Gue Bukan Perempuan Nakal!
Bab 1 Mencoba Move On

Pagi yang cerah, udara yang baik untuk berolahrga pagi di tempat terbuka. Seorang perempuan dengan siluet tubuh yang indah terlihat sedang joging di taman. Wajah perpaduan oriental dan western yang sempurna membuat siapa saja yang memandangnya tidak akan pernah bosan. Dia sudah beberapa kali mengitari taman seperti biasa. Sekarang sudah saatnya pulang ke rumah untuk bersiap ke kantor tetapi tiba-tiba seorang pria datang menghampirinya. "Alina.." Sapa pria itu dengan senyuman manis. "Hi!" Sapa Alina balik. Laki-laki itu kemudian mengeluarkan bunga yang daritadi sudah dia sembunyikan di balik tubuhnya. Alina terkejut tapi kemudian dia tersenyum lebar karena mawar ungu itu. "Selama ini, gue punya perasaan sama lo. Lo mau, ya? Jadi cewek gue." Perkataan laki-laki itu membuat Alina tidak menginginkan bunga lagi. Dia menggelengkan kepalanya seperti orang ketakutan. "I love you, Alina.." Laki-laki itu mencoba menyakinkannya lagi. "Gu.. Gue gak bisa!" Penolakan Alina membuat laki-laki itu mamandanginya dengan heran. Alina pun terdiam sejenak untuk memikirkan alasan. 'Gu.. Gue, mau laki-laki yang langsung ajakin gue untuk menikah bukan pacaran kayak lo!" Jawaban Alina membuat laki-laki berwajah hispanic itu menyeringai. "Seharusnya lo bersyukur kalau ada cowok yang masih mau dekatin lo dengan cara begini!" Ujar laki-laki itu sembari membanting bunga yang dia bawa di depan kaki Alina. Alina tersentak. Dia bergerak mundur perlahan tetapi laki-laki itu maju selangkah demi selangkah untuk terus menempelnya. "Lo pikir gue gak tau sepak terjang lo dulu? Lo itu hanya barang bekas, Alina! Jadi jangan belagu." Alina yang tidak terima akhirnya mendaratkan telapak tangannya di wajah laki-laki itu. Laki-laki itu kembali menyeringai sambil memegang pipinya dan menatap Alina tajam. "Lo dari SMA sudah dimainin sama pacar lo yang anak kuliahan itu, kan?" "Gak! Gue gak pernah sembarangan! Gue bukan perempuan nakal!" "Halah! Bullsh*t! Lo pikir gue gak tau? Lo setiap pulang sekolah dulu selalu dibawa sama dia ke apartemennya. Sampai lo kuliah pun masih jadi mainannya, kan? Gue hafal lo! Kita dari sekolahan sampai kuliah bareng." Alina membisu. Dunianya serasa akan runtuh hari itu juga. "Banyak mata yang sudah melihat kenakalan lo! Jadi lo.." Alina yang tak tahan mendengar itu semua lantas berlari meninggalkan laki-laki itu sambil menangis. *Rumah bertingkat mewah dengan arsitektur klasik eropa di tengah kota* "Alina, kamu kenapa?" "Gak apa-apa kok, ma. Gak apa-apa." Jawabnya sembari menyembunyikan muka. "Olahraga pagi bukannya segar malah layu." Ujar Nyonya Lebedev sembari berjalan menuju dapur. "Nona Alina moodnya lagi jelek. Jadi kalian tolong buatin salad sayuran untuk sarapannya. Kalian tau anak saya itu kan? Nanti tambah pusing dia kalau lihat roti." "Hihi.. Baik, Nyonya!" Pelayan itu pun segera melaksanakan tugasnya. "Apa saya harus sarapan sendiri?" Suara seorang pria terdengar dari ruang makan. "Iya! Iya! Bentar." "Gak, anak. Gak papanya, sama saja! Manja!" "Kamu istri saya." Tuan Lebedev mengecup pipi istrinya itu dengan mesra. "Papa!! Mama!!" Seorang gadis muda keluar dari kamarnya dengan pakaian sekolah yang rapi. Dia memeluk kemudian mencium kedua orang tuanya itu. "Ayo cepat sarapan, Irina! Kamu udah telat." "Aku ke sekolah dengan papa." "Yup!" Jawab Tuan Lebedev kemudian menyantap sarapannya. "Syukurlah kalau begitu. Mama juga sebenarnya kurang setuju kamu naik bus terus." "Gak apa-apa, ma. Aku gak suka kelihatan menyolok. Aku gak enak hati sama teman-teman lain. Soalnya di sekolah guru suka banget sanjung-sanjung papa dan kak Ian." "That's my daughter! Tetap rendah hati!" Pekik Tuan Lebedev kemudian mengacak-acak rambut Irina. "Oh ya udah berdoa belum?" Tanya Nyonya Lebedev. "Udah donk, ma." Tidak ada yang salah dengan keluarga sultan yang satu ini. Mereka keluarga yang takut akan Tuhan dan juga diberkati secara financial tetapi Alina, memang agaknya lain sendiri. Perempuan ini masih saja dihantui kejadian di taman itu. "Lho? Jam segini udah ke kantor? Bukannya kantor kamu masuk jam setengah sembilan?" "Iya, ma.." Jawab Alina seraya berlalu. "Alina? Makan dulu!!" Teriak Nyonya Lebedev. "Alina, jangan pergi dengan perut kosong!" Tuan Lebedev pun ikut mengingatkan tapi Alina tetap tidak memberi respon. Orang tua serta adiknya hanya saling melihat satu sama lain dengan tanda tanya di benak mereka. Di kantor, Alina kerja bagaikan kuda yang terlepas dari kandang. Padahal tidak ada tekanan dari perusahaan tempat dia bekerja untuk merambang pekerjaan ke sana kemari. Bahkan hari ini, ketika semua karyawan dan karyawati perusahan sudah pulang pun, Alina masih tetap di ruangannya untuk bekerja. "Tidak pulang?" Suara seorang pria dari balik pintu yang sedikit terbuka itu. "Di.. dikit lagi, Pak Marco." "Kalau kamu.." "Aku bawa mobil kok, Pak.. Seperti biasa hehe.." "Oh.." Duda tampan itu hanya bisa tersenyum tipis. "Saya duluan kalau begitu." "Iya, Pak. Hati-hati di jalan, Tuhan berkati.." Alina bangun dari tempat duduknya kemudian mengintip pria tinggi besar itu. "Syukurlah dia udah beneran pulang..." Ujar Alina ketika dilihatnya Marco telah memasuki lift. Tiga puluh menit telah berlalu. Kepala Alina mulai terbakar. Dia menopang keningnya dengan tangan di meja kemudian memijatnya. Tiba-tiba dia teringat akan satu nama. Diambil ponsel dari dalam tasnya, kemudian menelepon orang tersebut. ••••• Bunyi ponsel yang terbaring di ranjang kusut itu tidak digubris. Pemiliknya sedang asyik menyentuh dirinya sendiri. "Sh*t!!!" Pekik perempuan itu. "Gue udah coba! Tapi gak bisa! I need a man!" Perempuan yang hanya mengenakan panty dan cami tank top berwarna senada itu bangun dari sofa dan menuju ranjangnya. "Nih anak napa lagi?" Dia mengerutkan dahinya kemudian menelepon balik. ••••• "Dia respon!" Pekik Alina gembira saat ponselnya berbunyi. "Say!" "Hmm.." "Lo kok jutek sihhh?" Alina memonyongkan bibirnya. "Jijik gue sungguh! Makanya cari cowok sana! Supaya lo bisa manja-manja." "Lah ini gue telepon lo untuk itu. Clubbing, yuk!" Penelepon hening sejenak. "Lo gak kadalin gue kan? Lo gak sengaja mau ketemu gue terus khotbahin gue, kan?" "Gak!!!! Serius gak!!" Penelepon di seberang kembali terdiam. "Lo marahan dengan Dahlia?" "Gak kok. Gue hanya..." Alina tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Dia melihat ke arah layar komputer yang sedang menampilkan sosial media seorang pria dengan segurat kesedihan di wajah ayunya. "Napa sih lo?!" Hentakan tak sabaran itu membuat air mata Alina masuk kembali ke tempatnya. "Gue gi bosan aja." "Beneran nih lo mau?" "Iya, bener!" "Ini kali pertama lo ke club lho. Kalau Dahlia tau, bisa-bisa gue dia seret ke sidang jemaat karena jadi penyesat untuk lo." "Ya ampun! Lebai deh lo. Hahaha.. Gak gitu juga kale. Gue gak bakalan kasi tau dia." "Ok! Let's go!! Gue nih hari juga lagi butuh. Oh ya! Nanti, bawa permen karet, ya?" "Kalau lo ada lebih gue minta." "Idih! Gak modal banget lo!" "Ayolah.. Gue gak bawa mobil jadi malas mampir." "Malas mampir atau malu beli?" "Nah lo tau gue! Ayolah, bestie.." "Hmm! Sampai ketemu di club!" "Lo jemput gue donk.." "Mobil gue gi di bengkel." "Peke taksi. Kita patungan. Lo datang ke sini jemput gue baru kita bareng ke sana." "Hiss! Manja! Iye! Iye!" Alina mengakhiri telepon itu dengan senyuman kemudian dia melihat ke arah komputer lagi. "Gue lagi mencoba untuk lupain lo, Zach"

Bab 2 Club

Malam yang dingin tidak seperti biasanya di ibu kota negeri Zamrud. Alina yang sedang duduk termenung itu, roman wajahnya gelap. Sejenak dia menengadahkan wajah ke atas seolah tidak ingin membiarkan air mata merusak maskaranya yang mahal. "Nona, bloody marry untuk anda." Ujar bartender itu sambil tersenyum. Alina tersentak dan jadi kikuk. Dia membalas senyuman seiklasnya seiring bartender itu kembali melanjutkan pesanan lainnya. "Woi!!! Alina!" Seorang perempuan berambut pirang dengan gincu merah tebal dan busana tak kenal dingin mengagetkan Alina dengan sebuah tamparan. "Vivian! Lo kalau gak kasar bisa gak sih?" Wajah Alina berubah menjadi kecut. "Abis lo nyebelin! Lo yang ajak gue clubbing, tapi lo malah habisin sejam duduk di sini hanya buat pesan minuman! Udah begitu coba lihat minuman lo.." "Iuuhhh.." Vivian menunjuk minuman-minuman yang Alina pesan dengan wajah jijik. "Minuman anak TK!" Pekiknya lagi. "Lo gak lihat apa? Di sini tuh banyak cowok-cowok tamvan, seksi gileee..!! Habisin satu malam dengan mereka gak bakalan nyesal!" Alina terdiam mendengar kehebohan Vivian. Dia menatap para pria itu dengan tatapan pilu. Perempuan malang ini sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan kesedihan hatinya tapi dia tetap tidak bisa. Hanya karena takut terlihat oleh sahabatnya itu, maka dia dengan cepat mengubah mimik wajahnya dan kembali meminum minuman berwarna merah darah yang sudah dia pesan itu. "Lho lho lho! Gue dihandukin.. Hey Alina!" Kali ini Vivian menjadi lebih kasar dari sebelumnya. Dia memegang bahu Alina kemudian membalikannya dengan paksa agar berhadapan dengannya. Alina hanya bisa menatapnya sebentar kemudian membuang pandangannya ke arah lain. "Oh... Gue tahu! Gue memang udah curiga lo ini belum move on dari Zach." "Gak kok! Gue yang putusin dia bukan dia yang putusin gue!" "Yang benar aja sih lo?" "Sumpah! Gue yang putusin dia!" "Terus napa lo masih setia dengan dia?" "Maksud lo apa sih, Vi?" "Hajar aja yang udah di depan lo! Napa lo masih duduk di sini?" Alina terdiam. Vivian memperhatikan sahabatnya itu kemudian tersenyum. "Jangan bilang kalau setelah lo minta putus, terus lo ngemis buat balik lagi ke dia." Mata Alina yang tadinya sayup lekas terbuka lebar. "JIJIK! Ueekk! Lo pikir gue bakalan ngemis buat balik ke laki-laki kayak dia? K*ntolnya udah masuk sana sini, masa gue mau sediain buat dia lagi?! Menjijikan! Sungguh menjijikan!" Vivian tersenyum simpul menatap tingkah Alina. "Lo kok tega, ya? Bisa mikir sahabat lo kayak begitu. Gue gak setolol itu! Please!" "Yah, kadang karena cinta orang yang kita pikir sudah kita kenal, malah menjadi seperti orang yang tidak pernah kita kenal." Alina kembali terdiam. "Gue hanya masih keingat aja sama ketololan lo dan Dahlia yang awal kalian putus itu. Konyol aja bagi gue.. Seorang perempuan yang belum dinikahin, bahkan gak ada tanda-tanda bakalan dinikahin tapi mau berlutut berdoa hanya supaya seorang laki-laki berubah." "Bahkan sampe minta ke Tuhan supaya bisa balikan ke laki-laki yang berengsek." Vivian menutup ucapannya itu dengan tawa yang menggelegar sementara Alina hanya bisa menatapnya dengan wajah sedih. "Lo dan Dahlia sama saja. Berjuang hanya demi dapatin tanggung jawab dari laki-laki berengsek yang udah ambil perawan kalian." Vivian menyeringai. "Terlalu berarti kah keperawanaan itu, sampai kalian harus mengejar mantan? Padahal kalaupun mereka balik, kalian gak bakalan kembali perawan. Kalau atas dasar nuntut tanggung jawab, rasanya konyol. Bukannya itu dilakukan karena suka sama suka? Jd kesimpulannya, kalau emang udah terlanjur bodoh, ya udah biarin lewat aja. Orang yang perawannya direbut secara paksa aja gak mau berjuang sampai segitunya kok." "Benci dan cinta itu beda, Vi." Vivian tertawa mendengar ucapan Alina. "Yes! Kita beda tapi pada hakekatnya, melupakan lebih baik daripada kita jadi ODGJ." "Gue udah lupain.." Ujar Alina lirih sehingga Vivian kembali menyeringai. "Btw, dahlia masih begitu?" "Dia udah fokus jadi full timer di gereja sambil lanjut S2." "Jomblo?" "Iya. Standarnya jadi tambah tinggi sekarang." "Haha.. Baguslah intinya udah gak bego lagi. Terus lo?" "Gue gak ulangi jawaban gue." "Haha.. Alright.. Kalau begitu, show me, b*tch!!" Vivian menunjuk ke atas karena dia mengikuti lirik lagu Jessica Suta yang sedang dimainkan di klub saat itu. Perempuan bertubuh bak model catwalk itu kembali melanjutkan kesenangannya. Dia bahkan menari-nari erotis bersama pria-pria di sana untuk memanas-manasi Alina. Alina sebenarnya sedikit risi dengan kebinalan Vivian tetapi dia cukup merasa tertantang. Akhirnya dia berjalan perlahan menuju sahabatnya itu sembari meracuni otaknya sendiri dengan kenangan pahit bersama mantan. °°°°°° Sebuah kaleidoskop dari memori Alina menunjukkan seorang pria sedang memarahinya di depan sebuah cafe. Alina yang tidak bisa melawan hanya bisa terisak-isak. "Jadi cewek itu jangan posesif! Kalau lo gak percaya gue lagi, ngapain kita lanjut?!" "Zach, maafin gue. Jangan putusin gue, gue mohon. Gue hanya.. Entahlah.. Perasaan gue.." "Perasaan lo nipu lo! Gue tuh kerja! Gue lagi meeting dengan klien!" Zach hendak meninggalkan Alina, tetapi perempuan berambut hitam panjang itu segera menahannya dan kembali memohon dengan air mata. "Zach, please.. Maafin gue.. Gue salah. Gue minta maaf. Gue mohon.." Pria berahang tegas itu mulai iba. Dia menarik napas panjang dan memegang kedua bahu Alina. "Lo, cewek gue bukan pencuri. Jadi lo gak perlu stalking gue. Gue cinta sama lo. Lo masih sekolah. Kuliah juga belum jadi lo gak tau apa itu sibuk kerja." Jari-jemari tebal pria itu mulai membelai lembut pipi Alina untuk menghapus air matanya. Alina pun jadi menyalahkan dirinya sendiri untuk insting wanitanya yang begitu berharga. Kaleidoskop kemudian berpindah pada suatu masa baru ketika Alina baru saja selesai ujian proposal. Dia segera mengambil kotak hadiah yang dia simpan di kelas kemudian pergi ke apartemen Zach. Alina merasa heran melihat pintu yang sedikit terbuka itu. Perlahan dia masuk ke dalam dan kasak kusuk yang tak dia harapkan menyerang telinganya. Dia menuju sumber suara itu kemudian mendapati dengan mata kepalanya sendiri tayangan langsung tak senonoh di ranjang tempat dia dan Zach biasa menghabiskan waktu. "Ternyata perasaan gue selama ini gak nipu gue. Lo yang nipu gue!" Dia menjatuhkan hadiah yang ada di tangannya sehingga membuat kedua orang itu menyadari kehadirannya. "ALINA!" "Gue bisa jelasin!" "Enough!" Bunyi pintu yang dibanting Alina membuat kaleidoskop menghilang tapi dia masih terbayang-bayang betapa menyedihkanya dirinya saat wisuda tanpa pria yang dia cintai. Hidup yang tak menjadi sempurna seperti rancangannya. °°°°° Sekarang, di bawah hingar bingar lampu disko, Alina mengatur napasnya dan berjalan tegak menuju lautan manusia pencinta lantai dansa. Dia mencolek salah seorang pria kemudian mengajaknya menari bersama. Vivian yang melihat hal itu tersenyum puas dan menarik tangan Alina agar mereka berdua menari bersama mengikuti alunan musik disk jokey yang membuat telinga berdegung. "Zach..." Wajah Alina bersinar karena keramaian tetapi jiwanya redup karena kekosongan.

Bab 3 Hotel

"Gue haus.. minum yuk!" Alina mengiyakan ajakan Vivian. Mereka kembali ke meja dan memesan minuman. "Gue gak pernah selepas ini dalam hidup." "Makanya lo jangan terlalu ikutin gaya idupnya si Dahlia. Gaya idupnya dia itu, gaya idup untuk undang depresi." Alina tersenyum sembari menatap Vivian yang menghabiskan minumannya hanya dalam satu kali teguk. "1 lagi!" Bartender itu segera memproses pesanan Vivian. "Vi, itu alkoholnya tinggi lho. Nanti lo mabuk." "Dasar anak baru! Main pas lagi mabuk itu lebih seru!" Ujar Vivian dengan gaya nakalnya. "Lo belum pernah coba dengan Zach?" "Gak lah! Gue selalu sadar dengan dia." "Nah itu! Lo salah!" Ujar Vivian sambil tertawa dan menerima minuman. "Akibat lo mainnya pas lo sadar, makanya pas disakitin, lo sakitnya kayak mau mati. Mental breakdown!" "Oh, jadi itu rahasiannya.." "Semua manusia itu sebenarnya rapuh, Alina. If you're fvck up then you'll fvcked up! So just enjoy the pain!" "Hmm.. Makan malam kita datang." Vivian memberi tatapan menggoda ke arah dua orang pria yang sedang melihat mereka berdua dari jauh. "Hey!" "Apa?" . "Arah jam sembilan ada yang menggiurkan." Alina berusaha melihat-lihat yang dimaksudkan oleh Vivian itu. "Mana? Terlalu banyak orang!" "Mereka datang!!!" ...... "Ladies.." Sapa seorang pria eurasia yang berambut hitam dan berlesung pipi. Vivian dan Alina rasanya seperti ingin berhenti bernapas karena melihat sosok seterang itu di tempat segelap ini. Belum selesai mereka terkagum-kagum, seorang pria ikut menyapa. "Hi!" Pria bermata hazel dengan rambut coklat gelap bergaya messy quiff yang tak kalah sinarnya itu membuat Vivian kaku di tempat. Alina yang kenal betul selera Vivian hanya senyam senyum melihatnya. "Sekarang kita berimbang." Ujar pria berambut hitam itu sembari menatap Alina. "She is yours.. and she is mine." Sambung pria berambut cokelat gelap seraya membelai paha mulus Vivian. Sentuhan lembut itu membuat tubuh Vivian mulai berkerja. Dia mencondongkan aset depannya kemudian membelai jari-jari pria itu. Ini hal baru bagi Alina karena dalam hidupnya, dia tidak pernah percaya adanya kedekatan yang bisa tercipta hanya dalam hitungan detik seperti itu. "Pemalu?" Pria berambut hitam memecahkan keheningan Alina. "Kata siapa?" "Kata gue." Jawab pria itu sembari merangkul bahu Alina. Alina yang gugup melihat tangan pria itu kemudian melihat wajahnya sehingga kedua hidung mereka bersentuhan. Alina yang tersentak segera menarik mundur tubuhnya. Selain Zach, dia belum pernah sedekat ini dengan seorang pria. "Gue hanya kaget lihat sahabat gue bisa semudah itu nyatu dengan teman lo." "Di sini waktu berjalan lebih cepat daripada di luar." Laki-laki itu tersenyum kemudian hendak mencium Alina tapi Alina segera membuang wajahnya ke arah lain sehingga laki-laki itu hanya bisa menatapnya dengan senyuman maut. Beberapa menit kemudian. "I am wet now.. Let's get down, babe.." bisik Vivian pada prianya. "Ok! Kita keluar sekarang!" Vivian bangun dari kursinya kemudian mencolek Alina dan memasukan sesuatu di dalam tasnya. Alina melihat tasnya lalu melihat Vivian. Vivian mengedipkan mata dengan genit sambil berlalu bersama prianya. "Kita juga pulang, yuk!" Ajak Alina pada prianya. Di parkiran, mereka masih saling melambaikan tangan dengan girang. Vivian dan pasangannya pergi dahulu sementara Alina dan prianya masih di dalam mobil. Batin Alina tidak tenang. 《"Apakah gue harus... Gue juga pengen.. Biar sekali ajaaa... Ini udah dua tahun gue gak pernah begituan.. Tapi gue belum pernah dengan laki-laki selain Zach. Aduhhh.. Otak gue kacau!"》 "HEY!" "Lo sakit? Biar gue anterin ke rumah sakit." "Gak. Gue gak apa-apa kok. Gue hanya lagi mikirin.." Pipi Alina memerah. Pria itu pun tersenyum sembari menyalakan mesin mobilnya dan memulai perjalanan mereka. 《"I know you want it too."》 Pintu hotel ditutup dengan kaki karena pria itu tidak bisa mengalihkan pandangan dari eloknya paras Alina. "I like you." Ucap pria itu kemudian merangkul pinggang Alina. Alina menutup mata sambil membiarkan napas pria itu menyentuh kulit leher jenjangnya. Laki-laki itu kemudian menaruh dahinya pada dahi Alina dan mengelus wajah mungilnya. 《"Nikmatin! Nikmatin saja!" 》Perintah hati Alina pada tangannya yang hendak mendorong wajah pria itu. "Malam ini akan panjang.." "Hehe.. I.. Iya.." Nada bicara Alina yang aneh membuat pria itu menjauhkan wajahnya dan menatap Alina dengan heran. "Sh*t! Lo beda!" "Be.. beda bagaimana maksudnya?" Pria itu menjawab Alina dengan berdegum sambil mengangkat dagunya kemudian tersenyum tipis. Dia melepaskan tubuh Alina kemudian berjalan menuju ranjang sembari melepaskan kemeja. Alina yang melihat betapa indahnya pahatan tubuh pria itu hanya bisa menelan ludah dengan mata yang tidak bisa berkedip. "Lo bukan perawan yang tersesat, kan?" "A.. Gu.. Gue.." "Baru putus?" "Gak kok!" "Kalau begitu, sini!" Panggil pria itu dengan dua jarinya. Bulu kuduk Alina mendadak berdiri. "Kok diem? Lo mau tiga jari?" Alina masih menatap pria itu dengan jantung yang berdebar-debar. "Kita kan belum kenalan!" Pekikan Alina membuat pria itu tertawa. "Girl, i don't need your fvcking name! I just wanna get down with you! Just it! Gue udah bayar kamar untuk ini. Jadi sini lo!" Alina mulai gusar karena pria dengan tinggi 185 cm itu. Dia menundukan kepalanya dan melihat tubuh mungilnya yang hanya 158 cm. Alhasil, teror dalam dirinya makin berkembang. 《"Tuhan, ampuni aku. Ampuni ak.."》 "Kalau lo mau gue bayaran, bilang! Berapa harga lo?" Alina yang terkejut hanya bisa menatap laki-laki itu dengan gemetaran. Laki-laki itu melihat Alina sekejap kemudian menarik napas panjang yang berat. Dia menuangkan air di gelas dan membawanya kepada Alina. "Haus?" Tanpa basa basi, Alina segera meraih gagang pintu dan keluar dari kamar hotel seperti dikejar hantu. Pintu yang telah tertutup, suasana kamar yang sangat sepi membuat pria itu tertawa sendiri. "Kalah sebelum bertarung." Tak lama setelah itu, sebuah pesan masuk di ponselnya. "Cepat pulang! Jangan buat masalah lagi kamu!" Isi pesan itu membuat wajah si pria menjadi datar. Dia mengenakan kembali pakaiannya kemudian keluar dari kamar hotel. Lain halnya di kamar Vivian dan prianya. Temperatur kamar itu seperti mau meledak. 《"Ini baru laki..."》 Hentakan demi hentakan yang brutal dari belakang membuat Vivian malah keenakan. Laki-laki itu pun tak hentinya memberikan menjamah pada aset-aset yang terombang-ambing ke sana kemari sehingga tak terhitung lagi telah berapa kali Vivian keluar. 《"Dia benar-benar tau bagaimana caranya mainin perempuan.."》 Tancapan yang dalam mengakhiri pertempuran yang telah berlangsung lama. Vivian berbalik dan menatap wajah pria itu dan mereka pun berciuman. "Daylan. Nama gue Daylan Conor. Lo?" "Vivian..." "Vivian saja?" "Gue gak punya papa mama." "Oh.." Daylan tersenyum kecil. "Gue suka lo. Lo hebat bisa imbangi gue. Gue mau lo jadi cewek gue." Vivian yang matanya mulai layu mendadak segar kembali. "Lo gak bohong, kan?" "Kalau gue bohong, ngapain gue beri tahu lo nama lengkap gue?" Perasaan Vivian campur aduk. Matanya mulai berkaca-kaca. "Lo mau lihat Id gue?" "Gue gak tahu harus bersyukur pada Tuhan atau iblis malam ini." Daylan tertawa kemudian mengelus pipi Vivian. "Jangan sebut Tuhan walaupun itu untuk hal yang tidak disengaja. Mulai sekarang lo jadi cewek gue. Jadi ikutin aturan gue dan gue akan tetap di samping lo. Deal?" Vivian mengangguk dengan semangat. Kesepakatan telah diraih. Daylan mencium kening Vivian sebagai tanda jadi dan batin Vivian mulai mengheboh. 《"Apakah ini benar dari Mu, Tuhan? Apakah Engkau benar memberi yang ku mau? Ini terlalu ajaib!"》

Lanjut baca