The Lost Princess (Bahasa)
Bab 1 Prologue

Kukencangkan sabuk mantelku sebelum melangkah keluar dari gate kedatangan bandara Internasional Zaventem - Brussels, Belgia. Yah, ini memang bukan yang pertama kali aku menginjakkan kakiku di Negara ini. Ayahku, lelaki yang sama sekali tak kukenal, yang memiliki andil besar atas keberadaanku di dunia ini, dia yang mengatakannya padaku lewat telepon seminggu yang lalu tentang hal itu. Tapi entahlah, aku hanya tidak bisa menangkap kilasan memori saat aku berada di negara ini. Oh ya, dia tinggal di sini. Beliau adalah abdi kerajaan yang taat. Saking taatnya, beliau rela meninggalkan anaknya, oh bukan, harus kubenarkan, anak h*ramnya, dengan seorang mahasiswa lugu dari Negeri Timur yang saat itu sedang magang di konsulat Istana. Belum genap dua minggu sejak Mamaku meninggal dunia. Tanah di pusaranya juga belum kering, saat seseorang datang ke gubuk reyot yang kami tinggali. Mengaku utusan dari Monsieur Gouireille - Monsieur adalah panggilan hormat setara 'Tuan' dalam bahasa Indonesia. Aku bahkan tidak menyadari bahwa nama itu ada di belakang namaku selama ini. Karena nama yang tidak lazim, dan lumayan susah dilafalkan oleh lidah loka, para guru sering tidak mengikutsertakannya dalam data diriku. Mama meninggal karena penyakit diabetes miletus bawaan yang parah yang dideritanya sejak usianya masih amat muda. Beliau collaps karena telat menyuntiikan insulin ke dalam tubuhnya, yang menyebabkan komplikasi hebat sampai ke jantung dan ginjalnya. Begitulah alasan beliau meninggal. Semuanya berlangsung cepat dan tak terduga. Tapi karena sudah terjadi, maka tak ada yang bisa kami sesali saat ini. Terlanjur. Angin yang bercampur butiran salju lembut berhembus ke arahku. Membuat gigiku sedikit bergemetetuk. Hmph! Kalau sedingin ini, bagaimana aku bisa bertahan hidup di sini? “Mlle Mireille?“ aku mengernyit mendengar nama itu di sebut. Terdengar aneh di telingaku. “Sebelah sini, s’il vous plaît.“ Kulihat seorang pria dalam balutan jas formal berwarna hitam dengan memakai kacamata hitam juga, Pria tersebut memmintaku untuk mengikutinya menuju mobil hitam yang sudah terparkir rapi di sana. Mlle, singkatan dari Mademoiselle, adalah panggilan kehormatan pagi wanita Prancis yang belum menikah. Madam, digunakan untuk memanggil mereka yang sudah menikah atau memiliki kedudukan tinggi dalam hierarki sosial, sedangkan monsieur merupakan panggilan formal untuk para pria. Aku mengikutinya masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang bahkan tak kutahu namanya. Well, here we go. Meet Daddy, batinku kecut saat mobil bersiap meninggalkan bandara. *** Seumur hidupku, Mama selalu mengajariku bahasa Prancis. Aku mengikutinya dengan sukarela karena kukira Mama memang amat menyukai bahasa tersebut. Dan dulu, kupikir semua orang juga berbicara dalam bahasa itu. Ternyata tidak. Aku sempat dianggap aneh oleh beberapa orang di sekelilingku. Aku sedikit lancar, walaupun bahasaku masih amat baku dan basic, tapi setidaknya kata Mama, cukup untuk berkomunikasi. Oma kadang menertawakan kami saat kami berdebat dengan bahasa yang campur aduk di rumah. Mungkin alasan lainnya adalah karena Oma sama sekali tidak paham bahasa tersebut. Siapa yang menyangka kalau Mama ternyata menyiapkanku untuk hari ini? Agar aku bisa berkomunikasi dengan orang - orang di negara asal Ayahku. Apa dia tau kalau aku akan ke sini suatu saat? Sendirian seperti ini? Tanpa dirinya? “Mlle Mireille, ini kamar anda. Kamar Ayah anda ada di seberang lorong. Saya ada di dapur dan di ruang belakang jika sewaktu - waktu anda membutuhkan saya.“ Brigitte, seorang wanita tua yang mengingatkanku pada sosok Oma, menyambut kedatanganku dan mengantarku berkeliling rumah saat aku datang. Sayang sebenarnya, rumah semegah ini, hanya ditinggali oleh seorang pria tua paruh baya dengan anak gadisnya, dua pengurus rumah tangga, satu sopir dan satu tukang kebun. Ironis. Berbanding terbalik dengan gubuk reyot kami yang kecil yang hanya memiliki dua kamar dan di paksa untuk menampung tiga orang. “Mlle Mire…“ “Mira, please“ “ Ah, excusez - moi. Mlle Mi...“ Aku memotongnya lagi saat dia meminta maaf. “Jangan gunakan embel - embel Mademoiselle. Aku bukan seorang francophonique. Mira. Panggil aku Mira“ Aku memotong permintaan maafnya. Benar, aku bukan orang perancis, tidak perlu embel - embel panggilan itu untuk memanggilku. Mira saja cukup. “Aa… d’accord.” Katanya menyetujui, meskipun tak yakin. “Mira pasti capek setelah seharian di pesawat terbang, mari saya buatkan makan malam untuk anda“ Katanya meminta diri. Agak tak terbiasa sebenarnya. Aku terbiasa mandiri bersama Mama dan Oma. Tidak ada yang memanjakanku walaupun aku adalah anak semata wayang Mama. “Well, oke. Apakah Monsieur Goureille akan makan bersamaku nanti? “ Aku menahannya dengan pertanyaan yang secara tidak langsung menanyakan di mana keberadaannya. Ayahku. “Ah, Mira, Monsieur menitipkan maaf untuk anda karena tidak bisa menemani anda di rumah kurang lebih selama seminggu ini… Ah!“ Brigitte memekik kaget saat aku meletakkan tas selempangku dengan kasar dan keras di atas meja rias. Mungkin lebih tepat juka dikatakan membanting, karena memang aku sedang emosi. Saat tidak ada respon lanjutan dariku, dia meneruskan kembali, “Beliau sedang ada tugas kerajaan ke Perancis menemani perdana menteri. Anda sebaiknya beristirahat setelah makan, anda telah melewati hari yang berat, Mira. Besok pagi Richard akan menemani anda ke sekolah baru anda“ Si*lan! Tua Bangka itu! Beraninya dia memisahkanku dari satu – satunya keluarga yang aku miliki di Indonesia, menyuruhku datang ke negaranya untuk menemuinya, tinggal di rumahnya dan sekarang dia pergi begitu saja tanpa ada kata selamat datang atau apapun! Dan… apa tadi? Sekolah baru? Berani sekali dia mengatur hidupku di sini seperti aku hanya boneka baginya!! Memang apa hak dia?! Aku selalu menentukan hidupku sendiri. Menentukan akan melanjutkan ke SMP mana, SMA mana, semuanya aku yang menentukan sendiri, dan sekarang mendadak aku harus menerima dengan senang hati dan lapang ada bahwa ada orang yang akan selalu menentukan sesuatu untukku di sini?! Candaan macam apa ini? Tentu saja aku tak terima! Aku bukan anak yang akan menurut begitu saja saat hidupnya ditentukan harus ke mana dan harus bagaimana. Aku terlalu mandiri untuk menurut begitu. Aku punya keinginanku sendiri, punya sesuatu yang menurutku menarik. Jadi kalau dia mengira ini akan mudah, maaf sekali. Aku harus mengecewakannya. Dia harus menerimaku yang seperti ini, silahkan saja kembalikan aku pada Oma. Meskipun Oma sudah mengusirku, aku yakin bisa melakukan sesuatu untuk itu. rencana cadangan, kalau Oma tetap tidak mau menerimaku, aku akan hidup sendiri di sana. Setidaknya di sana lebih familiar untukku daripada di sini. Dan ini malah apa, yang kudapat?? Kau membuat masalah dengan seseorang yang belum kau ketahui kekuatannya, Pak Tua….

Bab 2 I - UNA

Aku bosan. Benar - benar bosan. Aku ingin menikmati hariku di sini. Di negeri asing dan antah berantah di mana aku sama sekali tak mengenal seorangpun. Bukannya malah harus terjebak bersama orang ini, orang yang langsung mendapatkan poin minus sejak pertama kali aku melihatnya, untuk mengunjungi sekolah baruku. Huft! Nggak penting! Kita liat saja bagaimana selera Pak Tua itu. Aku sih yakin, sekolahku nantinya akan sangat - sangat old - fashioned dan datar. Mungkin hukum. Atau mungkin business management. Huh, membosankan. Mana Pak Tua itu tahu kalau aku, yang menurut pengakuannya ini adalah putrinya, ternyata sangat menggilai Van Gogh dan Monet? Yah, aku senang melukis, dan aku tetap ingin serius menjadi pelukis. Dan semakin membosankan karena sedari tadi kami saling mengacuhkan keberadaan satu sama lain. Ya, hal - hal yang berhubungan dengan si Tua Goureille akan senantiasa membuatku jijik dan ingin menjauh. Termasuk laki - laki sok cool yang menyebalkan ini! Dan sialnya, dia juga berlagak seakan - akan hanya sendirian di mobil ini! Oh, bukan, dia memang tidak menganggapku ada sejak awal. Selain kalimat ‘Halo, Mira. Aku pengawal yang menjagamu. Dan aku akan mengantarmu ke sekolah barumu hari ini’ - nya itu, dia samasekali tidak bersuara lagi. Bahkan namanya saja tida dia sebut! Huh, seakan aku peduli saja! Merdre! (makian yang umum dalam bahasa Prancis.) “Oke, on arrive.“ Katanya mengabarkan bahwa kami sudah sampai di tujuan kami. Yang entah dimana itu. Aku hanya meliriknya sekilas, sebelum akhirnya harus memalingkan wajahku ke luar lagi. Mon Dieu! C’est imposible!  Mataku terbelalak tak percaya memandang bangunan yang berdiri megah dan kokoh di depanku. “Hmm, sepertinya anda suka dengan apa yang anda lihat, Mademoiselle?” Tentu saja aku suka! Berdiri megah di depanku, yah aku memang belum membaca nama sekolah ini, tapi aku yakin seribu persen, kalau ini adalah ARBA (Académie Royale des Beaux-Arts). Mimpiku yang menjadi kenyataan! “Ini sekolahku?” tanyaku masih tidak yakin. “Yah, kalau belum sesuai dengan harapan anda, kita bisa cari yang lain. Masih banyak College Art di Belgia.” Yeah, tapi hanya di sini Van Gogh pernah belajar.  “Non, merci. Kupikir ini sudah lumayan.” Jawabku acuh. “It’s getting cold out here, bisa kita langsung masuk saja? Bertemu kepala sekolah atau semacamnya agar hari ini cepat selesai?“ “As you wish, Mademoiselle“ Olala….  Aku pasti sudah ternganga sambil mencubiti pipiku sendiri ketika mengikuti Si Entah Siapa Namanya menuju ruang Kepala Sekolah seandainya aku tidak ingat aku harus bersikap acuh dan dingin di sini. ARBA! Aku sekarang berada di sekolah seni terbaik di Belgia yang masih merupakan bagian dari Institusi Prancis! Sekolah seni yang sejak masih duduk di SMP selalu kubaca profilnya dan kupandangi fotonya karena aku tahu mustahil untuk masuk ke sekolah seni bertaraf internasional, tempat banyak seniman dunia pernah belajar di sana, kini akan menjadi tempatku belajar juga! Well, lihat saja Vincent Van Gogh si pelukis tenar yang karyanya hari ini pasti setara dengan harga mansion elit atau mobil ter-anyar dan tercanggih abad ini. Lalu ada juga si arsitek Henry Lacoste, ada juga pemahat rene Magritte dan nama - nama mendunia yang langsung bermunculan di otakku hingga aku susah menyebutnya satu persatu. Gedung berusia hampir 400 tahun ini menyimpan banyak kisah jenius dari para alumni terdahulu. Sementara Si Entah Siapa Namanya masuk untuk berbasa - basi dengan Kepala Sekolah, aku sibuk berkeliling melihat - lihat lukisan, patung dan pahatan yang di pajang di koridor menuju ruang Kepala Sekolah. “Mademoiselle  Goureille, Bienvenue." Seorang pria paruh baya yang terlihat berwibawa menyambut kami saat masuk ke suatu ruangan yang kuduga adalah ruang kepala sekolah. "Saya Archi Peyo, Kepala sekolah di sini“ Seorang pria tua nan botak menyapaku. Kujabat uluran tangannya sambil tersenyum ramah. Lupa kalau Si Entah Siapa Namanya juga berada di sana bersama kami. “Saya sudah melihat resume anda. Dan saya juga sangat terkesan dengan lukisan - lukisan yang anda lampirkan sebagai portofolio. Sungguh bakat yang luar biasa. Entrez, s’il vous plait, silakan masuk.“ Senyumku perlahan - lahan memudar. Resume? Portofolio berupa lukisan? Kapan aku pernah mengirimkannya ke sini? Aku hendak protes dan membenarkan, tapi seseorang menahan sikuku, membuatku menoleh padanya. “Jangan khawatir, perbuatan kami bukan sesuatu yang illegal. Kami sudah mendapat ijin dari kedua orang tua anda. Setidaknya, gangguan privasi ini membuat anda senang kan, Mademoiselle?” bisiknya. Ingatanku langsung melayang saat seseorang mendobrak lokerku. Kejadian yang membuatku belum bisa memulai debutku sebagai pelukis muda di ranah seni nasional hingga sekarang. Beberapa barang hilang saat itu, termasuk tiga lukisan yang rencananya akan kudaftarkan ke turnamen lukis nasional 5 bulan yang lalu. “Bingo! Ingatan anda tajam, Mademoiselle.” “Jadi… jadi kesini rupanya lukisan - lukisanku itu di kirim? Tanpa ijin dan persetujuanku? Beraninya…!” “Kami pengawal khusus istana yang seharusnya mengawal putri atau putra mahkota kerajaan, Mademoiselle, jangan kira gertak sambal anda berpengaruh untuk kami.” Oh, keterlaluan! Anda sudah membangunkan naga tidur. Siap - siap saja menerima konsekuensinya, Monsieur. ***  Richard’s Hari ini akhirnya aku bertemu dengannya. Adik Arilaine, anak Monsieur Guireille dari istrinya yang lain. Gadis sembilan belas tahun berperawakan mungil. Super mungil. Tingginya tidak sampai 160cm. Tapi Cedric dan Brigitte sudah memperingatkanku bahwa mulutnya mampu memuntahkan kata - kata setara dengan senapan. Wajahnya terlihat sebal. Seperti sedang sakit perut. Aku tertawa dalam hati. Aku sengaja mendiamkannya, belum berniat memecah kesunyian diantara kami. Tentu saja aku membaca profilenya yang dikirimkan Monsieur Guireille padaku beberapa bulan lalu. Walaupun Cedric yang sebenarnya memegang kendali penuh atas ‘pemulangan’ bocah ini, aku sedikit banyak membantu di sana. Sehingga aku tau beberapa hal tentangnya. Dan tambahan, aku bertugas menjadi pengawalnya selama disini. Namanya Mira. Mireille Karina Guireille. Namanya cantik, walaupun untukku pribadi, dia tidak secantik Arlaine, putri pertama Monsieur Guireille. Tapi dia memiliki pesona yang lain. Cute dan misterius. Keluarganya di Indonesia tinggal Oma nya yang entah bagaimana Cedric mengakalinya, mau merelakannya pergi menemui Ayahnya di Belgia. Sepertinya Nona Kecil ini tidak terlalu suka musim dingin. Heater mobil sudah menyala dan sudah lumayan hangat, tapi dia terus - terusan merapatkan jaketnya.  “Oke, on arrive.“ Tubuhnya tersentak kedepan memastikan yang ada di depan matanya nyata. Mulutnya terbuka penuh kekaguman. Dan satu lagi informasi yang kudapat, She loves arts.  “Ini sekolahku?” guamnya masih takjum memandangi Arba di depan matanya. Aku memutar bola mataku jengah. Disogok begini langsung lupa dengan amarahnya. Benar - benar remaja labil. Kami turun dari mobil, lalu masuk ke dalam dan menemui Rektor Akademi Archi Peyo. Yah, ARBA memang sangat lumayan. Banyak seniman yang menjadikannya sebagai kiblat. Bahkan dia membuka beberapa kursus seni untuk orang - orang yang memiliki hobi di bidang itu. “Mademoiselle  Goureille, Bienvenue. Saya Archi Peyo, Kepala sekolah di sini. Saya sudah melihat resume anda. Dan saya juga sangat terkesan dengan lukisan-lukisan yang anda lampirkan sebagai portofolio. Sungguh bakat yang luar biasa. Entrez, s’il vous plait.“ Oh, Shit! Pak Tua Botak itu terlalu lebar membuka mulut. Kuperhatikan Mireille menegang di tempatnya, dengan wajah kebingungan. “Jangan khawatir, perbuatan kami bukan sesuatu yang illegal. Kami sudah mendapatkan ijin dari kedua orang tua andaSetidaknya, gangguan privasi ini membuat anda senang kan, Mademoiselle?” Kilatan matanya yang marah saat menoleh padaku itu, yang kutunggu - tunggu. Akhirnya aku melihatnya juga! Tapi, kenapa rasanya… salah, bermain - main dengan Putri bungsu Monsieur Guireille ?

Bab 3 II - DUOS

“Mademoiselle, mobil kita ada di sebelah sini.” Pria yang mengaku ‘Pengawal Khusus Istana yang Seharusnya Mengawal Putri’ tersebut berseru memanggil. “Anda bisa membeku kalau terus keras kepala seperti ini“ Well, atur urusanmu sendiri, Monsieur. Aku sudah tidak berminat bermain tebak apa dan siapa dengan anda. Oke, kejutan tentang ARBA memang tak ada duanya. Tapi jangan kira aku goyah karena sogokan tersebut. Aku bahkan benci mengakui aku menyukai pikiran bahwa minggu depan semester baruku di ARBA akan segera dimulai. “Mademoiselle… “ “Get lost!“ Seruku murka saat dia mencoba menghentikanku dengan mencekal tanganku. “Laisse-moi tranquille! Tinggalkan aku sendiri!“  tambahku bahkan tanpa menoleh ke belakang. Sumpah! Aku hanya ingin sendiri sekarang. Setelah semua campur tangan orang - orang di sekitarku selama sembilan belas tahun ini, tidak bisakah mereka memberiku waktu sejenak untuk berpikir tentang diriku sendiri? Lalu memutuskan apa yang menurutku baik untuk diriku sendiri? “Anda bisa tersesat di sini. Dan percayalah, jika itu terjadi, bukan hanya anda saja yang akan mendapat kesulitan. Kukira, untuk seseorang yang sudah masuk kategori dewasa, cara berpikir anda masih sangat kekanak - kanakan“ Apa? kekanak - kanakan? Kuhentikan langkahku, kemudian berbalik Menghadapnya. “Anda bilang aku kekanak - kanakan? Ya! Aku memang kekanak - kanakan!“ ulangku nyaris tertawa. “Saya kira itu istilah yang tepat untuk menggambarkan sikap anda yang egois dan impulsif. Anda juga memiliki kecenderungan anak - anak untuk tidak membiarkan orang lain menasehati anda.” Sanggahan sudah siap keluar dari mulutku saat tiba - tiba sebuah sepeda melintas di depanku dan nyaris melindas kakiku. Dengan sigap Tuan Pengawal Istana langsung menarikku menepi dan tanpa menyia - nyiakan waktunya, membawaku yang masih syok masuk ke dalam mobil. “Terbukti sudah, bahkan untuk melindungi diri sendiri saja anda masih membutuhkan orang lain.” Ejeknya saat mobil mulai berjalan. Entahlah, tapi perkataannya tiba - tiba membuat dadaku sakit. Atau mungkin karena hawa dingin dari luar? Tapi memang kalimatnya agak menyinggungku. Aku diam, bukan mengalah, tapi tidak mau mengalah dan membiarkan dia tahu aku sudah terluka dan nyaris meneteskan air mata karena kata - katanya. “Setelah ini, kita akan menemui Madame Louisa, Ibu angkat Ayah anda.“ *** Louisa Charlotte, nama yang bagus. Dengan paras cantik, gerak - gerik anggun, suara merdu, nasib yang bagus serta gelar yang terhormat. Sempurna. Ya, aku bahkan bisa mengerem kata - kata pedas yang biasanya selalu gatal ingin kulontarkan pada siapa saja di negara ini, selama nyaris dua jam. Dua jam dengan hanya duduk memegang cangkir berisi lemon tea yang senantiasa dia tuangkan saat melihat cangkirku setengah terisi. Duduk seperti ini dan mendengarkan orang lain, yang harus kau panggil Granny, menceritakan betapa hebat dan luar biasanya sosok yang bahkan belum pernah kau lihat wujud nyatanya sebagai seorang ayah benar-benar memuakkan dan menyesakkan. Memiliki gelar kehormatan yang dihadiahkan dari kerajaan dan diwarisi secara turun temurun membuat sosok ayah ini menjadi amat terhormat.  Menggambarkan pernikahannya dengan salah seorang putri konsulat bagaikan sebuah perjuangan dalam mencapai misi perdamaian, dan banyak lainnya. Sementara di kepalamu, masih teringat dengan jelas hari - hari kelabu saat harus terlunta - lunta di jalanan setelah diusir pemilik rumah karena tidak sanggup membayar sewa. Saat tawarnya rasa ubi yang dibumbui garam masih melekat di lidahmu, saat dinginnya air hujan masih bisa kau rasakan menembus atap gubukmu. Quel contraire! Bagaikan langit dan bumi.  Cerita Granny Louisa terus berlanjut hingga seorang pelayan memberanikan diri mengetuk pintu untuk mengabarkan kedatangan seseorang yang mungkin penting. Hal ini tentu saja tidak kusia - siakan, aku ikut beranjak seraya menenteng tasku dan berpamitan, tentu saja setelah menjanjikan akan sering - sering berkunjung jika ada waktu.  Richard, itu namanya. Nama Tuan Pengawal Khusus Kerajaan itu, berjalan diam di sampingku saat menuju mobil. Walaupun dia ingin melontarkan komentar, dia bersikap bijaksana kali ini dan memilih untuk diam.  “Ada tempat lain yang ingin anda kunjungi Mademoiselle?”  Aku menggeleng pelan, menikmati rasa nyaman saat kepalaku menemukan tumpuannya di punggung jok mobil, berharap, kali ini aku tidak lupa membawa obat daruratku yang harus kuminum di saat - saat seperti ini. Berharap tangan Mama mengelusku saat rasa sakit mulai menyeretku ke sudut gelap dan menghilangkan kesadaranku perlahan.  Mama, i miss you…. ***  Richard’s Setelah perlawanan sengitnya di ARBA, aku membawanya ke tempat Madame Louisa. Mira, begitu rupanya nama paggilannya, sudah lebih tenang. Tapi wajahnya jadi agak pucat, dan nafasnya masih terdengar satu - satu. Apa dia masih marah? Ya, tadi dia berteriak lumayan kencang. Benar kata Brigitte, dia bisa mengeluarkan kata - kata setajam peluru saat marah. Tapi aku juga melihat hewan yang kesakitan di matanya. Penuh ketidakyakinan. Mungkin karena dia masih beranjak dewasa, sedang mulai mencari jati dirinya. Kami sudah sampai di tempat Madame Louisa. Seharusnya Countesse Guireille, tapi beliau melarangku memanggilnya dengan embel - embel, jadilah hanya Madame Louisa. Dia menurut tanpa perlawanan saat kubukakan pintu. Mukanya masih pucat, malah menurutku jadi semakin pucat. Untuk ukuran orang yang hidup di Negara tropis, warna kulitnya agak pucat. Kuning langsat cerah. Mungkin terpengaruh keturunan dari Ayahnya. Saat musim panas, para wanita pasti menggilai warna kulit seperti itu dan rela menghabiskan waktu berjam - jam berjemur atau mendekam di dalam mesin tanning untuk mendapatkannya.  Kami masuk, dan disambut oleh Felippe, Kepala Pelayan Madame Louisa. Dia tinggal disini bersama istrinya, Juliette yang menjadi koki kebanggan Madame Louisa. Dan dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyombongkannya. “Oh Richard! Lama sekali kau tidak mengunjungi perempuan tua ini.” Dan dia sangat extra dalam mengekspresikan sesuatu. Dia menutup mulutnya kaget saat melihatnya di belakangku. “Dia… Diakah…” “Oui, C’est vrai, Madame." Kataku membenarkan. "Mira Guireille, ini nenek anda, Madame Louisa Guireille.” Aku mengambil alih bagian perkenalan. Mira hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Tak yakin harus melakukan apa, dan Neneknya masih sibuk mengembalikan akal sehatnya karena keterkejutan. Dan ya, ada rindu disana. Yang kudengar, Mama Mira dekat dengan Madame Louisa. Bahkan dia sempat merawatnya beberapa waktu saat dia sakit setelah suaminya meninggal.  Sebelum aku sempat membuka mulut lagi untuk mengajak keduanya ke dalam, Madame Louisa setengah berlari menyongsong cucunya dan memeluknya erat sambil terisak. “Cucuku, Granny rindu sekali.” Mereka berpelukan sesaat, membuat Mira membeku di tempatnya, sebelum Felippe menyela meminta kami masuk agar tidak kedinginan. Tentu saja, salju sudah mulai turun perlahan. Mereka mengobrol banyak hal di dalam. Lebih tepatnya Madame Louisa yang bercerita tentang banyak hal, Mira hanya diam mendengarkan sambil sesekali menjawab. Kuperhatikan wajahnya tenang. Sesekali dia menjawab. Di tangannya, mug honey tea yang tadi disuguhkan Juliette masih tergenggam, tangannya mencengkeram mug erat, seakan dia yang nanti hancur berkeping - keping jika mugnya dilepaskan. Felippe masuk, menyela, mengabarkan seseorang dari kerajaan datang untuk bertemu Madame Louisa. Mira ikut bangkit dan berpamitan. Berjanji akan datang lagi lain kali. Banyak hal ganjil di sini, tapi tidak pada tempatnya aku bertanya pada Mira. “Ada tempat lain yang ingin anda kunjungi Mademoiselle?” akhirnya itu yang kutanyakan sesaat setelah mobil menggalkan halaman rumah Madame Louisa. Dia hanya menggeleng sebagai response nya. Lalu menutup matanya seperti tidur, tapi ada yang aneh. Nafasnya yang sedari tadi terdengar satu - satu, kali ini terdengar berat dan ganjil. Aku menepikan mobil dan berusaha membenarkan posisi tidurnya. Tidak berhasil, dadanya naik turun dengan cepat, seolah - olah kesusahan bernafas.  Shit! Bodohnya aku, dia pingsan! Bukan tertidur! Kuraih ponselku untuk menghubungi Cedric dan dokter Giussep, kuturunkan sandaran kursinya hingga separuh tidur, lalu kupacu mobil hingga sedikit diatas batas menuju Mansion.

Lanjut baca