Suddenly Got Married
Bab 1 Awal mula

Dara dan Randy baru saja menikah, mereka menikah karena sesuatu yang harus  menyebabkan mereka menikah, yaitu mereka dituduh berbuat mesum.  Semua bermula dari Dara yang berlibur di kampung tempat Neneknya bersama sepupunya. Entah bagaimana kejadiannya Dara dan Randy kepergok warga dan para warga menuduh mereka sedang berbuat mesum. Para warga pun marah dan membawa mereka berkumpul di rumah ketua Rt di desa tersebut. "Bapak-bapak, ibu-ibu. Ini semua tidak seperti yang kalian kira, memang saya dan mas ini tadi sedang berdua saja, tapi kami tidak melakukan apa-apa. Tadi saya cuma minta tolong pada mas ini, untuk membantu saya membuang ulat bulu yang nyangkut di baju saya," Dara berusaha untuk menjelaskan. "Iya, semua yang dikatakan mba ini betul, Pak," Randy membenarkan ucapan Dara.  Randy saja tidak mengenal gadis tersebut, tahu namanya saja tidak. Dia cuma berniat menolong saja. Malah dituduh berbuat mesum. Para warga menuntut mereka untuk segera dinikahkan sesuai dengan hukum adat di kampung mereka. Jika ada yang ketahuan berbuat mesum akan dinikahkan saat itu juga. Dara yang mendengar itu langsung menangis dan tubuhnya gemetar bagaimana bisa? Dia akan menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak dia kenal. Bertemu saja baru tadi. Tetapi warga tidak percaya pada penjelasan dua orang anak manusia tersebut. Mereka bilang maling mana ada yang ngaku. Terdengar teriakan dan berbagai umpatan keluar dari mulut mereka. Dara hanya menduduk takut dan tubuhnya gemetar di sertai isak tangis yang tertahan. Sinta sepupunya yang sedang menemaninya liburan, memeluk tubuh Dara yang tengah gemetaran. Pak Rt dan pak Lurah, menyuruh Dara dan Randy untuk menghubungi orang tua mereka masing-masing untuk segera datang. Orang tua Dara berada di kota, dan jarak dari kota ke desa memakan waktu 5 jam perjalanan. Sedangkan Randy sendiri, dia sudah yatim piatu. Pak Rt dan Pak Lurah meminta para warga agar segera bubar. Dara memeluk Neneknya, dan menangis histeris. Pak Rt bilang besok mereka akan berkumpul lagi di rumah Neneknya Dara. Dara menatap tajam ke arah Randy, ia merasa ini semua terjadi karena ulah Randy, padahal dia sendiri yang meminta pertolongan Randy. Sedangkan Randy hanya menduduk dan diam saja, tak tahu harus berbuat apa. Ia benar-benar syok. Niatnya datang ke Desa ini, ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya, malah dapat musibah begini. ====== Bunda dan Ayah Dara sudah tiba di rumah neneknya, orang tua dari Ayah Dara. Dara pun berlari dan menghambur ke pelukan Bundanya, lalu ia menangis dengan suara keras. Dara menceritakan kejadian sebenarnya pada kedua orang tuanya secara jelas dan lengkap, tanpa ada yang tertinggal sedikit pun.  "Bunda, Ayah tolong Dara! Dara gak mau nikah sama laki-laki itu. Dia orang kampung Ayah, aku gak mau jadi orang kampung dan tinggal di sini, Bunda." Dara semakin menangis dengan keras. "Sudah, tenangkan dirimu, Sayang! Kita lihat saja nantin keputusan para warga dan aparat di desa ini," kata Bunda Dara, sambil memeluk dan mengelus elus kepala anaknya yang masih sesegukan. Dara sendiri adalah anak manja dan keras kepala, semua yang dia mau harus dituruti. Apalagi Bundanya sangat memanjakannya. Keesokan paginya Pak Lurah dan para warga sudah ramai berdatangan, mereka berkumpul di rumah Nenek Dara. Untuk mendengar dan memastikan agar Dara dan Randy di nikahkan. Di dalam rumah, sudah ada Pak Rt, Pak lurah, beberapa orang warga dan kedua orang tua Dara . Mereka berbicara serius, dan keputusannya sudah bulat mereka akan segera dinikahkan. Warga Desa takut Desa mereka akan kena bala atau musibah jika ada orang yang berbuat mesum tidak dinikahkan. "Maaf sebelumnya, Pak Lurah dan Pak Rt, apa tidak ada solusi lainnya selain menikah? Kami benar-benar tidak melakukan apapun. Saya hanya membantunya saja membuangkan ulat di bajunya," ucap Randy dengan sopan dan tenang. "Bapak juga tidak tahu, kamu tahu sendirikan gimana keadaan dan adat istiadat di kampung ini? Karena kamu besar di sini," ucap Pak Rt, Randy yang mendengar itu hanya bisa diam dan kembali mendudukkan wajahnya. Sial benar nasibnya tiba-tiba harus menikah dengan jalan seperti ini. "Jadi bagaimana, Pak? Kami takut warga marah jika mereka tidak dinikahkan sekarang juga. Mereka tak mau Desa ini kena bala dan musibah. "Ya, mau bagaimana lagi. Kami setuju dengan pernikahan ini," ucap Pak Ali, ayahnya Dara. Dara dan Randy terkejut, mendengar Pak Ali yang menyetujui pernikahan ini.  "Apa... aku gak mau, yah! Aku gak mau menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak aku kenal, aku gak mau nikah sama dia, Ayah!" pekik Dara sambil menangis. "Dia orang kampung Ayah. Kok Ayah tega nikahin anaknya sama orang kampung, aku gak mau, ayah! Aku mau nikah dengan orang yang aku sukai dan cintai."  "Semua sudah terjadi, Dara. Jadikan ini pelajaran agar kamu bisa menghargai orang lain! belajarlah menerima sesuatu dengan ikhlas! Tidak semua keinginanmu harus dituruti, kali ini ayah tidak bisa membantumu. Selama ini kami selalu menuruti keinginanmu, saat ini ayah minta kamu yang menuruti keinginan ayah," tegas pak Ali. "Huhuu... aku gak mau, Ayah! Aku gak mau nikah dan tinggal di sini."  "Sudahlah, sebenarnya, Nak Randy ini tidak tinggal di sini. Dia bekerja di kota."  Paling cuma kerja jadi karywan rendahan, batin Dara. Apa kata teman-temannya nanti, seorang Dara Anastasya Hermawan, menikah dengan lelaki kampung  karena digrebek dan dituduh berbuat mesum lagi. Itu benar-benar memalukan, Dara benar-benar gak mau hal itu sampai terjadi. "Tolong, persiapkan pernikahannya, Pak. Kami sebagai orang tua menerima pernikahan ini!" ucap Pak Ali selanjutnya. Para warga membantu menyiapkan pernikahan Dara dan Randy, sesuai adat dan tradisi di kampung mereka. "Sebenarnya, nak Randy sendiri sudah yatim piatu, Pak." Ucap Pak Rt, yang mengetahui tentang Randy. "Iya, Pak. Saya sudah tahu. Lagian Randy juga bekerja dan tinggal di kota." Ujar Pak Ali. Ia sudah berbicara empat mata dengan Randy. Dia percaya Randy bisa mengubah dan mendidik Dara untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab. Pernikahan di lakukan di rumah Nenek Dara, tepatnya di ruang tamu. Warga senang akhirnya mereka menikah dan Desa mereka tidak akan terjadi sebuah musibah.  Dara menatap Randy dengan tajam, ia benci dan marah dengan  Randy yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Mungkin ini sudah takdir-Nya, aku akan menerimanya dengan ikhlas. Apapun yang akan terjadi kedepannya, batin Randy.  ===== Keesokan paginya mereka berpamitan dan meminta maaf pada warga Desa. Mereka akan segera pulang ke kota, dengan mengendarai mobil kedua orang tua Dara. Randy dan Pak Ali duduk di depan, Randy yang mengemudikan mobil mertuanya tersebut, sedangkan Dara, ia duduk di kursi bagian belakang dengan Bundanya. Ia tidak mau dekat-dekat dengan Randy. Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam, mereka kini sudah tiba di rumah orang tua Dara. Dara langsung turun dari mobil dan ingin segera masuk ke dalam kamarnya. "Kamu, mau kemana?" tanya Pak Ali pada Dara yang tengah berjalan menuju kamarnya. "Mau ke kamar istirahat terus tidur, Dara capek," jawab Dara judes. "Tunggu dulu! sini duduk dan dengarkan, Ayah! Suka gak suka sekarang kamu sudah jadi seorang istri, dan nak Randy sekarang adalah suamimu!" kata Pak Ali dengan nada marah. Dara menatap Ayahnya yang terlihat marah, ia juga marah dan kecewa. Kenapa semua ini harus terjadi padanya? Ia belum ingin menikah, tapi kenyataannya sekarang ia sudah menikah. Ia merasa masa depannya hancur kini sudah hancur karena pernikahan ini.  "Kalian berdua sebaiknya tinggal di sini saja!" kali ini Bunda yang bicara. "Sebenarnya, Randy ingin membawa Dara tinggal di rumah Randy sendiri, Yah. Ya walaupun rumah saya tidak sebesar dan semewah rumah ini," sahut Randy pelan. Mata Dara pun melotot ke arah Randy saat mendengar perkataan Randy. Dara menolak untuk ikut tinggal bersama Randy, tetapi Pak Ali meyakinkannya dan memberi nasehat bahwa seorang perempuan yang sudah menikah harus ikut kata suami selama masih dalam kebaikan. Menurut Pak Ali ada baiknya juga Dara tinggal bersama Randy biar anak gadisnya itu bisa belajar mandiri dan tidak manja. Setelah perdebatan panjang akhirnya Dara setuju untuk tinggal di rumah suaminya. Esok paginya mereka bersiap untuk pergi ke rumah Randy. Pak Ali dan Bunda Ayu akan ikut mengantarkan Dara ke rumah suaminya. Mobil mereka berhenti tepat di halaman sebuah rumah yang nampak asri, rumahnya lumayan besar, ya walaupun tidak sebesar dan semewah rumah keluarga Dara.  Dara saja tidak percaya kalau ini rumah Randy. Kok bisa? orang kampung seperti Randy punya rumah sebagus ini? Apa Randy kerja sebagai sopir, tukang kebun, atau satpam di rumah mewah ini? begitulah yang ada dalam pikiran Dara. Siapa sebenarnya laki-laki yang kini telah berstatus sebagai suaminya ini? Bersambung.... Terima kasih.

Bab 2 Satu atap

Randy mempersilahkan kedua mertua dan Istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Bu Ayu dan Pak Ali mengedarkan pandangan mereka, ternyata rumah menantunya sangat bagus dan terkesan mewah. Di dalam rumah mereka disambut oleh dua ART yang bekerja di rumah Randy. Setelah berbincang-bincang dan makan siang bersama, kedua orang Dara pamit untuk pulang. "Randy, Ayah titip Dara ya! Ayah yakin kamu anak yang baik, bisa bertanggung jawab dan harap maklum dengan sifat manja dan keras kepala Dara. Kami harap kamu bisa bersabar menghadapi sifat, Dara," pesan Pak Ali pada Randy. "Insha Allah, Pak. Saya akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk Dara!" jawab Randy. "Bunda, Ayah Dara ikut kalian pulang!" Rengek Dara pada orang tuanya. "Tempatmu di sini! ikut suamimu, Dara!" kata Pak Ali. "Tapi... Dara takut, Bun."  "Apa yang kamu takutkan?" Bunda Ayu menatap anak semata wayangnya itu. "Dara takut, bagaimana jika mas Randy jahatin Dara?" "Kamu ini, kebanyakkan nonton sinetron! Bunda yakin nak Randy itu anaknya baik," ucap Bunda, lalu memandang wajah menantunya yang terlihat tengah tersenyum ke arahnya. "Lagian di sini juga ada para pembantunya, Nak Randy. Jadi kamu tidak usah takut, belajar untuk jadi istri yang baik, Dara! Jangan membantah perkataan suami hormati dia! Sekarang Nak Randy adalah suamimu, imammu." Nasehat Bu Ayu.  Setelah memberi nasehat dan pesan pada Dara. Pak Ali dan Bu Ayu pun berpamitan dan berjalan keluar dari rumah di antar oleh Randy. Randy yang baru saja mengantarkan mertuanya sampai teras masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa di mana istrinya itu tengah duduk di sana juga. Dara mengangkat wajahnya dan menatap tajam Randy. "Kamu, marah?" tanya Randy pada Dara. "Tentu saja aku marah. Ini semua karena mas Randy!" ucap Dara dengan ketus pada Randy. "Salah saya apa?" tanya Randy lagi. "Mau tahu salah Mas itu apa?" ucap Dara angkuh. "Salah mas karena menyetujui pernikahkan ini. Mas tidak berusaha untuk menolaknya atau Mas sengaja agar bisa menikah dengan aku?" Dara menatap wajah suaminya yang terlihat santai itu. "Apa...? Jadi kamu menuduh aku melakukannya dengan sengaja gitu? Aku diam karena gak tau mau ngomong apa? Kamu sendirikan tahu gimana reaksi warga saat itu," sahut Randy. "Hah, baiklah. Tapi aku mau buat peraturan."  "Peraturan apa?" tanya Randy, bingung. "Ya, peraturan pernikahan kita."  "Apa...? Kamu jangan main-main deh. Kita menikah secara sah, jangan mempermainkan sebuah pernikahan, Dara!" tegas Randy "Tapi aku tidak menginginkan pernikahan ini," sahut Dara ketus. "Jadi gimana maunya?" Randy sudah lelah berdebat dengan Dara. Randy juga pusing, apalagi menghadapi sikap istri dadakannya ini. "Bisa pinjam Pupen dan juga kertas untukku menulis!" Randy pun bangkit dan mencari kertas seta pulpen, lalu memberikannya pada Dara. Dara mulai menulis apa saja peraturan yang ia buat. "Oke, dengarkan ini baik-baik!" ucap Dara setelah menyelesaikan tulisannya, lalu membacakan satu persatu peraturan yang ia buat. 1. Jangan berharap aku akan melayanimu seperti istri pada umumnya. 2. Jangan ikut campur urusan masing-masing. 3. Jangan mengakui aku sebagai istrimu di depan siapapun. 4. Aku bebas untuk melakukan apapun dan jalan dengan siapa pun. 5. Aku mau pernikahan kita ini dirahasiakan. Aku gak mau sampai ada yang tahu kalau aku sudah menikah. "Baiklah, aku ikuti apa maumu. Silahkan istirahat ke kamarmu!" ucap Randy, ia malas berdebat dengan Dara. Ia juga capek ingin cepat istirahat. "Di mana kamarku?" tanya Dara. "Di atas, di samping kamarku."  "Baiklah." Dara pun segera bangkit dari duduknya dan menarik kopernya menuju kamar yang ada di lantai dua. Dara membuka pintu, terlihatlah kamar bernuansa warna biru di dalamnya. Ia meletakan kopernya di samping ranjang. Kemudian ia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas kasur. Air matanya kembali mengalir mengingat bahwa sekarang dia sudah menikah. Karena merasa lelah akhirnya ia pun terlelap dalam tidurnya. Keesokan paginya, Dara telah bersiap-bersiap untuk memenuhi panggilan kerja. Hari ini dia akan melakukan interview kerja di perusahaan yang sudah sejak lama ia impikan. Dara melihat Randy sudah duduk di kursi meja makan. Ia menatap Randy dengan jengkel. "Pagi, Ra!" sapa Randy. "Gak usah basa basi deh. Gue malas ngomong," sahut Dara ketus.  Kemudian Randy menatap istrinya itu, lalu ia tersenyum ke arah gadis cantik dindepannya tersebut. Dara sarapan roti yang di beri selai coklat dan segelas susu hangat yang sudah disiapkan oleh Mbok Jum. Mereka sarapan dalam diam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Aku mau berangkat interview kerja, tapi mobilku di rumah. Terus aku berangkat pake apa?"  tanya Dara, ia sudah menyelesaikan sarapannya. "Ini....!" Randy menyerahkan sebuah kunci motor pada Dara. "Apa, ini?" tanya Dara. "Kunci motor buat, Kamu," sahut Randy. "Apa...! Mas Randy, nyuruh aku naik motor berangkatnya. Gak salah?" kata Dara dengan suara keras.  Apa-apaan ini bisa-bisanya dia menyuruhku naik motor, gimana jika kulit putihku mengelupas dan hitam kena sinar matahari? nanti  kulitnya akan iritasi kena debu, dan lain-lain. Dara mendumel dalam hati. Dara menelpon Ayahnya dan meminta sopir untuk mengantarkan mobilnya ke rumah Randy, tapi Ayahnya menolak, dengan alasan Dara harus belajar mandiri dan banyak lagi alasan ayahnya yang membuatnya ingin frustasi. "Hahhh, mana kunci motornya sini, deh." Dara akhirnya mengambil kunci motor yang  tadi di berikan Randy. "Ya sudah, aku berangkat nanti telat lagi." ucapnya ketus.  Dara berjalan dengan cepat ke luar rumah, dan menyalakan mesin motornya dan menjalankannya dengan perlahan. Demi apa coba dia berangkat memakai motor sperti ini ? Ini memalukan sekali baginya.  Randy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan tingkah istri dadakannya itu. ===== Dara tiba di depan gedung perusahaan tempatnya melamar kerja. Di sana sudah ada temannya yang bernama Nina dan Santi. Mereka berdua menghampiri Dara. "Dara....!" Seru kedua temannya, Dara kaget dan menoleh kearah dua sahabatnya. "Eeh, kalian sudah datang?" tanya Dara dengan gugup. "Hu'um, kamu pake motor? Demi apa coba seorang Dara Anastasya naik motor?" Tuhkan teman-temannya sudah pada kepo. "Hah, kalian berdua bikin mood gue jelek aja, deh. Gue mau tau rasanya naik motor, ternyata seru juga," ucap Dara sambil meringis. Seru apanya? panas, terus kena polusi, pakaian jadi kusut gini, batin Dara. Rasanya dia ingin sekali menangis. Ini semua karena ulah Randy sialan itu. Arrgghh  Nina dan Santi serempak mengarahkan telapak tangan mereka berdua ke jidat Dara. "Gak panas," gumam Nina. "Iya," sahut Santi. "Woy, kalian kenapa, sih?"  "Loe yang kenapa? Kepala loe tadi gak kejedot di aspalkan, terus otak loe geser gitu?" kata Nina dan diangguki oleh Santi. "Maksud loe berdua apaan?" Mata Dara melotot ke arah dua sahabatnya tersebut. "Ya, kita gak percaya aja, loe mau naik motor kayak gini! Naik motor loh ini. Naik angkutan umum aja loe gak mau, katanya panaslah, banyak polusilah, nanti kulit loe iritasilah, dan banyak lagi...." cerocos Santi. "Hah, apaan sih, gue mau masuk duluan deh, bye." Dara meninggalkan kedua sahabatnya yang masih bingung dengan sikap Dara. Mata Dara berbinar bahagia dia di terima kerja di perusahaan tersebut sebagai salah satu staff Accounting. Wajahnya ceria ia seakan melupakan kesedihannya kemaren.  "Gue, diterima...." teriaknya pada dua sahabatnya yang menunggunya di lobby. "Wah, selamat ya, Dara Sayang." Ketiga sahabat itu pun berpelukan. Mereka bertiga melamar kerja di tempat yang sama, tapi sayangnya salah satu di antara mereka tidak lulus tes, yaitu Nina. Sayang sekali mereka tidak bisa sama-sama lagi seperti saat mereka kuliah. Dara melajukan motornya pulang ke rumah, tapi di tengah jalan ia menghentikan motornya, ia lupa di mana alamat rumah Randy! Mau nelpon Randy juga dia tidak mempunyai nomor ponsel lelaki yang berstatus suaminya itu. Dara bingung sendiri, berpikir gimana cara dia bisa tahu alamat rumah Randy. Akhirnya Dara menelpon Ayahnya dan memberitahukan bahwa ia kini tengah tersesat dan tidak tahu jalan pulang ke rumah. Ayah menghela nafas pelan bisa-bisanya anaknya itu lupa jalan pulang, mana gak punya nomor ponsel suami sendiri lagi. Lama Dara menunggu di bawah pohon besar di tepi jalan. Ia duduk di atas motor. "Ayok, pulang!" Dara menoleh keasal suara. "Loh, kok mas Randy yang jemput, ayah mana?" tanya Dara. "Buruan gak usah tanya-tanya! Udah gede juga, bisa-bisanya lupa jalan pulang." ucap Randy. "Ya, mana aku tahu alamat rumahnya mas Randy, kan baru kemaren aku tahunya rumah mas Randy. Belum hafal jalanannya." kata Dara. "Ya, udah ayok buruan!" Randy masuk ke dalam mobil dan Dara mengikutinya dari belakang dengan motor. Randy tersenyum, melihat tingkah Dara yang memonyong-monyongkan bibirnya dari kaca spion mobil. Ketika sudah sampai di rumah Dara langsung saja  masuk ke dalam kamar. Dara tidak menghiraukan panggilan Randy. Lebih baik dia masuk kamar, mandi dan tidur daripada berbicara dengan Randy.  Bersambung....

Bab 3 Hari pertama masuk kerja

Hari ini Dara mulai bekerja di perusahaan Wiyaya group. Dara sangat bersemangat hari ini, akhirnya dia bisa juga bekerja di perusahaan besar itu. Dara berdandan, ia memakai bedak dan memoles tipis bibirnya dengan lipstik. Sebelum turun ke bawah untuk sarapan Dara memandang wajahnya di cermin, iya tersenyum melihat wajah cantiknya. Randy yang duduk di kursi makan menatap ke arah Dara. Cantik batin Randy. Ia memuji bahwa istrinya itu memang benar-benar cantik.  "Cantik," kata Randy, ia menatap Dara. Dara diam saja, dia malas berdebat dengan Randy. Tumben sekali dia bilang gue cantik, batin Dara. Randy dan Dara sarapan dalam diam, sesekali Randy mencuri pandang kearah istri cantiknya itu. Sedangkan Dara asyik mengunyah makanannya, ia tidak menghiraukan Randy yang juga ada di sana. "Kamu, mau ke mana? Udah Rapi aja?" tanya Randy, di saat mereka sudah selesai sarapan. "Mau kerjalah," ketus Dara. "Mau aku antar?" tawar Randy, dia serius mau ngantar Dara. "Gak usah sok baik deh, mending aku naik taksi aja daripada di antar sama kamu," tolak Dara. Hmm, Randy hanya tersenyum saja dengan tingkah dan ucapan ketus Dara padanya. "Ya sudah. Aku berangkat duluan kalo begitu." Randy berdiri dari duduknya dan segera melangkah ke luar. Dara menatap punggung Randy yang sedang berjalan, dia heran saja. Mau kerja atau ke mana suami dadakannya itu? sebab Randy hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih dan celana jiens panjang. Ah masa bodo, dia mau kemana bukan urusanku, batin Dara. Dara meraih ponselnya dan segera memesan taksi online. Dara tidak mau lagi berangkat menggunakan motor pemberian Randy. Bisa-bisa hancur dandannya kalau dia naik motor. Tak berapa lama taksi yang dipesan Dara sudah tiba di depan rumah. Dara mengambil tas dan segera menghampiri taksi yang tengah parkir di depan. ====== Dara duduk di kursi tempat kerjanya, hari ini adalah hari pertama Dara kerja. Wajahnya nampak sumringah. Di hari pertama kerja Dara berusaha untuk tidak melakukan kesalahan apapun, ia terlihat fokus pada pekerjaannya. Saat jam istirahat, Sinta menghampirinya dan mengajaknya untuk makan siang bersama. "Woy, serius amat sih, loe."  "Ya, harus dong," sahut Dara. "Kita makan siang bareng, yuk!" ajak Sinta. "Oke, tunggu bentar, ya!"  "Cepetan! udah lapar ini, gue." Seru Sinta. "Sabar...!" "Nah, sudah selesai, yuk kita makan."  Mereka makan di kantin perusahaan. Dara dan Sinta duduk di pojokan. "Hai, gue boleh duduk di sini, gak?" tanya seorang lelaki tampan, tinggi, berhidung mancung, alisnya tebal,  dan yah pokoknya tampan deh. "Oh, silahkan...!" sahut Sinta dengan mata berbinar melihat lelaki tampan di depannya.  "Kalian, anak baru ya?" tanya lelaki tersebut. "Iya," sahut Sinta, sedang Dara hanya tersenyum simpul. "Kenalin, nama gue Dion." Lelaki itu memperkenalkan dirinya pada Dara dan Sinta. "Gue, Sinta dan ini Dara, sahabat aku," ucap Sinta. "Oh, hai Dara!" sapa Dion. "Hai," kata Dara singkat. Dion memandang Dara, dengan pandangan kagum, ia terpesona dengan kecantikan Dara. Dion melontarkan beberapa pertanyaan pada Dara, tetapi yang banyak menjawab hanya Sinta, sedangkan Dara hanya sesekali saja menjawab. Dion menjadi bertambah penasaran dengan gadis cantik di depannya ini.  Dara dan Sinta kembali ke kantor tempat mereka. "Eh, kayanya si Dion itu naksir loe, deh," kata Sinta pada Dara, mereka berjalan menuju kantor. "Tau dari mana, loe. Ngaur deh." timpal Dara. "Gue lihat dari cara dia mandang loe tadi, masa loe gak merasa sih." "Perasaan biasa aja, deh."  "Gak percaya lagi dikasih tahu." "Ya, mana gue bisa percaya. Ketemu aja barusan tadi," sahut Dara. "Kita lihat aja, nanti!" ucap Sinta. "Terserah loe, deh. Yuk kerja-kerja. Semangat!" seru Dara. Dara dan Sinta pun kembali dan duduk di kursi yang ada di kubikel masing-masing. Jam pulang kerja sudah tiba, Dara bersiap-siap untuk segera pulang. ia merapikan meja kerjanya, setelah itu baru iaeranjak meninggalkan ruangan kerjanya. Dara mengotak-atik ponselnya, ia memesan taksi online lagi. Kali ini dia sudah hapal alamat rumah suami dadakannya, jadi ia tidak perlu khawatir lagi akan tersesat dan lupa jalan pulang. Dara sedang duduk di sebuah kursi yang ada di lobby kantor, ia menunggu taksi online yang dia pesan. "Menunggu, siapa?" Dara yang tengah melamun pun kaget mendengar ada suara yang menyapanya. "Saya...?" Dara menunjuk dirinya. "Iya, kamu. Siapa lagi?" sahut Dion. "Oh, lagi nunggu jemputan," kata Dara dengan cuek. "Boleh, gue temenin?" tanya Dion lagi. Dara menoleh kearah lelaki tampan yang berdiri di depannya, lalu mengangguk pelan. Sebenarnya Dara gak ditemani juga gak apa, tapi gak enak aja menolak tawaran Dion. Setelah Dara mengiyakan tawarannya, Dion langsung duduk di kursi samping perempuan cantik bermata sipit tersebut sambil tersenyum senang. Tak berapa lama taksi yang dipesan Dara tiba, ia beranjak dari duduknya. Lalu mengucapkan terima kasih pada Dion karena sudah menemaninya. Dara tiba di rumah Randy, tetapi belum terlihat kalau Randy sudah pulang. Mobil Randy juga tidak ada di halaman berarti lelaki itu belum pulang. Ah ngapain juga aku mikirin dia, lebih baik aku mandi saja, batin Dara. Dara naik ke atas menuju kamarnya berada. Ia meletakan tas kerjanya di atas tempat tidur, lalu melepas pakaiannya kemudian beranjak masuk ke kamar mandi. Hari pertama kerja, dan untuk pertama kalinya bagi Dara itu membuatnya merasa lelah, ia butuh mandi dan berendam di air hangat. Dara turun ke dapur, di sana Bi Surti dan Bi Nah, ART di rumah Randy sedang sibuk menyiapkan makan malam. "Bi, ini tolong cucikan!" perintah Dara, ia menyerahkan sepatunya pada dua ART yang bertugas di rumah tersebut. "Iya, Non. Tapi nanti ya saya mau siapkan makan malam dulu," sahut Bi Surti dengan sopan. "Gak bisa, saya maunya sekarang," ucap Dara dengan suara keras. "I-iya, Non," ucap Bi Surti dengan takut-takut, ia pun segera melaksanakan perintah istri majikannya itu. "Tunggu, Bi!" Suara Randy yang baru saja pulang, menghentikan langkah Bi Surti yang berjalan menuju tempat cuci. Sedangkan Dara menatap malas ke arah Randy. "Iya, Mas Randy. Ada apa?" tanya Bi Surti. "Bibi mau ke mana?" tanya Randy, matanya melirik sepasang sepatu yang berada di tangan Bi Surti. "Ini, Mas. Mau nyuciin sepatunya Non Dara," sahut Bi Surti.  Randy mengambil sepatu yang ada di tangan Bi Surti, lalu melemparnya ke hadapan Dara. Sedangkan Dara kaget matanya melotot ke arah lelaki tampan tersebut. "Kamu, punya tangan, kan? Cuci sendiri jangan menyuruh orang lain! jangan manja!" bentak  Randy.  Dara menatap Randy dengan nyalang. Ingin sekali dia menelan bulat-bulat lelaki di depannya ini. "Buat apa bayar pembantu kalo nyuci sepatu aja gak bisa?" ucap Dara. "Aku yang bayar, bukan kamu. Jadi jangan pernah menyuruh-nyuruh Bi Surti ataupun Bi Nah," tegas Randy, dengan tatapan tajamnya pada Dara. "Cuci sendiri! Jangan cuma bisanya nyuruh aja."  Mata Dara berkaca-kaca, segera ia ambil sepatu yang tadi dilemparkan Randy ke hadapannya, lalu berlari memasuki kamar, ia membanting pintu kamar dengan keras. Biar aja rusak. Bodo amat. Dara menangis, ia merasa sakit hati, orang tuanya saja tidak pernah membentaknya. Lah ini Seorang Randy yang baru beberapa hari menjadi suaminya sudah membentaknya.  Bersambung... Terima kasih.

Lanjut baca