Pesona Paman Mesum
Bab 1 Paman tampan tapi mesum

"Mengapa kau begitu marah, baby? Bukankah aku hanya ingin bermain denganmu?” ucap seorang pria sambil memegang kedua tangan seorang gadis manis. “Uncle! Lepaskan! Aku tidak suka dengan pria mesum seperti Uncle!” Teriak seorang gadis sambil berusaha melepaskan dirinya. “Gwen! Bukankah ayahmu sendiri yang berkata, kau adalah calon istriku.” Ucap si pria yang bernama Crowley. “Sejak kapan aku menyentujui hal itu! Uncle hanya membual! Tolong! Tolong!” Gadis yang bernama Gwen terus berontak bahkan berteriak. “Gadis nakal,” ucap Crowley lalu membungkam mulut Gwen dengan kecupannya. Gwen berusaha untuk melepaskan diri, Gwen menggigit lidah milik Crowley hingga mengeluarkan darah. “Gadis ini sungguh keterlaluan!” Crowley menaikan kedua tangan Gwen ke atas kepalanya dan menempelkan Gwen ke sisi tembok. Crowley terus membungkam mulut Gwen dan bahkan mengangkat tubuh mungil Gwen ke atas pangkuannya. Tubuh Gwen gemetar setelah menerima ciuman juga sentuhan dari Crowley. Crowley melepaskan kecupannya sejenak sambil memegang wajah Gwen dengan kedua tangannya. “Mengapa kau begitu nakal, Gwen?’ ucap Crowley. Plak! Gwen memukul wajah tampan Crowley. “Dasar Uncle mesum!” Bentak Gwen, lalu mendorong tubuh Crowley. Gwen bergegas pergi dari hadapan Crow. Crow tersenyum sembil menyentuh bagian lidahnya yang masih terasa perih akibat gigitan Gwen. Pukulan tangan Gwen pun tidak membuatnya merasa jera untuk terus berbuat jahil pada si gadis mungil Gwen. ~ ~ ~ “Dasar Uncle mesum! Aku benci Uncle Crow!” Gumam Gwen sambil berlari menuju area istana kediaman keluarga Jarvis. Crowley Jarvis/ Crow, adalah seorang pangeran kedua di keluarga Jarvis. Ia adalah seorang pria yang sangat tampan, berbakat dan juga memiliki banyak bisnis di luar kota. Crow suka pergi ke luar kota untuk melihat semua bisnis yang telah ia jalani. Crow diharuskan untuk segera menikah, agar takhta dapat turun ke dirinya. Namun hingga diusia (34) tahun, Crow hanya sibuk dengan pekerjaannya. Crow tidak suka tinggal di area istana dan juga benci dengan pemerintahan kerajaan keluarganya. Crow memilih jalan hidupnya sendiri, karena baginya kehidupan kerajaan sangat menekan dan mengatur semua kehidupannya. Crow jarang berada di lingkungan kerajaan, dan baru beberapa hari terakhir Crow berada di istana. Seorang gadis manis yang merupakan kerabat dari keluarga ayahnya datang berkunjung. Gweneth Berenice, seorang gadis berusia (18) tahun masih seorang mahasiswi di universitas ternama tepatnya di Negara Inggris. Gwen merupakan anak tunggal dari keluarga Berenice yang juga merupakan dari kaum terpandang. Gwen berkuliah disalah satu fakultas seni, Gwen menyukai seni dan terkhusus di bagian menari juga melukis. Seorang gadis polos yang masih belum mengerti banyak hal didalam kehidupan. Gwen dikirimkan ayahnya ke istana kediaman keluarga Jarvis untuk berlibur. Sejak awal bertemu dengan Crow, Crow sangat suka menjahilinya. Gwen di gadis manis tidak seanggun penampilannya. Gwen sangat suka ilmu bela diri taekwondo. Karena Crow sangat jahil, Gwen sempat menendang wajah tampan Crow hingga Crow merasa cukup kesakitan. Karena hal itu Crow mengejarnya dan mereka berlari mengelilingi area sekeliling istana. Melihat wajah cantik dan imut Gwen. Crow menjadi sedikit tertarik, dank arena keisengannya ia sengaja menggoda Gwen. Karena tindakannya itu, Crow tertantang untuk mencium bibir Gwen.tentu saja Gwen sangat marah padanya siang hari ini. ~ ~ ~ Gwen duduk di pinggir kolam renang luas di area samping halaman istana. Bermain dengan ikan-ikan hias di sana. “Nona muda, sudah saatnya makan siang. Tuan besar mmenunggu di ruang makan.” Ucap salah seorang pelayan istana. “Aku tidak lapar.” Jawab Gwen acuh. “Nona muda, jika nona tidak makan, maka tuan besar akan sangat marah.” Ucap sang pelayan membujuk. “Tuan besar itu siapa, bibi!” Tukas Gwen sedikit angkuh sambil melihat kedua tangannya di atas dada. “Maksudku, pangeran Crow, nona.” Ucap si pelayan. “Uncle Crow?” ucap Gwen dengan menautkan kedua alisnya. “Aku tidak akan pergi makan jika ada Uncle Crow!” Gwen pun berlari-lari mengejar seekor anak anjing lucu. “Nona muda! Oh Tuhanku, nona muda..” gumam sang pelayan. Sedang asyik berlari-lari, Gwen menubruk dada seorang pria hingga membuatnya terjatuh keras. “Gwen! Perhatikan jalanmu! Kau sudah bukan anak kecil lagi!” ucap seorang pria sambil meraih tangan Gwen. “Uncle Jacob…” ucap Gwen saat melihat seorang pria tampan membantunya untuk berdiri. Jacob Jarvis adalah anak pertama di keluarga Jarvis, dan masih belum menikah di usianya yang sudah (35) tahun. Usianya dengan pangeran keduanya hanya selisih satu tahun saja. “Baik, Uncel Jacob.” Jawab Gwen ramah. Jacob seoang pangeran yang sangat lembut, dan tidak jahil seperti Crow. “Kau suka dengan anak anjing, Gwen?” “Ya, Uncle Crow. Mereka sangat lucu.” Ucap Gwen gemas. “Jika kau ingin, kau dapat tinggal lebih lama di sini.” Ucap Jacob. “Sungguh! Yeaaa…” Gwen terlihat sangat girang. Sementara itu Crow melipat kedua tangannya di atas dada, meliaht dari jendela atas istana kediaman keluarga Jarvis. “Gadis kecil yang sangat nakal…” gumam Crow dengan tersenyum penuh arti. Crow terlihat sangat menikmati hari-harinya di istana ketika Gwen hadir di lingkungan keluarganya. ****

Bab 2 Stupid Uncle

Gwen duduk di area halaman istana kediaman keluarga Jarfis. "Istana Kediaman Keluarga Jarfis" "Daddy, I am so tired of being in this palace. I really want to go home, dad.." Ucap Gwen yang sedang duduk di halaman istana. Ia sedang berbicara dan mengadu pada ayahnya melalui telepon genggam. Mr. Ben Berenice: "Sweety, daddy dan mommy sangat sibuk saat ini. bukankah jika kau berada di mansion hanya akan mendapatkan situasi yang sama?" Gwen: "Tapi daddy.." Gwen terlihat bosan berada di lokasi istana kediaman keluarga Jarfis. Mr. Ben Berenice: "Sweety, akhir bulan ini daddy akan datang ke istana." Gwen: "Apakah daddy akan menjemputku?" Mr. Ben Berenice: "Ah, daddy has to go back to work. Jaga dirimu baik-baik, daddy akan mengirimkan uang tambahan untukmu.I love you, sweety." Gwen: "Baiklah dadd, I love you too.." Huh! "Membosankan!" Keluh Gwen lalu menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang sedang menggelantung di dalam kolam hiasan halaman. Dor! Crow menyentuh kedua bahu Gwen dan sengaja mengejutkan Gwen yang sedang duduk merenung seorang diri. Argh! "Uncel!" Pekik Gwen, dan hampir terjatuh ke dalam kolam hiasan halaman disana. "Gadis kecil, jangan biasakan melamun seperti ini," Crow dengan sengaja mencubit kedua pipi milik Gwen. "Uncle Crow!" Gwen memukul Crow dengan hati yang sangat kesal. Crow menahan kedua tangan milik Gwen, dan membuat Gwen terjatuh di area rerumputan menggunakan kakinya. "Uncle, kau sangat mesum!" Pekik Gwen, menatap Crow kesal. "Kau sangat manis, terlebih lagi ketika kau sedang marah seperti ini. Apa kau sengaja membuatku tergoda?" ucap Crow dengan tersenyum mesum. "Uncle! Aku akan melaporkan perbuatan Uncle pada grandpa!" Pekik Gwen kesal. "Oh, silakan saja gadis kecil." Ucap Crow dengan terkekeh. Crow sangat suka menjahili gadis kecilnya. "Uncle!" Pekik Gwen lagi. Crow menatap ke area bibir Gwen dan mendekati bibir milik Gwen. "Crowley, apakah kau tidak memiliki kegiatan lain lagi?" ucap Jacob sembari menarik bagian lehher baju yang Crow sedang kenakan. "Uncle Jo," ucap Gwen, lalu merangkul tangan Jacob. "Gadis manis, katakan padaku jika dia berani mengganggumu." Ucap Jacob sembari mengusap rambut Gwen. "Jacob," ucap Crow yang terlihat tidak senang, karena Jacob menyentuh Gwen di depannya. "Nona muda, paket bahan lukisan Nona sudah tiba!" Seru salah seorang pelayan istana. "Ah, baiklah. Uncle Jo aku akan melihat paket milikku." Ucap Gwen ramah lalu melangkah pergi. Tersisa Jacob dan Crow yang di sana. Keduanya saling menatap satu sama lain. "Jacob, apa kau lupa dengan ucapan daddy?" ucap Crow dengan menatap tajam ke arah Jacob. "Aku tidak lupa. Hanya saja, jika kau terus melakukan hal-hal rendahan seperti itu, Gwen tidak akan menyukaimu." "Jacob! Apa kau ingin menjadi bajingan, huh!" Bentak Crow. "Are you jealous?" Jacob terlihat tetap tenang, sekalipun Crow mencengkeram bagian lehernya. "Pertanyaan macam apa yang kau katakan?" Jacob menepis cengkeraman tangan dari Crow. "Aku sibuk, lebih baik kau urus urusanmu saja." Ketus Jacob lalu melangkah pergi. "Shit!" gumam Crow. Crow sangat kesal, lalu memandang ke area balkon istana. Gwen berdiri di sana sembari memegang peralatan lukis miliknya dan menjulurkan lidahnya pada Crow. "Stupid Uncle!" Seru Gwen dari atas balkon, lalu melangkah pergi. "Gadis kecil yang nakal, tunggu saja." Gumam Crow dengan wajah tersenyum. *** Seperti yang Mr. Ben Berenice katakan pada Gwen, dia akan datang berkunjung ke istana kediaman keluarga Jarfis. Aula Utama Istana Atrhur "Daddy! Mommy!" Seru Gwen, lalu memeluk kedua ayah dan ibumu. "Sweety, apa kau bersenang-senang?" Tanya Mr. Ben lalu mengecup kening Gwen. Mr. Louis Jarfis, Mrs. Ordella Jarfis, Jacob dan Crow semua berada di aula Utama. "Ah, aku baik-baik saja, dad." Balas Gwen. --"Huh, gadis kecilku ternyata bisa menjaga persoalan kami."-- Crow merasa lega. Terlepas dari semua tindakan jahil bahkan sedikit mesum darinya, Gwen tidak mengatakan apapun pada kedua orang tuanya. "Terima kasih atas kunjunganmu, Tuan Ben dan Nyonya Edelline." Ucap Mr. Louis Jarfis, ayah dari Jacob dan Crow. "Silakan duduk di ruang makan, Tuan Ben dan Nyonya Edelline." Ucap Jacob ramah. Mereka berkumpul di sana dan duduk secara berhadapan. ~ ~ ~ "Gwen," ucap Mr. Ben. "Yes, daddy." Jawab Gwen sembari menyantap makanan miliknya. Mr. Ben saling bertatapan dengan keluarga Jarfis. Sepertinya ada hal yang sedang mereka sembunyikan. "Nona Gwen, istana ini sangat sepi. Jacob sibuk dengan urusan pemerintahan, Crow sibuk dengan bisnisnya. Grandpa ingin, kau menetap di istana ini." ucap Mr. Louis hati-hati. Gwen menghentikan kunyahannya, dan menatap ke arah Crow. Seakan-akan, Crow adalah penyebab Mr. Louis mengatakan hal itu. "Benar Gwen, daddy dan mommy sangat setuju." Timpal Mr. Ben. "Aku harus memikirkan hal ini, aku tidak bisa memutuskannya begitu saja." Balas Gwen,, dan terlihat tidak bahagia akan pemberitahuan malam ini. "Gwen, di mansion kediaman kita pun kau selalu sendiri. Setidaknya, di istana ini kau tidak akan kesepian." Timpal Mr. Edelline. "Why, mom? Dad?" ucap Gwen bingung. Gwen harus tetap menjaga sikapnya saat sedang bersama orang lain. Ia tidak ingin membuat keluarganya merasa dipermalukan karena sikapnya. "Gwen, Uncle akan lebih banyak mengajakmu pergi bersama, sehingga kau tidak merasa bosan. Bagaimana?" ucap Jacob. "Uncle Jo," Gwen terlihat kembali bersemangat, saat Jacob mengatakan hal itu padanya. "Benar Gwen, aku juga akan lebih sering kembali ke istana." Timpal Crow. Namun Gwen tidak menghiraukannya. "Nona Gwen, grandpa sudah sangat mengenal ayah dan ibumu. Jadi, kau tidak perlu lagi merasa sungkan." Ucap Mrs. Ordella dengan senyuman ramahnya. "Apa yang harus aku katakan, daddy dan mommy sangat berharap aku tetap berada di istana ini. keluarga Jarfis sangat baik padaku, kecuali stupid Uncle, Crow.." Gwen cukup bimbang dengan situasinya saat ini. "Gwen, daddy dan mommy selalu meninggalkanmu. Sementara di tempat ini, kau masih bisa bersama dengan kedua handsome Uncle." Ucap Mrs. Edelline membujuk Gwen. "Baiklah, aku akan tetap berada di istana ini." ucap Gwen dengan wajah yang kurang antusias. "Ah, grandpa sangat berterima kasih." Ucap Mr. Louis. "Kau berhutang padaku, jangan lupakan itu." Bisik Jacob pada Crow. "Apapun yang terjadi, dia akan tetap berada di istana ini. Mulai malam ini, aku tidak akan membiarkanmu mendekatinya." Balas Crow. ------------ Pertemuan antara kedua keluarga Jarfis dan Berenice berakhir baik. Walaupun, Gwen harus menerima keputusan kedua orang tuanya dengan hati yang sedikit terpaksa. "Mengapa daddy tiba-tiba mengambil keputusan seperti ini?" "Yah, maafkan daddy. Daddy hanya memikirkan masa depanmu." "Masa depan? Aku sudah bahagia berada di mansion. Lalu apa lagi, dad?" Gwen terlihat kesal pada keputusan ayahnya. "Gwen, kau harus tetap berada di istana ini. Daddy dan mommy akan lebih sering berkunjung. Oke." Mr. Ben mengusap lembut kepala Gwen, lalu memeluk Gwen. "Sweety, daddy dan mommy ingin terbaik untukmu. Mobil dan fasilitas lainnya, akan segera dikirimkan besok." Ucap Mrs. Edelline. Dari atas balkon istana, Crow memandangi keluarga Berenice dari atas. --------- "Kau mulai cemas?" Tanya Jacob, sembari menyeruput teh miliknya. "Tidak ada hubungannya denganmu." Ketus Crow lalu melangkah pergi dari hadapan Jacob. Huh huh hh! Crow melangkah ke kamar miliknya dengan napas terengah. Ahk! Hhh huh! Crow mendekap dirinya sendiri, lalu tersungkur di dalam kamar miliknya. Ahk! Awwwuuu uuu.... Crow melolong seperti seekor binatang liar. Dari tubuhnya muncul bulu-bulu yang kian lebat, dan semua tulang-tulangnya terasa sangat nyeri akibat sensasi yang ia rasakan. "What happen?" ucap Gwen terkejut. Tepat di samping kamar miliknya, terdengar suara lolongan binatang, seperti suara seekor anjing. ****

Bab 3 I'm Jeaslous

Gwen semakin penasaran saat mendengar usara lolongan binatang, tapi terdengar tidak seperti anjing. "Apakah istana ini memelihara binatang buas?" gumam Gwen, lalu berjalan mengendap-endap. Suara itu terdengar kian dekat dan Gwen semakin tidak sabar. "Nona kecil," ucap seseorang dari belakang menepuk bahunya. Ahk! "Uncle Jo!" Pekik Gwen terkejut sembari mengelus dada karena cukup terkejut. "Gadis manis harus tetap berada di kamar. Oke." Jacob menyentuh kedua bahu Gwen lalu menuntun kembali ke kamar miliknya. --------- Mereka kembali ke kamar milik Gwen, Jacob bahkan masih disisinya hingga di tempat tidur milik Gwen. "Besok kau sudah mulai kembali kuliah, bukan?" Tanya Jacob lembut lalu mengusap lembut puncak kepala Gwen. "Yah Uncle, besok aku harus kembali berkuliah." "Baiklah, besok aku akan mengantarmu ke kampus." "Bukankah Uncle sibuk dengan urusan pemerintahan?" "Tidak, aku akan mengantarmu terlebih dahulu aku harus berbicara dengan pihak kampus." "Baik, Uncle." "Istirahatlah, gadis manis." Jacob menarik selimut tebal milik Gwen, lalu melangkah keluar. Saat keluar dari kamar milik Gwen, Crow sudah berdiri di samping pintu kamar milik Gwen. "Apa yang kau lakukan dikamar Gwen?" Tanya Crow dengan wajah yang tidak senang. "Aku hanya memastikan Gwen baik-baik saja. Sebaiknya kau lebih berhati-hati dengan jati dirimu. Jika tidak, usaha kedua orang tua kita akan sia-sia." Peringat Jacob. "Aku akan melakukan semua sesuai dengan keinginanku. Kau tidak perlu terlalu banyak ikut campur!" Tegas Crow, lalu melangka pergi. ~ ~ ~ Keesokan harinya... Gwen duduk dan menikmati sarapan di meja makan istana. "Nona muda, ini bekal yang nona minta." Ucap salah seorang pelayan dapur. "Terima kasih, bibi." "Gwen, kau membawa bekal ke kampus?" Tanya Jacob yang baru saja tiba lalu duduk berhadapan dengan Gwen. "Yah, Uncle. Aku lebih percaya dengan masakan pelayan istana. Karena aku akan sibuk dengan club hingga sore." "Baiklah, jika kau merasa jenuh dengan suasana istana, kau dapat berkeliling." Ucap Jacob. "Kemana stupid Uncle itu? Mengapa sudah jam seperti ini belum turun sarapan?" Gwen sedikit mencari keberadaan Uncle Crownya. "Good morning! Aku harus bergegas, karena ada kunjungan dari klien." Ucap Crow, lalu tiba-tiba saja mengecup pipi Gwen dan melangkah pergi. "Uncle Crow!" Pekik Gwen kesal. Sementara Jacob tetap menikmati sarapannya dengan tenang dan seolah tidak terjadi hal apapun. "Uncle.." ucap Gwen sembari menatap ke arah Jacob. "Maafkan atas perbuatan Crowley, lupakan saja dia." Ucap Jacob tenang. "Dasar stupid Uncle!" Gwen bergumam sendiri. Setelah menyelesaikan sarapan, Gwen pun pergi bersama Jacob menuju kampus miliknya. Gwen berada di kampus ternama dan hanya untuk kalangan orang berstatus sosial tinggi saja. *** Universitas Utama Kota Inggris. "Uncle, aku bisa pergi sendiri, mengapa Uncle harus mengantarku?" "Aku harus memastikan nona muda baru keluarga Jarfis aman sampai tujuan." Ucap Jacob dengan wajah tersenyum. Mereka duduk di kursi bagian belakang, dan pergi bersama supir dan dua pengawal khusus. "Uncle, terima kasih atas segalanya." Ucap Gwen. Mereka pun tiba, tepat di depan kampus Gwen. Semua mata tertuju pada mobil berwarna putih yang mewah. Gwen bersama tiga pria tinggi tegap melangkah dari dalam mobil. Jacob dan dua pengawal khususnya. "Bukankah itu pangeran pertama dari keluarga Jarfis? Apakah gadis itu kekasihnya?" bisik orang-orang disana saat melihat. "Gadis itu pun bukan gadis sembarangan, dia adalah putri tunggal dari keluarga terpandang, keluarga Berenice." Bisik orang-orang disana yang semakin terkejut dengan status sosial mereka. "Uncle, aku akan pergi ke kelasku." "Gwen!" Jacob meraih tangan Gwen. "Ya, Uncle?" "Supir akan menjemputmu sore ini, setelah kau menyelesaikan club." "Ah, okay Uncle. See u.." Gwen pun bergegas menuju kelasnya. Gwen berpenampilan kasual biasa, namun semua barang yang ia kenakan adalah dari brand terkenal. Tak satupun yang melekat di tubuhnya tidak memiliki brand besar. ~ ~ ~ Saat berada di kelas pun, Gwen sangat pandai dan selalu mendapatkan Indeks Prestasi yang cukup tinggi. "Gweneth Berenice, silakan ke ruangku." Ucap sang dosen. "Okay, Mister." Jawab Gwen sembari merapikan meja miliknya. "Gwen, apakah pagi ini kau diantar oleh kekasihmu?" Tanya salah satu teman kelasnya. "Tidak, hari ini aku diantar oleh Uncleku." "Uncle!" Beberapa gadis melangkah mendekati Gwen. "Ah, yah. Apakah ada hal lain lagi? Aku harus segera bergegas." Gwen bergegas pergi menuju ruang dosen. "Gadis yang sangat beruntung." Ucap beberapa teman kelasnya. "Bukankah kita juga beruntung, sudah berada di kampus ternama. Berbeda dengan Gwen, dia berada di tempat ini tidak hanya karena status sosial, tetapi karena kecerdasannya." Timpal salah seorang teman kelas Gwen. "Ah, kau benar. Gwen adalah mahasiswi paling unggul di angkatan kita." Mereka cukup mengagumi sosok Gwen yang selalu menjadi terbaik, baik secara akademis maupun pergaulan. Selain itu, Gwen juga memiliki paras menarik dan sikap yang sopan santun. . . Ketika berada di ruangan sang dosen. "Gwen, aku sudah melihat riwayat akademismu, semua terlihat sangat sempurna. Apa aku dituntut sempurna?" "Tidak Mister, ayah dan ibuku sangat mendukung segala yang kulakukan. Mereka selalu memberi kebebasan untukku memilih." Balas Gwen yang sedang berdiri di hadapan sang dosen muda nan tampan itu. "Baiklah, aku senang mendengarnya. Kau boleh pergi." "Thank you, Mister." Gwen pun melangkah pergi dari hadapan sang dosen muda tampan itu. ----------- Ruang Club Lukis Gwen trlihat fokus dengan kegiatan club seni lukisnya. Gwen sangat pandai melukis gambar manusia dan juga binatang. Karena hal itu, Gwen dipercayakan sebagai ketua club diangkatannya. "Gweneth!" Seru seseorang dari arah pintu masuk. "Ah, ya senior?" balas Gwen, lalu menghentikan aktivitas lukisnya. "Maaf, aku baru memberitahumu. Sore ini kita harus pergi ke sisi kota, untuk menghadiri festival." "Festival? It's okay. Aku akan memberitahukan orang istana." Ucap Gwen lalu meraih ponselnya dan mencoba untuk mengatakan pada Jacob. "Istana?" semua anggota club saling menatap, dan hanya menatap kagum ke arah Gwen. Gwen: "Uncle, aku akan pulang terlambat. Karena aku akan pergi bersama anggota club ke sisi kota." Jacob: "Baiklah gadis kecil. Jaga dirimu baik-baik. Uncle akan kembali bekerja." Bye. Gwen menutup panggilan lalu membereskan barang-barangnya. "Senior, aku akan menyusul." Ucap Gwen, sembari mengurus berkas club. *** Sisi Kota A Mereka pun pergi ke sisi kota A untuk menghadiri acara festival rutin. "Senior, aku sering kali kemari sejak kami masih sekolah." Ucap Gwen senang. Saat mereka berada di tengah kerumunan orang yang datang. Gwen berjalan bersama sang seniornya, dan sebuah mobil terus membunyikan klason sedari tadi. Mobil tersebut berhenti tepat di samping Gwen, dan turunlah seorang pria dengan kaca mata hitam dan kemeja putih dengan dasi yang sudah direnggangkan. "Apakah acaramu sudah selesai? Pulanglah jika sudah selesai!" Ucap si pria yang ialah Crow. "Aku akan pulang bersama senior. Bukankah begitu senior?" balas Gwen, sembari menarik lengan baju sang senior tampan. "Gweneth, aku sudah mengatkan pada Jacob, bahwa akulah yang menjemputmu." Tegas Crow. Gwen tidak dapat berucap kasar, karena ia sedang bersama rekan-rekannya. "Senior, aku akan pulang bersama Uncle Crow. See you tomorrow!" ucap Gwen. Melangkah masuk menuju mobil mewah milik Crow, dan mereka berada di kursi bagian belakang. *** "Stupid Uncle! I hate you more!" Pekik Gwen, saat Crow langsung menyambar bibir miliknya dan mengecup mesra bibir Gwen. "Mengapa kau selalu dikelilingi pria, baby?" ucap Crow sembari menciumi leher jenjang milik Gwen. "Uncle! Are you crazy! Supir sedang berada di depan kita!" Pekik Gwen. "Yes, I'm crazy because of you, baby." "Stupid!" Gwen menanduk kepala Crow karena kesal. Ahk! "Sakit, baby," ucap Crow. Gwen bukan gadis lemah yang akan menyerah, namun Crow sungguh jahil padanya. ****

Lanjut baca