KENIKMATAN SELINGKUH
Bab 1 Tidak sampai puncak

Arsyla adalah seorang wanita berumur 23 tahun, dan dia sudah memiliki suami yang bernama Edi. Usia Edi terpaut 3 tahun lebih tua dari Arsyla. Meski pernikahan mreka sudah beranjak 2 tahun, tetapi mereka belum di karuniai seorang anak. Edi maupun Arsyla tidak memusingkan akan hal itu, karna menurut mereka ekonomi keluarga harus bagus terlebih dahulu. Edi yang hanya bekerja sebagai OB di salah satu supermarket, dengan gajih pas-pasan masih harus menanggung kebutuhan sekolah adik adik-nya yang yatim, dan Arsyla pun tidak keberatan dengan keputusan itu. Sore itu Edi baru pulang dari kerja, iya pulang ke kontrakan yang dia tinggali bersama arsyla. Walaupun kontrakannya tidak besar namun cukup nyaman untuk di tinggali berdua. Ini adalah keputusan mereka berdua supaya nyaman satu sama lain. Edi pun turun dari motor nya sambil menggendong tasnya dan membawa kresek yang isi nya nasi bungkus. "Sayang, aku pulang." ucap Edi. "Sayang ini mas bawain makanan ke sukaan kamu." sambil menyodorkan kresek berisi bungkusan nasi padang. Arsyla pun datang "wah makasih ya mas, udah bawain makanan kesukaan aku ." Ucap arsyla Edi pun beranjak masuk ke kamar menaruh tas dan mengambil handuk untuk mandi. "Mas, minggu depan kak Oca mau nikah, aku di suruh sama ibu untuk bantu bantu di rumah sana nanti. Apa boleh kita ke sana hari jumat?" "Oh, kak Oca sudah mau nikah? Mas liat dulu ya bisa ijin atau engga." Ucap Edi. "Tapi klo mas blum dapat izin dari tempat kerja kamu boleh kok duluan ke rumah ibu." Tambah Edi. Edi pun mengizinkan arsyla untuk duluan ke rumah ibunya. "Makasih ya mas udah ijinin aku." "Ya sudah sayang, mas mau mandi dulu ya. Udah gerah ni karna keringat." Edi pun melanjut kan langkah nya ke kamar mandi. Sambil menunggu suami nya keluar dari kamar mandi, Arsyla pun mengambil 2 piring untuk menaruh nasi padang yang di bawa oleh suaminya tadi, iya menyiapkan makan malam untuk dirinya dan suaminya. Edi pun keluar dari kamar mandi. " Mas, ayo makan, udah lapar ni." Ucap Arsyla. "Iya sayang, ayo kita makan." Singkat cerita wktu sudah menunjukan jam 09.00 mlam, Edi dan Arsyla sudah bersiap untuk tidur. Tapi tiba-tiba Edi mendekati Arsyla. "Sayang, abang pengen ni." Kata si Edi. Benar saja ternyata rudal Edi sudah mengeras, walaupun tidak besar dan panjang tapi itu cukup mampu untuk membuat Arsyla keenakan. Edi pun mengambil tangan Arsyla dan mengarahkannya ke rudal dia, kode suapaya Arsyla mau memainkan nya seblum di masukan. Arsyla pun menurut saja karna Arsyla juga suka memanikan nya. "Mas, mainin punya aku juga dong." Ucap Arsyla ingin d puas kan juga. Edi pun memasukan tangannya ke dalam daster Arsyla, tidak susah meraih gunung kembar itu, karna arsyla tidak memakai bra. Arsyla pun mengeluarkan suara ketika Edi memainkan puting nya. "Mmppsshh.....mass, ssshhh." Edi langsung mengulum gunung kembar itu. Tiba-tiba tangan Edi bermain di miss-V Arsyla yang semakin membuat Arsyla merasakan kenikmatan tiada tara. Tanpa basasi lagi rudal Edi pun langsung di tancapkan ke dalam lubang kenikmatan milik Arsyla Jleebbbb!!!! Dengan sekali hentakan menyatu lah sudah tubuh mereka. "Aaaahhhhhsss,,,," "Enak banget sayang apem kamu "Massss lebih cepat mass sshhh." "Mas ga kuat sayang sshhhh mas mau keluar yaa sshhhh" suara ketika Edi memainkan puting nya. "Mmppsshh.....mass, ssshhh." Edi langsung mengulum gunung kembar itu. Tiba-tiba tangan Edi bermain di miss-V Arsyla yang semakin membuat Arsyla merasakan kenikmatan tiada tara. Tanpa basasi lagi rudal Edi pun langsung di tancapkan ke dalam lubang kenikmatan milik Arsyla Jleebbbb!!!! Dengan sekali hentakan menyatu lah sudah tubuh mereka. "Aaaahhhhhsss,,,," "Enak banget sayang apem kamu "Massss lebih cepat mass sshhh." "Mas ga kuat sayang sshhhh mas mau keluar yaa sshhhh" "Jangan mas sshhh aku belum..." "Ssshhhhh aaaaaahhhhhh" Edi pun keluar, iya langsung merebahkan dirinya d samping Arsyla. Padahal baru 5 menit mereka bermain tapi Edi sudah tidak kuat untuk keluar, bahkan Arsyla pun belum sampai pada puncak yang dia ingin kan. "Kenapa sih mas keluarnya selalu cepat terus? aku masih belum keluar tau." Gerutu Arsyla. Ya memang Edi ini dari awal menikah dia tidak pernah lama kalo bermain, itu terkadang membuat Arsyla kesal, karna dia tidak bisa mendapat kan klimaks nya. Sambil kesal Arsyla mendorong tubuh Edi yang tertidur di sampingnya. Arsyla pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia kembali ke kamar dan melanjut kan tidurnya. Walaupun merasa tidak puas tetapi dia juga tidak mengerti bagaimna memuaskan dirinya sendiri. Pagi pun datang, dia membangunkan suaminya untuk berangkat kerja. "Mas!! mas!! bangun mas!! Udah jam setengah tujuh ini ayo bangun!!" Edi pun terbangun setelah di guncang guncang oleh Arsyla. "Iya sayang, mas bangun ini" dengan suara nya yang parau karna baru bangun tidur. Edi langsung beranjak ke kamar mandi sambil menenteng handuk nya. Arsyla pun bergegas membuat sarapan untuknya dan suaminya. Dengan bahan seadanya yang ada di kulkas dia pun membuat nasi goreng untuk di satap pagi hari itu. Setelah mandi Edi pun langsung mengenakan seragam kerja nya dan mengambil tasnya. Dia pun mendatangi istrinya untuk sarapan. "Masak apa sayang?" Tanya Edi. "Ini mas, aku cuman masak nasi goreng sama telur dadar." Jawab Arsyla, dia pun menghidangkan nya masakan itu dan menyodorkan piring ke hadapan Edi "Ayo cepat di makan mas, biar ga telat kerja nya" Edi dan Arsyla pun langsung menyantap sarapan pagi itu. Selesai sarapan Edi pun langsung berpamitan untuk segera pergi bekerja. "Mas pergi dulu ya sayang." Kata Edi "Iya mas, mas hati hati ya" ucap Arsyla Edi pun langsung menaiki motornya yang sudah dia panas kan tadi. Setelah Edi pergi Arsyla pun masuk ke dalam rumah, dia membereskan piring dan gelas kotor sehabis mereka sarapan tadi, dan sekalian Arsyla melakukan rutinitasnya setiap hari, yaitu berberes rumah. Drrrrrrtttt!!!... Lagi sibuk berberes tiba tiba ada telfon masuk, ternyata setelah di liat telfon dari ibu Arsyla. "Hallo bu. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam laa." Ibu Arsyla menjawab. "Kenapa bu?" Tanya Arsyla. "Jadi gimana la, apa jumat kamu bisa ke sini bantuin ibu dan kaka mu untuk mempersiapkan acaranya?." Ucap ibu Arsyla. "Ohh, klo itu mah bisa bu, semalam udah izin sama mas Edi katanya gapapa aku berangkat duluan kalo mas Edi belum dapat libur." Kata Arsyla. "Oh bagus lah nak kalo begitu, jadi ada yang bantuin ibu di sini." "Tenang aja ibu, pasti aku bantuin ko ." Ucap Arsyla "Ya sudah la klo begitu, ibu cuman mau nanya itu aja. Sudah ya assalamualaikum." "Waalaikumsalam bu." dan terdengar bunyi tut!! Tanda telfon telah di matikan. Arsyla pun melanjutkan berberesnya lagi. Setelah berberes iya pun mengambil kunci motor dan jaket tidak lupa dia mengunci pintu, dia ingin belanja ke warung yang menjual sayuran. Dengan uang yang sudah di jatah untuk perharinya dia membelanjakan. seperlunya saja. Ya begitulah nasib jika punya suami yang gajih nya pas pasan belum lagi harus di bagi untuk menafkahi adik dan ibu nya. Akhirya Arsyla pun pulang dengan membawa barang belanjaan nya yang seaadanya itu. "Duh!! Apa apa ko mahal banget si." Grutu Arsyla. "Andai aja aku boleh kerja, pasti uang belanja ga bakal pas pasan begini" Arsyla pun mengeluh pada barang belanjaan nya. Tak lama setelah menyusun barang belanjaan, hp Arsyla pun bergetar. Ternyata sms dari kakanya, [ jangan sampe ga datang buat bantuin di rumah.] Itu isi pesan dari kak oca, Arsyla pun membalas [ iya kak, hari jumat aku datang kok.] Setelah itu tidak ada balasan lagi dari kak oca. "Kak Oca ini, udah mau nikah masih aja galak." Gerutu Arsyla sambil merebah kan diri nya ke lantai yang berlapiskan karpet.... (To Be Continued)

Bab 2 Pulang kampung

Malam ini malam jumat pukul 08.00 aku berkemas, ku masukan baju ku seadanya ke dalam tas, untuk di bawa ke tempat ibu ku. "Sayang, besok jadi berangkat?" "Iya mas, besok aku jadi berangkat pagi" jawab Arsyla "Besok mas ga bisa antar ya, kamu naik angkot aja" ucap Edi "Hhmm ya udah deh, gapapa mas" Arsyla sambil memutar bola mata nya, menandakan dia malas dengan suaminya. Ya walaupun kelihatan kami ini seperti pasangan romantis, tetapi mas Edi ini adalah orang yang tidak peka, apalagi masalah main di ranjang yang sangat sebentar, kadang membuat ku jadi kesal. "Dulu awal menikah mas Edi adalah orang yang peka tapi ternyata makin ke sini makin kelihatan sifat aslinya. Tiba tiba mas Edi mendekati ku, sambil berbisik. "Sayang, mas pengen makan" ucap Edi "Ambil sendiri sana mas, udah ada di tudung nasi" Tapi tangan Edi malah menyentuh buah dada ku, "Mas mau makan ini sayang." Ternyata Edi ingin di layani. Terpakasa aku meninggalkan barang barang yang ingin aku masukan dalam tas, dan melayaninya. Karna takut dosa bila menolak. "Ssshhhhhh aah mass ssshhh." Desah ku ketika Edi mengulum puting milik ku. Edi pun mengarahkan tangannya kebagian bawah yang di mana ada kacang kenikmatan milikku di sana Di putar putar nya jarinya di kacang ku, dan tak berlangsung lama e.di masukannya dua jarinya ke dalam lubang kenikmatan ku. "Sssshhhhh aaahhh mass enak banget mas sshhh." Desahan ku makin menjadi, ketika lubang ku semakin di obok obok oleh jarinya. "Mas masukin ya syang, mas udah ga tahan." Aku pun mengangguk kan kepala ku, tanda setuju. Jllleebb!!!! Aaahhh masuk lah sudah rudalnya ke dalam lubang kenikmatan ku, "Nikmat banget sayang memek kamu" ucap Edi sambil menggenjot ku. "Aaahhh maasss" "Maaasssterus mas, lebih cepat masss." Ucap ku, Meminta yang lebih nikmat. Namun seperti yang sudah sudah si Edi ini selalu keluar cepat. "Aaahhh sayang mass udah ga kuat, mas mau keluar aahhh." Edi pun menggoyang lebih cepat dan yak, dia pun keluar sebelum aku merasakan kenikmatan yang ku inginkan. "Sayang, maafin abang ya. Karna abang keluar duluan." Edi yang meminta maaf karna keluar duluan tidak ku hiraukan. Aku memilih langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan lendir lendir milik Edi yang ada di lubang kenikmatan ku. Setelah selesai aku kembali merapihkan barang yang mau ku bawa untuk besok pagi, lalu aku pun ikut tidur di samping Edi yang sudah terkapar setelah mendapatkan ke enakan yang dia ingin kan. Pagi hari pukul 06.30 Aku pun terbangun dari tidur ku. Mas bangun gak? Udah mau siang ni." Ucap ku sambil menggoyangkan tubuh Edi. "Iya, iya sayang abang bangun!" Ucap Edi dengan suara serak namun terdengar kesal karna ku bangunin. Edi pun bergegas bangun dan langsung beranjak ke kamar Mandi. Pagi itu aku hanya menggoreng telur untuk di makan dengan nasi putih dan kecap. Ya kami memang makan seadanya saja, karna mau di apa gajih suami ku yang pas pasan jadi harus terus berhemat. Tak berselang lama setelah ku siapkan telur dan nasi ke piring, Edi pun keluar dari kamar mandi dan bergegas memakai baju seragamnya untuk bekerja. "Mas! Cepetan ih udah mau terlambat pigi kerja nya!" Ucap ku. "Iya sabar tu nah yang, mas lagi siap siap ini." Jawab Edi. Setelah itu Edi menghampiri ku, langsung ku sodorkan piring berisikan telor dan nasi putih. Sayang, kamu cuman masak ini? Ga ada yang lain?" Ucap Edi. "Mas, makan apa yang ada aja lagian kita harus berhemat." Kesal rasanya udah cape cape di siapin malah protes. Padahal makan tinggal makan saja. "Lagian mas, kalo mau makan enak terus pengeluaran harus banyak. Sedangkan mas ngasih uang cuman pas pasan." Omel ku kepada Edi. Edi pun diam sadar bahwa dia hanya memberi uang pas pasan. Selesai kami sarapan, mas Edi pun berpamitan untuk pergi bekerja." Mas jalan dulu ya." Ucap Edi. "Iya mas hati hati ya" kata ku. "Oh iya sayang, mas ga bisa anter jadi kamu cari angkot sendri aja ya, ingat hati hati di jalan." Ucap Edi. Aku pun hanya mengangguk. "Punya laki ga peka, taunya cuman nyuruh hati hati." Grutu ku dalam hati. Aku pun mengecek lagi barang barang yang mau ku bawa ke tempat ibu. Tidak banyak yang ku bawa hanya baju dan make up saja seadanya yang ku punya. Setelah itu ku bawa tas ku dan beranjak keluar rumah, lalu ku tutup pintu dan ku kunci. Kuncinya pun ku selipkan di ventilasi atas pintu ku, agar pas Edi pulang dia bisa masuk ke dalam rumah. Aku pun bergegas jalan kaki sambil menenteng tas ku. Lumayan juga kalo jalan kaki ke jalan raya untuk mencari angkot. Setiba nya di jalan raya aku pun menunggu angkot yang menuju ke arah kota. Sekitar dua menit aku menunggu akhirnya ada juga angkot yang ke jurusan kota. "Bang arah kota?" "Iya mba, langsung masuk aja." Ucap kang angkot. Sekitar 15 menit, akhirnya sampe juga. Tapi bukan di sini tujuan ku. Aku masih harus menaiki angkot lagi untuk sampai ke tempat ibu ku. Tak beberapa lama aku pun menaiki angkot ke dua, dan yah setelah lama aku duduk akhir nya sampai juga di dekat rumah ibu ku. Aku pun turun di pinggir jalan, dan aku berjalan menuju gang kecil di pinggir jalan raya tak jauh berjalan rumah ibu ku sudah kelihatan. Di sana sudah ramai dengan ibu ibu yang membantu bikin bumbu dan mempersiapkan yang lain nya. "Assalamualaikum" aku pun mengucapkan salam. "Waalaikumsalam" jawab semua ibu-ibu yang membantu di situ. "Eh la, udah datang? Datang sama siapa la?" Ucap ibu ibu kepo. Padahal sudah melihat kalo aku berjalan sendiri." Datang sendiri bu." Jawab ku." Suami nya mana la? Ko ga di anter si." Ucap ibu ibu yang satu lagi. " Suami ku kerja bu, ga bisa ijin dia, jadi aku berangkat sendiri."" Emang kerjanya apaan la?" Pertanyaan ibu ibu yang makin lama makin kepo. Aku pun hanya senyum dan beranjak ingin meninggalkan. "Bu, aku duluan ya mau narok barang dulu soal nya" sambil berjalan ke dalam tanpa menghiraukan ibu ibu yang kepo itu. Yah begitu lah ibu ibu kalo sudah ngumpul suka banget urusin hidup orang. Aku pun mencari keberadaan ibu ku dan kaka ku. "Assalamualaikum bu." Sambil menyalimi tangan ibu ku "Waalaikumsalam nak, akhir nya kamu datang juga" ucap ibu ku. "Iya dong bu, kan mau bantuin ibu." Jawab ku. "Ya udah masukin barang barang mu ke kamar sana." Aku pun langsung berjalan ke kamar ibu ku untuk menaruh barang ku di situ. Yah di rumah ibu ku ini cuman ada 2 kamar saja, kamar orang tua ku dan kamar yang sekarang di dekor untuk kamar pengantin. Di dalam sana ada kaka ku dan keluarga yang lain nya, lagi berbincang bincang karna sudah lama tidak bertemu. "Kak Oca!" Tegur ku. "Iya la, sini ayo gabung ada Tata sama tante nur nih." Ucap kak Oca. Aku pun menghampiri mereka." Ciee,,, yang lagi di pingit, dalam kamar aja sii." Ledek ku sambil cekikikan. "Iya dong, dari pada kenapa kenapa. Lebih baik aku di pingit aja deh." Kata kak Oca. Ya terkadang kami masih mempercayai hal semacam itu, selain karna takut kenapa napa, kami pun juga menggunakan alsan itu untuk perawatan, biar lebih cantik aura pengantin nya. Tak terasa sudah cukup lama kami berbincang, aku pun keluar untuk membantu menyiapkan keperluan nikahan kaka ku itu. Banyak keluarga yang jarang ku liat ngumpul di sini untuk bantu bantu acara ini. Bahkan ada keluarga yang jauh banget datang. Sore pun berganti malam, aku pun mengistirahatkan diri di kamar orang tua ku. Jujur badan ku terasa cape banget karna belum ada istrhat seharian. (To Be Continued)

Bab 3 Tampan nya Abang ipar ku

Drrrttttt.... Hp ku bergetar pagi hari itu. Ada 2 panggilan dan 10 chat dari suami ku Edi. [Sayang, mas udah sampe di rumah. Kamu lagi apa?] 18:25 [Sayang, lagi apa ?] 18:30 [Sibuk banget kah?]18:32 [ Kenapa chat mas ga di balas?] 18:35 [ Sayang] 18:40 [ Ya udah mas mau tidur dulu] 22:58 [Kamu udah tidur syang?] 2 3:30 [Sayang mas udah bangun] 06:35 [ Kamu lagi apa sekarang?] 06:38 [ Kenapa chat mas ga di balas semalem?] 06:40 "Waduh mati aku" sambil menepok jidat ku dengan telapak tangan. "Bisa bisanya aku tidur selama itu." [ Maaf mas, aku kemarin repot banget, terus ga megang hp aku langsung ketiduran jadi baru bangun sekarang ] Balasan sms ku, suami ku ini orangnya luamayan posesif dan curigaan. Aku bukannya takut dia akan marah marah tapi aku lebih ke malas untuk meladeni dia ketika marah dengan hal yang menurut ku sepele. Drrttt.... Ada balasan dari Edi. [ Yakin kamu ketiduran?] Tanya Edi yang tidak percaya dengan alasan yang di beri Arsyla. [ Ya iya lah mas, kalo ga percaya tanya aja sama ibu!] Balas ku, sangat malas sebenarnya meladeni dirinya yang curigaan ga jelas ini. [ Ya udah kalo begitu, mas mau lanjut kerja. Sore kemungkinan mas ke sana.] Balasan chat dari Edi, setelah itu aku pun tak membalasnya lagi. Siang itu aku membantu menyiapkan lagi apa apa saja yang masih kurang. Dan aku pun membantu mengecek kardus Air kemasan gelas untuk acara besok. Tiba tiba dari arah luar ada yang datang." Assalamualaikum " ucap orang itu. Waalaikumsalam "jawab ku. "Siapa nih cowo ganteng banget, mana badannya bagus dan tinggi pula." Batin ku, "Maaf nyari siapa ya mas?" Tanya ku. "Ini mba mau nganterin barang barang buat keperluan besok. Oh iya Oca nya ada mba ?" Kata laki laki itu. "Oh ada mas, sebentar saya panggil kan ya." Aku pun bergegas masuk ke dalam kamar kakak ku. "Kak, kak Oca." Ka Oca pun menyahuti ku. "Apa si la manggil manggil." Kata nya sambil agak kesal karna ku ganggu saat dia lagi maskeran." Itu ka ada laki laki yang nyariin kakak di luar, datangin gih katanya mau anterin barang." Tiba tiba ka Oca melepas masker yang baru saja dia pakai itu, seakan sudah tau siapa yang akan datang, kak Oca merapihkan rambut dan pakaiannya. "Mana orangnya la." Ujarnya. "Itu kak masih aku suruh tunggu di luar." Jawab ku. "Loh kok ga di suruh masuk si la." Kak Oca pun langsung bergegas keluar untuk menemui laki laki itu. "Hhmmm siapa ya kira kira orang itu." Batin ku. Aku pun menyusul nya keluar. Sesampainya aku di luar ternyata melihat pemandangan mesra kakak ku dengan lelaki itu. Lelaki itu membelai kepala kakak ku, kakak ku jadi senyum senyum terus ke laki laki itu. "Oh itu toh calon kakak ipar ku" dalam hati ku. " Beruntung banget kakak ku dapat cowo seganteng dia." Sambil bicara dalam hati aku pun melanjutkan menyusun kardus kardus air tadi, sekaligus menguping pembicaraan mereka yang jelas. Mau ngapain mas ke sini?" Tanya kakak ku dengan nada manjanya. " Mas mau nganter ini sayang." Kata laki laki itu sambil mengasih liat apa yang dia bawa. Ternyata calon kakak ipar ku itu sedang membawa high heels dan kebaya yang cantik untuk acara besok. Ya yang aku dengar dengar calon kakak ipar ku ini adalah orang tajir, jadi tidak heran jika gaun yang hendak di pakai acara adalah motif yang kakak ku pesan sendiri. Jangan tanya, kata orang tajir kenapa nikahannya di rumah? Ya alasannya orang tua ku yang mau acaraan pertama di rumahnya agar tetangga bisa datang semua. Setelah itu nanti seminggu kemudian barulah akan di adakan lagi acara di gedung, untuk menyambut tamu tamu dari teman serta kolega dari calon kakak ipar ku. Setelah berbincang bincang dengan kak Oca, laki laki yang sebagai kakak ipar ku itu pun berpamitan untuk pulang. "Ya udah syang ya, mas mau pulang dulu. Kan ga boleh lama lama ketemunya karna masih di pingit kan." Ucap nya sambil mengelus rambut kak Oca. "Hhhmmm iya deh mas gapapa, lagian kan besok kita udah jadi suami istri ." Kata kak Oca dengan nada manjanya yang membuat ku merinding. "Ya udah sayang, mas pamit dulu ya." Sambil mengecup kening kak Oca. Aku pun merasa cemburu melihatnya. "Ekhem ekhem" ku kencangkan suara batuk tertahan ku yang aku sengaja. Kak Oca langsung melihat sinis ke arah ku, "Eh ya udah ya kalo begitu sayang...... Mari mbaa .." dia pun melewati ku yang berada di dekat pintu. Berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobil yang dia parkir tak jauh dari halaman rumah kami. "Kamu tuh ya, orang lagi mesra mesraan malah di ganggu." Grutu kak Oca kepada ku. "Ya maaf ka, habisnya mesra bener kek ga pernah ketemu berbulan bulan aja si." Jawab ku sambil ngeledek kaka ku ini. Yah walaupun galah tapi dia tetep enak di ajak becanda orangnya. " Eh la, gimana orangnya menurut mu? Bagus ga?" Tanya kak Oca. "Ya elah ka nanya bagus, di sangka barang kali ah." Jawab ku sambil bercanda. " Ih beneran nih aku nanya, ga nyangka banget tau bisa dapatin si Devan itu" ucap kak Oca dengan wajah yang sumringah. Bagaimana tidak, orang calonnya itu udah bisa di kata hampir sempurna. Wajah tampan badan tinggi besar seperti sering ngegym tidak lupa, dia juga banyak duitnya. Itulah yang semakin membuat ku iri, tapi wajar si dengan perawakan kakak ku yang pendek tapi berisi dan wajahnya yang terawat, siapa pun pasti bisa kepincut oleh nya. Hari pun sudah beranjak semakin sore. Semua persiapan sudah di tangani dengan baik, sekarang tinggal berharap semuanya lancar sampai acara selesai. Drrrrrtttttt...... Drrrrrrtttt..... Hp ku berbunyi, tanda ada yang menelfon. Ku lihat ternyata mas Edi yang menelfon ku. "Iya hallo mas." Ku angkat telfonnya Sayang, mas udah mau jalan ke sana ya." "Oh iya mas, jangan lupa bawa baju ganti dan baju buat acara besok ya." "Iya, udah mas siapin tadi. Ya sudah kalo begitu mas mau langsung jalan ini ya." "Ya udah hati hati di jalan mas." Aku pun langsung menutup telfonnya. Aku pun beristirahat sebentar. Karna sudah tidak ada lagi yang perlu aku bantu. Semwuanya sudah beres. Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Dan mas Edi sudah sampai di rumah ibu beberapa menit yang lalu. Ku rapih kan baju yang ingin ku pakai besok, dan ku gosokan baju yang di bawa mas Edi untu di pake pas acara nanti.q Aku pun sudah perawatan juga, walaupun cuman pake masker yang aku minta pada Hehe maklum lah aku lagi berhemat jadi tidak ingin membeli hal yang tidak terlalu penting untuk ku. Yah bisa di bilang aku ini kurang dalam hal merawat diri. Karna hidup yang serba pas pasan. Masih bisa membeli bedak dan lipstik di pasar itu pun sudah cukup untuk ku. Tidak terasa ini sudah jam 9 malam. " Yak semua udah beres, aku mau tidur dulu ah." Ya aku pun ingin tidur cepat karna besok aku harus bangun pagi sekali untuk membantu menyiapkan hidangan untuk acara. Dan juga aku harus ada waktu untuk dandan, biar kelihatan cantik saat di foto. Edi pun sudah tertidur, aku pun juga menyusul di sampingnya untuk tidur. Minggu, pukul 04.50 Aku pun bangun dari tidur ku. Ternyata sudah pada ramai keluarga dan tetangga ku memasak untuk hidangan nanti pagi. Aku pun bergegas membantu. Akhirnya sudah selesai semua. Ku bangun kan mas Edi. "Mas, mas bangun. Cepet bersiap acara udah mau di mulai." Padahal itu masih jm 6 pagi. Tapi kalo tidak begitu dia tidak akan bergerak untuk bersiap. Aku pun juga bersiap untuk diri ku sendiri. Ternyata karna aku adalah keluarga inti mempelai wanita, aku dan ibu ku ikut di rias oleh make up pengantinnya." Alhamdulillah, jadi ga usah repot repot dandan sendiri." Batin ku. Setelah semua sudah beres. Pak penghulu pun sudah datang pagi itu untuk bersiap. Tak berapa lama, mempelai pria pun datang beserta rombongan keluarganya. Acara penyambutan mempelai pria pun sangat meriah sekali. Akhirnya acar yang di tunggu tunggu pun datang juga, ya itu ijal qobul antara kak Oca dan Devan. Saya nikahkan dan kawinkan engkau, wahai sodara Devan Nugraha dengan sodari Oca Aprilia dengan mahar emas 10 gram serta seperangkat alat solat Tunai!" "Saya terima nikah dan kawinnya Oca Aprilia dengan mahar emas 10 gram serta seperangkat alat solat Tunai!" Dengan sekali tarikan nafas dan semua orang menjawab SAH resmi sudah Devan menjadi sumai kak Oca serta menjadi kakak ipar ku. (To Be Continued)

Lanjut baca