Pria berkumis jambang itu terlihat sangat was-was, ia berjalan mondar mandir di depan kursi di ruang tamu. Sesekali ia melirik ke arah jam dinding yang menempel tak jauh di depannya. “Ada apa sih, Pak?” tanya seorang wanita yang berdandan modis itu dan membawa majalah. Lalu ia duduk di salah satu sofa di ruang tamu. “Pak Darwin, nagih lagi.” “Hutang kita pada dia berapa sih sebenarnya, Pak?” tanya wanita itu. Ia mengurungkan niatnya untuk membuka majalah di tangannya. Pria itu menoleh ke arah istrinya. Lalu ia duduk di kursi yang bersebrangan. “Banyak, modal untuk membuka resort di distrik dua itu tidak cukup dengan serratus pound.” “Lalu bagaimana? Bukannya kita sudah menyicil?” “Dia minta pelunasan saja, tapi ….” “Bagus itu, Pak.” “Masalahnya, Pak Darwin ingin kita menjadi besan.” “Apa? Jadi?” “Iya, Elisa harus menikah dengan Jian. Aku sedang menunggu anak itu pulang dari kampus.” Wanita itu menghela napas kasar. Ia tahu anak pertamanya sangat sulit untuk diajak bicara. “Kenapa Elisa?” tanya Rina pada suaminya. Johan mengusap wajahnya dengan kasar. “Anaknya yang memilih.” “Tapi, Pak. Anak kita yang satu itu agak … keras kepala.” “Itu dia masalahnya.” “Apa tidak bisa diganti dengan Mona?” Johan menoleh ke arah istrinya. Rina menatap meminta kepastian. “Tidak bisa, Jian juga merupakan anak yang sama keras kepalanya.” Pintu rumah dibuka seorang, keduanya menoleh serentak ke arah pintu. Dari balik pintu, gadis cantik dengan rambut ikal panjang sepinggang itu muncul. Ia adalah Elisa, bidadari yang mereka miliki. “Tumben Pak, ada di rumah?” Elisa menatap kedua orang tuanya yang menatapnya balik. Merasa canggung, Elisa berjalan menuju tangga. “Elisa tunggu sebentar, bergabunglah ke sini. Bentar aja.” Johan memohon pada anak pertamanya itu. Elisa menoleh, ia pun berjalan menghampiri kembali kedua orang tuanya. Lalu duduk di samping ibunya. “Begini ….” Johan menarik napas panjang. Elisa menatapnya penuh harap sekaligus cemas. Sementara Rina menunduk karena bingung. “Kamu tahu kan, Papa masih punya hutang pada Pak Darwin.” “Ya?” Elisa menatap serius pada Ayahnya. “Er …. Beliau meminta kamu untuk menjadi menantunya ….” “Apa?” Elisa begitu terkejut. “Nggak, aku nggak mau. Bilang aja kalau pernikahan ini adalah modus bayar hutang, kan?” tanya Elisa. Lalu ia berdiri. “Aku nggak bisa, aku punya orang yang aku sukai. Papa, aku nggak mau diatur soal jodoh.” Elisa beranjak pergi dari hadapan kedua orang tuanya. Johan dan Rina menghela napas berat. “Kan, Pak. Gimana, dong?” tanya Rina pada suaminya. “Akan kutanyakan dulu pada Pak Darwin.” Johan meraih kembali ponsel yang sudah ia simpan di saku celana. Lalu mencari kontak nama teman lamanya itu. Setelah menemukannya di panggilan masuk, Johan menelpon balik temannya itu. Sementara itu, di universitas Y. seorang gadis berambut bob berjalan keluar dari kelasnnya. Ia mengenakan pakaian formal karena hari ini merupakan ujian tes masuk. Lalu, seorang gadis sebayanya berlari menghampirinya. “Bagaimana soal ujiannya?” “Sedikit agak sulit.” “Mona, apa kamu akan langsung pulang?” tanya gadis itu pada temannya. “Tentu saja, aku harus cepat pulang karena hari ini aku harus ke toko peminjaman buku. Katanya komik terbaru dari Author Summer Breez sudah rilis.” Gadis itu terlihat semringah. Sesampainya di halte bus, keduanya berpisah karena arah rumah mereka berbeda. Mona Latea, gadis manis pecinta komik romance, menyukai musik calm. Anak kedua dari keluarga Johan dan Rina. Bagaimana nasibnya saat ini yang menjadi harapan terakhir orang tuanya. Apakah ia bisa menolak atau tetap menjadi orang yang susah menolak permintaan orang tuanya? Setelah bus yang akan membawanya pulang, Mona naik ke dalam bus, ia duduk di kursi kedua barisan kanan. Lalu, memasang earphone untuk mendengarkan music dan menatap fokus ponselnya sambil membaca komik online. Hatinya tidak tenang saat ini, menanti pengumuman kelulusannya yang akan keluar seminggu lagi. “Semoga lolos,” gumamnya sambil memejamkan mata. Setengah jam perjalanan, bus yang membawa Mona telah tiba di halte dekat perumahannya. Lalu, ia turun dan segera membayar ongkos menggunakan Card bis. Mona berjalan cepat menyurusi gang besar menuju rumahnya. Dari jalan raya menuju rumahnya, hanya terhalang tiga rumah. Sesampainya di depan rumah, Mona segera membuka pintu pagar yang menjulang tinggi. Mona berjalan cepat menuju pintu utama. Saat ia membuka pintu, Ia mendapati kedua orang tua dan kakaknya duduk di ruang tamu seolah sedang menanti kedatangannya. Mona menatap keheranan ketiga orang yang kini menatap ke arahnya juga. “Aku … pulang ….” Mona kebingungan, suasana begitu hening dan canggung. Mona pun memilih untuk segera menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Johan berdehem saat Mona pergi. “Mona, bisa kemari sebentar?” tanya Johan pada anak bungsunya. Mona yang sudah berjalan menuju tangga itu seketika menoleh. Ia memutar langkah lalu duduk di dekat kakaknya. Ia menatap ibu dan kakaknya keheranan, lalu menatap ke arah ayahnya yang terlihat ragu untuk membuka pembicaraan. “Mona, maafkan Papa dan Momii, ya!” ucap Johan. Lalu, pria itu menghela napas panjang. Ia tahu, anak bungsunya ini tidak akan menolak permintaannya. Bedanya, permintaannya kali ini bukan soal pernikahan. “Kok minta maaf, ada apa sih, Pa, Mii?” Mona menoleh ke arah Ayah dan ibunya bergantian. Elisa berdehem. “Gini Mona, Kakak belum siap menikah, jadi … kamu yang menggantikan kakak.” Elisa berkata ragu. “Hah. Aku … gantiin Kak Elis? Serius?” Mona menatap penuh pertanyaan ke arah ayah dan ibunya bergantian. “Kok Mona, sih. Aku kan masih kecil. Sama siapa pula? Jangan bilang sama om-om. Aku nggak mau!” “Mona, tunggu dulu!” Rina kini angkat bicara. “Kamu gantiin kakak kamu bukan untuk menikah, tapi, jadi asisten rumah tangga tanpa di bayar.” Johan pun berdehem. “Kamu tahu, kan, Papa punya hutang sama Pak Darwin?” tanya Johan sambil menatap Mona yang masih terkejut. Anak itu mengangguk, sepertinya ia mulai faham arah pembicaraan orang tuanya. “Mereka meminta Kakak kamu untuk dijodohkan dengan anak pertamanya. Tapi, kakak kamu menolak. Jadi, Papa meminta syarat lain sebagai jaminannya.” “Bukannya Papa sudah menyicil hutangnya? Tapi kenapa?” Mona masih kebingungan dengan permintaan Ayahnya. Johan memejamkan matanya, ia juga kebingungan untuk merangkai kata supaya anak bungsunya sedikit mengerti. “Gini loh, Mona. Pak Darwin tetap meminta aku untuk menikah dengan anaknya. Tapi aku nggak mau, kamu ngerti, kan? Aku nggak mau dijodohkan. Tapi Pak Darwin memaksa. Terus, Papa mengajukan kamu sebagai jaminan.” “Jaminan?” tanya Mona mengeja kata tersebut. Mona menatap ibu dan kakaknya bergantian. Lalu menatap ke arah Johan. “Pah?” ia meminta penjelasan. “Aku belum siap, Mon. Aku akan menikah, tapi nanti setelah lulus. Dan kamu jadi jaminannya. Kamu kerja di sana tanpa digaji, faham nggak sih?” Elisa menjelaskan dengan geram. “Aku sedang menunggu Zoey pulang dari Luar Negeri.” “Iya, begitulah.” Johan mengusap keningnya karena pusing dengan permintaan Darwin. “Jadi, aku gantiin kakak sebagai asisten rumah tangganya di rumah Pak Darwin?” tanya Mona pada kakaknya. Gadis itu mengangguk sebagai jawaban pada adiknya. “Galak nggak sih, Pah?” tanya Mona pada ayahnya. Johan mendongak, menatap tidak percaya atas pertanyaan anaknya. “Nggak, mereka keluarga baik. Kamu tenang saja.” “Ya sudah. Kapan aku mulai kerja?” tanya Mona dengan serius. Rina, Elisa dan Johan menatap terkejut ke arahh Mona. Benar, Mona tidak pernah menolak permintaan mereka. Lalu ketiga orang itu menghela napas lega bersamaan. Meski Elisa menggerutu tentang kebodohan Mona, tetapi ia merasa sangat beruntung memiliki seorang adik seperti Mona. “Besok, kalau kamu mau. Iya, kan, Pa?” tanya Elisa sambil menoleh ke arah ayahnya. Johan mengangguk dan tersenyum. “Tunggu sebentar, rumah Pak Darwin itu di mana?” tanya Mona. Ia takut jika rumah tempat ia akan bekerja sangat jauh dari rentalan buku langganannya. “Perumahan 32, nggak jauh dari sini?” “Serius, Pah?” Mona bertanya dengan wajah antusias. Ketiga orang sama terkejutnya saat melihat reaksi Mona. “Iya, kenapa Mona?” tanya Rina penasaran. “Nggak ….” Mona berdiri. Lalu, beranjak pergi meninggalkan mereka yang masih penasaran kenapa Mona begitu antusias sekali. Mona meniti tangga sambil bersenandung. Ia sangat senang kerena perumahan itu tak jauh dari tempat ia berlangganan meminjam buku. Elisa pun berdiri, lalu pamit untuk bergegas ke kamarnya. Ia menatap adiknya yang berjalan tak jauh darinya. Sampai Mona memasuki kamar pun, Elisa menatap penuh tanya. “Dia itu kenapa sih? Argh. Punya adik, kok, absurd banget!” Elisa menggerutu lalu memasuki kamarnya juga.
Malam harinya, sebelum acara makan malam. Mona keluar dari rumah. Ia mengenakan jaket hoodie hitam dan celana olahraga saja. Sendal jepit menjadi anadalannya untuk sekedar jalan-jalan malam. Ia berangkat dari rumah menuju tempat peminjaman komik dengan berjalan kaki. [Cindi, aku sudah menemukan pekerjaan. Menurutmu, jadi asisten rumah tangga itu, enak nggak sih?] Pesan singkat terkirim ke nomor talkway bernama Cindi. Remaja yang tadi siang bersamanya untuk ikut ujian masuk Universitas. [Asisten rumah tangga? Kok bisa, bukannya agak gimana gitu kan, menurutku. Banyak orang yang memandang rendah.] Mona bergeming, ia menghentikan langkahnya lalu menatap udara hampa di depannya. Setelah berpikir, ia mengetik pesan balasan untuk temannya itu. [Ada sedikit masalah sih, jadi aku kerja sesuai yang orang tua minta.] Baru saja pesan tersebut terkirim, Cindi mengirim lagi pesan pada Mona. [Yang kutahu, gajinya besar.] Mona membulatkan matanya. Benarkah apa yang dikatakan Cindi? [Sungguh? Berapa nominalnya?] Pesan itu terkirim ke nomor temannya. Mona berjalan sambil bersenandung lagi. saat ponselnya bergetar kembali, Mona berhenti di dekat tiang lampu merah dan membaca pesan tersebut. [Kurang lebih bersihnya 150 pound.] Mona membulatkan matanya melihat nominal yang diberitahukan Cindi. Lalu, sorort kebahagiaannya itu redup saat Mona menyadari sesuatu. “Aish, aku nggak bisa menikmati hasil usahaku. Aku harus membicarakan ini dengan Pak Darwin nanti setelah ayah pergi.” Mona memasuki ruangan peminjaman buku. “Selamat malam Pak Ho.” Mona menyapa pemilik toko tersebut. “Selamat malam, Mona. Kamu menunggu komik Our beloved Summer? Aku mengambil satu buku khusus untukmu.” Mona menoleh ke arah pemilik toko tersebut. Lalu berjalan mendekat. “Sungguh? Wah, Pak Ho benar-benar perhatian.” “Tentu saja,” pria tua itu menyerahkan buku komik yang dicari Mona. “Kembalikan dengan utuh.” “Itu pasti, Pak Ho!” ucap Mona. “Oh, tapi … mulai besok aku bekerja, kalau agak telat mengembalikannya, bagaimana?” “Tentu saja kamu harus membayar denda.” “Hmm. Aku akan membacanya malam ini.” Mona menandatangani kartu pelanggan, lalu bergegas pamit pulang. “Terima kasih, Pak Ho. Selamat Malam!” ucap Mona dengan semringah. Lalu ia keluar dari toko tersebut. Mona menyebrang jalan lagi, lalu berjalan menyusuri trotoar. Angin malam berembus, Mona meringis lalu berlari kecil untuk menaikan suhu tubuhnya. Saat hendak menyeberang jalan gang di komplek 32, Mona menabrak seseorang dan membuat ponsel milik orang itu terjatuh. “Maaf!” ucap Mona sambil membungkuk. “Argh. ponselku jadi pecah, kan. Kalau jalan tuh pake mata!” orang tersebut menggerutu lalu beranjak pergi begitu saja. “Pake mata? Terus gunanya kaki untuk apa? Orang dia yang jalan nggak lihat tanah.” Mona menggerutu sambil berlari kecil. Sesampainya di depan rumah, Mona masuk rumah dan berjalan cepat menuju lantai dua. “Mona. Makan malam dulu!” teriak Rina dari arah dapur. “Nggak, Ma. Aku lagi diet.” Mona berlari meniti tangga. Ia hanya membual saja tentang diet, sebenarnya, ia ingin segera membaca buku komik yang sudah dipinjamnya. Sesampainya di kamar, Mona mengunci pintu kamar lalu berbaring di atas kasur. Ia membuka halaman pertama dari buku komik tersebut. Karena ia ingin menyelesaikan untuk membacanya, Mona akhirnya begadang dan tidur pada pukul dua dini hari. Esok paginya, Johan sudah berangkat ke kantornya. Elisa pun sudah berangkat ke kampus. Rina yang masih berkutat di dapur, menoleh ke arah pintu penghubung dapur dan ruang tengah. Pagi beranjak siang, ia belum melihat anak bungsunya bangun. “Kebiasaan kalau baca buku, jam segini belum bangun juga. Anak ini!” Rina berjalan menuju ruang tengah dengan perasaan gemas. Dipikirannya berputas rencana yang akan ia lakukan pada Mona saat membangunkan anaknya itu. Sesampainya di depan kamar Mona, Rina membuka pintu yang tidak dikunci. Ia mendapati anaknya masih tertidur pulas padahal waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi. “Bagaimana nanti kalau dia kerja?” gumam Rina sambil menggelengkan kepalanya. “Mon, banguun, Mon!” seru ibunya. “Bentar lagi, Mii. Aku masih ngantuk.” “Siang ini kamu bertemu Pak Darwin dan Bu Rima. Bagaimana kamu bisa kerja, kalau bangun saja kesiangan.” “Aku masih ngantuk, Momy!” rengek Mona. “Ini kan bukan di rumah Pak Darwin!” Mona menggerutu sambil mengubah posisi tidurnya. Wanita itu geram, lalu memukul bahu Mona. Membuat anak gadisnya meringis lalu terbangun. “Momy, kenapa mukul? Kan sakit.” “Biar kamu bangun, cepat mandi, terus makan. Kamu itu sudah besar, Mona. Sudah lulus SMA, sekarang bukan waktunya malas-malasan. Kalau Momy dan Papa nggak ada kamu ….” “Iya, iya, Mona bangun nih!” gadis itu menggerutu sambil turun dari ranjang. Ia bergegas menuju lemari untuk mengambil handuk dan pergi memasuki kamar mandi. Riina merapikan tempat tidur Mona, setelah itu ia duduk di pinggir ranjang dan menghela napas berat. Mulai hari ini, ia akan kehilangan anaknya yang sangat ceria. Rina sebenarnya tidak ingin hal ini terjadi, tetapi tidak ada pilihan lain dari permintaan Darwin. “Katanya teman SMA, besanan kok maksa. Elisa juga, dia nunggu siapa sih, anak itu apa susahnya menerima perjodohan?” Rina mengurut pelipisnya dengan lembut. Ia sangat pusing, entahlah. Perasaannya begitu dicampur aduk saat ini. “Eh, Momy sampe nungguin Mona? Padahal aku sudah mandi, loh.” Mona keluar dari kamar mandi. Rambut pendeknya basah karena keramas, ia mngeringkannya dengan handuk kecil lalu berjalan menuju lemari. Rina menatap anak gadisnya yang memakai handuk kimono itu sedang mematit diri di depan cermin. “Ya, takut aja kamu tidur lagi. Momi tunggu di bawah, ya. Lima menit, harus sudah ada di ruang makan, kalau nggak, momi susul sambil bawa sapu.” Mona mendengus kesal. lalu ia membuka lemari pakaian dan memilih pakaian. Rina beranjak keluar dari kamar anaknya, ia berjalan meniti tangga menuju lantai satu. Setelah memakai dress coklat selutut, mengeringkan rambut dengan hair dryer, sedikit memakai krim pada wajahnya. Mona bergegas keluar kamar dengan tergesa-gesa. Sesampainya di lantai satu, ia mendapati ayahnya yang sudah pulang lagi. “Loh, Pa. kok sudah pulang lagi?” tanya Mona sedikit terkejut. “Papa mau jemput kamu. Pak Darwin dan Bu Rima meminta untuk mengantarkanmu sekarang juga.” “Apa? Bentar, Mona sarapan dulu!” Mona berlari menuju ruang makan. Lalu mengambil piring yang sudah berisi sarapan pagi yang diberikan ibunya. Mona menyuap makanannya dengan cepat, sementara Rina sedang bersiap ganti pakaian di kamarnya. Johan menunggu Mona dan istrinya di ruang tamu sambil membaca koran. Tak lama kemudian, Istrinya datang menghampiri. Dari arah ruang makan, Mona berjalan cepat menuju ruang tengah, lalu ia meniti tangga untuk ke kamarnya lebih dulu. Rina mengikuti Mona menuju lantai dua. “Kamu mau bawa baju? Bawa seadanya, ya. Kamu bukan pindah, loh.” “Iya, Mii. Aku mau bawa buku yang aku pinjam semalam, biar sekalian nanti aku kembalikan ke Pak Ho.” “Di sana jangan nakal, ya, kerjakan yang kamu bisa dan mereka suruh.” “Iya, Mamiii ….” “Satu hal lagi, kamu harus menunda kuliahmu.” “Apa?” Mona terkejut sambil menghempaskan baju ke dalam koper. “Aku baru daftar kemarin, Miii!” “Ya, kamu tinggal ambil cuti.” Mona menggeram kesal, tetapi ia melanjutkan beres-beres bajunya. Setelah selesai, ia mengambil buku komik yang dibacanya semalam. Memasukkannya ke dalam tote bag dan berjalan keluar kamar bersama ibunya. “Mama naik mobil aja, aku mau balikin ini dulu ke Pak Ho. Kita ketemu nanti di pintu masuk komplek.” Mona keluar dari rumah lebih dulu dan hanya membawa tote bag saja. Kedua orang tuanya tidak membantah permintaan Mona, karena jarak rumahnya dengan Darwin tidak jauh juga, hanya beda gang dan masih satu perumahan. Mona berjalan menyusuri trotoar. Aktivitas di jalan raya tidak begitu ramai, sehingga tidak banyak kendaraan pribadi yang lewat di jalan yang saat ini Mona berada. Setelah menyebrang jalan, Mona membuka pintu toko peminjaman buku. “Selamat Pagi Pak Ho.” “Oh, Mona. Selamat Pagi.” Mona menghampiri meja tempat Ho bekerja. “Cepat sekali mengembalikannya.” “Aku hari ini mendapat pekerjaan, aku takut lupa mengembalikan.” Ho tertawa. “Soal dendaan itu hanya becanda, Mona.” “Tapi, aku tidak bisa untuk tidak mengembalikannya.” “Ya, kamu memang anak baik. Semoga pekerjaanmu menyenangkan. Apa kamu akan jarang ke sini?” Mona terdiam sejenak. “Mungkin, pasti aku akan ketinggalan series lainnya.” Mona menggerutu. “Oh, aku akan terlambat. Sampai jumpa lagi, Pak Ho!” Mona beranjak keluar dari toko tersebut. Suara lonceng berdering bersamaan dengan ditutupnya pintu toko. Setelah menyebrang jalan, Mona menelpon ibunya. Ia menunggu panggilannya diterima sambil berjalan di trotoar. “Kamu di mana, Nak?” tanya suara ibunya di ujung telepon. “Aku lagi di jalan mau pulang.” “Oh, coba kamu lihat ke arah seberang jalan, ada café L, dan masuklah!” Mona menoleh ke seberang jalan, ia mencari café yang dimaksud ibunya. “Ah, iya, Ma. Aku ke sana.” Mona menutup teleponnya, lalu menyebrang jalan lagi. Sesampainya di depan Café L, Mona mulai memasuki Café tersebut. Ia mencari orang tuanya. ponselnya kembali bergetar, sebuah pesan masuk. Mona mengabaikan pesan tersebut dan berjalan cepat menuju kursi kedua orang tuanya. “Selamat pagi!” Mona menyapa calon majikannya dengan sopan. Lalu duduk di dekat ibunya. “Sesuai yang dibicarakan, ya. Tidak menentu masa kerjanya, sampai Elisa mau menikah dengan Jian, semakin lama anak itu mengulur waktu, aku tatap menahan anak ini.” Mona menoleh ke arah kedua orang tuanya, lalu menatap sepasang suami istri di depannya. Ia diam, dalam hatinya berkata. Oh, ini teman SMA papa? “Mona, ayo ikut kami!” Wanita itu berdiri, begitu juga dengan pria berjanggut putih di sampingnya. Mona menebak kalau dua orang itu bernama Rima dan Darwin. Mona memeluk ibunya sebelum berangkat, ia membawa kopernya dan mengikuti langkah Rima dan Darwin. Keluar dari café, mereka berjalan kaki sebentar, lalu berhenti di depan pagar yang menjulang tinggi. Seorang satpam membukakan pintu pagar tersebut. Mona diam karena takjub. “Ayo, Mona!” ajak Rima. Sementara Darwin beranjak memasuki mobil dan keluar dari area rumah tersebut. “Ah, iya, Madam.” Wanita itu tertawa geli. “Kamu panggil aku ibu saja, biar nggak canggung, Ok!” ucap Rima. Mona menyeringai. Keduanya berjalan menuju pintu utama yang jaraknya sangat jauh dari pintu pagar. “Anu, Bu. Aku … kerjanya bagian apa?” tanya Mona. Karena ia melihat ada beberapa maid yang menyambutnya saat pintu dibuka. “Sebentar, Bi Plum. Ini anak baru, ajarkan dia ya, kasih pekerjaan yang mudah saja.” Rima memberi tahu seorang wanita paruh baya yang ia panggil Plum. “Baik, Madam.” Wanita itu mengangguk. “Mari ikut saya!” ajak Plum pada Mona. Gadis itu pun berjalan mendekati Plum, lalu mengikuti langkahnya. Plum membawa Mona menyusuri Lorong yang sedikit temaram, lalu, mereka tiba di depan sebuah kamar yang saling berhadapan. “Semua kamar maid ada di sini, kamu jangan sampai salah jalan. Dan yang kosong, tinggal di sini, kamu akan satu kamar dengan Reya dan Riza.” “Baik, terima kasih, Kak.” Wanita itu tertawa, “Panggil aku Ibu, kamu seperti anakku.” Mona menyeringai, lalu ia bersorak. “Siap. Lalu, apa yang harus aku lakukan hari ini?” “Simpan bajumu, lalu ikuti aku untuk mengetahui rumah ini.” Plum berkata dengan ramah dan berwibawa.
Mona memasuki kamar nomor empat, ada empat kamar di sini, posisi saling berhadapan, di ujung Lorong merupakan dua pintu kamar mandi. Mona menyimpan koper di depan lemari kayu, lalu ia keluar kamar lagi untuk menemui Plum. Wanita paruh baya yang berwibawa itu mengajakk Mona untuk mengelilingi rumah besar milik Rima, mulai dari ruang makan, dapur, ruang santai dengan perapian di depan sofa memanjang. Tempat keluarga Darwin berkumpul untuk sekadar minum teh atau baca buku. Ruang tamu pun ada dua, dan jarak yang berbeda, lalu ada kolam renang di belakang rumah dan rumah kaca di seberang kolam renang, tempat tanaman hias milik Rima disimpan. Di samping rumah kaca, ada jalan menuju ruangan yang berisi satu kamar dan ruang televisi. Gedung ruangan ini sebenarnya tersambung dengan rumah utama, tetapi pintu masuknya saja yang berbeda. Harus melewati kolam renang lebih dulu, baru tiba di ruangan ini. Di lantai dua, ada perpustakaan, juga beberapa kamar yang sangat luas, Plum memberitahu Mona dengan gamblang. Sesekali Mona mengangguk untuk menanggapi penjelasan dari Plum. Setelah selesai, Mona diberikan waktu untuk istirahat hari ini sebelum ia memulai kerja esok pagi. “Ini seragam maid untuk kamu, Bu Riima sudah memesannya kemarin dan hari ini langsung tiba. Besok pakai. Jangan lupa mandi dulu, kebersihan dan kerapihan itu penting.” “Siap, Bu!” Mona memberi hormat, lalu ia memasuki kamar untuk menata bajunya di lemari kosong yang sudah tersedia di sana. Hari ini setelah makan malam, ia diminta untuk istirahat sebelum benar-benar bekerja besok pagi. Mona menyimpan kopernya ke dekat ranjang, sudut kamar ini. “Aku ngapain, ya? Pengen tiduran lah, besok mulai kerja.” Mona mengambil ponselnya, lalu mengetik pesan untuk Cindi. Belum juga pesan itu ia ketik, sebuah chat masuk dari kakanya. [Mon, kalau kamu ketemu yang Namanya Jian, foto diam-diam, ya. Ganteng nggak, terus sikapnya kayak gimana? Kasih tahu semuanya.] Mona mendengus kesal, kalau bukan karena Kakaknya yang keras kepala itu, ia tidak mungkin harus cuti kuliah selama dua tahun. Sekarang, perempuannya itu meminta dirinya untuk memberitahu semuanya tentang Jian. Siapa Jian? Ia bahkan belum melihat ada anak laki-laki di rumah ini. [Kenapa nggak kakak terima aja sih?] Pesan balasan itu datang dengan cepat. [Aku menunggu seseorang, kalau nanti aku ditolak, baru lah aku terima orang itu.] “Hah? Seriusan? Dia melakukannya karena menunggu seseorang? Menyebalkan sekali. Semoga saja kau ditolak, nggak tahu apa aku harus menunda kuliahku demi keras kepalanya dirimu. Arrrgghh punya kakak kok gini amat sih? Apa aku tuker tambah aja, ya?” Mona berpikir sejenak. Lalu, ia mengalihkan kolom chat. Sedang santainya berbalas pesan, pintu dibuka diiringi suara obrolan dua wanita. Lampu kamar yang dibiarkan gelap, kini dinyalakan oleh salah satu di antara mereka. “Oh, kamu satu kamar dengan kami?” tanya salah satu dari mereka. Mona menoleh, lalu ia menyeringai. “Hi. Kata Bu Plum, hanya di sini ada kasur yang tersisa.” “Iya, sih. Semoga betah ya, aku kalau tidur suka berisik. Terus, Reya nggak suka tidur di atas, jadi kamu yang tidur di atas, ya.” Ucap Riza sambl menunjuk ke arah ranjang kedua. Ranjang susun di kamar ini ada dua, bagian bawahnya sudah terisi, Mona bangkit dari tidurnya. “Um, kamu tidurnya di mana?” “Ranjang ini.” Riza menunjuk ke arah ranjang yang berada di dekatnya. Mona mengangguk, lalu ia berjalan mendekati Riza. Ia mulai menaik anak tangga untuk ke ranjang bagian atas. Ia tidak mau tidur di ranjang kedua dengan Reya, karena ia melihat sikap Reya sangat ketus saat bertemu dengannya. “Mona, besok kamu mulai kerja? Tadi dikasih tahu Bu Plum nggak?” tanya Riza sambil membuka lemari. “Um, aku tadi cuma dikasih tahu bagian rumah ini, pekerjaanku nyapu sama ngepel di ruang seberang kolam renang itu. Terus, pagi-pagi harus menyiram tanaman di halaman belakang. Hanya itu sih.” “Kamu gantiin tugas Reya, rupanya. Pantas saja anak itu sedikit senang.” Riza bersiap keluar dari kamar. Sementara Reya, sudah sejak tadi dia keluar kamar untuk ke kamar mandi. “Memang, di ruang itu kenapa? Ada hantunya, kah?” “Bukan hantu, tapi di sana dekat kamar Pak Jian. Anak pertamanya Bu Rima.” “Apa dia kejam? Seperti Tuan Muda dalam Novel?” Mona menatap penuh harap ke arah Riza. Riza tertawa kecil. “Bukan galak, tapi kalau ada debu dikit aja, kamu akan disuruh ngepel ulang. Tapi, aku dengar, anak kedua Bu Rima akan datang besok. Sudah, ya, aku mau mandi dulu!” Riza membuka pintu dan keluar dari kamar. Mona bergeming. “Aku kena sial, dong?” gumamnya. “Apa yang harus aku katakana pada Kak Elisa?” Mona kembali diam dan berpikir. Lalu ia meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk kakaknya. [Kak, kamu akan menyesal. Kak Jian itu tampan sekali, dia idola di rumah ini. Next aku kasih fotonya.] Mona menyeringai, lalu ia mematikan data selulernya. Hari ini, ia tidak bisa membaca buku komik, jadi ia memasang earphone dan mulai mendengarkan music. Mona bersiap tidur. Ia meletakan ponselnya di dekatnya. Ia juga tidak lupa memasang alarm supaya besok tidak kesiangan. Malam yang damai itu berlalu dengan singkat, Mona terbangun lebih dulu dari pada kedua teman sekamarnya. Ia melihat ponsel dan mematikan alarm sebelum alarm itu berbunyi. Kamar ini gelap karena lampunya dimatikan, Mona turun dari ranjang dengan pelan, ia mengambil handuk di lemari paling bawah, karena hanya itu yang tersisa saat ia datang. Setelah itu, ia berjalan keluar dari kamar. Di luar kamr, tidak hanya dirinya yang sudah bangun, ada Plum dan beberapa Maid yang sudah dewasa sedang bersiap untuk mulai kerja. “Hari pertama kerja, ya. Semangat sekali!” “Ibumu pasti bangga, Nak!” “Silakan Mandi, sebelum dua anak gadis itu bangun!” ucap wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi. Setelah memasuki kamar mandi, Mona langsung membasuh wajah. Sepagi ini ia harus terpaksa memberikan senyuman manis? Mona menghela napas berat, sebenarnya ia masih ingin tidur pulas sampai jam sembilan pagi. Selesai mandi, Mona keluar dan mendapati dua teman sekamarnya sedang menunggu di depan pintu kamar mandi. Mona menoleh ke arah kamar mandi satunya lagi, ternyata sedang terisi juga. Lalu, ia berjalan cepat sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Selesai berganti pakaian dengan seragam maid, Mona keluar kamar. Ia sangat terharu karena Bu Rima memberikannya empat seragam maid, sehingga ia punya banyak cadangan baju ganti. “Mona, kamu masih ingat apa yang kuberitahukan kemarin?” tanya Plum saat mendapati Mona keluar kamar. “Iya, Bu. Hari ini, menyiram tanaman kan?” Plum mengangguk untuk mengiyakan. “Setelah itu, kamu sarapan pagi sebelum membereskan kamar dan ruangan di rumah kaca.” “Siap!” Mona bergegas menuju halaman belakang, ia menyiram tanaman hias yang ada di dekat kolam renang, membersihkan kolam renang, lalu ia bergerak menuju rumah kaca. “Kenapa tanamannya nggak habis-habis sih, di siram satu tumbuh seribu. Kan aku capek!” Mona menggerutu. Ia hanya seorang diri menyiram tanaman sebanyak itu. Di rumah kaca, ada meja oval dengan banyak kursi. Mona menautkan kedua alisnya. “Kayak di komik-komik saja ini rumah. impian banget,” gumamnya. Suara derap langkah terdengar, Mona berdiri tegak lalu memindai sekitarnya. Dari arah belakang, Plum berjalan menghampiri Mona. “Sudah selesai?” tanya Plum. “Ah, iya. Sisa ini, satu lagi.” “Jangan terlalu banyak, tanaman itu membutuhkan sedikit air.” “Ah, iya.” Mona membetulkan teko penyiraman. “Ikut aku!” pinta Plum, ia balik kanan dan berjalan lebih dulu keluar dari rumah kaca. Mona menyimpan teko penyiraman di tempatnya semula, lalu ia berlari kecil menghampiri Plum yang terus berjalan tanpa menunggunya. “Ini mendadak sekali, Mon. Kamu tidak masalah menunda sarapan paginya?” tanya Plum. “Ya?” “Anak kedua Bu Rima sudah pulang, saat ini sedang dijemput di bandara. Kamu harus membereskan kamar di lantai dua bersama Reya. Sementara yang lain akan memindahkan semua barang milik Den Jian. Kita harus bergerak cepat.” “Jadi, Pak Jian pindah kamar?” tanya Mona memastikan. “Iya.” Plum mengangguk. Keduanya sudah meniti tangga menuju lantai dua. Semua maid sibuk saat ini. Mona bersorak, ia tidak akan kena marah Jian karena orang itu akan pindah kamar. Sesampainya di kamar yang luas itu, ada Reya dan juga Karin yang sedang beres-beres. Mona pun langsung membantu mereka. Selesai beres-beres di kamar yang akan ditempati Jian, ketiga Maid itu keluar dari kamar. Lalu, beberapa pria memasuki kemar tersebut untuk meletakan barang-barang milik Jian yang dipindahkan. Mona melihat sekilas bingkai foto yang dibawa salah satu asisten pria itu. Mona menebak kalau pria dalam foto tersebut adalah Jian. Ketika yang lain sarapan pagi, Plum menepuk keningnya pelan. ia menoleh ke arah Mona yang sudah selesai melahap sarapannya. “Apakah diantara kalian sudah membereskan kamar dekat rumah kaca?” tanya Plum sambil menatap satu per satu dari delapan Maid perempuan di depannya. “Kan itu tugas Mona.” Reya berkata sambil menoleh ke arah Mona, lalu ia melanjutkan menyuap makanannya. Plum kembali menoleh ke arah Mona. “Apa kamu sudah selesai sarapan, Mon. bisakah kamu pergi sekarang untuk beres-beres, sebelum Nyonya dan Tuan pulang.” Mona mengangguk, ia mengambil air minumnya. Meneguknya hingga habis. Lalu, ia beranjak pergi. “Jangan lupa disapu dan dipel hingga bersih, pewanginya yang warna ungu bertuliskan bunga geranium!” pinta Plum. Mona mengangguk, ia melajutkan langkahnya. Sesampainya di ruangan tersebut, Mona mendesah pelan. Ruangan tersebut lengang, hanya ada kursi minimalis satu dan televisi di raknya. Mona berjalan menuju pintu yang ada di ruangan tersebut. Satu kamar yang luas dan hanya ada ranjang dan lemari kosong. Mona balik kanan dan bergegas mengambil peralatan kebersihan.