Amelia sudah menjalankan hidupnya bertahun-tahun dengan bekerja di kantor tinggi, sampai jabatanya menjadi manajer tetap saja dia tidak pernah merasakan kebahagiaan, dikarenakan memang standar hidupnya yang terlalu tinggi. "Amel, jalan ayo," ucap Ari ( seorang teman kantor Amelia). "Tidak Ari, gua lagi banyak kerjaan duluan aja ya," jawab Amelia. Ari merasa tidak puas dengan perkataan Amel, sampai akhirnya dirinya melakukan hal kasar kepada Amel, sontak petugas keamaanan membantu Amel. "Mba Amel, tidak apa-apa?" tanya satpam. "Tidak apa-apa pak, makasih ya udah tolong saya kalau gitu saya pulang dulu pak, sekali lagi terimakasih udah bantu saya," jawab Amelia. Satpam hanya senyum Amelia sontak menyimpan semua berkas yang dia buat, tidak lama dirinya ingin pulang hujan turun. "Duh, apes banget sih hidup gua! kenapa gua selalu apes ada aja yang buat gua apes!" gumam Amel kepada dirinya sendiri. Ada seorang anak kecil yang memberi Amelia payung, Amelia hanya terdiam tertegun melihat anak kecil yang baik. "Dek, berapa harga payungnya biar kakak bayar ya," ucap Amelia. "Tidak usah kak, aku iklas kok kasih kakak kalau gitu aku permisi kak," jawab anak kecil. "Loh, kasihan dia kehujanan duh malah udah jauh lagi, yaudah deh nanti kalau ketemu lagi gua bayar makasih ya dek, berkat kamu hidup kakak tidak apes-apes banget," ujar Amelia. Amelia sampai rumah dengan mobilnya yang ia tabung selama ia kerja, dengan bersin-bersin dirinya masuk kerumah. "Huft, kadang mikir kalau gua punya suami mungkin tidak ya suami gua selalu ada buat gua dan dia buatin gua teh hangat lalu masakin gua," gumam Amelia. Amelia sontak mengeleng kepala sembari menepuk pelan kedua pipinya, dengan tidak boleh berharap dari oranglain hanya dirinya sendiri yang dapat di andalkan. "Gua bicara apa sih, mana ada pria kayak gitu di dunia Amel! ingat yang sayang sama lu cuman diri lu sendiri, bahkan orangtua lu aja tidak sayang lu, mereka sayang lu ketika lu ada uang ingat! yang bikin lu bahagia itu cuman uang dan diri lu sendiri tidak ada yang lain pft," tegas Amel kepada dirinya sendiri. Mendadak Amel merasa sakit hati saat berkata demikian, dirinya tidak habis-habis menanggis sampai akhirnya ia memilih untuk berhenti daripada di lanjutkan menanggis. "Udah-udah jangan nangis, lebih baik gua istirahat sekarang setelah itu besok pagi kerja dan mencari uang lagi yang banyak biar orang-orang tau, gua baik-baik aja!" ucap Amel dengan semangat. Kebesokan paginya saat ingin bekerja badan Amel panas dan suhu derajat bandanya 38 tidak bisa bekerja tetapi dirinya tetap kekeh untuk bekerja. Saat di jalan dirinya antara ngantuk dan lemes, tanpa sadar ia menabrak seorang pejalan kaki. Bruk. Amel sontak turun dari mobil dengan jalan sempoyongan, pria itu memarahinya tanpa sadar saat bangun dirinya sudah ada di rumah sakit, Amel bingung mengapa dirinya ada di sini, saat melihat sekitar ada pria ganteng. "Halo, kamu yang bawa saya ke sini?" tanya Amel dengan masih lemes. "Iya, tadi kamu nabrak saya tapi malah kamu yang pingsan, udah tau sakit! masih maksa pakai kendaraan untung kamu tabrak saya! kalau kamu tabrak orang lain gimana?" ketus pria itu. "Iya maaf, nanti saya akan ganti semua ganti ruginya ya, kamu tenang aja," jawab Amel. "Saya tidak butuh, saya cuman mau kamu membuat kesepakatan sama saya," ujar pria itu. Pria itu mendekatkan bibirnya ke arah telinga Amel, Amel yang masih setengah sadar hanya diam dan menurut pada pria itu. "Kamu jadi istri saya! saya akan maafin kamu," tegas pria itu. "Kamu emang siapa? kamu itu tidak ada hak ngatur hidup saya, hidup saya ya saya yang atur kamu tidak bisa ngatur," pekik Amel. "Emangnya aku seburuk itu ya sampai kamu tidak mau terima saya, di luar sana banyak wanita yang mengejar saya, tapi saya tidak mau saya malah kepincut sama wanita kayak kamu walau kamu kasar, tapi saya suka," ujar pria itu. "Ck! saya tidak suka pria! jadi berhenti untuk membujuk saya menikah dengan kamu!" jerit Amelia. Amelia terus melihat kanan dan kiri untuk meminta bantuan agar ada yang membantunya, tidak lama pria itu merasa kesal seketika pria itu mendekatkan dirinya kepada Amelia. "Saya akan bikin kamu suka sama pria, dengan cara ini!" tegas pria itu. Pria itu sontak mengecup Amelia sampai Amelia hampir kehabisan nafas, Amelia sontak mendorong pria itu dan mengelap mulutnya dengan lengan bajunya, pria itu hanya senyum dan merasa. "Manis bibir kamu, mungkin saya suka bagaimana, udah bisa kan suka sama saya?" tanya pria itu. Amelia menampar pria itu sampai dirinya merasa puas, pengawal masuk ke dalam ruangan itu sontak, pengawal mencoba menahan kedua tangan wanita itu agar tidak memukul presdirnya. "Presdir tidak apa-apa," ucap pengawal. "Tidak apa-apa tapi jaga wanita ini dengan baik, saya mau oles obat dulu untuk di tampar selanjutnya dengan wanita miliku," tegas pria itu. Pria itu berbalik dan membuat Amelia merasa dalam mimpi buruk tidak lama, pengawal memanggil nama pria itu. "Presdir Fred, harus kita apakan wanita itu," ucap pengawal. Suara semangkin mengecil karena Fred keluar dari ruangan Amelia, saat Amelia tau namanya Amelia membuat perhitungan denganya, tidak lama Fred kembali lagi keruangan Amelia. "Hmm masih tidur aja ini wanita! dia udah makan belum ya?" kata Fred yang khawatir kepada Amelia. Fred pegang jidat Amelia, Amelia tiba-tiba menginggau merasa dirinya sedang di tempat yang tidak dapat ia gapai dan mengenggam erat tangan Fred. "Sebenarnya apa yang udah dia lakuin dan kenapa dia tidak suka sama pria apa semua ini, karena masa lalu dia yang kejam dan tidak adil," ucap Fred dalam hati. Fred keluar dari ruangan serta memanggil pengawalnya, pengawalnya mendekat kepada Fred, dengan muka tatapan datarnya. "Pengawal, cari tau tentang wanita itu dan selalu awasi dia, jangan sampai dia kabur kalau dia kabur, kalian harus cari dia kemanapun, sampai dia seluk beluk tingkungan ini, mengerti!" perintah Fred. Pengawal hanya diam dan merasa presdir Fred menyukai wanita ini, dulunya ia tidak pernah mencintai wanita sampai seperti ini, tiba-tiba melihat sikapnya menjadi lembut dan banyak ketawa serta bengong, wanita ini pasti berarti untuk presdir. Fred sampai dirumah dan kedua orangtuany datang di waktu yang tepat, Fred hanya menghela nafas tanpa berkata apa-apa saat Fred ingin ke kamar, di tahan oleh pengawal orangtuanya dan terpaksa duduk di ruangan yang sama.
"Mama sama papa mau bahas apa," kata Fred sembari meminum teh. "Kapan kamu menikah umur kamu udah pas, sebenarnya kamu menyukai perempuan tidak sih! mama ragu dan curiga kalau kamu itu suka sama sesama kamu!" pekik mama dengan kesal sembari mengepal tangan. "Kalau Fred memang suka dengan sesama Fred kenapa, kan mama sama papa udah bukan orangtua kau dan kayaknya semenjak Fred berumur 12 tahun sudah memutuskan untuk keluar rumah, kenapa sekarang mama dan papa baru peduli dengan Fred, apa Fred sepenting itu untuk keluarga," ujar Fred dengan senyum sombongnya. Plak. Papanya menganyunkan tangan dan mendarat ke arah pipi Fred, Fred hanya diam sudah terbiasa dengan situasi ini sontak Fred hanya senyum. "Kayaknya aku emang tidak pernah berubah di mata papa, bagi papa aku hanya anak kecil yang cuman bisa manja tanpa berusaha apa-apa, kalau gitu aku permisi pa dan ma jangan pernah cari aku lagi, anak kalian bukan cuman aku," tegas Fred. Fred pergi dari situ dan balik kerumah sakit untuk menenangkan dirinya, sontak papa Fred mangkin kesal dengan Fred. "Anak itu semangkin di biarkan semangkin menunjak dan menginjak harga diri kita sebagai orangtuanya!" pekik papa Fred. "Pa, sabar Fred memang benar kita sudah membuang dia waktu dia berumur 12 tahun, pantas saja kalau dia merasa kesal dan marah," ujar mama Fred. "Walau bagaimanapun aku mendidik dia dengan cara yang benar, agar dia tidak menjadi pria yang lembek aku benci dia menjadi pria lembek!" jerit papa Fred. Mama Fred hanya bisa menghela nafas melihat tingkah papa Fred yang keras kepala sama kayak Fred, walau bagaimanapun mereka berdua adalah anak dan papa yang satu darah seperti cermin, tidak ada bedanya. "Presdir Fred," ucap pengawal. "Tinggalkan saya, saya mau bersama wanita ini aja, hanya dia yang bisa membuat saya tenang, kamu pulang saja nanti kalau saya butuh saya akan panggil kamu," kata Fred dengan nada lelah. Fred masuk ke dalam ruangan, pengawal hanya diam tidak bisa berkata apa-apa kalau sekali presdir bertindak semuanya hanya bisa diam, tanpa suara. Tuk tuk tuk. Langkah kaki Fred yang menghampiri Amelia, Amelia selalu takut dengan suara langkah kaki teringat waktu dulu dirinya, di jebak oleh sang mantan kekasih, Amelia sontak bangun dan histeris, Fred sontak mendekap Amelia dengan suara lembutnya yang di pukul Amelia. "Tenang ada aku, aku tidak bakal sakitin kamu," ucap Fred dengan nada lembut yang membuat Amelia menjadi enggan untuk melepaskan dirinya. "Kamu, kenapa baik sama aku bukannya kamu baru kenal aku," jawab Amelia. "Aku tidak tau kenapa tapi aku ngerasa, aku nyaman aja sama kamu dan aku rela menghabiskan semasa hidup aku bersama kamu," ujar Fred. Amelia yang mendengar itu hanya tertawa tidak lama Amelia menepuk kedua pundak Fred, sembari mendekatkan wajahnya kepada Fred. "Aku aja baru kenal kamu, gimana kamu bisa suka aku dan nyaman emang kamu tidak takut rugi sama aku?" tanya Amelia dengan mengoda Fred. "Kamu mau apa? uang, rumah, semua bisa aku kasih asal kamu mau jadi istri aku, aku hanya bisa merasakan cinta sama kamu tidak sama wanita lain," jawab Fred. Amelia yang mendengar perkataan Fred mirip sekali dengan mantan kekasih yang pernah meninggalkannya dulu, Amelia sontak mendorong Fred. "Pergi! semua pria itu sama aja, karena itu aku tidak akan bisa suka dengan pria, karena pria itu cuman bisa berbohong, setelah wanita masuk ke dalam sangkar mereka, mereka perlahan meninggalkan wanita itu, betapa jahatnya para lelaki kejam itu!" pekik Amelia. Fred tidak mengerti kenapa Amelia sepertinya benci banget dengan laki-laki hal apa, yang bisa membuat Amelia mencintai dirinya tanpa harus di paksa olehnya. "Iyaudah kalau kamu merasa semua pria sama aja, aku akan buktiin ke kamu kalau aku berbeda dan jangan samain aku dengan pria lain, aku akan buktiin ke kamu kalau aku benar-benar tulus dengan kamu," ujar Fred. Amelia hanya diam dan membuang muka dari hadapan Fred, tidak lama Fred hanya duduk diam sembari menunggu makanan Amelia datang. "Permisi, ini makanan untuk pasien," ucap perawat. "Makasih sus, biar saya aja yang kasih istri saya makan," jawab Fred. Perawat hanya diam sembari senyum, tidak lama setelah menaruh makanan Amelia terus menghadap lain tanpa melihat ke arah Fred. "Ini, makan jangan bikin gua marah kalau gua tidak makan tidak apa-apa jangan lu, gua gamau lu sakit kalau lu sakit gua ngerasain tapi kalau gua sakit, lu tidak ngerasain," ujar Fred dengan nada lembut. Amelia bingung dengan Fred mengapa Fred selalu baik dan memaksanya untuk makan, kalau pria lain hanya menginginkan tubuhnya dan pergi dari hadapannya. "Makan, gua suapin kalau emang tidak bisa makan sendiri," ucap Fred. Amelia hanya menurut kepada Fred, sembari itu Fred hanya tersenyum saat Amelia menurut kepadanya, tanpa sadar Amelia melihat pria ini tersenyum karena dirinya, andai aja dia dan Amelia ketemu lebih awal. "Oh ya, nama lu Fred kan?" tanya Amelia. "Iya sayang, nama aku Fred kenapa," jawab Fred. Amelia sontak mengerutkan dahi saat Fred mengubah nada bicaranya, selayaknya dirinya ada miliknya dan bukan baru pertama kali bertemu, tapi Amelia tidak peduli dan tetap saja memikirkan apa yang harus dia lakukan. "Hmm, kenapa lu bantuin gua?" tanya Amelia. "Karena gua suka sama lu pertama kali kita ketemu, mau nanya apa lagi," jawab Fred. Amelia merasa tidak mungkin emang ada cinta yang seperti itu, walau tidak masuk akal tapi sedikit menghibur Amelia, sontak Amelia tertawa kecil mendengarnya Fred yang melihat itu sontak mengecup Amelia. Amelia terkaget dan hanya diam, saat Fred melepaskan kecupan tersebut Amelia menarik dasi Fred ke arahnya lalu membalas kecupan tersebut. "Sekarang, kamu udah bisa terima aku," kata Fred dengan nafas terengah-engah. "Belum, ternyata kamu bukan tipe aku jadi lebih baik, kita udahin aja semua ini aku akan bayar kamu dua kali lipat dari kamu bayar aku, gimana," ucap Amelia. Fred merasa wanita ini menarik walau awalnya Fred merasa kesal, tapi sesekali memainkan permainannya tidak salah. "Aku tidak mau dua kali lipat, tapi aku mau sepuluh kali lipat, baru aku setuju di bayar besok gimana?" ajak balik Fred. Amelia yang mendengar sangat kesal namun dirinya tidak ada pilihan selain menyutujui itu, Fred berharap Amelia akan menyerah dan menjadi istrinya ternyata tidak semudah itu. Fred keluar dari ruangan Amelia dan tersenyum, pengawal yang melihat itu hanya diam menghampiri Presdir Fred.
"Presdir," panggil pengawal. "Iya, ada apa? Loh kamu belum pulang kan saya sudah suruh kamu pulang, kenapa kamu masih di sini, ada urusan apa," ucap Fred. "Maaf Presdir saya tidak bisa meninggalkan Presdir begitu saja, apalgi sekarang banyak mata-mata dari orangtua Presdir, orangtua Presdir tidak terima karena perlakuan Presdir kemarin," ujar pengawal. "Bilang ke mereka, saya udah punya calon istri jadi berhenti untuk mengikuti saya dan anggap saya udah tidak ada dan jangan cari saya lagi!" perintah presdir Fred. Fred pergi dari arah itu masuk ke dalam mobilnya, setelah makan yang di beri oleh pengawalnya, Fred kembali keruangan Amelia yang tidak ada di ruangan. "Pengawal! cari Amelia sampai ketemu," perintah Presdir Fred. "Baik Presdir," ucap pengawal. Pengawal sontak bergegas mencari Amelia, saat Fred ketemu ternyata Amelia sedang berbicara dengan anak kecil, Fred yang melihat itu bingung dan cemburu akan anak kecilnya, saat anak kecil itu bisa tersenyum karena perbuatan Amelia, hati Fred berdegub kencang. "Ada apa sih sama jantung gua, gua baik-baik aja kan, gua harus cek ke dokter jantung," ucap Fred. Saat di ruangan cek jantung, jantung Fred baik-baik saja tidak ada yang aneh, sontak dokter hanya senyum sembari melihat ke arah Fred. "Itu namanya detak cinta, kalau yang berhubungan sama cinta pasti akan begitu tanpa sadar," ucap dokter yang mengoda Fred. Fred terdiam sontak keluar dari ruangan tidak lama Amelia melihat ke arah Fred, sontak Fred menjauh dari Amelia lalu Amelia bingung ada apa. "Lu kenapa? baik-baik aja kan, kok jadi jauh kayaknya kemarin yang dekatin gua terus lu deh, kenapa jadi lu yang menjauh," ucap Amelia. Fred tetap menjauh dari Amelia, Amelia bingung ada apa dengan Fred, sontak Fred masuk ke dalam mobil pengawal melihat ke arah Fred. "Pulang! ke kantor! saya tidak mau ke sini, urusan kantor lebih penting minta pengawal lain yang jaga Amelia kalau dia tanya saya, bilang saya sibuk!" perintah presdir Fred. Pengawal hanya diam dan menghela nafas jelas-jelas itu gejala jatuh cinta, tapi presdir masih tidak nyadar akan hal itu, selama mengabdi bersama presdir tidak pernah liat presdir segitunya sama wanita. Saat rapat presdir terus melihat ke arah handphonenya dan semua pegawainya merasa kaget melihat presdir sedari tadi melihat handphone. "Nyonya Amelia sedang main di ruangan anak kecil," ucap pengawal. Pengawal mengirim foto Amelia bermain dengan anak kecil, presdir tersenyum sontak melanjutkan rapat, selesai rapat presdir pergi dengan cepat ke ruanganya. "Hmm, kangen wanita itu tapi setiap liat wanita itu jantungnya terasa ada yang aneh ada apa dengan jantung ini," ucap Fred. Amelia terus bermain dengan anak kecil itu, sembari menunggu Fred walau Fred aneh terkadang, kehadirnya bisa membuat Amelia merasa di sayang saat ada dirinya. Tidak lama selesai main sama anak kecil itu Amelia balik ke ruanganya saat di ruanganya, Amelia kaget melihat ada Fred sontak Amelia mendekap Fred, pengawal yang melihat itu merasa dirnya hanya penganggu dan buru-buru keluar dari ruangan, Fred hanya tersenyum. "Kamu kenapa Amelia?" tanya Fred. "Aku senang kamu datang, aku kira kamu tidak mau liat aku lagi," ucap Amelia. "Kata kamu, aku bukan tipe kamu kenapa kamu berharap aku datang, apa kamu udah setuju dengan status pernikahan kita," ujar Fred. Amelia yang awalnya mendekap erat, sontak melepas dengan pelan tetapi di tahan oleh Fred, wajah mereka berdua bertemu dengan jarak yang cukup dekat Fred mengecup Amelia. "Amelia, aku sayang kamu dan aku tidak bakal lepasin kamu walau kamu tidak bisa cinta sama aku," tegas Fred. Amelia hanya diam tidak bisa berkata apa-apa, ketakutannya akan pria masih belum pulih tapi bersama Fred mungkin akan pelan-pelan terlupa. "Aku terlalu cepat ya melakukan semuanya, maaf ya aku tidak akan ngelakuin itu lagi, kalau gitu aku akan pergi dari hadapan kamu sayang," ucap Fred. Amelia menahan tangan Fred, sembari itu Fred melihat ke arah Amelia dan pegang kedua wajah Amelia dengan senyuman penuh tulus. "Aku tidak bakal maksa kamu, kalau kamu tidak bisa karena kemauan kamu adalah hal yang penting untuk aku," ujar Fred. "Ini bukan salah kamu, ini semua salah aku, aku pernah di sakitin sampai aku takut untuk kembali mencintai kadang aku mikir hidup aku tidak layak di cintain orang sebaik kamu, Fred," kata Amelia. "Kamu bicara apa sih, kamu ini wanita baik emang apa kejelekan kamu sampai aku tidak pantas untuk kamu," ungkap Fred. Amelia hanya diam dan menundukan kepalanya ke arah bawah, takut suatu saat Fred akan menjauhinya ketika tau suatu rahasia kelamnya. "Aku pernah di lecehkan dengan mantan kekasihku sendiri dan ditinggal serta aku di selingkuhi, karena dari itu aku tidak pernah bisa percaya dengan pria maaf kalau aku memperlakukan kamu sama, karena kenyataanya seperti itu," kata Amelia. "Aku akan membuat laki-laki itu membayar apa yang dia lakukan kepada wanita aku, kamu tenang aja aku akan bawa dia ke sini dengan pengawasan aku, sampai dia berani nyentuh kamu sedikit aja, jangan harap dia masih punya tangan pada saat itu," ungkap Fred. Amelia yang mendengar itu sontak senyum dan Fred bingung ada apa, tidak lama Amelia mengalungkan tanganya ke leher Fred. "Makasih ya walau aku baru ketemu kamu, tapi aku ngerasa kamu bisa di andalin maaf kalau aku kasar di awal sama kamu, ketakutan aku akan pria selalu begitu besar sampai-sampai aku tidak gampang percaya dengan pria," ujar Amelia. "Aku tidak apa-apa kok, aku malah mau tau kamu kenapa, ternyata karena pria yang tidak ada otak itu yang buat kamu benci akan pria, kalau aku lebih dulu kenal kamu mungkin semuanya akan indah, maaf ya sayang aku telat kamu tidak marah sama aku kan sayang," tutur Fred. "Tidak, malah aku terimakasih sama kamu, kamu udah datang dengan cepat kecelakaan mempertemukan kita lebih cepat, aku bersyukur dengan kecelakaan itu," ujar Amelia. Keduanya hanya diam dan tersenyum sontak, pengawal mengirim foto kepada orangtua Fred, tidak lama orangtua Fred kaget merasa apa benar itu wanita Fred atau hanya wanita yang di bayar Fred seperti sebelumnya. "Pa, ini benaran Fred kan berarti dia normal dong, kenapa papa bilang dia suka sesama," ucap mama Fred. "Papa tidak pernah bilang gitu, dia yang bicara begitu memang anak yang kurang ajar!" pekik papa Fred. Papa tidak akan tinggal diam karena dirinya selalu mau yang terbaik untuk anaknya Fred, walau Fred anak terakhir dirinya tetap di sayang di keluarganya sedangkan kedua kakak prianya, berharap dia menghilang saja dari dunia.