Istri Memalukan
Bab 1 Istriku Memalukan di Acara Kantor

Dia mengenakan gamis besar berwarna biru tua! Tas selempang hitam dari kain dan sandal kulit sintetis model jepit dengan kaus kaki melengkapi pakaiannya. Jilbab kaos berukuran besar berwarna hitam yang dipakainya semakin membuatku gerah melihatnya. Hatiku merutuk penampilannya, kilatan mataku yang menatapnya kesal beradu dengan mata teduhnya, cepat aku beralih dari pandangannya. Rasanya malas sekali melihatnya semakin mendekat menghampiriku. Harusnya tak usah datang saja jika hanya akan membuatku malu. Kulihat beberapa pasang mata menatap mencemooh mengikuti langkahnya ke arahku. "Aku duduk di sini, ya, Mas?" tanyanya lembut. "Duduk saja tak perlu banyak tanya!" Aku berkata ragu dengan ketus, kalau bisa memilih ingin rasanya tak berdampingan dengannya saat ini. Yasmin menarik kursi di sebelahku, lalu duduk sambil merapikan gamisnya dan melepas Nuna dari gendongan untuk kemudian dipangkunya. Istriku itu tampak percaya diri seperti biasanya, seolah apapun yang dikenakannya itu layak untuk mendampingiku di acara resmi kantorku. "Kenapa datang ke sini dengan pakaian serupa saat pergi ke pasar?" Aku berkata lirih dengan geram. "Aku memang berpakaian seperti ini kemana pun, ini pakaian syari, Mas. Aku seorang muslimah sudah seharusnya berpakaian begini." Yasmin menjawab dengan pelan tapi nada suaranya tegas. "Tak usah lama-lama di sini. Biar Pak Marno mengantarmu pulang lagi." Aku berbisik dengan tak sabar, lalu segera mengirim pesan pada sopir kami untuk membawa Yasmin kembali ke rumah. Yasmin menatapku dengan raut kecewa, lalu mengangguk. Dia segera berdiri sambil menggendong kembali Nuna, menuruti pintaku untuk pulang. "Eh, itu Bu Yudha mau kemana? Acaranya mau dimulai." Pak Baskoro yang duduk di sebelahku bertanya saat melihat kepergian istriku. "Anak kami rewel, Pak. Biarlah pulang lagi saja daripada mengganggu acara," jawabku berbohong. "Sayang sekali, ya? Saya bahkan belum sempat bertegur sapa dengan Bu Yudha tadi," kata Bu Baskoro. Istri Pak Baskoro itu tersenyum padaku, dia terlihat begitu anggun dan berkelas. Harusnya Yasmin berpenampilan sepertinya, selayaknya seorang istri manajer. Lihat saja perbedaan mereka! Bu Baskoro memakai gamis dipadukan dengan cardigan elegan dan pashmina warna lembut yang membuat kecantikan wajahnya lebih terlihat. Tas dan sepatunya sangat serasi, begitu juga dengan riasan wajahnya yang memancarkan dirinya tampak amat jelita. Andai Yasmin mau merias diri seperti itu! Aku dan Pak Baskoro mempunyai jabatan yang setingkat, aku manajer area dan Pak Baskoro manajer produksi. Tapi istri kami begitu jauh berbeda, Yasmin sungguh tak mencerminkan jika dirinya istri seorang manajer seperti Bu Baskoro. Sore ini ada acara perkenalan general manajer baru di kantor kami. Semacam acara family gathering yang mengundang seluruh petinggi kantor dan karyawan beserta keluarganya untuk menyambut pejabat baru. Sudah dari tadi malam aku berpesan pada Yasmin agar hadir dengan penampilan terbaik. Aku tak menyangka Yasmin tak memahami maksudku, dia tetap saja berpenampilan sesukanya sendiri. Kesibukan di kantor dari pagi membuatku tak bisa pulang dulu sebelum acara berlangsung, aku pun tak sempat mengecek lagi cara Yasmin berhias sebelum dijemput Pak Marno. Untunglah Bu Anggono istri general manajer yang baru itu terlambat hadir dan belum sempat bertemu istriku, memalukan sekali jika sampai dilihatnya Yasmin dengan pakaian kebesarannya. "Pak Yudha, boleh saya dan keluarga sekali-kali main ke rumah?" Pak Baskoro bertanya padaku. "Kenapa harus meminta izin dulu, silakan, Pak. Saya senang jika keluarga bapak berkunjung, kami mohon maaf belum sempat singgah ke rumah bapak." Aku tersenyum ramah. Bahaya! Pak Baskoro dan istrinya akan terkejut nanti saat mendapati istriku yang biasa memakai daster panjang dengan jilbab kaos besar kusam saat di rumah. Aku harus lebih tegas lagi agar Yasmin mau merubah kebiasaannya itu. "Wah, makasih, Pak Yudha. Saya akan senang jika istri saya bisa belajar banyak dari Bu Yudha." Pak Baskoro menepuk bahuku dengan akrab. Belajar dari istriku? Apa maksud Pak Baskoro? Apa yang membuatnya berkata seperti itu tentang Yasmin! Aku baru genap sebulan mutasi ke kantor ini, promosi menjadi manajer area membuatku harus pindah ke kota ini. Sebelumnya, di kota lama aku masih menjabat sebagai supervisor. Kinerjaku yang bagus mengantarku meraih jabatan manajer lebih cepat dari teman selevelku. Sekarang aku mendapat banyak fasilitas dari kantor. Rumah megah lengkap dengan perabotnya, asisten rumah tangga, mobil berikut supirnya disediakan untukku sebagai penunjang jabatan baruku. Gajiku naik lima kali lipat, aku pun membeli pakaian dan barang-barang berkelas untuk memberi kesan kemapanan kehidupanku. Berbeda denganku, Yasmin begitu susah saat kuminta untuk berbelanja pakaian yang lebih modis. Kami sudah sering berdebat akan hal ini, dia begitu keras kepala. Saat acara penyambutanku di kantor baru ini dulu, Yasmin kularang ikut karena dia tetap berkeras mengenakan pakaian ala dirinya itu. Aku berangkat seorang diri dengan alasan Nuna rewel saat ditanya oleh teman kantor dan istri mereka. Di kantor yang lama pun aku membatasi Yasmin untuk tak ikut serta jika ada acara di kantor. Masih tak seberapa berpengaruh jika dia tak ikut hadir karena aku masih seorang supervisor. Akan tetapi dengan jabatanku yang sekarang, Yasmin nantinya harus aktif membina kegiatan istri-istri karyawan di kantor. Bikin pusing saja jika dia tetap tak mau merubah penampilannya itu. Bayangkan, memalukan sekali saat penampilan Yasmin dilihat orang lebih tidak berkelas dibandingkan istri-istri staf kantorku. Laju mobil yang berhenti mengejutkanku saat setengah sadar masih merutuki Yasmin dan penampilannya tadi. Kulihat Pak Marno sudah turun dari mobil dan membuka pintu pagar rumah. Hari sudah menjelang tengah malam. Selesai acara kantor, aku mampir ke sebuah kafe dulu untuk minum kopi tadi. Menghilangkan amarah di hati karena kecewa pada istriku. Dengan malas kujejakkan kaki turun dari mobil dan memasuki halaman rumah. Masih kesal rasanya jika harus melihat Yasmin mengingat kehadirannya di kantor yang memalukan dengan penampilannya tadi sore. Kubuka pintu kamar dengan lesu, semoga Yasmin sudah terlelap. Aku takut tersulut untuk memarahinya jika melihatnya masih terjaga, lelah sudah badan dan pikiranku rasanya. Langkah ini terhenti saat kakiku terantuk sebuah tas pakaian kecil di sisi tempat tidur, isi di dalamnya sepertinya cukup penuh. Apakah yasmin berencana pergi dari rumah?

Bab 2 Istri Cantik tapi Ketinggalan Zaman

Haruskah kubangunkan Yasmin? Menanyakan padanya saat ini juga apa maksudnya sudah mengemas pakaian dalam tas ini? Wajah teduhnya begitu tenang dalam lelap, tangan kirinya memeluk Nuna sedang tangan satunya terlentang di atas kepala putri kami itu. Sebuah tasbih kecil masih tersangkut di ujung jari telunjuk tangan kanannya, sepertinya dia tertidur sambil berdzikir. Memandang wajah teduh istriku itu memang kuakui menghadirkan rasa tentram dalam jiwaku. Kami sebenarnya baik-baik saja dalam membina rumah tangga selama ini, aku menyayangi Yasmin dan bahagia dengan semua sikap dan pribadinya. Hanya cara berpakaian dan sudut pandang nilai keagamaannya saja yang masih sering berbeda denganku. Biasanya aku akan beradu pendapat dengan Yasmin saat cara pandang kami berbeda tentang satu hal. Lalu aku akan diam mengiyakan saja apa katanya asalkan dia tak tersinggung, meski hatiku kadang masih mengingkari pendapatnya. Pesona dirinya begitu kuat mengikatku, entah dari sisi mana hatiku bisa terpaku sangat menyayanginya meski kadang merasa tak didengar dan dituruti. Tanganku tergerak mengusap pipinya tanpa bisa kutahan, jariku menyentuh lembut bibir lembutnya. Andai dia sedikit saja mau merubah cara berhiasnya, aku akan sangat bangga jika dunia bisa melihat istriku seorang nan jelita. Cepat kutarik tanganku saat Yasmin menggeliat menggerakkan kepalanya. Harga diriku tak boleh jatuh, aku tak ingin dia tahu aku membelainya dengan sayang tadi. Bukankah aku sedang kesal padanya? "Mas? Malam sekali baru pulang!" Yasmin mengerjapkan mata sambil menatapku menahan kantuk. "Sesukaku mau pulang jam berapa. Apa pedulimu? Kamu tak pernah mau memahami urusanku!" Aku melontarkan sederet hujatan yang terlontar begitu saja, sedetik kemudian rasa sesal menelusup tapi coba kuingkari saja, biar dia tahu jika aku sedang kesal. "Sudah larut malam, Mas butuh istirahat. Kita bahas esok saja bagaimana?" Yasmin turun dari tempat tidur, perlahan diangkatnya Nuna untuk dipindahkan ke boks ranjang kecil di sudut kamar. "Mas sudah salat isya?" Seperti biasa, dia akan menanyakan hal ini setiap aku pulang malam. Aku hanya diam. Entah malaikat pelindung dari mana yang diturunkan untuk menaungi istriku itu. Meskipun amarahku membuncah meletup ingin memarahinya, namun semua terendap di tenggorokan, begitu susah untuk berkata kasar padanya. Yasmin menghampiriku setelah memastikan Nuna masih lelap tertidur di ranjang boksnya. "Mas membutuhkan sesuatu sebelum tidur? Kusiapkan air hangat untuk mandi?" tanyanya begitu tenang. Aku menggeleng. Mataku tertuju pada pakaian tidur yang sudah disiapkan Yasmin di atas meja kecil di samping tempat tidur. Kuabaikan pakaian itu, aku akan mengurus diriku sendiri. Langkah kaki kuayunkan menuju lemari lalu mengambil pakaian semauku. Kulihat dari ekor mataku Yasmin tersenyum sambil mengambil kembali pakaian di atas meja, menghampiri lemari lalu kembali memasukkan pakaian yang di tangannya. Aku bergeser cepat dari sampingnya, meninggalkannya ke kamar mandi tanpa kata. "Mas, handuknya ketinggalan!" kata Yasmin sambil mengetuk pintu sesaat setelah aku masuk kamar mandi. Kubiarkan saja hingga suara Yasmin tak terdengar lagi. Tak pakai handuk pun tak apa, pikirku kesal. Biasanya Yasmin yang mengatur pemanas air untuk mandi, berulang kali kuputar belum juga kudapatkan rasa hangat air yang pas. Sudahlah pakai air dingin saja, aku bertambah kesal merasa betapa bergantungnya aku pada Yasmin selama ini. Badanku langsung menggigil begitu air dingin menyapu seluruh tubuhku. Bergegas kuselesaikan membasuh diri, ingin cepat mengeringkan badan agar tak lagi kedinginan. Sial! Handuknya? Terpaksa cepat kubuka pintu untuk mengambil handuk sebelum bertambah menggigil. Tubuh Yasmin yang ternyata masih bersandar di pintu seketika roboh menimpaku begitu pintu kutarik. Aku sigap menangkap, lalu memeluknya erat. Hangat tubuh Yasmin menumbuhkan hasrat yang tak bisa kutahan. Rasa kesalku entah menguap kemana. Sesaat Yasmin tertegun, namun akhirnya dia memberiku kehangatan dengan kelembutannya. *** Aku terbangun dengan badan yang lebih segar, tak kudapati lagi Yasmin di pembaringan. Putri kecilku juga sudah tak ada lagi di ranjang boksnya. Kulirik jam dinding, sudah hampir pukul lima pagi. Aku harus cepat bersuci agar tak terlambat menunaikan salat subuh. Sembari mandi kembali terbayang kemesraanku dengan Yasmin tadi malam. Dia memang istri yang baik. Tak mudah terbawa amarahku atau pun membalas ucapan kasarku. Dia juga tetap melayani dengan baik meski hatinya juga pasti begitu marah padaku. Aneh memang! Kami saling mencintai tapi juga masih sering berdebat dan mengedepankan keinginan masing-masing. Harusnya aku malu karena tak bisa membendung hasratku saat aku sedang ingin menunjukkan amarahku. Tapi keyakinanku bahwa Yasmin tak mungkin merendahkanku membuat aku percaya dia tak akan menolakku dan mengejek kelemahanku itu. Seharusnya aku merasa beruntung mempunyai istri seperti Yasmin. Seharusnya! Sayang masih saja ada ganjalan dalam hubunganku dan istriku, siapa sebenarnya yang salah? Yasmin yang terlalu kolot dengan pemikirannya, ataukah aku yang tak bisa mendidiknya mengikuti keinginanku? Seusai mandi dan salat subuh, aku baru menyadari jika tas pakaian di samping tempat tidur sudah tak ada. Jantungku berdetak kencang, apakah Yasmin sudah pergi dari rumah? Cepat keluar dari kamar mandi, aku memanggil istriku setengah berteriak. "Yasmiiin!" Suaraku menggema di keheningan pagi. Aku terdiam, merasa malu tapi lega saat kudapati istriku sedang duduk menyuapi Nuna. Sepagi ini putriku sudah sarapan? Biasanya setelah aku berangkat kerja nanti Nuna baru makan pagi. Gadis kecil dua tahunan itu biasanya belum mau makan jika belum mandi. Apa Nuna juga sudah mandi? Seakan dia akan pergi ... aku segera menepis dugaanku. "Maaf, Mas. Kami sarapan duluan. Aku berencana--" "Tunggu! Kamu mau pergi dari rumah?" Kuedarkan pandangan mencari tas pakaian Yasmin. Yasmin mengangguk. "Kemana?" "Ke rumah ibu." "Kenapa? Kamu kangen dengan ibumu?" Aku tak berani menuduhnya sedang marah padaku. "Kurasa Mas sudah tahu penyebabnya." Yasmin berkata singkat. "Apa karena kejadian di kantor kemarin?" tanyaku tercekat. Yasmin mengangguk, namun sesaat kemudian dia menggeleng. "Tidak juga, kejadian kemarin memang membuatku sedih. Tapi lebih dari itu, aku akan pergi demi kebaikan Mas." "Maksudmu, Mas lebih baik tanpa kamu di sini?" "Aku ingin memberi Mas waktu untuk merenungkan kembali apakah aku masih tepat menjadi teman hidup untuk terus mendampingi Mas." "Tapi untuk apa kamu pergi? Kamu tinggal menjelaskan padaku sebuah alasan kenapa tetap mengabaikan keinginanku." Aku membelai lembut kepala Nuna, gadis lucu ini tak boleh dibawanya pergi, aku akan sangat kesepian tanpanya. Yasmin menggeleng, suapan terakhir Nuna semakin membuatku cemas, mereka akan segera pergi! "Maaf, Mas. Aku juga butuh ruang untuk mengoreksi diri. Tak akan bisa kulakukan jika aku tetap di sini." "Baiklah. Pergi saja!" Harga diriku sebagai seorang suami dan lelaki mapan seketika mengemuka. Aku tak peduli lagi jika Yasmin benar-benar ingin pergi. "Aku harap Mas bisa memahami maksudku, semua pakaian kerja sudah kususun rapi untuk seminggu. Aku pamit, Mas." Yasmin meraih tanganku lalu mengecupnya takzim. Aku menatapnya sendu, haruskah dengan cara pergi untuk bisa saling memahami? Ah, aku tak mau ambil pusing. Pekerjaan di kantor sudah banyak membebaniku, aku juga harus segera bersiap ke kantor. Bunyi klakson mobil nyaring menggema dari luar pagar rumah. Yasmin sudah memesan travel? Artinya dia sudah berniat pergi meskipun belum meminta ijin padaku. Istri shalihah macam apa jika seperti itu? Aku tak peduli! Aku tak peduli! Alasan Yasmin tetap berpakaian ala dirinya tak lagi penting untuk kuketahui. Biarlah dia pergi! Tapi harus berpisah dengan Nuna? Ah ... Aku benar-benar terbawa dalam suasana hati yang kacau menyaksikan Yasmin dan Nuna berjalan pelan menuju pintu rumah.

Bab 3 Istriku Pergi

'Tunggu, Yasmin!' Kata-kata itu ingin sekali kuteriakkan tapi begitu berat untuk terucap. Aku justru diam tertegun menatap Yasmin menuntun Nuna melewati ruang tamu untuk menuju pintu rumah. Tas pakaian sudah teronggok di depan pintu, kepergiannya memang sudah dipikirkannya dengan matang. "Nuna, bilang assalamu'alaikum sama ayah, sayang. Oh iya, belum salim sama ayah, ya." Yasmin menuntun Nuna untuk kembali menghampiriku. Putri kecilku itu mengucap salam dengan logat cadelnya, tangannya berusaha menggapai tanganku dengan berjinjit sambil berceloteh. "Calim, Yah. Calim!" Aku tak rela rasanya membiarkan Nuna berpamitan, dengan berat hati kujulurkan juga tanganku padanya. "Nuna jangan rewel di jalan, ya. Jangan nangis juga di mobil." Aku membungkuk, lalu jongkok memeluk erat Nuna. "Cium ayah, cium." Nuna mendongak, berusaha melonggarkan dekapanku untuk bisa menyium pipiku. Ya Allah, kebahagiaan apa lagi sebenarnya yang kucari? Aku sudah memiliki karunia seorang putri yang pintar dan sangat menggemaskan. Yasmin telah mendidik Nuna dengan sangat baik. Kubalas ciuman Nuna dengan mengecup pipinya berulang kali. "Bu Yasmiin, Buuu! Assalamu'alaikum." Teriakan supir travel memanggil nama Yasmin sambil mengetukkan gembok kunci ke pintu pagar membuat Yasmin segera merengkuh Nuna dariku. "Maaf, Mas. Kami harus cepat keluar rumah. Kasihan penumpang lain yang sudah menunggu, ijinkan aku ke rumah ibu" Aku kesal, sedih, merasa kalut tapi juga tak mungkin memohon Yasmin untuk tak jadi pergi. Hanya bisa mengangguk lemah yang bisa kulakukan. Serta merta kukecup kening Yasmin begitu saja, tanpa pikir panjang. Hatiku tergerak tanpa kusadari melakukan itu, seakan enggan melepasnya pergi. Aku tersadar, lalu cepat mengambil tas pakaian membawanya menuju travel. Sekilas kulihat mata Yasmin berkaca, tapi kenapa dia tetap pergi? "Titip istri dan anak saya, ya, pak supir," lirih aku berpesan saat pintu bagasi ditutup oleh pengemudi travel itu. "Tentu saja, Pak. Bapak gak ikut pergi juga?" Pak supir mengangguk dan bertanya padaku sambil berjalan memutari depan travel menuju pintu kemudi. "Masih ada pekerjaan," jawabku pelan. Aku mengetuk kaca jendela travel, ingin melihat Nuna ... dan Yasmin sekali lagi. Kaca terbuka, deru laju mobil mengiringi lambaian tangan Nuna dengan senyum lucunya semakin menjauh dari rumah. Meninggalkanku yang masih tercenung memegang pagar rumah. "Assalamu'alaikum, pagi, Pak." Pak Marno tiba-tiba saja sudah ada di depanku dengan sepeda motornya. Aku mesti bersiap berangkat kerja, supirku itu sudah datang untuk mengantarku artinya waktu tinggal setengah jam lagi untuk tiba di kantor tepat waktu. "Wa'alaikumussalam, masuk, Pak. Aku ganti baju dulu sebentar," kataku sambil meminta Pak Marno memarkir motornya dulu. Masuk ke rumah masih dibayangi kepergian istri dan anakku, berjalan gontai hilang semangat serasa tinggal separuh saja jiwaku. "Bapak makan dulu, tadi ibu sudah berpesan agar saya memastikan Pak Yudha tak lupa sarapan sebelum berangkat." Bik Rum berkata sambil berdiri menungguku di samping meja makan. "Nanti, Bik, Aku belum ingin sarapan. Makanannya masukan kulkas saja, sorenya tolong dipanaskan lagi sebelum Bik Rum pulang," kataku sepintas lalu sebelum masuk ke kamar, aku tak lagi berselera mengisi perut meskipun lapar. Pakaian kerja, tas kantor, kaus kaki hingga sapu tangan tak ada yang luput semua sudah disiapkan Yasmin di meja samping tempat tidur. Bukannya merasa senang karena lebih bisa cepat bersiap kerja, kenyataan itu justru membuatku semakin kesal sekaligus pilu. Terburu kupanggil Bik Rum sebelum berangkat, memastikan Yasmin sudah memberinya kunci cadangan rumah. Bisa jadi aku tak akan pulang awal dari kantor. Betapa nelangsanya menghabiskan malam di rumah sendirian, lebih baik kutunggu waktu berlalu dengan menyelesaikan pekerjaan di kantor hingga lelah, lalu tinggal tidur saja begitu tiba di rumah. "Jika sudah beres semua pekerjaan, Bik Rum pulang saja. Ibu sudah kasih kunci rumah 'kan?" "Sudah, Pak. Terima kasih. Ibu pergi untuk berapa lama? Saya diberi uang untuk belanja memasak kok banyak sekali. Kata ibu tanya bapak ingin dimasakkan apa saja." Bik Rum mengambil amplop berisi uang dari saku roknya, menunjukkan banyak lembaran uang di dalamnya. Tak ada waktu lagi untuk membahas urusan dapur, bikin tambah ruwet hatiku saja. "Simpan saja dulu, Bik. Aku harus cepat berangkat. Untuk besok masak saja dulu yang masih ada di kulkas." Dalam perjalanan ke kantor, kusempatkan melihat notifikasi pesan WA, berharap Yasmin mengirim pesan untukku. Tak ada! Uang untuk belanja dapur apakah memang segitu banyaknya? Hingga Yasmin memberi Bik Rum sejumlah itu. Yasmin ingin makananku terjaga dengan menu yang enak bergizi? Atau karena dia berencana lama tinggal di rumah ibunya? Saat ini sudah hampir akhir bulan, dan Yasmin masih mempunyai uang simpanan lumayan jumlahnya dari sisa uang bulanan yang kuberi untuknya? Harusnya dengan uang itu dia bisa saja belanja pakaian yang bagus berikut pernak pernik pelengkap busana wanita. Pikiranku selalu saja kembali mengingat saat Yasmin memasuki ruang aula kantor dengan pakaian kebesarannya kemarin. Iya, itulah sumber keretakan ikatan hati kami saat ini. Haruskah aku mengirim pesan pada Yasmin duluan? Menanyakan uang yang diberinya pada Bik Rum? Ah, nanti dipikirnya aku tak ikhlas memberinya uang belanja. Aku memang tak pernah menanyakan untuk apa saja uang dariku serta cukup ataukah tidak. Selagi Yasmin diam saja itu artinya nafkah belanja dariku tak kurang. "Pak Marno, nanti aku pulang bawa mobil sendiri saja. Stand by di kantor sampai jam kerja berakhir barangkali ada dinas keluar. Aku lembur sampai malam, jadi pulang saja dulu minta antar supir piket untuk ambil motor di rumah nanti." "Kata ibu, saya disuruh menunggu bapak jika lembur. Takut bapak ngantuk waktu mengemudi selepas sudah lelah bekerja." "Kapan ibu ngomong begitu?" tanyaku heran. "Kemarin waktu saya antar pulang dari acara di kantor, Bu Yasmin sudah pamit mau jenguk ibunya, saya 'kan bisa absen lembur lebih dari jam kerja, lumayan buat tambah kebutuhan dapur." Hmmm, jadi begitu pulang dari acara kemarin bahkan Yasmin sudah berniat pergi dari rumah! Dia benar-benar sakit hati saat kusuruh pulang karena cara berpakaiannya itu. Bukannya aku yang seharusnya sakit hati karena dia tak menuruti permintaanku untuk berpakaian modis? "Ibu perhatian dan khawatir banget sama bapak, so sweet kalau kata saya." Pak Marno tersenyum simpul dengan agak sungkan. "Apa iya, Pak? Gitu saja masa so sweet," kataku masih merasa kesal. "Jarang-jarang lo, Pak, Ada wanita yang bisa tetap sederhana meski suaminya sudah naik jabatan. Pengalaman saya jadi supir manajer sebelum-sebelumnya sih pada mengeluh karena harus rebutan mobil kantor ini sama istrinya." "Rebutan bagaimana?" tanyaku tak paham. "Istrinya pada nggak betah di rumah. Pergi-pergi melulu pakai mobil kantor untuk belanja, aerobik, nyalon, kumpul-kumpul, macam-macam lah, Pak. Saya sampai puyeng ngantarnya." "Pak Marno yang antar istri manajer ke mana-mana?" "Iyyaa, Paaak! Itu bukan tugas saya harusnya. Saat suaminya butuh untuk dinas 'kan jadi berantem rebutan mobil sama istrinya. Akhirnya istrinya nuntut dibelikan mobil sama ada supir sendiri, padahal baru juga naik jabatan saya yakin itu belum mampu beli cash hahaha." Aku manggut-manggut mendengar cerita Pak Marno. Memang benar Yasmin tak berubah sedikitpun sejak aku mendapat promosi jabatan ini. Dia juga tak menuntut ditambah jatah uang belanja meski tahu gajiku naik berkali lipat. Katanya uangnya ditabung untuk naik haji saja, aku mengiyakan meski dalam hati tak begitu setuju. Haji kan bagi yang sudah mampu, sedangkan kami masih belum membeli barang-barang pelengkap penunjang kehidupan kami.

Lanjut baca