"Sudah menemukan penggantimu?" tanya Raffael Aditama, CEO dari Aditama's Group, pada sekretarisnya yang sudah bekerja 6 tahun dengan dirinya. "Masih dalam tahap seleksi, Tuan," jawab Sesil Imelia, sekretaris dari Raffael. Sesil sudah lama bekerja di perusahaan Aditama's Group, terutama dengan Raffael, dari saat ia lulus kuliah sampai hendak menginjak usia 28 tahun. Tidak mudah bagi Sesil bekerja dengan Raffael yang memiliki watak keras dan juga perfeksionis. Namun hari demi hari, tahun demi tahun, Sesil terus belajar. Memperbaiki kesalahan dan meng-upgrade kemampuannya. Bahkan berkat bekerja dengan Raffael yang selalu bertemu dengan klien luar negeri, kini Sesil telah menguasai lima bahasa besar di dunia. Dan di tahun ketujuhnya, Sesil berencana untuk mengundurkan diri. Ia akan memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya, lebih tepatnya dengan pria yang sudah satu tahun bertunangan. Namun, tidak semudah itu ia mengundurkan diri dari Aditama's Group, apalagi mengundurkan diri menjadi sekretaris Raffael. Ia sendiri yang harus turun tangan dalam mengajari cara bekerja, memberitahu bagaimana karakter Raffael sendiri, juga banyak hal lain yang berhubungan dengan pekerjaannya yang sangat penting. "Saya ingin mencari yang sempurna, yang sudah sangat siap untuk bekerja. Bukan yang masih mentah dan banyak bertanya soal cara kerja dengan saya. Kamu mengerti?" Sesil mengangguk. "Mengerti, Tuan." Sebenarnya Raffael sangat berat hati saat seminggu yang lalu Sesil mengatakan ingin mengundurkan diri. Karena ia sudah terbiasa bekerja dengan kinerja Sesil yang gesit dan sangat tahu dirinya, dan tentu saja dengan prosedur kerjanya. Untuk bekerja sama dengan orang lain, tak pernah bisa dibayangkan oleh Raffael. Ia dan Sesil tumbuh bersama disaat ia baru memulai posisi sebagai CEO juga Sesil sebagai sekretarisnya. "Apa schedule saya setelah makan siang?" "Kita hanya ada satu pertemuan dengan investor dari Singapura di Hotel Flamingo jam 3 sebelum pulang, Tuan. Untuk pakaian golf, sudah saya siapkan untuk berjaga-jaga jika Mr. Joe ingin bermain golf dengan Tuan setelah pertemuan." "Oke, kamu boleh keluar." Beberapa jam berlalu .... Pertemuan dengan klien telah selesai. Seperti dugaan, Mr. Joe memang mengajak Raffael untuk bermain golf. Namun karena jam kerja telah usai, Sesil pulang tanpa ikut bergabung bermain golf. Karena tepat dihari itu adalah hari satu tahun pertunangan dengan kekasihnya. "Saya pamit pulang, Tuan. Semua barang Tuan sudah saya simpan di dalam mobil." "Kamu tidak ingin bergabung main golf? Sekretaris Mr. Joe pun ikut." Sesil menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Untuk saat ini tidak, Tuan." "Tunanganmu?" Raffael mengerutkan alisnya. "Ini satu tahun pertunangan kami, kami berencana untuk makan malam bersama sambil membahas pernikahan," jawab Sesil dengan wajar riang terlihat amat bahagia. "Kamu sudah yakin akan menikah? Usiamu baru saja 28 tahun, karirmu sangat bagus," ucap Raffael yang baru berani mengatakan hal itu karena kini mereka sudah diluar jam kerja. Sehingga ia merasa ada kesempatan untuk membahas hal selain pekerjaan. "Usia 28 tahun bagi wanita itu bukan lagi usia yang muda, Tuan. Saya dari dulu memang ingin menikah muda, selambat-lambatnya sebelum umur 30-an. Kalau soal karir saya tidak terlalu berambisi, karena saya ingin menjadi ibu rumah tangga yang diam di rumah, mengurus suami dan juga anak," jawab Sesil secara jujur di depan bosnya. "Sungguh itu impianmu?" "Saya tahu, Tuan pasti berpikir jika impian saya sangat klise, tidak berambisi. Tapi itu memang yang saya inginkan. Kalau begitu saya permisi," ucap Sesil tidak lupa dengan senyuman manis khas karena lesung pipinya. Raffael menghembuskan nafasnya. Sebenarnya jauh dalam hati kecilnya, ia tidak ingin Sesil mengundurkan diri. Ia sudah terlanjur terbiasa dengan cara kerja Sesil. Dan ia tidak ingin beradaptasi lagi dengan orang baru. Maka dari itu, ia meminta Sesil sendiri yang memilihkan pegawai baru penggantinya. *** Tepat pukul 7 malam, Sesil sudah bersiap dengan dress yang baru ia beli untuk acara makan malam dengan tunangannya sembari membahas pernikahan mereka. Elly, sahabat Sesil, yang selalu antusias dengan kemajuan hubungan percintaan karibnya itu, tentu saja ikut berbahagia sambil membantu menata rambut Sesil. "Bagaimana?" tanya Elly pada Sesil di depan cermin setelah selesai hair styling. "Seperti biasanya, kamu memang pandai, Elly. Pantas salonmu selalu ramai," jawab Sesil. "Ya sudah, segeralah berangkat. Apa Bara akan menjemputmu?" "Kita ketemu ditempat. Dia langsung dari kerjaannya. Aku kasihan jika ia harus menjemputku jauh, akan membuang banyak waktu." "Beruntunglah Bara akan menikahi wanita yang sangat pengertian, tidak seperti aku yang tak sabaran dan banyak mau." Sesil tersenyum tipis. "Akulah yang beruntung. Karena aku akan segera resign dan sepenuhnya diam di rumah mengurusi keluarga kecilku. Aku berangkat, sebaiknya kamu pulang dan jangan menungguku. Mungkin saja aku akan menginap diluar bersama calon suamiku," ucap Sesil yang memang selalu menggoda sahabatnya yang belum memiliki kekasih. "Ha! Dasar." Setelah turun dari taksi, Sesil mendapatkan panggilan telepon dari Bara. Sesil : Hallo, sayang. Apa ka---. Bara : Sepertinya makan malam kali ini kita cancel dulu. Aku masih harus bersama klienku. Kamu mengerti, kan? Aku baru saja akan direkomendasikan untuk naik jabatan, jadi aku harus pandai mencari muka di depan atasanku. Sesil jelas merasa kecewa, tetapi ia juga tidak mungkin memprotes kekasihnya hanya karena makan malam mereka dibatalkan. Apalagi alasan Bara bisa diterima olehnya. Ia harus terus mendukung karir Bara, karena setelah menikah ia tidak akan bekerja dan menghasilkan uang lagi. Sesil : Oh iya, tidak masalah. Kita bisa makan malam next time. Kamu jangan sampai lupa makan. Bara : Ok. Aku akan makan di rumah nanti. Aku akan tutup teleponnya. Sesil menghembuskan napas panjang. Karena sudah terlanjur reservasi, pada akhirnya Sesil memutuskan untuk makan sendiri saja. Sudah sekitar hampir satu jam, Sesil baru bisa menghabiskan makan malamnya. Ia terlalu sibuk dengan pemikiran kecewa yang hanya bisa ia tahan dalam hatinya. 'Aku tidak boleh egois, kesibukan Bara juga demi masa depan kita berdua. Mending aku beliin dia makan, dan mampir sebentar ke apartemennya. Syukur-syukur Bara juga udah pulang,' batin Sesil. Saat keluar dari restoran, Sesil bertemu dengan Raffael yang sedang menunggu sopirnya mengambil mobil di area parkir. "Tuan?" sapa Sesil yang lebih dulu melihat adanya Raffael. "Tuan habis makan malam dengan Mr. Joe?" Raffael masih terdiam melihat Sesil yang cukup berbeda dengan apa yang biasa ia lihat sehari-harinya. Biasanya Sesil selalu mengenakan rok sebatas lutut, dipadukan dengan blouse atau kemeja tangan panjang, riasan wajah yang natural juga rambut yang tidak pernah diurai. Dan malam itu, Raffael nampak melihat Sesil dengan sisi yang berbeda. Dress tanpa lengan berwarna maroon yang kontras dengan kulit cerahnya, dengan panjang diatas lutut. Ditambah dengan riasan wajah yang mempertegas kecantikan Sesil, juga rambut panjang yang diurai menambah nilai elegan dan juga terlihat begituseksi. "Tuan?" Sesil melambaikan tangan di depan wajah Raffael. "Ha? Ya! Saya baru saja makan malam dengan Mr. Joe. Kamu datang dengan tunanganmu?" tanya Raffael yang sekaligus ingin membayar rasa penasarannya akan sosok pria tunangan sekretaris pribadinya itu. "Mm ---" Sesil ragu untuk menjawab yang sebenarnya, apalagi pada bosnya sendiri.
"Di mana tunanganmu? Sedang mengambil mobil?" tanya Raffael kembali sambil memastikan keberadaan dari tunangan Sesil. "Mm .... Tunangan saya kebetulan masih harus bekerja, Tuan. Jadi, saya makan malam sendiri. Sekarang saya mau pulang." Tepat setelah Sesil menjawab pertanyaan dari Barra, mobil Raffael sudah terparkir di depan. "Kalau begitu, masuklah. Biar saya antar pulang." "Jangan, Tuan. Terlalu merepotkan. Saya akan naik taksi," tolak Sesil dengan baik-baik. "Ini sudah mau jam 10 malam. Tidak baik wanita pulang sendiri. Masuklah!" Sesil tidak mempunyai pilihan lain. Ia tidak mau menolak kebaikan Raffel yang jarang sekali ditunjukkan pada orang-orang apalagi karyawannya sendiri, ditambah itu diluar jam kantor. Kini mereka berdua sedang dalam perjalanan. Suasana hening seperti biasanya, apalagi mereka tengah berada diluar jam kantor. Sehingga tidak ada topik obrolan bagi keduanya. "Pak, kita ke jalan Flamboyan. Saya turun di sana," ucap Sesil yang memang ingin mampir terlebih dahulu ke apartemen Barra untuk memberikan makanan yang sudah ia beli. "Selain resign, kamu juga pindah apartemen?" tanya Raffael karena ia sudah tahu tempat tinggal Sesil. "Saya mau berikan makanan ini untuk tunangan saya, Tuan. Saya rasa dia sudah pulang kerja, makanya saya akan mampir sebentar." "Oke!" Beberapa saat kemudian, mobil berhenti. "Tuan, terimakasih sekali atas tumpangannya. Saya permisi," ucap Sesil yang langsung keluar dari mobil. Sesil berjalan menuju apartemen, sudah terlihat dari kejauhan mobil sang kekasih yang terparkir dipinggir jalan. Ia mengira jika Barra juga baru saja pulang, sehingga tepat sekali waktunya. Dengan semangat, Sesil setengah berlari untuk menghampiri mobil itu. Namun ketika sudah dekat, langkah Sesil terhenti dan ia mematung karena merasa tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat saat itu. Di dalam mobil Barra tengah bersama seorang wanita yang tidak begitu terlihat jelas oleh Sesil. Yang sangat jelas terlihat adalah adegan dimana Barra dan wanita itu tengah berciuman dengan mesra dan begitu bergairah. Sesil masih belum bergerak, bahkan ia tidak bisa berkata-kata untuk mengungkapkan apa yang ia rasa saat melihat tunangannya tengah bersama wanita lain di dalam mobil. Bahkan sampai berciuman. Bukan salah paham lagi rasanya untuk menyimpulkan jika tunangannya memang berselingkuh, karena Sesil melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jika hanya berduaan, Sesil mungkin bisa menenangkan diri untuk tetap bersikap dan berpikir positif bahwa itu hanya salah paham. Namun, berciuman dengan orang lain disaat telah memiliki tunangan, jelas itu bukan sesuatu hal yang bisa dibenarkan. Tokk ... Tokk ... Tokk ... Dengan tangan gemetar, Sesil mengetuk kaca mobil. Sehingga membuat dua orang di dalamnya terkejut. Terutama Barra yang langsung menyadari jika Sesil lah yang mengetuk kaca mobilnya. Barra segera membuka pintu mobil dan menarik tangan Sesil menjauh. "Ke-kenapa kamu ke sini?" tanya Barra dengan wajah panik. "Kenapa? Kamu tanya kenapa aku ke sini? Aku ingin menemui tunanganku. Hari ini adalah satu tahun hari pertunangan kita. Dan kita punya janji makan malam. Lalu, kamu bilang masih sibuk dengan klien. Klien apa maksudnya? Biar aku lihat siapa yang ada di mobil!" Sesil mencoba untuk mendekati mobil untuk melihat siapa wanitanya, tetapi Barra langsung menahan tangan Sesil. "Kamu ini kenapa? Jangan membuat keributan di sini." "Apa? Membuat keributan? Aku hanya ingin mengangarkan makan malam buat kamu," ucap Sesil, lalu ia baru saja menyadari jika makanan yang sudah ia beli tertinggal di mobil bosnya. "Kamu bisa kan telepon dulu? Kenapa malah tiba-tiba datang?" "Hah?" Sesil menggelengkan kepalanya seolah merasa tidak percaya dengan reaksi dari Barra saat dipergoki tengah bersama wanita lain. "Kamu melindungi wanita itu?" "Kenapa kamu harus marah-marah seperti ini? Kamu tidak malu? Kamu bertingkah seolah-olah aku seorang peselingkuh saja!" "Lalu, reaksi apa yang harus aku tunjukkan? Apa aku harus tepuk tangan saat lihat tunanganku sendiri berciuman dengan wanita lain? Kamu memang berselingkuh, Barra!" "Sebaiknya kamu pulang sekarang. Aku akan hubungi saat kamu sudah di apartemenmu. Tenangkan pikiranmu, dan jangan asal menuduhku." "Barra!" "Sesil! Tolong, kalau kamu masih menganggap aku tunangan kamu, turuti perkataanku. Pulanglah dulu. Jangan membuat keributan di sini," ucap Barra yang langsung meninggalkan Sesil untuk kembali masuk ke dalam mobilnya. "Kamu mau ke mana? Kita bahkan belum selesai!" "Aku akan mengantar dia pulang, nanti aku akan ke apartemenmu," jawab Barra tanpa ada beban dan rasa bersalah pada Sesil. Barra malah berpikir jika Sesil lah yang salah karena datang diwaktu yang tidak tepat. Alih-alih meluruskan kesalahpahaman, Barra lebih memilih menjauhkan wanita yang bersamanya di dalam mobil agar Sesil tidak melihatnya. Akhirnya, Sesil ditinggalkan begitu saja. Benar-benar terlihat sangat menyedihkan. Bahkan Sesil tidak mampu beranjak untuk pergi dari tempat itu, tenaganya serasa habis saat menyaksikan sendiri, terlebih saat menerima respon dari Barra. *** Beberapa saat mobil kembali melaju setelah Sesil turun dari mobil. Raffael baru saja menyadari jika Sesil meninggalkan paper bag berisi makanan yang ia tahu untuk tunangannya itu. "Aish! Merepotkan saja!" gumam Raffael yang mau tidak mau harus putar arah untuk mengembalikan milik Sesil. "Ada apa, Tuan?" tanya Pak Syarif, sopir kantor. "Putar balik ke apartemen tadi!" "Baik, Tuan." Tidak lama kemudian, mobil Raffael sudah sampai di tempat menurunkan Sesil. Ia keluar dan berjalan sendiri ke area apartemen. Namun Raffael mendapati Sesil dengan Barra tengah bertengkar. Ia hanya memperhatikan dari kejauhan sembari mendengarkan keduanya, sampai ia tahu duduk permasalahannya seperti apa. Cukup lama menunggu, Sesil pun pada akhirnya ditinggalkan begitu saja oleh Barra. Barulah Raffael mendekat. "Sesil ---" Mendengar suara yang tidak asing ditelinganya, Sesil langsung menyadarkan diri dan menyeka air matanya. "Tuan? Kenapa Tuan kembali lagi?" "Kamu meninggalkan ini," jawab Raffael sembari mengembalikan makanan itu pada Sesil. "Ah ya, saya lupa. Terimakasih, Tuan." "Tunanganmu masih belum pulang?" tanya Raffael yang berpura-pura tidak tahu. "Sepertinya belum, ini saya mau pulang saja." "Saya antar!" ucap Raffael sambil berlalu meninggalkan Sesil menuju mobilnya. "Ti-tidak perlu, Tuan. Ini sudah malam, saya akan pesan taksi online saja." "Justru karena ini sudah malam, cepatlah!" Akhirnya Sesil tidak punya pilihan lain, ia kembali ikut bersama Raffael. Sebelum masuk ke dalam mobil, Sesil membuang paper bag makanan itu ke tempat sampah dengan wajah kesal, emosi dan kecewanya. Sampai Raffael menggelengkan kepala saat melihat Sesil dari dalam mobil. 'Kasihan sekali kamu, itulah kenapa jangan terlalu percaya pada sebuah komitmen. Pacaran, pertunangan, pernikahan, semua akan menyakitkan pada akhirnya.' Raffael. Ditengah perjalanan pulang, Sesil baru sadar jika ia pulang ke rumah pasti Barra akan menemuinya sesuai dengan apa yang ia dengar tadi. Dan ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan Barra setelah apa yang terjadi. "Tuan, saya turun di halte depan saja." "Kenapa?" "Saya akan mampir ke rumah teman saya. Saya tidak ingin pulang malam ini," jawab Sesil. Barra sendiri tahu alasannya karena ia mendengar semuanya. "Kamu mau menghindar dari tunanganmu? Memang dia tidak akan menghubungi temanmu?" "Tuan? Kok ---" "Saya mendengar semuanya! Diamlah dan ikut ke rumah saya." Kedua mata Sesil membola, terkejut lebih tepatnya karena ia tidak menyangka akan diajak ke rumah Raffael untuk yang pertama kalinya. "Tapi, Tuan ...."
Sesampainya di rumah Raffael, sopir pun sudah pulang. Raffael memang sudah lama tinggal sendiri alih-alih bersama Ayahnya yang sudah menikah lagi. Dan hal itu, baru diketahui oleh Sesil. Meskipun sudah 7 tahun bekerja, tetapi perihal semua masalah pribadi Raffael, Sesil sama sekali tidak mengetahui apa-apa. Ia bekerja benar-benar sesuai dengan jalur dan SOP yang berlaku. "Kenapa diam saja? Tidak akan masuk?" "Tuan, saya tidak enak dengan keluarga Tuan." "Saya tinggal sendiri. Cepatlah masuk! Diluar dingin." Dengan langkah ragu, Sesil masuk ke dalam rumah Raffael yang cukup besar apalagi jika hanya untuk satu orang saja. Raffael duduk di sofa yang ada di ruang televisi. Ia membuka dua kancing atas kemejanya sembari menikmati dinginnya udara karena ada AC. "Kamu akan terus berdiri seperti itu?" Sesil tersenyum canggung, lalu mendekat untuk duduk di sofa yang sama tetapi dengan jarak yang cukup jauh karena sofa di ruanganitu cukup besar pula. "Jadi? Apa kamu akan tetap melanjutkan pertunanganmu setelah apa yang kamu lihat sendiri tadi?" tanya Raffael yang tiba-tiba langsung membahas hal pribadi. "Entah, Tuan. Saya harus memikirkannya terlebih dahulu. Saya juga harus mendengar terlebih dahulu penjelasan dari tunangan saya. Tapi untuk saat ini, saya memang tidak ingin bertemu dengannya dulu." "Setelah apa yang sudah kamu lihat dengan jelas, kamu masih mau memikirkan keputusanmu? Kamu mau melatih dirimu agar terbiasa diselingkuhi nantinya?" "Tidak semudah itu, Tuan. Aku dan Barra bukan sekedar pacaran lagi, tapi kami sudah bertunangan. Tidak semudah mengambil keputusan untuk putus saat memergoki pacarnya berselingkuh. Apalagi pertunangan itu kan melibatkan dua pihak keluarga. Jadi selain itu juga saya harus berbicara dengan orang tua saya," jawab Sesil begitu dewasa, meski batinya sangat hancur. Padahal jika ia tidak tahu malu, sedari tadi ia ingin berteriak untuk melepaskan kesakitannya. "Jadi ada kemungkinan kamu akan memaafkan dia?" Sesil mengangkat bahunya, "Saya masih belum bisa menjawab, Tuan. Saya masih yakin itu sebuah kesalahan saja, bukan selingkuh yang disengaja. Karena saya mencium bau alkohol saat berbicara dengan Barra." "Jadi tunanganmu berciuman dengan wanita lain saat mabuk masih bisa dimaafkan?" "Ya, mungkin karena dia tidak sadar," jawab Sesil hanya ingin menyemangati dirinya sendiri. "Dia tidak sadar tapi masih bisa menyetir mobil? Artinya berciuman pun dengan sadar. Jangan mau dibodohi oleh rasa cinta. Pakai logikamu, kamu pintar, Sesil!" ucap Raffael yang dibuat kesal sendiri dengan jawaban-jawaban dari Sesil yang terkesan sangat denial dan tidak bisa menerima kenyataan jika tunangannya memanglah berselingkuh dengan penuh kesadaran. Raffael akhirnya bangkit meninggalkan Sesil. Ia menuju ke belakang untuk mengambil wine. "Mari minum bersama," ucap Raffael sambil menyimpan dua botol wine beserta gelasnya. "Biar aku tuangkan," ucapnya lagi dengan gaya bahasa yang tidak terlalu formal sepet biasanya. "Tidak, Tuan. Saya tidak pernah minum." "Kalau begitu, kamu harus mencobanya. Biar kamu bisa merasakan sendiri seperti apa dan bagaimana rasanya menjadi orang mabuk. Apa kamu akan tetap sadar seperti tunanganmu itu?" Mendengar itu, Sesil menjadi tertarik untuk mencobanya. "Saya akan mencoba satu teguk saja, Tuan." Waktu berlalu, Sesil yang tadinya hanya ingin meminum satu tegukan saja, malah ia menghabiskan hampir satu botol penuh. Tentu saja ia sudah tidak sadarkan diri dengan meracau berkata semaunya tak mempedulikan adanya Raffael yang ada dengannya. "Barra, kita sebentar lagi akan menikah. Tapi kenapa kamu malah berciuman dengan wanita lain? Kamu anggap aku apa sebenarnya? Apa aku bukan satu-satunya bibir yang pernah kamu cium?" Sesil terus berbicara tentang kekecewaannya terhadap Barra. Sementara Raffael hanya memperhatikan Sesil dari tegukan pertama sampai Sesil kehilangan kesadarannya. Ia sama sekali tidak mencegah Sesil yang terus minum. Sampai akhirnya .... "Tuan .... Bolehkah saya berbicara informal pada Tuan?" tanya Sesil yang dipengaruhi oleh alkohol. "Lakukan semaumu," jawab Raffael yang memang hanya ingin berniat membuat Sesil mengatakan semuanya. Karena jika dalam keadaan sadar, Sesil pasti tidak akan mau berkata apapun. Ia sebatas ingin membuat Sesil merasa lebih lega saja. Sesil yang sudah kehilangan kesadaran, sudah memaki Barra bahkan dengan kata-kata kasar di depan bosnya, kini malah semakin bertindak berani. Ia beranjak dan mulai mendekati Raffael. "Tuan .... Apa Tuan pernah berciuman dengan seorang wanita?" Raffael melirik Sesil. "Kalaupun aku menjawab, kamu tidak akan mengingat semuanya." "Maukah Tuan berciuman denganku?" tanya Sesil yang sudah duduk disebelah Raffael. Raffael yang tadinya bersikap biasa saja, kini merasa tegang dengan jarak yang begitu dekat dengan Sesil. "Jangan kurang ajar, aku bosmu!" Sesil tidak mempedulikan apa yang dikatakan Raffael, ia malah semakin berani dengan memegang kedua pipi Raffael agar berhadapan dengannya. "Tunanganku, berciuman dengan wanita lain. Jadi, aku rasa tidak ada salahnya aku mencium Tuan. Bolehkah?" Raffael tidak bereaksi apa-apa, tidak membolehkan tetapi tidak menolak juga. Cup!! Sesil mengecup bibir Raffael. Bagi Sesil, itu memang bukan ciuman pertamanya. Namun, ia telah menjadi ciuman pertama bagi Raffael. Hal itu jelas membuat Raffael terkejut karena ia tidak menyangka ternyata Sesil akan bertindak sejauh itu. "Terimakasih, Tuan. Aku akan pergi tidur," ucap Sesil sambil hendak beranjak dari tempat duduknya untuk menuju ke kamar. Namun Raffael dengan cepat menarik tangan Sesil, sehingga Sesil duduk dalam pangkuannya. "Jika kamu berani memulai, maka kamu harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya!" Raffael langsung membawa Sesil lebih dekat tanpa jarak dengannya. Lalu, ia memagut bibir Sesil. "Beginilah yang dinamakan berciuman, tadi hanya sekedar kecupan saja." Ia melanjutkan kembali ciuman itu bersama Sesil. "Tuan! Kau nakal sekali," ucap Sesil diiringi tertawa kecil. Tentu saja ia tidak akan berani melakukan semua hal itu di depan Raffael jika dalam keadaan sadar. Semakin lama, ciuman yang berlangsung semakin panas saja. Ruangan yang dingin seolah berubah dengan cepat kesuhu sebaliknya. Seolah ruangan itu ingin mendukung adegan panas yang dilakukan oleh sang CEO dengan sekretarisnya. Tak sampai disitu, tangan Sesil dengan berani mulai membuka seluruh kancing kemeja Raffael. Dan Raffael mendukung apa yang dilakukan Sesil dengan membukanya, sehingga Raffael untuk pertama kali dalam hidupnya bertelanjang dada di depan wanita. Karena tidak ingin kalah, Raffael mulai membuka resleting dress Sesil, sehingga punggungnya terekspose dengan jelas. Perlahan diturunkan, Sesil pun tidak menolak sama sekali, hanya mengikuti nalurinya saja sebagai seorang wanita yang masih sangat normal apalagi dibawah pengaruh alkohol. Kini mereka berdua sama-sama bertelanjang dada, meskipun dua bulatan cukup besar milik Sesil masih terbungkus sempurna dengan bra. Raffael merasa semakin tidak bisa menahan diri dengan apa yang telah ia lakukan juga apa yang ia lihat secara langsung di depan matanya. Mereka kembali berciuman, lebih panas dan bergairah karena bersentuhan kulit secara langsung. Raffael sudah tidak bisa menahannya terlalu lama, pemanasan yang dilakukan sudah cukup membangkitkan sesuatu. Akhirnya Raffael memangku Sesil masuk ke dalam kamarnya. "Tuan .... Kita mau ke mana?" tanya Sesil sambil memeluk Raffael yang menggendongnya ke kamar. "Kita harus menuntaskan sesuatu yang sudah kamu mulai."