kita tunggu saja kedatangan Pa Arman." Akhirnya Pa Handoko melerai putri dan istrinya. Alga hanya dapat termenung, meski berusaha mengabaikan kata-kata Dian, tapi entah mengapa hal itu terus mengganggu dirinya hingga membuat jantungnya berdetak cepat. Mungkinkah dugaan adiknya benar? Istri yang baru dinikahinya telah kabur? Kalau memang itu benar, harusnya dia lega bukan? dia tak harus hidup berada dalam satu atap dengan perempuan yang tak dikenalnya itu? dia bisa terus melanjutkan hubungannya dengan Hani, perempuan rupawan yang telah dipacarinya selama 3 tahun. Hani ... kekasihnya itu tengah menempuh pendidikan S2 nya di luar negri, selama dua bulan belakangan Alga hampir melupakan sosok yang menjadi penghuni hatinya itu karena perjodohan yang digagas Ayahnya dengan Pa Arman. Alga bahkan tak memberitahukan rencana pernikahannya karna takut membuat Hani terluka dan mengganggu kegiatan studinya. "Mas, lihat tuh Pa Arman ... wajahnya pucat ... 100 % aku yakin istrimu itu kabur." Dian mencolek lengan Alga. Pak Arman terlihat tergopoh gopoh mendatangi tempat rombongan keluarga menantunya duduk. "Apa yang terjadi, Pak ...?" tanya Pak Handoko menyambut kedatangan Pa Arman. "Maafkan saya, Pa." "Katakan saja, ada apa ... gak usah takut ... saya akan menerimanya dengan lapang dada ...," ujar Pa Handoko bijak. Pa Arman tertunduk. Dian tampak akan bersuara tapi Pa Handoko buru-buru menggeleng. "Maafkan saya yang tak becus mengurus keponakan saya, Pa. Siti Maemunah telah pergi ... saya sudah menyuruh beberapa orang untuk mencarinya karna dia kemungkinan belum jauh ... kalau sudah ada kabar, saya sendiri yang akan mengantarnya ke tempat Bapak," ujar Pa Arman lirih. Dian tersenyum menang, dugaannya benar. "Maafkan saya, Pak ... saya benar-benar malu. Maemunah tidak menunjukkan gelagat aneh saat menanda tangani buku nikah sesaat sebelum akad, dia tampak baik-baik saja," ujar Pa Arman lirih. "Kita tunggu saja sampai dia ketemu, Pa. Setelah itu kita akan putuskan kelanjutan status pernikahan ini," putus Pa Handoko. "Seharusnya kita dengarkan keputusan Mas Alga, Pah?" ucap Dian melihat kakaknya hanya diam. "Alga ... apa yang kamu pikirkan ... apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Pa Handoko akhirnya. "Seperti kata Papah ... kita tunggu saja ...," gumam Alga. Mendadak hatinya menjadi sesak. Baru kali ini dia merasakan kekecewaan yang luar biasa. Bukan ... bukan karna dia mulai menerima Siti Maemunah sebagai istrinya. tapi dia merasa perempuan itu sudah menginjak injak harga dirinya, seharusnya perempuan itu menolak perjodohan ini sejak awal, maka pernikahan ini gak akan terjadi, dan Ayahnya pasti gak akan memaksanya jika Siti Maemunah yang menolaknya. Tapi perempuan itu memilih jalan seperti ini, jalan yang membuat Alga terperangkap dalam status baru yaitu menjadi seorang suami. "Sekali lagi maafkan saya, Pak." Pa Arman masih tertunduk di hadapan Pak Handoko. "Sudah ... sudah ... gak papa." Pak Handoko mengelus elus punggung Pak Arman, sesuatu yang membuat Alga muak. Yah ... dia harus menemukan Maemunah, dan membalas perbuatan perempuan itu. Harus.. "Pak...." "Tok ... tok ... tok." "Pak Alga ..." Alga terkesiap dari lamunannya, buru-buru dia memasukan foto istrinya ke dalam dompet dan berpaling ke arah pintu. Tampak sekretarisnya, Lina sudah berada dipintu kantornya. "Maaf, Pak .. ada Ibu Hani di depan ... saya sudah bilang Bapak sedang sibuk, tapi dia memaksa." "Suruh dia pergi, terserah bagaimana caranya, saya sedang banyak pikiran dan tak memiliki mood bagus buat trima tamu siapapun, Lin," ucap Alga. "Baik, Pak ..." Lina menutup pintu Kantor bosnya tersebut, tapi belum sempat pintu tertutup rapat, seorang perempuan muda tiba-tiba menyeruak masuk. "Sayang ... aku rindu ..." Perempuan itu memeluk Alga tanpa sempat mengelak. Lina yang melihat hal itu buru-buru menutup pintu dan berlalu mengerjakan tugasnya, dia tak mau mencampuri urusan Bos nya tersebut. "Kenapa menolak ku?" ucap Hani merajuk. "Maaf.. aku sedang banyak pekerjaan ... aku sudah bilang ditelpon kemarin akan mengunjungimu malem ini ... jadi kamu gak perlu datang kemari," ucap Alga datar. "kamu tau kan kalo aku di indonesia cuma sebentar, jadi harusnya kita bisa memanfaatkan waktu dengan baik ... kamu bahkan ga menjemputku di Bandara. " "Aku sedang mengerjakan proyek besar ... maaf ya ...." "Oke aku maafkan ... tapi temani aku makan siang ya ... ini sudah jam dua belas, yuk." Hani menarik lengan Alga, membuat lelaki itu akhirnya mengikuti langkah kekasihnya. "Ada restoran baru buka ... kata temanku menunya enak-enak, kita kesana ya ... tempatnya deket sini kok. Aku sudah reservasi" Alga hanya diam mendengarkan ocehan Hani yang menceritakan banyak hal tentang studinya dan hidupnya di negri orang ... hingga perjalanan mereka menuju restoran yang di pesan perempuan itu akhirnya sampai. Mereka langsung menuju tempat reservasi ... dan saat Hani sedang memesan menu, netra Alga menangkap sosok semampai yang mengenakan seragam restoran, tampak membawa makanan pesanan tamu ... jantungnya berdetak dengan cepat. Dia adalah Maemunah, istrinya yang telah kabur setahun yang lalu.
Maemunah mematut dirinya di depan cermin kamar, wajah cantiknya tampak tirus dan menyiratkan kelelahan, dia lelah harus terus berpindah-pindah tempat seperti ini. Tapi dia harus terus melakukannya agar tak ditemukan. Sejak memutuskan kabur dari acara pernikahannya, dia tak punya pilihan lain selain terus bersembunyi agar tidak ditemukan, baik oleh keluarganya maupun oleh suaminya. Hari ini Maemunah akan berangkat bekerja di sebuah resto yang baru buka sekitar sebulan yang lalu. Pekerjaan baru yang tidak mudah ia dapatkan dan harus disyukurinya karena diterima diantara puluhan orang yang melamar saat itu. Karenanya ia tak ingin terlambat, bergegas perempuan itu menyudahi lamunannya dan mengoleskan bedak tipis agar wajahnya yang putih tak terlihat pucat. "Kamu shift pagi, Mun?" suara serak seorang perempuan yang tengah bergelung di dalam selimut membuat Maemunah menoleh. Tampak teman satu kamarnya itu mengerjab kemudian mengucek-ucek kedua matanya. "Sudah bangun?" tanya Maemunah datar. Setelah mengoleskan bedak di wajahnya, perempuan itu lalu memakai liptin warna natural. "Sudah dari tadi, cuma aku enggan meninggalkan kasur nyaman ini," jawab Fira sambil menggeliat. "Nanti bareng aku aja, aku ada urusan, mau ketemu sama dady ku," ucap Fira lagi sambil bangun dari tempat tidurnya dengan malas. Maemunah mendengus tak suka. "Aku harus berangkat lebih awal karena ada brifing sebelum resto dibuka, jadi aku berangkat sendiri saja. lagipula aku ga mau ketemu dady kamu!" tegasnya terang terangan. Maemunah memang tak menyukai lelaki paruh baya yang selalu dipanggil dady oleh Fira. Meski belum pernah bersua secara langsung, tetapi Munah sering melihatnya dari kejauhan dan dia merasa kalau lelaki itu memiliki sorot mata yang menakutkan. "Kamu pikir aku juga mau ketemu dady? aku cuma mau uangnya, dan pria gendut sialan itu hari ini minta ketemu ... mau kasih uangnya langsung ga mau transfer seperti biasa, jadi apa boleh buat." Wajah Fira tampak bersungut kesal. Perempuan cantik itupun memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Jadi selama ini ekspresi bahagia yang terpancar di raut Fira saat ketemu dadynya itu palsu? Hmm harusnya Munah sudah bisa menduganya, tetapi ia tak pernah ingin tau kehidupan teman baik yang telah dikenalnya hampir setahun belakangan itu. Munah tak pernah ingin campur kehidupan temannya kecuali jika temannya itu yang membukanya pada Munah. "Beneran gak mau bareng, Mun?" tawar Fira lagi. Rupanya ia sudah keluar dari kamar mandi. Maemunah menggeleng. Perempuan itu memperhatikan Fira yang tengah berpakaian dan berdandan. "Haruskah kamu berpakaian seperti itu?" Munah mengernyit melihat pakaian terbuka temannya. Tampak jelas belahan bagian dadanya terlalu panjang ke bawah hingga menampilkan 'aset' perempuan itu. "Aku ingin pria gendut itu memberiku apartemen, aku harus merayunya dengan sangat keras ... jadi penampilan sexy sangat menunjang tujuanku." Fira tersenyum miring, dan Munah hanya bisa berdecak mendengar alasan temannya itu berpakaian terbuka. "Fir ... kamu gak mau berhenti ... maksudku kamu ga ingin berhenti melakukan hal-hal yang gak pantas seperti itu? padahal kamu sendiri sudah memiliki Reno sebagai kekasih, dan dady kamu juga seorang pria beristri, bayangkan bagaimana perasaan keluarganya nanti ... dan bermain-main seperti itu sangat membahayakanmu juga, karena aku merasa dadymu bukan orang yang bodoh yang mau memberi banyak hal ke kamu tanpa mendapatkan apa-apa darimu. Bagaimana dengan kehormatanmu sebagai seorang perempuan? relakah kamu kehilangannya hanya demi uang?" "Oh sayang ... ini adalah jalan yang paling mudah untuk mendapatkan uang, jangan khawatir ... aku selalu bermain cantik ko. Mahkotaku selalu terjaga dengan aman, dan aku sama sekali ga bermaksud merusak rumah tangga orang ... setelah aku berhasil mendapatkan apartemen, aku akan meninggalkan pria itu. Aku akan menghilang seperti biasa, bukankah kita berdua ahli dalam hal menghilang dan lari?" Munah mendengkus kesal mendengar penuturan Fira, dan perempuan di depannya itu hanya terkekeh. "Oke ... terserah kamu, Fir ... aku hanya khawatir kamu tak lagi mampu menjaga mahkotamu karna aku melihat dady mu itu mempunyai sorot mata yang menakutkan, dia bukan jenis lelaki hidung belang biasa yang bisa kamu bodohi dengan mudah. Aku punya feeling dia itu seperti seorang penjahat," ucap Munah khawatir. "Oh ... sayang ... terimakasih atas peringatanmu. Aku akan menjaga diriku dengan sangat baik seperti biasanya." Fira merangkul Munah. "Setelah tujuanku tercapai, kita siap-siap pergi dari kosan ini dan mencari tempat yang baru, ok? seperti biasa kamu hanya perlu mengikutiku dan aku akan menjamin hidupmu." "Entahlah, aku lelah begini terus, rasanya aku ingin kembali saja kerumah Pamanku di semarang ... menyerahkan diri pada mereka dan menerima konsekuensi dari apa yang telah kulakukan selama ini yang pastinya telah mencoreng muka Pamanku..." "Hmm ... Jadi kamu ingin menghentikan pelarianmu?" "Ya ... sudah setahun berlalu ... lagipula kupikir Suamiku pasti sudah mentalak ku, tapi entahlah ... aku bingung, Fir ...." "Aku juga bingung sama kamu ... melihat kisahmu, aku ikut ruwet, kalau saja dari dulu kamu menolak perjodohan Pamanmu, gak akan ada pernikahan, kamu gak harus lari kaya gini, persoalan jadi beres." Munah termangu ... harusnya memang sesimpel itu, tapi dulu ia menerima perjodohan Pamannya karena ia sangat sayang dengan sang Paman, jasa lelaki itu dihidupnya teramat besar, ibunya dulu yang seorang buruh migran, menurut cerita, menikah siri dengan seorang lelaki asing tapi kemudian bercerai, Setelah beberapa bulan bercerai ternyata baru diketahui Jaenab sang ibu tengah hamil dirinya dan meninggal saat ia lahir ... jadilah sang Paman yang merawatnya semenjak kecil. Munah tak bisa mengecewakan sang Paman hingga menurut saat akan dijodohkan dengan anak Bosnya, ia pikir ia bisa belajar menjalani pernikahan dengan lelaki bernama Alga anak sulung Pak Handoko sampai seseorang datang dimalam ia tengah dirias dan mengatakan sesuatu yang membuatnya memutuskan untuk pergi, dan Munah terus memendam penyebab yang membuatnya pergi, tak bisa menceritakan hal tersebut kepada siapapun meskipun ia ingin. "Mun!" Munah terkesiap. Dipandangnya Fira yang tengah menatapnya bingung. "Pagi-pagi sudah melamun ... ayuk ... berangkat. Aku mau cabut nih," ucap Fira. Munah mengangguk dan tersenyum pada temannya. "Ok ... ayok kita berangkat. Kita harus selalu optimis menghadapi hidup, ya. Aku ingin meniru semangatmu yang begitu percaya diri dan berani mengambil resiko apapun. Apapun pilihan hidupmu, aku hanya ingin kamu hati-hati." Munah menepuk-nepuk bahu Fira. Keduanya tertawa bersama. Merekapun keluar dari tempat kosnya dan berjalan bersisian melewati gang sempit menuju jalan raya, namun keduanya berpisah, Munah buru-buru memesan ojek online dan meninggalkan Fira yang berjalan menuju perempatan jalan sekitar seratus meter jaraknya dari tempat mereka, dan mobil Dady lelaki tambang uang Fira telah menunggunya di sana.
Alga seakan tak berkedip memandang perempuan semampai yang tengah sibuk menyajikan makanan pesanan pengunjung dimeja seberang. Perempuan itu benar-benar mirip dengan Siti Maemunah istrinya, meski dia hanya melihatnya di selembar foto, dia sangat yakin itu adalah istrinya yang pergi meninggalkannya setahun silam. Mata hijau perempuan itu yang membuatnya begitu yakin, warna mata yang jarang ditemukan pada perempuan kebanyakan yang dikenalnya Saat dulu dia akan dijodohkan dengan Maemunah, ayahnya bercerita jika Maemunah memiliki darah campuran Perancis dan Indonesia, karna ibunya pernah menikah siri dengan lelaki berkebangsaan Perancis saat menjadi buruh migran di luar negeri, itulah yang membuat perempuan itu memiliki tubuh semampai dan juga mata hijau menawan yang menurun dari ayahnya, tetapi pernikahan orang tua Maemunah hanya sebentar, ibunya sudah berpisah dengan ayahnya dan meninggal saat melahirkan Munah. Pak Arman yang merupakan paman gadis itu yang kemudian memberi nama Siti Maemunah, nama yang tidak sesuai dengan fisik perempuan itu, tetapi Pak Arman melakukannya sesuai keinginan Ibu munah sesaat sebelum meninggal ... dan itu di ambil dari nama neneknya. Alga mendesah, Hani yang tadi mengajaknya makan siang di sini belum kembali, mungkin perempuan itu ke kamar mandi setelah memesan makanan, entahlah, Alga tak begitu peduli. Lelaki itu mengambil gawainya, mengutak atiknya sesaat sebelum kemudian mengarahkan kameranya ke sosok Maemunah yang masih sibuk bolak balik mengantarkan pesanan makanan. Dia mengcapture Maemunah secara diam-diam setelah mematikan pengaturan blitz. Alga tampak mengedit edit gambar hasil jepretannya saat sebuah tepukan menyapu pundaknya. "lagi liatin apa?" Sentak Hani. Alga terkesiap, dan menggeleng singkat. "Engga, Suasananya rame ya," ucapnya buru-buru mematikan ponselnya. Hani tersenyum manis. "Aku baru kesini, penasaran katanya makanannya enak ... makanya sekalian ajak kamu." Hani menggenggam tangan Alga dan memandanginya lama sampai seorang karyawan resto menghampiri meja mereka sembari membawa makanan yang dipesan. Alga menatap perempuan itu, barangkali Maemunah, ternyata bukan, dan bersit kecewa membayang di wajahnya. "Makasih mba ...," ucap Alga singkat. Pramusaji itu balas tersenyum sebelum kemudian berlalu setelah menata hidangan di meja. "Makan yuk ...," ajak Hani. Perempuan itupun mulai menyantap makanan di depannya. Alga mengangguk dan mengikuti Hani menyuap makanannya. "Yang punya resto ini kakaknya temenku," ujar Hani mulai bercerita. "Temen yang mana? bukannya di sini kamu tidak mempunyai banyak teman?" Alga berucap disela-sela menyuap makanannya. Alisnya tampak saling bertaut, seakan tengah berfikir. "Temen kuliah di luar, aku ketemu dia di sana, kebetulan dia sama-sama sedang ngambil S2," jawab Hani. Alga manggut-manggut. Dia meneruskan suapannya dan tiba-tiba dia teringat sesuatu. "kalau yang punya resto kakaknya temenmu, berarti kamu mengenalnya dengan baik kan?" Tanya Alga. "Yah ... tentu, nah itu dia orangnya, hay ...." Hani tiba-tiba melambaikan tangannya pada seorang lelaki yang melintas, dan tak berapa lama sosok itupun mendekat sambil menebar senyum. "Kapan datang ...?" Sapanya sambil cipika cipiki dengan Hani. lelaki itu kemudian menatap Alga. "Apa ini Alga?" Tanyanya kemudian, dia pun mengulurkan tangan dan disambut lelaki di depannya, merekap lalu saling berjabat dengan erat. "Apa kabar, Hani banyak cerita tentang kamu ... sepertinya dia juga sudah cerita tentang aku kan?" ujarnya ramah. "Dia baru cerita sedikit," jawab Alga sambil menatap Hani seakan bertanya kenapa dia bisa begitu akrab dengan lelaki di depannya. "Enjoy ya ... maaf tak bisa menemani kalian, aku harus keliling dulu dan ada sedikit keperluan setelahnya ... semoga kalian suka dengan makanannya, lain kali kita ngobrol-ngobrol, Bro ...," ujarnya sambil menepuk pundak Alga. Dia akan berlalu sampai suara Alga menghentikannya. "Tunggu ... boleh aku bertanya tentang sesuatu?" suara Alga tampak ragu. "Tentu. Tapi tidak sekarang ya ... chat aja oke? kamu bisa catat nomernya di Hani." "Oke." Alga tersenyum. Dipandangnya perempuan yang tengah asik menyantap makanannya itu. "Boleh aku minta nomernya, Han?" "Tentu ... nih, cari sendiri. Namanya Leo." Hani menyodorkan ponselnya. Alga mengutak atik ponsel di tangannya, membuka kontak dan mencari nama Leo. begitu ketemu langsung dikirimnya nomer itu ke ponselnya. "Aku tertarik dengan resto ini, mungkin bisa menjajaki kerjasama dengannya, Han," ujar Alga melihat raut Hani seakan menelisik ingin tahu kenapa tiba-tiba dia ingin bertanya tentang ponsel temannya. "Nice ... usaha Resto memang menjanjikan ... aku dukung ko." Hani pun tersenyum. Alga menatap Hani lagi, kali ini lama ... perempuan itu tengah asik menikmati makanannya, tak Alga rasakan lagi debar-debar kerinduan pada perempuan di depannya itu. Entah mengapa, tak ada rasa senang, tak ada rasa menggebu seperti dulu, perasaannya perlahan telah hilang tertelan waktu. Jarak yang membentang diantara mereka, kesibukannya ... dan pikirannya yang dipenuhi tentang Munah sepertinya mengikis segala rasa di hatinya. Hampir setahun berlalu, dia fikir dengan kepergian Munah, dia bisa melanjutkan hubungannya dengan Hani, menyusun masa depan baru bersama kekasihnya itu, terlebih orang tuanya telah membebaskan dirinya jika ingin menikah lagi dengan perempuan manapun pilihannya karena tak kunjung mendapat kabar tentang keberadaan Siti maemunah dari Pa Arman, tapi dia salah. Dia terus berkutat dengan pencarian istrinya, sampai diapun menyewa orang untuk mencarinya, dia bahkan tak pernah lagi menghubungi Hani kecuali perempuan itu yang menghubunginya terlebih dahulu. Sampai saat ini, Hani sedang pulang ke indonesia, Alga bahkan tak bisa atau sengaja membuat banyak alasan untuk tak menjemputnya di bandara seperti dulu. Yah, dia benar-benar telah berhenti mencintai kekasihnya ... dan dia belum bisa mengungkapkan yang sebenarnya pada perempuan di depannya, apakah ia jahat pada Hani? entahlah, Alga pun menyudahi lamunannya. "Jam makan siang udah habis, Han ... aku harus kembali." Alga memandang jam mahal yang melingkar di lengannya. "Ok ... aku juga sudah selesai nih." jawab Hani. Perempuan itu mulai berkemas. "Aku antar kamu pulang?" Tawar Alga melihat Hani selesai bersiap. "Ok ...." Algapun bangkit dari tempatnya, pandangannya menyapu seluruh ruangan resto, berharap menemukan sosok yang dicarinya, tetapi Lelaki itu tak melihat Munah lagi. "Aku ke toilet sebentar ya ... tunggu di mobil," bisik Alga pada Hani dan langsung dibalas anggukan perempuan itu. Untuk menuntaskan rasa penasarannya Alga menghentikan seorang pramusaji yang melintas begitu dilihatnya Hani sudah keluar. "Maaf mba ... tadi saya melihat ada karyawan cantik yang memiliki warna mata hijau, sekarang ko gak ada?" tanya Alga lugas. Perempuan yang ditanya nampak mengerutkan kening dan berpikir. "Oh ... Maemunah kan? tadi pergi diajak Bos," jawab perempuan berkerudung itu dengan enggan. Alga hanya tersenyum. "Makasiih ya ...," ucapnya sambil bergegas pergi dari tempat itu. Dia harus mencari tahu tentang Munah dari Leo. Yah ... ia harus menghentikan pelarian istrinya tersebut.