Married to the Scandalous Billionaire
Bab 1 1. Menikah

“Menikah?!” Beverley hampir tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Tatapannya dipenuhi dengan kebingungan sekaligus keterkejutan.    “Jika aku menikah, bagaimana aku bisa bekerja dan mengumpulkan uang untuk mengobati ayah?” tanya Beverley.    Ibunya yang bernama Emma mulai merasa kesal. ”Itulah kenapa aku ingin kau menikah dengan putra keluarga Oliver!”    “Jadi kau ingin menggunakan aku untuk membayar utang-utangmu?”    Kedua mata Beverley tampak memerah. Bukan karena dia ingin menangis, tetapi karena merasa sangat marah. Kenapa Emma bisa memikirkan hal seperti itu? Apa karena Emma hanya seorang ibu tiri?    “Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kau hidup dengan nyaman bersama orang kaya. Kau bisa hidup dengan tenang tanpa harus memikirkan uang. Apa aku salah?” Emma bertanya tanpa merasa bersalah.    Beverley langsung mendengkus. “Kau pikir siapa yang sedang kau tipu? Emma, aku bukan anak kecil yang bisa dibodohi. Sampai kapan pun aku tidak akan setuju!” desisnya dengan tajam. Dia tahu situasi apa yang sedang dihadapinya.    Emma, si ibu tiri mata duitan itu ingin menggunakan putrinya untuk melunasi utang-utangnya pada keluarga Oliver. Dengan cara apa? Dengan cara menikahkan Beverley dengan putra Michael Oliver yang sedang dirumorkan sebagai seorang gay!    Beverley sangat paham. Pernikahan itu pasti hanya digunakan untuk menutupi rumor itu. Tentu saja dia tidak mau. Pernikahan adalah hal yang sakral, dia tidak ingin menikah dengan sembarangan. Apalagi dengan orang yang sama sekali tidak dikenal.    Lagi pula orang yang berutang banyak adalah Emma. Kenapa dia yang dikorbankan? Kenapa tidak ibu mata duitan itu saja yang menikah dengan lelaki gay putra Michael Oliver? Dia sangat senang jika ayahnya bercerai dengan wanita sinting itu.    “Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau tidak suka?” tanya Emma. Dia duduk menyilangkan kaki lalu menatap Beverley dengan kepala terangkat.    “Jika kau membantah maka aku akan pergi dari rumahmu. Biarkan ayahmu yang sudah lumpuh itu telantar sendirian,” ucap Emma tanpas ekspresi. Meskipun terdengar halus, tetapi terdapat nada ancaman yang nyata.    “Emma!” Beverley langsung berteriak marah. Dia mengepalkan telapak tangannya dengan kuat sampai tubuhnya ikut gemetar. Matanya terpejam dan mulutnya terkatup rapat.    “Kau berani berteriak padaku?” Emma mengerutkan alisnya dalam-dalam. “Jangan berpikir hanya karena aku adalah ibu tiri lalu kau dengan bebas bersikap tidak sopan kepadaku!” lanjutnya dengan nada yang ditinggikan.    “Lalu hanya karena aku adalah anak tiri, lalu kau bisa dengan bebas menentukan hidupku?!” Beverley balas berteriak.    Dia sudah muak dengan Emma. Wanita itu sama sekali bukan ibu tiri yang baik. Jika dia tahu karakter aslinya seperti itu, maka di masa lalu dia tidak akan mengizinkan James menikah dengannya.    Ya, ayah Beverley yang bernama James memang menikah lagi setelah istri pertamanya meninggal. Namun, setahun terakhir ini James mengalami stroke yang membuatnya tidak bisa bekerja lagi.    Emma yang sangat suka berfoya-foya memiliki tagihan kartu kredit hingga jutaan dolar. Itu membuatnya pusing karena tidak tahu bagaimana cara melunasi. Akhirnya dengan alibi suaminya yang sakit, dia meminjam uang jutaan dolar itu untuk melunasi tagihan bank.    Lalu siapa orang yang meminjamkan uang? Orang itu adalah Michael Oliver, atasan James. Mungkin karena James adalah salah satu orang kepercayaannya sehingga Michael Oliver mau meminjamkan uang sebanyak itu.    Kadang-kadang Beverley sungguh ingin mengusir Emma dari rumah James. Namun, itu tidak mungkin karena ayahnya sangat mencintai wanita itu.    James tampaknya sudah dibuat gila oleh Emma yang memiliki penampilan 'lumayan' cantik. Mungkinkah wanita itu menggunakan mantra sihir untuk menggodanya?    “Bev, kau sudah dewasa. Jika kau menikah dengan pria kaya, bukankah kau juga yang akan diuntungkan?” Emma berkata dengan sinis. Dia meniup kuku panjangnya yang berwarna merah dan menatap itu dengan bangga.    Sungguh memuakkan!    “Kau harus tahu, Emma. Aku sama sekali tidak mengenal pria itu. Aku tidak tahu seperti penampilannya, sifatnya, dan—”    “kenapa kau harus memikirkan hal semacam itu? Apa yang paling penting adalah kehidupan yang terjamin. Menikah itu tidak selalu tentang cinta atau omong kosong apalah,” balas Emma dengan acuh tak acuh.    Beverley menjadi semakin marah. “Apa maksudmu? Apakah selama ini kau tidak pernah mencintai James?”    “Aku tidak berkata seperti itu.”    Beverley mendengkus dingin. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya secara perlahan. “Aku tidak akan menikah. Dan utang-utangmu itu tidak ada urusannya denganku,” ucapnya dengan dingin.    “Well, kau bisa menolak sekarang. Namun, yang pasti … mau tidak mau kau akan pergi ke altar pernikahan.”    Tiba-tiba Emma berdiri dan menjinjing tasnya yang harganya sangat mahal. Kemudian wanita itu melenggang pergi tanpa peduli dengan wajah pucat Beverley.    Sebelum benar-benar menutup pintu, Emma menoleh menatap Beverley dengan tajam. “Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, Bev. Ayahmu bisa kutelantarkan kapan saja." Setelah mengatakan ancaman itu, barulah pintu benar-benar ditutup.

Bab 2 2. Undangan Pernikahan yang Mengejutkan

Ruangan kantor yang tidak begitu besar itu menjadi senyap. Napas Beverley naik turun tidak teratur. Tangannya terkepal erat, giginya mulai digertakkan.    “Dasar ibu tiri sialan!” Suaranya menggema ke seluruh ruangan. Beruntung tidak ada orang yang mendengarnya.   Pintu yang tertutup tiba-tiba dibuka dari luar. Seorang wanita yang tampak seumuran dengan Beverley melangkah masuk. Wanita itu mengenakan setelan blazer rapi. Rambutnya yang diikat tinggi ikut bergoyang mengikuti langkah kakinya.    “Ada apa, Bev? Aku baru melihat ibumu keluar dari sini. Apa kalian bertengkar lagi?”    “Jangan sebut dia ibuku, Katy,” ucap Beverley dengan pelan. Dia duduk di kursi lalu mengurut keningnya yang pusing. Kenapa nasibnya selalu sial sekali?   Teman Beverley yang bernama Katy itu ikut duduk. “Kau terlihat begitu kesal. Kau baik-baik saja?”    Beverley menghela napas panjang. “Emma mencoba memanfaatkanku, Katy. Dia ingin menggunakan aku untuk melunasi utangnya!”    “Bagaimana mungkin?” Katy mengerutkan kening, sedikit bingung dan terkejut.   “Itu benar, Katy. Dia akan menikahkanku dengan pria yang sama sekali tidak aku kenal. Astaga! Apa yang harus aku lakukan sekarang?”    “What the hell! Dia benar-benar gila!”    Katy menjadi geram. Sudah lama dia mendengar cerita dari Beverley tentang sifat dan perilaku ibu tirinya yang buruk. Sebagai sahabatnya, tentu saja dia tidak menyukai Emma. Wanita itu sungguh seperti ular.    “Aku tidak tahu harus melakukan apa jika dia benar-benar melakukan itu.” Beverley menggigit bibirnya dengan gelisah.   “Bagaimana jika kau melarikan diri?” Katy memberi usul. Sayangnya, Beverley segera menolak usulannya.    “Aku tidak bisa meninggalkan ayahku. James sakit. Aku takut Emma juga akan meninggalkan pria itu sendirian.” Dia menggeleng beberapa kali.    “Berapa utang itu? Mungkin aku bisa meminjamkan seratus ribu dolar.”    Beverley mendesah frustrasi. “Lebih dari itu. Bahkan jika kau menjual kafe ini, uang itu tidak akan cukup. Tidak ada jalan lain. Jika Emma benar-benar melakukan kesepakatan itu, mereka tidak akan pernah melepaskanku, Katy. Hidupku sudah berakhir ….”    “Sungguh Keterlaluan!” Katy menggebrak meja di depannya. “Jika aku bertemu dengan ibumu—maksudku Emma, aku ingin meninju bibirnya yang tebal itu!”    Tiba-tiba Katy menatap Beverley dengan serius. “Kau yakin dia serius? Apa dia tega melakukan ini padamu? Maksudku … bagaimanapun juga kau tetap putrinya.”    Beverley hanya menggeleng lemah. Dia tidak tahu apakah Emma akan melakukan itu atau tidak. Namun yang pasti hal ini sudah membuatnya khawatir.   Pada saat itu tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari luar. Seorang pelayan kafe datang sambil mengulurkan sebuah undangan berwarna kuning gading yang terlihat sangat elegan dan berkelas. Ada kertas lipat lain yang diikat dengan pita emas di atas undangan.    “Nona Holmes, ini untukmu,” ucap pelayan kafe itu.    Kening Beverley langsung berkerut. Dengan ragu dia mengambil surat undangan itu. Nama penerima di sana memang dia, Beverley Holmes. Siapa yang menikah? Rasanya tidak ada kabar tentang teman atau rekan yang menikah dalam waktu dekat.    Karena penasaran, dia pun membuka pita emas yang ada di sana. Kemudian surat undangan itu segera dibuka. Untuk sesaat dia hanya diam sambil membaca siapa orang yang akan menikah.    Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika melihat nama yang tertera di sana. Wajahnya menjadi pucat. Nama mempelai wanita yang tertulis di surat undangan itu tak lain adalah namanya sendiri, BEVERLEY HOLMES!    “Tidak mungkin ....” Beverley bergumam sambil menurunkan pandangannya. Dia segera membaca siapa nama si mempelai pria.  BRENT OLIVER    Tangannya langsung gemetar. Undangan itu meluncur jatuh begitu saja ke lantai.    “Ada apa, Bev? Siapa yang menikah?” Katy memungut undangan itu. Dan setelah membaca siapa nama mempelainya, reaksinya tidak jauh berbeda dari Beverley.    “Tanggalnya … kapan tanggalnya?” Beverley segera merebut undangan itu dari tangan Katy.    “Tanggal tujuh belas ….”    Tubuhnya menjadi lemas seketika. Ini sudah tanggal enam belas. Itu berarti pernikahannya akan dilangsungkan besok!

Bab 3 3. Siapa Orang-Orang Itu

Beverley merasa jiwanya seolah jatuh ke dasar jurang. Emma memang sudah memberi tahu tentang pernikahan ini sebelumnya. Namun, dia pikir masih ada waktu untuk berdiskusi lebih lanjut. Ternyata wanita itu sudah menentukan pernikahan ini jauh-jauh hari.   Apa yang harus Beverley lakukan sekarang? Dadanya menjadi sakit. Kenapa Emma bisa melakukan ini? Tidakkah wanita itu mempertimbangkan sedikit saja tentang perasaannya?   "Bev ...." Katy tidak tahu harus mengatakan apa. Dia mengusap punggung Beverley dengan lembut, berharap bisa sedikit menenangkannya.   "Aku harus menemui Emma," ucap Beverley tiba-tiba. Tatapannya menjadi dingin. Kertas undangan beserta sebuah surat lipat yang belum dibaca itu segera dia genggam. Dia menegakkan punggungnya dan mencoba menguatkan tekadnya.   "Aku akan mengantarmu." Katy mengambil kunci mobilnya lalu mereka berdua pun keluar dari ruangan. Katy meninggalkan beberapa pesan pada kasir kafe sebelum melangkah pergi.   Kafe milik Katy ini berjarak cukup jauh dari rumah ayah Beverley. Selama ini dia bekerja sebagai manager di kafe ini dan tinggal di kondominium yang berada tak jauh dari kafe itu.   Mobil terus bergerak menampilkan bayangan-bayangan bangunan di sisi jalan. Beverley melihat ke luar jendela dengan perasaan gusar. Hanya tersisa satu malam lagi baginya untuk menyandang status lajang. Jika dia hanya diam, mungkin besok statusnya sudah berubah menjadi istri seseorang.   Istri pria asing!   Beverley mengusap wajahnya dengan kasar. Tanpa dia sadari mereka sudah tiba di depan rumah tiga lantai yang cukup mewah. Kemarahannya melonjak ketika melihat rumah itu. Kenapa Emma tidak menjual rumah itu untuk membayar utangnya dan menyisakan sedikit uang itu untuk membeli rumah yang lebih sederhana? Bukankah itu lebih manusiawi?   Dia segera turun dari mobil dan berlari cepat ke rumah. Cengkeramannya pada suat undangan itu menjadi lebih kuat. "Emma!" Dia menekan bel rumah beberapa kali.   "Tenang sedikit, Bev," ucap Katy lirih.   "Bagaimana aku bisa tenang? Katy, dia memperlakukan aku dengan semena-mena," balas Beverley, matanya sudah memerah.   Beberapa saat kemudian akhirnya pintu yang tertutup itu terbuka. Orang yang muncul di sana bukan Emma, melainkan wanita paruh baya yang mengenakan seragam seorang pelayan. "Nona?"   "Bibi Jane, di mana Emma?" tanya Beverley tepat pada intinya.   "Sejak pergi siang ini, nyonya sama sekali belum pulang," balas Bibi Jane yang membuat Beverley mengerang frustrasi. Ke mana wanita itu pergi?   "Bev, mungkin kau bisa menemui ayahmu sambil menunggu Emma pulang," kata Katy.   Akhirnya Beverley mengangguk pelan. Mereka berdua melangkah masuk. Rumah yang tampak besar itu terasa sangat dingin. Tidak ada kehangatan sama sekali, seolah-olah tidak ada orang yang menempati.   "Bibi Jane, apa Emma selalu pergi seperti ini?" Beverley menatap pelayan rumah itu dengan serius.   "Di siang hari nyonya selalu di rumah. Namun, di malam hari kadang-kadang nyonya akan pergi ke luar."   Beverley hanya bisa menghela napas. Setelah itu, dia pergi menemui ayahnya yang terbaring di kamar. Pria itu tampak semakin tua dan kurus. Salah satu sisi wajahnya tampak menurun.   "Dad ...." Beverley menampilkan senyum lebar seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Dia memeluk ayahnya yang menatapnya dalam diam. Ada sorot kebingungan di wajah tua itu.   "Kau pasti heran kenapa aku pulang secepat ini. Jadwal kepulanganku seharusnya Senin, tapi aku sangat merindukanmu," bisiknya sambil menggenggam tangan James. Pria itu tampak ingin bicara, tetapi kondisinya yang seperti ini membuatnya kesulitan.   "Dad, aku datang ke sini hanya sebentar. Ada Katy juga di luar. Sebenarnya aku juga ingin bertemu dengan ...." Kalimatnya langsung terhenti ketika dia mendengar suara beberapa mobil yang berhenti di depan rumah. Apakah Emma akhirnya kembali?   Beverley menoleh ke luar jendela. Hari sudah mulai gelap, ini memang sudah senja. Dia bangkit dan melangkah mendekati jendela. Mobil Emma ada di sana, tetapi ada mobil lain juga yang berhenti di depan rumah.   "Dad, aku akan menemui Emma sebentar. Aku mencintaimu, Dad."   Dia mencium pipi dan kening James. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan kamar. Dia berlari menuruni tangga. Ketika Beverley sampai di lantai bawah, itu bertepatan dengan Emma yang melangkah masuk ke rumah dengan diikuti oleh beberapa pria bepakaian hitam. Siapa orang-orang itu?

Lanjut baca