GAIRAH ISTRI SATU MILIAR
Bab 1 Dijual Ayahku

Bunyi telepon rumah yang ada di ruang tamu mengganggu pendengaran gadis bernama Sinta Maheswari yang sedang asyik chating dengan kekasihnya. Bergegas dia bangkit dari duduknya yang sudah nyaman, dengan bibir yang terus menggerutu menghiasi langkahnya menuju ruang tamu yang ada di lantai satu. Dia mempercepat langkahnya menuju sumber suara yang sedari tadi berdering keras, kemudian tangan kanannya dengan sigap menggapai telepon itu. "Hallo, selamat siang," ucapnya setelah menaruh gagang telepon di telinganya. Seorang pria dengan suara terburu-buru dari seberang telepon lalu berkata dengan lirih. “Apakah benar ini kediaman Ibu Alya?” "Benar, saya anaknya, ada apa Pak?" Sinta bertanya balik dengan penuh rasa penasaran. "Ibu anda sedang di ruang IGD,” sahut Pria itu. “Ya Tuhan. Mama!” sambar Sinta. Tubuhnya langsung mendadak lemas mendengar berita buruk ini. Rasanya ia terjatuh saat ia merasakan kakinya tak berdaya saat mendengar hal itu. “Maaf, bisakah anda dengan keluarga datang untuk pengurusan administrasi dan beberapa hal yang harus ditanda tangan," lanjut pria yang merupakan petugas Rumah Sakit tersebut. "Aku akan segera ke sana Pak, terima kasih," jawabnya singkat lalu bergegas. Dengan hati yang sedikit terpukul, serta pikiran yang melayang entah kemana. Sinta kemudian segera menutup teleponnya, dia berlari ke lantai dua menuju kamarnya untuk mengambil segala perlengkapan dan kebutuhan selama di rumah sakit. Tanpa memperdulikan apapun, dia segera berangkat dengan penampilan yang sederhana. Setelah sampai di depan rumah, dia bergegas naik taxi dan pergi menuju rumah sakit. “Ponsel aku mana ya?” Sinta mencari ponselnya di dalam tas. Namun, benda itu tak ketemu. Dia tersadar bahwa ponselnya tertinggal di kamar. Dia berpikir untuk kembali ke rumah, tapi perjalanannya sudah sangat jauh untuk kembali. Sehingga dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya tanpa memperdulikan ponselnya lagi. Dua puluh menit waktu berlalu untuk sampai ke Rumah Sakit, ia segera mencari tempat parkir. Kemudian ia menuju ruang IGD dengan langkah yang sangat buru-buru. Terlihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, berkulit putih, berhidung mancung dan warna rambut sedikit pirang itu sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. "Bagaimana keadaan Mama saya Dok?" tanya Sinta dengan nada sendu. Matanya masih berkaca-kaca, seolah air mata itu siap tumpah membasahi pipinya. "Keadaannya sangat kritis, anda harus menanda tangani ini untuk melakukan operasi pada Ibu anda," jawab Dokter laki-laki yang sedang menangani Alya. Sebelum menanda tanganinya. Sinta membaca isi surat itu. Hatinya ingin menangis saat ia melihat nominal yang tertera di surat itu. “Ya Tuhan, lima puluh juta, dimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Apa aku harus bicara sama Papa dulu,” pikirnya. Ia pun menolak menanda tangani surat itu. “Ada apa Bu?” tanya si Dokter. "Maaf Dok, aku bisa minta waktu sebentar, aku harus menghubungi papaku dulu," pinta Sinta. Ia mengembalikan surat itu, lalu ia keluar dari ruangan itu dan meminjam telepon rumah sakit untuk menghubungi papanya. Kebetulan ia sangat menghafal nomor papanya. Tak menunggu lama, teleponnya diterima oleh papanya, pria bernama lengkap Reza Mahesa itu menyapa lebih dulu. “Pa, Papa di mana?” tanya Sinta dengan lirih. Ia pun tak mampu mengontrol ucapannya, suaranya terdengar tak jelas karena air matanya yang terus mengalir. “Papa baru sampai rumah, Sinta. Kenapa Sinta?” tanya Reza. Terdengar Reza menghela napas berat dari seberang teleponnya lalu bertanya, “Kenapa kamu menangis, Sinta?” “Papa ke rumah sakit sekarang, Mama ada di IGD. Mereka menunggu Papa menanda tangani surat dari rumah sakit. Cepat ya Pa! Kasian Mama,” pinta Sinta bersamaan dengan isakannya. “Iya Sinta, kamu tenang ya, Papa ke sana sekarang.” Reza pun bergegas ketika sambungan telepon itu ditutup. Ia tak bisa menahan diri untuk berteriak kesal dan menyesal dengan semua bencana yang terjadi di hidupnya pada waktu yang bersamaan. Tetapi ia tidak peduli dengan rasa lelah dan kesedihan yang dia rasakan saat ini. Ia juga belum ingin menyampaikan semua masalahnya pada Sinta. Ia mencoba membuat hidup keluarganya tentram. Ia pun naik taxi ke rumah sakit. Sinta duduk di ruang tunggu dengan perasaan yang begitu kacau, pikiran yang tidak karuan. Air matanya sejak tadi membanjiri pipinya, berjatuhan deras seperti hujan yang sedang membasahi kota Jakarta saat ini. "Tuhan, bantu aku, bantu Mama sembuh ya, aku mohon!" ucap Sinta dalam doanya kepada Tuhan. Kemudian kedua tangannya menutup wajahnya yang sedang berderai air mata. Hujan di luar semakin deras berjatuhan membasahi jalanan, suhunya menjadi sangat dingin. Sinta terus saja menangis, sesekali ia menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya, namun tetap saja kesedihan itu menghuni relung hati yang tak bisa didamaikan. Tak lama kemudian, Reza tiba di rumah sakit. Ia melihat Sinta sedang duduk di depan ruang tunggu, ia langsung menghampirinya. “Sinta, gimana keadaan mama kamu?” tanya Reza bernada lembut dengan raut wajah yang melelahkan. “Papa!” Sinta langsung memeluk papanya. “Mama harus dioperasi, biayanya lima puluh juta Pa. Papa punya tabungan kan?” tanya Sinta memastikan bahwa mamanya bisa dioperasi segera. Reza tak ingin berkata tidak, ia pun menyanggupinya. “Ada. Iya udah, Papa temui bagian administrasinya dulu, kamu tenang ya Sinta. Semua akan baik-baik aja.” Reza mencoba menenangkan hati Sinta, ia tak ingin melihat putrinya menangis seperti itu. Ia melangkah ke bagian administrasi, dengan hati yang bimbang dan pikirannya yang kacau bercampur menjadi satu. “Dimana aku mendapatkan uang sebanyak itu, sementara aku sudah dipecat dari pekerjaan dan harus membayar uang perusahaan, aku harus gimana sekarang,” gumamnya sepanjang langkahnya ke bagian adminstrasi. Sesampainya di sana. Reza tak menunggu lama, ia langsung menanda tangani surat itu untuk mempercepat operasi istrinya. Meskipun, ia belum menemukan tempat meminjam uang sebanyak itu. Dalam kondisinya seperti ini, ia merasa sangat rapuh. Dan belum bisa berpikir jernih. Reza mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. “Kita bisa bertemu di tempat biasa, sekarang?” tanya Reza kepada pria yang ada di balik telepon itu. Setelah mendapat kesepakatan, Reza pun bergegas dan meninggalkan Sinta yang sedang menunggu operasi mamanya. Reza bukan tak peduli dengan Sinta dan Alya, justru hal ini lebih penting untuk bisa mengurus biaya rumah sakit sang istri. Sementara di depan ruang operasi, Sinta masih duduk sendiri tanpa seorang pun menemaninya. Kevin, kekasihnya pun tidak menemaninya, karena dia belum sempat menghubungi sejak keberangkatannya ke rumah sakit. Ponselnya yang ketinggalan membuatnya tidak ada kesempatan untuk menghubungi sang kekasih. Ia juga tak menghafal nomornya. “Papa kok belum balik ya?” tanya Sinta ke dirinya. Ia berusaha berpikir positif, ia hanya ingin keselamatan sang Ibu saat ini. Wajahnya sangat lelah, hatinya terus saja berdoa untuk keberhasilan operasi mamanya. Di sisi lain, pikirannya melayang. Dia ingin ada seseorang yang menemaninya di saat kondisi seperti ini. Sinta membutuhkan sosok yang selama ini memberinya semangat. Baginya, selain kedua orang tuanya, Kevin adalah sosok yang begitu berarti baginya. Mereka pun telah merencanakan pernikahan tiga bulan lagi. Rintik hujan seolah membawa lamunannya melayang, mengimpikan kebahagiaan di masa depannya nanti. Suara pintu yang terbuka, memutuskan lamunannya. Seorang Dokter laki-laki menghampirinya. Sinta pun dengan sigap langsung berdiri dan langsung menanyakan hasil operasinya. "Bagaimana keadaan mamaku Dok?" tanya Sinta. ***

Bab 2 Tubuhku Sebagai Jaminan

Dengan wajah yang tiba-tiba terlihat sedih, bahkan tanpa bisa menahan air matanya kembali berjatuhan membasahi pipinya. "Terima kasih Dok," sahut Sinta dengan wajah yang sudah letih. Tubuhnya melemah mendengar informasi kematian ibunya, dia kemudian kembali duduk untuk menenangkan pikirannya, berusaha kuat untuk menerima segala keputusan yang akan Tuhan berikan kepada Ibu tercintanya. "Aku tahu, tidak ada yang kuasa dari kehendakMu, ajarkan aku untuk menerima segala ketentuanMu," ucap Sinta dalam doanya kepada Tuhan. Wajahnya masih ditutupi kedua tangannya, tidak kuasa menahan kesedihan yang menimpahnya saat ini. Bahkan sekarang dia harus siap untuk menjalani kehidupan tanpa sosok ibu yang selalu memberinya motivasi, seorang ibu yang begitu menyayanginya. Juga seorang ibu yang selalu memanjakan apapun yang dia minta. Dia kemudian bergegas menuju ruang perawatan tempat ibunya mendapat perawatan. Dia menghampiri Alya yang masih tidak sadarkan diri. Alat pembantu pernapasan serta infus yang melekat di tubuh Alya membuat Sinta begitu sedih melihat keadaan ibunya. "Ma, bangun Ma! Aku butuh Mama, jangan tinggalin aku Ma, kota ini terlalu keras untukku hidup sendirian, aku minta maaf selalu merepotkan Mama, aku janji setelah Mama sadar, aku nggak kan pernah buat Mama repot lagi, aku sayang sama Mama," lirih Sinta sambil memegang tangan ibunya yang lemas, matanya terus menatap wajah Ibu tercintanya. Malam terus berjalan dengan ceritanya, hujan pun telah mereda. Suasana hening menghiasi ruangan, Sinta yang sangat lelah karena menangis seharian, membuatnya pun terlelap. Kepalanya dia sandarkan ke pinggiran tempat tidur Alya, tangannya masih saja melekat pada tangan ibunya. Keesokan paginya. Sinta telah terbangun dari tidurnya, matanya langsung menatap wajah Alya yang sama sekali tidak bergerak. Tangan yang digenggamnya terasa sangat dingin. Tiba-tiba monitor EKG menunjukan garis lurus. Ia langsung panik. "Dokter... Dokter... Dokter!" teriak Sinta dengan air mata kembali mengalir deras di pipinya. Dokter pun segera memasuki ruangan, kemudian mencoba memeriksa keadaan Alya, kemudian dokter itu mencoba memacu denyut jantung wanita itu, berulang-ulang kali dilakukan dengan defribilator, namun hasilnya tetap sama. Dokter pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Sinta kemudian berlari menghampiri ibunya dan memeluknya dengan erat. "Mama, bangun Ma, kamu gak boleh ninggalin aku, aku tidak punya siapa-siapa lagi, bangun Ma," lirih Sinta dalam tangisannya yang terus memuncak. Dia terus memeluk tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa lagi. "Ya Tuhan, kenapa Engkau setega ini kepadaku, mengambil semua hal yang aku sayangi, bahkan sekarang Engkau membiarkanku sendiri menghadapi dunia yang keras ini, kenapa?" keluhnya ketika wajah ibunya mulai ditutupi kain kafan. *** Sehari setelah pemakaman ibunya, Sinta hanya berdiam diri di rumahnya. Setelah malam itu, ayahnya sudah tak muncul lagi di rumah, nomornya juga tak bisa dihubungi. Bahkan kekasihnya, Kevin juga tak hadir dalam pemakaman ibunya membuatnya sangat sedih. Bagaimana tidak, salah satunya yang dia miliki saat ini hanya kekasihnya, Kevin. Namun, Kevin nyatanya tidak datang bahkan telepon dan pesan Whatsapp-nya tidak digubris sama sekali oleh Kevin. Pikirannya semakin tidak karuan, berantakan dan bahkan sangat kacau. Sinta seolah merasa telah kehilangan semua orang yang dia sayangi. Dalam keadaan yang seperti ini dia hanya butuh seseorang yang mampu memberinya semangat baru, juga seseorang yang akan menemaninya melewati setiap ujian ini. Sinta masih di dalam kamarnya, dia tidak keluar kamar semenjak kembalinya dari pemakaman itu. Semua kenangan yang ada di rumah ini semakin membuat hatinya menangis. Ia meratapi semua kejadian-kejadian yang tidak pernah dia bayangkan selama ini. Sifat ceria dan manja yang selalu dia tunjukan dihadapan ibunya, kini tidak lagi ada. Hanya kesedihan yang terus menyelimutinya. "Tuhan, aku mengerti bahwa Engkau sedang menyiapkan segala hal yang terbaik untukku ke depan, beri aku kekuatan untuk menjalani takdir-Mu ini," ucapnya berbisik sambil kedua tangannya menutup wajah yang tengah berlumuran air mata itu. Dia mencoba menghubungi Kevin, ponsel yang dari tadi ditatapnya, kini mulai digunakan. Dengan cepat jemarinya menekan satu persatu tombol angka di ponselnya. Cukup lama terdengar nada sambung pribadinya, namun hingga RBT itu selesai. Tidak ada tanda-tanda Kevin akan mengangkat teleponnya. Kemudian dia mencoba lagi, tidak juga ada jawaban. Hingga beberapa kali ia mencobanya, hasilnya tetap sama. Kevin seolah menghilang bak ditelan bumi. "Ya ampun Vin, kamu kok tega banget sama aku. Aku butuh kamu saat ini, hanya kamu yang aku punya saat ini, pliss angkat telpon aku Vin." Sinta kemudian mencoba lagi untuk terakhir kalinya, dengan perasaan yang sudah pasrah, dia mencoba menelpon kekasihnya itu. Hingga nada sambung itu berhenti, tetap tidak ada jawaban dari Kevin. Di tengah kepasrahannya tidak mendapat respon apapun dari kekasihnya, dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur berwarna pink, warna favoritnya dari usia kanak-kanak. Matanya yang sipit, terlihat sayu karena kelelahan, kemudian perlahan matanya ingin terlelap. Tiba-tiba lagu favoritnya terdengar dari ponselnya yang menandakan sebuah panggilan masuk dari Kevin. Matanya yang sempat lelap, kemudian melek seketika setelah suara lagu itu terdengar. "Kevin!" serunya spontan dan mengembangkan senyumnya yang telah kaku, tangannya tanpa menunggu lama menggeser layar handphonenya ke kanan untuk menerima telepon dari Kevin. "Hallo!" Suara datar terdengar dari laki-laki yang menjadi kekasih Sinta. "Iya Hallo, kamu kemana aja Vin, aku butuh kamu, Mama sudah tidak ada, apakah kamu tau hal itu?" tanya Sinta sendu. "Aku tahu, mamaku ngasih tahu kemarin, ada yang mau aku sampaikan sama kamu," ucap Kevin santai. "Apa Vin?" tanya Sinta. "Aku ingin kamu tidak usah ganggu hidup aku lagi, dan lupain semua tentang kita," jawab Kevin tegas tanpa belas kasih. "Kenapa Vin? Aku salah apa? Aku butuh kamu, jangan tinggalin aku dalam keadaan kayak gini," pinta Sinta dengan derai air mata yang sudah tidak terbendung. "Mama ingin kita pisah, dia tidak mau aku pacaran dengan orang sepertimu, selamat tinggal, bye," ucap Kevin dan menutup teleponnya. "Tapi Vin, Kevin!" teriak Sinta histeris. Air mata yang sudah mengalir dengan deras, tak mampu lagi menampung di pelopak matanya. Sinta kemudian mencoba menghubungi Kevin lagi untuk mendapat alasan yang jelas kenapa Kevin memutuskan hubungan dengannya, bahkan Kevin melakukannya melalui telepon, tanpa bertemu langsung. "Nomor yang anda tujuh tidak aktif." Suara yang terdengar dari ponselnya. Sinta begitu terpukul dengan kejadian yang baru saja dia alami, kepalanya seperti mengemban beras berton-ton, dia tidak mampu lagi menahan kesedihan hatinya. “Bersiaplah, ganti bajumu, aku nggak suka melihat wanita dengan wajah lesu begitu.” Suara laki-laki itu sangat membuat Sinta terkejut. Ia terkejut ada lelaki asing bisa masuk ke rumahnya tanpa ijin. “Kamu siapa?” Sinta tak pernah melihat laki-laki itu sebelumnya. “Satu miliar, untuk tubuhmu,” jawab pria itu dengan ekspresi santai di wajahnya. Tatapannya seperti magic yang siap melumpuhkan logika wanita manapun yang memandangnya. “Maksud kamu? Apa ayahku...” “Iya,” sambar pria itu. ***

Bab 3 Hidupmu Tergadai Di Sini

“Sial! Bagaimana mungkin aku menikah sama wanita polos dan tidak modern seperti dia, ini mimpi buruk!” gumam Arjuna Pratama Himawan dalam hati sembari melihat wanita itu yang terus menangis. Dia adalah pewaris tunggal perusahaan ternama yang bergerak di bidang perhotelan ternama di Asia. Sinta bergeming, seolah tak mendengar semua perintah pria asing di sebelah kanannya itu. Ia rasanya dia turun dan melompat dari mobil sport lamborgini berwarna hitam itu. Namun, ia tak ingin kelakukannya akan membuat ayahnya bermasalah. Wanita itu masih terus menangis, isakannya sangat mengganggu telinga Arjuna yang fokus menyetir. “Sudah aku bilang, berhenti menangis! Suaramu itu sangat menggangguku. Mengerti!” bentak Arjuna sesekali menatap wanita malang itu. Tentu saja, Sinta tak menggubrisnya. Kediaman Sinta sudah mengundang kemarahan Arjuna, pria itu pun langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan. “Oke! Sekarang liat aku!” perintah Arjuna dengan tegas. Sinta menurutinya meskipun dengan perasaan tak suka. “Kamu nyadar nggak siapa kamu? Hah?” Sinta yang sedari tadi mulai kesal, kini mengangkat bicara. “Apa? Kamu mau bilang aku wanita yang sudah kamu beli, lalu aku wajib menuruti semua permintaanmu. Begitu, kan?” sahutnya. Arjuna menggangguk menyetujui pernyataan Sinta, dengan mempertontonkan senyum angkuh yang menunjukkan kekuasaannya terhadap Sinta. “Oke, iya aku sadar. Baik, aku paham posisiku. Kamu mau aku memenuhi hasratmu malam ini. Aku akan memberikannya, jika itu membuatmu nyaman dan berhenti menghinaku serendah itu.” Sinta sedikit kesal dengan senyum miring yang terpampang di wajah itu. Arjuna tentu saja senang dengan tawaran Sinta, itulah yang dia mau. Pria bodoh mana yang mau menolak ajakan tidur bersama sebelum menikah. “Wanita yang cerdas. Kamu lebih pintar dari yang kubayangkan. Jadi aku nggak perlu memberitahu tugas-tugasmu sebagai istri bayaranku. Bagus. Aku suka dengan caramu yang seperti ini.” Arjuna menepuk tangannya memberi selamat, sekalipun itu bentuk ejekannya kepada Sinta. “Kamu akan antar aku kemana?” tanya Sinta cepat, ia sudah muak berada satu mobil dengan pria sombong ini. “Ke apartemenku, emang mau kemana lagi? Mau ke bar? Biar aku anterin kamu jika ingin mabuk,” tawar Arjuna. “Maaf. Aku bukan peminum alkohol, ingat itu. Kita ke apartemen kamu aja, biar kita segera menuntaskan utang-utangku,” ujar Sinta dengan nada sinis. Ia sebenarnya tak pernah melakukan hubungan terlarang dengan pria lain selama ini, ia masih perawan. “Bagus, wanita yang baik. Aku semakin suka, dan aku tidak sabar ingin mencicipi tubuh indahmu itu,” ungkap Arjuna menyeringai. Kalimat itu sangat Sinta benci. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Dia sungguh terjebak dalam kehidupan pria yang sama sekali baru dia kenal. Sinta bergeming dan hanya memandang ke arah luar. Arjuna memacu mobilnya cukup cepat supaya wanita di sebelahnya segera istirahat. “Turun!” titah Arjuna dengan angkuh. Sinta pun menurutinya, begitu juga dengan Arjuna. Pria itu turun dan melangkah bersama dengan Sinta menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, ia menyuruh Sinta tidur di ranjangnya. Seketika ia berucap, “Ingat ya, kamu dan aku hanya kontrak, bukan permanen. Lagi pula, aku nggak mungkin menyukai wanita sepertimu,” kecam Arjuna dan tersenyum miring. “Iya, aku ngerti. Kamu nggak perlu mempertegas hal itu,” kesal Sinta sembari membawa satu koper besarnya yang berisi pakaian dan perlengkapan make up. “Bagus jika kamu tau diri!” serunya. “Tidurlah! Aku mau pergi, nggak usah menunggu, mungkin sampai pagi,” tutur Arjuna lalu pergi dari ruangan itu. Setelah pria itu pergi, Sinta merasa heran. Pria yang memperkenalkan diri sebagai Arjuna itu sama sekali tak menunjukkan ketertarikan kepadanya. “Sombong banget sih dia. Kamu pikir, aku akan mencintaimu? Hah? Jangan bermimpi!” kesal Sinta sembari berbaring di tempat tidurnya. *** Sesuai adat dan tradisi. Satu hari sebelum pernikahan, para lelaki harus menyiapkan acara khusus pria yang dikenal dengan istilah Bachelor Party. Sebuah pesta bujang di mana pesta ini adalah pesta terakhir bagi calon pengantin pria sebelum menikah. Reyhan sudah menyiapkan acara itu secara diam-diam untuk sahabat terbaiknya. “Lo di mana? Lo harus datang ke SKYE Bar sekarang.” Sebuah pesan dari Reyhan kepada Arjuna. Tentu saja Arjuna menyetujuinya. Ia merasa sangat bosan dengan rutinitasnya selama ini. Ia bukan tipe pria yang suka menjalin hubungan dengan banyak wanita. Bahkan setelah lima tahun sang kekasih pergi dari hidupnya karena menikah dengan pria lain, membuat Arjuna tak lagi berhasrat untuk membuat sebuah hubungan yang serius. Kecuali sebatas bermain saja. Arjuna belum tahu apa yang direncanakan Reyhan untuknya. Seperti biasa, pengalaman dia di Paris, ia selalu menghadiri acara Bachelor Party ketika rekan kuliahnya akan melangsungkan pernikahan. “Oke, gue sedang dalam perjalanan kesana.” Balas Arjuna setelah masuk ke mobilnya. Reyhan sudah bersama beberapa teman-teman Arjuna lainnya. Tidak lama berselang, Arjuna pun tiba di kafe itu. Ia langsung menghampiri rekan-rekannya yang ada di sana. Ia heran ada banyak pria yang dia kenal bersama Reyhan. “Apa ini sebuah perayaan lajang?” tanya Arjuna sesampainya di tempat itu. Reyhan tertawa. Arjuna seharusnya sudah mengerti dengan pesta itu tanpa ia menjawabnya. Ini memang rencananya. Ia sengaja membuat acara ini untuk menyambut Arjuna yang sebentar lagi melepas lajangnya. “Welcome brother, ini hari lo, pesta lo, lo nggak boleh pulang sebelum kami semua pulang,” perintah Reyhan. “Serah lo, gue nggak urus.” Arjuna sangat bosan dengan kehidupannya, ia punya semua yang dia inginkan. Tapi ia harus menjadi robot yang wajib mengikuti semua permintaan orang tuanya. Pesta sudah lama berjalan. Arjuna pun ke kamar kecil, tentu saja ia sudah banyak minum anggur dan membuatnya sedikit mabuk. Setidaknya mabuk itu membuatnya lupa dengan rasa stress-nya. Tiba-tiba saja kepalanya sakit lagi. Ia memaksakan diri untuk bertahan hingga di kembali ke meja tempat rekan-rekannya berada. Reyhan terkejut melihat Arjuna seperti itu, ia berpikir Arjuna kelelahan. Setelah itu, dia berniat mengantarkan Arjuna ke apartemennya. Arjuna menyetujui hal itu, pesta itu pun selesai. Arjuna harus segera kembali ke apartemennya. Reyhan menawarkan Arjuna untuk dibawa ke rumah sakit, tapi pria itu menolaknya. “Anterin gue ke pulang aja, gue akan segera membaik kalo sudah minum obat. Lo tenang aja, gue baik-baik aja Rey. OKE!” Reyhan pun mengikuti permintaan sahabatnya, ia mengantar Arjuna ke apartemennya. Ia masih sedikit penasaran dengan kondisi itu. “Lo beneran baik-baik aja, Fin?” tanya Reyhan penasaran. Ia memang seringkali melihat Arjuna merasa sakit kepala. Reyhan tidak terlalu memperhatikan dengan jelas, ia berpikir itu hanya pening biasa. “Santai aja Rey, lo jangan khawatirin gue. Udah biasa kok begini, sebentar lagi juga baikan,” tangkis Arjuna berpura-pura kuat menahan rasa sakit itu. Tidak lama kemudian, Arjuna sampai di apartemennya. Ia berterima kasih kepada Reyhan sudah mengantarnya. “Rey, lo jangan lupa besok jemput gue pagi-pagi. Kita nggak boleh telat di acara ijab qabul gue besok,” pinta Arjuna. “Tapi keadaan lo? Apa masih tetap melanjutkannya besok?” tanya Reyhan. “Lo nggak ada niat membatalkannya?” “Nggak Rey, lo tenang aja. Semua akan gue urus dengan baik.” Arjuna sudah mulai tak kuat menahannya. “Baiklah. Besok gue jemput lo.” “Oke, Rey. Thanks ya udah bersedia.” “Jangan berterima kasih sama gue. Karena gue sahabat lo, saudara lo. Jadi nggak ada kata terima kasih di antara kita. Itulah sahabat, OK.” “Oke.” Arjuna pun masuk ke apartemennya, sementara mobilnya dibawa pulang oleh Reyhan. Ia yang akan mengantar Arjuna ke tempat ijab qobul. Sesampainya di dalam kamar, Arjuna melihat wanita itu sudah tertidur dengan lelap. Ia lalu ikut ke ranjang dan tidur di sebelahnya. Pakaian tidur yang Sinta gunakan semakin membuat gairah Arjuna memuncak. Ia lalu mendekatkan dirinya ke tubuh wanita itu dan menghirup wangi tubuhnya. “Dia harus melayaniku malam ini, aku sudah membayarnya!” ***

Lanjut baca