Pembalasan Saudara Kembar (Kematian Tiara) Part 1 Angel menatap tubuh kaku adik kembarnya terbaring di atas ranjang rumah sakit. Belum sempat ia saling berbagi cerita, adiknya sudah pergi pulang ke alam lain. Satu pesan dari adiknya sebelum menghembuskan napas terakhirnya. "A-angel ... Balas mereka yang membuatku menderita," ucap Tiara--adik Angel lirih. Matanya sembab, tubuhnya penuh luka cabik dan memar. Belum sempat Tiara berkata lebih banyak ia sudah pergi selamanya. Pemakaman dilakukan di rumah Angel. Tak seorang pun tahu kamatian adiknya. Tiara datang ke rumah Angel yang letaknya cukup jauh dari rumah suaminya dengan jalan tertatih-tatih. Pahanya mengalir darah segar ketika ia sampai di pagar rumah berlantai dua. Tiara melarikan diri dari kebiadapan orang-orang itu. Dokter melakukan tes visum kepada jasad Tiara."Apa yang terjadi dengan adik saya?" Angel melipat tangan di dadanya. Berharap mendapatkan jawaban dari dokter keluarga tersebut--Dokter Ardian. "Tiara mengalami luka fisik akibat pukulan dan keras di bagian wajah, badannya juga memar, bagian pergelangan tangan seperti diikat berhari-hari dan ...." Dokter Ardian berhenti berucap dan menarik napas. Angel menatap Ardian tajam." Dan apa?" Angel tak sabar mendengar penjelasan dari dokter itu."Katakan!" Ia tahu pasti terjadi sesuatu dengan adiknya yang membuat wajah dokter tersebut sedih. "Bagian alat vitalnya, dimasukkan sesuatu benda yang sangat keras. Bagian tersebut terlihat hancur dan penuh luka." Lelaki itu tak kuat menahan rasa sedih suaranya bergetar. Mengatakannya saja sangat sulit apalagi membayangkannya. Belum pernah menemukan pasien separah ini. Sebagai manusia, ia mengutuk perbuatan keji orang tersebut. Siapa pelakunya? Mereka tak tahu. Karena Angel selama ini tinggal di Inggris. Seminggu yang lalu Angel memberitahukan Tiara melalui aplikasi biru menggunakan messenger kalau ia akan pulang ke tanah air. Namun, beberapa minggu di Indonesia Angel tak mendapatkan kabar dari adiknya. Tak ada yang tahu kalau Tiara memiliki saudara kembar kecuali ibu panti asuhan dan pengurus panti yang telah wafat. Panti tersebut sudah tak berjalan. Angel telah mantap untuk membongkar kematian Tiara. Ia tak mau menghubungi polisi, yang ia inginkan adalah mencari pembunuh adiknya dengan tangannya sendiri. ~~~ Sebulan kemudian, Angel berdiri di depan pagar rumah suami Tiara. Ia adalah Antoni, Angel melihat foto lelaki itu di aplikasi biru milik adiknya. Hujan turun dengan lebat, Angel tak mempedulikan tubuhnya yang sudah basah kuyub. Seorang penjaga keamanan rumah melihat Angel terkejut." Non Tiara! Ke mana saja kami mencari Anda," ucap lelaki itu. Ia terlihat khawatir. Angel bergeming melihat lelaki berumur empat puluhan menyapanya. Angel tersenyum, ia masuk ke dalam ditemani oleh penjaga tersebut yang tak tahu siapa namanya. Angel memilih diam. Pakaiannya ia buat sederhana karena Tiara adalah wanita sederhana dengan makeup tipis berbeda dengannya yang selalu menggunakan barang mewah. Seorang lelaki berwajah campuran Jerman-Indonesia membuka pintu. Ia adalah suami Tiara, Antoni. Matanya terbelalak,"Tiara ...." Memeluk tubuh Angel yang berganti nama menjadi Tiara. Terdengar suara isakan dan kerinduan terdalam. Lelaki itu membawa istrinya masuk. Angel diam tanpa kata mengikuti langkah Antoni. "Tiara! Ya Tuhan Tiara! Kamu masih hidup," teriak wanita berambut pirang. Memeluk tubuhnya dan menatap manik Tiara dalam. Ia tak tahu siapa wanita yang berada di depannya. Wanita itu menghampiri Antoni dan memeluk pinggangnya. "Mama! Mama!" teriak wanita itu. Ia memakai dress yang sangat tipis. "Ros, kamu hampiri mama di kamar," usul Antoni. Tiara mengerti ternyata wanita itu bernama Ros. Wanita separuh baya menghampirinya dan matanya terkejut. Dengan langkah cepat, ia melayangkan tangan ke udara dan berakhir di pipi Tiara. Tiara menundukkan kepala dan kembali mendongkakkan kepala. Menatap tajam wanita tua itu. **** Bersambung
Pembalasan Saudara Kembar (Kematian Tiara) Part 2 Wanita tua berbadan gemuk menghampiri Angel dan matanya terlihat memerah. Dengan langkah cepat, ia melayangkan tangan dan mendarat di pipi Tiara. Tiara menundukkan kepala dan kembali mendongkakkan kepala. Tamparan tersebut tidak membuat Angel sakit. "Tiara! Mengapa kamu pergi tanpa izin? Kami semua panik," teriak wanita tua itu. Angel berpikir, mungkin wanita ini adalah Ibu Mertua Tiara. Terlihat kasar perlakuannya, namun ketika wanita itu memeluk tubuh rampingnya Angel menemukan kehangatan. Tapi, bukan berarti orang baik tidak bisa membunuh, pikir Angel saat itu. "Tiara, kamu ke mana saja. Mengapa tak bisa Mama hubungi nomer kamu? Jawab, Nak. Mengapa kamu diam saja?" cerca mama mertua. "Ma-maaf Ma, aku pergi tanpa izin." Angel berusaha berbicara menyerupai suara adiknya. Jantungnya berdegup kencang. Wajahnya terlihat pucat, ia berusaha bersikap baik seperti Tiara yang pendiam dan sopan. "Tiara, maafkan Mama. Mama tahu kamu kecewa. Antoni begitu mencintaimu, tapi ...." ucapnya terpotong. "Sudahlah, Ma, itu masa lalu biarkan saja," sambung Antoni. Angel terlihat kecewa, ia tak tahu apa yang akan dikatakan mama mertua. Wanita itu merangkul Angel ke dalam kamar. Antoni dan Ros mengikuti dari belakang. Angel menatap sekeliling rumah. Banyak sekali pintu yang berada di sana. Rumah yang cukup luas, hampir. melebihi rumah Angel. Ia menghitung pintu berwarna putih yang berjejer.'Apakah ini kamar atau ruangan rahasia,' pikirnya saat ini. "Istirahat saja dulu, nanti Mama panggil kamu untuk makan malam." Mereka meninggalkan Angel di kamar. Angel membuka lemari pakaian adiknya, mungkin ia menemukan petunjuk di sana. Menelusuri setiap kamar dan cela-cela yang tak bisa dijangkau orang lain. Ia menemukan sebuah kotak berisi surat dan foto-foto. Membaca satu persatu surat tersebut. Ternyata, Tiara dan Antoni sudah kenal lama. Tertulis tanggal dan tahun di foto tersebut. Angel meletakkan kembali kotak tersebut ke tempat semula, suara ketukan mengagetkan Angel. Bergegas menarik pintu pelan. Antoni berdiri di depan pintu dan tersenyum. Ia hendak masuk, namun Tiara melarangnya. "Maaf aku ingin istirahat. Mohon tinggalkan aku sendiri," pinta Angel sopan. Wajahnya menunduk tak mau menatap laki-laki itu yang telah menikah dengan adiknya. "Aku ingin menemanimu, mungkin kamu butuh aku," ucap Antoni. Ia masih berdiri di depan pintu. Angel hanya membuka setengah pintu. "Sayang, kamu ngapain di situ," ucap wanita berambut coklat. Tubuhnya tinggi dan ramping seperti model papan atas. Cara penampilannya begitu mewah. "Sayang, kamu sudah pulang." Antoni memeluk tubuh wanita itu dan mengecup pipinya mesra. Angel melirik sekilas saat wanita itu memanggilnya. Terdengar suaranya yang mengejek."Berani pulang kamu! Sungguh munafik!" "Sudahlah Yohana, jangan ganggu dia!" bela Antoni. "Kamu, belain dia. Kamu lupa apa yang kamu katakan kala itu," sindir Yohana. Ia menunjuk jarinya ke arah Angel. "Yohana, please! Jangan bahas lagi! Tiara sudah balik ke rumah ini. Dia istri sah ku, kamu harus ingat itu." Angel mendengar ucapan Antoni. Apa maksud dari perkataannya. Istri Sah dan memanggil wanita berambut coklat itu dengan sebutan sayang. "Maaf aku mau istirahat, kepalaku pusing." Tiara menutup pintu tanpa mempedulikan pertengkaran mereka. Ia mengambil gawai di dalam tas kecil. Menghubungi seseorang. "Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan informasi?" tanya Angel dengan suara pelan. Sebelum ia masuk mencari kamera tersembunyi. Tak ada apa-apa di kamar tersebut. Angel memerintahkan anak buahnya mencari informasi tentang keluarga suami Tiara. Angel membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang sudah tersedia dalam kamar. Raganya terasa segar, air hujan yang membasahi tubuhnya tak terasa dingin di kulit karena hatinya terlalu panas. Suara ketukan terdengar di pintu kamarnya. Angel mempersilahkan orang tersebut masuk."Maaf Nona, Anda dipanggil Nyonya." Pelayan berambut hitam di kuncir kuda menatap Angel curiga. Angel tersenyum kepadanya. "Baiklah, terima kasih sudah memanggilku." ucap Angel dengan memakai pakaian Tiara yang sedikit longar. "Ada apa lagi? Aku akan turun." Pelayan itu keluar dengan raut wajah heran. Terlihat jelas sekali di matanya. "Non Tiara seperti bukan dirinya. Biasanya kala bertemu denganku. Ia akan menanyakan suaminya atau bercerita tentang kegiatannya. Apa mungkin non Tiara sakit?" lirihnya pelan. Ia berjalan menuju lantai bawah. Di lantai satu terdapat enam pintu kamar. Angel berjalan seanggun mungkin, menuruni tangga perlahan. Matanya tak lepas menatap penghuni rumah yang sedang menunggunya di meja makan. Delapan orang telah berada di meja makan. Mereka tersenyum menyambut kehadiran Angel menyerupai Tiara. "Akhirnya, kamu pulang juga. Papa takut terjadi apa-apa denganmu," ucap lelaki tua berbaju biru dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Angel menduga lelaki itu adalah papa mertuanya. "Apa kabar menantu kesayangan Papa?" Ia memeluk tubuh Angel. Mengelus kepalanya dan mempersilahkan duduk. "Menatap wajah satu persatu dan mengingat nama mereka.'Papa dan mama mertua, Antoni, Ros, Yohana lalu siapa tiga lelaki yang duduk di seberangnya. Apa mereka saudara Antoni,' ucapnya dalam hati. Netra Angel bertatapan dengan seorang pemuda, ia menatap dengan sinis. Angel menundukkan kepala lalu mendongkak melihat mata itu masih memperhatikan gerak-geriknya. Pemuda bad boy, tato di lengan kanannya dan penampilan yang sedkit urakan. Di sebelah kanan pemuda tersebut, lelaki berparas manis mungkin umurnya sekitar enam belas tahun. Sebelah kiri pemuda urakan tersebut, duduk seorang lelaki yang berumur tak jauh dari Antoni, wajahnya sedikit mirip Antoni. Perbedaannya hanya penampilannya, lelaki itu terlihat kalem dan tak banyak berbicara. Ia juga berkacamata sama seperti papa mertua. Tatapannya dingin. "Kak Tiara, selamat datang kembali. Aldo kangen sama Kakak. Tak ada yang mau membantuku mengerjakan PR," ucap pemuda tujuh belas tahun. Angel hanya melengkungkan bibirnya. Terlihat binar dimata bocah tersebut.'Akan aku dekati dia, mungkin aku bisa mengetahui beberapa informasi darinya.' lirihnya dalam hati. "Tiara, makan yang banyak." Mama mertua memberikan sepotong ayam goreng di piringnya. Setelah, makan malam selesai. Mereka masuk ke kamar masing-masing. Angel berdiri dan lengannya ditarik kasar oleh Yohana."Kamu mau ke mana?" Bagaikan majikan yang membentak pembantu. Yohana memerintahkan Angel untuk merapikan piring dan mencucinya. "Maaf, bukan'kah di sini banyak pelayan. Mengapa harus aku?" Angel berkata pelan namun menusuk ke hati. "Rapikan! Cuci semua piring atau kamu akan saya ...." "Tidak aku bukan pelayan. Permisi." Angel bangkit dan menyenggol bahu Yohana, ia tak mempedulikan ocehan Yohana. Sudah terlihat dari sikap Yohana kalau wanita itu membencinya. Saat ini Yohana masuk dalam katagori pembunuh Tiara. Perlakuannya sangat kasar. Angel tak mau melakukan pekerjaan itu karena ia adalah seorang putri. Angel menelusuri lorong menuju ke kamarnya yang berada di pojok lantai satu. Selama menaiki tangga, Angel melihat tiga kamera di dalam rumah tersebut. Tak ada kamera di lantai satu lorong kamar para penghuni rumah ini. Saat Angel melangkahkan kaki di depan pintu kamar ketiga, sebuah tangan kekar membekap mulutnya dan membawa masuk ke dalam kamar pintu tersebut. Angel melawan tubuh kekar tersebut, namun ia tak sanggup. Tubuh rampingnya di lempar ke atas kasur tanpa ranjang. Matanya menatap tajam Angel. Ia segera mengunci tubuh Angel. "Siapa kamu? Jawab!" **** Terima kasih salam kenal buat kalian pembacaku. Peluk online Bellez
Pembalasan Saudara Kembar (Kematian Tiara) Part 3 Saat Angel melangkahkan kaki di depan pintu kamar ketiga, sebuah tangan kekar membekap mulutnya dan menyeret tubuh ramping masuk ke dalam kamar pintu tersebut. Angel melawan tubuh kekar tersebut, namun ia tak sanggup. Tubuh ramping yang selalu dirawat dan dijaga pola makannya di lempar ke atas kasur. Matanya menatap tajam Angel. Ia mengunci tubuh Angel dengan tangannya. "Siapa kamu? Jawab!" hardik lelaki itu. Angel melihat sorot mata yang penuh kemarahan."Lepas, kamu mau apa?" "Aku tahu kamu bukan Tiara, siapa kamu? Mengapa wajahmu mirip sekali Tiara?" Ia berbicara tepat di wajah Angel. Otot lengannya terlihat menonjol dan tato bergambar naga di lengan kanannya. "Aku Tiara." Angel menutup matanya ketika lelaki itu menghirup tubuhnya. "Bukan, kamu bukan Tiara. Aroma tubuhmu berbeda. Tiara memiliki tubuh beraroma vanila sedangkan kamu bunga lily." Angel menatap wajah lelaki itu, ia meronta untuk segera dilepaskan namun pemuda itu tak mau. "Katakan siapa kamu? Aku akan melepaskanmu." Pemuda itu melonggarkan cekalannya di kedua lengan Angel. Angel menangis meneteskan air mata,"Sakit ... Lepaskan tanganku!" Angel terisak ia berpura-pura terluka. Pemuda itu bangkit dari atas tubuh Angel. "Aku Tiara, memakai parfum bunga lily. Percayalah aku Tiara." Angel mengusap air mata palsunya. "Aku tak mengenalimu." Pemuda itu berdiri agak jauh dari Angel. "Bagaimana bisa, engkau mengenaliku. Tubuh seseorang bisa berganti parfum." "Aku Tiara, percayalah!" "Aku tak mungkin salah, aroma tubuh dan kulitmu terlihat berbeda." Pemuda itu mendelik. Sejak pertama berpapasan di meja makan, ia mengendus bagaikan anjing pelacak."Jangan berdusta! Aku mengenal Tiara , sejak kecil kami selalu bermain bersama. Tiara lebih dekat denganku." Angel menelan air liurnya, ia merasa tertangkap basah. Ia bingung menyebut nama pemuda urakan itu. Matanya menelusuri kamar pemuda itu. Berbagai poster penyanyi rock dan sebuah bingkai foto.'Tiara dan pemuda itu.' Menarik napas panjang dan menghembuskan. "Black, aku Tiara temanmu. Maaf kalau membuatmu tak mengenalku. Aku mengalami kecelakaan dan trauma. Benturan keras membuatku melupakan beberapa hal," ucap Angel. Ia melihat nama di bawah bingkai foto dengan nama Black dan Tiara. Angel bersikap sedatar mungkin. Black menatap Angel, pancaran matanya berubah sedih."Jadi, selama ini kamu mengalami kecelakaa. Kenapa kau tak memberitahu kami?" Black mendekat menyentuh pundak Angel. "Black, maaf aku tak sadarkan diri hampir sebulan tak ada kartu identitas yang ditemukan. Entah apa yang terjadi kepadaku. Maaf aku telah berubah. Bantu aku mengenali orang-orang yang aku lupa. Kejadian-kejadian masa lalu." Angel menutup wajahnya. Ia terisak, air mata membasahi pipinya. Badannya bergetar hebat. "Maafkan aku, telah meninggalkanmu di rumah terkutuk ini. Aku pergi ke Paris untuk menenangkan diri. Aku sudah menasihatimu, jangan kamu menikah dengan Antoni. Ia gila dan haus wanita, tapi cintamu begitu besar kepadanya. Kau yang keras kepala akhirnya menikah dengannya. Maafkan aku Tiara, tak bisa menemanimu selama ini," Black merengkuh tubuh Angel dan membalas pelukannya tersebut. "Kembalilah ke kamar, sebelum Antoni mencarimu. Ia akan sangat marah, jika melihatmu tak di kamar." Black melihat keadaan di luar kamar dan memberi kode untuk segera keluar dari kamarnya. "Black, bantu aku mengingat semuanya," lirihnya. Black menganggukkan kepala pelan. 'Ternyata kamu menderita, maafkan aku Tiara telah meninggalkanmu di rumah terkutuk ini.' Black berdiri di belakang pintu. Wajahnya terlihat sedih. Dula sebelum pergi ke Paris, Ia berjanji akan mengeluarkan Tiara dari neraka ini, tapi Tiara tak mau pergi dari rumah ini. Cintanya pada Antoni sangat besar dan tak bisa dilupakan. Antoni adalah cinta pertama Tiara. Hingga kejadian itu terjadi, Black langsung memesan tiket pesawat ke Indonesia. Mendapat berita kalau Tiara pergi tanpa kabar. Orang yang paling mengkhawatirkannya adalah Black. Angel bernapas lega, ia sudah menyiapkan drama jika seseorang tahu kalau ia bukan Tiara. Bekerja sama dengan Dokter Ardian. Suara pintu diketuk, Angel mengenali suara tersebut."Gawat Antoni!" Ia menarik napas dalam. Menetralkan keadaannya, tubuh dan mentalnya harus kuat. "Tiara, kamu sudah tidur? Aku mau menemanimu." Mata Angel terbelalak. Apa yang harus ia lakukan jika Antoni meminta sesuatu darinya. 'Astaga, jangan sampai ia meminta itu.' Antoni memasuki kamar Tiara, ia merangkul bahu Angel dengan mesra. Mengajak duduk di pinggir ranjang. "Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu? Selama kamu pergi aku tak bisa tidur." Antoni menatapnya penuh cinta. 'Apakah benar Antoni haus wanita? Ia terlihat baik dan binar matanya memancarkan kasih sayang yang tulus,' ucap Angel menatap netra lelaki di depannya. Angel menceritakan selama ia pergi. Ia memberi tahu Antoni tentang prihal kepergiannya selama beberapa bulan. "Kamu pergi hampir dua bulan, Tiara. Aku tersiksa dan merasa bersalah. Aku mohon, jangan pergi lagi! Apapun yang terjadi tetaplah di sampingku. Aku akan membantumu mengingat setengah memori yang hilang." "Sudah malam sebaiknya kita istirahat, besok aku ajak kamu jalan-jalan ke pantai. Kamu suka pantai, kan." Antoni naik ke atas ranjang, ia menepuk kasur di sampingnya agar Angel berbaring. Angel menatap kasur tersebut, walaupun ia tinggal di Inggris. Tak pernah tidur bersama lelaki manapun. Dirinya masih gadis dan suci. Tubuhnya berubah dingin, semakin dekat dan berbaring di atas ranjang berukuran king. Antoni melebarkan lengannya, Angel mengerti maksud dari Antoni.'Tiara maafkan aku,' lirihnya dalam hati. **** Bersambung.