Single Mom Milik Tuan CEO
Bab 1 Manipulasi Rival

TAP ... TAP ....    Suara langkah kaki terdengar jelas dari luar ruangan, untuk menuju ke ruangan tersebut. Langkah itu kemudian berhenti tepat di depan pintu ruangan, disusul dengan ketukan pintu yang seirama.    "Masuklah!"    Seorang wanita berperawakan tinggi dan sexy pun datang di hadapan seseorang yang berada di dalam ruangan tersebut.    "Permisi, Tuan. Apakah Anda memanggil saya?" tanyanya dengan lembut.    Pria paruh baya itu menatap tajam ke arah wanita yang diketahui adalah asistennya. "Apakah sudah berkumpul semuanya?" tanya seorang lelaki paruh baya, pemimpin keluarga Abraham.    "Sudah, Tuan. Tuan dan Nyonya Latulini sudah berada di ruangan temu."    Tuan Abraham mengangguk kecil. "Baiklah. Aku akan segera ke sana."    Beberapa waktu diperlukan untuk persiapan menuju ke ruangan yang ditunjuk sebagai tempat pertemuan antara dua keluarga besar, dalam menjalani bisnisnya.    Ketika mereka mengetahui Tuan Abraham datang ke ruangan tersebut, mereka pun bersiap untuk menyambutnya.    Kini, sudah berdiri di hadapan mereka orang yang sangat berpengaruh bagi kedua grup besar tersebut. Sebanyak 80% saham dipegang oleh lelaki paruh baya ini. Oleh sebab itu, mereka sangat menghormati Tuan Abraham.    "Selamat datang, Tuan Abraham."    Mereka menyambutnya dengan posisi tegak, kemudian segera duduk setelah Tuan Abraham menempati tempat duduknya.    Tuan Abraham mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi ruangan. Memang benar yang dikatakan sekertarisnya, bahwa semua orang sudah berkumpul pada tempatnya masing-masing.    "Terima kasih atas kesediaannya datang ke tempat pertemuan ini. Banyak sekali yang harus kita bahas, demi majunya kedua grup besar yang sedang berjalan ini," ujarnya, membuat keringat tak henti-hentinya bercucuran dari kening Tuan besar keluarga Latulini.    Di sebelah kanan Tuan Abraham, terdapat Zeo Abraham yang merupakan satu-satunya keturunan dari keluarga Abraham. Kemudian di sebelah Zeo ada adik dan juga adik ipar dari Tuan Abraham, yang tak lain adalah Om dan Tante Zeo.    "Sebelumnya, saya ingin tanya hasil dari pemasaran yang dilakukan oleh Latulini Group. Apakah sudah ada kemajuan mengenai jasa yang dipasarkan?" tanya Tuan Abraham.    "Baik, terima kasih atas pertanyaannya, Tuan Abraham. Kami dari Latulini Group, sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk memasarkan jasa design ruangan, yang dimiliki oleh Abraham Group," ujar Tuan Latulini, sembari membuka sebuah data yang ada di depan layar komputernya.    Semua orang memperhatikan dengan saksama, setiap slide yang sedang dipresentasikan oleh Tuan Latulini. Setiap datanya valid, sampai hampir tidak ada celah yang bisa dilalui oleh pihak yang tidak senang dengannya.    Dari sekian banyak orang yang menyukainya, pasti ada segelintir orang yang tidak menyukainya. Hal itu benar, karena memang pihak Om dan Tante Zeo yang memang tidak senang dengan kerja sama di antara kedua keluarga ini.    Ren Abraham, Om dari Zeo, mendekatkan diri ke arah istrinya. "Kalau seperti ini, apa bisa kita melawan mereka?"    Nampaknya mereka sangat risau, karena data yang diberikan mereka sangat valid, dan bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.    "Tenang, kita masih punya rencana B!"    Ren mengangguk, karena mendengar Yuki membisikkan hal menenangkan seperti itu padanya.    Yuki memandang dalam ke arah Tuan Latulini, sembari mempersiapkan dirinya untuk melakukan serangan besar kepadanya.    Tak perlu diragukan lagi, public speaking yang ia miliki sangatlah di atas rata-rata. Tak jarang pada setiap pertemuan bisnis, Tuan Abraham selalu menyelipkan Yuki pada perjalanan bisnisnya.    "Itulah beberapa client yang sudah Latulini Group dapatkan," ucap Tuan Latulini sebagai tanda mengakhiri presentasi yang ia lakukan.    Semua orang bertepuk tangan, tak terkecuali pasangan Yuki dan Ren.    "Terima kasih atas presentasi yang sudah dilakukan, Tuan Latulini," ujar Tuan Abraham memberikan apresiasi kepadanya.    Yuki bersiap mengangkat tangannya, membuat Tuan Abraham yang melihatnya segera mengangguk kecil tanda memberikan waktu dan tempat untuknya berbicara.    Yuki bangkit dari tempat duduknya, menyamai Tuan Latulini yang memang sedari tadi sudah dalam keadaan berdiri.    "Terima kasih, Tuan Abraham atas waktu dan tempat yang dipersilakan untuk saya. Sebelumnya, saya ingin menyampaikan tentang keluh-kesah saya terhadap Latulini Group, pada beberapa bulan terakhir ini. Hal ini berdampak pada income yang diterima Abraham Group, dari kesepakatan yang sebelumnya sudah ditentukan bersama," ujarnya dengan sangat percaya diri.    Di hadapannya saat ini, sudah tersambung antara proyektor dan juga laptop miliknya. Ia membuka seluruh data dan laporan yang ia miliki, untuk menjatuhkan kedudukan Latulini Group di hadapan pemimpin mereka saat ini.    "Pada bulan Januari, Latulini Group terlibat sebuah proyek rahasia dengan beberapa perusahaan, seperti Mutiara Group, Sky Group dan juga Star Group. Income yang harusnya diserahkan kepada Abraham Group adalah 70% tetapi Latulini Group hanya memberikan sebanyak 30 % saja," paparnya, sontak membuat semua orang terkejut mendengarnya.    Zeo tak berkutik, hanya bisa mendengar para senior mempresentasikan apa yang sudah mereka persiapkan. Namun, tak dapat dipungkiri kalau Zeo merasa sangat terkejut dan tak menyangka, bahwa ia menemukan kecurangan yang dilakukan oleh pihak Latulini yang sebelumnya sangat ia percayai.    Tuan Latulini mendelik protes. "Intrupsi! Saya memang menerima proyek tersebut pada bulan Januari lalu, tetapi kami memberikan fee yang sesuai dengan yang tertera di kontrak!"    Suasana menjadi canggung, ketika Tuan Latulini protes dengan tuduhan yang dilayangkan Yuki padanya.    Yuki mendelik tajam ke arahnya. "Saya berbicara dengan bukti! Ada bukti berkas yang anda tanda tangani dengan beberapa client tersebut!"    Bukti? Itu adalah hal yang mustahil. Tuan Latulini merasa, ia sama sekali tidak menandatangani berkas apa pun, selain berkas kesepakatan bersama dengan para client.    "Bukti tanda tangan apa yang anda maksud?" tanya Tuan Latulini bermaksud menantang.    Yuki menyunggingkan senyumnya, lalu mengeluarkan beberapa berkas yang di dalamnya terdapat tanda tangan perjanjian yang sama sekali tidak Tuan Latulini ketahui.    Lembar demi lembar ia buka, dengan mata yang terus-menerus mendelik tak percaya dengan apa yang ia lihat.    "Apa ini?" gumam Tuan Latulini, sangat terkejut dengan berkas yang sama sekali tidak ia ketahui.    Yuki menyunggingkan senyumannya, lalu memunculkan hasil pindai berkas yang ada di tangan Tuan Latulini.    Semua mata terperangah, kaget dengan yang mereka lihat. Walaupun tidak percaya, tetapi mereka melihat dengan jelas tanda tangan yang merupakan milik Tuan Latulini.    "Bisa kalian lihat, ini adalah bukti berkas yang saya katakan. Tuan Latulini secara rahasia menilap uang yang kita dapatkan dari proyek di bulan Januari!"    Suasana semakin memanas, dan seketika orang yang bekerja pada Latulini Group menjadi sangat takut dengan tuduhan yang dilayangkan Yuki pada mereka.    Zeo mendelik kaget. "Bagaimana bisa mereka melakukan hal selicik ini dengan perusahaan kami? Tidak bisa dimaafkan!" batinnya yang merasa sangat kesal dengan perjanjian kerja sama yang sudah terlanjur terjadi di antara mereka.    "Apa benar itu, Tuan Latulini?" tanya Tuan Abraham, yang sudah tersulut emosi dengan hal licik yang sudah dimanipulasi oleh pihak Yuki dan juga Ren.

Bab 2 Berita Duka

Mendengar pertanyaan Tuan Abraham, para pihak Latulini Group menjadi ketar-ketir karenanya. Permasalahannya memang mereka tidak tahu mengenai dokumen yang diperlihatkan Yuki, bahkan Tuan Latulini sendiri pun tidak merasa pernah menandatangani berkas tersebut.    Mereka hanya bisa saling melempar pandangan, karena merasa bingung dengan apa yang harus mereka katakan.    Sementara itu, Tuan Latulini hanya bisa memandang bingung ke arah Tuan Abraham, membuatnya bungkam seribu bahasa.    Karena tak ada jawaban dari Tuan Latulini, kemarahan Tuan Abraham pun memuncak drastis.    BRAK!    Tuan Abraham bangkit sembari menggebrak meja yang ada di hadapannya, membuat semua orang sontak merasa terkejut dan takut dengan keadaan.    Zeo hanya bisa memandang ayahnya yang tengah tersulut emosi, sembari tetap berusaha netral dengan keadaan.    "Kalau Latulini Group tidak bisa membuktikan tuduhan ini, saya anggap tidak ada perjanjian apa pun yang bisa diteruskan dengan Latulini Group! Abraham Group juga akan meminta bayaran pinalti untuk pelanggaran terhadap kontrak, sebesar 1 juta dolar sesuai kontrak dan perjanjian!" ujar Tuan Abraham, sontak membuat mereka mendelik kaget mendengarnya.    Hal itu membuat mereka terkejut. Sebagian dari mereka merasa tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi, untuk bekerja di perusahaan yang menaungi mereka saat ini.    Nyonya dan Tuan Latulini merasa sangat terdesak, sampai mereka tidak bisa melakukan apa pun. Mereka hanya bisa diam, karena tak dapat dipungkiri bahwa tanda tangan yang tertera itu memang benar adalah tanda tangannya sendiri. Namun, ia masih tidak tahu kapan menandatangani perjanjian semacam itu.    Karena sudah tidak ada lagi yang harus ia bicarakan, Tuan Abraham pun melangkah meninggalkan para staf dan juga para pihak dari Latulini Group yang saat ini sedang hancur. Yuki dan Ren menyeringai senang, karena akhirnya mereka berhasil menyingkirkan saingan terberat mereka dalam hal pemasaran.    "Jika mereka tidak bekerja sama lagi, aku pasti akan bisa mencari client sendiri! Keuntungan akan menjadi milik kami!" batin Ren, yang sedari tadi hanya diam berpangku tangan di belakang istrinya, Yuki.    Melihat ayahnya pergi dari ruangan ini bersama dengan asistennya, Zeo pun segera bangkit dan menghadap ke hadapan Tuan dan Nyonya Latulini. Pandangannya kesal, karena ia merasa selama ini sudah salah mempercayakan orang.    "Saya tidak menyangka, kalian akan melakukan hal licik seperti ini!" tegur Zeo, membuat mereka memandang dengan tatapan tidak percaya.    "Saya tidak pernah melakukan hal itu!" bantah Tuan Latulini dengan keras, tetapi bukti yang diperlihatkan Yuki sudah cukup membuat Zeo percaya sepenuhnya padanya.    "Maaf, saya sudah tidak percaya lagi dengan Tuan. Saya permisi," ujar Zeo, yang langsung meninggalkan ruangan itu bersamaan dengan staf lain, termasuk juga Yuki dan Ren.    Hancur saat ini mereka rasakan, membuat para staf Latulini Group menjadi sangat kecewa terhadap pemimpinnya.    Nyonya dan Tuan Latulini saling melempar pandang.    "Bagaimana ini?" tanya Nyonya Latulini merasa kebingungan.    Tuan Latulini mengelus lembut pundak istrinya. "Tenang saja. Kita harus hadapi bersama."    Mendengar ucapan suaminya, ia pun merasa sedikit ads kekuatan. Walaupun tidak mungkin baginya untuk membayar uang penalti, tetapi mungkin mereka akan bisa menemukan solusi dari masalah yang mereka hadapi itu.    Sementara itu di basement parkir, Yuki dan Ren sudah bersiap untuk melakukan aksi selanjutnya terhadap rival garis kerasnya itu. Ren berusaha membuat mobil mereka mengalami kendala, dengan berbekal ilmu pengetahuan yang ia miliki.    Yuki memandang khawatir ke arah suaminya yang sedang memutus tali rem mobil Tuan Latulini. Perasaannya sangat khawatir, karena ia merasa suaminya sudah sangat berlebihan.    "Apa kau tidak merasa berlebihan? Sudah cukup uang penalti sebagai teguran mereka, jangan kau renggut nyawa mereka dengan cara seperti ini!" tegur Yuki, yang masih memiliki sedikit rasa kemanusiaan terhadap rivalnya itu.    Namun, Ren tak sebaik istrinya. Ia merasa segala sesuatu yang menghalanginya, harus segera ia basmi. Entah bagaimana caranya.    "Jangan banyak bicara!"    Yuki hanya bisa pasrah, karena bentakan yang ia dapatkan dari suaminya itu.    Beberapa waktu berlalu, Ren sudah selesai membuat kekacauan pada bagian tali rem mobil Tuan Latulini. Ren pun bangkit dari kolong mobil, dan langsung menarik tangan istrinya untuk menjauh dari titik itu.    Nahas, tak lama waktu berselang sang pemilik mobil pun datang. Mereka masuk ke dalam mobil, dan bersiap untuk kembali ke rumah mereka, untuk menyampaikan kabar duka ini kepada putri semata wayang mereka.    Tuan Latulini menghela napasnya panjang sebelum melajukan mobilnya. Istrinya menghentikannya, karena merasa ada sesuatu yang tidak enak.    "Apa tidak sebaiknya kita pulang menggunakan taxi? Kau terlihat sangat lelah," ujarnya yang memang sudah memiliki firasat yang kurang baik.    "Aku bisa jika hanya menyetir." Tuan Latulini tetap kukuh pada pendiriannya.    Tak ada kata lagi untuk membantah ucapan suaminya. Tuan Latulini melajukan mobil tersebut dengan kecepatan standart.    Nyonya Latulini mengangkat telepon genggamnya, untuk menghubungi putrinya yang bernama Zara. Beberapa waktu ia menunggu, sampai akhirnya teleponnya pun tersambung.    Zara sedang memilih model baju yang sangat ia suka, pada salah satu pusat perbelanjaan. Ia terkejut, ketika mendengar suara handphone-nya berdering.    Seketika ia pun menerima telepon yang ternyata adalah dari ibunya.    "Halo, Bu. Ada apa?"    "Ada berita duka, Zara."    Dahinya mengerut. "Ada apa, Bu?"    Ada perasaan was-was dan tak enak terhadap putrinya. Masalahnya, mereka membesarkan putri mereka dengan kehidupan yang sangat mewah dan bergelimang harta. Nyonya Latulini merasa sangat khawatir, jika saja Zara tak bisa menerima keadaan ini.    "Ibu harus mengatakannya. Namun, jangan sampai membuatmu merasa tertekan."    "Katakan saja, Bu!"    Nyonya Latulini menoleh ke arah suaminya yang sedang menyetir, "Kita kehilangan kerja sama dengan Abraham Group, dan kita harus membayar uang penalti sebanyak 1 juta dolar!"    Matanya mendelik kaget. "Apa?"    "Ayah dan Ibu, berusaha untuk menjelaskan tentang apa yang tidak kami lakukan. Namun, mereka sama sekali tidak percaya setelah melihat bukti yang diberikan Yuki dan juga Ren."    Yuki dan Ren, mendengar nama mereka saja sudah membuat Zara Latulini bergidik geli. Memang sudah lama terjadi keributan di antara mereka. Apalagi, putra mereka yang selalu mengajak perseteruan setiap bertemu dengannya.    Putra mereka, adalah mantan kekasih dari Zara. Namun tak bisa dipungkiri, perasaan Zara padanya masih bersarang tepat di hatinya.    "Ada apa lagi dengan mereka, Bu? Apa tidak cukup aku saja yang jadi korban mereka? Mereka sudah membuat hubunganku dan Zain berakhir. Kenapa mereka juga membuat hubungan bisnis kalian dengan Abraham Group berakhir?" tanya Zara kesal dengan keadaan.    "Sudahlah, Zara. Kau terima saja berita duka yang kami sampaikan ini. Hari sudah mulai gelap, jangan sampai kau pulang terlambat. Ibu dan Ayah menunggu kamu di rumah," ujar Nyonya Latulini yang matanya seketika mendelik kaget, "awas!!"    Tuuut ... tuuut ....

Bab 3 Direnggut Takdir

Tuuut ... tuuut .... Sambungan telepon mereka terputus, setelah mendengar suara benturan yang sangat keras. Hal itu membuat Zara merasa sangat kaget ketika mendengar suara yang begitu keras, seperti sedang menghantam benda keras lainnya. TES! Seketika air mata Zara menetes dengan derasnya, walau tanpa ia sadari. Walaupun ia tidak mengetahui dengan jelas, tetapi firasatnya mengenai kedua orang tuanya sangatlah tajam. BRUK! Barang belanjaan yang sedang ia pegang, mendadak jatuh tercecer ke atas lantai. Barang-barang bermerk yang selalu ia beli ketika ada edisi terbaru, terasa tak berarti lagi saat ini. Tak hanya barang-barang belanjaannya yang terjatuh, tetapi juga handphone dan dirinya yang ikut tertunduk lemas karenanya. Semua orang memandang ke arahnya dengan bingung, tetapi sama sekali tidak ada yang berani mendekat ke arahnya yang terlihat sudah sangat hancur saat ini. "Kenapa harus terjadi denganku?" gumam Zara, yang merasa sangat kesal dengan berita duka ini. Bukan hanya bisnisnya dan hubungan asmaranya saja yang direnggut, tetapi nyawa kedua orang tuanya pun direnggut takdir. Yang ada di pikiran Zara hanyalah kehancuran. Bisa saja mereka selamat dari maut yang terjadi. Dengan sangat kencang, Zara meremas rambut blonde miliknya itu, sampai beberapa helai tercabut saking kencangnya ia meremas rambutnya sendiri. Ia sudah sangat hancur, dan tak bisa melakukan apa pun lagi. Handphone-nya kembali berdering, dengan lemas Zara pun mengambilnya dan menerima panggilan tersebut. "Halo," sapanya dengan nada yang lemas. "Halo, kami dari kepolisian setempat. Apa benar ini Nona Zara Latulini?" "Ya, saya sendiri." "Kami menemukan kedua orang tua anda yang mengalami kecelakaan, tepat di pusat kota. Ketika lampu dalam keadaan merah, mereka menerobos lampu merah sehingga membuat adu banteng terjadi. Nyawa mereka ... sudah tidak terselamatkan, dan tewas di tempat dengan keadaan mobil terbakar." Sakit hati Zara mendengar penjelasan dari polisi yang saat ini bertugas mengamankan lalu lintas. "Bagaimana Anda tahu nomor telepon saya?" tanya Zara penasaran, karena ia selalu mengganti nomor teleponnya secara berkala, demi menghindari orang yang selalu menerornya. "Handphone Nyonya Latulini terlempar keluar, sebelum mobil meledak. Saya yang melihatnya, segera mengambilnya dan mengetahui kalau ini adalah Nyonya Latulini." Zara berpikir sejenak. "Tak heran juga." Tak mau banyak berbincang dengan orang lain, Zara pun mengambil sikap tegas. "Baiklah, saya akan segera ke sana." *** Usai mengurus pemakaman kedua orang tuanya, hari-hari Zara terasa sangat membosankan. Tak ada lagi hal yang bisa ia lakukan, selain melepaskan semua kekacauan di hatinya dengan menenggak beberapa botol alkohol. Sudah satu minggu sejak kepergian mereka. Kini, sisa tabungan Zara pun sudah menipis, tetapi ia masih saja menghamburkan uangnya untuk melepaskan masalah yang ia derita. Selama seminggu ini, Zain yang merupakan anak dari Yuki dan Ren, selalu mengganggu ketenangan hati Zara. Ia selalu menemui Zara, sampai Zara merasa sangat risih dengannya. GLEK! Zara menenggak habis dengan satu kali tenggak, segelas alkohol yang ia pegang. Saat ini, ia sedang berada di salah satu bar favorit tempat ia menghabiskan waktu bersama dengan salah seorang temannya yang bernama Azhar. Azhar, lelaki yang sudah dianggap sebagai sahabat oleh Zara, yang selalu menemani Zara apa pun keadaannya. Tak jarang Zara juga memberikan bantuan kepadanya berupa uang, untuk menambah biaya pengobatan adiknya yang sedang sakit. Azhar juga merupakan tempat pelampiasannya, ketika Zara sedang putus cinta dengan Zain. Zara mengaku sudah berpacaran dengan Azhar, sehingga membuat Zain murka dengannya. Hal itu semata-mata hanya untuk membuat Zain membencinya. Karena campur tangan kedua orang tua Zain, membuat Zara merasa sangat tidak nyaman menjalani asmara bersama dengan Zain. Zara memandang gelas yang sudah kosong, dengan pandangan yang hampir kabur. Sudah banyak botol kosong berserakan, dan kesadarannya sudah hampir hilang seiring berjalannya waktu. "Kenapa ini semua terjadi padaku? Apa salahku?" gumam Zara, yang masih menangisi kepergian kedua orang tuanya dan juga hancurnya hidupnya saat ini. Masih teringat jelas Zain yang datang menemuinya kemarin malam. Kata-katanya pun masih terngiang di pikiran Zara, hanya menambah rasa kesal dan kesengsaraan yang ia derita saja. Malam itu, Zara sedang dituntun oleh Azhar dan berjalan menyusuri jalanan kota. Cuaca yang dingin, membuat Azhar merasa iba dengan Zara yang sama sekali tidak memakai baju hangat. "Apa kau memerlukan baju hangat?" tanya Azhar, tetapi kondisi Zara yang setengah sadar tidak menghiraukan pertanyaan Azhar. Mereka menyusuri jalan, karena Azhar yang sama sekali tidak bisa menyetir mobil milik Zara. Alhasil mereka meninggalkan mobil Zara di bar tersebut, dan berjalan pulang menuju ke rumah Zara. Dari ujung jalan sana, datanglah sebuah mobil berwarna hitam, dengan merk BMW seri terbaru. Di dalamnya ada Zain yang sudah menatap sinis ke arah Azhar, membuat Azhar merasa sedikit terkejut karena kedatangannya. Mobil itu berhenti tepat di hadapan Azhar yang sedang memapah Zara. Seorang lelaki bernama Zain keluar dari dalam mobil tersebut, dan berdiri sembari menatap Azhar dengan sinis. "Lepaskan Zara!" bentak Zain, yang tak terima dengan apa yang ia lihat di hadapannya. Zara yang masih setengah sadar, memandang sinis ke arah Zain yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya. "Kau mau apa lagi, hah? Bukankah hubungan kita sudah lama berakhir?" bentak Zara, Azhar hanya bisa memandang mereka saja. "Zara, kembalilah padaku! Aku berjanji, aku tidak akan mempersulitmu lagi setelah ini!" Zara hanya bisa tertawa dengan lepasnya, karena mendengar hal yang sama sekali tidak bisa ia terima. Keningnya mengerut, "Aku berbicara serius, Zara! Jangan mempermainkanku!" bentak Zain, yang tak ingin dipermainkan oleh Zara. Mendengar perkataan Zain, Zara lalu memandangnya dengan sinis. "Bukankah kau yang telah mempermainkan aku? Kenapa sekarang kau yang menuduhku telah mempermainkanmu?" Suasana memanas, dengan Azhar yang benar-benar tidak bisa berbuat apa pun di hadapan mereka yang sama-sama sedang tersulut emosi. "Aku begini karena ibuku, Zara! Jangan membuatku kesal karena kesalahan yang bukan merupakan salahku!" Zara mendelikkan matanya dengan tajam, "Apa katamu? Bukan salahmu? Lantas salah siapa? Apa ini semua salah dan kemauanku?" "Bukan seperti itu Za--" "Lantas seperti apa, Zain?!" pangkas Zara, yang sangat tidak senang mendengar yang Zain katakan padanya. Seketika suasana menjadi hening, ketika Zara berhasil memangkas bantahan Zain. Keringat dingin sudah mulai mengucur dari kening Zain, karena di saat mabuk pun ia tidak bisa memenangkan hati Zara kembali. "Mungkin memang tiada tempat bagiku lagi di hatinya," batin Zain, yang merasa sudah berada di batasnya. Namun, karena rasa cintanya terhadap Zara, Zain tentu saja tidak menyerah semudah itu.

Lanjut baca