Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak motor yang sudah berhenti di depannya karena lampu lalu lintas sudah berubah menjadi merah. Motor tersebut terlempar sekitar 1 meter, sang pengendara motor jatuh tertimpa motornya, dan wanita yang duduk di belakang motornya terlempar ke trotoar jalan. Pria pengendara motor, Donny, berusaha menggeser motornya agar bisa membantu kekasihnya yang sudah sudah tergeletak bersimbah darah sekitar 2 meter dari tempatnya jatuh. Orang orang di sekitar mereka mulai panik, ada yang memanggil ambulan dan sebagian lagi membantu Donny untuk menggeser motornya agar pria itu bisa bangun. Donny bangun dengan tertatih tatih tanpa mempedulikan sakit teramat sangat di kaki kirinya, dibantu oleh orang yang membantu menggeser motornya, Donny berjalan ke arah Mariska, kekasihnya. “Mariska…” panggil Donny saat dia tiba dan langsung duduk di sisi wanita itu, kaki kirinya sangat sakit, dia tidak sanggup berdiri lebih lama lagi. wanita yang dipanggilnya tidak bergeming. Dia menyentuh lengan wanita itu, mencoba menyadarkan wanita itu. “Mariska.. Sayang… Bertahanlah… Bantuan segera datang” suara Donny mulai serak, dia hampir mengguncang tubuh Mariska agar wanita itu sadar. Mariska berusaha membuka matanya. Matanya begitu berat, sangat sulit untuk wanita itu membukanya, tapi dia terus berusaha. Sayup-sayup dia mendengar suara orang memanggilnya, dia mengenali suara itu. Itu Suara Donny, kekasihnya. Setelah beberapa lama, akhirnya Mariska berhasil membuka matanya. Dia menatap ke arah Donny, tapi pandangannya berkabut, dia tidak bisa melihat jelas rupa Donny, hanya berupa bayangan kabur. “Oh Mariska, syukurlah kamu sudah sadar. Bersabarlah, sebentar lagi ambulan datang” Wanita itu berusaha meraih tangan kekasihnya, tetapi dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dia sudah tidak bisa merasakan sakit di bagian manapun tubuhnya, dan kegelapan mulai mengambil alih kesadarannya, lagi. Dengan sisa-sisa kekuatannyanya, dia berusaha untuk tetap tersadar, dia harus bicara pada Donny, hanya Donny lah satu satunya yang bisa membantunya jika dia harus menyusul suaminya ke alam sana. “Don.. ny.., to.. long.. ja.. ga.. Mo… rin…, to.. lo.. ng…” kata Mariska dengan terbata bata. “..….“ Mariska mencoba bicara lagi, tetapi tidak ada kata kata yang keluar, padahal masih Ada yang harus dia beritahukan kepada Donny tentang rahasia keluarganya, agar bisa menjamin kesejahterahan putri satu satunya itu. Dan kegelapan kembali mengambil alih, perlahan mata itu mulai menutup kembali, Mariska benar benar kehilangan kesadarannya.. “Mariska!!” “Mariska!!” “Tidak. Tidak. Tidak.. Mariska, kumohon buka matamu” Donny terus memanggil nama Mariska saat terdengar suara sirene ambulan dari kejauhan. **** Sekarang sudah jam pulang kantor, apalagi di hari jumat menyebabkan kondisi lalu lintas sangat padat. Untuk ambulan bisa mencapai rumah sakit terdekat yang hanya berjarak tiga kilometer saja membutuhkan waktu tiga puluh menit. Begitu ambulan tiba di rumah sakit, dokter dan perawat telah menunggu mereka. Rumah sakit sudah mempersiapkan segalanya dengan baik, karena sebelumnya sudah menerima telepon dari pemilik rumah sakit yang tidak lain adalah pemilik mobil yang menabrak motor Donny. Donny dibawa ke UGD dan Mariska langsung dibawa ke ruang tindakan, dikarenakan kondisinya yang sudah tidak sadarkan diri. Sekitar satu jam kemudian Donny sudah diperiksa oleh dokter. Selain tulang kaki kirinya retak, bagian tubuh yang lain hanya memar dan lecet-lecet. Setelah kakinya di gips dan lukanya selesai diobati, dia menggunakan kruk yang sudah disiapkan dokter untuk mencari tahu kondisi Mariska. Donny sangat mengkhawatirkan kondisi kekasihnya itu. Dokter yang merawatnya memberi tahu bahwa Mariska sedang dioperasi karena luka dalam akibat kerasnya benturan tubuhnya ke aspal. Perawat membantu mengantar Donny menuju ruang operasi Mariska. Di depan ruang operasi, Donny melihat seorang pria paruh baya duduk. Pria itu berpakaian necis, berkaca mata, rambutnya yang sekarang berantakan sebagian sudah berwarna kelabu, dengan wajah muram ia sedang memandang pintu ruang operasi. Pria itu menyadari kehadirannya saat mendengar bunyi gesekan di lantai, yg merupakan bunyi lantai yang beradu tarikan kaki Doni yang di gips. Pria itu langsung bangun dan menghampirinya. “Malam Pak Donny, nama saya Andreas Hartanto. Saya minta maaf, supir saya tadi tidak memperhatikan jalan dengan baik sehingga menabrak kendaraan Bapak. Sekarang supir saya sudah dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.” kata Pak Andreas memperkenalkan diri. “Malam Pak, saya Donny Christian Hartadi” jawab Donny. Donny merasa kalau wajah Pak Andreas terlihat familiar, tapi dia tidak ingat dimana pernah melihatnya? Mungkin nanti dia akan ingat setelah pikirannya tidak ruwet seperti sekarang. “Saya sungguh minta maaf Pak Donny, saya akan bertanggung jawab atas semua ini” Pak Andreas mulai menjelaskan apa yang sedari tadi dipikirkannya. “Saya akan menanggung seluruh biaya rumah sakit dan juga biaya rawat jalan Bapak dan Ibu, saya juga akan mengganti motor Bapak yang rusak.” “Saya tahu ini tidak bisa meringankan rasa sakit yang Bapak dan ibu alami. Jika nantinya Bapak atau Ibu butuh sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya pada saya. Saya akan coba membantu sebisa saya.” Donny mengangguk. Dia bingung mau menjawab apa lagi? tapi yang pasti dia bisa bernafas lega. Pak Andreas mau bertanggung jawab, setidaknya dia tidak harus memikirkan biaya pengobatan dirinya dan Mariska. Karena dia tau biaya rumah sakit pastilah besar. Donny masih terdiam, matanya menatap kosong ke arah pintu ruang operasi. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi Mariska. Tadi wanita itu sudah tidak sadarkan diri. Di dalam ambulan, Donny masih terus memanggil Mariska, tapi tidak ada tanggapan apapun dari wanita itu. “Mari duduk dulu Pak Donny, anda juga baru diobati dokter dan kaki anda pasti masih sakit. Lebih baik kita menunggu operasi sembari duduk, mari saya bantu” tawar Pak Andreas. “Iya Pak, terima kasih Pak Andreas” “Sama sama Pak Donny” Mereka berbincang ringan untuk meredakan ketegangan menunggu operasi selesai. Ternyata Pak Andreas memiliki beberapa showroom mobil dan perusahaan batu bara di Kalimantan, beberapa Hotel bintang lima dan restoran mewah yang bisa membuat gajinya sebulan melayang hanya untuk makan sekali dua kali disana. Belum lagi ternyata rumah sakit ini juga punya beliau. Pantas saja begitu mereka sampai rumah sakit, banyak sekali dokter dan perawat yang menyambut. Akhirnya Donny ingat dimana dia pernah melihat wajah Pak Andreas. Pak Andreas adalah seorang pengusaha sukses yang wajahnya sering nongol di majalah-majalah bisnis yang sering ia baca. Donny sendiri bekerja di salah satu bank terkemuka di Jakarta sebagai Supervisor bagian pendanaan usaha. karena pekerjaannya itulah dia diharuskan memiliki wawasan yang luas. Donny dan timnya harus melakukan survey komplit, mulai dari keadaan keuangan perusahaan, termasuk keadaan keuangan para petinggi perusahaan serta aset yang mereka miliki, sampai skandal yang mungkin dimiliki petinggi perusahaan, yang mungkin akan membuat saham perusahaan anjlok dan menyebabkan kredit macet. Jadi, Donny sangat update tentang pengusaha pengusaha di tanah air. Bukan maunya mengingat wajah pengusaha yang umumnya sudah berumur, tapi apa daya begitulah pekerjaannya. ****
Sebagai orang yang sudah lama memimpin perusahaan, Pak Andreas sudah melihat berbagai jenis karakter orang. Dari pembicaraan ringan yang sudah mereka lakukan, Pak Andreas menarik kesimpulan bahwa Donny adalah orang yang jujur, tidak serakah dan tidak suka memanfaatkan keadaan. kondisi sekarang adalah bukti konkrit. Pria itu tidak meminta apapun lagi walaupun dia tahu kalau ia memiliki banyak uang. Pria itu juga tidak mengeluhkan kondisinya sekarang, padahal kata dokter kakinya mungkin membutuhkan waktu sembuh lebih dari satu bulan. Pak Andreas teringat bahwa ada salah satu cabang showroom mobilnya yang bulan lalu baru memecat kepala cabangnya karena ketahuan membawa lari uang pelanggan*. Bagian personalia kantornya sudah mengirimkan beberapa lamaran yang dianggap kompeten untuk menduduki posisi tersebut, tapi dia belum sempat memeriksanya. Saat Donny membicarakan pekerjaannya, dia merasa kalau Donny mengerti dengan jelas job desknya dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaanya. Ditambah dengan sikap baik yang ditunjukkan pria itu saat dalam kondisi seperti ini, membuatnya yakin untuk merekrut Donny sebagai karyawannya. Baginya yang penting itu attitude dan bertanggung jawab. Untuk apa pintar tapi ga punya attitude? Ujung ujungnya bikin rugi perusahaan. “Apakah Pak Donny tertarik untuk bekerja di salah satu showroom mobil saya?” “ Eh ” pria itu nampak kaget dengan penawarannya. Karena tidak ada jawaban, Pak Andreas melanjutkan lagi. “Bulan lalu, ada kepala cabang yang diberhentikan, dan sekarang posisi itu kosong, saya rasa Pak Donny cocok menempati posisi itu” “Jika Pak Donny berminat, nanti sekertaris saya akan membantu menjelaskan job desk nya, seharusnya tidak jauh berbeda dengan pekerjaan Pak Donny sekarang, hanya yang dijual disini adalah barang bukan jasa.” "Terima kasih tawarannya Pak Andreas, tentu saja saya bersedia" jawab Donny setelah berhasil menemukan suaranya. Donny merasa dirinya seperti tertimpa durian runtuh. Dari supervisor pendanaan jadi kepala cabang showroom mobil? TOP BINGITS dah.. Donny merasa tawaran pekerjaan ini adalah salah satu bentuk kompensasi dari Pak Andreas, lagi. Banyak amat kompensasinya ya? tapi siapa yang tidak mau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Di perusahaan tempat dia bekerja sekarang, dia masih membutuhkan waktu paling cepat tiga tahun lagi untuk menjadi kepala cabang, itupun persaingannya ketat sekali. Donny teringat pada salah satu teman sekolahnya dulu yang sekarang sudah menjadi kepala cabang di salah satu showroom mobil keluaran Jepang. Sebagai orang bagian pendanaan, kurang lebih dia mengetahui berapa besar komisi yang diperoleh temannya itu. Dan nominalnya itu WOW baginya. Tiba tiba pintu ruang operasi terbuka dan dokter keluar, dengan wajah muram bertanya kepadanya “Anda keluarga pasien?” dokter melihat ke arah Donny “Saya temannya dok, pasien sudah tidak punya keluarga selain putrinya” jawab Donny. Dia menghela napas, teringat Morin yang sedang menunggu di rumah dan tidak tahu apa-apa. “Mohon maaf Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi pasien tidak dapat diselamatkan. Lukanya terlalu parah, beliau meninggal saat operasi”. Sang dokter menunduk, dia tidak berani melihat ke arah Pak Andreas. Dia takut posisinya sebagai wakil kepala di rumah sakit ini digeser karena dia tidak mampu menyelamatkan nyawa korban. Tubuh Donny langsung lemas mendengar berita itu, rasa bersalah menghimpitnya. Mariska kecelakaan saat berada di boncengan motornya. Walau bukan dia yang menyebabkan kecelakaan itu, tapi tetap saja tidak mengurangi rasa bersalahnya. Andai tadi dia tidak menjemput Mariska. Dan sekarang Mariska meninggal, apa yang harus dia katakan pada Morin? anak itu tidak punya siapa-siapa lagi. Begitu juga dengan Pak Andreas yang merasa kepalanya tambah pening. Satu masalah belum kelar, sekarang muncul masalah baru yang lebih besar lagi. Wanita itu meninggal, apa yang harus dia lakukan sekarang? “Maaf Pak Donny, jadi Bu Mariska bukan istri Bapak?” Tanya Pak Andreas. “Bukan Pak, kami baru dekat beberapa bulan ini” jawab Donny pelan. Dia mengela napas panjang lagi, sekarang masalah benar-benar rumit. Bagaimana dia memberi tahu Morin. Anak itu sangat dekat dengan Ibunya. “Bagaimana dengan ayahnya?” Pak Andreas mencoba mencari solusi. “Sudah meninggal 3 tahun lalu Pak, Mariska hanya hidup berdua putrinya semenjak suaminya meninggal” kata Doni menatap dokter dengan pandangan kosong, dia masih bingung harus apa sekarang? Di pikirannya sekarang terngiang permohonan terakhir Mariska. Wanita itu meminta agar dia merawat Morin. Donny baru mengenal Mariska setahun belakangan. Berpacaran juga baru tiga bulan, masih saling menjajaki dan belum berencana ke tahap yang lebih serius. “Apakah ada kerabat lain yang bisa membantu mengurus anak tersebut?” Tanya Pak Andreas tak kalah lesu. Rasa bersalah teramat sangat menyengat hatinya. Supir cadangannya telah membuat seorang anak menjadi yatim piatu. “Tidak Pak, Mariska tidak pernah bercerita kalau dia memiliki kerabat. Dia selalu bilang kalau hanya ada dia dan Morin, jadi mereka saling menjaga. tapi Mariska memiliki pengasuh yang membantu dia mengurus dan menjaga Morin.” Kedua pria itu terdiam dengan pikiran masing-masing saat ranjang pasien dikeluarkan dari ruang operasi dan akan dipindahkan ke ruang jenazah, mereka mengikuti dalam diam. **** Di ruang jenazah, Donny menatap wajah cantik Mariska yang sudah pucat. Wajah yang baru tadi sore tersenyum manis menyapanya saat dia menjemput untuk pulang bersama. Berbagai kenangan tiba-tiba datang dan berputar terus, mulai dari saat mereka berkenalan, masa pendekatan, mulai berpacaran, kenangan-kenangan manis yang secara acak muncul tidak berurutan. Perasaanya pada Mariska mungkin belum terlalu dalam, tapi beberapa bulan ini mereka bahagia. Mereka jarang bertengkar, karena memang Mariska adalah wanita yang tidak banyak menuntut, dia sabar dan pengertian. Dan jika tiba-tiba terpisah seperti ini, rasanya seperti ada bagian dirinya yang juga ikut lepas. Tanpa terasa, air mata mulai mengalir di wajah tampannya. Donny menyentuh pipi Mariska yang mulai mendingin, mencoba memanggil, berharap mungkin tadi dokter salah bicara, atau dia yang salah mendengar kata dokter. Rasanya hal ini mustahil terjadi. “Sayang, bukalah matamu. Jangan terus tidur” Donny masih mengusap lembut pipi Mariska. “Ayo kita pulang” “Morin menunggumu di rumah” “Besok sudah sabtu, kita sudah janji pada Mo…” Donny menghentikan kata katanya, dia berasa ada yang menyentuh tangannya. Dia menengok dan melihat Pak Andreas-lah yang menarik lengannya, pria itu menatapnya sendu. “Sudah Pak Donny, Ibu Mariska sudah meninggal. Biarkan beliau meninggal dengan tenang, jangan membuat beliau sulit untuk pergi.” Pak Andreas mencoba membujuk Donny. “Lebih baik sekarang kita temui anak Bu Mariska dan memberitahunya.” Lanjutnya, dia menarik lengan Donny keluar dari ruang jenazah. Pak Andreas tidak sanggup mendengarkan lebih banyak lagi. Dia merasa menjadi manusia yang sangat kejam. Ini bukan salahnya! bukan dia yang membawa mobil itu! ini murni kecelakaan, ketidaksengajaan, tapi tetap dialah yang bertanggung jawab atas semua kesedihan ini. Donny tiba di rumah Mariska sekitar jam sembilan malam, Morin langsung menyambutnya di teras. Anak itu kebingungan mencari ibunya. “Om Donny, mama dimana? koq gak sama Om?” Morin bicara dengan menatap bingung ke belakang Donny. Tidak ada Mariska disana, yang ada malah mobil hitam yang tidak pernah dia lihat dan pria tua yang tidak ia kenal. Donny secara perlahan menjelaskan kalau ibunya kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit. Donny tidak tega mengatakan sekarang kalau Mariska sudah tiada. Jadi dia dan Pak Andreas hanya diam dan menunggu Morin dan pengasuhnya, mbak Novi berganti pakaian untuk berangkat ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Morin menangis dipelukan Donny. Anak itu terus menanyakan kondisi ibunya. Donny berbohong dengan mengatakan kalau dia tidak tahu juga. Saat tiba di rumah sakit, Morin histeris melihat tubuh ibunya yang sudah kaku. Morin menjerit jerit terus memanggil ibunya, mengguncang guncangkan tubuh ibunya, berharap ibunya akan membuka matanya dan memeluknya seperti setiap kali dia menangis. Morin terus menangis dan tidak mau dipisahkan dari tubuh ibunya saat Donny mau membawanya pulang untuk beristirahat, hingga tanpa sadar dia tertidur dengan memeluk tubuh ibunya karena kelelahan menangis. ****
Saat Morin terbangun esok paginya, dia langsung berlari ke dapur. dia mencari ibunya, berharap ibunya sedang menyiapkan sarapan, seperti yang terjadi setiap harinya. Dia berharap semalam dia hanya bermimpi buruk. Tetapi ternyata dia hanya menemukan mbak Novi, pengasuhnya. Morin langsung memeluk mbak Novi dan bertanya “Mama dimana mbak?” mbak Novi menatapnya iba, dia tidak tega untuk menjelaskan. “Mama dimana mbak?” suara Morin semakin tinggi, mbak Novi masih diam dan menariknya dalam pelukan “Mama dimana mbak?!!” jeritnya histeris, dia sudah benar benar ketakutan. “Jawab Morin mbak!!! Bentaknya, dia memeluk mbak Novi erat. “Mo.. rin.. ke marin ber.. mim.. pi.., ma.. ma.., ma.. ma… me.. ning…gal.., ma.. ma.. per.. gii.., ma.. ma… me.. ning.. gal.. kan… Mo… Moo riiinn….” Morin terbata menceritakan mimpinya kepada mbak Novi, mbak Novi semakin erat memeluk anak itu, dia tidak tega memberitahukan kalau itu bukan hanya mimpi. “Ma.. ma.. me... ning.. gal.. kan.. Mo..rin.. se..per.. ti.. pa.. pa..” anak itu mulai menangis lagi. “Dimana mama Mbak? Morin harus lihat mama supaya Morin yakin kalau itu hanya mimpi” kata Morin cepat, dia semakin panik karena Novi tidak menjawabnya sedari tadi. Morin berusaha melepaskan pelukan mbak Novi, dia bermaksud mencari Ibunya ke ruangan lain di rumah itu. Dia harus melihat ibunya supaya hatinya tenang. Morin berlari ke kamar ibunya, memeriksa sampai ke kamar mandi di kamar ibunya. Saat tidak menemukan yang dicarinya, Morin keluar lagi dan berlari ke ruang tamu. Dia menemukan Om Donny sedang duduk di kursi bersama dengan seorang paman yang sepertinya pernah dia lihat. Setelah menatapnya beberapa saat, dia mulai mengenali kalau paman tersebut lah yang dia lihat di mimpi. Kemarin Om Donny datang bersama paman itu dan membawanya ke rumah sakit untuk melihat ibunya yang tidak pernah membuka matanya lagi, walau sekeras apapun dia memanggil ibunya. Seperti saat ayahnya meninggal dulu. Om Donny menyadari kedatangannya dan memanggilnya "Morin, kemarilah sayang” Mata Morin melebar. Dia mundur selangkah, menggelengkan kepalanya, air matanya mulai luruh lagi dan dia berbalik dan langsung berlari, masuk kembali ke kamarnya. BLAMM pintu dibanting keras oleh Morin. "Tidak" "Tidak, itu hanya mimpi" "Mama tidak akan pergi meninggalkan Morin" Morin mulai meracau, berulang kali mengucapkan kata yang sama. Tangisnya tak terbendung lagi, dia menyadari kalau itu bukan mimpi. Ibunya memang tidak akan kembali lagi, tidak akan memeluknya dan tersenyum padanya. Bahkan jika dia nakal, tidak ada ibunya yang akan memarahinya lagi. Raungan tangisannya sangat memilukan. dia terus menangis hingga tenggorokannya sakit. Dia bahkan belum minum saat bangun, sekarang suaranya sudah serak…. Morin tidak bergeming saat pintu dibuka, Donny masuk ke kamarnya dan memeluknya.. Tangisnya makin menjadi, Morin menangis tersedu sembari terus bicara terbata. Menceritakan bahwa ternyata dia tidak bermimpi, bahwa ibunya pun sekarang meninggalkan dia seperti ayahnya. Ibunya bilang sangat menyayanginya, tetapi kenapa pergi meninggalkannya juga seperti papa? dan berbagai kalimat-kalimat lain yang pernah diucapkan Mariska kepadanya, yang menunjukkan betapa Ibunya sangat menyayanginya. Donny teringat awal hubungan dengan Mariska. Dari pertama Donny mengungkapkan niatnya untuk mendekati Mariska, Mariska sudah memberitahunya kalau dia sepaket dengan Morin. Bagi Mariska, Morin adalah segalanya. Itulah salah satu hal yang membuat Mariska masih belum menemukan pengganti suaminya meskipun wanita itu sangat cantik, banyak pria yang mendekatinya mundur karena Mariska selalu mengutamakan Morin. Bahkan sering membatalkan janji kencan hanya untuk menemani Morin. Jadi sejak Donny dan Mariska mulai dekat sekitar 6 bulan lalu, Donny memperlakukan Morin dengan baik, dia berusaha menyenangkan Morin di setiap kesempatan. Mereka sering pergi bersama di hari minggu. Donny tidak keberatan Mariska sering membawa Morin saat mereka berkencan. menurutnya Morin bukan anak yang menyusahkan walaupun agak manja. Pernah suatu kali Mariska bertanya mengapa dia begitu memanjakan Morin? Donny hanya menjawab kalau dia sedang latihan jadi ayah. Sehingga saat nanti waktunya jadi ayah, di bisa menjadi ayah siaga, selain suami siaga. Dan Mariska tersenyum malu-malu mendengar jawaban itu. “Morin” panggil Donny lembut. Jemarinya membelai rambut Morin, Morin makin mengeratkan pelukannya. Perlahan Donny melepaskan pelukan Morin, mengangkat dagu anak itu agar melihat ke wajahnya. Jemarinya mulai menghapus air mata yang masih terus mengalir seperti tidak akan berhenti. “Morin masih punya Om Donny. Morin sayang Om Donny kan?” Morin mengangguk. “Mama sudah bahagia bersama papa sekarang. Sekarang papa ada yang menemani, jadi papa di surga tidak kesepian.” “Morin mau papa dan mama bahagia?” Morin mengangguk lagi. “Mama dan papa gak bisa bahagia kalau Morin sedih dan menangis terus. Di surga, papa dan mama juga ikut menangis. Morin mau papa dan mama ikut sedih karena Morin sedih?” anak itu langsung menggeleng. “Nah, sekarang papa sudah ada yang nemenin, jadi gak kesepian. Morin juga ada Om Donny dan mba Novi, jadi jangan sedih lagi ya sayang” “Tapi, kan Om Donny bukan orang tua Morin, Om Donny juga gak tinggal sama Morin” keluh Morin. "Morin gak punya siapa siapa lagi, huaa..." air matanya mulai banjir lagi. “Sssttt, jangan menangis sayang. Bagaimana kalau Morin anggap saja Om Donny sekarang papanya Morin. kan memang Om Donny selama ini berusaha jadi papa Morin." ucap Donny lembut. Mata Morin melebar, dia tidak menyangka kalau Donny akan mengatakan hal itu. "Dan om Donny juga akan tinggal dengan Morin supaya Morin tidak kesepian.” lanjut Donny lagi. jemarinya masih terus menyeka air mata Morin. "Om Donny benar akan menjadi papa Morin dan tinggal dengan Morin?" tanya Morin menyakinkan dirinya sendiri. Selama ini pria yang mendekati mamanya hanya baik padanya saat di depan ibunya. Mereka hanya menginginkan ibunya saja. Saat tidak ada ibunya, mereka mengabaikan Morin. Donny terdiam, sebenarnya maksud Donny adalah menjadi pengganti papanya untuk mengurus anak itu. Dia memang menyayangi Morin, tapi ngak juga maksud dia jadi bapaknya Morin. Melihat Donny yang terdiam, Morin menangis lagi. “Tuh kan, gak ada yang mau sama Morin. Morin mau ikut papa dan mama saja, huaaaa...” dia mendorong Donny dan kembali meraung. Morin kebingungan dan ketakutan. Apa yang harus dia lakukan sekarang? dia tidak punya siapapun lagi. Apakah dia akan dimasukkan ke panti asuhan? Waktu di kelas dua, ada teman sekolahnya yang kecelakaan saat liburan dengan orang tuanya, dan kedua orang tuanya meninggal. karena tidak punya kerabat, anak tersebut dimasukkan ke panti asuhan. Sejak saat itu, dia tidak pernah bertemu temannya itu lagi. Tubuh Morin mulai gemetar, dia ketakutan, benar-benar ketakutan. Dia menggelengkan kepalanya terus, berusaha menghalau bayangan akan dibawa ke panti asuhan. Donny Iba melihat Morin. Anak itu begitu ketakutan dan kebingungan, tangisnya begitu memilukan. “Ssttt, tenang ya sayang.. gapapa koq Morin anggap Om Donny papanya Morin” kata Donny menenangkan. Mendengar perkataan Donny, Morin mulai berhenti gemetar, dia menatap Donny lama. Morin tiba-tiba tersenyum sendu padanya, senyum pertama yang dia lihat dari semalam. “Benar sekarang Om Donny jadi papa Morin?” Donny mengagguk pasrah. Nanti saja dia pikirkan bagaimana menjelaskan lagi ke Morin, yang penting sekarang Morin bisa tenang. Lagipula hari sudah semakin siang, mereka harus mengurus pemakaman Mariska. “Sekarang Morin punya papa lagi” tawa anak itu di tengah tangisannya. Morin memeluk erat Donny, memastikan kalau ini kenyataan. Dia memang menyayangi Om Donny. Tapi sebelum bertemu Om Donny, mamanya pernah beberapa kali memperkenalkan teman prianya padanya. Tapi mereka tidak terlalu peduli pada Morin, mereka hanya peduli pada mama. Hanya Om Donny yang benar-benar perhatian padanya. Setelah Donny merasa Morin sudah tenang. Dia menjelaskan pada Morin kalau mereka harus mengurus Pemakaman Mariska dahulu. Morin akhirnya mau untuk disuruh mandi dan sarapan, sebelum kegiatan mereka pagi itu yang akan sangat sibuk. **** Morin menatap pusara Ibunya masih dengan terisak dan berlinang air mata. Namun Morin berusaha tegar, dia tidak ingin membuat ayah dan ibunya di surga bersedih karena memikirkan dirinya. "Mama, sekarang mama sudah bahagia di surga dengan papa ya. Papa sudah tidak kesepian sendiri lagi. Mama papa tidak perlu mengkhawatirkan Morin, Om Donny akan menjadi papa baru Morin, Om Donny akan menjaga Morin. Morin sayang mama dan papa" kata anak itu di tengah isakan tangisnya. Dan Donny yang mendengar Morin mengatakan itu, menghela napas panjang. sekarang dia tidak bisa menarik kata katanya lagi, Morin mengatakannya di depan pusara ibunya. Bisa-bisa arwah Mariska mengejar dirinya kalau dia berani mangkir. Dan tiba-tiba angin bertiup kencang di sekitar mereka. terdengar bunyi petir menggelegar walaupun sekarang langit terlihat cerah. DHUAR!! Donny merasa tubuhnya merinding, seperti ada angin yang bertiup di sekitarnya. Dia menatap pusara Mariska horor. Walau tidak melihat apapun, dia sepertinya bisa merasakan kalau Mariska ada disana. Dan suara petir itu seperti menyegel janjinya untuk mengurus Morin seperti permintaan terakhir wanita itu. Seperti tadi angin kencang tiba-tiba bertiup, seperti itu juga angin itu tiba-tiba menghilang. Meninggalkan Donny dengan dilemanya... Dengan Pak Andreas yang diam sedari tadi sebagai saksi. Orang bilang, permintaan terakhir harus dituruti, kalau tidak arwah yang meninggal tidak bisa tenang dan pergi dari dunia ini. dan tentu saja mengganggu yang tidak menuruti, hihi.. ****