~Selandia Baru -1923 Tepatnya ada di kota The West yang terpencil. Di sana ada rumah sederhana, bahkan bisa dikatakan sangat kecil. Hamparan hijaunya sayuran sawi dan wortel, juga pepohonan yang rindang mengelilingi rumah. Air sungai mengalir jernih mengapit antara rumah ke rumah, membuat kota ini begitu sangat sejuk. Rumah sederhana ini bangunannya dari perpaduan anyaman bambu dan kayu jati yang tertata tidak beraturan. Adalah tempat tinggal gadis usia sepuluh tahun beserta keluarganya. Tenang, duduk di pelataran rumah dengan kursi panjang yang hampir rapuh. Tangannya asik dengan buku tulis usang ditemani pencil yang hanya tinggal separuh. Langkah kaki kasar dan terburu-buru keluar dari dalam rumah. “Kamu kalau sudah besar mau menjadi apa?” tanya Johan, yang merupakan Ayah dari gadis kecil ini sambil meraih peralatan melukisnya. “Aku ingin menjadi penulis, penulis yang hebat!” jawab Ann enteng. Ann Arthurian, gadis terlahir dari keluarga kurang beruntung namun penuh ambisi. Johan yang sudah kesiangan, tidak menggubris jawaban dari anak ketiganya ini. Juga, sepertinya pertanyaan itu pun hanya sekadar basa-basi. Dengan cepat dia segera meninggalkan rumah. Sedangkan Natalie sebagai kakak yang hendak pergi merantau ke Wales, tiba-tiba dia berucap, “Jadi perempuan rumahan saja, jaga suami dan anak-anak. Jangan tinggi-tinggi nanti kalau sudah jatuh, sakit!” Ann tidak menjawab apa- apa, dia hanya memeluk kakaknya ini yang entah kapan bisa berjumpa lagi. Kendatipun dari hati Ann banyak pertanyaan, 'Kenapa perempuan tidak boleh memiliki mimpi? Punya cita-cita? Lalu orang hebat di luar sana seperti Marie Curie wanita pertama meraih nobel bidang fisika, Edith Wharton seorang novelis Amerika, mereka itu wanita!' Namun, pertanyaan itu kerap terhenti, karena untuk mencapai mimpi itu, perlu usaha, dorongan dan mental yang kuat. Sedangkan Ann hanya ada keinginan waktu ini, tidak ada seorang dari keluarganya yang mendukung, terlebih lagi dana, dia cukup tahu diri akan hal itu. Natalie sendiri seperti sudah memahami keadaan ini, dia terpaksa harus pergi karena keluarga tidak bisa menghidupinya. Pergi meninggalkan rumahnya hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Natalie tidaklah senang dengan kejadian ini, tapi dia harus tegar dan pasrah.Tangannya menjinjing tas yang isinya beberapa helai baju, dia pun mengikuti Theresa kakak dari Johan. “Kak, kamu baik-baik saja di sana!!” teriakan Ann terdengar hingga rumah tetangganya. Natalie hanya melirik dengan menyimpulkan seulas senyum pada bibirnya. Sepeninggalnya kakaknya, Ann kecil kembali dengan kegiatannya. Ialah merangkai kata, menulis mimpi-mimpi, hingga berdrama dengan alam pikirannya. Imaginasi merangkai kata pun sudah kontras terlihat dari bagaimana dia berbicara. Baru saja hendak menulis,dikejutkan oleh teriakan Mariez, “Cepat bantu Ibu mencuci pakaian, pegang buku dari pagi!” Gadis kecil ini beranjak dari tempat duduknya, “Baik Bu,” lirihnya sambil tergesa-gesa menaruh buku tulisnya. Tangannya pelan mengambil peralatan mencuci yang tersedia ala kadarnya. Begitulah kebiasaan akhir pekan gadis ini. *** Senin adalah hari yang Ann tunggu-tunggu, setidaknya dia bisa bertemu dengan teman-temannya dan belajar pelajaran-pelajaran yang hampir semua mata pelajaran dia sukai. Adrian sudah lama memperhatikan muridnya yang satu ini. Tulisan yang dia tulis di atas papan tulis, dibaca oleh Adrian Louis gurunya yang tiba-tiba masuk ruangan. “Kamu ini kenapa menulis seperti itu?” tanyanya pelan sembari memberikan separuh roti yang ada di tangannya. Malu-malu Ann mengambil roti tersebut disertai senyuman kecut yang spontan. “Sepintas saja ada dalam benak lalu ditulis!” ucapnya pelan hampir tidak terdengar. Adrian hanya menatap wajah Ann yang lugu, lalu meninggalkannya sendirian di dalam kelas. Jam istirahat ini Ann menyendiri di dalam kelas, bukan keinginannya untuk sendiri karena sahabat baiknya sedang tidak masuk. Hubungan antara keduanya memang tidak bisa tergantikan, mereka seperti satu jiwa. Kalau salah satu tidak ada pasti seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Selain dari itu, penyebab Ann tidak bisa bergabung dengan yang lain karena dia akan tersisih sendiri. Sejenak Ann menghela napas kasar. “Ayahku hanya seorang pelukis jalanan, uang yang dihasilkan pun terkadang tidak cukup untuk membiayai kehidupan sehari-sehari. Mana aku berani meminta uang padanya untuk jajan? Sementara yang lain mereka leluasa mendapatkan itu?” ucapnya dalam senyap sembari tangannya membaca kembali materi dari pelajaran yang baru dia tulis. Ternyata Ann menyendiri, karena dia merasa tidak menyatu dengan yang lain, karena dia tidak memiliki uang jajan. Masuk akal! Tidak begitu lama, lonceng pun berbunyi tanda istirahat telah usai. TENG! TENG! “Ann, kamu masuk kelas 3 ya!” ujar Adrian datang begitu saja dari pintu tengah ruangan. Ann berjalan penuh semangat sambil membetulkan rok pendeknya. “Pasti dia dikencani guru yang satu itu, tuh…” usil teman yang tidak menyukai Ann. “Heh, dia pasti disuruh mengisi kelas karena guru matematika sedang melahirkan!” sahut temannya yang lain membela Ann yang sudah keluar kelasnya. Ann pun masuk kelas tiga, wajahnya memang tidak asing untuk murid-murid yang jumlahnya 18 orang ini. “Bu guru Ann, aku tidak mengerti pengurangan yang ini loh,” sapa seorang murid yang tiba-tiba datang menghampiri. Ann mendelikan matanya, kemudian berbicara dengan nada ketus, “Panggil saja ‘Kakak’ tidak Bu guru, sebab aku ini bukanlah Ibu-Ibu!” Yep, Ann ini bukanlah Ibu Guru dia masih duduk di kelas empat. Tapi, dia kerap mengisi kelas jika ada guru yang tidak masuk. Dengan tenang, dia pun mengajar sesuai materi yang ada pada buku. Cara penuturan yang details adalah ciri khasnya, hingga terkadang dia sendiri hafal apa yang tertulis dari buku tersebut. Sehingga membuat adik kelasnya ini begitu sangat dekat dengannya. Bukan hanya dicintai, saat bersamaan dia pun banyak yang iri. Sayangnya, dia tidak terlalu mempersoalkan akan itu. Setelah mengajar, dia akan kembali ke kelasnya dan mendapati kalau teman-temannya sudah siap-siap untuk pulang. Matanya melirik pada jam dinding yang menempel dia atas papan tulis. “Pukul 12:05?” ucapnya. Dia pun segera mengambil buku yang ada di atas meja gurunya. “Jangan dibawa pulang! Bapak mau membuat soal!” ucap Adrian sambil menyimpulkan senyum. “Tidak Pak, Ann mau selesaikan di sini!” jawabnya datar. Cepat, dia pun duduk di tempat duduknya, tangan Ann menulis dengan cepat, kalau tidak dia akan sangat terlambat pulang ke rumahnya. Adrian memperhatikan wajah muridnya ini, “Kamu kalau sudah lulus sekolah mau menikah denganku?” tanyanya. Mendengar itu, Ann hanya tertawa, “Bapak kalau bercanda jangan sama anak kelas 4 sekolah dasar!” tegasnya sambil menutup buku tulisnya. “Belum juga datang menstruasi, udah diajak nikah!” imbuh Ann melanjutkan sambil cekikikan. Baru saja Ann, sampai pintu Adrian berseru. “Ambil ini NZ$2 untuk mengisi kelas tiga pelajaran matematika tadi, dan ini NZ$1 untuk kamu dari aku!” Ann, menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih Pak,” singkatnya pelan. Adrian tidak berbicara sepatah kata pun, tatapannya pada wajah muridnya ini. Sedangkan Ann segera meninggalkan ruangan dan sekolahnya. Berjalan ke arah selatan, kemudian menyusuri jalan setapak yang merupakan jalan pintas agar cepat sampai rumahnya. Karena jarak rumah dan sekolah yang lumayan cukup jauh, kurang lebih ada sekitar 3 kilometer. Karena lelah Ann pun duduk sejenak, dia berteduh di bawah pohon rindang sambil mengambil air minum di dalam tasnya, dan tak lupa mengeluarkan buku tulisnya. Tangannya pun mulai menggerakan penanya, dia menulis. Tapi, dengan segera Ann menghapusnya, karena gadis kecil ini menulis bukan pada buku usangnya melainkan pada buku tulis untuk sekolah. “Ish, Ibu pasti marah kalau aku menulis di sini, karena akan membuat buku cepat habis!” desisnya. Iya, dia sangat paham bagaimana Ibunya membatasi pengeluaran. -Flashback on- “Ini buku tulis untuk satu semester, tulisan jangan besar-besar agar tidak cepat habis! Mengerti kamu!” ucap Mariez tegas. Ann menerima dengan senyuman, “Tenang Bu, Ann akan menulis kecil-kecil, seperti semut!” Ann tersenyum sambil beranjak berdiri, dia pun kembali melanjutkan perjalanannya. “Hey dunia! Kamu sudah membuatku tersiksa!!” teriaknya.
“Oh, Ann dunia memang terkadang sangat tidak adil bagi sebagian kita. Tapi, kamu harus sabar dan kuat!” ujar seorang Nenek yang tiba-tiba datang di depannya. Spontan, Ann mengercapkan kedua matanya. “Nenek?” Ann terkejut sambil menghampiri dan memeluknya. “Kok Nenek ada di sini?” tanya Ann pada Loriez yang ada di depannya. Begitu Ann mendongakan wajahnya ke atas, dia memundurkan langkahnya ke belakang. “Maaf, Pak,” ucapnya sambil memuyu-muyu matanya. “Lain kali, kalau jalan gunakan kedua mata!” jawab seorang Bapak yang tidak dikenali dengan kasar. Sejenak Ann merenung, ‘Kenapa kejadian ini sering terjadi? Tapi ini begitu nyata!’ ucapnya dalam senyap. Setelah sadar kalau itu hanya halusinasi, dia pun segera mempercepat langkahnya. Begitu sampai rumah, matanya kembali digercapkan. “Nenek Loriez?” ucapnya agak terkejut. Nenek serta merta mengurai tangannya lalu memeluk erat cucu kesayangannya ini. Tapi Ann,segera melepaskan. Melihat itu, Loriez heran. “Kamu baik-baik saja, Ann?” tanyanya kebingungan. Pikiran dan hati Ann berucap bersamaan, ‘Selalu seperti ini, apakah karena aku selalu berimajinasi?' Tidak ingin membuat Neneknya berpikir yang tidak-tidak, Ann pun kembali menghampiri dan memeluknya erat. “Tidak Nek, Ann hanya bingung saja, kenapa Nenek ini begitu sangat cantik!” ucapnya sambil mengelus halus wajahnya yang sudah keriput. Mariez dari dalam rumah segera berujar, “Cepat ganti pakaianmu lalu jaga Adik. Ibu dan Nenek ada urusan ke desa sebelah!” Mendengar ucapan dari anaknya Loriez menyela, “Biarkan anakmu makan dulu!” Loriez adalah Ibu dari Mariez. Mereka memang tinggal berjauhan dari semenjak kecil. Sudah dipastikan karena kurangnya perekonomian keluarga. Menjadikan anak-anak besar di mana-mana dan menopang kehidupannya masing-masing. Ann, melangkah masuk ke dalam kamarnya. Tepatnya, kamar dirinya dan Natalie sebelum pergi. Tidak bersemangat dia pun duduk di ujung tempat tidur terbuat dari kayu yang usianya sudah tidak bisa diterka. Sebab dari bentuk dan ukirannya saja sudah seperti puluhan tahun lamanya. Kedua mata Ann mengarah pada pakaian Natalie yang terpapar, dia pun segera mengambilnya. “Belum cukup kita mengenal satu sama lain, Kaka sudah pergi lagi!” ucapnya sambil tangannya melipat baju. Setelah mengganti pakaian, Ann segera ke luar dari kamar sedangkan kakinya melangkah masuk ke dapur. “Bu, Ibu, ini bagaimana?” tanya Ann yang bingung karena di atas meja hanya ada roti yang tinggal dua keping, tiga irisan tipis daging panggang dan beberapa potong telur yang diiris kecil. Loriez menghampiri, matanya menoleh pada piring-piring yang cucunya sebutkan. Dia hanya menggeleng-geleng kepala disertai menghela napas panjang yang berat. Pandangan Loriez menoleh pada Mariez. “Sudah aku bilang,menikah dengan Dean yang setidaknya bisa menghidupimu dengan layak! Ini malah pilih Johan yang hanya sekedar pelukis jalanan!” ketusnya. Mendengar ucapan Ibunya, sepertinya Mariez merasa terungkit dengan perasaannya. Sambil menoleh pada Ann, dia pun berkata, “Makan secukupnya!” Kemudian Mariez menoleh pada Ibunya. “Maafkan Bu, sepertinya aku memang salah!” lirihnya sembari pikirannya menerawang kelima belas tahun yang silam. -Flashback on- Loriez berjalan pelan ke luar dari pintu gerbang tempat kerjanya. Tiba-tiba saja Dean datang menghampiri, “Mariez, aku bisa membuat keluargamu jauh lebih baik!” ucapnya bernada lembut. Mariez menatap wajah Dean. Dean ini tidak dikategorikan buruk rupa, tapi menurut penglihatan Mariez, dia ini tidak begitu menawan. Mariez bukannya menggubrisnya dia berlalu begitu saja. Sedangkan Dean sendiri tidak patah semangat, motornya segera melaju ke rumah Mariez bermaksud untuk menemui Loriez. Begitu Dean memarkirkan motornya tepat di depan dekat Loriez duduk, Loriez pun segera beranjak dan menyambutnya dengan sumringah. Karena dia memang mengetahui kalau Dean telah menaksir anaknya. “Ibu, apa kabar?” tanya Dean penuh sopan santun. Loriez menyungging senyum, “Aku baik saja, semoga kamu pun! Sini, duduk!” ajaknya sambil sedikit menggeser. Dean duduk di atas kursi kayu persis berdampingan dengan Loriez, dia pun mulai mengutarakan maksudnya. Mendengar penuturan Dean yang ingin menikahi Mariez, Loriez tersenyum bahagia. Karena Loriez melihat Dean adalah laki-laki yang baik dan kategori mampu, kendatipun Loriez belum begitu mengenal putrinya. Sebab Mariez baru saja datang beberapa hari lalu. Sebagai seorang Ibu, Loriez menginginkan anaknya bahagia dan tidak kesusahan seperti dirinya. Itulah penyebab Mariez tinggal bersama temannya belas tahun lamanya. “Bu, Dean sudah menyukainya dari awal Mariez bekerja di perusahaan.” Ujarnya penuh sopan santun. Dean ini adalah mandor di tempat Mariez bekerja. Loriez merasa yakin dengan Dean, dia pun berucap, “Aku setuju saja, terlebih lagi kamu pasti bisa mendidik Mariez, hanya saja semua ada di tangan Mariez tentunya!” Loriez bisa melihat sikap Dean yang dewasa, karena Dean dengan putrinya bertautan sangat jauh, tepatnya lebih dari lima belas tahun. Mariez usianya baru saja menginjak ke 20, sedangkan Dean sudah 35 tahun. Pandangan Loriez dan Dean teralihkan pada Mariez yang sedang berjalan mengarah ke rumah. Begitu Mariez sudah ada di depan dan tepat sekali mereka duduk, Loriez menyapa, “Mar, ada Nak Dean.” Mariez tidak menjawabnya melainkan berjalan melewati Dean dan Ibunya sambil menunduk. Langkahnya dipercepat masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya. Melihat tindakan anaknya yang kurang sopan ini, Loriez mendatangi kamar lalu segera mengetuk pintu. “Mariez, tolong buka pintu Nak, Ibu mau bicara!” ucapnya pelan sekali. Kendatipun pelan namun Mariez mendengarnya dengan sangat jelas, karena dinding kamar hanya anyaman bambu dan ada yang bolong-bolong. Malas, Mariez mencoba membuka pintu. Begitu pintu sudah terbuka, Loriez masuk. “Kamu, mau hidupmu seperti ini terus?” tuturnya agak mendesis di kuping anaknya. Mariez memutarkan tempat duduknya. Dia menatap kedua bola mata orange Loriez dan memutar ke seluruh badan Ibunya. “Bu, Mariez sudah punya kekasih nanti malam akan ke sini berjumpa dengan Ibu!” lirihnya pelan. Loriez segera menebak, “Jangan bilang kalau kekasihmu itu adalah Johan!” “Kalau dia, Ibu tidak setuju!” imbuhnya melanjutkan dengan mata terbelalak. Loriez beranjak dari tempat duduknya. “Bawakan air buat Dean di depan, berbasa-basilah dengannya, cepat!” titahnya. Moriez beranjak dari duduknya, dia pun pergi ke dapur dan segera membuat teh manis lalu membawanya ke depan. Begitu Mariez datang, senyuman manis Dean memenuhi bibirnya. Setelah menaruh teh di atas meja yang ada di depan Dean, Mariez duduk di atas kursi yang terbuat dari kayu dengan posisi berhadapan. Bergeming tidak tersenyum atau pun berbicara. Loriez mencairkan suasana, “Mar, Nak Dean ini hendak bersungguh-sungguh padamu.” Suasana semakin hening dan formal. Baru saja Dean hendak berbicara, Johan datang dengan berjalan kaki, namun tangannya penuh membawa beberapa bingkisan. “Selamat sore,” ucapnya penuh wibawa. Melihat kedatangan Johan mata Mariez berbinar. Pandangan Dean pun mengarah pada Mariez, dari sini Dean mengerti kalau Mariez tidak tertarik padanya serta memahami kalau hatinya sudah ada yang menempati. Dean cukup tahu diri, Dia pun pergi meninggalkan kediaman Mariez. Sedangkan Loriez wajahnya masam dan tidak bersahabat, namun karena anaknya Mariez meyakinkannya kalau Johan akan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Mau tidak mau Loriez pun menyetujuinya. Akhirnya setelah perkenalan singkat ini. Johan dan Mariez menikah. Setelah menikah mereka tinggal di rumah anak sulungnya Loriez yang sudah lama tidak ditempati karena seluruh keluarganya migran ke Wales, hingga saat ini. Mariez sedikit menyesal karena telah memilih Johan, karenanya anak-anaknya serba kekurangan terlebih lagi dia pun harus berjauhan dengan anak sulungnya. Belum lagi Ann, sosoknya yang cerdas dan masih untung sekolah mempertahankannya. Kalau tidak, dia sudah putus sekolah dari semenjak tahun lalu karena Johan selalu menunggak iuran hingga berbulan-bulan. Loriez berdiri, “Ayo, jadi tidak mau periksa perutmu itu?” ajaknya sambil meliriknya. Mariez pun berbenah diri, yang sebelumnya dia melihat ke dalam rumah. Nampak Ann sedang memakan roti sambil menyuapi Adiknya. “Ann, Ibu pergi. Kalau Ayahmu datang bilang padanya Ibu pergi sama Nenek!” ujarnya sambil berlalu. Ann hanya mengangguk pelan.
Sepeninggal Ibu dan Neneknya, Ann kembali berimajinasi, tangannya lincah menulis di atas buku lusuhnya. Pikiran Ann pada kenyataan hidup yang selalu dibatasi. Dia memiliki sayap namun tersangkut pada ranting-ranting pepohonan, sangkutan itu tiada lain adalah pahitnya kemiskinan. Tiba-tiba saja, Ann dikejutkan oleh Ayah yang baru datang, “Mariez, Riez kamu di mana? Cepat, ambilkan minum! Ambilah bahan makanan ini, lukisanku hari ini terjual dua buah dengan harga yang lumayan!” ucapan itu membuat Ann tersenyum. Ann dengan cepat mendatangi Johan. “Yah, Ayah... Ibu pergi bersama Nenek ke kampung sebelah!” ujar gadis kecil yang sudah berdiri di depannya sambil memberikan segelas air. Johan tersenyum, tangannya meraih gelas sambil berucap sangat lembut, “Mungkin kamu akan mendapat Adik baru.” Penuturan dari Ayahnya membuat Ann menghela napas pendek, dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Matanya tertuju pada beberapa bahan makanan yang Johan beli, “Ayah, bolehkan aku makan sepotong daging asap itu?” tanyanya sambil mengambil kotak yang terbungkus rapat. “Tentu saja, makanlah!” ucap Johan sambil membuka lalu memberikannya. Gadis mungil ini dengan cepat mengambil dan memakannya. Baru saja dia hendak mengambil satu potong lagi, tiba-tiba Mariez datang, “Ann, harus tahu diri ya, itu bukan untuk hari ini saja!” Tangan Ann pun mengurungkan untuk mengambilnya kembali. Cepat, dia membereskan barang-barang yang terpapar di atas kursi dan membawanya ke dalam dapur. Persediaan makanan ini cukup untuk beberapa hari dan waktu yang tidak bisa ditentukan. Di dalam dapur Ann sedang sibuk, sejenak dia pun memelankan aktivitasnya. Kupingnya mendengar jelas pembicaraan Neneknya yang sinis, tepatnya dia berbicara pada Ayah dan Ibunya, "Anak pertamamu saja kamu biarkan pergi! Lihat Ann mau makan daging dua iris saja dilarang!” “Ini hamil lagi?” sambung Loriez sambil pergi ke luar dengan muka ditekuk. Penuturan Neneknya membuat Ann semakin tidak yakin akan dirinya untuk mendapat dukungan akan cita-citanya. Dia akan mempunyai Adik baru dengan keadaan yang sangat minim. Mariez menyenderkan badannya pada ujung tempat duduk, “Sudahlah Bu, ini yang terakhir, aku pun akan mencari pekerjaan lagi,” ucap Mariez menenangkan Ibunya. *** Waktu istirahat Ann duduk di bawah pohon cemara dekat pintu gerbang sekolah bersama Alice. “Ann, sepertinya setelah selesai pelulusan aku akan pergi ke kota bersama seluruh keluarga!” Alice membuka pembicaraan sedangkan tangannya mengepang rambut panjang Ann. Rambut Ann ini berwana coklat dan lurus sangat tebal hingga membuat Alice menyukainya karena rambutnya ikal dan susah diatur. Sedangkan yang ditanya masih sibuk dengan tulisan imajinasinya, sepertinya dia tidak begitu menangggapi pernyataan temannya ini. Bahkan tidak ada komentar apa pun yang terlontar. Dia sedang merangkai kata, kata yang seharusnya terucapkan. Alice menengok tulisan dan merebut buku tersebut, keras sekali dia membacanya, "Aku hanya menginginkan sebuah dekapan, rasanya tidak pernah ku dapatkan apalagi jika aku utarakan keinginanku." Ann merebut bukunya sambil mendelikan mata. “Setelah lulus, ikut aku saja!” ucap Alice. Ann tersenyum tipis sambil berkata sinis, “Dengan keadaan keluargamu yang serba kekurangan? Lalu, aku akan menambahi beban untuk mereka?” Kemudian Ann beranjak dari tempat duduknya. Baru saja membalikan tubuhnya, Adrian sudah berdiri tepat di depannya. “Tolong bantu Bapak mengurus laporan akhir tahun buat murid-murid!” ujar Adrian sembari memberikan setumpuk buku padanya. Ann tersenyum lebar sembari menyanggah tumpukan itu menggunakan kedua tangannya. “Bapak emangnya mau ke mana?” tanya Ann sedikit gusar. “Ke kampus, Bapak ada kelas hingga pukul 12:00,” lirihnya pelan. Kemudian, Adrian pun pergi. Sedangkan Ann langsung masuk ke dalam ruangan kelas. Alice pun datang, dia duduk persis di depan Ann, matanya tertuju pada tangan serta wajah sahabatnya ini. “Bisa-bisanya Pak guru memberikan tugasnya padamu!” ketusnya sambil memperhatikan angka-angka hasil tulisan Adrian yang Ann pindahkan pada rapor dan nampak namanya pun tertera di sana. Sedangkan Ann sendiri tidak menggubris hal itu, dia tetap pada kefokusannya. Hari ini memang waktu tenang setelah ulangan akhir tahun. Jadi, tidak ada pembelajaran. “Ann, kapan selesai?” tanya Alice terlihat kesal dan menguap. “Pulanglah, ini tinggal sepuluh lagi, tidak bisa asal isi saja dan satu buku harus menulis 18 mata pelajaran, artinya kamu jangan membuat aku terburu-buru dan tidak karuan!” ucap Ann tegas. Mendengar perkataan temannya ini Alice pindah tempat duduk, “Aku tunggu kamu, bangunkan jika sudah selesai!” ucapnya sambil menyenderkan badan dan meluruskan kakinya pada bangku panjang. Mata Ann sekilas menoleh pada Alice, bibirnya mengulas senyuman karena melihat gelagatnya. Dia pun terus melanjutkan tugas dari gurunya. Setelah hampir 45 menit pengisian rapor pun akhirnya selesai. “Thanks God!” ucapnya sambil meregangkan tangannya. Kemudian, dia mendekat pada sahabatnya, tangannya menepuk bahu yang sedang di alam mimpi. “Cepat bangun, atau aku tinggal pulang!” Ann membangunkan dengan nada sedikit berteriak. Alice hampir terjungkal karena teriakan Ann yang membuatnya tersentak dari tidurnya yang lumayan lelap. Sedangkan Ann cekikikan melihat itu. “Ann!!” bentak Alice sambil membereskan dirinya. Kemudian dia pun mengikuti Ann, masuk ke ruangan guru. Melihat kedatangan Ann, Kathy selaku admin sekolah yang sedang mencatat pembayaran menatap wajahnya. Ann paham akan hal itu, sambil menaruh tumpukan rapor di atas meja dia berucap sangat pelan, “Aku paham kok Bu, Ayah belum melunasi iuran dan pembayaran akhir tahun, nanti Ann sampaikan!” Kathy hanya menghela napasnya. Memahami kalau ini bukanlah yang pertama. Adrian tiba-tiba datang, “Bagaimana Ann, sudah selesai?” tanyanya. Ann mengangguk sembari menunjuk pada tumpukan rapor. Adrian segera memeriksanya satu persatu, lalu menoleh pada Ann yang berdiri mematung di sebelahnya. Tangan Adrian pada saku celananya, dia mengeluarkan uang dan menghitung lembaran pecahan, lalu memberikannya pada Ann. “NZ$ 18! Untuk jajanmu!” ucapnya. Sumringah Ann mengambilnya. Tatapannya menoleh pada Alice sambil tersenyum, “NZ$ 2 untukmu,” lirihnya sembari memberikan padanya. Kemudian, Ann pun melangkah pada Kathy, “NZ$ 10 untuk satu bulan SPP!” Khaty & Adrian saling memandang, mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Setelahnya, Ann dan Alice segera meninggalkan ruangan guru. “Ann, apakah harus bayar SPP menggunakan uang hasil kerjamu?” tanya Alice sambil berjalan di sebelahnya. Ann tidak menjawab apa-apa selain dari helaan napas. “Kita rayakan upah ini dengan membeli ice cream vanilla?” ajak Ann sambil meraih cepat lengan Alice. Mendengar itu Alice tertawa bahagia, setelah membeli ice cream cone seharga NZ$ 0.50 mereka duduk di atas rerumputan hijau di antara jalan setapak sambil menikmatinya. Tangan Ann membuka tas dan kembali mengambil buku usangnya, tangannya kembali lihai menulis kata demi kata yang keluar dari isi kepalanya. Aku selalu berpikir, kalau hidup ini seperti makan ice cream, manis dan dingin. Tapi, sayang ternyata ice cream nikmatnya sesaat, seperti hidupku! Alice membaca itu disertai tawa sambil berkata, “Kalau makan ice cream itu setelahnya, dahaga lagi ‘kan?” Ann tersenyum geli, dia pun menutup bukunya lalu memasukannya kembali. “Kita tinggal dua tahun lagi sekolah di sini! Setelahnya entahlah!” Alice menyimak perkataan Ann yang seperti putus harapan hanya dengan mengatupkan kedua bibirnya. Setelahnya mereka pun segera melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing. Di persimpangan jalan mereka pun berpisah, “Ann, besok kamu harus masuk, aku akan bawa makanan, kita makan bersama! Kamu bawa air saja!” ucap Alice sambil berlari. Ann menandai dengan menganggkat jempolnya. Langkahnya pun dia percepat karena langit nampak mendung. Tiba-tiba langkah Ann terhenti.