Stuck in Love Mr. F
Bab 1 Desahan di Gudang Arsip

Gwen berjalan mendekati ruangan yang bertuliskan 'gudang arsip' di depan pintunya. Lalu membuka pintu gudang yang tertutup rapat tersebut dengan sebuah kunci yang dia genggam di tangannya dengan perlahan, hingga pintu itu akhirnya terbuka. CEKLEK! Saat kakinya baru saja melangkah masuk, seketika telinga Gwen langsung melebar saat dia mendengar suara-suara aneh dan tak biasa yang berasal dari dalam ruangan. "Iya Sayang, teruslah seperti itu! Ayo, kamu bisa lebih mempercepatnya." Tubuh Gwen mematung. Gadis itu langsung menghentikan langkahnya sambil celingukan ke kanan, dan ke kiri. Bahkan Gwen sampai memutar tubuhnya ke belakang, lalu menyapukan pandangannya ke setiap penjuru gudang saat telinganya samar mendengar suara yang ... Gwen sendiri tak sanggup untuk menjelaskannya. Gwen penasaran. Telinganya dapat mendengar dengan jelas suara seorang wanita yang sedang berbicara sambil mendesah-desah nakal, tapi pandangan mata Gwen tetap tidak menemukan penampakan nyata dari suara itu, meskipun dia telah memutar pandangannya ke sekeliling gudang. "Aku yakin banget kalau tadi telingaku gak salah denger. Itu kan suara orang yang lagi ...." Gwen tidak dapat melanjutkan kalimatnya, dan langsung bergidik ngeri saat membayangkan ada sepasang manusia yang sedang menyatukan tubuh di dalam ruangan yang sama dengan tempatnya berdiri sekarang. Gwen mengikat rambutnya ke belakang agar telinganya dapat mendengar dengan lebih tajam. "Kedengerannya sih, dari arah sana!" gumam Gwen pelan sambil berjalan mengendap untuk mendekat ke arah sumber suara. Sungguh tak pernah terbayangkan sama sekali di dalam fikiran Gwen, jika hari ini dia akan menangkap basah sepasang manusia yang sedang berbuat mesum di gudang kantornya. Sebenarnya Gwen sangat ingin mengurungkan niatnya untuk mengetahui siapa sosok di balik suara tadi. Tapi kenyataannya, rasa penasarannya yang lebih besar malah membawa kakinya melangkah semakin mendekat ke arah suara yang sepertinya berasal dari sekitar lemari arsip yang berada di samping kirinya. Gwen berjalan pelan mendekati sisi lemari arsip. Dan dia baru menyadari, bahwa ternyata ada sebuah celah selebar kurang dari satu meter yang menjaraki lemari tersebut dengan dinding ruangan. "Yess, Baby! Ya ... like that!" Kali ini, lenguhan dan desahan nikmat seorang pria yang terdengar semakin jelas saat Gwen mendekati lemari arsip. Dan suara itu sontak membuat Gwen mengerjapkan mata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gak salah lagi, mereka pasti lagi berbuat mesum di belakang sini!" tebak Gwen sambil menatap jijik ke arah lemari arsip yang ada di hadapannya sekarang. Gwen mengendap-endap ke satu sisi sudut rak dokumen tersebut, lalu sedikit menyembulkan kepalanya di sana untuk memastikan aktivitas apa yang sedang terjadi di balik celah lebar itu. Namun yang terjadi kemudian adalah, Gwen kembali mematung. Gadis itu begitu tercengang ketika mendapati apa yang sedang terjadi di depan matanya sekarang, ternyata tidak sesuai dengan apa yang menjadi dugaannya sejak awal mendengar suara aneh tadi. Yups, tepatnya Gwen telah salah duga! Karena justru yang sebenarnya sedang terjadi di depan mata Gwen sekarang, adalah hal yang benar-benar tidak pernah dia sangka sebelumnya. "Jadi suara itu ...?" gumam Gwen dalam hati, yang masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang sedang dia saksikan sekarang. Detik ini, dengan mata kepalanya sendiri, Gwen menyaksikan dengan jelas aktivitas seorang pria muda yang sedang duduk bersandar pada lemari arsip. Pria muda itu terlihat sedang asyik menikmati pekerjaan yang dilakukannya sendiri pada senjatanya yang sudah menegak sempurna, sambil matanya terfokus pada sambungan video call dengan seorang wanita seksi tanpa busana, yang terlihat sedang memperagakan gerakan erotis yang memancing hasrat si pria muda itu, hingga pria itu terlihat sangat bernafsu. Lalu dengan bodohnya, Gwen malah diam terpaku dan ikut menonton aksi yang sedang dilakukan oleh pria muda itu dari balik lemari arsip. Hingga beberapa detik kemudian, Gwen baru tersadar dengan apa yang dia lakukan. "Astaga!" Gwen memekik di dalam hati sambil mengerjapkan mata, lalu mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Gadis itu baru tersadar akan kebodohannya, yang malah ikut terhanyut dalam suasana itu meski hanya untuk beberapa detik saja. Gwen lalu segera membalikkan tubuhnya secepat mungkin, dan bersiap untuk kabur. Gadis itu baru menyadari bahayanya jika dia sampai ketahuan mengintip oleh si pelaku mesum tadi. Tapi sialnya, saat Gwen hendak berlari, kakinya malah tersandung ujung lemari dan .... BRUGH! Gwen jatuh tersungkur dengan posisi menelungkup ke lantai gudang arsip yang penuh dengan debu. "Aww, shhh?" pekik Gwen, namun suaranya tertahan agar tidak menimbulkan kegaduhan. Sementara dari balik lemari arsip, pria muda yang sedang asyik melakukan aktivitas pemuasan hasratnya itu seketika terkejut saat mendengar suara benda terjatuh di sekitarnya. Pria itu lalu bergegas menyudahi aktivitasnya dengan tergesa-gesa, dan merapihkan kembali penampilannya sambil mengumpat kesal. "Argghh, sial! Padahal hanya tinggal sedikit lagi aku akan mencapai pelepasan!" umpatnya. Gwen yang panik karena kecerobohan yang sudah dia buat sendiri, kemudian berusaha bangkit dari posisi jatuhnya dengan segera. Tapi sayangnya Gwen terlambat. Karena ketika baru saja Gwen hendak berdiri, gadis itu sudah terlebih dahulu dikejutkan oleh sebuah telapak tangan yang mencengkeram bahunya dari belakang. "Mampus, aku!" gumam Gwen yang sekarang sedang meringis sambil memejamkan matanya saat merasakan ada tangan kekar yang sedang berusaha membalik tubuhnya. "Hey, apa yang sedang kamu lakukan disini?" geram pria muda itu tepat di hadapan Gwen hingga membuat Gwen tersentak. Karena sudah tertangkap basah, akhirnya Gwen memberanikan diri untuk membuka matanya lagi untuk menatap pria yang sedang menginterogasinya saat ini. "A-aku ...." "Apa yang sudah kamu lihat barusan?" selidik pria tampan itu dengan mata yang setajam mata elang. Nada bicaranya terdengar dingin dengan ekspresi wajah yang begitu datar. "Eng ... a-aku enggak, aku gak li-liat apa-apa!" jawab Gwen dengan terbata. Pria itu menatap lekat wajah Gwen yang sedang ketakutan, lalu menarik tangan Gwen agar gadis itu segera berdiri, hingga posisi mereka sekarang jadi saling berhadapan. Dengan tetap tidak merubah ekspresi wajah datar dan tatapan mengintimidasinya, pria muda itu kemudian maju satu langkah semakin mendekati Gwen yang posisinya jadi semakin tersudut ke sisi lemari arsip. "Jangan berbohong! Apa yang sudah kamu lihat tadi? Dan kenapa kamu bisa ada disini, hah?" desisnya sambil mengungkung tubuh Gwen pada sisi lemari arsip. Pria muda itu sungguh tidak menyangka bahwa akan ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan ini. Karena seingatnya, tidak pernah ada orang yang berani masuk ke sini selain dirinya. Gudang arsip ini memang mempunyai rumor angker yang beredar di kalangan para pegawai. Sehingga tak pernah ada seorang pun pegawai yang berani masuk ke dalam ruangan ini sendirian, tanpa meminta pendampingan kepadanya. Sebab itulah pria muda itu bisa memprediksi kapan ruangan ini akan aman untuk dia gunakan. Hingga dia bisa dengan santainya melakukan hal apa pun yang dia mau di sini. Tapi sekarang, Gwen si anak baru ini malah tiba-tiba saja muncul di ruangan itu, dan mengganggu kesenangannya. "Hai nona manis! Jawab pertanyaanku sekarang! Atau aku akan ...." Felix bergerak maju dengan senyum seringainya, hingga semakin mendesak tubuh Gwen ke sisi lemari, dan membuat Gwen harus sedikit mendongak untuk menatap wajah lelaki jangkung dengan iris mata coklat yang sekarang sedang berdiri di depannya dan mengungkung tubuhnya itu. "J-jangan, Felix ...." ***

Bab 2 Pria Luar Biasa

Beberapa jam sebelumnya .... Seorang pria paruh baya bertubuh gemuk, memasuki ruangan divisi HRD PT. Erlangga Mega Cipta dengan diekori oleh seorang gadis muda berwajah manis dengan kulit sedikit kecoklatan. "Selamat siang semuanya. Maaf jika saya menganggu waktu kerja rekan-rekan semua di sini. Saya ingin meminta perhatian kalian sebentar!" seru pria gemuk bernama David dengan suara baritonnya. "Mulai hari ini, kita kedatangan seorang karyawan baru yang akan bergabung menjadi bagian dari staf di divisi HRD ini. Perkenalkan ... namanya Gwen Alicia, nantinya dia akan membantu tugas kalian untuk mengolah data semua karyawan yang ada di perusahaan kita ini." David yang menjabat sebagai HR Manager, kemudian memperkenalkan Gwen yang sekarang baru memulai hari pertamanya di perusahaan itu kepada seluruh karyawan. Sedangkan Gwen sendiri, berdiri di samping sang Manager sambil tersenyum manis dan menyapa dengan anggukkan kepala pada seluruh karyawan yang ada di ruangan itu yang mayoritasnya pegawainya adalah para pekerja pria. Setelah itu sang Manager berbicara pada pria berkulit putih dengan wajah tampan, yang mejanya ada di hadapan David dan juga Gwen. "Felix, tolong bimbing dia sampai dia paham dengan semua pekerjaannya!" ucapnya pada pria tampan bernama Felix yang merupakan leader di tim divisi tersebut. Felix terlihat memperhatikan Gwen dari atas sampai ke bawah, kemudian dia tersenyum tipis ke arah Gwen dengan raut wajah yang sulit diartikan. Setelah itu Felix mengalihkan pandangannya lagi kepada David sambil menganggukkan kepala. "Baiklah Pak David, serahkan semuanya padaku!" ucap Felix, membuat sang Manager mengembangkan senyumnya. "Bagus! Bekerjalah dengan profesional, Felix!" balas David dengan tatapan mengintimidasi. Kemudian David mengedarkan pandangannya ke seluruh karyawan lain yang ada di ruangan tersebut. "Oh, iya, dan satu lagi! Saya ingin menekankan kembali kepada kalian semua yang ada di ruangan ini. Terutama kamu, Felix! Tolong jaga sikap dan mata kalian semua. Karena saya tidak mau sampai karyawan saya kabur lagi dari perusahaan ini, hanya gara-gara tingkah kalian yang konyol seperti sebelum-sebelumnya!" peringat sang Manager sambil menatap tajam pada seluruh karyawan laki-lakinya. Setelah itu, sang Manager memusatkan kembali perhatiannya pada Gwen yang masih berdiri di sampingnya. "Baiklah, Gwen Alicia ... meja kerjamu berada di sebelah sana." David menunjuk sebuah kubikel yang menempel ke dinding di samping meja Felix. "Selamat bergabung dengan kami, dan tunjukkan kinerja terbaikmu untuk perusahaan ini!" ucapnya lagi pada Gwen sambil tersenyum memberi semangat. "Baik, Pak David! Terima kasih. Aku pasti akan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan perusahaan." balas Gwen dengan anggukkan kepala dan senyuman manisnya. Setelah itu, sang Manager pun berlalu memasuki ruangan khususnya yang berada di sudut ruangan divisi HRD tersebut. Tapi sebelum menghilang dari balik pintu, David kembali menolehkan wajahnya pada Gwen. "Gwen, jika ada hal yang belum kamu mengerti atau kesulitan untuk kamu kerjakan, jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan pada dia, ya!" titahnya sambil menunjuk ke arah Felix yang sekarang sudah kembali fokus ke layar komputernya. Gwen mengangguk, kemudian gadis itu berjalan pelan menuju ke kubikelnya di paling ujung, yang telah ditunjukkan oleh atasannya tadi. Tanpa Gwen sadari, langkahnya menuju ke meja kerjanya itu diikuti oleh banyak pasang mata yang mengagumi kelebihan fisik yang dia miliki, terutama jika dilihat dari mata para kaum pria .... Singkatnya, pria normal mana yang tidak tertarik dengan fisik Gwen yang berwajah manis, bertubuh tinggi, dengan bagian dada dan bokong yang berukuran besar, namun tetap memiliki pinggang yang ramping? Fisik Gwen yang hampir sempurna bagaikan gitar spanyol itulah yang sering membuat dirinya selalu menjadi pusat perhatian para kaum pria dimanapun. Seperti sekarang ini, tatapan mata para kaum pria di ruangan itu yang masih belum juga terlepas dari Gwen yang bahkan sudah sampai di depan meja kerja barunya. Gwen mengembangkan senyumnya sambil menatap meja kerja di hadapannya yang masih terlihat kosong dan rapih. "Hhmmm, semoga tempat baru ini bisa bantu aku untuk ngalihin fokusku dari Arga ...," gumam Gwen dalam hati sambil membayangkan sosok sang kekasih yang menjadi alasan terkuatnya memutuskan untuk menjauh dari kehidupannya di kota asal. Gwen Alicia, wanita berusia 23 tahun yang berasal dari kota Bandung itu kini memilih untuk pindah ke ibukota Jakarta dan menjalani aktivitas barunya di kota besar ini. Gwen berharap, di tempat yang baru ini dia bisa mendapatkan jawaban dari segala kerisauan yang Gwen rasakan tentang kekasihnya. Setelah puas memandangi bagian meja kerja barunya, Gwen kemudian mengalihkan pandangannya pada sebuah kursi yang ada di sana. "Kursi baru, semoga aku betah duduk disitu!" kekeh Gwen. Tangan Gwen kemudian terulur untuk menggeser kursi tersebut ke belakang agar dirinya bisa duduk. Tapi tanpa diduga, tiba-tiba seorang pria yang berasal dari meja sebelah sudah lebih dulu berdiri dan menggeserkan kursi tersebut ke belakang untuknya. "Silahkan!" Gwen menoleh ke arah pria tampan yang memiliki alis tebal itu. "Terima kasih," balas Gwen sambil tersenyum. "Hanya itu ...?" Gwen mengernyitkan kening, dia tak mengerti dengan maksud pembicaraan dari pria tampan yang sekarang ada di hadapannya itu. "Maaf, maksudnya?" "Zaman sekarang itu tidak ada yang cuma-cuma! Aku membantumu bukan hanya menginginkan ucapan terima kasih darimu. Tapi aku juga ingin berkenalan denganmu, Nona Manis!" Seketika Gwen memutar bola matanya dengan malas. "Cowok itu dimana-mana sama aja!" cibir Gwen pelan, namun masih dapat didengar oleh pria yang kini ada di sampingnya. "Namaku Felix." Pria itu menyebutkan namanya sambil mengulurkan lengan berototnya yang tertutup kemeja navy pas badan, dengan bagian lengan yang digulung hingga ke siku kepada Gwen. Dan mengabaikan cibiran Gwen yang dia dengar tadi. Mau tak mau Gwen harus menyambut uluran lengan berotot milik Felix itu jika dia tidak ingin di cap buruk di hari pertamanya bekerja oleh rekan-rekan kerjanya yang lain. "Gwen Alicia, kamu bisa panggil aku Gwen, atau apa pun sesukamu!" jawab Gwen sambil menyambut uluran tangan Felix. "Oke, kalau begitu aku akan panggil kamu ... Baby, setuju?" goda Felix. "Maaf, sepertinya aku tadi salah bicara? Oke aku ralat, kamu bisa panggil aku siapa saja, asal masih ada hubungannya dengan namaku!" tegas Gwen. "Baiklah, Gwen Alicia, tadi kudengar kamu bilang kalau semua cowok itu sama saja. Bukankah begitu?" tanya Felix sambil menaikkan sebelah alisnya. Setelah itu Felix mendekatkan wajahnya ke telinga Gwen dan membisikkan sesuatu di sana. "Aku hanya mau bilang sama kamu, kalau aku tidak termasuk salah satu di dalamnya. Karena kalau saja kamu tau, aku itu sebenarnya sangat luar biasa ... hingga bisa membuatmu kehabisan nafas ...!" GLEK!

Bab 3 Cowok Mesum Bernama Felix

Gwen menelan ludahnya sendiri sambil berfikir tentang apa maksud dari perkataan Felix. Maksudnya, mengapa pria itu harus berkata seperti itu pada Gwen? "Ah, sepertinya memang ada sesuatu yang tidak beres dengan pria ini." Begitu pikir Gwen dalam hati. Gwen menatap Felix yang sedang tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya. Terlihat sekali wajah tampan Felix yang sekarang jadi nampak begitu menyebalkan di mata Gwen. Dan kesan pertama yang Gwen tangkap dari Felix adalah ... pria ini sangat tidak direkomendasikan untuk dijadikan sebagai teman, apalagi partner dalam bekerja. Sungguh pertemuan pertama yang buruk dan langsung membuat Gwen illfeel. Gwen menatap Felix dan hanya menanggapi perkataannya dengan senyuman sambil berkata. "Ahh, baiklah, Felix. Tapi sepertinya aku harus mulai bekerja. Permisi ...!" ucapnya sambil mengambil posisi duduk di kursinya yang tadi sudah disiapkan oleh Felix. Felix tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya karena merasa diabaikan, baru kali ini ada seorang wanita yang seperti tidak tertarik terhadapnya. Biasanya, Felix yang akan selalu dikejar-kejar oleh para wanita-wanita di luaran sana karena pesona yang dia miliki. Tapi Gwen ini sepertinya berbeda, karena dia justru malah terkesan menghindari Felix. Felix yang merasa harga dirinya sedang dipertaruhkan oleh wanita ini, kemudian memutuskan untuk mendekati Gwen ke samping mejanya sambil memperhatikan Gwen yang sedang sibuk menghidupkan komputernya untuk mulai bekerja. Tanpa Gwen sadari, posisi duduknya sekarang justru malah sangat menguntungkan bagi Felix, karena dari sana Felix bisa melihat dengan jelas pemandangan dua bukit kembar yang sedikit menonjol dari balik kancing kemeja ketat dengan kancing bagian atas yang sedikit terbuka di bagian dada Gwen. "Maaf, apa kamu tidak berniat untuk melanjutkan pekerjaanmu?" tanya Gwen yang merasa risih saat Felix tidak kunjung pergi dari mejanya, sambil mendongak menatap wajah Felix yang sedang berdiri. Felix terkesiap melihat leher jenjang Gwen yang terekspos sempurna di depan matanya. Hingga pria itu harus menelan ludah sebelum menjawab pertanyaan Gwen. "Aku tidak berminat melanjutkan pekerjaan, karena aku lebih tertarik untuk berdiri di sini. Kamu tau kenapa?" tanya Felix sambil membungkuk untuk memposisikan wajahnya di hadapan wajah Gwen. "Karena aku penasaran dengan bemper depan belakang berukuran besar yang kamu miliki!" ucap Felix setengah berbisik dengan menampilkan wajah nakalnya. Dan kata-kata yang baru saja Felix keluarkan dari mulutnya itu berhasil membuat Gwen seketika kehilangan fokus sambil mengangakan mulutnya tak percaya. Gwen menatap tajam ke arah Felix yang sedang tersenyum menyeringai puas. "Kamu ...." geram Gwen tanpa bisa melanjutkan kata-katanya. Baru kali ini Gwen bertemu dengan seorang pria yang mulutnya tidak mempunyai saringan sama sekali. Atau bahkan mungkin otaknya juga sama-sama tidak berfungsi. Sekarang Gwen sudah sangat ingin marah. Bahkan jika bisa, sekarang juga Gwen ingin menampar keras pipi Felix yang tadi sudah berbicara dengan sangat tidak sopan kepadanya. "Ini termasuk pelecehan, kan? Jadi halal, dong, kalo aku tampar aja cowok ini sekarang biar dia sadar?" gerutu Gwen dalam hati. Iya ... Gwen hanya bisa melampiaskan itu semua di dalam hatinya saja saat ini. Karena Gwen mengingat kembali statusnya di tempat ini yang hanyalah sebagai seorang karyawan, yang baru saja mulai bekerja beberapa menit yang lalu. Sehingga sangat tidak masuk akal jika detik ini Gwen harus merusak reputasinya hanya karena masalah ini. "Enggak deh, bisa terancam karir aku. Mulai aja belom!" keluhnya lagi dalam hati. Gwen yang masih merasa sangat tidak terima dengan ucapan Felix tadi, lalu mengarahkan telunjuknya ke arah pria itu dengan tatapan nyalang. "Kamu ... jangan fikir aku takut ya, sama pria ber-otak mesum kaya kamu!" ancam Gwen. Felix bertepuk tangan pelan sambil mengembangkan senyumnya. Jujur, Gwen adalah wanita pertama yang berani melawannya. Biasanya para karyawan baru wanita yang sudah-sudah, mereka akan langsung ketakutan dengan otak kotor yang Felix punya. Tapi ada juga beberapa wanita yang malah kegirangan dan justru segaja menawarkan tubuhnya pada Felix dengan terang-terangan seperti haus akan belaian saat digoda olehnya. Tapi Gwen berbeda, wanita ini terlihat tidak gentar sama sekali, dan juga tidak tergoda sedikit pun. Malah Gwen ini terkesan seperti menantang Felix tanpa takut. "Wow, boleh juga! Unik, dan cukup membuatku penasaran!" gumam Felix dalam hati sambil menyunggingkan sebelah bibirnya ke atas. Felix tersenyum yang Gwen sendiri tidak dapat mengartikannya. "Hei, Nona Manis! Aku rasa kamu bisa masuk dalam kriteriaku. Apa kamu mau ikutan mengantri untuk mendaftar jadi kekasihku?" Felix berbicara dengan percaya diri. Sementara Gwen menatap Felix dengan tatapan tak percaya sambil menggerutu dalam hati. "Bisa-bisanya ada manusia dengan model seperti ini?" "Bagaimana?" tanya Felix lagi dengan memberikan seringai di wajahnya. Membuat tingkat ketampanan di wajah Felix semakin meningkat beberapa level. Namun sayangnya, Gwen ternyata sama sekali tidak tergoda oleh pesona pria tampan dengan tingkat percaya diri sangat tinggi itu. "Tidak, terima kasih! Dan jika sudah tidak ada lagi yang mau kamu bicarakan, silahkan kembali saja ke meja kerjamu di sana!" ucap Gwen ketus. "Sayangnya aku tidak menerima penolakan! Jadi jawabanmu itu akan kuanggap sebagai penundaan. Jika nanti kamu berubah pikiran, silahkan hubungi aku di nomor ini!" ucap Felix dengan santai sambil menyimpan kartu nama miliknya di atas keyboard di meja Gwen. Setelah itu Felix berlalu dari hadapan Gwen dengan senyum menyebalkan, setelah sebelumnya mengarahkan pandangannya sekilas ke arah tubuh Gwen dari atas hingga ke bawah. Sekarang Gwen ingin sekali memaki pria tampan dan beralis tebal di hadapannya itu, tapi sayangnya Felix keburu jauh dan menghilang dari balik pintu ruangan. "Ishhh, sialan! Kenapa juga di hari pertama kerja ini, aku harus ketemu sama cowok mesum kurang ajar itu," gerutu Gwen yang akhirnya hanya bisa misuh-misuh sendiri di atas tempat duduknya. Kejadian di hari pertama ini cukup mengganggu konsentrasinya, hingga akhirnya Gwen jadi tidak bisa fokus bekerja. "Ya Tuhan, ini baru hari pertama. Lalu bagaimana caranya aku bisa bekerja dengan fokus jika nanti aku harus bertemu dengan pria mesum itu setiap hari?" ***

Lanjut baca