Gemintang
Bab 1 Resign & Move On

"Elo yakin resign dari Panda Land?" tanya Dona penasaran karena Itang yang tiba-tiba menyodorkan surat pengunduran dirinya. Padahal gadis cantik itu baru satu tahun bekerja di Panda Land sebagai content creator yang berhasil mendongkrak popularitas produk Panda Land di sosial media. "Kenapa harus gak yakin coba?" sahut Gemintang santai. "Susah loh masuk sini." Dona mencoba menahan niat sahabatnya yang hendak mengundurkan diri. Dan perkataan gadis itu memang benar adanya, popularitas Panda Land sebagai perusahaan kosmetik ternama di kota Padang memang tengah melesat drastis. Gemintang memutar bola malas. "Tapi akan lebih susah lagi kalau gue bertahan di sini Don. Lo sudah tau pasti kan alasannya kenapa." decak Gemintang lantas mengibaskan tangannya memberi isyarat agar Dona tak mengganggu kegiatan menyelesaikan pekerjaan terakhirnya di Panda Land. "Bachdim?" Dona memicingkan mata curiga. "Menurut anda?" Itang melirik Dona sekilas lantas mencebik gemas. Alergi sekali telinganya mendengar nama lelaki itu akhir-akhir ini. "Jadi bener tentang desas desus kalau elo resign karena pengen move on dari Bachdim." Mengambil napas panjang sembari memejamkan matanya dramatis, Gemintang akhirnya memutar kursi kerjanya agar bisa berhadapan langsung dengan Dona yang sedari mengorek informasi darinya. Gemintang sudah hapal betul dengan sifat sahabatnya yang tak akan diam begitu saja jika belum mendapatkan jawaban yang pasti. "Ya bener dong Dona Mona Nana Nina ..." sembur Gemintang dengan wajah sebal. "Ya kali gila aja kalo gue masih bertahan di sini setelah drama gue dicampakkan tanpa alasan yang jelas sama senior Lo yang ternyata kampret tingkat dewa itu." "Hush.. kampret ... kampret. Gitu-gitu juga cinta pertama Lo kan?" Dona menepuk punggung tangan Gemintang. "Dulu sih iya pas gue masih lugu banget, sekarang mah gue udah expert soal menilai cowok. Tapi setelah tau kelakuan Bachdim yang nauzubillah, buat apa gue bertahan disini setelah hubungan kami berantakan. Sorry aja ya, gue bukan tipe cewek menye-menye yang bakalan nangis manja gitu aja setelah putus hubungan. No!" Gemintang mengangkat telapak tangannya ke udara. "Gue harus cepet move on demi kewarasan otak gue, dan cara cepat move on dari Bachdim adalah ... gue keluar dari kantor ini. Toh gue juga masih dalam probation, jadi gak masalah dong kalau gue resign. Lagi pula gue juga udah tolak tawaran perpanjangan kontrak dari Bu Irene kemaren. Gue udah mantep sama pilihan gue buat resign." "Gitu amat sih Tang, padahal cuma elo yang deket sama gue di sini." rengek Dona tak rela jika kehilangan teman rumpi paling asik seantero Panda Land seperti Gemintang. Gemintang hanya tersenyum miring dan kembali menatap layar komputernya. Keputusannya untuk mengundurkan diri memang sudah bulat sebulat pipi chubby-nya. Apalagi keputusannya ini beriringan dengan tawaran yang datang dari perusahaan lain yang juga membutuhkan jasa content creator seperti dirinya. "Nanti juga elo dapet temen baru yang gantiin posisi gue." respon Gemintang kembali berkutat dengan pekerjaannya. *** "Kenapa harus mengundurkan diri?" Bachdim yang tak lain staff juga di Panda Land, namun ia bekerja di divisi IT, tiba-tiba mendekat menghampiri Gemintang di meja kerjanya. Gemintang yang sedang menghabiskan makan siang langsung merasa terganggu dengan kehadiran sang mantan yang tampan tapi tingkahnya blingsatan ini. "Kenapa harus bertahan kalau gue udah gak nyaman di sini?" "Gue?" "Harus banget aku - kamu lagi?" decak Gemintang cuek. "Tang." panggil Bachdim pelan. "Hmm.. lo gak liat gue sibuk makan siang?" "Gara-gara aku, kamu sampe mengundurkan diri gini?" Gemintang terkekeh pelan. Gadis berambut sebahu itu lantas mengambil selembar tissue untuk membersihkan tepian mulutnya. "Pede banget sih jadi orang, emang anda siapa harus banget jadi pengaruh dalam keputusan yang gue ambil." "Meski kisah kita kandas, kamu gak harus resign gini kan?" "Apa hubungannya resign sama kisah kita? Gak ada." tegas Gemintang. "Kamu pasti gak kuat nahan cemburu karna sekarang aku deket sama Lani kan? makanya kamu milih resign?" Astaga naga narsisnya manusia yang satu ini. Gemintang memang sudah mendengar desas desus tentang kedekatan mantan pacarnya ini dengan Lani dari divisi marketing. Tapi bukan itu alasan yang membuat ia mengundurkan diri. Gemintang hanya sudah muak jika berdekatan dengan pengkhianat berwajah malaikat seperti Bachdim ini. Karena itu ia memutuskan resign dan berencana akan mengambil tawaran dari Gege untuk bekerja di kantor rekannya. "Cemburu dari Hongkong maksud Lo? Najis yaa.." jawab Gemintang sarkas. Ia tak ingin Bachdim besar kepala. Gadis itu menghembuskan napas pelan untuk menenangkan hatinya yang kembali memanas jika berhadapan dengan sang mantan yang luar biasa percaya diri ini. "Listen ya, gue resign karena dapat tawaran pekerjaan dari Abang gue di kantor temennya. Jadi simpan asumsi Lo tentang gue cemburu-cemburu itu, gak ada sangkut pautnya sama sekali." Tak ada salahnya kan Gemintang sedikit berdusta. Alasan utama ia keluar dari Panda Land memang karena muak dan ingin move on dari seorang Bachdim Pamungkas. Sedangkan tawaran pekerjaan dari sang kakak, baru ia dapatkan setelahnya. Bachdim terdiam saja mendengar penjelasan dari mantan kekasihnya ini. Bagaimanapun juga ia memang tak berhak menahan Gemintang untuk tetap bekerja di Panda Land. Tapi kasak kusuk yang sudah terlanjur merebak di tempat kerjanya yang mengatakan bahwa Bachdim lah penyebab utama seorang Gemintang mengundurkan diri. Padahal Gemintang adalah salah satu staff berprestasi yang dibanggakan oleh Panda Land. "Sudah wawancaranya?" Bachdim kembali fokus pada Gemintang yang sudah menghabiskan makan siangnya. "Kalo udah, mending lo balik ke ruangan lo deh, gue mau balik kerja. Biar bisa tenang gak ada tanggungan lagi di Panda Land." Meski masih belum puas dengan jawaban yang Gemintang beri, akhirnya Bachdim beranjak juga dari meja kerja gadis itu. Pria itu sadar akan kesalahannya karena berpaling pada gadis lain ketika hubungannya dengan Gemintang belum benar-benar usai. Tapi ia juga tak bisa mengelak dari pesona Lani yang dalam sekejap mata mampu mengambil alih perhatiannya. Hingga akhirnya membuat hubungannya dengan Gemintang yang sudah berjalan dua tahun harus berakhir di tengah jalan. Sejak itulah Gemintang dan Bachdim seolah mengibarkan bendera peperangan tak kasat mata. Gemintang yang pada dasarnya enggan untuk terlibat dengan perseteruan lebih memilih menghindar demi menjaga hati yang sebenarnya sudah sukses dipatahkan oleh pria yang menjadi cinta pertamanya itu. “Bachdim ngapain Tang?” Dona yang tiba-tiba mengagetkan Gemintang. “Ratu kepo mulai beraksi kan?” cibir Gemintang melirik sekilas pada rekan kerjanya itu. “Tanya doang Tang, mana ad ague kepo.” Gemintang terkekeh saja menanggapi sanggahan Dona. “Ngapain Bachdim? nahan elo biar gak resign ya? nyesel dia putusin elo? iya kan?” tuuuh kan, si ratu kepo masih belum mau mengaku. “Nggak lah, meski dia nahan-nahan gue tetep resign kok. Nih, barusan gue udah dipanggil HRD.” Gemintang menggoyangkan ponselnya memberi isyarat bahwa ia mendapat pesan. “Gue ke lantai dua dulu ya, kali aja dapet pesangon.” “Ckk.. bukannya sedih malah semangat banget sih yang mau resign.” “Ya kali ini aja, ini kesempatan gue buat membuak lembaran baru dengan jodoh yang tepat dan nggak sok drama lagi.” respon Gemintang lantas bangkit dari tempat duduknya. ▪️▪️▪️🌼🌼🌼▪️▪️▪️ Haiii... Haiii aku datang dengan cerita baru, ini spin off dari DIAK di Innovel ya, menceritakan kisah Gemintang yang tak lain adalah adik kembar Bang Gege. Semoga suka, jangan lupa like dan komen yang banyak yaa….

Bab 2 Ge & Ge

Hal pertama yang dilakukan oleh Gemintang begitu mengundurkan diri dari Panda Land adalah mendatangi Gerian alias Gege- saudara kembarnya yang tinggal di rumah kost tak jauh dari tempat tinggal Gemintang. Asal tau saja Gemintang dan Gerian ini adalah saudara kembar fraternal atau kembar tak identik. Keduanya lahir hanya berselang empat menit, dan Gege adalah yang lebih dahulu lahir. "Awas aja kalau gue udah capek-capek nyamperin ke sini tapi malah gak ketemu sama orangnya." gerutu Gemintang ketika menaiki tangga menunju kamar Gerian. Mengetuk pintu beberapa kali, Gemintang dibuat tak sabar karena sang kakak tak kunjung menganggapinya. "Abang, bukain pintu." teriak Gemintang tak peduli jika nantinya ada orang yang terganggu dengan suara cemprengnya. "Hadeeeh si Tatang Gemintang gak sabaran banget siih. Syukur-syukur pintunya gak sampe bolong." akhirnya saudara kembar Gemintang itu muncul dari dalam kamar masih dalam keadaan bertelanjang dada karena baru selesai mandi. "Habisnya lo lama, Bang." "Lagi mandi, ya kali bukain pintu sambil naked." "Kirain lagi nyembunyiin pacar makanya lama." cibir Gemintang lantas terkikik geli. "Pacar ... pacar, mana ada?" "Irina maybe?" tebak Gemintang asal. "Bukan ih?" Gege mengerutkan kening tak terima. "Kayak gak ada cewek lain aja." Setelah meletakkan handuk basahnya di gantungan dekat balkon, Gege kembali masuk ke dal kamarnya mengekori sang adik. Gemintang sendiri sudah duduk santai sambil meluruskan kaki di karpet tebal di tengah kamar luas kakaknya. Tak lupa juga gadis itu mengeluarkan semua makanan ringan dan minuman dingin yang sengaja ia bawa. "Bukannya emang kalian pacaran selama ini?" selidik Gemintang. Wajar kalau ia menyangka hal tersebut, karena selama ini yang ia tau hanya Irina lah teman wanita yang dekat dengan kakaknya. "Kagak lah, dia aja yang ngarep kali. Gue mah ogah, mending cari yang lain yang bener-bener nyambung sama hati gue." Gege ikut bergabung dengan adiknya di tengah ruangan setelah ia selesai mengenakan kaos santai dan celana joger cokelat muda. "Beeuugh berat nih kalau udah ada sangkut pautnya sama hati." sahut Gemintang menggelengkan kepala. "Berat ... berat." "Ngapain ke sini?" Gege mengalihkan pembicaraan, pemuda itu hanya malas jika harus membahas seorang Irina. Sahabat dekatnya yang punya kadar manja luar biasa. "Minta kado ulang tahun." jawab Gemintang cepat. "Yaealah masih lama juga Tang." Gege membuka tutup botol minuman dingin yang dibawakan sang adik. “Lama dari mana Bang, tiga minggu lagi kali.” protes Gemintang cepat-cepat. “Ya tau kalo tiga minggu lagi, kan kita samaan ulang tahunnya. Gimana sih?” Gemintang mengerucutkan bibirnya sebal. “Tapi gue mau hadiah lebih cepat. Titik.” Ketika kepala Gege memutar untuk memindai sang adik, dia malah dibuat terkekeh geli karena raut wajah Gemintang yang sok dibuat paling menyedihkan sedunia. Dan kalau sudah begitu Gege tak bisa lagi untuk tak mengiyakan apapun permintaan Gemintang. Apapun. “Emangnya lo minta hadiah ulang tahun apaan? Udah gede juga sih?” Gege bertanya lirih karena ia sibuk mengupas kulit kacang di tangannya. “Gak aneh-aneh kok,” raut wajah Gemintang yang tadi sendu langsung berubah ceria saat mendengar tawaran dari sang kakak. Gadis berambut coklat tua itu langsung memutar posisi duduk untuk menghadap langsung pada Gege. “Lo inget kan kalau minggu lalu lo nawarin gue kerjaan content creator di Cosmic?” “Inget lah, kantor temen gue kan?” Gemintang mengangguk dengan semangat empat lima yang tak pernah padam. “Pastikan gue lolos kerja di sana tanpa banyak basa-basi. Pokoknya sekali interview langsung deal masuk kerja. Ba’a (*bagaimana) Bang?” Menyadari permintaan sang adik yang diluar dugaan, Gege beringsut mendekat dan berbisik pelan. “Jadi lo serius mengundurkan diri dari Panda Land ya?” tebak Gege tak meleset sama sekali. Gemintang hanya bisa menganggung pelan, dengan ekspresi datar. “Susah loh masuk Panda Land?” Aaah … kalimat itu lagi. Bahkan telinga Gemintang sudah hampir bosan mendengar hal sama berkali-kali. Kemarin dari Dona, dan sekarang dari kakaknya sendiri. “Meskipun gampang, gue juga gak berminat lagi kerja di sana?” “Bachdim?” “Jangan sebut-sebut nama pengkhianat itu deh. Panas kuping gue.” Gemintang mengusap kedua telinganya dengan telapak tangan. “Pengkhianat juga pernah lo bucinin.” ledek Gege belum puas juga menggoda sang adik. “Itu dulu Bang, sebelum negara api menyerang. Sekarang udah kelihatan aslinya, ngapain gue pertahanin coba? Gak guna.” dengkus Gemintang menggebu-gebu. “Ciie, sekarang aja lo bilang gitu. Tapi semalam lo pasti habis nangis bombay kan? Gue gak bisa dibohonging Tang.” Hanya dengan melihat sekilas saja, Gege memang sudah menebak hal tersebut saat pertama kali membukakan pintu untuk adiknya tadi. Mata Gemintang sembab, sedikit bengkak, tatapan sayu serta tak bersemangat. Karena itulah Gege yakin sekali kalau saudari kembarnya itu semalam puas menangisi mantan kekasihnya. “Terakhir kali Bang.” ucap Gemintang menunduk. “Makanya bantuin gue move on, salah satunya dengan pastiin kerjaan gue di Cosmic aman. Ya … ya … ya…” Cosmic sendiri adalah perusahaan digital agency yang salah satu pendirinya adalah senior Gege di tempat karate. Cosmic yang awalnya berdiri di ruko kecil daerah Kuranji, kini sudah relokasi ke sebuah gedung dua lantai di pusat kota Padang. “Nepotisme dong Tang.” “Sekali doang lah Bang, pokoknya gue pengen cepet-cepet sibuk, pengen cepet kerja gak pake nunggu lama, pengen cepet-cepet move on dari Bachdim dan selir-selirnya.” “Onde mandeh,” Gege memejamkan mata dramatis. “Nanti lah gue bilang dulu sama Bang Amar.” “Eeh, kok Bang Amar?” Gemintang menegakkan punggungnya karena merasa taka sing dengan nama yang baru saja disebutkan oleh Gege. “Kan Cosmic punya dia.” “Eeh seriusan? Bang Amar yang cakep luar dalem itu? yang kalem tapi sangar itu?” “Buset dah, Gemintang … signal lo cepet nangkep kalo soal cowok cakep ya? Pasti cepet move on lah lo, yakin gue.” jawab Gege tak menoleh pada adiknya karena langsung sibuk dengan ponsel di tangannya. Mencoba menghubungi sang sahabat, Amar Dwirangga. “Diiih, gue cuma agak-agak lupa sama Bang Amar itu, Bang. Kayaknya udah lama gak main ke rumah kita kan?” Gemintang makin penasaran. “Ya jarang lah, kerjaannya makin banyak di sana sini. Ngelatih karate aja udah jarang, makanya semuanya diserahin ke junior-junionya, soalnya bisnis dia makin rame. Makanya lagi butuh beberapa karyawan.” sambung Gege masih menggerak-gerakkan jemarinya di layar gawai. “Oke fix, gue harus jadi salah satu karyawan baru di kantor dia.” Gemintang mengguncang lengan atas sang kakak. “Beuuh, iya ... iya, tenang aja. Seribu persen gue yakin kalo lo bakalan lolos kerja di sana, gak pake banyak interview panjang segala macem. Niih, gue lagi chat sama owner-nya langsung.” seru Gege melengkungkan sudur bibirnya. Pemuda tampan itu tersenyum tipis saat mambaca balasan pesan dari Amar yang tadi ia hubungi, seolah sedang menyimpan rahasia tersendiri yang tak diketahui oleh Gemintang. “Beneran ya? janji ya?” Gemintang mengangkat telunjuknya ke depan wajah Gege. “Yakin gue Tatang.” Gege mengacak rambut adiknya gemas. “Jadi kapan gue interview ke Cosmic?” “Besok bisa?” Gemintang langsung mengangguk mantap tanpa keraguan sama sekali. “Langsung ketemu sama Bang Amar.” “Siap laksanakan!” Gemintang memasang pose hormat. “Ketemu Bang Amar doang mah gampang, tinggal gue kedipin pasti langsung acc.” sambung gadis itu yakin.

Bab 3 Newbie

Hampir satu bulan Gemintang bekerja di Cosmic, dan ternyata benar apa kata sang kakak yang mengatakan ia pasti lolos bekerja di perusahaan rintisan milik sahabatnya ini dengan mudah. Hanya melewati satu kali interview yang dilakukan langsung oleh Amar, gadis itu langsung bisa bergabung dengan staff yang lainnya tiga hari kemudian. Bukan murni karena campur tangan dari Gege, tapi diterimanya Gemintang di Cosmic juga karena talenta gadis itu di bidangnya. “Itang masih di sini? kenapa belum pulang kayak yang lain?” Gemintang yang mendengar suara tak asing itu langsung menoleh ke asal suara yang kini sudah ia hapal benar siapa pemiliknya. The one and only, Amar Dwirangga. “Eh, nanggung sih ini Bang.” jawab Gemintang santai. Begitu ia melirik pada jam digital di meja kerjanya, barulah gadis itu sadar kalau saat ini memang hampir jam enam sore. Sudah lewat dua jam dari jam pulang kantor pada umumnya. “Kamu sering lembur gini?” Amar yang semula berdiri di belakang Gemintang, menarik kursi kosong di sebelahkan kemudian duduk tepat di samping gadis cantik berkacamata itu. “Enggak sih bang, ini nanggung aja biar nanti nyampe rumah udah gak perlu utek-utek lagi, tinggal molor.” jawab Gemintang lantas terkekeh. Meskipun terhitung pegawai baru alias newbie, tapi pekerjaan Gemintang di Cosmic bisa dibilang menumpuk lumayan banyak, karena hanya ada dua orang creator di sana. Sedangkan salah satu tim dari divisi Gemintang sedang tak masuk karena sakit sejak dua hari lalu. “Pulang ke rumah Astratek?” tanya Amar penasaran. Gemintang mengernyit heran. “Iya ke sana, emang kemana lagi bang?” “Sendirian dong, bukannya om sama tante katanya sering ke Bukittinggi ya?” Gemintang mengangguk pelan, sejak sang ayah pensiun, kedua orang tuanya memang sering pulang ke kampung halaman mereka di Bukitting. “Nggak sendirian lagi sekarang. Bang Gege udah pulang ke rumah kok, dipaksa juga sih sama Papa biar gak sering kelayapan sama temen-temennya.” “Berdua aja di rumah sebesar itu sama Gege?” runut Amar penasaran. “Nggak lah Bang, kan ada si bontot Vicko juga, ada asisten rumah tangga sama suaminya juga yang bantu-bantu di rumah. Lagian, Mama Papa bentar aja kok di Bukit, cuma kangan sama cucu, mereka belum menetap seterusnya di sana. Masih nunggu Vicko lulus SMA sih katanya.” Amar yang mendengar penjelasan Gemintang hanya mengangguk-anggukkan kepala seolah paham. Pria itu memang dekat dengan kembaran Gemintang karena hobby bela diri yang sama. Namun dia tak pernah bertanya mendetail tentang keluarga Gege dan saudara-sudaranya. “Hmm … Bang Amar nggak pulang juga?” tanya Gemintang kikuk setelah terjeda keheningan di antara mereka. Hanya terdengar suara keyboard yang beradu dengan jemari lentik milih Gemintang. Amar yang ditanya langsung mengangkat pandangan dari layar ponsel yang sebelumnya menyita perhatiannya. “Abang temani kamu sampai selesai.” jawab pria itu tenang. Lagi-lagi Gemintang mengerutkan kening. “Temani?” Amar mengangguk pelan. “Boleh kan?” tanyanya menatap dalam sepasang manik mata cantik milik kembaran sahabatnya ini. “Eh? nggak perlu repot-repot Bang.” tolak Gemintang tak enak hati. “Kenapa?” “Gak enak ngrepotin Bang Amar terus. Diterima di sini aja aku udah bersyukur banget, ya kali sekarang lembur dikit malah ditemenin.” Amar tersenyum tipis. “Abang gak repot kok, jadi boleh ya?” “Iy- iya, bo- bo- boleh kok.” akhirnya gadis itu berubah pikiran. Tak mungkin juga ia menolak, apalagi memang ini kantor milik Amar. Dulu, Gemintang hanya beberapa kali bertemu dengan Amar ketika sedang mengantarkan Gege ikut kejuaraan karate tingkat daerah. Namun semakin hari semakin jarang karena kesibukan masing-masing. Tapi kalau sekarang ini mereka bertemu lagi sebagai atasan dan bawah tentu saja Gemintang merasa sedikit canggung, apalagi di ruangan ini hanya tinggal mereka berdua. “Lagi ngerjain apa sih?” Amar sedikit mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat ke layar monitor Gemintang. “Content yang buat ByBag Banu.” jawab Gemintang tanpa beralih fokus dari layar monitor di depannya. “Kurang banyak?” “Nggak Bang, ini tinggal gabungin dua video terakhir yang kemaren kita ambil ulang, terus kasih tulisan di bagian bawah. Habis itu udah kok.” “Yang buat endorment besok?” tebak Amar lagi. “Iyup, besok udah siap publish.” Amar manggut-manggut karena ternyata karyawan barunya ini sangat cekatan dan punya banyak ide-ide spontan yang bisa ia tuangkan secara apik dalam pekerjaannya. “Hmm, baguslah kalay gitu. Jangan terlalu dipaksakan lembur, toh masih ada besok.” Gemintang menggigit bibir bawahnya. Padahal ia sengaja lembur agar nanti malam bisa tenang menonton drama korea favoritnya. Jika pekerjaannya belum selesai, gadis itu tak bakalan bisa tenang melakukan hobbynya yang satu itu. Karena itulah Gemintang gegas menyelesaikan pekerjaannya hari ini juga. “Aku ke bawah dulu ya.” pamit Amar tiba-tiba. “Eh iya, silakan Bang.” Gemintang mengangguk sekali. Namun tak berapa lama, atasan yang dikira Gemintang sudah pulang itu, ternyata malah kembali ke lantai tiga dengan membawa bungkusan makanan di tangan kanannya. “Makan dulu, Itang.” “Eh? Kok?” untuk beberapa saat Gemintang hanya bisa melongo dan menatap bergantian ke arah Amar yang sedang tersenyum menatapnya serta pada kota makan di depannya. “Kamu pasti belum makan kan?” “Eh iya sih, tapi aku belum begitu lapar Bang.” “Makan kan bukan hanya urusan lapar Tang, setidaknya isi dulu perut kamu. Itu cuma abang belikan roti bakar kok.” Amar mengendikkan dagu ke arah kotak putih yang tadi ia letakkan di meja kerja Gemintang. Lagi-lagi merasa tak kuasa menolak niat baik dari atasannya, Gemintang hanya bisa mengangguk dan tersenyum kaku pada pria tinggi ini. “Makasih banget, Bang.” Setelah menyelesaikan pekerjaannya sambil sesekali melahap roti bakar keju pemberian Amar, akhirnya Gemintang bisa tersenyum lebar sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. “Yeeay, selesai.” pekik gadis itu girang seolah lupa kalau di sebelahnya ada Amar yang tergelak kecil melihat tingkah Gemintang. “Akhirnya.” sahut Amar membuat Gemintang tersipu malu dengan kelakuannya sendiri. “Ayo kita pulang!” ajak Amar. Keduanya turun bersamaan dari lantai tiga dimana ruangan Amar berada berseberangan dengan meja kerja tim kreatif. “Terima masih udah temenin ya, Bang.” ujar Gemintang begitu sampai di lantai satu, di depan area parkir kantor. “Sama-sama Tang, lain kali jangan biasakan lembur sendirian.” sahut Amar menasehati. “Siap, Bang.” Gemintang mengangguk patuh sambil refleks mengangkat ibu jarinya. Mengadah sesaat untuk memastikan gerimis yang mendadak turun, Amar kembali berkata. “Kamu naik motor?” “Iya, Bang. Seperti biasanya lah, anak motor.” Gemintang menaikturunkan sebelah alisnya. Hal kecil yang sukses membuat Amar terkekeh karena baru kali ini menemui gadis yang tak jaim dan selalu apa adanya. “Gerimisnya makin jadi loh ini, kayaknya bentar lagi hujan lebat.” “Aman, Bang.” Gemintang mengangkat telapak tangannya. “Aku selalu sedia jas hujan sebelum basah kuyup kena terjangan hujan badai.” “Ckk, kamu bisa aja.” “Sudah biasa, Bang.” Gemintang berjalan pelan ke arah motornya yang terparkir paling ujung. Hanya tinggal dua motor di area parkir Cosmic, satu milik Gemintang satu lagi milik petugas keamanan Cosmic. Sedangkan Amar biasa mengendarai mobil sedan tua yang masih kinclong karena selalu dirawat dengan baik oleh pemiliknya. “Abang antar ya? dari pada kamu hujan-hujanan nanti malah masuk angina.” tawar Amar mencoba keberutungan. “Nggak usah, Bang. Besok malah repot berangkatnya kalau motor aku tinggal di kantor.” jawab Gemintang sudah bersiap memakai helm bermotif lady bug yang bertahun-tahun ini menemaninya. Namun belum sampai memasang helmnya dengan benar, Gemintang tanpa sengaja melemparkan benda tersebut karena terkejut mendengar suara guntur yang sangat kencang, lengkap dengan kilatan petir yang memecah langit. “Besok pagi Abang jemput. Nggak pake nolak, lihat sendiri kan kalau tangan kamu langung gemetar begitu denger petir barusan.” ***

Lanjut baca