The Adventure Of Seven Stars
Bab 1 LIBURAN SEKOLAH

Part 1 Liburan sekolah Suara riang anak-anak, yang baru keluar dari ruang kelas masing-masing, di sebuah gedung sekolah, Discovery Bay International school. Terdengar riuh. Mereka nampak gembira karena hari ini terakhir sekolah. Liburan panjang telah tiba. Semua anak bersuka cita menyambutnya, dan tentunya sudah memiliki rencana untuk liburan bersama keluarga. Menikmati hari-hari terakhir di tahun 2021 ini. Karena masih pandemi, sehingga membuat liburan tak seperti dulu- dulu, bisa bebas jalan-jalan ke luar Negeri. Seperti liburan kali ini. Belum ada yang punya rencana hendak liburan ke mana-mana. "Hey, Bayu! apa rencanamu liburan tahun ini?" tanya Matthew pada salah satu sahabatnya. Sebelum menjawab Bayu berpikir sejenak. "Entahlah belum ada rencana, kamu sendiri bagaimana?" jawabnya, balik bertanya. "Aku sama keluargaku, mau menikmati hari natal dan malam tahun baru di Hongkong saja, kami kan belum lama di sini," sahut Matthew. "Aku, rasa, keluargaku, juga nggak ada niat kemana-mana liburan kali ini." Baru saja Bayu selesai berkata. Kedua temanya berlari ke arah mereka. "Bayu, Matthew! tunggu kami dong!" teriak Aydin yang berjalan cepat bersama Delio dan Andy. "Kalian langsung pulang aja, nggak nunggu kami?" gerutu Delio. "Ya ampun, orang deket aja mesti ditungguin," sahut Matthew. "Tandanya setia kawan dong," balas Andy. "Iya, katanya best friend's," imbuh Aydin. "Iya, deh maaf," ucap Bayu. Mereka berlima pun, saling toss satu sama lain. Sebagai tanda persahabatan. Saat kelima anak laki-laki itu sedang asik ngobrol sambil berjalan pulang, mereka membuat rencana untuk menikmati hari libur pertama, dengan bermain bersama. Tak berapa lama kemudian, dua orang teman mereka yang lain, menyusul. "Guys! kami ikut kalian dong!" pinta Narumi yang tahu-tahu sudah berada di belakang mereka, bersama Anjeli. "Boleh," jawab Bayu. "Boleh banget lah. Kalau kalian ikut kan tambah ramai," Matthew menambahkan. "Memangnya, pada mau ke mana?" tanya Anjeli. Semua terdiam, karena memang belum tahu mau ke mana. "Bagaimana kalau besok kita main di pantai saja," usul Aydin. "Aku setuju," sambut Andy. "Aku juga," timpal Delio. "Okay, aku ikut," tambah Bayu. "Kalian gimana girls! ikut nggak? aku sih yes," tanya Matthew pada Narumi dan Anjeli. Kedua gadis itu pun menjawab kompak." Yes, ikut. "By the way, besok kita mau ke pantai mana nih?" tanya Narumi. Mereka semua berpikir, karena di wilayah Discovery Bay, tempat tinggal mereka, ada dua pantai, satu di North Db, yang posisinya di depan perbukitan, banyak pepohonan seperti hutan, dan lokasi tak jauh dari sekolahan mereka. Sementara pantai satunya berada di South Db, pantai ini lebih luas, tempatnya terbuka, dikelilingi perumahan, juga dekat dermaga penyeberangan kapal ferry, ada tempat bermain untuk anak-anak kecil, dan pantai ini selalu ramai dikunjungi, karena pasirnya bersih berwarna broken white. Tempat bermain yang menyenangkan bagi anak kecil. Kedua pantai tersebut memiliki warna pasir yang sama, putih cenderung krem, namun kalau untuk anak-anak, terutama balita, pantai South Db, yang lebih cocok untuk bermain. "Gimana kalau di dekat sini aja," usul Andy. Mereka saling minta pendapat satu sama lain, akhirnya sepakat menyetujui usulan Andy, North Db, pilihannya, karena tidak banyak anak-anak yang masih kecil bermain di pantai itu. Mereka pun berjalan bersama, untuk pulang ke rumah masing-masing, yang kebetulan berdekatan di perumahan, apartment yang sama, yaitu Siena One. Satu persatu anak-anak itu sampai ke rumah masing-masing, terakhir Bayu dan Narumi yang tinggal di block yang sama. Narumi tinggal di lantai lima, sementa Bayu di lantai tiga, keluarga mereka pun sudah saling mengenal satu sama lain. *** Keesokan harinya, pukul 10 pagi ketujuh anak itu pamit pada orang tuanya masing-masing. Karena sudah saling kenal semua, mereka pun mengijinkan, apa lagi orang tua Aydin dan Anjeli memiliki rumah makan di area North Db Plaza. Bertujuh mereka berjalan kaki, yang hanya butuh waktu sekitar tujuh menit, sambil bercanda penuh riang gembira, sesekali Delio yang suka bercanda membanyol, yang sontak membuat semua tertawa. Ketika melewati gedung pernikahan, yang berlokasi di sebelah hotel Auberge, Matthew berseloroh. "Eh siapa yah di antara kita yang kelak nikah di tempat ini?" "Halah masih kecil udah ngomongin nikah aja, you, Matt," ucap Aydin. Matthew tertawa mendengar ucapan Aydin. "Emang nih Matthew, jangan-jangan you dah punya girlfriend yah? ayo ngaku!" desak Delio. "Belumlah, tapi aku lagi suka someone ha ha ha, boleh kan?" jawab Matthew "Siapa cewek yang kamu taksir, Matt? jangan bilang kalau itu, aku, okay!" sela Anjeli. "Ha ha ha, Anjeli-Anjeli, bilang aja, kalau kamu pengin aku menyukaimu," ledeknya. "Ih jangan sok gantenglah, siapa juga yang mau sama cowok usil kaya kamu," kilah Anjeli. "Udah-udah belum saatnya ngomongin cinta-cintaan, inget! kita ini masih SD," potong Bayu menengahi. "Kata my Daddy, wajar kok cowok suka cewek, bahkan beliau pertama jatuh cinta umur tujuh tahun. Nah, aku kan udah mau sepuluh tahun," tukas Matthew. Bagi orang barat memang sangat terbuka antara orang tua dan anak, bahkan banyak dari mereka memanggil orang tuanya hanya nama tanpa embel-embel. Tentu saja itu bertentangan dengan budaya orang timur, terutama Indonesia yang menjujung tinggi nilai tata krama. "Tapi ada yang lebih penting, kita harus sekolah dulu, meraih cita-cita. Agar kelak saat dewasa, kita punya pekerjaan bagus. Baru deh mikirin tuh punya pasangan," tutur Bayu. "Iya-iya, aku juga tau. Hanya sekadar suka nggak apalah," tandas Matthew. "Sudah, guys, ngomong sama Matthew capek, bisa saja jawabnya. dia," ucap Anjeli. Sontak Matthew tertawa, mendengar ucapan Anjeli yang sewot. Aydin hanya geleng kepala, begitu pun dengan Delio. "Akil baligh aja belum, dah suka- sukaan aja," gumam Aydin hampir tak terdengar, hanya Bayu yang paham, ia pun tersenyum, sambil geleng-geleng. *** Bayu berjalan paling depan, ketika sampai di depan kedai orang tua Aydin. Terlihat ayahnya Aydin. "Assalamu'alaikum, Uncle," sapa Bayu, pada ayahnya Aydin, yang sedang menata kursi di depan kedainya. "Walaikum salam, Bayu," jawabnya." "How are you, Uncle?" "Alhamdulillah, baik." "Good morning, uncle!" seru anak-anak yang lain. "Morning, kid's, apa kalian sudah sarapan?" Mereka pun menjawab dengan kompak. "Sudah, Uncle, thank you.” "Aydin, Bayu, kalian berdua, jangan lupa waktu sholat yah?" pesan ayah Aydin. "Okay, Uncle," jawab Bayu, sementara Aydin hanya tersenyum kepada sang ayah dan mengangguk. "Hey, Aydin, ingat itu yah!" seru sang ayah. "Iya, Abu, tenang saja. Anakmu yang ganteng ini, akan selalu ingat." "Bye, Uncle, see you!" seru anak-anak kompak. "Okay, Hati-hati, kalian!" "Okay." Kompak anak-anak itu. *** Mereka pun menuju ke pantai yang jaraknya kurang lebih sekitar 100 meter dari kedai ayahnya Aydin. Juga ayah Anjeli. Sesampainya di sana, Aydin di bantu Bayu, menggelar tikar plastik untuk menaruh barang bawaan mereka. Matahari yang bersinar cerah, menerpa wajah mereka, dan mampu menghangatkan tubuh, di suhu 15 derajat celsius. Mereka memilih tempat agak jauh, agar tak banyak orang berlalu lalang melewati. Andy, Bayu, Delio dan Aydin bersiap memasang net untuk bermain bola voli. Walau di Pantai itu, tak ada yang bermain voli. Tidak seperti Pantai satunya. Yang selalu ramai. "Guys! siapa nih yang bersedia jadi wasit?" tanya Bayu. "Me," sahut Narumi. "Okay, thanks ya Narumi!" seru Bayu. Permainan pun dimulai, Aydin berpasangan dengan Delio, sementara Bayu bersama Andy. Narumi begitu semangat menjadi wasit, sementara Matthew sedang menjahili Anjeli, menakuti dengan melempar mainan menyerupai binatang kelabang, laba-laba dan kecoa. Anjeli yang kaget sekaligus takut tentu saja menjerit, Matthew pun tertawa senang. Anjeli yang kesal, tak tinggal diam ia mengejar Matthew dengan sekuat tenaga, untuk membalasnya. Akhirnya mereka malah bermain kejar-kejaran, layaknya kucing dan tikus. Anak-anak lain hanya geleng-geleng kepala, melihat kelakuan kedua sahabatnya. "Lihat tuh! Anjeli dan Matthew kayak lagi main film India," celetuk Narumi. Mereka pun tertawa secara bersamaan. "Iya pas banget, mungkin kelak mereka berjodoh," seloroh Delio. "Berjodoh gimana, orang berantem melulu gitu," tutur Andy. "Nah, justru karena sering berantem itu, aslinya sayang." Narumi menerangkan sambil tersenyum. Keempat anak lelaki itu pun, manggut-manggut dan kompak mengacungkan jempol. Permainan voli berlanjut, tak lagi memedulikan Anjeli dan Matthew, yang sudah seperti aktor dan aktris Bollywood. Dalam film-film Hindustan. "Awas kau Matt! kalau kena kucubit sampai merah kulitmu!" teriak Anjeli kesal. Matthew hanya tertawa melihat Anjeli yang sedang berhenti karena kelelahan, tanpa sadar kakinya tersandung batu, ia pun duduk melihat jempol kakinya yang berdarah. Anjeli yang melihat Matthew terdiam, bergegas mendekati. "Kenapa Matt?" tanyanya. "Kesandung batu." "Tuh akibatnya suka jail, rasain! lagian nggak hati-hati." "Seneng yah teman kena musibah. Bukan di malah nyukurin," gerutu Matthew. "Ya udah ayo kesana kasih plaster," ajak Anjeli akhirnya tak tega. Mereka pun berjalan bersama kembali ke tempat di mana tikar digelar. Anjeli mengambil botol air minumnya untuk menyiram luka kaki Matthew setelah itu mengelapnya menggunakan tisu, dan mengambil plaster dari dalam tasnya, kemudian menempelkan pada jempol Matthew layaknya perawat. "Thanks yah, Anjeli, kamu masih baik ke aku, padahal aku kan suka jail ke kamu," ucap Matthew. "We're, best friend udah seharusnya saling tolong menolong. Walau kamu jail, sering bikin aku sebel, but I know kamu baik." Anjeli tersenyum. "Kamu tuh kalau senyum gitu cantik, tapi kalau lagi jengkel jelek banget. Tapi aku suka ha ha ha," "Matt!" teriak Anjeli sambil mencubit kaki Matthew. Anak lelaki itu pun berteriak pura-pura kesakitan. Teriakan Matthew yang minta Ampun membuat, teman-temannya menoleh. "Hey! kalian kenapa sih teriak-teriak? itu kakimu kenapa Matt?" tegur Narumi. "Itu balasan karena ngerjain aku, jadinya kesandung batu," seru Anjeli. "Ooh, pantesan udah selesai main Tom and Jerry," ledek Narumi. Matthew dan Anjeli pun akhirnya tersenyum juga. Begitulah anak-anak, yang begitu mudah untuk berbaikan. Beda dengan orang dewasa, yang cenderung gengsi. Mereka berdua bergabung, menyaksikan permainan voli. Matthew mengambil alih wasit. Narumi menjadi pendukung tim Aydin-Delio, sementara si manis berhidung mancung, Anjeli mendukung tim Bayu-Andy. Mereka semua menikmati, kebersamaan yang membuat senang. Walau bermain ala kadarnya. Tak perlu jauh-jauh gratis pula, karena dekat dari tempat tinggal. Pengunjung pantai mulai berdatangan walau tidak banyak. Matahari semakin meninggi, tak terasa mereka bermain sudah lebih dari dua jam. Perut pun mulai lapar. Waktunya minta diisi. "Guys, istirahat dulu yuk!" ajak Bayu. "Aku sama Aydin sholat dulu yah," pamitnya. Kemudian mereka berdua pun pergi, ke kedai ayahnya Aydin. "Kalian mau makan apa?" tanya Delio. Setelah duduk diatas tikar. "Kita makannya disini aja, belinya gantian biar ada yang jaga," ucap Narumi. "Ya sudah aku duluan deh. Ayo siapa mau bareng?" ajak Anjeli. "Ayo!" Matthew langsung berdiri dan menggandeng tangan Anjeli, mereka pun meninggalkan Andy, Delio dan Narumi, yang senyum-senyum melihat tingkah kedua teman mereka, yang kadang akur kadang bertengkar. Selang beberapa lama kemudian. Aydin, Bayu, Matthew dan Anjeli kembali, giliran Narumi, Delio dan Andy pergi untuk membeli makanan. Setelah berkumpul mereka pun makan bersama, tentunya mereka membeli makanan yang berbeda, sesuai selera masing-masing. "Aydin, Bayu, kenapa sih kalian nggak makan daging babi? padahal enak loh," tanya Andy. "Agama, kami yang, melarangnya," jawab Aydin. "Sudah jangan tanya lagi, ayo makan," sambungnya. Mereka pun nampak sedang berdoa, menurut kepercayaan masing-masing, Delio dan Matthew mengawalinya dengan membentuk tanda salib. Aydin dan Bayu berdoa selayaknya Muslim, Andy dan Narumi berdoa sesuai ajaran Budha, dan Anjeli berdoa sebagai penganut Hindu. Selesai berdoa mereka mulai makan. "Anjeli, kata, Narumi, kamu nggak makan daging sapi kenapa?" tanya Matthew. "Umat Hindu di Negaraku, nggak lazim makan daging sapi, karena sapi adalah hewan yang dianggap suci," jawab Anjeli. "Sudah gak usah membahas soal itu, sebaiknya makan saja. Nanti habis ini, kita main lagi," tutur Narumi. "Iya, apa pun agama kita, yang penting, tetap saling menghormati. Kata orang dewasa, semua agama itu baik. Mengajarkan kebaikan." Delio menuturkan. Mereka pun mengangguk dan mengacungkan jempol. Lalu kembali menikmati makan siangnya dengan lahap. Hingga tandas. *** Selesai makan mereka istirahat sambil ngobrol. Setelah cukup, mereka pun kembali bermain, bermacam permainan. Dari sepak bola, balapan lari, balapan merangkak, bernyanyi dan belajar menari. Meski mereka berbeda. Tetapi anak-anak itu tak pernah merasa berbeda. Bahkan saking akrabnya, orang tua mereka pun jadi bersahabat layaknya keluarga. Bayu yang sedang bermain pasir tiba-tiba menemukan bintang laut. Ia mengambil dan melihatnya. Lalu bergegas memanggil teman-temannya. "Guys, sini!" teriak Bayu. Mereka semua melihat ke arah Bayu. "Ada apa, Bro?" tanya Delio. "Lihat! Aku nemu ini." "Cuma bintang laut, kirain apa," ucap Matthew. "Lihat sini baik-baik, ini bintangnya segi tujuh. Pas banget dengan kita yang bertujuh, sepertinya ada sesuatu dengan bintang ini," ungkap Bayu. Mereka pun penasaran dan mendekat, benar saja mereka merasa takjub. Masing-masing anak memegang ujung segi bintang itu, tapi ... tiba-tiba keanehan terjadi, tubuh mereka melayang ke atas. "Hey, kok kita bisa melayang begini," ucap Delio keheranan. Belum sempat ada yang bicara, gerakan mereka berputar dari lambat makin lama semakin cepat putarannya. Ketujuh anak itu serentak berteriak. "Aaaaaaaaauuuuugh" Wussssssssssssssss! Dalam sekejap mereka telah lenyap. *** Kemana mereka menghilang? Ikuti kisah selanjutnya dalam cerita. The Adventure Of Seven Stars. 💖Gareci💖

Bab 2 Negeri Seribu Bunga

PART 2 NEGERI SERIBU BUNGA Hari mulai sore dan udara semakin dingin. Ayah Aydin merasa heran, karena anaknya belum Shalat Ashar, beranjak hendak ke pantai untuk menyusul. Baru saja keluar dari kedai, bertemu dengan orang tua Narumi, yang juga mau memanggil anaknya, karena ponselnya tak dapat di hubungi. Akhirnya mereka bersama-sama ke pantai dengan orang tua Anjeli juga, namun mereka tak menemukan anak-anak itu, hanya tikar dan tas mereka yang ada. "Maaf, Bu, mau tanya. Apa melihat lima anak laki-laki dan dua perempuan?" tanya ayah Aydin, pada pengunjung pantai. "Iya, tadi kami melihat mereka di ujung sana, setelah itu tidak terlihat lagi," jawab wanita berusia kepala empat itu. Orang tua Narumi pun menghubungi para orang tua anak-anak yang lain. Tak butuh waktu lama kini para orang tua dari ketujuh anak itu sudah berkumpul. Wajah-wajah cemas mereka jelas terlihat. Polisi pun datang atas laporan dari orang tua Andy, hanya dalam sekejap tempat itu ramai, polisi dan Team penyelamat menyebar mencari keberadaan ketujuh anak itu. Namun hingga malam hasilnya nihil, mereka hilang bak di telan bumi. *** Bugh! Kilatan cahaya besar jatuh dari langit tepat di tengah hutan belantara. Dari sana terdapat tujuh anak yang terlihat kebingungan. Mereka mulai menelisik sekitar, perasaannya campur aduk, antara rasa takut dan penasaran. Entah, di mana mereka sekarang. Netranya saling pandang, berbicara dengan isyarat. Hening, tanpa suara. Mereka belum berani berpindah dari tempat masing-masing. Kecuali gadis manis berhidung mancung, dan berkulit kecokelatan. Ia terus mengentakkan kaki gusar. “Guys, kita di mana sekarang!” teriak Anjeli takut, setengah merengek. Mendengar kicauan Anjeli, semua anak menoleh ke arah gadis itu. Narumi, yang jaraknya agak dekat dengan Anjeli, segera memeluk, menenangkan. “Sudahlah, kayaknya kita semua telah terdampar di sini. Entah Negeri apa ini, yang jelas kita harus terus bersama-sama!” Semua anak memperhatikan gadis itu. Narumi mengatakan dengan lugas, tanpa rasa takut sedikit pun, ia memang gadis pemberani, sekaligus mandiri. “Oke, sebaiknya kita mencari jalan keluar, atau senggaknya mencari pertolongan,” usul Bayu. Semua teman-temannya mengangguk setuju dengan usul anak laki-laki berparas menawan itu. Mereka semua melangkah menyusuri hutan, dengan hati-hati dan teliti. Menapakkan kaki sedikit demi sedikit di sela-sela akar pohon dan semak belukar. Mereka saling bahu membahu, saling menyemangati satu sama lain. “Kita istirahat bentar, yuk! Kakiku udah enggak kuat lagi. Sudah sejak tadi kita hanya berkeliling, dan tak menemukan apa pun. Sebaiknya, mencari sesuatu untuk minum, atau apa pun itu yang bisa di makan!” usul Delio, sembari mengelus bibir yang mulai mengering, karena haus. “Baiklah, kita cari sesuatu yang bisa kita makan, atau sekadar menambah tenaga. Jangan sampai kita mati kelaparan, dan menjadi santapan hewan-hewan buas di hutan ini.” Baru saja Matthew berhenti bicara, suara raungan terdengar dari arah belakang mereka. “Augh!” Hampir saja Anjeli berteriak, kalau saja Matthew tak membungkam mulut gadis itu. Persis di belakang mereka terdapat harimau yang sangat besar. Bergeming, mengamati sekitar tanpa suara. “Kita jangan sampai ada yang bergerak sedikit pun atau semacamnya, kita pura-pura mati saja. Raja hutan akan mengira kita sudah tak bernyawa. Dia akan pergi dengan sendirinya setelah tahu mangsanya mati, jangan pernah lukai mereka. Semua punya hak untuk hidup bukan? Hm, sama seperti kita yang terdampar di sini. Kita juga akan berjuang untuk bertahan hidup, ayolah, kita pejamkan mata dan tahan nafas.” Andy memaparkan banyak penjelasan tentang cara mengatasi hewan buas. Sahabatnya yang lain mengikuti arahan, Bayu. Bahkan, Bayu juga melakukan hal yang sama. Harimau mendekat, ia mengendus tubuh tujuh sahabat yang telentang di tanah. Harimau pikir mereka sudah tak bernyawa, akhirnya harimau berlalu dari hadapan mereka dengan sendirinya. Tanpa harus melukai binatang yang harusnya kita lindungi, dapat menggunakan cara yang aman untuk berlindung dari kebuasannya. Lega, setelah kepergian harimau mereka menghela nafas panjang. Bagi mereka tak mudah menahan nafas selama lima menit. Laku, mereka meneruskan langkah, mulai mengamati sekitar. Siapa tahu mereka menemukan tumbuhan yang bisa dimakan, atau pelepas dahaga. “Guys, berhenti! Kalian lihat di sana? Ada tumbuhan kantung semar, biasanya tumbuhan itu menyimpan banyak air. Namun, harus hati-hati juga, jangan sampai serangga juga ikut kalian telan.” Aydin memaparkan penemuannya. Mereka melangkah menghampiri kantung semar tersebut. Satu persatu dari mereka memeriksa kantung semar yang berisi air, dan bersih dari serangga. Para anak lelaki membantu para gadis untuk minum. Semua saling melempar senyum, mereka bisa minum sepuasnya lewat bantuan kantung semar itu. Tumbuhan kantung semar berbentuk panjang persis kantung dan terbuka bagian atasnya, jadi, ia dapat menampung air hujan. “Eh, kalian lihat di sana? Itu bisa dimakan, enggak?” tanya Anjeli, yang tak pernah melihat tumbuhan aneh seperti itu. “Kayaknya bisa, coba kulihat.” Bayu beranjak, dan mendekat ke arah tumbuhan tersebut. “Kesini kalian!” Bayu memberi perintah untuk semua temannya, agar mendekat. Bayu menemukan tumbuhan yang mirip dengan markisa, hanya saja lebih kecil, dan rasanya asam, sedikit agak manis. Nama tumbuhannya rambusa, atau markisa mini. “Apa yang kau temukan?” tanya Matthew. “Tumbuhan ini bisa kita makan!” seru Bayu. “Serious?” tanya Narumi. “Yes, of course!” jawab Bayu singkat. “Sebaiknya kita coba dulu!” tambah Delio. Ia menunjukkan ekspresi layak untuk di konsumsi, lewat jempolnya. “Jika di Indonesia, banyak tumbuhan seperti ini. Biasanya banyak tumbuh di semak-semak, persis seperti yang ada di depan kita. Silakan! Kalian bisa mencobanya, cari yang berwarna kuning, karena itu yang masak, dan bisa di makan. Beruntung kita terdampar di hutan yang asri, banyak terdapat tumbuhan di sini. Tak mungkin kita kelaparan, asal mau berusaha.” Bayu memaparkan pengetahuannya akan rambusa. “Hey, Anjeli jangan makan terlalu banyak, nanti perutmu sakit, aku tak rela melihatmu menderita,” kelakar Matthew. “Ish! Masih aja kau bercanda dalam keadaan genting kayak begini!” sungut Anjeli tak acuh. “Guys, kayaknya senja akan segera menghampiri kita. Bagaimana jika mencari tempat bermalam, senggaknya dapat di gunakan untuk istirahat sebentar, sebelum besok fajar mencari jalan keluar dari hutan ini.” Aydin memberi usulan. Mereka manggut-manggut menandakan setuju. Sebelum pergi menyempatkan minum, dan membawa bekal sebisanya untuk berjaga-jaga. Waktu terus berjalan dan hutan mulai gelap, mereka membutuhkan semacam senter untuk sekadar menerangi jalan. Bayu mulai mengeluarkan pisau kecil yang ada senter di ujung pegangannya. “Siapa antara kalian yang membawa senter semacam ini, bisa di nyalakan!” ucap Bayu. “Aku bawa,” jawab Delio. Kedua senter tersebut mereka arahkan ke depan, menerangi jalan mereka. Semua tak serba kebetulan. Delio membawa korek api, karena sebelum pergi sempat menyalakan dupa sebagai pengharum ruangan kamar. Bayu juga membawa pisau guna memotong buah yang mereka bawa dari rumah. Langkah mereka terhenti, tatkala netra tampak cahaya berkilau di depan, tak jauh dari kaki berpijak. Mereka saling pandang, netra membeliak sempurna, takjub akan keindahan yang terpampang nyata. Lega, mereka semua mengelus dada. Kemudian menyimpan korek dan senter tadi untuk berjaga-jaga siapa tahu dapat dimanfaatkan kembali. Sekarang mereka tak butuh penerangan lagi karena sudah cukup cahaya di depan mereka. Semua anak saling pandang, kontan kaget ketika melihat sosok wanita yang terdapat bunga melingkar di kepalanya persis berasa di depan mereka, Ia menghampiri tujuh anak itu dengan senyum yang menawan. “Kemarilah kalian!” perintahnya lembut. Wanita itu berbau sangat harum. Kulitnya yang halus, selembut sutra. Kilau yang terpancar dari iris wanita itu, membuat mereka tak berhenti mengucap kagum. “S-s-si-siapa kamu?” teriak Aydin sedikit tergagu-gagu. Wanita anggun nan cantik jelita itu pun menyunggingkan senyum yang sangat menawan, membuat ketujuh anak manusia, terpikat oleh manis senyuman wanita asing yang tubuhnya terdapat wangi bunga yang semerbak. “Singgahlah di kerajaanku! perkenalkan, aku Ratu Amora penguasa negeri seribu bunga. Kalian sekarang berada di lingkungan kerajaan. Ayo, masuklah! Kalian bisa bermalam di sini, melepas penat setelah berjalan jauh. Masih jauh perjalanan yang akan kalian tempuh, jangan takut padaku.” Senyum itu tak pernah luntur dari Ratu Amora. Wanita anggun itu membimbing tujuh anak manusia ke dalam kerajaannya. Setelah berada di dalam, Anak-anak tersebut diperkenankan mandi di kolam seribu bunga. Semua pelayan terdapat bunga di kepala dan lengannya. Namun, tak seindah yang Ratu miliki. Tentu saja karena, Ratu Amora adalah pemimpin sebuah kerajaan. Seusai mandi, mereka berganti pakaian yang tiba-tiba sudah bersih, dan berbau semerbak bagaikan bunga yang baru mekar. Sangat menenangkan aroma wanginya. Mereka semua hanya saling pandang, bingung, takut, tapi bahagia. Ratu Amora sangat baik, ia menyediakan banyak jamuan untuk mereka. Setelah kenyang, tujuh anak itu di persilakan untuk istirahat di atas kasur yang empuk. Seperti dihipnotis. Mereka semua terlelap, setelah mencium aroma wangi dari bantal yang terbuat dari sutra itu. Ketujuh anak itu pun terlelap dalam tidur yang sangat nyenyak. Entah berapa lama mereka tertidur. Sinar mentari mulai menampakkan auranya. Mereka, satu persatu mengerjapkan netra. Mentari yang bersinar membuat iris mereka silau, sehingga membuat terbangun dari tidur. Mereka tidur semalaman di tengah hutan, tapi terasa di kasur empuk. Ratu Amora membuat mereka nyaman, oleh sihirnya. Ratu dari negeri seribu bunga itu menyelamatkan malam ketujuh anak manusia yang terdampar di tengah hutan tersebut. Mereka kembali saling pandang, setelah sadar apa yang terjadi. Semua merasa heran,dan bingung. Hanya bisa bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang mereka alami. “Semalam kita tidur di sini?” tanya Narumi. Semua temannya mengangguk, mereka kemudian beranjak. Lalu mengibaskan pakaian yang kotor oleh daun yang menempel. Ada hal yang janggal pada pakaian dan tubuh mereka yang masih wangi. Aydin menghirup wangi tubuh Andy yang berada di sampingnya. Mereka saling menghirup tubuh masing-masing, wanginya sama. “Siapa yang kita temui semalam?” tanya Anjeli penasaran. Semua temannya mengedikkan bahu. Tak ada yang bisa menjelaskan. “Sebaiknya, kita kembali mencari jalan keluar. Orang tua kita pasti sudah sangat khawatir,” kata Matthew. "Iya, sudah pasti, bisa jadi malah sudah lapor polisi, tentang menghilangnya kita semua," ucap Andy. Mereka kembali menyusuri hutan belantara. Selama perjalanan ketujuh anak-anak itu tak menemukan tanda-tanda jalan keluar. Namun, mereka tetap melanjutkan langkah. Tak ingin menyerah, karena yakin. Pasti ada jalan keluar. Hanya saja belum ketemu. Melangkah dan terus fokus. Akhirnya menemukan cahaya, mereka pikir jalan keluar menuju arah yang akan membawanya pulang. Namun, bukan jalan keluar yang mereka temui. Hanya sebuah danau yang sangat luas, di sana terdapat banyak sekali angsa yang sedang berenang. Terdapat pula belibis dan bebek, semacam unggas. Mereka seperti kawanan, yang sedang berpindah tempat. Tujuh anak-anak tersebut kagum dengan keindahan yang tampak di depan mata. Namun, dalam penglihatan Andy beda lagi, ia melihat bebek panggang yang sangat menggugah selera makan. Apalagi keadaan perut yang sedang lapar. Andy pun mulai melangkah, dan mendekati sang bebek. Ia berusaha menangkap bebek panggang yang melayang di depannya. Semua temannya hanya melihat tanpa mencegah. Bugh! Andy terjatuh, ternyata ia gagal menangkap bebek tersebut. Tiba-tiba seperti ada asap putih mengepul, mengitari seluruh tempat mereka. Semua unggas menghilang, mengikis mengikuti kepulan asap, layaknya debu beterbangan bersama laju topan. Bahkan danau di depan mereka berubah menjadi hutan, dengan semak belukar. Pohon-pohon tinggi nan lebat nampak sejauh mata memandang. Mereka terkejut melihat keanehan yang terus terjadi di depan mata. Lelah, tetapi mereka tak akan menyerah begitu saja. Saling menyemangati, satu sama lain. Bersama menghadapi segala rintangan. Aydin membantu Andy untuk bangkit. Kini mereka kembali bergerak, terus bergerak mencari jalan keluar. “Sebaiknya, kita ikuti jalan di depan ini, semoga keberuntungan berpihak kepada kita semua.” Bayu mengajak teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa langkah setelah mereka pergi, jalan yang mereka lalui tertutup oleh semak belukar yang sangat lebat. Mereka seperti terkurung di dalam labirin. Brugh! Anjeli terduduk lemas, ia terisak. Matthew teman laki-laki yang paling peduli dengannya, segera merangkul dan menenangkannya. “Tenanglah, ada aku di sini. Kita pasti akan pulang, dan bertemu dengan orang tuamu.” Mendengar perkataan Matthew, membuat para sahabatnya menggeleng lelah. Srrakkk! Bayu yang mendengar suara itu seketika menaikkan jari ke atas bibir, memberi tanda bahwasanya mereka harus lebih waspada. Baru sehari semalam di hutan, tapi sudah banyak sekali kejadian aneh yang mereka temukan. Keadaan semakin menakutkan. Ketujuh anak itu tak tahu harus berbuat apa. Mereka hanya bisa saling pandang, satu sama lain. Juga saling menguatkan. Tiba-tiba terdengar suara aneh, entah apa. Suara itu seperti dekat dengan mereka, Tetapi tak terlihat apapun di sekitar. Selain pohon besar dan semak belukar yang lebat, dan seperti mengepung mereka. Anjeli mulai ketakutan. Matthew terus menenangkan gadis itu. Ketujuh anak itu benar-benar mulai merasa di permainan. Kembali suara itu terdengar. Srrrrrrk …. Srrrrrrk …. Srrrrrrk …. Kira-kira suara apa ya, itu? Kejadian aneh apa lagi yang akan mereka temui di dalam hutan belantara? Akankah mereka bertahan di sana, dengan keadaan baik-baik saja? Ikuti kisah selanjutnya The Adventure Of Seven Stars 💖Gareci💖

Bab 3 Pangeran Satriajinara

Part 3 Pangeran Satriajinara Semua anak terdiam, tercekam dalam ketakutan, tak ada yang berani bersuara. Tiba-tiba pohon besar di depan mereka terbelah, sesuatu keluar menjulur seperti lidah bercabang tiga. Anjeli yang sangat ketakutan, tak bisa lagi menahan ia ingin berlari, namun baru saja berdiri. Secepat kilat tubuh Anjeli, Matthew dan Aydin, sudah terlilit lidah bercabang yang keluar dari perut pohon. "Tolooong …. " teriakan Anjeli hanya terdengar sekali, dalam sekejap. Ketiganya pun lenyap di telan pohon yang sangat besar itu. "Anjeli!" Narumi menjerit histeris. "Aydin, Matthew, Anjeli!" keempat anak itu pun memanggil satu persatu, nama ketiga sahabat mereka, yang hilang tertelan pohon. Mereka semua menangis berpelukan, tak tahu apa yang harus dilakukan, ketakutan semakin menghantui, mereka sangat mengkhawatirkan, keselamatan ketiga sahabatnya. Sesaat mereka terdiam melepaskan pelukan. Tak ada yang bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikiran tak menentu. "Bagaimana ini, aku takut sesuatu terjadi pada mereka." Narumi kembali menangis sekencang-kencangnya. Ia sangat takut kehilangan sahabatnya. Delio mengelus lengan Narumi, agar gadis itu tenang. Namun Narumi justru bertambah keras nangisnya. Delio pun merangkulnya. "Sudah dong, kita semua juga sedih," ucapnya. "Benar, Narumi, sekarang kita berempat jangan lemah," desis Andy menahan tangis, yang baru saja berhenti. Narumi masih terus menangis, membuat Delio, Andy dan Bayu, akhirnya tak tahan juga. Mereka pun kembali menangis saling berangkulan. Hingga lelah. "Kita, berdoa yuk! semoga Aydin, Anjeli dan Matthew baik-baik saja, dan kembali berkumpul bersama kita," ajak Bayu. Mereka pun mengangguk, kini mereka hanya bisa pasrah dan tenggelam dalam doa. Sementara itu, Aydin, Anjeli dan Matthew, yang masuk ke dalam pohon, kini berada di ruangan cukup luas, namun gelap, hanya cahaya dari pelita kecil. Tiba-tiba muncul sesosok tinggi besar berwajah mengerikan muncul di depan ketiga anak itu. Anjeli yang ketakutan, berada di tengah-tengah Aydin dan Matthew. "Jangan takut, mari berdoa, teruslah berdoa pada Tuhan," bisik Aydin. Matthew dan Anjeli pun berkomat kamit melafalkan doa-doa. "Lihatlah istriku! hari ini kita bisa makan enak, sudah lama kita tidak makan daging manusia kan?" seru mahluk mengerikan, dengan wajah hitam penuh benjolan, mata merah menyala. Tak lama kemudian muncul satu lagi mahluk yang sedikit lebih kecil, langsung melihat kearah ketiga anak itu. Kedua mahluk besar itu mendekati mereka, Anjeli semakin kuat berdoa, Matthew pun tak henti-hentinya berdoa, Aydin tenggelam dalam dzikirnya. Ketiga anak itu benar-benar pasrah, Mahluk besar itu meraih tubuh Aydin, dan yang satunya meraih Matthew. "Anjeli pergilah menjauh!" perintah Matthew. "Tidak! aku tak mau pergi tanpa kalian," bantahnya. "Anjeli kumohon pergilah!" "Iya, Anjeli, pergilah pasti ada jalan keluar!" kali ini Aydin yang memerintah. "Apa pun yang terjadi, aku, takkan tinggalkan kalian!" Entah dapat keberanian dari mana, Anjeli mengambil sebuah kayu yang ujungnya runcing ada di dekat tembok, dan berlari menancapkan kayu itu, pada mahluk yang bersiap hendak memangsa Aydin, sontak mahluk itu kesakitan, dan melepaskannya, Anjeli sekali lagi menusuk makhluk itu dengan keras. "Aaaaaaaaauuuuugh," teriak mahluk itu. Melihat sang istri kesakitan mahluk besar itu marah, kesempatan itu digunakan Matthew menancapkan salibnya pada perut mahluk itu, sontak mahluk itu meraung penuh amarah dan kesakitan. Matthew pun di lempar seperti barang, Anjeli cepat-cepat menolongnya. Bersamaan dengan itu, Aydin melantunkan ayat-ayat suci dengan suara merdunya. Kedua mahluk itu menutup telinganya, dan berteriak. "Hentikan!" Namun Aydin terus melantunkan menambah volume suaranya, Anjeli dan Matthew pun terus berdoa tanpa henti. Kedua mahluk itu semakin kesakitan terus bersuara sambil menutupi kedua telinganya. Tiba-tiba cahaya datang, ketiga anak itu seperti ada yang mendorong keluar, dan mereka pun terlempar tepat di hadapan para sahabatnya. Namun mereka bertiga tak sadarkan diri. Keempat sahabat itu langsung membangunkan, Matthew, Anjeli dan Aydin. Bayu mengambil air dan membasuh wajah ketiga sahabatnya yang pingsan, tak lama kemudian mereka siuman. "Kalian, baik-baik saja?" tanya Narumi khawatir. Ketiga anak itu yang baru sadar nampak masih bingung. Tak lama kemudian, Aydin mengucap syukur. "Alhamdulillah, kita, Selamat." Narumi memeluk Anjeli, tangis mereka pecah. Ketujuh anak itu saling berpelukan, dan bersyukur, karena bisa bersama lagi. Mereka selalu berjanji akan tetap bersama dalam keadaan apa pun. Ketujuh anak itu memutuskan meninggalkan tempat itu, mencari tempat yang lebih aman untuk beristirahat. Karena tak ingin terjadi hal itu lagi. *** Setelah berkelana membelah hutan belantara dan menemukan banyak hal gaib, sekarang mereka beristirahat di tengah hutan. Mereka bertujuh membagi tugas, Narumi dan Anjeli menunggu mereka di bawah pohon besar. Bayu dan Aydin mendapat tugas mencari air, mereka berdua sama-sama bekerja keras untuk menemukan sumber air. Sedang Matthew, Andy dan Delio, mencari pasokan makanan untuk mengganjal perut. Mereka bertiga juga tak kalah bekerja kerasnya, banyak rintangan yang di lalui untuk mencari buah atau apa pun yang layak di makan. Setelah anak-anak yang mendapat tugas pergi dan menjauh dari lokasi. Meninggalkan Narumi dan Anjeli yang sedang mengumpulkan ranting, mereka mendapat tugas membuat api unggun. “Anjeli, kayunya sudah dapat banyak belum?” tanya Narumi setengah berteriak. Anjeli mendongak ke arah, Narumi Kemudian dia menggeleng pelan, tanpa berniat membalas. Sekarang dua gadis itu sudah berada di tempat semula. Mereka belum menyalakan api, hanya saja sudah menata kayu dengan rapi. “Narumi apa menurutmu mereka berhasil dengan tugas yang sedang di kerjakan?” Anjeli mulai mencairkan suasana yang hening. “Semoga mereka berhasil membawa makanan dan minuman, aku sudah merasakan dahaga yang amat sangat.” Narumi mengelus kerongkongan yang mengalami kekeringan. “Kita doakan saja, semoga saja mereka berhasil.” Anjeli merasa iba melihat bibir Namura yang pucat dan mengering, gadis itu kehausan. Anjeli mengamati sekitar, pandangannya menangkap tumbuhan yang tak asing. Ia menemukan tumbuhan lidah buaya. Anjeli teringat, jika tumbuhan itu banyak tumbuh di taman pekarangan rumah Nenek. Ia mulai mengingat ucapan Neneknya. “Ini namanya lidah buaya, atau biasa di sebut Aloevera. Tumbuhan ini dapat di makan, memiliki rasa natural seperti air, hanya saja sedikit pahit jika terkena getahnya.” Gadis itu pun segera mendekat ke arah tumbuhan itu, ia memotong beberapa untuk di berikan pada Narumi, yang bibirnya mengering. Anjeli mencari daun untuk membersihkan getah lidah buaya. Tak sengaja gadis itu membersihkannya dengan daun kelor atau biasa di sebut dengan Moringa oleifera. Netranya membeliak, takjub. Sudut bibir terangkat tanpa ia sadari. Penemuan yang sangat sempurna, ia tahu jika daun kelor mampu menambah tenaga untuk mereka berdua, sebelum para sahabat lelakinya datang membawa air dan buah, ataupun sesuatu untuk menambah tenaga. “Narumi, aku dapatkan sesuatu untukmu. Tumbuhan ini dapat kau makan, ini mampu mengembalikan tenaga, daun kelor memiliki kandungan zat besi, berguna untuk kita yang kurang istirahat. Nah, yang ini AloeVera kandungan gizinya juga sama dengan Moringa oleifera. Ayo, aku bantu cara memakannya!” Anjeli berubah menjadi gadis yang dewasa. Selang beberapa lama kemudian, kelima anak laki-laki itu kembali, Aydin dan Bayu tak menemukan air. Tetapi mereka menemukan pohon tebu, dan membawanya beberapa batang. Delio, Matthew dan Andy, berhasil menemukan ubi jalar, mereka segera membakarnya. Sambil menunggu ubi masak, Bayu memberikan potongan tebu pada teman-temannya. *** Sementara nun jauh di Negeri Hongkong, para orang tua dari ketujuh anak itu hanya bisa pasrah. Tim sar telah melakukan pencarian, seluruh wilayah itu, dari hutan, bukit, pantai, bahkan sampai keluar dari area Discovery Bay telah disusuri semua. Tak ada yang terlewat namun jejak mereka tak ditemukan. Para penyelam dari tim sar, tersebar menyelam melalui berbagai dermaga. Dari dermaga Central, Cheung Chau, Peng Chau, Mui Wo, Tsim Sha Tsui, Wan Chai, dan lainnya, tetapi hasilnya tetap sama nihil. Berita tentang menghilangnya ketujuh anak itu, menjadi trending topik di sosial media. Beberapa surat kabar menjadikan berita utama. *** Ketika anak-anak itu sedang duduk dan tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Tiba-tiba saja Bayu teringat dengan bintang laut yang ia temukan. Bayu pun bertanya pada semua. "Guys, kalian ingat dengan bintang laut yang kutemukan waktu itu?" ia berhenti sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Aku rasa, ini semua ada hubungannya dengan bintang itu," sambungnya. Serentak anak-anak yang lain menatap Bayu. "Oh iya, terus bintang itu dimana sekarang? kita semua tiba-tiba melayang setelah memegangnya kan?" tanya Aydin. "Iya yah, jangan-jangan bintang itu jelmaan hantu," celetuk Narumi. Anjeli yang penakut, apa lagi habis mengalami hal tak masuk akal, jadi semakin takut dan percaya dengan yang dikatakan Narumi. "Gimana dong guys, aku takut kita akan terjebak selamanya disini," rengeknya. "Please, Anjeli, don't said this words! Kamu tau kenapa? Setiap kata adalah doa," sahut Aydin. "Benar apa yang Aydin bilang, kita berdoa saja semoga kita bisa kembali ke Hongkong," timpal Bayu. Anjeli menunduk, Matthew menghampiri dan menghiburnya. "Don't be sad! Kita pasti bisa melewati ini semua, yakinlah pertolongan Tuhan akan datang oke!" ujarnya meyakinkan gadis itu. "Iya kita harus yakin, hanya dengan keyakinan semua akan terwujud," sambung Delio. Mereka semua merapat saling berpegangan tangan, memberi kekuatan satu sama lain. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memerhatikan sedari tadi, dengan pandangan haru. Ia baru menyadari betapa bersyukurnya telah menemukan ketujuh anak itu. Pemilik sepasang mata itu adalah sosok di balik bintang laut. Yang diam-diam selalu mengikuti ketujuh anak itu. Ia sengaja tak menampakkan dirinya, karena ingin tahu sebesar apa rasa saling peduli mereka. Kini sosok itu tak mampu membedung airmatanya. Hingga suara isakannya tertangkap oleh indra pendengaran Bayu. "Kalian dengar nggak, ada suara orang sedang menangis?" tanya Bayu. Mereka tak menjawab pertanyaan Bayu, tetapi malah menajamkan pendengarannya. Benar saja mereka pun mendengarnya. "Hey! Siapa kamu? Manusia atau jin?" tegur Aydin "Aku bintang laut yang kalian temukan di pantai," jawabnya, asal suara dari arah belakang mereka. "Mana ada, bintang laut bisa bicara, ayo tunjukan wujudmu!" desak Bayu. "Sekarang aku ada dekat kakimu, Yu" Sontak mereka melihat ke arah kaki Bayu, benar saja bintang itu memang ada. Bayu mengambilnya dan berkata. "Beneran, kamu, bisa bicara?" "Iya, Yu, Andy, Anjeli Delio, Matthew, Narumi, nggak usah takut, contoh Aydin aja nggak takut tuh," ucap bintang. "Kok, kamu, tau nama kami semua?" tanya Narumi. "Ya iyalah, Narumi, cantik," bintang terdiam beberapa saat, lalu kembali berkata. "Guys! Kalian anak yang baik, perkenalkan namaku Pangeran Satriajinara, dari kerajaan Bengawan Kloewoeng. karena aku nakal tak sengaja di kutuk sama ibuku." Bintang menarik napas sebelum melanjutkan ceritanya. "Aku sadar selama ini suka jahat, dan menghina orang kecil, padahal aku adalah pewaris tunggal kerajaan ayahku, itulah mengapa ibuku mengutukku, walau tak sengaja. Kalian tahu kan, ucapan seorang ibu adalah keramat. Hanya ada satu cara yang bisa merubahku menjadi wujud asliku, tapi aku tak yakin," "Kenapa tak yakin?" tanya Andy. "Apakah, kalian, mau membantuku?" Pangeran Satriajinara malah balik bertanya. "Tentu saja, kami mau, iya kan guys?" Ucap Bayu. Yang juga diiyakan Oleh teman-temannya. "Nah, Pangeran, apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?" tanya Narumi. "Kalau memang kalian bersedia, ikut bersamaku, melakukan kebaikan, menolong orang yang membutuhkan, dan menyadarkan orang jahat. Dengan begitu kutukan akan lepas satu persatu. Kalian juga bisa kembali ke dunia kalian," bebernya. "Baiklah, kami bersedia," semua anak sepakat akan membantu Pangeran Satriajinara. "Terima kasih yah, aku akan belajar kebaikan dari kalian, bagaimana cara menyayangi, menghargai, setia kawan, dan lainnya, semoga kelak aku bisa menjadi raja yang baik, adil, bijaksana, sesuai harapan orang tua dan seluruh rakyat Bengawan Kloewoeng. "Aamiiin," serentak anak-anak mengamini. "Pangeran, ngomong-ngomong, Bengawan Kloewoeng itu artinya apa sih?" tanya Bayu. "Bayu-bayu, wong jowo ndak bisa bahasa jawa gimana sih! Bengawan itu sungai kalau kloewoeng artinya Pelangi." jawab Pangeran. Bayu menggaruk kepalanya yang tak gatal, sambil senyum berkata. "Ya gimana, orang gak pernah ngomong jawa, tapi suatu hari nanti aku mau belajar." "Baguslah." Tandas Pangeran. Mereka pun akhirnya bersahabat, sang pangeran sangat bahagia, akhirnya ada yang bersedia membantunya. Satu noda hitam dari tangannya telah terhapus, itu artinya kesempatan bebas dari kutukan akan terwujud. Di tangan Pangeran ada banyak noda hitam, setiap melakukan kebaikan maka akan terhapus satu persatu, jika telah habis maka dengan sendirinya kembali kewujud aslinya. Ketujuh anak itu pun sudah tahu semua tentang Pangeran Satriajinara. Meski mereka tak dapat melihatnya. Namun mereka tak takut. Siap membantu sampai kutukan Pangeran lepas. Malam semakin larut. Pangeran Satriajinara melihat ketujuh anak itu yang sedang terlelap. Ia menjadi iba pada mereka. Karenanya anak-anak itu terpisah dari orang tuanya. Keesokan pagi, Pangeran telah menyiapkan sarapan untuk ketujuh anak itu. Sebelum mereka bangun. "Good morning, Namaskar, Goeie more, Co san, Gunaydin, Ohayou gozaimasu, Selamat pagi, guys!" Sapa Pangeran. Delio yang mendengar ucapan Selamat pagi, dalam tujuh bahasa, dari Pangeran, langsung berkata. "Wah, Pangeran kok bisa ngomong bahasa kami semua, selamat pagi sih!" "Sedikitlah Delio," terang sang Pangeran. Setelah mengisi perut ala kadarnya, mereka diberi arahan oleh Pangeran. Menghafal kata sandi sambil memegang bintang, setiap hendak bepergian. Maka dalam sekejap sampai ditempat tujuan. "Nah, mulai sekarang, kalian akan menjadi kesatria seven stars. Yang akan membantu orang yang lemah an tertindas. Kalian akan belajar ilmu kanuragan, agar bisa melawan kejahatan. Juga menyadarkan orang kembali ke jalan yang benar." "Wow, berarti kita jadi super heroes, dong, celetuk Matthew girang. "Teman-teman, sudah siap?" tanya Pangeran. Ketujuh anak itu menjawab kompak dan semangat. "Siap!" "Oke, sekarang saatnya petualangan sesungguhnya di mulai, ingat yah kata sandinya, kalau kuhitung sampai tiga ucapkan itu bersama … satu dua tiga!" Setelah Pangeran memberi aba-aba anak-anak itu pun mengucapkan. "We are the seven stars ready!" Wusssssh …. Mereka pun menghilang. Tempat apa lagi yang akan mereka jumpai? Ikuti keseruannya yah dalam part berikutnya. The Adventure Of Seven Stars 💖Gareci💖

Lanjut baca