Dunia seakan runtuh lebur menjadi debu tak berguna. Kenyataan begitu pahit langsung menghantam keras belakang kepala Maya sampai ia rasa akan segera pingsan. Tidak ada mimpi buruk yang lebih menakutkan dari mengetahui diri hamil saat masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah. "Tidak!" Maya Rehana, gadis berambut panjang sebahu itu nyaris jatuh terduduk begitu tespeck memberi jawaban garis dua. "Ka, aku hamil. Ini pasti salah, tidak mungkin kan, Ka?" Kepala Maya pening bukan main lantas berlari ke kamar. Mengurung diri di sana untuk meratapi nasib gila yang sedikitpun tidak berpihak padanya. Berhari-hari Maya tidak bisa tidur. Terdiam tanpa kata dengan tatapan kosong. "May." "Pergi, Ka. Aku mau sendiri." Gumamnya lemah. Tapi lelaki itu memaksa masuk tidak peduli Maya berteriak marah di wajahnya sekalipun. "Ayo, menikah!" Raka menatap serius pada wanita itu, "Tidak perlu merasa khawatir, aku tidak akan membiarkan mu sendiri, May. Kita hadapi semua sama-sama." Raka Pratama adalah adik kelas Maya di Senior high school, akhir-akhir ini mereka tiba-tiba saja menjadi dekat. Bahkan Maya tebak, Raka diam-diam telah berani menaruh perasaan padanya. Lelaki itu memperhatikan Maya dari atas kebawah. Kondisi yang memang cukup memprihatinkan, dengan sorot sayu tak berdaya begitu. Maya terduduk lemas disudut kamar gelap mencekam. Tidak ada pencahayaan lampu, hanya mengandalkan setitik cahaya yang terpancar dari luar. Maya menenggelamkan kepala diantara kedua lututnya, tubuhnya bergetar hebat, isak tangisnya membuat Raka semakin merasa sakit. Tak tahan berlama-lama, membiarkan wanita yang dicintainya merasakan sesak sendirian. Perlahan Raka rengkuh Maya kedalam pelukannya, membenamkan kepala Maya pada dada bidang miliknya. Ia elus lembut surai panjang Maya. Menyalurkan ketenangan, berharap wanita itu merasa lebih baik. "Aku yang akan bertanggungjawab, May. Kita besarkan bayinya bersama." Ucap Raka pelan yang ia kira dapat membuat wanita itu lega. Raka hapus jejak air mata, disetiap sudut wajah Maya, tatapan matanya sulit diartikan. Namun sedetik kemudian Maya menemukan rasa takut bercampur iba terpancar jelas dimatanya. "Jangan menangis lagi, May." Katakanlah Maya hebat dalam menilai. Rasa takut lebih terlihat jelas tersirat dimata Raka dan Maya dapat menyadarinya meski laki-laki itu telah bersusah payah menyembunyikan. Lantas menggeleng bersama senyum kecut menyertainya. "Tidak." "Tapi, May. Kandunganmu akan semakin besar. Sementara kita tidak tahu di mana Jordan berada sekarang." Maya berdiri, menghampiri cermin besar disebelah ranjangnya. Menatap pantulan dirinya sendiri di sana. Memperhatikan setiap jengkal tubuhnya yang semakin hari semakin kurus saja, kemudian ia jatuhkan pandangan pada bagian perut. Masih terlihat datar, Maya menyentuhnya dengan tangan bergetar. Rasanya semakin sesak mengetahui ada kehidupan lain didalam sana. "Bagaimana bisa aku akan menjadi seorang ibu, Ka? Usiaku bahkan belum genap 18 tahun." Air mata kembali berkumpul di rongga mata. Maya merasa benci pada dirinya sendiri, menyalurkannya dengan memukul-mukul gambaran dirinya sendiri didalam cermin itu. "Aku tidak siap, Ka. Bagaimana kalau orang tuaku tahu?" Jijik sekali rasanya jika harus mengingat kala dirinya terbuai dengan bujuk rayu sang kekasih. Kata-kata cinta Jordan melambungkan perasaan Bella setinggi-tingginya. Terlena akan sentuhan memabukan yang membawanya pada kenikmatan sesaat dan berakhir malapetaka. "Aku masih ingin sekolah, Ka. Masih ingin melanjutkan cita-cita ku. Ka, aku harus apa?" Tangis pilu kembali menggaung di ruangan, menyesakkan hati Raka. Jordan Elders, ayah dari janin yang kini berkembang dalam perutnya, seolah tak peduli dengan keadaan Maya. Bahkan sudah dua minggu lamanya Maya tak menemukan keberadaan laki-laki itu. Di manapun. Menghilang bak ditelan bumi. Menjadi seorang bajingan setelah berhasil meniduri Maya. ***
Maya menatap kosong tirai kamar yang memperlihatkan pemandangan abu-abu di luar. Dengan ragu tangannya meraba perut yang masih rata. Rasa takut dalam diri Maya semakin membelenggu, diusianya yang masih terlapau muda harus menghadapi kenyataan yang begitu pahit. Anak ini, tentu saja membutuhkan seorang ayah. Sementara Jordan selaku ayah biologis, tidak kunjung kembali. Ketukan pintu terdengar tiga kali, sebelum seseorang membuka kenopnya. Maya tidak bergeming, sudah tahu siapa yang datang. Raka Pratama, dialah yang selalu bersama Maya di saat-saat sedang tidak punya sandaran. Setelah tahu Maya hamil, Raka meminta Maya untuk tinggal di apartemennya sementara menenangkan diri. Raka begitu telaten menyiapkan buah-buahan segar, susu, vitamin dan segala macam kebutuhan wanita hamil muda. Seperti sekarang, Raka sudah tersenyum manis dengan nampan berisi banyak makanan di tangannya. "Aku tahu, kau belum makan." Lantas ia letakan di atas nakas lalu membuka tirai jendela agar ruangan itu memiliki cahaya. Sudah cukup lama Maya mengurung diri dan Raka mulai resah karenanya. Maya menggeleng, lalu membuang wajahnya untuk kembali menatap tirai lain. Warna putih tirai itu membuat Maya lebih tenang. Hatinya jadi sedikit lebih sejuk sehingga tak sadar bibirnya tertarik ke atas untuk beberapa detik. "Aku tidak lapar, Ka." Jawabnya pelan, Maya eratkan pelukan tangannya karena hawa mulai dingin. Sekarang masih pukul enam pagi. Kondisi jendela yang sudah di buka, membuat sisa angin malam langsung menyergap kulit Maya. "Aku selalu merasa kenyang." Maya tertawa hambar, meratapi nasib yang seperti tak berpihak padanya. "Buang saja makanan itu atau kau berikan pada kucing milik tetangga. Aku benar-benar tidak lapar sekarang." Rasanya Maya tertarik berlari ke balkon lalu loncat menemui ajal. Ia pejamkan matanya mengusir jauh-jauh pikiran gila yang mulai di rasa tindakan paling benar. Mati, apakah jika nyawanya hilang, masalah akan selesai? "Baiklah, aku tidak memaksa." Raka berjalan mengitari ranjang, lalu duduk di ujung ranjang Maya setelah meletakan kembali nampan yang sudah sempat ia angkat. Memperhatikan setiap pergerakan Maya. Menangis dan hanya menangis. Seolah air mata tidak akan pernah kering dari pelupuk mata. Raka menghela napas lelah, "Mau sampai kapan kau seperti ini, May?" Bagian hati Raka seperti di remas kuat melihat wanita itu menjadi sangat lemah. Maya bukanlah wanita pemurung sebenarnya. Saat ini keadaannya memang tidak memungkinkan untuk tersenyum lebar. Tapi setidaknya, jangan terlalu berlarut. "May, yang sudah terjadi-terjadilah. Tidak ada yang bisa mengubah takdir. Kalau kau tidak berani pulang karena hal ini, aku bisa membantumu berbicara pada Om Ronald." "Kau tidak mengerti, Raka. Ayahku pasti akan marah besar. Dia tidak mungkin terima begitu saja. Aku takut ayah malah menyuruhku mengugurkan janin ini." Hal seperti ini bukan baru terjadi dalam keluarga mereka. Ratna, kakak pertamanya juga sempat hamil di luar nikah dan ayahnya tidak perlu berpikir panjang untuk menyuruh mengugurkan. Maya tidak mau, sungguh. Bayi ini tidak berdosa. "Lalu kau akan terus tinggal di apartemen ku? May..." Raka memelas dengan helaan penuh beban, "bersembunyi tidak akan menyelesaikan masalah." "Jadi kau keberatan akau menumpang di apartemen mu?" Tentu saja bukan itu maksud Raka. Raka tidak mungkin akan meminta maya tinggal di sini sebelumnya kalau memang berasa terbebani. Hanya saja Raka ingin agar Maya lebih berani menghadapi masalah. "Aku akan keluar kalau kau memang tidak suka aku di sini." "May, aku hanya ingin kau tidak lari masalah. Kita cari Jordan kalau kau memang mau dia yang bertanggungjawab." Raka memejamkan matanya merasa telah salah berbicara. "Tidak. Maksudku, bagaimanapun dia memang tetap harus bertanggungjawab karena janin itu miliknya. Jadi..." "Jadi intinya kau ingin aku keluar dari apartemen ini?" Maya mundur mengangkat tangannya ke udara sebagai usaha menghentikan Raka mendekat. "Baik." Maya tersenyum ketir sambil ia hapus semua air mata di pipinya meski tak lama kembali basah, "aku akan pergi, Ka. Aku tidak ingin kehadiran ku di sini malah menjadi beban untukmu." "May," Wanita itu menghentak tangannya agar cengkraman Raka terlepas. Lantas memberontak sekuat tenaga yang langsung Raka peluk erat-erat. "Shhttt. May... May." Bibir Raka ikut bergetar mendengar tangis histeris Maya. Ia dekap semakin erat wanita itu sampai berhenti berontak. "Maaf, May, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung. Kalau memang kau tidak setuju, aku tidak apa-apa." Mereka terduduk karena tubuh Maya lemas tanpa kendali. Raka usap surai panjang Maya yang sekarang menangis tersedu. Mencengkram baju Raka dengan sangat kuat. "Aku takut, Ka. Aku harus bagaimana, Ka?" Lirih Maya pilu yang semakin mengiris hati raka. "Aku tidak mau bayi ini di gugurkan, ka. Dia tidak bersalah." Bayangan kemurkaan sang ayah terus berputar di kepala Maya. Ronald orang keras yang tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun. Terbiasa menjadi boss di kantor membuatnya menerapkan sikap tertib ke anak-anaknya. Sering bermalas-malasan yang mengakibatkan nilai akademik turun kerap membuat Maya di marahi habis-habisan. Apalagi kalau tahu saat ini Maya tengah hamil. Ronald mungkin akan mengantung lehernya di pohon. Maya mengalihkan pandangannya ke arah Raka dengan keadaan masih berlinang air mata. Relung hati Raka semakin terasa ngilu, ribuan belati berasa tertancap memenuhi seluruh tubuhnya. Lantas ia seka air mata yang siap-siap akan turun lagi dari mata cantik Maya. "Tidak akan, May. Itu tidak akan terjadi. Kau dan juga bayi dalam kandungan mu akan baik-baik saja." Janji Raka entah kenapa terdengar omong kosong. Lelaki itu berucap seolah akan melindunginya. Padahal umurnya saja sudah cukup mengatakan kalau Raka tidak akan mampu. Jangan lupakan lelaki itu sempat mengatakan akan membantu berbicara dengan ayahnya. Maya menggeleng dalam sendu, saat ia ingin bangkit dari duduknya yang menyedihkan sebelum ponsel berdering tanda sebuah pesan masuk. "Hamil? Jangan bercanda, May. Kita hanya melakukannya sekali. Kau pikir aku akan percaya begitu saja?" "Jordan." Raka langsung menghampiri Maya ketika wanita itu menyebut bajingan gila yang sedang di cari-cari keberadaannya. Isi pesannya langsung menyayat hati Maya. Wanita itu tercekat akan menangis lagi yang langsung Raka rebut ponselnya. Mendial nomor itu untuk sebuah panggilan. "Jordan, ini aku, Raka." Desis Raka tanpa basa-basi, lelaki itu tidak terima dengan kata-kata Jordan yang seolah mengatakan Maya hamil dengan lelaki lain. "Di mana kau sekarang, sialan?!" "Raka? Kau kah ayah dari bayi yang Maya kandung? Ku dengar kalian sering main bersama. Buka pintu, aku di depan sekarang." Mereka saling bertatapan sejenak. Raka menelan ludahnya kesat. Kemudian ketukan pintu mengguruinya kalau lelaki itu memang tidak sedang berbohong. Raka hembuskan napasnya. Sebisa mungkin terlihat biasa saja. Kemudian membuka pintu dan Jordan memang ada di sana. "Rakaaaa." Jordan langsung memeluk gemas tubuh Raka, menepuk-nepuk pundak Raka seolah begitu merindu. Raka cengoh, dia tentu tidak lupa Jordan baru saja menuduhnya ayah dari bayi yang Maya kandung. Tapi sikap yang ia tunjukan kini tidak seperti orang yang sedang memiliki masalah besar. "Mana, Maya?" Tanya Jordan kemudian semakin membuat kedua alis Raka saling bertaut, "maaf sekali aku tidak bisa membalas semua pesan mu. Ponselku jatuh ke sungai saat liburan kemarin." "Liburan?" "Hmm." Lelaki itu mengangguk, "dari dua minggu lalu aku liburan bersama keluarga ke Turki. Aku sudah memberitahu Maya, dia tidak memberitahu mu?" Bodohnya Raka menggeleng bak orang bodoh. Lelaki itu mengerjap tak paham. "Dia mungkin lupa." Jawab Jordan tidak ingin ambil pusing, "sekarang dimana dia, Ka? Aku sudah sangat merindukannya." "Masuklah." ujar Raka datar, masih berusaha kembali ke alam sadar. "Apa dia didalam?" Raka hanya mengangguk sekali sebagai jawaban. "Masuklah, aku akan keluar sebentar." Ucap Raka kemudian berlalu menutup pintunya dari luar. Jordan sedikit berpikir. Raka tidak seperti biasanya, mungkin hanya perasaannya. Kemudian mengidikan kedua bahunya tak mengerti. Tiba dikamar, Jordan langsung menghempaskan tubuhnya disebelah Maya, kemudian merangkak meraih paha Maya dan menjadikannya bantalan. Apartemen ini sudah seperti rumah kedua bagi mereka. Jordan dan Maya kerap mampir bahkan menginap. Jordan tahu Maya berada di sini karena ribuan pesan dari Raka. Lelaki itu banyak memakinya, entah kenapa? Maya tak bergeming, ia hanya menatap sendu kearah Jordan. Sebisa mungkin menahan air mata yang siap-siap terjun bebas meninggakan pelupuk mata. "Berapa lama kita tidak bertemu, sayang?" Tanya Jordan memeluk pinggang Maya lantas membuat kepalanya tenggelam di perut Maya. "Sampai aku sudah sangat merindu begini." Jordan memejamkan matanya seraya tersenyum menikmati aroma khas tubuh Maya yang menyeruak masuk ke indra penciumannya, vanila adalah aroma yang telah menjadi favorit Jordan. "Entah perasaan ku atau bagaimana, kau lebih kurus sekarang. Kau tidak mungkin diet kan, May?" Maya tidak tahu ingin mengatakan apa, padahal tubuhnya sudah sangat panas ingin mendorong agar segera bersuara. Ia harus memberitahu Jordi secara langsung. "Apa kau tak makan selama aku pergi?" Tanya Jordan lagi mendongakan kepalanya, untuk menatap Maya. "Jordan." Dan tatapan lelaki itu membuat Maya kehilangan kata-katanya. Jordan seolah memang tidak mengetahui apapun walau ribuan pesan yang mengatakan Maya hamil sudah sangat menjelaskan. "Apa kau tidak membaca pesanku?" "Aku membacanya. Tentang kau yang hamil itu?" Jordan tertawa menggetarkan hati Maya. Kehamilan Maya harusnya bukan sesuatu yang lucu, "kau sudah pandai bercanda sekarang. Tapi maaf sekali aku tidak akan mempercayai mu selama kau masih sering main dengan Raka." Citra Raka yang hobi bercanda membuat Jordan berpikir Maya sudah ketularan sikap lelaki itu. Oh Tuhan, bahkan selama seminggu ini Raka tak mampu memperlihatkan gigi-giginya di depan Maya. "Tapi aku serius." Mata mereka saling mengunci cukup lama sampai pergerakan kepala Jordan menjadi kaku tiba-tiba beralih menatap perut datar Maya sambil menelan ludah. "Aku sudah terlambat tiga minggu dan sudah melakukan tespeck. Hasilnya positif." "May, kau tidak sedang mempermainkan ku bukan? Ini sama sekali tidak lucu." Lelaki itu masih berusaha berkila. Ia bangun dari baringan santainya. Tidak ada kebohongan sama sekali dalam tatapan sayu Maya. Wanita itu memelas dengan mata yang sudah sangat bengkak. Jordan berdiri saat itu juga. Menjambak keras rambutnya hingga akan menanggalkan dari kulit kepala lantas berjalan mondar mandir lalu duduk lagi di depan Maya. "Katakan padaku kau tidur dengan siapa lagi selain aku?" Lelaki itu frustasi sampai matanya memerah. "Jordan?!" "Tidak, May. Kita hanya melakukannya sekali tidak mungkin langsung jadi. Kau pasti bermain juga dengan lelaki lain." Maya menggeleng tidak percaya. Hatinya bagai di tikam belati beracun yang akan segera membawa nyawanya pergi. "Katakan padaku, May. Siapa lelaki bajingan itu?!" Ia menatap Maya jengah tidak peduli sudah seperti apa wajah Maya sekarang. Lelaki itu menajamkan matanya, "apa orang itu Raka?" Maya menatap nyalang, kearah Jordan. "Apa maksudnya menuduh Raka?" Maya menahan rasa sesak di dadanya demi berbicara kebenaran dengan lelaki gila ini, "Aku tak mungkin melakukannya dengan Raka. Dia tidak lebih dari seorang adik bagiku." Jordan meraih kasar dagu Maya, memaksa untuk menatap matanya, "Apa kau bilang? tak mungkin? Apa yang tidak mungkin, May? Kau bisa melakukannya denganku. Berarti kau juga bisa melakukannya anak sialan itu! " Suara Jordan menggema, membuat Maya semakin tidak bisa menahan isak tangisnya. "Ck pantas saja Raka menatapku tak suka. Jadi aku mengganggu kegiatan kalian hah? Kalian sedang bermain saat aku datang, iya?!" Jordan begitu murka sekarang. Bayangkan dia baru menginjakan kaki di Indonesia. Berniat memberi kejutan malah dia yang lebih terkejut dengan kenyataan gila ini. "Jordan, apa yang kau lakukan?!" Teriak Raka seraya berlari mendekati Maya lalu meraih tubuh itu kedalam dekapannya. Maya semakin terisak dalam pelukan Raka hingga dada Raka ikut basah dibuatnya. "Cih bahkan kalian tak segan-segan bermesraan didepan ku. Dasar murahan!!" Mati sudah fungsi jantung Maya saat kata-kata itu begitu mudah keluar dari mulut Jordan. Murahan. Oh bagian mananya yang menunjukkan dia murahan? Maya tak dapat berkata-kata lagi, jantungnya seolah berhenti berdetak. Sakit, sungguh Jordan sudah berhasil menusuk bagian hatinya begitu dalam hingga kedasar. Raka yang mengenali pergerakan Maya langsung membenamkan kepala Maya lebih dalam lagi. Sampai wajah Maya bersentuhan langsung dengan dada bidang yang hanya berlapiskan kaos tipis setengah basah milik Raka. "Jaga mulutmu, Jordan!!" Jordan berdecak meremehkan, memandang keduanya dengan rasa jijik. Kemudian beranjak dari ranjang, menjauh tanpa ingin peduli lagi. Isi kepala Jordan terasa mendidih. Jadi ini sebuah perselingkuhan. Hanya itu yang ada di kepala Jordan saat ini. Maya dan Raka sudah menjadi pengkhianat keji. Kaki panjang menjadikannya lebih cepat melangkah hingga sudah diambang pintu kamar "Jordan, Maya hamil." Celetuk Raka yang berhasil menghentikan langkah Jordan, "ada bayi di dalam perut Maya dan kau lah ayahnya." Jordan tersenyum miring saat berbalik, "jangan mengada-ada, Raka. Anak itu bukan milikku." Menatap remeh keduanya, "melainkan milikmu. Jadi nikahi saja dia olehmu." Raka membelalak, mukanya berubah jadi merah padam menahan emosi yang jelas tak aka bertahan lebih lama. Jari-jari tangannya menggepal sempurna. Sementara Maya semakin terisak dalam pelukannya. Perlahan Raka melepaskan Maya menatap matanya sekilas penuh rasa iba. "Pasti seru sekali berselingkuh selama aku pergi. Sampai melupakan pengaman dan hamil." Tuding Jordan membuat keduanya menganga tak percaya, "ck! Pengkhianat memang cocok dengan pengkhianat!" Lelaki itu mencibir dengan tatapan merendahkan yang menyakitkan. "Bagaimana rasanya mencicip bekas ku, Raka? Kau suka? Ambil saja kalau begitu." Tidak bisa menahan diri lagi. Raka beranjak dari ranjang, menghampiri Jordan langsung menghadiahkan bogem mentah. "Kau pikir pantas berbicara seperti itu hah?! Maya berteriak histeris saat pukulan keras mendarat di pipi kanan Jordan, laki-laki itu terpental ke lantai. "Kau sudah tidak waras, jordan!!" "Kalau tidak ingin mengakuinya, tidak perlu mengatakan yang tidak-tidak, sialan!!" Sekali lagi, Raka hantam kuat wajah Jordan saat lelaki itu baru merangkak bangun. Aksi saling pukul terjadi. Jordan membalas sama kuatnya. Raka terpelanting kebelakang, darah segar mengalir disudut bibirnya yang langsung diusap kasar. Raka menyeringai. Seolah tak merasakan sakit kembali bangkit, sebelum akhirnya Maya menarik kuat Raka menjauh. "Sudah, Ka." Lirihnya memohon. Maya menggeleng pelan sebagai isyarat agar Raka berhenti, diikuti dengan senyum manis terlukis dibibir tipisnya sebagai tanda kalau ia baik-baik saja. Meski setetes kristal bening menyapa lembut pipinya kembali, dengan cepat Maya hapus memastikan kalau ia benar-benar tidak apa-apa. "Sialan!!" Jordan yang melihatnya semakin geram, melepaskan pukulannya pada dinding beton di dekatnya, begitu kuat hingga tangannya memercikan darah segar. ***
Alih-alih menemukan solusi, Maya di timpa masalah baru karena Jordan meminta putus setelah tahu dirinya hamil. Jordan menuding Maya dan Raka berselingkuh di belakangnya lantas menolak mendengar penjelasan apapun. Khas lelaki itu sekali, hanya membenarkan isi kepalanya yang jelas tidak benar. Sejak tiga hari juga Maya sudah pulang ke rumah orang tuanya. Belum ada yang tahu tentang kehamilan yang sudah memasuki bulan pertama. Maya belum siap mengatakan kebenarannya sebelum meyakinkan Jordan kalau janin itu memang miliknya. Berada di tempat yang tidak pernah Maya kunjungi sebelumnya membuat ia merasa asing. Bau alkohol menyengat langsung di penciuman serta asap rokok mengepul pekat, mau tak mau Maya harus mengempiskan hidungnya. Entah dapat bisikan dari setan mana, hingga Maya sampai berani menapakan kaki di tempat terkutuk, yang bisa saja membahayakan dirinya sendiri. Hiruk pikuk suasana kelab malam membuat Maya risih. Kerlap-kerlip Lampu disko dan dentuman musik yang tak beraturan membuat kepala Maya pusing. "Tempat ini mengerikan sekali." gumam Maya sambil terus menutup hidung. Sesekali menghindar dari tabrakan orang mabuk. Maya berjalan celingak-celinguk mengedarkan pandangan pada setiap sudut ruangan itu, berharap menemukan seseorang yang tengah dicari. Yang ada ia malah menemukan banyak pasangan maksiat. Satu pasangan bahkan melakukan oral, tak berada jauh dari tempat Maya berdiri. "Hey, cantik, mau minum bersama?" Ternyata Rafa, bertanya dengan nada sensualnya setelah mendorong wanita mabuk itu menjauh. Ditangannya telah bertengger dua gelas anggur yang tampak menggoda untuk dicecap. Anggota basket yang juga salah satu sahabat dekat Jordan itu tampak begitu liar dengan sejumput rambut jatuh ke dahi. Kancing kemeja Rafa terbuka tiga dan keringat membuat dadanya mengkilap seksi. "Tidak ,Raf, aku kesini bukan untuk minum." Tolak Maya terus melangkah masuk. Dia harus menemukan Jordan, bagaimanapun caranya akan membawa lelaki itu pulang. "Ayolah, May, sedikit saja." goda Rafa yang mulai merangkul bahu Maya lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Rasanya enak sekali. Di jamin kau pasti ketagihan." "Kalau kubilang tidak, ya tidak! Kau... bisakah kau menjauh dariku?" Menepis kasar tangan Rafa karena Maya mulai risih. Rafa hanya terkekeh dengan tindakan sarkas wanita itu. "Dimana Jordan, Raf?" Tanya Maya seraya menaikan kedua alisnya. Maya sudah malas lagi bertanya pada lelaki itu, seringai menjijikan Rafa membuat Maya muak. "Berhenti bermain-main, Raf. Aku bukan orang yang sabar." Rafa lepaskan rangkulannya ketika Maya menghentikan langkah dan menatap tajam padanya. "Kau sangat liar malam ini, May. Rawwrrr!!" Rafa tertawa meski raut Maya sudah tidak enak, lalu dengan beraninya membelai pipi mulus Maya dengan sensual. "Kurasa Jordan tak akan menyukai kedatanganmu, May." bisik Rafa ditelinga Maya. "Ada apa? Katakan padaku, Raf. Apa Jordan sedang bersama wanita lain?" Sudah cukup cerita Maya yang lemah. Tidak lagi ada air mata. Satu minggu mengurung diri membuat Maya sangat cukup untuk mendapat kekuatan. Ia akan menyeret Jordan. Itu tekadnya. Namun senyum Rafa membuat jantung Maya seperti berhenti berfungsi. Tidak mungkin kan? Tolong jangan biarkan Maya berpikir yang tidak-tidak sekarang. Jordan tidak mungkin seperti itu. "Ayo!" Rafa menarik Maya lebih masuk lagi hingga tiba pada titik dimana mata Maya membulat tak percaya. Di sudut ruangan terlihat Jordan sedang memangku seorang gadis, dan berciuman panas. Kaki Maya sontak lemas separti jelly, ada rasa sesak dibagian dada hingga membuatnya sulit bernafas. "Kau bisa lihat sendiri kan, dia tidak menyukaimu lagi, May." Rafa menyeringai penuh jenaka, seraya meninggalkan Maya yang masih terpaku dengan pemandangan di depan matanya. "Hmm, sepertinya kau dalam masalah sayang." Ucap Leya dengan nada sengaja dibuat mendayu. Ia sedang mengejek Maya yang sekarang melangkah ke arah mereka. Wanita itu pasti sudah sangat gila putus dari Jordan sampai memutuskan ke tempat yang bukan dirinya sekali. Oh tolong lihat bagaimana cara dia berpakaian. Orang gila mana yang datang ke tempat ini menggunakan sweater rajut seperti itu? Leya memutar bola matanya malas merasa lebih di atas segala-galanya di banding Maya. "Tidak usah pedulikan dia, sayang." Gumam Jordan menangkup pipi Leya, kembali mencium gemas bibirnya tanpa peduli Maya di sana hampir meneteskan air mata. "Dia hanya wanita bodoh yang hamil tapi tidak tahu siapa ayah janinnya." Leya tertawa naik lagi kepangkuan Jordan. Wanita itu senang mendapatkan Jordan meski mungkin hanya untuk malam ini saja. Leya Alexi adalah ketua tim cheerleader yang memang sudah lama tertarik pada Jordan. "Dia tidak mengkonsumsi kontrasepsi?" Jordan menggeleng lalu mengerang, lehernya ciumi Leya. "Dia tidak mengerti tentang itu." "Bodoh sekali." Tanpa di sangka seseorang menarik paksa lehernya sampai terpental dua meter. Maya tidak suka dirinya di injak wanita seperti Leya. Ia tunjuk Leya tepat di wajahnya, "berhenti menjadi murahan dan menggoda kekasih orang!" Raka akan menjadi orang pertama yang tertepuk riang jika sudah melihat Maya begini. Persetan dengan orang-orang mulai memperhatikan. Maya berdiri di depan Jordan, menahan lelaki itu untuk melangkah satu langkah saja. "Jordan, sayang, kaki ku sakit sekali. Wanita gila itu membuatku kesakitan." Rengek Leya manja menjulurkan tangannya yang langsung Maya tepis keras. Tapi Jordan melewati Maya dari belakang. Membantu Leya berdiri membuat napasnya tersendat. "Kau tidak apa-apa?" "Pergelangan kaki ku sakit. Sepertinya keseleo. Aw, sakit sekali, Jordan." Udara di sekitar Maya rasanya menguap sudah. Perhatian Jordan pada Leya menunjukkan lelaki itu memang tidak menghargai Maya sama sekali. Jordan menuntun Leya duduk di sofa. Orang-orang mulai melanjutkan kegiatan yang sempat teralihkan keributan kecil tadi. Sambil geleng-geleng kepala mereka menganggap Maya sedang berdrama. Pengelihatan Maya mengabur melihat Jordan meniup dan memijit kaki Leya. "Apa sudah lebih baik?" Bahkan tidak segan berpelukan mesra meski Maya masih berada di atas lantai yang sama dengannya. Maka ketika Rafa lewat dengan segelas anggur, Maya merebutnya dan menenggak habis lalu memiringkan wajahnya yang langsung di tarik lelaki itu. Jordan berdiri mencekal tangan Maya, menariknya menjauh. "Kenapa?" Maya mengangkat tipis sudut bibirnya, "bukankah kau barusan juga berciuman dengan wanita lain. Lalu kenapa aku tidak boleh?" Plak! Wajah Maya tertoleh ke kanan ketika tamparan keras mengenai pipi kirinya. Jordan menggeram marah, giginya bergemelatuk keras lalu menyeret Maya keluar dari tempat itu. "Jordan?!" Panggil Leya kesal mendapat cemooh Rafa. Wanita itu menatap marah, "kau selalu mengacaukan acaraku!" Tapi Rafa tidak peduli lantas mengedik ringan sambil berlalu. Oh dia hampir saja mendapatkan ciuman Maya kalau tidak si brengsek Jordan menghentikannya. "Jordan, lepas!" Maya masih berusaha melepaskan diri dari jeratan kuat tangan Jordan. Lelaki itu benar-benar marah di lihat dari bola matanya yang hampir keluar. Sekarang mereka berada di parkiran. Jordan membawa Maya menuju mobil miliknya. Lalu menghempaskan Maya ke jok penumpang di sebelahnya. "Jordan, sakit." Lelaki itu sangat kasar sampai tangan Bella membentur dasboard mobil. Isi kepala Jordan membara, membanting keras pintu mobil dan langsung meninju setir sampai bunyi klakson melengking memekakan telinga. "Selain peselingkuh, rupanya kau juga wanita bar-bar gila!" Napas Jordan terengah, keinginan mencekik wanita itu sampai mati timbul begitu saja. Maya beringsut menjauh ketika Jordan tampak bukan seperti dirinya. Layaknya orang kesurupan, tiba-tiba Jordan menjambak keras rambut Maya, mendesis di depan wajah Maya, "berani mencium lelaki lain heh?" "Jordan, lepas, sakit!" Tapi lelaki itu sepertinya sudah tuli, kulit kepala Maya serasa akan segera mengelupas dari tempatnya. "Kau pikir kau bisa melakukan itu di depanku hmm?" Maya menggeleng mulai memukul-mukul tangan Jordan yang memang berniat mencabut rambutnya. "Kau itu milikku, Maya, selamanya akan tetap menjadi milikku. Jadi jangan pernah berpikir untuk bisa bersama lelaki lain." "Kalau begitu kenapa kau bersikeras mengatakan aku berselingkuh?!" geram Maya memancing emosi Jordan. "Mulutmu mulai tajam, sayang, kau harus diberi hukuman karena sudah membentakku." Maya menggeleng menolak apapun yang akan Jordan lakukan padanya. Tapi Jordan tetaplah pemaksa yang sudah hilang akal. Menarik tengkuk maya untuk segera menyatukan bibir mereka. Mencium bibir maya seperti orang kesetanan. Mata Maya membulat sempurna. Begitu tidak siap mulutnya di ekploitasi paksa begitu. Maya merasa jijik, sebelumnya bibir Jordan dipakai untuk mencium gadis lain dan sekarang melumat bibirnya tanpa permisi. Maya kewalahan lantas mendorong tubuh besar yang semakin menghimpitnya dinding mobil. Maya takut Jordan malah meminta bercinta di dalam mobil. Lelaki itu tidak menggunakan akal sehat jika sudah di kuasai amarah. Ciuman semakin turun, kini jatuh pada leher jenjang milik Maya, bermain dengan tulang selangkanya dan mencetak bekas kepemilikan di sana. "Jor, lepas. Aku mulai tidak bisa bernapas." Maya pukul dada Jordan sekuat yang ia bisa. Namun lelaki itu sangat kuat, tidak bisa di singkirkan. Pukulan tangan mungil Maya malah menjadikan Jordan semakin gila, kini membuka sweater coklat maya lalu menyingkap kaos kebesaran wanita itu. Meremas keras dada Maya dan mengulum puncak payudaranya tanpa aba-aba. "Mmmhh Jordan." Sudah tidak bisa di biarkan lagi, Maya mendorong tubuh Jordan sekuat tenaga. Dan akhirnya terlepas. Jordan semakin marah. Penampilan Maya sangat berantakan, rambut kusut, bibir bengkak, dan sedikit air mata di sudut matanya. Wanita itu menahan agar tidak meraung di depan wajah Jordan. Tangannya gemetar tidak sanggup melemparkan tamparan keras di pipi Jordan meski sangat ingin. Jordan mengusap sudut bibirnya seraya tersenyum miring "itu kan kau harapkan?" Dia menarik wajahnya menjauh, "itu tujuan kau datang ke tempat ini bukan? Agar bisa tidur dengan banyak lelaki dan-" Plak! Maya sudah tidak bisa menahannya lagi. Tangannya bergerak sendiri memberi tamparan keras yang membungkam omong kosong Jordan. Dia pikir dia itu siapa sehingga Maya harus terus mengalah? "kalau tidak ingin mengakui bayi ini setidaknya jangan menuduh yang tidak-tidak. Aku tidak serendah itu untuk menyerahkan tubuh ke sembarang lelaki." Tekan Maya berapi-api. Tidak ada alasan lagi bagi Maya berada dalam satu mobil yang sama dengan Jordan. Lagi pula dia juga membawa mobil sendiri. Namun isi kepala Jordan benar-benar tidak terduga. Lelaki itu menjalankan mobilnya sehingga Maya tidak bisa berbuat apa-apa selain tetap berada di mobil dengan tujuan yang tidak tahu kemana. Membelah jalan ibukota dengan kecepatan di atas rata-rata. Maya terdiam tidak ingin merengek takut walaupun jantung seperti akan runtuh sekarang. Mobil meliuk-liuk memotong jalan kendaraan lain. "Bagus. Teruslah seperti itu, lalu nama kita akan muncul di surat kabar sebagai korban kecelakaan tragis." "Mati bersama bukan ide yang buruk. Dan ya, aku memang berniat menabrakkan mobil ini ke pohon atau bangunan agar bayi sialan itu juga ikut mati." Jordan tidak main-main dengan perkataannya di depan sana terdapat pohon besar yang mengarah ke jurang. "Jordan, jangan gila!" Tidak ada yang benar-benar ingin mati walaupun bersikeras mengancam. Tapi Jordan sudah kesetanan, sehingga tidak ada lagi ketakutan dalam dirinya. Maya menutup mata dan telinganya berdoa semoga Tuhan mau sedikit berbaik hati. "Sekarang waktunya mengucapkan selamat tinggal pada dunia." Desis Jordan bersatu dengan suara gesekan keras roda mobil dan aspal jalanan. Percikan api mengepulkan asap pekat. Napas Maya berhenti bersama luruh jantungnya tidak berani membuka mata. Jordan mendapatkan hidayahnya, mobil berhenti tanpa benturan apapun. Atau mungkinkah mereka sudah berada di alam lain sehingga tidak merasakan sakit? "Masih terlalu muda untuk mati." Mereka berada tepat di beberapa jengkal dengan pohon itu. Jalanan gelap dan sepi membuat bulu kuduk Maya berdiri. "Aku tidak ingin memutus cita-citamu yang ingin menjadi pengacara itu." Jordan mengusap rahangnya resah, "jadi selagi aku masih berbaik hati. Lebih baik kau gugurkan saja kandungan itu." "Jordan!" Maya menggeleng tidak percaya. Dalam kondisi seperti ini, apa hanya wanita yang merasa begitu tidak berdaya? Mereka melakukannya bersama-sama namun ketika perbuatan itu berbuah petaka, kenapa tanggungjawabnya di limpahkan sepenuhnya pada pihak wanita? "Kita masih delapan belas, May. Aku masih harus mengejar cita-cita begitu juga dirimu. Adanya bayi itu hanya akan membuat kita kesulitan." Jordan memukul setir sebagai ungkapan frustasi yang memusingkan ini. "Aku belum siap menjadi ayah." "Berani meniduri wanita artinya sudah siap untuk segala konsekwensinya termasuk suatu saat aku hamil." "May." Jordan memelas, "gugurkan, ya?" "Tidak!" Tolak Maya keras. "Jor, dosa kita sudah sangat besar dengan melakukan sex sebelum menikah. Aku tidak mau berdosa lagi karena membunuh bayi tak berdosa." "Kalau begitu kau punya rencana?" Jordan benar-benar sangat frustasi sampai napasnya tersendat begitu. Hal serupa sebenarnya terjadi pada Maya. Hanya saja dia harus terlihat lebih kuat agar Jordan tidak menindasnya. "Menikah." "Selain itu?" Menikah di usia delapan belas artinya mereka harus putus sekolah. Jordan tidak mau. "Adakah solusi yang lebih baik dari menikah?" "Hanya itu satu-satunya solusi. Kita harus bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan, Jor." "Tapi menikah di usia seperti ini hanya akan mengundang petaka. Orang tua kita juga akan menentang. Jangan gila!" Maya terdiam. Mata mereka saling mengunci dengan emosi yang begitu besar. Lalu tawa hambar lolos begitu saja. Maya menggeleng tidak percaya kemudian memaksa keluar dari mobil. Jordan memang tidak bisa di harapkan. "May!" Biarkan maya menyusuri jalanan gelap sampai menemukan kendaraan lain dan menumpang sampai ke rumah. Tidur selama beberapa hari Maya rasa cukup untuk memulihkan pikirannya yang kacau. Tapi nasib tragis merenggutnya begitu saja. Mobil lain datang dari arah kanan melaju dengan cepat menghantam tubuh Maya sampai terpental ke pinggir jalanan. Pendengaran Maya otomatis tuli, gelap malam semakin menyatu dengan matanya hingga di detik berikutnya Maya benar-benar tidak bisa melihat apapun. Pingsan atau mati, tidak ada yang benar-benar tahu. ***