Wanita Bercadar Itu Istriku
Bab 1 1. Ta'aruf.

Seorang wanita bercadar tengah mengajar anak-anak di musholla. Namun kehadiran Pamannya membuatnya terkejut. Pasalnya, Pamannya tidak pernah menemuinya saat sedang mengajar. "Assalamualaikum Zafirah, bisakah kamu pulang sebentar?" ucap sang Paman. "Wa'alaikumsalam, Paman ada apa?" "Bisakah, anak-anak kamu pulangkan lebih awal? Ada yang ingin Paman bicarakan denganmu," "Baiklah, Paman. Tunggu sebentar," "Kalau begitu, Paman pulang dulu. Assalamualaikum!" "Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatu, hati-hati Paman!" "Iya Zafirah, kamu juga hati-hati!" Zafirah memulangkan anak didiknya lebih cepat sesuai keinginan Pamannya. Rasa penasaran yang membuatnya semakin mempercepat langkah kakinya menuju tempat tinggalnya. Jarak musholla ke rumah hanya di tempuh lima belas menit. Sesampaimya di depan rumah sederhana, Zafirah di kejutkan dengan adanya mobil mewah terparkir di depan rumah Pamannya, membuatnya semakin penasaran. "Assalamualaikum Paman, Zafirah pulang!" Langkah Zafirah terhenti ketika melihat seorang pria berbaju Koko putih dan celana hitam. "Wa'alaikumsalam, kamu sudah pulang, Nak? Duduklah di samping Paman!" "Assalamualaikum Zafirah, apa kabar?" "Wa'alaikumsalamsalam?" Zafirah menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Nak Zafirah, apa kamu tidak mengenali pria yang berada di hadapanmu?" Paman yang mengerti jika, Zafirah tidak akan menatap lawan jenisnya hanya menundukkan wajahnya. Zafirah menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, bahwa dia tidak mengenali pria di depannya. "Nak dia adalah Zaki, teman kamu waktu di pesantren. Apa kamu lupa? Coba kamu lihat!" Zafirah mengangkat wajahnya, mata mereka saling mengunci sesaat. Mereka menyadari jika bukan mahromnya, dengan cepat mereka saling melempar pandangan ke arah lain, dengan mengucap istighfar. "Apa sekarang kamu sudah ingat siapa dia?" tanya sang Paman. "Iya Paman, kak Zaki apa kabar?" "Alhamdulillah, kabar kakak baik. Bagaimana kabarmu Zafirah, lama kita tidak bertemu," "Alhamdulillah kak, kabar Zafirah baik. Kapan kakak kembali dari Kairo?" "Seminggu yang lalu. Zafirah, Paman, ada yang ingin aku sampaikan pada kalian," Zafirah saling pandang dengan sang Paman, mereka tidak tahu apa yang akan di katakan oleh Zaki. "Apa yang ingin Nak Zaki sampaikan pada kami?" tanya Paman pada Zaki. "Begini Paman, Zafirah. Niat dan maksud kedatangan saya ke sini ingin Ta'aruf Zafirah," Zafirah dan Paman kembali saling pandangan, mereka tidak menyangka jika Zaki datang untuk Ta'aruf Zafirah. Begitu pula dengan Zafirah yang terkejut dengan ucapan Zaki. "Nak Zaki, semua keputusan ada di tangan Zafirah, Paman hanya mengikutinya saja. Zafirah bagaimana pendapatmu?" "Bismillah, Zafirah mau Paman," sahut Zafirah, tidak semudah Zafirah menerima ta'aruf dari Zaki. Selama ini mereka saling kenal, walau pada saat di pesantren mereka tidak saling mengenal secara pribadi. Tetapi, mereka hanya bertemu berapa kali dalam acara pesantren dan hal itu tidak di sengaja. "Alhamdulillah, nak Zaki. Bawa saudaramu kemari!" "Baik Paman, dua hari lagi saya akan menikahi Zafirah. Saya akan datang lagi bersama abang dan rombongan, tidak perlu menyiapkan apapun karena saya akan menyiapkan semuanya. "Baiklah, Zaki minumlah dulu! Zafirah, Paman ke dalam dulu, kalian pasti ingin mengatakan sesuatu tanpa ada Paman," "Tidak ada Paman!" "Tidak ada Paman!" Mereka saling mengucapkan kata-kata yang sama. Mereka tidak ingin berdua di ruangan yang sama. Mereka tahu batasan. "Bicaralah, Paman mengerti kalian pasti ingin mengatakan sesuatu. Bukankah kalian sudah lama tidak bertemu?" "Paman mengerti kalian bisa membatasi diri kalian," lanjutnya. Paman meninggalkan ruang tamu, kini baik Zafirah dan Zaki saling diam. Tidak ada yang memulai obrolan sehingga Zaki yang berinsiatif memulai obrolan terlebih dulu. Tanpa menatap wajah Zafirah, Zaki memulai membuka pembicaraan mereka. "Zafirah, sebaiknya kita keluar. Rasanya tidak enak, jika kita berdua di ruangan ini, meskipun pintu terbuka," "Iya kak, silakan!" Zafirah mengikuti langkah Zaki dari belakang menuju teras rumah. Mereka tetap dengan batasan tanpa saling berhadapan, dan tanpa duduk berdampingan. "Zafirah apa kamu benar-benar menerimaku?" "Insya Allah, Zafirah menerima kak Zaki," "Alhamdulillah, terima kasih Zafirah. Dua hari lagi aku akan menikahimu. Aku akan datang bersama Abang," "Maaf kak Zaki, apa boleh Zafirah bertanya?" "Tentu Zafirah, tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan. Insya Allah, aku akan menjawabnya," "Apa nanti setelah menikah, kak Zaki akan melarang Zafirah mengajar di musholla lagi?" "Tidak Zafirah, aku tidak akan melarangmu untuk mengajar. Sebaliknya aku akan bahagia jika kamu terus mengajar, teruslah memberikan ilmu untuk anak-anak," "Terima kasih kak," "Hanya itu yang kamu tanyakan? Tidak ada lagi yang kamu tanyakan padaku?" "Tidak ada kak," " Baiklah, aku pergi. Salam untuk Paman. Assalamualaikum," "Wa'alaikumsalam." Zaki meninggalkan Zafirah yang masih berdiri memandang kepergian mobil mewah yang di kendarai Zaki. Dirinya mengerti, jika Zaki adalah putra kedua dari pemilik perusahaan ternama di kota. Meski ada ragu, namun Zafirah menepis keraguan dihatinya. Dirinya takut jika Abang dari Zaki tidak merestui mereka. Zafirah masuk ke dalam rumah, dan menunaikan shalat ashar. Sang Paman yang berniat memanggil Zafirah mengurungkan niatnya, saat melihat sang keponakan tengah menjalankan Salat. Usai melaksanakan salat, Zafirah berdoa memohon kepada pemilik kehidupan. Namun, dalam doanya bayangan wajahnya bukanlah Zaki melainkan seseorang yang tidak pernah ia temui sebelumnya. "Astaghfirullah, wajah siapa dia? Ya Allah, bertanda apa ini?" Hati Zafirah semakin tidak karuan, berapa kali dirinya berdoa. Namun, lagi-lagi wajah asing itu yang dia lihat dalam doanya. Berusaha untuk mengabaikan, tetapi bayangan itu terus saja menganggunya. "Zafirah, apakah kamu sudah selesai salat? Ada yang ingin Paman katakan padamu?" Suara Paman membuat Zafirah mendongakkan wajahnya. Sikapnya kembali tenang, meskipun hatinya gelisah dengan bayangan wajah asing dalam doanya. "Sudah Paman, masuklah," Paman memasuki kamar Zafirah. Duduk di atas tempat tidur Zafirah. "Apa kamu masih melanjutkan doa Zafirah?" "Tidak, Zafirah Sudah selesai Paman. Apa yang ingin Paman katakan pada Zafirah?" "Zafirah, berdoalah pada Allah mintalah petunjuknya jika Zaki jodohmu. Agar Allah memudahkan urusanmu dengannya," "Iya Paman, tapi—" "Tapi apa Zafirah?" "Eem, itu Paman," "Katakan ada apa?" "Itu Paman, saat Zafirah memohon petunjuk, kenapa bukan wajah kak Zaki yang terlihat. Melainkan wajah yang tidak pernah Zafirah lihat sebelumnya. Tanda apa ini Paman?" "Sudah jangan berfikir yang tidak-tidak, ingat dua hari lagi kamu akan menjadi istri Zaki," "Tapi Paman bayangan wajah itu—" "Sudah! Sekarang kamu mandi lihat sebentar lagi menjelang magrib. Bahkan kamu tidak ingat waktu jika sekarang sudah mendekati Maghrib. Itu artinya kamu berdoa sudah lebih dari dua jam Zafirah!" "Iya Paman, Zafirah lupa belum menyiapkan makan malam Paman. Sebentar, Zafirah menyiapkan dulu sebelum mandi," "Tidak perlu Zafirah! Nak Zaki membawa beberapa makanan dan lauk untuk kita makan malam. Sebaiknya kamu mandi dan salat Maghrib, setelah itu kita makan malam bersama!" "Baik Paman," Ferdi adalah paman satu-satunya yang Zafirah miliki di dunia ini, setelah kedua orang tuanya meninggal. Tujuh tahun yang lalu, Ferdi yang mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya, mobil yang di kendarainya terperosok ke dalam jurang karena cuaca yang pada saat itu hujan lebat. Jalan menuju rumah orang tuannya masih bebatuan ban mobilnya tiba-tiba tergelincir, naas mobilnya jatuh ke kiri jalan yang tidak lain jurang yang curam, anak dan istrinya meninggal di tempat, sedangkan dirinya hanya mengalami luka ringan. Setelah kejadian naas itu, Ferdi memutuskan membesarkan Zafirah. Meskipun harus memasukannya ke pesantren, karena dirinya masih syok anak dan istrinya meninggal di depan matanya. Setelah kelulusan Zafirah, Ferdi yang menginginkan Zafirah melanjutkan ke perguruan tinggi namun selalu di tolaknya. Zafirah memilih menjadi guru di kampung halamannya. Dengan ilmu yang ia dapatkan saat di pesantren, Zafirah memulai mengajar di salah satu mushalla di kampung. "Assalamualaikum, Zafirah," Ferdi yang baru kembali dari musholla menghampiri keponakannya, yang tengah menyiapkan makan malam. "Wa'alaikumsalam Paman, sudah pulang?" "Zafirah, Paman sangat bahagia, kamu akan menjadi pengantin seorang pria yang tidak di ragukan lagi. Pria yang akan menjadi imammu sangatlah baik akhlaknya, dan ilmu agama yang insyaallah tidak di ragukan lagi. Paman percaya, nak Zaki bisa menjagamu nanti dan memperlakukan dirimu dengan baik," "Kenapa Paman bicara seperti itu? Apa paman sangat setuju Zafirah menikah dengan kak Zaki?" "Iya, Paman sangat bahagia jika kamu menikah dengannya. Kamu adalah wanita yang beruntung, mendapatkan laki-laki yang mengerti agama seperti nak Zaki, Paman yakin kamu akan lebih baik dalam Agama," "Amin Paman, semoga Allah mengambulkan dan melancarkan segala urusan kita," "Amin, semoga Allah mengabulkan doamu, sayang. Ayo kita makan, Paman sangat lapar, sepertinya lauknya enak," "Iya Paman, biar Zafirah ambilkan," Setelah membaca doa mereka menikmati makan malam tanpa bicara. Acara makan malam selesai, Ferdi kembali ke kamar, saat keluar terlihat Zafirah tengah menyiapkan tugas untuk esok hari. "Zafirah, ini adalah milik orang tuamu ambillah," "Apa ini Paman?" "Bukalah, nanti kamu akan mengetahuinya," Zafirah membuka kotak berukuran sedang dengan tangan bergetar, air mata Zafirah tidak lagi terbendung saat melihat isi kotak. "Paman ini—" Tangis Zafirah semakin kencang setelah mengetahui orang tuanya meninggalkan perhiasan dan buku tabungan yang tidak ternilai jumlahnya. Tubuhnya bergetar, tidak menyangka sang Paman menyimpan barang milik orang tuanya. Bahkan, tidak sepeserpun Paman memakai uang peninggalan orang tuanya. "Zafirah, baca surat itu!" Zafirah membuka surat yang berada di bawah kotak perhiasan. Tubuhnya semakin bergetar dan tidak berapa lama tubuhnya ambruk tidak sadarkan diri. ***

Bab 2 Takdir Allah Tidak Mungkin Salah.

Sehari sebelum pernikahan, tidak seperti gadis pada umumnya yang akan menikah. Di kediaman Ferdi. Paman Zafirah, terlihat tidak ada aktivitas apapun, Zafirah tidak menginginkan adanya pesta dalam pernikahannya. Namun dirinya menginginkan pernikahan yang sederhana, hanya ada keluarga dan para tetangga dan kehadiran anak didiknya. Seperti hari ini, Zafirah hanya duduk di dalam kamar. Ingatannya tidak lepas dari surat dari Umi dan Abahnya. 'Teruntuk Bidadari Umi dan Abah... Assalamualaikum Zafirah. Saat kamu membaca surat ini, itu artinya kamu akan menjalani hidup sebagai seorang istri. Sayangnya Umi dan Abah, tidak bisa mendampingi putri Umi saat akan memulai hidup baru dengan pria yang akan menjadi imam untukmu. Zafirah sayang, pakailah perhiasan ini saat kamu akan menikah. Sayang, ini adalah warisan dari Kakek dan Nenekmu. Pakailah di hari bahagia kamu. Maafkan Umi dan Abah sayang, di hari bahagiamu kami tidak berada di sampingmu. Tapi Umi selalu menjagamu dari surga, jadilah istri yang menjaga kehormatan suami dan keluarganya, jagalah keluargamu dari hal-hal yang di larang Allah. Umi percaya, kamu adalah wanita shalihah, dan ini Umi menyiapkan sedikit tabungan untukmu sayang, pakailah! Semoga bermanfaat untukmu sayang. Jangan merasa hidup sendiri, Abah dan Umi selalu ada di samping kamu sayang. Dari kami yang selalu menyayangi bidadari Umi dan Abah Wassalamu'alaikum.. Air mata Zafirah kembali mengalir, mengingat isi surat dari Umi dan Abah tercintanya. Suara ketukan pintu membuatnya tersadar, dengan cepat menghapus air matanya yang mengalir di pipinya. Zafirah memakai cadarnya kembali, dirinya tidak ingin orang lain melihat wajahnya selain keluarga dan suaminya nanti. "Zafirah, di depan ada tamu katanya ingin bertemu denganmu," Bi Minah, salah satu tetangga Zafirah yang melihat seorang pemuda berdiri di depan pintu rumah Zafirah. Namun, tidak ada yang membukakan pintu untuknya. "Siapa, Bu?" "Ibu tidak tahu, coba kamu lihat sendiri di depan. Sejak tadi mengetuk pintu tapi tidak ada yang dengar," ujar bu Minah. "Baik Bu, tolong jangan tinggalkan saya sendiri Bu!" "Ya, Zafirah," "Assalamualaikum, Zafirah apakah kedatanganku mengganggumu?" "Wa'alaikumsalam, kak Zaki? Tidak kok, kak. Masuklah!" Zafirah membukakan pintu untuk Zaki. "Bu Minah tolong jangan tinggalkan kami! Tunggulah di sini sampai Paman kembali dari musholla," ujar Zafirah menahan kepergian bu Minah, yang terlihat ragu. Meskipun sebelumnya, Zafirah sudah memintanya untuk menemaninya. Dirinya tidak ingin hanya berdua dengan Zaki yang belum menjadi mahromnya. "Ibu akan di sini Zafirah, kalian bicaralah," "Kak, apakah ada hal yang ingin kak Zaki katakan padaku?" "Begini Zafirah, aku ke sini hanya ingin mengantarkan ini," Zaki menyerahkan paper bag berukuran besar pada Zafirah. "Ini apa kak?" "Pakailah saat menikah nanti, aku telah lama menyiapkan untukmu" "Tapi kak," Zafirah ingin menolak. Namun dirinya tidak enak hati pada Zaki yang datang khusus mengantarkannya, meskipun Zafirah tahu Zaki sangat sibuk. "Baiklah kak, nanti Zafirah pakai," "Zafirah, kakak pergi dulu besok adalah hari bersejarah untuk kita, beristirahatlah. Aku tidak ingin kamu kelelahan saat kita menikah nanti!" "Baik kak, Zafirah akan beristirahat. Kak Zaki juga beristirahatlah," "Tentu Zafirah, kalau begitu kakak pergi dulu salam untuk Paman, Assalamualaikum," Zaki berpamitan setelah menunggu tiga puluh menit, namun Paman Zafirah tidak kunjung datang. "Wa'alaikumsalam, nanti Zafirah sampaikan salam kak Zaki untuk Paman. Hati-hati di jalan kak Zaki," Zaki melambaikan tangan pada Zafirah senyumnya tidak luntur dari bibirnya. Tidak jauh berbeda dengan Zaki, Zafirah yang merasa heran dengan sikap Zaki hari ini yang lebih berani menatap wajahnya bahkan senyumnya tidak pudar dari bibirnya. "Ya Allah, hamba percaya takdirmu tidak mungkin salah. Hamba pasrahkan segalanya padamu ya Robb," Butiran bening meluncur indah dari kelopak mata yang teduh milik Zafirah, semenjak dirinya di Ta'aruf oleh Zaki. Selama itu pula dirinya melihat wajah lain di setiap doanya, wajah yang tidak pernah dia jumpai sebelumnya. Sentuhan lembut di pundaknya membuatnya tersadar dari lamunan. Terlihat sang Paman berada di samping menatapnya dengan iba, dirinya menyadari jika ada keraguan dan ketakutan dalam diri keponakan satu-satunya. "Istirahatlah, jangan berfikir yang tidak-tidak. Pasrahkan semua pada Allah, karena dialah pemilik kehidupan dan padanya kita akan kembali," Fredi menepuk pundak Zafirah, memberikan kekuatan meski dirinya merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang sulit untuk ia ungkapkan pada Zafirah, namun sebagai seorang Paman, tidak ingin membuat Zafirah semakin dilema. "Semoga apa yang aku pikirkan tidak akan terjadi, Zafirah. Paman tahu apa yang kamu rasakan sama halnya dengan Paman saat ini," gumam Ferdi. Di tempat yang berbeda, Zaki yang tengah menyelesaikan meetingnya kini menyelesaikan berkas di atas meja. Dering ponsel membuatnya mengalihkan pandangannya ke arah meja samping kerjanya. "Assalamualaikum Bang, ada apa?" "Wa'alaikumsalam, Zaki, apakah kamu masih di kantor? Bukankah besok hari pernikahanmu? Pulanglah lebih awal, biar nanti Abang yang akan menyelesaikan semuanya," kata seseorang yang berada di sambungan teleponnya. "Sebentar lagi selesai Bang," "Apakah kamu tidak menemui gadis itu?" "Sudah Bang, apakah—" "Apakah apa Zaki? Cepatlah pulang, kalau tidak Abang yang akan menyeretmu dari sana!" Zaki terkekeh mendengar suara keras dari sang kakak begitu perhatian. Meskipun Zaki bukan anak kecil lagi. Perhatian sang Abang mampu mengobati rasa rindu pada kedua orang tuanya. "Baiklah Bang, Zaki akan pulang sekarang. Assalamualaikum," "Wa'alaikumsalam," Zaki meninggalkan kantor tepat pukul empat sore, dirinya membutuhkan istirahat untuk acara yang penuh sejarah dalam hidupnya. Dengan mengendarai mobil mewahnya, Zaki menelusuri jalan yang mulai padat kendaraan karena jam karyawan yang mulai keluar dari kantor. Cuaca yang cerah membuatnya bersenandung Shalawat Nabi. Saat berada di jalanan yang sedikit menikung, tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah mobil truk dengan kecepatan tinggi kehilangan kendali dan menerobos jalur berlawanan. Naas mobil Zaki yang berada tepat di depannya tidak bisa menghindar, tabrakan tidak terhindar lagi. Mobil yang di kendarai Zaki terguling hingga berapa kilo meter. Seorang polisi lalu lintas yang saat itu kebetulan sedang patroli, dengan sigap menolong Zaki dan membawanya ke rumah sakit, kondisinya yang cukup parah membuat polisi kesulitan mengenali dirinya. Di apartemen, seorang pria tinggi tengah memadu kasih dengan kekasihnya di kejutkan dering ponselnya yang berulang kali berbunyi. "Sayang angkat dulu siapa tau penting," Jelita mendorong tubuh kekar yang berada di atas tubuhnya. Dengan perasaan enggan sang pria menerima panggilan. "Hallo, siapa in—" "Selamat sore Tuan, maaf apakah anda mengenali pasien bernama Zaki? Dia memiliki ciri-ciri, badan tinggi dan memiliki tahi lalat di jari tengah. jika Anda mengenalinya segeralah datang ke rumah sakit, saudara atau teman Anda saat ini tengah kritis karena mengalami kecelakaan." Bagai di sambar petir, tubuh pria tegap itu terhuyung ke belakang. Berita yang ia dapatkan bagikan tombak yang kembali menghantam dadanya, untuk kedua kalinya ia menerima kabar dari orang yang sangat ia sayangi. Setelah kejadian berapa tahun yang lalu kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan dan mereka meninggal bersama di rumah sakit. Tanpa menunggu lagi, Azril berlari menuju rumah sakit, rambutnya yang acak-acakan dan bajunya yang tidak rapih, akibat permainan panasnya dengan sang kekasih. Tanpa berfikir lagi, dirinya menyambar baju dan memakainya dengan asal. Jelita yang memandang kekasihnya penuh rasa penasaran. Namun tidak ada keberanian untuk bertanya. Sesampainya di rumah sakit, dirinya berlari menuju IGD. Saat akan bertanya pada perawat yang kebetulan melintas di depannya, namun seorang dokter menepuk pundaknya. "Tuan apakah anda saudara dari pasien yang bernama Zaki?" "Benar Dok, saya Abangnya. Bagaimana keadaan adik saya, dok?" "Maaf kondisi pasien sangat keritis, pasien memanggil anda, lebih baik anda temui sebelum kami melakukan tindakan. Mengingat, kondisinya yang parah saya khawatir pasien tidak bertahan lama," ujar sang dokter. "Apa maksud Dokter? kenapa adik saya tidak bisa bertahan?" "Maaf Tuan sebaiknya anda temui pasien," Dengan langkah gontai, Azril mendekati seorang pria yang terbaring di atas brankar, tubuhnya penuh luka. Bahkan, wajahnya hampir tidak dapat di kenali. "Zaki, apa yang terjadi denganmu? Kenapa seperti ini?" "Bang, tolong nikahi Zafirah! Jadilah imam untuk Zafirah, gantikan posisiku Bang! Menikahlah dengan Zafirah! Aku mohon Bang," "Tidak Zaki, itu tidak mungkin." "Bang aku mohon—" "Tidak Zaki, kamu yang akan menikah dengannya. Bukan Abang," "Bang, Zaki tidak kuat lagi. Anggaplah ini sebagai permintaan terakhirku bang, terima Zafirah, dia wanita baik-baik. Aku yakin Abang akan mencintainya," kata Zaki terbata. Dengan susah payah, Zaki merogoh kantong celananya, dan memberikan kotak berwarna merah pada sang Abang. "Pakaikan pada jari manis Zafirah bang, Zaki tidak kuat lagi. Zaki mohon, Ayah dan Ibu menungguku Bang, mereka menjeputku," ***

Bab 3 3. Ujian Zafirah.

Azril menatap tubuh kaku sang adik yang terbujur kaku di atas brankar, kain putih kini menutupi sekujur tubuhnya, dan air matanya telah mengering. Tubuhnya tidak ada lagi tenaga bagai raga tanpa nyawa, penampilannya berantakan. Bahkan orang tidak mengenali jika dirinya seorang CEO di perusahaan ternama. Jelita yang berada di sampingnya sudah berusaha untuk menghiburnya, namun semua gagal hingga langkah orang yang berlari mengalihkan pandangannya dari Azril. "Assalamualaikum, saya Fredi dan ini Zafirah," ucap Fredi pada Jelita dan Azril. "Wa'alaikumsalam, silakan Paman," Azril menatap dua orang yang berdiri tidak jauh darinya. "Paman Fredi, saya abangnya Zaki," Azril berdiri mendekati Fredi, berjabat tangan dengan pria paruh baya di depannya. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sampai terjadi kecelakaan, dan kenapa kita berada di sini?" Fredi mencecar pertanyaan pada Azril. Dirinya mengerti jika berada di depan ruangan yang banyak di takuti orang. Paman Ferdi berusaha menepis praduganya, walau faktanya mereka benar-benar berada di depan ruangan yang tidak ingin di ketahui olehnya. "Zaki itu—" Azril menceritakan kronologis kejadian kecelakaan yang menimpa Zaki pada Fredi, paman Zafira, dan Zafirah yang sedari tadi hanya mendengarkan, berlahan air matanya mengalir tanpa mampu Zafirah tahan. Fredi bersama Zafirah di antarkan ke kamar, di mana tubuh Zaki yang terbujur kaku. Zafira yang sedari tadi berusaha tegar, kini dirinya tidak bisa menahan gejolak hatinya berlahan dirinya mendekati dan membuka kain putih yang menutup tubuh Zaki. Namun, saat melihat wajah Zaki yang penuh luka, tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke belakang. Fredi yang berdiri tidak jauh darinya, dengan sigap menahan tubuh Zafira yang tiba-tiba pingsan. Azril menemani Fredi ke ruang rawat untuk memeriksa kondisi Zafirah. Seorang dokter wanita memasuki ruangan dan memeriksa denyut nadi Zafirah. "Tuan, boleh saya buka cadar istri anda?" Azril yang berada tepat di samping tempat tidur Zafirah hanya bisa menatap bingung. "Maaf Dok, apa tidak bisa di periksa tanpa membuka cadarnya?" Fredi yang berdiri di samping Azril baru menyadari, jika wajah Zafirah tidak pernah terlihat oleh orang lain selain dirinya. "Bukankah anda Ayah pasien dan Tuan, suami pasien?" Dokter yang merasa heran saat memeriksa kondisi Zafirah. Namun, kesulitan karena cadarnya tidak di lepas. "Paman, biar saya tunggu di luar," Azril yang mengerti jika wajah Zafirah tidak pernah terlihat oleh pria yang bukan mahromnya memilih menunggu di luar. Hatinya tidak tenang melihat wanita yang akan menjadi adik iparnya tergeletak tidak sadarkan diri menahan gejolak hatinya setelah melihat sendiri calon suaminya telah meninggal. "Iya nak Azril maaf." Paman menatap wajah Azril yang terlihat sayu. Azril meninggalkan ruangan Zafirah, namun saat akan menutup pintu tanpa sadar dirinya melihat wajah Zafirah walau tidak jelas. Keesokan harinya pemakaman Zaki penuh dengan air mata, Zafirah yang berada di dekat makam tidak kuasa menahan air matanya, para pelayat mulai meninggalkan makam. Kini, hanya ada Zafirah dan Azril yang masih berada di sana. "Kamu pulanglah! Sudah sore, Paman pasti menunggumu," Azril meminta Zafirah untuk pulang, mengingat kondisi fisik dan pikiran Zafirah yang lemah membuatnya berinsiatif untuk mengantarnya pulang. "Aku akan mengantarmu pulang!" Tanpa menunggu jawaban dari Zafirah, Azril melangkah lebih dulu. Dalam perjalanan menuju rumah Zafirah, tanpa ada yang berinsiatif memulai obrolan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Tanpa terasa, mereka telah sampai di depan rumah sederhana Fredi. "Assalamualaikum, Paman." Zafirah mengetuk pintu hingga tiga kali mengucapkan salam tidak ada sahutan dari dalam, bi Minah tetangga Zafirah berlari mendekati Zafirah. "Assalamualaikum Zafirah, anu. I-itu Paman," dengan nafas ngos-ngosan. Bi Minah menyampaikan kabar pada Zafirah. "Wa'alaikumsalam bi Minah, ada apa? Anu apa Bu? Bicara pelan-pelan ya!" Bi Minah menarik napasnya dalam-dalam dan memulai bicara dengan tenang. "Zafirah, Pamanmu masuk rumah sakit." Mendengar Pamannya masuk rumah sakit, tubuh Zafirah bergetar. "Rumah sakit mana Bu?" Azril melihat tubuh Zafirah bergetar, memutuskan untuk bertanya. Sejak tadi Azril hanya diam mendengarkan pembicaraan dua wanita berbeda generasi. "Rumah sakit kota Tuan." Jawab Bu Minah. "Aku antar kamu ke rumah sakit, sekarang kita harus pergi." Tanpa berfikir lagi, Zafirah mengikuti langkah lebar Azril. Sepanjang perjalanan, Zafirah tidak berhenti memanjatkan doa untuk sang Paman, keluarga satu-satunya yang dia miliki di dunia ini. Mobil yang di kendarai Azril memasuki halaman rumah sakit, Zafirah turun dari mobil dan berlari menuju ruang UGD tanpa memperdulikan Azril yang ada di belakangnya. Azril yang mengikuti langkah Zafirah, hingga sampai di depan pintu ruang UGD. Setelah menunggu kurang dari dua jam seorang Dokter keluar. "Saudara pasien Fredi?" Zafirah berdiri mendekati sang dokter. "Saya keponakannya Dok, apa yang terjadi dengan Paman saya? Setau saya Paman tidak memiliki penyakit apapun Dok," Zafirah mencecar pertanyaan pada dokter yang menangani Pamannya. Selama ini, Pamannya tidak mengeluh sakit sehingga kejadian benar-benar membuatnya panik. "Sebaiknya kalian ikut ke ruanganku! Ada yang ingin aku katakan pada kalian," Mereka mengikuti dokter menuju ruangannya. Bahkan Azril mengekor di belakang menuju ruang pribadi Doker. "Begini. Tuan Fredi adalah pasien saya selama empat tahun terakhir, beliau menderita sakit jantung yang lama dideritanya," Zafirah menggelengkan kepalanya, dirinya tidak percaya jika sang Paman menderita sakit separah itu. "Dok, saya tidak ingin mendengar apapun, tapi saya minta selamatkan Paman saya Dok." Zafirah mengiba pada Dokter yang selama empat tahun menjadi Dokter pribadi Pamannya. Zafirah benar-benar tidak percaya, jika Pamannya menderita penyakit jantung. Suara di ruangan dokter Mardi membuat Zafirah dan Azril menatapnya bingung. "Nona, itu panggilan dari ruangan tuan Fredi, sebaiknya kita ke sana." Saat mereka akan beranjak, seorang perawat menerobos ruangannya. "Dokter Mardi, kondisi tuan Fredi semakin kritis, beliau terus memanggil Zafirah," Zafirah beranjak dari kursinya saat mendengar kondisi Pamannya semakin kritis. Tanpa memperdulikan tubuhnya yang lemah, Zafirah berlari keruang Pamannya. "Paman, ini Zafirah. Bertahanlah demi Zafirah, Paman! Jangan tinggalkan Zafirah!" Tangis Zafirah pecah melihat kondisi tubuh sang Paman dalam keadaan lemah, napasnya tersengal terkuat begitu berusaha untuk mengatakan sesuatu pada Zafirah. "Za–Zafirah maafkan Paman, selama ini menyembunyikan penyakit Paman padamu," Dengan napas yang semakin lemah, Fredi berusaha untuk bicara pada Zafirah untuk terakhir kalinya. "Paman tidak perlu minta maaf pada Zafirah, sekarang Zafirah mohon pada Paman, jangan banyak bicara lagi ya. Dok cepat lakukan apapun untuk Paman saya Dok, saya mohon," Zafirah menangkupkan kedua tangannya memohon pada dokter Mardi untuk menyelamatkan Pamannya. "Nak Azril, kemarilah," Tangan Fredi memberi syarat agar Azril mendekatinya. Dengan cepat Azril mendekati sang paman yang semakin kesulitan untuk bernapas. "Paman saya di sini, apa yang ingin Paman katakan pada saya?" Azril mendekatkan telinganya pada wajah Fredi. Suaranya yang yang lemah membuat Azril melakukan hal itu. "Nak Azril, Paman mohon nikahi Zafirah, Paman percayakan Zafirah padamu," Tubuh Azril menenggang mendengar ucapan Fredi padanya. Sebelum Azril menjawab perkataan Fredi, tiba-tiba layar monitor memperlihatkan garis lurus dan bersuara kencang. Teriakan Zafirah terdengar menyayat hati Azril namun dirinya tidak bisa berbuat apapun. "Paman jangan tinggalkan Zafirah Paman, Dok lakukan apapun untuk Paman Dok!" Zafirah menggoyahkan tubuh Pamannya yang diam. Berusaha untuk membangunkannya dari tidur, namun semua sia-sia sang Paman telah berpulang ke Rahmatullah. "Zafirah ikhlaskan Pamanmu, Allah lebih sayang padanya." Tubuh Zafirah terkulai lemas, kini dirinya sendiri di dunia ini tanpa siapapun. Dalam dua hari berturut-turut, dirinya melepas orang-orang yang memiliki arti dalam hidupnya. Baru kemarin dirinya mengantar sang calon imam ke peristirahatan terakhir. Kini, dirinya kembali mengantar Paman tercinta ke tempat yang sama. Hujan membasahi bumi, seakan turut merasakan sesak yang di rasakan Zafirah, hujan yang enggan meninggalkan dirinya yang tengah memeluk pusara Pamannya. "Ya Allah, sungguh nikmat ujianmu pada hamba ini, engkau telah mengambil semua yang aku sayangi, hamba ikhlas menerima ujianmu ini, hamba percaya di balik ujian ini engkau telah menyiapkan yang terindah untuk hamba," Terdengar suara adzan Maghrib, berlahan Zafirah meninggalkan makan Pamannya, dengan langkah tertatih dirinya telah sampai di rumah beberapa tetangga tengah menyiapkan acara doa untuk Paman dan Zaki, Zafirah berjalan menuju kamarnya dan memberiskan tubuhnya. Mulai hari ini, dirinya harus lebih kuat lagi menjalani hidup tanpa adanya paman di sampingnya. Seminggu setelah pemakaman Pamannya, selama itu juga dirinya tidak mengunjungi musholla, dirinya merindukan anak-anak. Canda tawa mereka adalah obat untuknya. Hari ini Zafirah mengajar anak-anak lagi, dan alangkah bahagianya, saat anak-anak menyambut kedatangannya. "Assalamualaikum, anak-anak!" Ucap Zafirah. "Wa'alaikumsalam kak Zafirah, hore! Kak Zafirah mulai mengajar lagi!" Teriak mereka bersamaan, Zafira tersenyum melihat mereka yang menyambutnya, mereka berebut memeluk Zafirah, tingkah mereka membuat tawa Zafirah lepas. Di kantor, seorang pria bertubuh atletis tengah memeriksa tumpukan berkas-berkas, yang selama seminggu tidak dia sentuh hanya asistennya yang mengerjakannya. "Tuan Azril, satu jam lagi ada meeting dengan perusahaan Mega bintang." Adam sang asisten yang merangkap sebagai pengawal pribadinya, kini memandang sang Tuannya yang terlihat sedih setelah kehilangan adik satu-satunya. "Atur ulang lagi, jika tidak mau kamu yang mengantikan posisiku aku harus pergi sekarang," tanpa menunggu menunggu jawaban dari asistennya, dirinya melangkah pergi menuju mobilnya yang terparkir di tempat khusus. Di dalam mobil dirinya tidak langsung menyalakan, tapi pikirannya kembali pada satu minggu kemarin di mana adik dan Paman wanita yang bernama Zafirah meninggal dalam waktu yang berdekatan, satu hari setelah kematian Zaki dan di susul Paman Zafirah. "Bang, aku mohon nikahi Zafirah, gantikan posisiku menjadi imam untuknya. Dia wanita yang baik, suatu saat Abang akan mencintainya, jaga Zafirah untukku Bang. Aku mohon, anggap ini permintaan pertama dan terakhirku," kalimat terakhir yang terus menganggu pikirannya, dan kembali ingatan perkataan terakhir dari paman Zafira membuatnya semakin bingung, disisi lain dirinya memiliki kekasih dan di sisi lain dirinya tidak mungkin menolak permintaan paman dan adiknya. "Argh! Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?" ***

Lanjut baca