PRANG!! Suara piring yang berjatuhan dari atas meja prasmanan membuat orang di sekitarnya merasa panik dan ketakutan. satu tarikan dari cengkeraman kuat pada taplak meja tersebut nyatanya memang berhasil menjatuhkan apapun yang berada di atasnya. July Agatha, itu lah namanya. Gadis cantik berumur 22 tahun berbalut gaun berekor panjang berbahan satin brokat, tengah mengamuk di sebuah aula luas yang telah di hiasi dengan dekorasi super mewah. sebuah dekorasi yang hanya atau khusus disediakan untuk orang-orang tertentu saja. Cantik, indah, mempesona seperti rupa July saat ini. namun, tidak dengan hatinya. Hatinya saat ini tengah hancur. matanya yang merah, tak lagi membuat July peduli dengan sorot mata prihatin dari mereka-mereka. yang ia tahu saat ini, raganya tengah remuk dan hancur. "Keluar, kalian semua!" Teriakan lantang itu berhasil membubarkan kerumunan yang tengah berbisik dalam umpatan. Berbondong-bondong, para tamu undangan berhamburan keluar dari aula tersebut. tak terkecuali bagi para wartawan yang semula masih bersikukuh untuk tetap bertahan menyaksikan amukan July. huh! wartawan mana yang akan membiarkan berita besar di hadapannya tertinggal begitu saja? tidak ada. Kini, gadis berbalut gaun pengantin itu lantas tersungkur memeluk lantai yang kotor. menangis sejadi-jadinya tanpa peduli lagi bagaimana riasan bak seorang bidadari memudarkan senyum cerianya. kecewa, sedih, marah dan malu, tengah bercampur teraduk menjadi satu menghampiri raga ini. Para wartawan yang semula terus-menerus mengambil kesempatan untuk mengambil gambar, kini sudah mundur menjauh setelah di usir paksa oleh dua pengawal keluarga Jordan. ya, meskipun mereka sempat merekam sebagian kejadian tersebut. Mungkin saja besok berita tentang gagalnya pernikahan ini akan menjadi topik terhangat di seriap stasiun TV "July." Sentuhan lembut mendarat memberi usapan di atas pundak. "Kemari, sayang." Wanita paruh baya yang di sebut Ibu lantas merangkul pundak yang tengah bergetar hebat. July tetap menangis. memeluk lututnya rapat-rapat. menyembunyikan betapa kacau dirinya saat ini. "Kenapa harus begini?" bersuara tanpa terlihat wajahnya. July masih setia memeluk kedua lutut yang tertutup rapat oleh gaunnya yang basah terkena air mata. "Tenang sayang …." hanya bisa berkata demikian karena tak tahu harus bagaimana. Bagi seorang ibu, melihat anaknya hancur tentu saja akan ikut merasakan kehancurannya. Di ruangan yang terlihat seperti sebuah kapal pecah yang telah di hancurkan sang perompak ini, kini hanya menyisakan Ayah, Ibu dan sebagian para pelayan dan pengawal. Mereka tentu tak bisa berbuat apa-apa selain mengusap dada dan ikut merasa iba dalam kesedihan yang sedang di rasakan Nona Mudanya saat ini. Jordan yang berstatus sebagai Ayah dari July hanya bisa memandang wajah sang istri yang tengah memeluk July dengan erat. Tesa (istri) berkedip beberapa kali pada sang suami meminta untuk mendekat. meminta bantuan supaya July mau beranjak dari posisinya saat ini. "Kenapa ini terjadi, Tuhan. kenapa?" July mendongak sesaat. memandang langit-langit seolah sedang mengadu pada sang pencipta takdir. menelungkup lagi, tangis itu terdengar. "Kenapa?" "July sayang…." Jordan ikut bersimpuh. jongkok di hadapan July -memberi usapan lembut di atas lutut yang tertutup gaun pengantin. "Kita pulang yuk. kita lupakan semua ini." "Enak saja!" July mendongak. membelakkan mata mengibaskan kedua tangan hingga ayah dan ibunya terjengkang. "Eh!" pekik para karayawan dan pengawal secara bersamaan. mereka nampak terkejut dengan apa yang di lakukan July. Seorang pria dengan postur tubuh yang tinggi tegap dan berisi, sudah membungkuk dan hendak membantu. Namun, telapak tangan Jordan terangkat memberi kode bahwa dirinya baik-baik saja. David, itu lah nama pria tersebut. Pria berumur 27 tahun yang ditugaskan menjadi pengawal kepercayaan Keluarga Jordan yang baru mulai bekerja sekitar satu bulan yang lalu menggantikan ayahnya yang sudah pensiun. Sosok David yang memiliki tubuh seorang tentara, tentu sangatlah cocok di jadikan sebagai pengawal bos besar seperti Jordan. Bukan hanya David yang bertugas mengawal di keluarga Jordan, tapi ada Dion yang notabenya adalah ponakan dari Tesa. Kembali pada topik utama, kini July sudah berdiri tegak. mengusap kasar wajahnya yang basah, kemudian Juli berlenggak mendekati pecahan piring yang berserakan. ekor gaunnya terlarak kasar mengikuti langkahnya yang semakin dekat dengan hal yang bisa membuat July celaka. "Juli! apa yang kau lakukan!" teriak Tesa dengan kedua tangan menjulur mencoba meraih tubuh Juli. sayangnya July langsung mundur. "July sayang … kumohon, jangan lakukan itu." Perlahan Jordan mendekat. mencoba meraih lengan July supaya urung untuk mengambil pecahan piring tersebut. Sayangnya, kini pecahan piring tersebut sudah berada di genggaman tangan July. menyeringai tanpa rasa takut, bahkan kini Juli sudah mendaratkan pecahan piring itu di atas pergelangan tangan bagian dalam. "Juli!" Teriak Tesa. Tak berani mendekat, lantas Tesa hanya bisa menangis sambil mengguncang lengan sang suami. "Lakukan sesuatu." "Hei kalian! kenapa diam saja!" Tesa berteriak membentak para pengawalnya yang sedari tadi hanya melongo. Bukan begitu sebenarnya, mereka hanya tak tahu harus berbuat apa. begitu juga dengan David. Tak ada yang berani mendekat, David mencoba maju. "Nona, ku mohon jangan lakukan hal bodoh." terus maju berharap bisa menggapai benda yang di pegang July tanpa melukai siapaun. "Mundur!!" perintah July dengan mata melotot di kelilingi sisa air mata. "Jangan berani mendekat." July menekan benda tajam itu hingga membuat semua menjerit bersamaan. David mundur. mengerjap-kerjapkan mata, meminta Dion untuk membantu berdiri sigap dan waspada. sepertinya David punya rencana. "July, ibu mohon. jangan lakukan itu." Tesa sudah menangis sesenggukan. mengguncang lengan suaminya, Tesa menatap iba. Memang apa yang bisa dilakukan Jordan? tidak ada. jika mendekat, takutnya malah semakin cepat gerak July untuk melukai tangan. Masih mengatur napas yang berderu cepat. dengan beling masih mendarat di atas pergelangan tangan, tanpa July sadari seseorang tengah berdiri di belakangnya. David berkedip bemberi kode dengan isyarat gerak tangan -meminta supaya Jordan mengalihkan sedikit pandangan Juli. mengulur waktu lebih tepatnya. "Juli sayang … lepaskan ya. Kalau kau terluka bagaimana?" mencoba membujuk sebisa mungkin supaya David segera melancarkan aksinya. "Iya sayang." Tesa mengimbuhi. "Tidak!" Teriakan itu membuat Tesa refleks mendesis menahan nyilu dan takut. apalagi ketika sedikit goresan berhasil mengeluarkan darah dari balik kulit mulut itu. sontak Santi langsung berteriak histeris. Plak! Sebelum goresan itu semakin dalam, tampikan cepat yang di lakukan David berhasil membuat beling itu lepas dari tangan July. Bugh! Tubuh berbalut gaun pengantin itu ambruk tak lama setelah tetesan demi tetesan berjatuhan menyentuh lantai. Juli tersungkur jatuh begitu saja tak sadarkan diri. "July!!!" teriakan bersamaan keluar dari mulut Jordan dan Tesa. Menghambur menghampiri tubuh tersungkur itu, Jordan lantas membalik tubuh July. meletakkan kepala di atas pangkuan, Jordan lantas berteriak. "Siapkan mobil, cepat!" Bergegas, David dan satu temannya yang bernama Dion berlari keluar menyiapkan mobil. Kemungkinan bukan dari luka goresan itu yang menyebabkan July tak sadarkan diri. akan tetapi, bisa jadi karena syok menghadapi apa yang tengah terjadi saat ini. Sebuah pernikahan termewah yang belum pernah terjadi sebelumya, kini harus berakhir dengan sebuah malapetaka di mana sang mempelai pria tidak hadir dan justru menghilang bersama selingkuhannya. Bagaimana July bisa tahu? karena pria brengsek itu yang menghubungi July melalui pesan singkat. sungguh sangat keterlaluan! bahkan, perlu diketahui, ponsel berisi pesan tersebut sudah raib entah menghilang kemana sesaat sebelum July mulai mengamuk.
Di depan pintu di mana Nona mudanya terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri, David tengah berdiri sambil bersender pada dinding di samping pintu tersebut. Di tangannya yang mengepal terlihat sesuatu benda yang dicengkeram dengan erat. Sementara di samping David, tepatnya di kursi besi panjang, Dion nampak sedang duduk mengotak-atik ponselnya. Menulis sesuatu –entah apa itu—kemudian ia kirim ke nomor seseorang. "Apa Kau sudah melihat beritanya di media sosial?" tanya Dion tanpa menoleh. Pandangannya tetap fokus mengetik pada layar pipih menyala terang tersebut. Desahan terdengar keluar dari balik bibir David yang terbuka. Tidak langsung menjawab, David kemudian ikut duduk. "Aku malas melihat berita online. Isinya terlihat dibuat-buat." Bahkan perlu mereka tahu, para wartawan sempat berkerumunan di kediaman Jordan. memang sudah tugasnya para pemburu berita dan gosip untuk mencari informasi. "Dibuat-buat bagaimana?" benda pipih itu Dion masukkan ke dalam saku kemeja. "Berita tentang pernikahan ini, benar-benar sudah menyebar luas." Meraup wajah dengan kedua tangan, David membungkuk menyikukan kedua tangan di atas paha. "Justru itu, aku jadi malas melihatnya. Kalau July sampai tahu, pasti dia semakin syok." "Kau benar. Ayah dan ibuku yang di luar negeri pun sudah mengetahui tentang gagalnya pernikahan July." Mendesah sesaat ikut merubah posisi sama persis seperti yang dilakukan David. "Mereka terus bertanya padaku, apa yang sebenarnya terjadi." "Benarkah?" David menarik punggung ke belakang. Bersandar pada dinding menyandarkan tubuhnya yang mulai lelah. "Secepat itu beritanya tersebar. Media online sekarang mengerikan." Keduanya terdiam. Sunyi senyap tak ada yang bersuara. Masing-masing hanya duduk dengan pikiran yang melayang-layang tanpa arah. Sampai tiba-tiba terdengar suara knop pintu tertarik hingga pintu terbuka sebagian. "Bibi...." Keduanya terkesiap. Berdiri secara bersamaan menghadap Tesa. "Bagaimana keadaan Nona July?" "Apa lukanya serius? Dia baik-baik saja kan, Bibi?" Pertanyaan bersamaan keluar dari mulut keduanya. Wajah keduanya sama-sama menampakkan wajah penuh kekhawatiran. Apa lagi untuk David. Jujur saja dia begitu khawatir. Namun, karena sadar akan posisi, David hanya bisa memendam rasa khawatirnya di dalam hati. Selebihnya David memang tak perlu banyak tahu. Tak mau membuat siapun merasa khawatir yang berlebihan, Tesa sontak melempar senyum. "July baik-baik saja. July pingsan bukan karena luka itu. Dia hanya syok." Benar. Sesuai dugaan David. Luka itu tak mungkin membuat July sampai pingsan. Karena David yakin, biarpun meneteskan darah, tapi lukanya tak terlalu dalam. Setidaknya mendengar kabar July baik-baik saja sudah membuat David merasa lega. "Oh iya, David." Tesa menutup pintu itu rapat-rapat. Bergeser sedikit menjauh. "Kau pulang saja, tak apa. Di sini ada Dion. Kau pasti lelah kan?" David refleks menggeleng. "Tidak Nyonya. Aku sama sekali tidak lelah. Ini sudah tugas saya untuk menjaga Nona July di sini." David tak mau pulang. Sungguh berat rasanya jika harus mengangkat kaki meninggalkan Nona mudanya yang masih belum sadarkan diri. Memangnya David siapa? Belum tentu juga July akan merasa senang jika David menemani. Entahlah. "Tak apa David." Dion menepuk pelan pundak David. "Ini kan hari minggu, tugasmu adalah di rumah menjaga ayahmu." "Benar David." Tesa mengimbuhi. "Sudah pulang sana. Kau bisa datang lagi, besok." Tersenyum penuh rasa terimakasih. David menghela napas berat. "Baik, Nyonya. Aku akan pulang. Aku janji akan datang lebih awal, besok." Sigap dan meyakinkan membuat Tesa tersenyum. "Hati-hati. Dan terimakasih untuk hari ini," ucap Tesa sebelum David beranjak pergi. Menatap punggung pria gagah itu yang perlahan semakin menjauh, Tesa lantas mengajak Dion untuk masuk ke dalam. Dion juga butuh istirahat. Meskipun tahu tempat ini tidaklah nyaman, tapi di dalam sini di sediakan dua sofa panjang yang di lengkapi bantal berukuran 30 cm sebanyak 4 buah. Bukan hanya itu saja, ruang ini jelas-jelas hanya bisa di masuki oleh keluarga konglomerat –yang permalamannya saja bisa mencapai 5 juta—. Di dalamnya terlihat beberapa fasilitas yang tak mungkin ada di ruangan lain di kelas bawah. Misalnya seperti TV yang menempel di dinding. Belum lagi ada juga kulkas setinggi satu meter kurang di sudut ruangan, dan lain-lain. Namun, sebagus-bagusnya tempat ini karena mengutamakan fasilitas yang unggul, tetap saja ini adalah sebuah rumah sakit di mana semua orang dalam keadaan lemah terbaring tanpa kekuatan penuh. Contohnya July, meskipun dia nampak berbaring dengan nyaman di atas brankar yang empuk, akan tetapi raganya sedang merasakan sakit. "Kau istirahat juga. Kau juga pasti lelah kan?" Tesa menyuruh Dion segera beristirahat di sofa yang sudah di sediakan. Dion sudah duduk. Menepuk-nepuk sofa tersebut, menata bantal kemudian membaringkan tubuhnya yang super lelah. "Kenapa baru pulang?" pria berumur sekitar 60 tahun menyambut kedatangan David yang baru saja beberapa langkah masuk ke dalam rumah. Ayah David yang bernama Tian, tengah duduk di ruang tamu sambil membaca majalah. Tak langsung menjawab, David melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 10 malam. Meskipun terlihat masih terlalu awal untuk anak muda, tapi bagi David pukul 10 malam adalah waktu yang bisa dikatakan terlambat. Setiap hari minggu biasanya David sudah sampai rumah sebelum magrib. Jika ada yang tanya mengapa ayah David yang notabenya adalah mantan pengawal keluarga Jordan tak hadir dalam acara pernikahan, itu memang karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Sudah hampir lima bulan Tian jarang ke luar rumah. Tepatnya sejak kepergian sang istri enam bulan yang lalu. Kepergian sang istri nyatanya sempat membuat Tian dan David merasa terpukul. Jika David bisa mengikhlaskan, tentu Tian juga begitu. Sayangnya serangan panik yang terjadi usai pemakaman, berlangsung sampai detik ini. Dan itu membuat Tian di sarankan untuk menjauhi kerumunan banyak orang. "Kenapa ayah belum tidur?" David berjongkok di depan Tian. Meraih majalah dari tangan sang ayah, kemudian menaruhnya di atas meja. "Ini kan sudah malam, ayah. Ayo tidur." Berdecak, Tian menjitak kepala David membuat pria itu sontak meringis. "Kenapa kau malah mengelak?" melotot tajam. "Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang? Apa acara pernikahannya baru selesai?" David menggaruk tengkuk dengan sederetan gigi yang berbaris di balik mulut terlihat jelas. Runtutan pertanyaan itu membuat David bingung harus menjawab apa. "Iya ayah ... acaranya memang baru selesak. Itu kenapa aku baru pulang." Menggenggam hangat kedua tangan sang ayah. Menatap wajah yang mulai jelas kerutannya itu, David lantas tersenyum. "Tak perlu khawatir. Ayo ayah istirahat." Meraih kedua pundak ayahnya, David membantunya untuk berdiri. Menuntun menuju kamar supaya lekas bisa istirahat. Hari ini sungguh sangat melelahkan. Bugh!! Terjatuh sudah David di atas kasurnya. Setelah mengantar ayah tidur, ia pun langsung bergegas masuk ke kamarnya sendiri. Tak perlu mandi, lebih baik langsung tidur. Besok kemungkinan pekerjaan sebagai mengawal Nona muda akan lebih berat. Tidur saja, itu jika bisa David lakukan. Fiuh!
Susana di rumah sakit masih tetap sama. Penuh dengan rasa lelah dan kecewa. Tak akan ada yang tahu jika musibah memalukan seperti ini terjadi pada sosok gadis cantik bernama July. July yang memang begitu mengidam-idamkan sebuah pernikahan bak seorang putri, nyatanya harus kandas karena pria bernama Alex memilih pergi seperti angin lalu. Tak ada sebuah alasan yang jelas mengapa Alex pergi meninggalkan July di saat bahagia. Yang ada hanya sebuah pesan sialan yang tak jelas isinya. sebuah foto memalukan. "Mau kah kau menikahiku?" dengan senyum menawan, Alex berjongkok dengan kaki tertekuk di hadapan July yang tengah duduk di kursi taman. Ada beberapa pasang mata yang melihat hal tersebut dengan penuh rasa iri. Tersenyum penuh kekaguman atas keberanian sosok Alex yang berani melamar putri tunggal dari seorang pengusaha ternama. Sebagai seorang model yang namanya sedang melambung tinggi, tentu momen lamaran ini langsung menjadi topik utama dalam pemberitaan di layar kaca hiburan tanah air. Hampir semua TV swasta menayangkan betapa romantisnya sebuah lamaran yang dilakukan oleh Alex. Bertaburan bunga di taman, dengan beberapa orang di belakang memegang sebuah rangkaian tulisan 'Will you marry me' membuat semua orang serta wartawan yang ada di kerumunan tersebut bersorak histeris. Siulan dari beberapa orang pun mulai terdengar ketika Alex menjulurkan sebuah cincin berlian yang berkilau. "Terima! Terima!" "Ayo terima!" Sorak demi sorakan yang mereka lontarkan membuat wajah July bersemu merah. Apalagi ketika kerlingan mata dari Alex terlihat, sungguh itu membuat jantung ini terasa panas. Dengan rasa gugup bercampur gembira, pada akhirnya July menerima lamaran tersebut. Memakai cincin berlian itu, hingga suara tepuk tangan langsung bergemuruh mengimbangi rasa bahagia yang tengah di rasa. "Kenapa? Kenapa semua ini terjadi?" "Kenapa kau jahat!" Teriakan-teriakan asing itu membuat kepala terasa begitu berat. Deru napas yang tiba-tiba terasa sesak, seolah sedang mencekik membuat raga tak bisa berkutik. Panas, peluh menetes, napas berat, ini terasa sangat menyakitkan. "ALEX!!!" Sosok tubuh lemas yang terbaring kini membelalak. Terduduk dengan peluh sebesar biji jagung memenuhi seluruh tubuhnya. Menetes secara perlahan, menggelitik tubuh hingga membuat pakaian serba biru ini basah kuyup. "July!" pekik Tesa. Di ruangan ini Tesa hanya sendiri. Dion sedang pulang dan menjemput David sementara Jordan sedang mencari sarapan. "July, kau bangun sayang?" Tesa berhasil meraih tubuh July yang di hujani peluh dingin. July mimpi buruk, itu yang Tesa tebak. Mengusap wajah penuh keringat itu, Tesa kemudian duduk di tepi brankar sambil satu tangan menggenggam tangan July yang gemetaran. "Tenang sayang. Ibu di sini." Mencoba menenangkan July supaya tidak panik. Belum bergeming, sesaat July memutar pandangan. Menyapu seluruh ruangan yang bernuansa putih ini dengan tatapan bingung. Bisa di pastikan, ini adalah kamar sebuah rumah sakit. Tebakan July tentu benar. "Kenapa aku dibawa kemari? Aku kan tidak sakit, Bu?" tanya July. Tentu saja saat ini Tesa masih bisa merasakan bagaimana tubuh July masih bergetar hebat. "Aku mau pulang ...," pinta July. "Tunggu sampai kau pulih, sayang." Mengusap lembut wajah pucat itu. "Aku mau pulang, Bu!" suara July meninggi. Tangan dalam genggaman pun sudah ia kibaskan dengan cepat. "Ayo kita pulang!" Tesa berdiri. "Iya, iya. Kita pulang. Ibu panggilkan dokter. Kau harus di periksa terlebih dulu." Berlari keluar setelah mendapat anggukan dari July. Di depan pintu, saat Tesa hendak menutup pintu, ia berpapasan dengan Dion dan David. Mereka sama-sama terkejut. Apalagi ketika melihat rasa panik di wajah Tesa. "Ada apa, Bibi? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Dion sambil mendaratkan tangan di kedua pundak Tesa. Menunjuk ke arah lain, Tesa menjawab, "Panggilkan dokter, sekarang. July sudah sadar." "July sudah sadar?" David membatin. Rasa lega langsung menyelimuti hatinya saat ini. "Jadi July sudah sadar?" Dion memastikan. Tesa mengangguk cepat. "Kalau begitu, biar aku yang panggilkan dokter." Tanpa menunggu persetujuan, David sudah berlari mencari dokter yang menangani July. Sementara David sedang memanggil dokter, Tesa dan Dion bergegas masuk menghampiri July lagi. "Bagaimana, Bu?" July bertanya. Masih dalam posisi semula, kini July terlihat tengah memainkan ujung bajunya. Tesa dan Dion mendekat. "Sebentar lagi. David sedang memanggil dokter." "Bagaimana keadaanmu? Sudah mendingan bukan?" tanya Dion. July hanya merengut. "Pulang dan lekas membuat onar di rumah. Aku merindukan hal itu." Dion terkekeh. Sadar atau tidak, perlahan senyum di bibir July terlihat mengembang. Tesa yang meliriknya pun ikut terkejut. "Kau tidak pantas di tempat seperti ini, yang ada watakmu yang brutal bisa menciut. Ingat itu." Ocehan terus keluar dari mulut Dion membuat July nampak merengut. Tesa yang sedang berbenah hanya mengulum senyum. Masih dalam suasana yang sedikit mulai mencair, terdengar suara pintu dengan kaca persegi di tengah terbuka. Jordan, David beserta dokter yang menangani July masuk ke dalam. Dion dan Tesa lantas menyingkir –membiarkan dokter wanita itu memeriksa keadaan July—. Mendekat ke arah sang suami, lantas Tesa merangkulkan tangan sambil menyender pada pundak. Dion dan David berdiri di belakang Jordan dan Tesa. Saling berbisik sambil menunggu July selesai di periksa. "Apa dia baik-baik saja?" tanya David. Kepalanya miring lebih dekat ke arah pundak Dion. "Kau tenang saja, Nona mudamu baik-baik saja." Dion lantas terkekeh membuat David menyingkir sambil berdecak. "Nona July bisa pulang. Keadaannya sudah membaik. Tak ada yang perlu di khawatirkan." Dokter itu menjelaskan. Keempat orang di hadapan sang dokter langsung bernapas dengan lega. Apa yang terjadi kemarin, biarlah terjadi. Tak ada yang bisa mengelak. Biarkan itu menjadi sebuah pengalaman buruk dalam hidup July. Bisa menerima atau tidak, pikirkan saja nanti. "Sini sayang, ibu bantu." Tesa membantu July berganti pakaian. Jangan berpikir macam-macam. Di ruangan ini hanya tersisa Tesa dan July saja. Para lelaki sudah menunggu di luar sana. Yang satu menunggu di mobil, sedangkan dua pria lainnya menunggu di depan pintu. Satu persatu, pakaian itu berhasil menelusup membalut seluruh tubuh July. Bau asem, tak masalah. Nanti bisa di lap setelah sampai di rumah. Yang terpenting saat ini, July bisa segera sampai di rumah karena memang itu keinginannya. "Sudah?" Tesa memastikan. July mengangguk. Perlahan, dua kakinya turun bergantian menapak di atas lantai. Sempat sempoyongan, tapi dengan sigak kedua tangan Tesa langsung meraih dan menggenggam dengan erat tubuh putri semata wayangnya tersebut. "Pelan-pelan saja." "Sudah ibu. Tak perlu menegangiku terlalu erat. Aku bisa jalan sendiri," ucap July santai. Kedua tangan Ibu pun July singkirkan. "Bisa bagaimana? jelas-jelas tadi kau sempoyongan." Tesa membentak. "Sini ibu bantu kau berjalan." Meraih lengan July lagi tanpa peduli wajah cemberut yang terpampang dari wajahnya. "Sini Ayah bantu." Jordan bergegas meraih lengan July sebelah kiri. "Ish!" gertak July. "Aku bisa jalan. Tidak perlu sampai dituntun-tuntun." Menyingkirkan lengan ayah. Genggaman tangan Tesa pun pada akhirnya menyingkir.