“Ran, cepat berangkat sebelum ketinggalan bus dan kamu terlambat sekolah lagi!!” teriak seorang wanita paruh baya sembari menggunakan celemek di tubuhnya. Wanita itu sudah berkepala lima, namun sosoknya masih terlihat bugar melihat dari gaya bicaranya yang lantang. “Iya nek, sebentar... aku melupakan dasiku,” jawab Ran. Ran memang gadis yang cukup ceroboh. Dia terlalu menyepelekan hal – hal kecil, dan itu sudah beberapa kali merusak harinya seperti kasus dasi pagi ini. Semalam, nenek sudah mengingatkannya untuk segera menyiapkan perlengkapan sekolah agar tidak ada yang kurang ketika pagi hari. Ia mendengarkan saran nenek, lalu menyiapkannya. Namun, ia melewatkan sesuatu, yaitu dasi masih ada di keranjang cucian kotor. Ia baru menyadarinya ketika tengah malam. Alhasil, ia harus mencuci dan menjemur dasi malam itu juga. Lorraine Estelle adalah nama lengkap yang diberikan oleh ibu Ran dulu ketika ia lahir. Nama yang sangat sulit diucapkan bagi lidah Orang Jawa. Tidak sekali dua kali orang – orang salah menyebutkan namanya. Ia sendiri heran bagaimana bisa ibunya yang seorang gadis desa biasa, yang tidak pernah tau dunia luar, bisa memberikan nama itu. Ran berumur tujuh belas tahun. Ia duduk di bangku kelas sebelas SMA semester dua, yang sebentar lagi akan ujian untuk kenaikan kelas. Begitu cepat waktu berlalu semenjak Ran diadopsi oleh Nenek Mariyati dari panti asuhan. Kira – kira lima tahun lalu saat dia akan menduduki bangku SMP. Ran adalah gadis yang memiliki tinggi sekitar 168 cm, dengan berat badan 56 kg. Tubuh yang ideal dan idaman bagi para gadis. Ia memiliki mata bulat berwarna hitam legam yang dihiasi dengan bulu mata lentik. Rambutnya hitam lurus sepanjang bahu. Kulitnya berwarna kuning langsat, bersih, karena sekalipun ia adalah anak yang ceroboh ia suka merawat tubuhnya. Ran memang tidak memiliki kecantikan yang trendi pada masa sekarang, seperti badan putih dan menggunakan lensa mata. Ia cukup sederhana, namun tetap berpenampilan rapi dan enak dipandang. Nenek Mariyati adalah seorang janda tua yang kehilangan suami sekaligus anaknya pada kecelakaan maut tahun 2013. Tepat setahun sebelum bertemu dengan Ran. Kecelakaan itu terjadi saat suami dan putri semata wayangnya sedang mengantarkan pesanan ke pembeli yang lokasinya juga tidak terlalu jauh, dari rumah makan mereka. Sebelum kecelakaan itu terjadi, ternyata ada seorang anak kecil yang menyeberang jalan dengan tiba – tiba, membuat suaminya terkejut. Karena berusaha menghindar agar tidak menabarak anak kecil itu, suami dan putrinya menabrak truk barang yang melintas berlawanan, hingga menewaskan keduanya. Kejadian tragis tersebut membuat Nenek Mariyati sampai masuk rumah sakit jiwa akibat serangan panik. Dan, pertemuan dengan Ran adalah obat terbaik yang membuat Nenek Mariyati menemukan alasan hidupnya kembali. Pertemuan mereka cukup unik dan tidak disengaja. Terjadi sekitar enam bulan setelah Nenek Mariyati masuk rumah sakit jiwa. Kala itu Nenek Mariyati sedang jalan – jalan bersama perawatnya ke luar untuk menghirup udara sore. Di sebelah rumah sakit, terdapat sebuah taman yang ramai dikunjungi penduduk sekitar, terutama anak kecil karena ada wahana bermain disana. Kebetulan Ran sedang mengamen dengan biola tuanya di taman itu. Ia sudah memainkan biola sejak umur enam tahun. Diumurnya yang keempat belas tahun, kini ia sudah menguasai dua puluh lima musik klasik. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah mengikuti les biola karena les biola mahal. dan dulu orang tuanya tidak memiliki uang lebih, bahkan untuk makan sehari saja sudah kesulitan. Biola itu juga pemberian dari mendiang kakeknya, dan saat itu sudah berumur lima puluh tahun. Ran hanya memperhatikan pemusik gereja yang mengiringi panduan suara, setiap ia dan ibunya melakukan ibadah pada hari minggu pagi. Itu terjadi sebelum ia berpisah dengan ibunya, dan akhirnya tinggal di panti asuhan. Setelah di panti asuhan, ia sering berlatih sendirian ketika tidak ada kelas membaca dan menulis. Ia juga membeli beberapa kaset dvd musik klasik di pasar, setiap ia keluar bersama penjaga panti asuhan untuk bebelanja. Untungnya, panti asuhan berbaik hati untuk meminjamkan televisi dan pemutar dvd padanya, dua jam setiap hari. Ia sangat menyukai biola, karena biola yang bisa menghibur kesepiannya saat itu. Mendengar bunyi biola yang begitu indah, Nenek Mariyati teringat akan putri semata wayangnya yang juga suka memainkan biola. Lantas Nenek Mariyati bangkit dari kursi rodanya, dan berlari keluar dari area rumah sakit jiwa. Perawat yang menjaga Nenek Mariyati sampai kewalahan, sampai meminta tolong satpam untuk membantunya. Meskipun sudah berumur, ternyata Nenek Mariyati masih memiliki tenaga yang tak kalah dari anak muda. Pelatihan saat di kebun bersama orang tuanya ketika kecil, yang mengharuskannya menaiki bukit saat malam hari ternyata sangat berguna. Di taman itulah Nenek Mariyati menemukan Ran. Gadis kecil yang cantik dengan topi rajut merah dan biola tua. Setelah pertemuan itu, Nenek Mariyati harus mendapatkan terapi yang lebih intens dari sebelumnya untuk menyadarkan diri bahwa Ran bukan putrinya. Kehadiran Ran cukup membantu selama proses pengobatan berlangsung. Ran tidak keberatan mengunjungi Nenek Mariyati di rumah sakit secara rutin, untuk memainkan beberapa lagu dengan biolanya. Tidak lupa, Ran didampingi salah satu pengurus panti asuhan karena ia masih dibawah umur. Satu persatu memori muncul dalam ingatan Nenek Mariyati, sampai ia menyadari bahwa Ran bukan putrinya. Ketika ia mengingat kembali, Ran dan putrinya terlalu banyak perbedaan. Ran mampu berdiri dengan baik dan memiliki kondisi yang utuh. Sedangkan putrinya tidak bisa menggunakan kaki dengan baik dan hanya duduk di kursi roda, akibat penyakit disabilitas intelektual yang merusak jaringan otot kaki. Tetapi, meskipun ia sadar Ran bukan putrinya, Nenek Mariyati tetap jatuh cinta pada Ran dan ingin mengadopsi gadis itu. Prosedur adopsi tidak begitu saja dengan mudah dilakukan, memperhitungkan kondisi Nenek Mariyati saat itu. Salah satu syarat mengadopsi anak adalah mampu; mampu menafkahi, mampu memberi kasih sayang, dan mampu secara mental. Jadi, Nenek Mariyati berniat untuk memperjuangkan kesembuhannya terlebih dahulu agar layak di mata hukum untuk menjadi wali dari Ran. Setelah selesai dengan persiapan dasinya, Ran keluar dari kamar dan memakai sepatu. Ketika ia hendak berpamitan pada Nenek Mariyati, wanita paruh baya itu sudah tidak ada di rumah. Untungnya Ran tahu dimana pada pukul itu neneknya berada. Ran berjalan menuju rumah makan yang berada tepat di samping rumahnya. Rumah makan itu adalah usaha milik neneknya yang sebelumnya dirintis bersama mendiang suami. Sebelum mengadopsi Ran, Nenek Mariyati ternyata sudah memperhitungkan bagaimana ia menghidupi Ran. Tabungan dan asuransi yang masih disimpan, digunakan untuk membeli rumah yang nyaman untuk ditinggali berdua, dan mendirikan usaha di samping rumah. Usaha itu adalah rumah makan. Sebuah bisnis yang dulu pernah Nenek Mariyati tekuni bersama mendiang suaminya. Sekalipun rumah makan itu tidak semewah rumah makan kebanyakan, ternyata nama Nenek Mariyati sudah banyak dikenal orang karena cita rasa masakannya. Secara tidak langsung, hal itu menjadi branding dari usahanya. Bahkan, Nenek Mariyati sudah menerima banyak pesanan cathering dari acara tasyakuran, dan pernikahan. Kini, hasil dari jerih payah itu digunakan untuk merenovasi rumah serta pendidikan Ran. Tak lupa, setiap dua bulan sekali, Ran dan Nenek Mariyati memberi bantuan ke panti asuhan yang dulu merupakan tempat tinggal Ran. Ran tersenyum ketika melihat semua bangku penuh dengan pengunjung. Nenek Mariyati bersama Mbok Darmi juga terlihat sibuk kesana kemari untuk melayani pengunjung. Ia bangga terhadap Nenek Mariyati dan merasa bersyukur karena beliau mau membantunya keluar dari panti asuhan serta bertanggung jawab atas hidupnya. Ia tidak tahu apakah akan ada orang yang sudi mengadopsinya, jika Nenek Mariyati tidak datang. “Nek, Ran berangkat dulu!” ujar Ran dengan suara yang sedikit lantang. Nenek yang mendengar itu bergegas menghampiri Ran dan menepuk bahunya, “Kamu tuh ada banyak pengunjung malah teriak – teriak,” katanya. Ran menyengir menampilkan deretan gigi putihnya yang berbaris rapi, lalu ia membalas, “Maaf Nek, aku melihat nenek sibuk hihi.” “Yaudah sana berangkat, hati – hati di jalan, ini ada uang saku dipakai buat makan siang ya.” Ran meraih tangan nenek dan mengecupnya. “Aduh nek, uang yang kemarin masih ada kok, Ran kan juga udah punya pekerjaan, itu buat nenek aja,” ujarnya. “Udah... nenek sibuk, kamu lekaslah berangkat,” balas Nenek Mariyati sembari memasukan uang lima puluh ribu ke dalam saku rok sekolah Ran, dan berlalu meninggalkan Ran untuk melanjutkan pekerjaannya. Ran mendengus, namun dia juga tidak berniat untuk menghampiri nenek dan mengembalikan uang itu karena bakal terjadi perdebatan yang tak kunjung selesai. Lantas, Ran melambai pada Mbok Darmi sembari meninggalkan rumah makan menuju halte bus terdekat. Beruntungnya, Ran sampai tepat waktu ketika bus terakhir menuju sekolah tiba. ***
Bus mulai melambatkan lajunya, gedung sekolah juga mulai terlihat di depan. Ran berjalan menuju pintu bus, untuk bersiap keluar sembari memberikan uang ongkos kepada kernet bus. Ran turun dari bus, tepat di depan sekolah karena di sekitar sekolah tidak ada halte. Jantungnya berdegup kencang, ketika mendapati gerbang sekolah yang mulai ditutup oleh Pak Satpam. Namun gerombolan siswa yang berdesakan mengakibatkan gerbang susah ditutup. Ran diam sejenak untuk mencari cara agar bisa menembus gerombolan itu. Lalu setelah mendapat ide, Ran berlari menuju gerbang. Naasnya, Ran terjatuh akibat menginjak tali sepatunya sendiri hingga lututnya berdarah. Namun Ran tidak ada waktu untuk meratapi rasa perih di lututnya, dan langsung bangkit untuk menerjang gerombolan itu. Ia tidak langsung bisa menembus, malah terjebak ditengah – tengah gerombolan. Bau keringat langsung menyengat hidungnya, tidak tertahankan lagi. Ran berjongkok untuk mencari jalan di sela – sela kaki para siswa yang juga terlambat itu. Ran merangkak, tidak memperdulikan lututnya, bahkan tubuhnya yang tertimpa badan pendesak. Untungnya ia mempunyai tubuh langsing yang berperan besar membantunya keluar dari sana. Setelah berhasil menembus gerombolan itu, Ran mencium seragamnya yang terkena keringat orang – orang rusuh di belakangnya. Rasanya ingin sekali muntah. Namun sekali lagi, Ran dibuat tidak tenang ketika ia melihat tiga guru BK yang terkenal galak mulai muncul bersamaan dengan bel masuk kelas. Peraturannya, jika bel sudah dibunyikan, tidak boleh ada siswa yang masih berkeliaran di area sekolah, karena doa pagi bersama di kelas dilaksanakan tepat setelah bel berbunyi. Bagi siswa yang tertangkap masih di luar kelas, akan dihukum bersama siswa yang terlambat. Hukumannya pun cukup menguras jam pertama pelajaran sampai bel istirahat dibunyikan. Akan dibagi beberapa kelompok untuk membersihkan area sekolah seperti kebun, kamar mandi, halaman sekolah, dan green house yang jumlahnya ada 3. Belum lagi hukuman dari guru yang mengajar di kelas. Mereka yang tidak beruntung mendapatkan guru disiplin akan mendapat tugas tambahan di rumah seperti mengerjakan soal – soal atau merangkum buku, dengan deadline keesokan harinya. Tidak banyak juga siswa yang kabur, asalkan jangan ketahuan. Karena jika ketahuan, akan mendapat hukuman berlipat ganda. Dalam keadaan panik, Ran mencari cara bagaimana bisa menghindari tiga guru itu. Ia mengedarkan pandangan mencari tempat sembunyi, yang siapa tahu masih bisa diperjuangkan. Setelah memperhitungkan tempat yang paling dekat yaitu kamar mandi, tidak akan cukup waktu sebelum tiga guru itu sampai. Ia sampai kesal mempertanyakan siapa yang membangun lapangan sekolah selebar itu. Ran putus asa. Dalam keputus asaannya itu, ia mulai merasakan perih pada lututnya. Lalu ia menunduk untuk memastikan seberapa parah luka itu. Ternyata tidak seperti yang ia bayangkan, luka di lututnya sangat besar. Bahkan darah masih mengucur setelah beberapa waktu berlalu hingga mengotori kaos kakinya. Bodoh, batinnya. Ran menarik nafas panjang sembari mendongakan kepala untuk meneguhkan hati sebelum mendapat hukuman. Namun sepertinya dewa membantunya hari ini. Kedua pasang amtanya langsung menangkap sosok Aksa, guru sejarah yang juga wali kelasnya. Dan pagi itu untuk pelajaran sejarah jam pertama Aksa mengajar kelasnya. Lantas ia berlari kecil menghampiri pria itu, agar ketiga guru itu tidak menangkap kehadirannya. Aksa yang sedang berjalan santai tersentak ketika Ran tiba – tiba berdiri di depannya dengan mengdedipkan kedua mata memberi sinyal. Ia sebenarnya tidak heran dengan salah satu muridnya itu, karena beberapa kali menangkap basah Ran saat terlambat dan dihukum. “Pak, tolong bantu saya kali ini,” kata Ran dengan wajah memelas. Aksa tersenyum merespon kalimat Ran barusan, tanpa mengucapkan sepatah kata. Tubuh Ran membeku. Jantungnya yang tadi mulai tenang karena berhasil lolos dari desakan di gerbang, kini kembali berdesir dengan cepat. Namun, ada rasa hangat yang menggilitik, berbeda dari degup jantung ketika panik. Mungkin terdengar kurang ajar, namun Ran tidak bisa bohong bahwa senyuman Aksa sungguh menawan. AksaIa memiliki postur tubuh yang tinggi dan atletis. Garis rahangnya yang tajam membuat sosoknya terlihat maskulin. Ditambah dengan alis tebal dan mata elangnya yang mampu menyihir para wanita. Aksa merupakan guru termuda di sekolah itu. Selain paras rupawannya, ia adalah seseorang yang sangat genius. Di umurnya yang masih dua puluh tiga tahun ia berhasil menyelesaikan studi S3 nya. Aksa adalah seseorang yang pandai dalam banyak hal, dan tidak hanya mengusai satu bidang saja. Sains, matematika, filsafat, astronomi, olahraga dan seni semua ia tampung di kepalanya. Dan yang menjadi pertanyaan besar bagi sebagian penghuni sekolah adalah kenapa Aksa lebih memilih untuk mengajar di sekolah biasa. Padahal, ia sering ditawari untuk mengajar di sekolah negeri dan sekolah swasta yang lebih baik daripada sekolah saat ini tempat ia mengajar. Ia juga bisa menjadi dosen di salah satu universitas ternama Indonesia, dengan kemampuannya itu. Banyak orang yang berpikir, dalam tubuh Aksa mengalir darah seorang ningrat atau konglomerat, melihat pembawaannya yang elegan. Tutur kata, dan sikap sangat berbeda dari orang kebanyakan. Pemikiran Aksa selalu lebih maju daripada guru lain. Itu juga yang menyebabkannya banyak diidolakan. Tidak hanya dari kalangan siswi, tetapi siswa. Dan, dari banyaknya wanita yang mengaguminya, belum diketahui kepada siapa Aksa melabuhkan hatinya. “Ran, kenapa bengong? Pengen dihukum guru BK?” Kata Aksa, menyadarkan Ran dari lamunannya. Ran memukul kepalanya dan merutuki diri sendiri karena bertindak konyol barusan. Gila kamu Ran, inget dia gurumu, batinnya. “Nanti saya bisa jelaskan kenapa saya terlambat, tolong saya dulu,” balas Ran sembari mengintip ke arah guru BK yang kini menghampirinya dan Aksa. “Kamu terlambat? Ayo ikut saya,” kata Pak Gatot. “Maaf Pak, Ran tadi saya minta mengambil soal – soal ini di percetakan depan sekolah sehingga menyebabkannya terlambat masuk. Seharusnya Ran sudah ada di sekolah sejak lima belas menit lalu sebelum bel berbunyi,” sahut Aksa sembari menunjukan setumpuk kertas hvs yang berada dalam plastik, masih terlihat baru. “Iya Pak, tadi antri percetakannya lama sekali, jadi saya terlambat deh masuk ke sekolah lagi,” kata Ran menambahi alibi guru itu. Pak Gatot berdehem, “Hmmm yasudah kalo gitu, segera masuk kelas,” katanya. “Pagi ini, jam pertama pelajaran Ran bersama saya Pak,” balas Aksa. “Baiklah, saya permisi dulu Pak Aksa, selamat beraktivitas,” ujar Pak Gatot sembari meninggalkan Ran dan Aksa. Ran menghembuskan nafas lega. Badan yang beberapa saat lalu terasa kaku akibat gugup, menjadi lemas seolah beban berat telah terangkat dari bahunya. Lalu ia menatap Aksa dan berkata, “Terimakasih Pak.” Aksa tidak merespon kalimat Ran barusan. Kedua matanya menangkap luka di lutut Ran yang masih mengeluarkan darah segar. Tatapannya kemudian menjadi dingin. “Ikut saya,” Pak Aksa sembari berjalan membelakangi Ran. ***
Aksa berbelok ke koridor menuju tempat fasilitas sekolah berada. Seperti, perpustakaan, lab komputer, lab sains, green house, dan UKS. Tempat populer yang selalu ramai dikunjungi kebanyakan murid disana. Selain dekat dengan kantin sekolah, area itu banyak ditumbuhi pepohonan rindang dan sebuah taman kecil yang terdapat beragam jenis bunga di wilayah tropis. Saat ini, pendidikan juga sedang menggalakan program adiwiyata sekolah yang menuntut penghematan sumber daya, dan penjagaan lingkungan sekolah. Bahkan sampah yang tidak bisa terurai seperti sampah anorganik akan didaur ulang menjadi kerajinan tangan. Dari belakang, Ran mengekor Aksa yang kini memasuki UKS sekolah. Kondisi UKS sekolah kosong, dan tidak ada guru piket yang biasanya menjaga ketika jam pelajaran berlangsung. Ketika Ran melangkah masuk ke dalam UKS, langsung tercium bau karbol yang menyengat penciumannya. Karbol sendiri adalah pembersih non detergen yang mengandung disenfektan. Cairan ini hampir mirip dengan sabun pembersih lantai, namun karbol memiliki kegunaan lebih banyak terutama mencegah perkembangbiakan kuman. Biasanya cairan ini digunakan untuk membersihkan dapur, kamar mandi atau kandang hewan peliharaan. Karbol sendiri juga digunakan di rumah sakit. Itu sebabnya rumah sakit memiliki bau yang khas. Ran memperhatikan setiap sudut ruangan dan perabotan yang ada di dalam UKS dengan kagum. Ia sendiri memang jarang ke UKS. Pertama kalinya saat masa orientasi siswa pada pengenalan lingkungan sekolah. Setelahnya ia hanya lewat di depan UKS ketika akan menuju kantin sekolah. Sekalipun sekolah Ran bukan termasuk dalam sekolah yang bergengsi, fasilitas yang tersedia cukup lengkap. Penataan ruangannya juga rapi dan indah karena terdapat kerjainan tangan murid yang dipajang di sana. Tiga ranjang UKS diletakkan di sebelah kanan ruangan yang dibatasi oleh gorden penutup pada setiap bed. Meja periksa diletakan tak jauh dari bed UKS. Di sebelah meja periksa ada timbangan dan stature meter atau pengukur tinggi badan. Di depan bed UKS terdapat lemari tempat menyimpan obat - obatan. Obat – obatan itu sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu obat luka luar dan untuk diminum. Tiga tandu ditumpuk rapi, di sebelah lemari tak jauh dari pintu untuk memudahkan saat keadaan darurat terjadi. UKS sendiri juga difasilitasi ac untuk penyejuk ruangan. Aksa meletakkan buku dan tumpukan soal yang ia bawa di meja UKS. “Cari tempat duduk yang nyaman,” ujarnya pada Ran. Ran berjalan menghampiri bed yang paling dekat dengan meja UKS. Ia duduk di ranjang UKS dengan hati – hati, karena lututnya akan sakit jika ditekuk. Kedua matanya mengikuti tubuh Aksa yang sedang memilih obat. Dalam hati ia merasa bersyukur karena tidak diberi hukuman oleh guru itu, melainkan mendapat pertolongan untuk lukanya. Dengan gugup, Ran membuang pandangan ke segala arah seolah tidak terjadi apa – apa, ketika Aksa berjalan kearahnya. Aksa meletakan nampan di sebelah Ran, sembari menarik kursi ke dekat bed yang muridnya itu duduki. Ran hampir berteriak ketika merasakan cairan alkohol yang Pak Aksa tuangkan pada lukanya. “Wanita tidak boleh meninggalkan bekas luka ditubuhnya. Jika ada luka, kamu harus rawat dengan baik jangan sembarangan, agar tidak meninggalkan bekas,” ujar Aksa sembari mengobati luka Ran dengan telaten dan hati – hati. Kalimat yang baru saja Pak Aksa ucapan menghangatkan hati Ran. Mendengar kalimat itu, membuatnya teringat pada Venus. Seorang anak laki – laki yang pernah menjadi sahabatnya kala ia masih tinggal di panti asuhan. Ran tidak punya teman selain Venus, karena dulu ketika ia pertama kali masuk panti asuhan kepribadiannya sangat buruk. Anak temperamental, penyendiri dan murung. Venus merupakan satu – satunya anak yang berani mengajaknya bicara. Venus juga telah mengembalikan senyumnya. Senyuman yang telah lama hilang akibat trauma atas tragedi yang menimpa keluarganya delapan tahun lalu. Venus juga yang mengajarinya tentang rasa syukur. Ia ingat ketika Venus menceritakan kisah hidupnya. Mengingat tentang Venus, tiba – tiba rasa sesak menggerogoti hati Ran dan membuatnya sesak nafas. Air mata mulai turun membasahi pipinya tanpa sempat ia kontrol. Ia sangat merindukan Venus. Ia sudah berpisah dengan Venus sangat lama, karena Venus lebih dulu diadopsi. Lima tahun lalu sebelum ia diadopsi oleh Nenek Mariyati, Venus masih sering mengiriminya surat atau postcard ke panti asuhan untuk memberi kabar. Namun sekarang ia tidak pernah lagi mengetahui kabar Venus, seakan Venus menghilang. Semakin ingatannya mengalir, Ran tak kuasa menahan isak tangisnya, melupakan keberadaannya saat ini dan siapa orang di depannya. Aksa mendongakkan kepala menatap Ran ketika mendengar isak tangis Ran. “Ran ada apa? Apakah begitu sakit?” ujarnya dengan khawatir. Ran menggelengkan kepala, lalu menutup wajahnya. Ia tetap menangis. Pak Aksa kebingungan bagaimana harus merespon keadaan itu. Melihat tangisan Ran, sepertinya itu bukan disebabkan oleh luka di kakinya, tetapi ada masalah lain. “Ran jika memang ada yang mengganggu dirimu, kamu bisa bercerita. Atau perlu saya panggilkan guru BK wanita agar kamu lebih nyaman?” kata Aksa dengan lembut. Ran menggeleng, lalu berkata, “Ji-jika sa-saya sudah menangis, sa-saya susah berhenti. Saya mohon maaf." Aksa bangkit dari duduknya sembari membereskan obat – obatan yang ia bawa untuk dikembalikan di almari, dan membuang kapas bekas darah Ran. Kemudian ia menuju ke almari penyimpanan makanan dan minuman. Lantas ia mengambil botol air mineral dan berjalan kembali ke tempat Ran berada. “Kalau begitu, ini minum dulu,” ujar Aksa sembari menyodorkan botol dengan tutup yang sudah ia buka. “Terimakasih Pak,” jawab Ran sembari menerima botol itu dan meminum airnya, berharap tangisnya berhenti. “Kenapa kamu menangis?” tanya Aksa kemudian. Pertanyaan Aksa membuat Ran malu. Ia menyesal telah menangis barusan, karena jika ditanya alasannya ia tidak bisa menjelaskan itu. Jika bercerita, secara tidak langsung ia akan menceritakan masalah pribadinya. Ia bukan tipe orang yang dengan mudah berbagi masalah pribadi pada orang lain, kepada sahabatnya sekalipun. Bahkan sampai detik ini hanya Nenek Mariyati dan Venus yang tahu setengah dari kisahnya. Ran segera menghapus air matanya dengan tangan dan mengatur nafas agar emosinya stabil. Kemudian ia menggendong tas ranselnya kembali sembari bangkit dari duduknya. “Saya mohon maaf atas kejadian barusan. Namun saya tidak bisa menjelaskan apa –apa. Terimakasih sudah membantu saya hari ini. Saya mohon agar bapak tidak mengingat kejadian barusan. Sekali lagi maaf, saya sudah merepotkan bapak,” jawab Ran. “Baiklah, jika kamu sudah merasa baikan tolong bawa soal – soal yang tadi saya bawa ke kelas kamu. Bagikanlah pada teman kelas, kumpulkanlah sore ini sepulang sekolah. Kamu bertanggung jawab atas tugas itu kumpulkan kepada saya nanti, saya tunggu di ruang guru. Pagi ini saya tidak mengajar karena ada keperluan, jadi tolong kendalikan kondisi kelas.” Tanpa sadar, kedua sudut bibir Ran terangkat membentuk bulan sabit. Ia sangat senang karena jam pertama ini tidak akan ada pelajaran. Setidaknya ia bisa menghabiskan waktu kosong itu untuk mengembalikan suasana hati. ***