Sebuah tamparan keras dari tangan seorang ayah mendarat di sisi wajahku. Membuat pipi ini panas, rambut berantakan, dan penglihatanku gelap rasanya. Aku menundukkan kepala karena bulir bening mulai menetes sampai suara isakanku mungkin terdengar oleh Abah. Aku takut akan kemarahan Abah, belum lagi emosi Bang Umar yang kadang bisa melebihi Abah saat kemarahannya memuncak. “Testpack siapa ini?!” Aku bergeming saat ditanya Abah. “Jawab, Rimar! Dengan siapa kamu melakukannya?!” Abah mengguncangkan bahuku, tetapi aku hanya menggeleng karena aku benar-benar tidak tahu siapa dia. “Mana ada orang hamil tidak tahu bapaknya! Memangnya kamu tidur dengan banyak lelaki?” pekik Ayah. “Ri-rimar, ti-tidak tahu, Bah. Rimar … benar-benar tidak tahu. Rima juga bukan anak seperti itu, Bah. Tolong percaya sama Rimar ....“ Jawabanku tergagap. Aku benar-benar tidak mengenal orang yang sudah merenggut keperawananku dan yang kutahu hanya satu: dia tampan tetapi menjijikkan. “Minggat kamu dari rumah! Dan jangan pulang sampai kamu ketemu siapa bapak dari anak dalam kandunganmu! Abah tidak sudi keluarga kita jadi aib!” “Ampun, Bah. Jangan usir Rimar. Rimar mau tinggal di mana?” Aku berlutut memegangi kaki Abah yang tertutup sarung, memohon agar Abah masih berbaik hati. Abah melepas kakinya dari genggamanku, lalu melangkah ke kamar mandi. Aku pun tersungkur tak berdaya di lantai. Detik berikutnya, aku melihat kaki Abah lagi di hadapanku. Apakah Abah mengubah niatnya untuk tidak jadi mengusirku? Lantas, seember air ditumpahkan tepat di atas kepalaku. Sudah tak bisa dibedakan lagi mana air mata dan mana air yang ditumpahkan. Setelah air habis, dilemparkannya ember itu ke kamar mandi, lalu Abah berjalan menarik paksa lenganku ke luar rumah dan menyungkurkanku ke lantai. Pintu dibantingnya sampai terdengar suara keras dan setelah itu terdengar suara pintu dikunci. Aku menangis sesenggukan di teras rumah. Beberapa orang yang lewat memandangiku terheran-heran dalam kedinginan dengan rambut dan baju yang basah kuyup. *** Aku Rimar, nama panjangku Marimar. Entah kenapa Almarhum Umi dulu memberiku nama itu. Katanya supaya aku secantik artis favoritnya, tetapi kenyataannya nihil. Tak ada sedikit pun serbuk kecantikannya menurun padaku. Tentu saja, itu karena aku anak Umi dan Abah, bukan anak Gustavo, hah! Aku bungsu dari tiga bersaudara. Umi sudah meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan. Lalu, hidupku tiba-tiba berubah karena seorang lelaki yang tidak kukenal sama sekali. Awal kejadian, saat itu aku sedang mendapat giliran sif dua sebagai housekeeper. Waktu aku sedang merapikan kamar untuk tamu yang akan menginap, tiba-tiba pintu kamar terkunci. Kukira itu teman yang tadinya sedang membantu karena memang dia izin keluar untuk merapikan kamar lain. Aku hampir selesai memasang sprei, tapi tiba-tiba aku terkesiap saat ada yang memelukku dari belakang. Tidak mungkin itu Nita yang memelukku karena tubuhnya tinggi, besar, dan berisi. “Ayo, Sayang. Kita buat anak yang banyak.” Degh! Anak? pikirku. “Tu-tunggu!” Aku melepas tangan yang sedang memelukku dan coba menjauh darinya. “Mau ke mana?! Sini kamu!” Hanya dengan satu langkah besar, dia menarik tanganku dan membanting tubuhku ke ranjang yang baru saja dilapisi kain putih bersih. “Tidak! Tolooong!” Air mata mengalir begitu saja saat dia menarik paksa kemeja kerjaku. Aku gemetaran. Aku berusaha teriak, tapi tak ada yang mendengar. Aku lupa kalau itu adalah kamar VIP. Kamar yang sangat luas. Jarak dari ranjang sampai ke pintu saja cukup jauh. Kemungkinan kecil kalau ada yang mendengar teriakanku. Dia membekap mulutku. Langsung saja kugigit tangannya. Nahas, sebuah tamparan malah menyakiti pipiku. “Tu-tuan, tolong jangan lakukan ini!” “Diam kau, Sari! Ini yang kamu mau. Aku akan membuktikan kalau aku tidak mandul!” Dia mencengkeram kedua tanganku dengan erat. Bagaimana ini? Aku tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhku dikuasainya! Aku berkeringat serta ketakutan memenuhi seluruh pikiranku. Sesaat aku teringat berita-berita yang beredar tentang gadis yang diperkosa lalu dibunuh. “Tidaaak. Toloong, jangan sakiti aku, Tu-tuaaan.” Aku menangis dalam bekapannya, tetapi dia tak menggubrisnya. Aku berusaha menggeleng-gelengkan kepala agar mulutku terlepas. Sayang, tenaganya terlalu kuat bagi gadis bertubuh mungil sepertiku. Air mata mengalir dengan deras. Malam itu menjadi malam yang hina bagiku. Jelas karena keperawananku hilang begitu saja oleh lelaki yang matanya memerah dan tajam. Dari mulutnya menguar aroma minuman beralkohol. Dalam beberapa jam, aku menangis di ranjang yang sudah kupersiapkan untuk tamu yang sudah merusak sebagian hidupku itu. Aku menunggu sampai dia tertidur agar aku bisa cepat-cepat lari dari kamar itu. *** Beberapa minggu berlalu, aku selalu terbayang kejadian hina itu. Aku mengalami trauma saat bertemu pria yang tak kukenal serta tekanan saat berada sendirian di dalam kamar. Aku takut—takut kejadian itu berulang. Aku takut menceritakannya pada keluargaku, termasuk Abah. Abah tidak segan-segan menghukum orang jika ada yang melukai keluarganya. Di desaku, semua mengenal watak Abah. Karena itu, tidak ada yang berani mengganggunya. Suatu pagi, aku merasakan mual-mual yang tidak biasa. Sehari, dua hari, sampai seminggu berlalu. Aku masih sering muntah-muntah. Hal yang menambah keyakinan pada ketakutan itu adalah aku telat datang bulan sampai dua minggu lamanya. Diam-diam aku pergi ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan. Aku berharap semoga saja tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Nahas, pelan-pelan dua garis merah memanjang. Pelupuk mataku memanas dan aku menahan isak tangis di kamar mandi. Aku mengatupkan mulut rapat-rapat agar tak terdengar ke luar. Karena pagi itu Abah dan kakakku sedang makan di ruang makan tepat di seberang pintu kamar mandi. Aku ingin menyembunyikan kejadian memalukan itu dari keluarga. Namun, terlambat. Abah tidak sengaja menemukan hasil testpack-nya di kamar mandi yang lupa kubuang. Betapa bodohnya aku! Bagaimana dengan calon anak dalam perutku? Kalau dia lelaki, aku sedikit lega. Bagaimana kalau dia perempuan? Aku khawatir akan masa depannya. Aku takut membuatnya malu karena terlahir sebagai anak tanpa nasab dan kalau ia menikah kelak, terpaksa menggunakan wali hakim. Berat rasanya memikirkan jauh ke depan. Aku harus segera mencari lelaki itu dan membuat dia mempertanggungjawabkan semuanya! Aku harus pergi ke hotel untuk menyelidiki data pribadinya. Siapa pun dia, aku tak peduli! Awas saja sampai aku menemukannya! Lihat saja ... kalau dia berani mengelak atau pun menghindar. Aku akan mengacak-acak sarang burungnya yang hina itu! *** Aku berjalan dari rumah hendak menuju hotel tempatku bekerja. Kebetulan hari itu matahari sangat terik. Jadi, sebelum naik angkutan umum, aku berjalan pelan sambil mengeringkan baju. Sesekali pula, aku mengusap perut yang di dalam sana terdapat kehidupan yang tak kuinginkan. Aku berpikir berkali-kali. Apakah aku akan menyelamatkan anak ini atau menggugurkannya saja?
Aku berjalan dari rumah hendak menuju hotel tempatku bekerja. Kebetulan hari itu matahari sangat terik. Jadi, sebelum naik angkutan umum, aku berjalan pelan sambil mengeringkan baju. Sesekali pula, aku mengusap perut yang di dalam sana terdapat kehidupan yang tak kuinginkan. Aku berpikir berkali-kali. Apakah aku akan menyelamatkan anak ini atau menggugurkannya saja? Aku merogoh kantong celana. Syukurlah ... aku membawa ponsel dan uang yang tak seberapa. Sesampainya di hotel, aku segera menghampiri Mbak Prita, seorang receptionist. "Mbak ...." "Oh, selamat siang, Rimar. Kamu tidak kerja?" "Aku libur hari ini." "Ada yang bisa kubantu?" "Mbak, aku bisa lihat daftar tamu di tanggal 28 Mei?" "Maaf, Rimar. Tapi, ini privasi." "Tolonglah, Mbak." Aku memasang wajah memelas. Mbak Prita pun tampak berpikir sejenak. "Hmm, baiklah. Tapi, kalau boleh tahu, untuk apa?" "Ada dompet tamu yang tertinggal, Mbak, waktu aku bersihkan kamar." "Kok, baru bilang sekarang? Sini, biar saya telepon saja tamunya." "Ah, tidak usah, Mbak. Aku akan mengembalikannya sendiri, sekaligus meminta maaf ke tamunya." Mbak Prita memandangku dengan tatapan menyelisik. "Oke. Ini daftar tamunya, Rim." Syukurlah, dia percaya. Aku mulai memeriksa nama-nama tamu dan mencari pada jam kejadian. Kamar Suite, ada tiga orang. Aku mengingat-ingat di kamar mana kejadian hina itu berlangsung. Aah, sebenarnya tidak ingin kuingat juga. Tak pernah terbayangkan, kegadisanku direnggut bukan oleh orang yang mencintaiku. Ah, ya, kamar ketiga dari ujung. Aku memfokuskan penglihatan dengan telunjuk yang menyisir lembaran buku tebal. Ketemu! Namanya Sergio Ibrahim. Langsung kucatat alamat dan nomor teleponnya di ponsel. Selesai. "Sudah ketemu?" "Sudah, Mbak. Terima kasih, ya? Aku permisi." "Iya, sama-sama, Rimar." Aku langsung meluncur ke alamat lelaki gila tersebut dengan ojek online. Aku sampai di sebuah perumahan elit bertingkat dua. Rumah itu tampak sepi penghuni. Kuamati rumah yang tampak mewah tersebut. Tiba-tiba, pintu rumah terbuka dan dua orang wanita keluar ketika aku hendak menekan bel. Sepertinya, mereka adik dan kakaknya. Mereka cantik-cantik sekali. Aku pun langsung bersembunyi di balik pohon. Dua orang wanita tadi menuju garasi, disusul wanita yang sudah berumur di belakangnya. Lalu, keduanya pergi. Terakhir, wanita yang paling berumur itu hendak menutup pagar. Aku langsung melompat dan mencegatnya seketika di depan pagar kayu yang menjulang tinggi. "Bu, Bu, maaf. Apa betul ini rumah Pak Sergio?" "Iya, betul. Ada yang bisa dibantu, Neng?" "Pak Sergionya ada di rumah?" "Ini jam kerja, Neng. Pak Gionya masih di kantor." "Boleh saya tau alamat kantornya?" "Maaf, Neng siapa? Ada perlu apa?" "Ooh, sa-saya mau mengantar paket, Bu. Tapi saya harus memberikan paketnya langsung ke Pak Gio." Wanita yang tampak seorang ART itu seperti mencari-cari sesuatu. Ah, sepertinya, dia mencari paket yang kumaksudkan. "Pa-paketnya saya tinggal di kantor karena ukurannya besar." Wanita itu hanya mengangguk. "Ibra Corporation," ucapnya. "Ya?" "Nama perusahaannya, Ibra Corporation." "Ooh, ba-baik. Terima kasih." Aku berpamitan dengan salam ramah. *** Sampai di sebuah gedung, aku langsung memasuki perusahaan yang sepertinya masih baru karena tempatnya tak terlalu besar. Kira-kira, dia bagian apa, ya? "Mbak, di mana ruangan Pak Sergio?" Aku bertanya pada bagian resepsionist. "Maaf, dengan siapa?" "Marimar." Si Mbak tampak mendelik mendengar namaku. Aku kembali mendelik tajam. "Sudah buat janji?" "Belum." "Maaf, Mbak bisa—“ "Saya sepupunya, Mbak. Ada perlu penting, sebentar saja." Aku langsung menyela ucapannya. "Ooh, begitu. Silakan Mbak naik lift ke lantai tiga, ruangannya tepat di seberang lift, nanti Mbak bisa tanyakan lagi di sana." "Baik, terima kasih." Aku segera mengikuti instruksi dari resepsionis itu. Seseorang tampak duduk di meja panjang, di depan ruangan saat pintu lift terbuka. Sepertinya seorang sekretaris. "Siang." "Siang, ada yang bisa dibantu?" "Sa-saya ... mau bertemu Pak Sergio." "Sudah buat janji?" "Be-belum. Saya ... sepupunya. Mau ada perlu." "Baik, ditunggu, ya?" Si Mbak sekretaris tampak mengangkat gagang telepon dan menekan tombol saluran satu. Sepertinya, dia mengonfirmasi kedatanganku. Lalu, dia berdiri dari kursinya dan melangkah ke ruangan. Jantungku serasa dag-dig-dug-ser. Aku akan bertemu lelaki itu lagi. Kita akan bertemu papamu, Nak. Aku mengelus lembut perutku yang masih datar. Si Mbak mengetuk pintu dan membukanya. "Silakan ...." Dia mempersilakanku masuk. "Siapa?" tanya pria yang duduk di balik meja kerjanya. "Tu-tuan tidak ingat?" Dia sedang membaca tumpukan file kerjanya tanpa merisaukan kehadiranku. "Siapa?" "Sa-saya pegawai Grand Media Hotel, tempat Tuan menginap di tanggal 28 Mei, saat malam hari." "Ya, lalu?" Aah, dia benar-benar tidak ingat sama sekali? Benar-benar orang ini! "Sa-saya orang yang Tuan perkosa di kamar saat itu." Dia menutup file kerja dan membuka kacamatanya. Dia pasti kaget mendengarnya. "Kamu butuh berapa?" "Hah?" Inikah jawabannya? Tidak. Bukan ini jawaban yang aku mau. "Maafkan, saya khilaf waktu itu. Saya akan membayar berapa pun yang kamu mau." "Ti-tidak. Saya tidak mau uangmu." "Lalu? Kamu mau rumah? Pekerjaan? Apartement? Atau apa? Cepat! Waktu saya tidak banyak." Aku menunduk dan memejamkan mata. Aku mencoba memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya. "Sa-saya hamil, Tuan." "Kamu kira saya bodoh? Kamu cuma mau memeras saya, kan?" "Ti-tidak. Sa-saya serius. Saya hanya ingin Tuan bertanggung jawab atas kehamilan saya." "Baiklah. Tunggu sebentar." Lelaki berwajah tampan itu mengangkat gagang telepon dan berbicara dengan seseorang. Selang beberapa menit kemudian, seseorang mengetuk pintu dan masuk ke ruangan. "Kamu bawa yang saya minta?" "Ya, Pak. Ini." Aku penasaran apa yang dibawanya. Ini pasti berhubungan denganku. "Kemari." Dia memerintahku duduk di sofa panjang bersama seorang pria yang baru saja datang. "Ini. Kamu baca, tanda tangan. Lalu, silakan pergi dari sini." Maksudnya? Apa artinya ini? Baiklah, aku melihat isi kertasnya dulu. "Apa ini?!" Aku membelalak melihat angka nol yang berbaris delapan digit ke belakang. Seratus juta? "Kurang? Ini ... silakan isi sendiri." Dia memberi satu cek kosong lagi. "Sa-saya tidak mau uangmu!" "Lalu? Silakan sebutkan. Saya akan memberikannya." "Nikahi saya!" Si Sergio ini malah terbahak-bahak dengan pria yang tampak seperti pengacara pribadinya. Kenapa? Memang ada yang lucu? Tiba-tiba saja tangannya menghentak keras meja kaca di depan kami hingga vas bunga yang terbuat dari porselen di atasnya bergetar. "Kamu gila?" "Kenapa saya yang gila? Tuan yang gila! Sudah memperkosa, tapi tidak mau bertanggung jawab. Mau saya sebarkan di lambe turah? Biar seluruh dunia tahu!" "Permintaanmu yang gila, Dasar Gadis Tidak Tahu Diri! Kamu pikir saya tampan, kaya, dan single? Perlu kamu tahu, saya ini sudah beristri!” Deg!
Deg! A-apa jangan-jangan, wanita yang keluar dari rumahnya tadi itu, istrinya? Bukan adiknya? Atau kakaknya? "Saya tidak mau tahu. Pokoknya, Tuan harus bertanggung jawab dengan menikahi saya. Kalau tidak, saya akan memberitahu istri Anda." "Kamu mengancam saya?!" "Ya. Memang kenapa? Anda takut?" Aku berpura-pura berani di hadapannya. Padahal, sebenarnya tidak. "Bukannya ta—" Ucapannya terhenti ketika suara telepon genggamku yang bernada dering "Ayat Kursi" memekakkan telinga. "Kenapa berhenti bicara? Panas?" Aku menghardiknya. Lalu, kujawab panggilan telepon yang ternyata dari Abah. "Assalamu'alaikum, Abah." Aku memelankan suara, berpura-pura sedih. "Rimaaar. Kamu di mana?" teriak Abah di ujung saluran telepon. Abah penasaran juga. Dia pasti mengkhawatirkanku kalau sudah menelepon. "Ri-rimar di tempat orang yang ngehamilin Rimar, Bah." "Apa!" Volume suara Abah benar-benar membuat telingaku berdengung. Tahu-tahu, Abah mematikan teleponnya saat itu juga. "Ehm. Jadi, gimana?" Aku melanjutkan pembicaraan tadi. "Saya tidak takut dengan ancaman gadis murahan sepertimu!" "Apa Anda bilang! Saya bukan gadis murahan seperti yang Anda maksud! Aset saya sangat berharga. Anda saja yang menikmatinya gratisan! Tidak tahu diri!" "Ka—" Ucapannya terpotong lagi saat ponselku berdering yang kedua kalinya. Kali ini panggilan video call dari Abah. "Ehm. Iya, Abah?" "Mana?" "Apanya?" "Si Penjahat Kelamin yang udah ngehamilin anak Abah?" Aku mengalihkan telepon dan menghadapkan layar ke arah si Sergio itu. Dia malah duduk santai bersandar dengan satu kaki melipat di atas kaki lainnya. "Ooh, jadi dia orangnya. Siapa namanya, Rim?" "Gio, Abah." Aku menjawabnya cepat. "Apa? Gio?!" Lelaki bermata cokelat itu terkejut saat aku menyebutkan nama pendeknya. Lalu, mulutnya terlihat bergumam, entah tentang apa. Aku tak memedulikannya. Kulihat Abah mendekatkan wajahnya hingga memenuhi layar. "Nak Gio, gimana? Kapan mau tanggung jawab sama jabang bayi yang ada di perut Rimar?" "Mohon maaf. Saya sudah bertanggung jawab, Pak, tetapi Rimarnya menolak." "Apa?! Kenapa?" Aku mengambil secarik kertas kecil yang dibawa pengacara tadi dan menunjukkannya. "Ini bentuk tanggung jawabnya, Bah." Abah memicingkan mata untuk memperjelas penglihatannya. "Berapa itu enolnya, Rim?" "Delapan, Bah." "Apa? Harga diri anak saya cuma dihargai seratus juta? Gila! Kamu pikir, saya enggak punya uang sebanyak itu?!" pekik Abah. Memangnya, Abah punya uang sebanyak itu, ya? Aku meminta uang pulsa lima puluh ribu saja, sulitnya minta ampun. "Silakan, sebutkan apa dan berapa yang kalian minta? Saya sangat sibuk!" "Nikahi anak saya!" ujar Abah. Si Sergio malah menyeringai. Dia benar-benar meremehkanku. "Kenapa saya harus menikahi anak Anda yang seorang tukang bersih-bersih hotel? Asal Anda tahu kalau saya ini sudah beristri. Level istri saya itu jauh di atas anak Anda: baik bibit, bebet, dan bobotnya. Wanita bayaran lain, saya beri cek dengan jumlah separuhnya dari ini pun mereka tidak keberatan. Mereka langsung tutup mulut dan menganggap semuanya selesai." Kurang ajar sekali mulutnya. Dia coba-coba menyamakanku dengan kupu-kupu malam. Lantas, kulihat Abah meletakkan ponselnya di suatu tempat dan menjauhkan jarak ke layar. Abah menunjukkan sebilah golok yang sedang diasahnya. "Ooh, jadi Nak Gio menyamakan Rimar dengan wanita bayaran di luar sana? Perlu Nak Gio tahu, saya tidak peduli Rimar jadi istri kesatu, kedua, atau kesebelas pun. Yang jelas, Nak Gio harus bertanggung jawab atas kehidupan yang tumbuhdi rahimnya." Lelaki itu mengubah posisi duduknya saat melihat Abah berbicara sambil menunjukkan goloknya. Sepertinya, dia merasa sedikit ketakutan akan ancaman Abah. Rasakan kau! Selama beberapa menit, lelaki yang sedang duduk sambil menangkubkan tangannya di depan mulut itu tampak sedang memikirkan sesuatu. "Baiklah. Ini tawaran terakhir saya. Saya akan menikahimu ... dengan syarat kontrak bahwa saya hanya akan bertanggung jawab sampai anak itu lahir. Setelahnya, saya akan menceraikanmu. Kamu bawa anak itu bersamamu dan saya akan menanggung semua biaya hidupnya. Bagaimana?" Abah bertanya dan menyerahkan semua keputusannya padaku. "Saya juga mengajukan syarat. Saya akan tinggal di rumahmu selama kehamilan anak ini." Aku mematikan panggilan video call Abah secara sepihak. "Apa maksudmu?! Kamu mau merusak rumah tangga saya?!" "Jangan salahkan saya! Salahkan ularmu yang kabur dari kandangnya! Dia harus bertanggung jawab atas bibit yang terpaksa bertumbuh ini. Saya tidak mau tahu!" "Saya akan memberikanmu rumah atau apartemen untukmu tinggal sementara!" "Maaf, saya tidak berniat mengubah syaratnya!" Ekspresi wajahnya tampak depresi. Aku tidak mau tahu. Aku harus tinggal di rumah mewahnya walaupun harus bersama istrinya. Anak ini harus merasakan kehidupan seperti yang dijalankan Ayahnya. Merasakan kasih sayang ayahnya ... dan yang pasti, hidupnya harus terjamin. Aku ingin menanyakan perihal anaknya dari istri pertama. Namun, sayang sekali, aku segan untuk bertanya lebih lanjut. Tenagaku sudah habis karena sejak pagi terus muntah-muntah. Nanti juga aku akan tahu semuanya saat tinggal di rumah itu. "Baiklah." Akhirnya, dia menyetujuinya. "Pak Sumanto, tolong buatkan surat perjanjian kontraknya." Dia memerintah lelaki yang duduk di seberangku. "Baik, Pak." Tidak sampai sepuluh menit, surat kontraknya selesai. Aku membacanya dengan teliti. Semuanya sudah sesuai dengan kesepakatan yang kami buat. "Silakan ditandatangani. Saya yang akan menentukan di mana dan kapan akad nikahnya." "Baik. Saya tidak keberatan. Kalau boleh tahu, kapan? Saya harus menyiapkan semuanya." "Tidak perlu. Cukup bawa diri saja. Saya dan kamu hanya akan melangsungkan akad nikah di KUA." "Lalu, kapan Anda akan memberitahu istri Anda tentang saya?" "Itu urusan saya. Silakan pulang. Saya harus meneruskan pekerjaan saya!" Dia bangkit dari sofa dan melangkah kembali ke kursi. Di atas mejanya terdapat papan bertuliskan Direktur Sergio Ibrahim, SE. Hidupku benar-benar seperti cerita telenovela. Aku merasakan pusing yang sangat ketika berdiri. Pandanganku rasanya gelap. Rasa ingin muntah jangan ditanya, sejak pagi aku mencoba menahannya. Aku harus kuat, minimal sampai kembali ke rumah. Baiklah, Marimar kuat, Marimar kuat. Bruaak! *** Aku membuka mata perlahan—gelap. Beberapa kali kukerjapkan mata mencoba memperjelas pandangan. Sebuah lampu di atas eternit tepat menyorot mataku. Aku memperhatikan sekeliling, banyak orang berlalu lalang memakai seragam putih bersih. Ada ramai-ramai pula di ruangan sebelah kiriku. Di mana aku? "Mbak, sudah sadar? Dokteeeer...." Seorang wanita sedang duduk di samping dan menyapaku, lalu dia berdiri memanggil seorang dokter. Siapa dia? Sepertinya aku pernah melihatnya. "Aku ... di mana?" tanyaku lirih sambil memegang lengannya. Dia pun menoleh. "Mbak di rumah sakit. Tadi Mbak pingsan di depan meja saya." "Mbak siapa?" Aku bertanya sambil memegang kening yang masih terasa nyut-nyutan. "Saya Starla, sekretarisnya Pak Sergio, Mbak." "Ooh ... istrinya Virgoun, ya?" Si Mbak Starla malah terkekeh. "Saya belum menikah, Mbak."