Terobsesi Dosen Cantik
Bab 1 Pemuda Bernama Joel

Mungkin ini bukanlah hari keberuntungan Laura, mobil Honda Jazz merah miliknya tiba-tiba mogok di Ringroad Utara. Dia masih sempat menepikan mobil itu sebelum mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Siang itu Laura baru saja kembali dari praktikum Nekropsi Veteriner di lapangan yang mengambil tempat di salah satu kolam pemancingan besar di daerah dekat West Lake Resort. Dia berniat kembali ke kampus karena masih siang. Laura pun keluar dari mobilnya lalu membuka kap mobil yang mengepulkan asap panas. Dia buta mengenai mesin mobil. "Aduh, mobilku kenapa ini ya?" ucap Laura kebingungan sembari mengamati dari mana asap itu muncul. Tanpa Laura sadari seorang pemuda berdiri di sampingnya. "Kenapa Prof. mobilnya?" tanyanya membuat Laura terlonjak kaget. "Eehh ... ohh .. kamu Joel, entahlah ... aku buta masalah mesin mobil. Ini tiba-tiba macet mesinnya," jawab Laura bersedekap kebingungan harus bagaimana menangani mobilnya yang mogok. Joel memeriksa mesin mobil Honda Jazz itu. Dia pun berkata, "Prof. maaf, ini tidak bisa dibetulkan di sini, harus dibawa ke bengkel karena ada konsleting dinamo starter. Tuh 'kan kebakar, asapnya masih keluar sedikit. Saya telponkan bengkel langganan saya sekarang. Nanti Profesor Laura ikut motor saya saja ke kampus." "Oohh oke, terima kasih banyak, Joel! Maaf merepotkanmu," balas Laura lega sembari tersenyum pada Joel yang sedang menelepon pihak bengkel sambil menatapnya. Usai menelepon pihak bengkel untuk menjemput mobil Profesor Laura, pemuda itu pun mengajak Laura menunggu orang suruhan bengkel datang di warung tak jauh dari situ. "Minum es tehnya dulu, Prof. Cuacanya gerah sekali siang ini!" ujar Joel seraya menyodorkan segelas es teh kepada Laura. Tanpa merasa aneh, Laura pun menerima es teh itu dari tangan Joel. "Terima kasih, Joel. Harusnya kamu nggak perlu repot-repot begini," tuturnya menatap wajah Joel yang tampak berseri-seri. Profesor Laura itu dosen idola Joel semenjak dia menjadi mahasiswa baru dulu. Mereka berkenalan ketika Joel mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) awal semester karena dia mahasiswa bimbingan Profesor Laura. Pemuda berparas tampan dengan postur tubuh tinggi gagah itu tahu siapa suami Prof. Laura, tetapi yang namanya idola selalu di hati dan dikagumi sekalipun tak dapat digapai. Joel hanya bisa berusaha berada di dekat profesor cantik yang sudah berusia matang itu. Awal semester 6 lalu, Joel mendaftar menjadi asisten dosen Laboratorium Patologi Anatomi (PA), departemen dosen cantik itu bekerja di kampus FKH UGM. Mereka jadi sering bertemu untuk mengurus praktikum dan tugas mahasiswa di mata kuliah yang berhubungan dengan Lab. Patologi Anatomi. "Prof, si Jake sama Joshua jarang diajak ke kampus lagi ya?" tanya Joel menanyakan anak kembar Laura yang masih duduk di bangku SD. Sepasang mata biru yang indah itu menatapnya dan membuatnya jatuh hati lebih dalam lagi. "Mereka terlalu sibuk di sekolah dan kegiatan ekskul, Joel. Kalau harus nungguin aku di kampus nanti kecapekan," jawab Laura apa adanya tanpa merasa aneh dengan tatapan intens Joel kepadanya. Memang Laura sedari dulu tidak pernah peka pada perhatian lawan jenisnya karena dia terlalu memesona di mata kaum Adam. Hal ini juga terjadi pada Joel. Dia tidak pernah menganggap Joel lebih dari sekadar mahasiswa bimbingannya dan asisten lab berbakat. Akhirnya setelah menunggu hampir setengah jam, orang dari bengkel langganannya pun tiba. Joel dan Laura bergegas ke jalan raya tempat mobil Laura mogok tadi. Tiba- tiba sebuah sepeda onthel melintas di jalur lambat itu dan hampir menabrak Laura. Dengan sigap Joel menarik tangan Laura lalu menangkapnya sebelum terjatuh hingga tubuh wanita itu tenggelam dalam pelukannya. Mendadak jantung keduanya aritmia, berdetak lebih kencang akibat insiden itu. Aroma greentea chamomile yang menenangkan itu tertiup angin dan menyerbu indera penciuman Joel. Tubuh yang hanya berani dia impikan dalam tidurnya berada di dalam dekapannya. Otak Joel seolah meleleh, dia tak mampu bereaksi apa pun, mematung dalam posisi itu beberapa menit. "Joel, kurasa kau bisa melepaskanku ...," ucap Laura jengah dipeluk begitu erat oleh mahasiswanya. Akhirnya Joel tersadar dan tergagap-gagap meminta maaf pada Laura karena hal tidak mengenakkan itu. "Sudahlah, Joel. Aku tidak marah kok, terima kasih sudah menolongku dari kecelakaan yang tidak diharapkan," hibur Laura dengan nada biasa. "Oohh ... sudah tugasku, Prof. untuk melindungi Anda karena ...." Joel tidak meneruskan ucapannya yang melantur dan hanya berani membatin saja, '... karena kamu wanita yang kusukai.' Dia pun berjalan mendekati montir bengkel. "Di derek aja, Mas. Masalahnya di dinamo starternya yang terbakar, jadi harus dibongkar dan diganti spare part yang baru. Besok kalau sudah jadi minta diantar ke kampus Kedokteran Hewan UGM ya?" ujar Joel seolah memegang kendali. Dia memang pemuda yang memiliki sisi dominan dan senang memutuskan segala sesuatu dengan pertimbangannya. Diam-diam Laura memperhatikan Joel yang sedang berbicara dengan montir bengkel, dia cukup terkesan. "Sudah beres, Prof. Jangan kuatir, mungkin besok siang sudah dibalikin ke kampus mobilnya. Kita pulang sekarang ya," ucap Joel pada Laura yang menunggu di sisinya. Pemuda itu menyerahkan helm cadangan kepada Laura. "Ayo naik, Prof. Saya antar ke kampus. Pegang pinggang saya ya, takut nanti Prof. Laura jatuh ...," ujar Joel santai sembari menaiki sepeda motor Kawasaki Ninja hijaunya. Laura memutar bola matanya seolah tak percaya mendengar ucapan Joel barusan. Dia memilih untuk diam tak menanggapi ucapan Joel itu lalu naik ke boncengan sepeda motor itu. Ketika Joel menyalakan starter sepeda motornya, dia menunggu tangan Laura untuk memegang pinggangnya dan tidak kunjung terjadi. Dia mendesah lelah lalu meraih kedua tangan Laura dan menalikannya di sekitar perutnya yang rata berotot. "JOEL?!" seru Laura terkejut dengan tindakan Joel yang terlampau berani itu. Namun, pemuda itu segera tancap gas sehingga Laura tidak jadi melepaskan pegangan tangannya di perut pemuda itu. Padahal sulit untuk tidak menempel di punggung pemuda itu. Sepeda motor itu dikendarai dengan kecepatan konstan yang sedang-cepat menuju ke kampus FKH UGM. Perlahan pegangan tangan Laura mulai mengendur dari perut Joel, tetapi tangan kiri Joel mencegahnya beranjak. "Prof, jangan memecah konsentrasiku!" sergah Joel tajam. Laura mengalami dilema, dia akhirnya memilih mengalah dan menuruti kenginan Joel untuk berpegangan di perut pemuda itu. Dalam hatinya, Laura bertanya-tanya ... apakah Joel menyukainya? Dia cukup mengalami trauma dengan hubungannya dengan Reynold bertahun-tahun yang lalu ketika Reynold masih menjadi mahasiswanya dan malah memperkosanya dulu. Laura tentunya tidak ingin Joel menjadi Reynold kedua. Dalam perjalanan itu, Joel merasa begitu bahagia dipeluk dari belakang oleh wanita yang dia sukai, dosen idolanya. Ini mungkin hari terindah dalam hidupnya. Mereka berdua pun memasuki area parkir sepeda motor di kampus FKH UGM. Dengan segera Laura turun dari sepeda motor Kawasaki Ninja hijau itu. "Terima kasih tumpangannya, Joel. Sampai besok," ujar Laura lalu berjalan cepat menuju ke Lab. PA. sebelum pemuda itu sempat menjawab sepatah kata pun. Joel hanya bisa tersenyum masam memandangi tubuh ramping itu dari belakang menjauh darinya.

Bab 2 Menjemput Istri Tercinta

Tahun ini usia James menginjak usia 29 tahun, seorang profesor muda di bidang Mikrobiologi. Sementara Reynold sedang menyelesaikan penelitiannya di bidang Parasitologi untuk dikukuhkan gelar profesornya menyusul James. Reynold memang sengaja menunda meraih gelar profesornya setelah lulus pendidikan doktoralnya di University of Michigan dulu. Saat itu dia seperti mayat hidup karena ditinggalkan oleh Laura dan putranya yang dibawa lari oleh James ke Australia. Masa-masa suram kehilangan semangat hidupnya itu mulai pulih semenjak Laura kembali ke FKH UGM. Sore itu James sibuk di lantai 2 Department of Microbiology, dia mendapat bagian sebagai dosen penanggungjawab praktikum. Prof. Widya sudah mulai mendelegasikan banyak wewenangnya kepada James yang akan menjadi penerusnya sebagai kepala bagian Lab. Mikrobiologi. Sementara Reynold masih mengajar kuliah parasitologi umum mahasiswa ekstensi di sore hari hingga pukul 16.00 WIB. "Dokter Rey, saya Marina, saya ingin bertanya apakah semua parasit darah termasuk protozoa?" tanya seorang mahasiswi mengangkat tangan kanannya. Reynold pun menjawab, "Ya, benar parasit darah memang termasuk protozoa. Mereka memiliki struktur tubuh uniselular yang dapat menghancurkan sel darah merah atau sel darah putih dengan menginvasinya." "Berarti parasit darah mirip alien, Dokter Rey?" lanjut mahasiswi itu yang mendapat tertawaan seisi kelas yang menyimak kuliah dari dosen tampan itu tanpa mengantuk padahal sudah begitu sore. Reynold pun ikut tertawa pelan lalu menjawab, "Saya rasa kemungkinan besar struktur tubuhnya berbeda secara seluler, tapi ... antara alien dan parasit darah memiliki kesamaan yaitu sifat parasitisme mereka yang merusak dan menguasai tubuh inangnya." "Anda sangat cerdas, Dok. Terima kasih atas penjelasannya," puji Marina sambil melepas senyum manisnya kepada Reynold. Reynold mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. "Sama-sama, Marina. Apa ada pertanyaan lainnya?" ujar Reynold tanpa terlalu memedulikan bahasa tubuh gadis cantik itu. Seorang mahasiswi lagi mengangkat tangannya untuk bertanya, "Sore, Dokter Rey, nama saya Angie. Saya ingin bertanya berapa lama parasit darah dapat hidup di tubuh inangnya?" Pertanyaan itu tidak ada jawaban yang pasti menurut Reynold. Dia pun menjawab, "Kita hanya memiliki data penelitian lama fase siklus hidup parasit darah dari reproduksi dan non reproduksi saja Angie. Saya rasa jawaban pertanyaanmu itu relatif, apakah inang mendapatkan pengobatan atau tidak. Jangan terlalu dipikirkan karena saya tidak akan memunculkannya di soal ujian." Dia pun tersenyum pada Angie. Wajah Angie sontak merona menerima senyuman mematikan dari dosen idolanya itu. Dia pun membalas senyum Reynold seraya menjawab, "Baik, Dok. Terima kasih." Reynold melihat jam tangan di pergelangan tangannya lalu berkata, "Okay Class, kuliah parasitologi hari ini cukup sekian. Sampai ketemu minggu depan. Selamat berakhir pekan!" Dia pun duduk di meja dosen sembari membereskan barang-barang bawaannya ke dalam tas kantornya. Ada beberapa handout materi kuliah dan textbook penting yang dia masukkan ke tas itu. Beberapa mahasiswi yang melewati mejanya menyapanya seraya melemparkan senyum paling memesona untuk dosen ganteng itu. Reynold masih lebih muda 2 tahun dibanding James dan penampilannya pun necis, sangat menarik di mata kaum Hawa yang bahkan usianya berbeda nyaris 8 tahun di bawahnya. Reynold melangkahkan kakinya menuju ke Lab. PA, tempat dimana bidadari cintanya bekerja. Dugaannya dosen cantik workaholic itu pasti masih berada di kantornya dan sibuk dengan berbagai pekerjaan. Dan tepat seperti dugaannya ... Laura sedang membolak-balik berkas skripsi mahasiswa bimbingannya di mejanya. Bibir indahnya yang terpulas lipstik merah muda itu berkomat-kamit membaca tulisan dengan serius. Pemandangan itu mengingatkan Reynold pada kenangannya saat masih berstatus mahasiswa tingkat bawah dan mengejar-ngejar Laura yang tak lain adalah dosen pembimbing akademiknya kala itu. Dia sering tertegun memandangi Laura di ambang pintu kantor wanita bermata biru saphire itu. Akhirnya, Laura menyadari kehadiran suami keduanya itu. "Oohh ... Rey, maaf aku tidak menyadari kehadiranmu. Sudah lama menungguku?" ucap Laura seraya berdiri lalu melangkah mendekati Reynold yang sedang tersenyum memandangnya. "Tidak apa-apa, Cantik. Aku senang memandangimu bekerja," jawab Reynold lalu melingkarkan lengannya di pinggang Laura dan memagut bibir indahnya. Dia pun berkata lagi, "apa belum ingin pulang? Ini sudah sore, Sayang." "Uhmm ... mobilku ada di bengkel, dinamo starternya terbakar tadi di Ring Road Utara. Aku diantarkan ke kampus oleh Joel tadi. Sepertinya aku harus menumpang mobilmu untuk pulang atau mobil James, tapi dia sepertinya masih sibuk," ujar Laura sembari menautkan kedua tangannya di tengkuk Reynold. Alis Reynold berkerut saat mendengar cerita Laura bahwa ada pria lain yang mengantarkan istrinya pulang ke kampus. Dia sadar betul sekalipun Laura sudah hampir kepala 4 usianya, tetapi masih sangat cantik di mata banyak pria. "Pulang denganku saja, Sayang. Kirim pesan ke Bang James saja kalau kamu ikut mobilku," balas Reynold. Dia pun melepaskan pelukannya di pinggang Laura dan membiarkannya membereskan barang-barangnya sebelum pulang. Setelah semuanya beres, Laura pun mengunci ruang kantornya lalu menggandeng tangan Reynold menuju ke parkiran mobil di samping gedung PA. Suaminya itu sengaja memarkir mobilnya di situ agar dekat dengan tempat kerja Laura. Entah terbuat dari apa hati Reynold sehingga cintanya kepadanya begitu awet bagaikan preparat anatomi yang dimasukkan ke dalam formalin, pikir Laura ketika Reynold membukakan pintu mobil Honda Civic barunya untuknya. Di dalam mobil, Laura mengirim pesan W A ke James, dia mengatakan bahwa Reynold yang mengantarnya pulang dan mobilnya ada di bengkel. Tak butuh semenit, jawaban pesan dari James masuk ke inboxnya. "Oke, hati-hati di jalan, Honey-ku. Bilang Rey, jangan ngebut, dia bawa istri kesayanganku!" Laura pun sontak cekikikan membaca pesan James lalu membalas, "Oke, ntar kusampein ke Rey. Kamu lemburkah, Babyboy?" Pesan Laura seperti begitu kilat dibalas oleh James. "Biasa ada praktikum sore, tapi sudah mau selesai sebentar lagi beberesnya. Tunggu aku di rumah ya, Cantik. Miss you so much!" emoticon kiss dan hati berjejer. Reynold pun melirik ke arah Laura yang sedari tadi cekikikan dan senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya. "Ada apa, Laura? Dari Bang James ya?" tanyanya penasaran. "Iya, biasa ... pesan James, nyetirnya jangan ngebut Rey soalnya bawa istri kesayangannya," ujar Laura menyampaikan pesan James tadi ke Reynold. "Halah ... mana mungkin aku ngebut kalau bawa kamu, Sayang," tukas Reynold menyengir menatap Laura. "Aku cuma nyampein aja, Rey. Iya, kamu nyetirnya udah pas kok, jarang banget ngebut," sahut Laura. Rasanya Reynold ingin segera sampai ke Jasmine Park, dia begitu mendambakan sebuah percintaan yang panas bersama Laura sebelum James pulang dari kampus. Berbagi istri itu bukan hal yang mudah, ada banyak deals yang harus disepakati oleh mereka bertiga. Apalagi kadar kecemburuan James sangat tinggi dan juga posesif pada Laura. Terkadang Reynold harus bersabar dan mengalah ketika menghadapi James. Suami pertama yang sudah menjalani bertahun pernikahan bersama Laura tentunya lebih dicintai.

Bab 3 Milik Dua Suami

Mobil Honda Civic hitam itu terparkir rapi di lantai basement Jasmine Park Apartment. Kemudian sang pria membukakan pintu mobil untuk istrinya. "Terima kasih, Rey," ucap Laura menerima uluran tangan Reynold yang membantunya turun dari mobil. "You're welcome, Dear," sahut Reynold lalu meletakkan tangan Laura di lengannya. Mereka naik ke unit apartment milik Reynold di lantai 8 dengan lift. Kedua putra Laura dan James juga tinggal di apartment itu karena memang unitnya paling luas di antara unit milik Laura dan James. Ada 4 kamar di sana, tetapi James tidak mau tidur sendirian. Dia bersikeras tidur bertiga dengan Laura berada di tengah dirinya dan Reynold. Jadi ada satu kamar tidur yang kosong di unit milik Reynold, maka Laura memberitahu Mikha, pengasuh kedua putranya itu untuk ikut pindah dari Royal Heritage ke Jasmine Park bersama mereka. Sementara Jacob dan Joshua tidur di kamar mereka sendiri-sendiri karena mereka bertambah besar. Ketika Laura dan Reynold sampai di rumah, Jacob dan Joshua sedang mengerjakan PR mereka di ruang tengah bersama Mikha. "Hello, Mom, Papa Rey," sapa Jacob mengangkat wajahnya dari buku PR nya. "Hai, Pa, Mom," ucap Joshua juga menyapa kedua orangtuanya. Laura mengecup kening Jacob dan Joshua bergantian. "Hey, Kids. Sedang sibuk mengerjakan PR? Lanjutkan ... Mommy akan mandi dulu sebentar, oke?" ujar Laura lalu berjalan ke kamarnya bersama Reynold. Jacob dan Joshua tertawa pelan sambil saling berpandangan melihat kedua orangtua mereka menghilang di balik pintu kamar. Dengan segera Reynold mendekap tubuh Laura lalu melumat bibir istrinya dengan ganas. Dia sudah menahan dirinya sejak di kampus. Napas Laura tersengal-sengal ketika Reynold melepaskan bibirnya yang membengkak. "Aku menginginkanmu, Laura," geram Reynold dengan gairah yang mengeras di tubuhnya. Tangan Laura menarik lepas simpul dasi lalu membuka kancing kemeja Reynold. Kemudian turun ke sabuk celana suaminya, melepaskan celana panjang kain itu. Reynold meraup tubuh ramping Laura menuju ke tempat tidur super king size di tengah ruangan yang kini hanya menjadi milik mereka berdua. Tatapan Laura tak melepaskan wajah Reynold, dulu memang dia begitu membenci pemuda itu setelah memperkosanya. Namun, kini dia sudah memaafkannya dan menerima kenyataan bahwa Reynold adalah suaminya, ayah putranya, Joshua. Mereka berdua pun sudah polos di atas ranjang dalam posisi Reynold menindih tubuh Laura. "Laura, bolehkah aku bercinta denganmu sekarang?" tanya Reynold yang sudah tak tahan lagi untuk meleburkan dirinya ke dalam tubuh Laura. Batang kejantanannya menggesek perlahan ceruk di antara pangkal paha Laura, membuat wanita itu mendesah dengan napas memburu. "Tentu saja boleh, Rey. Aku milikmu juga," jawab Laura pasrah di bawah tubuh kekar Reynold. Banyak yang berubah dari tubuh Reynold dari dulunya pemuda remaja menjadi pria dewasa. Setelah tak saling berjumpa selama 7 tahun, tubuh Reynold lebih kekar berisi. Benar-benar mendominasi tubuh ramping Laura yang tidak banyak berubah seperti sebelum hamil putera kembarnya. Bagian tubuh Reynold yang mengeras karena gairah menyatu ke dalam lipatan lembut yang lembab dan hangat itu. Otot kewanitaan milik Laura mencengkram tongkat keperkasaannya di bawah sana dan meremas-remasnya. Kedua betis mulus itu melingkari pinggang Reynold. "Hmmpphh! Rasanya tubuhmu terlalu memabukkan, Sayangku," geram Reynold ketika miliknya diselimuti kehangatan tubuh Laura. Dia pun menghentakkan pinggulnya meresapi sensasi kuat yang menerjang tubuhnya laksana badai. Laura menalikan kedua tangannya di tengkuk Reynold dan menarik wajah pria itu mendekat ke wajahnya lalu mereka berdua pun berpagutan dengan lidah yang saling menggoda di dalam mulut. "Rey, naikkan ritmenya ... aku ingin kau bawa ke puncak ... akkhh!" desah Laura. Reynold segera menghunjamkan miliknya dengan ritme cepat dan dalam hingga lembah cinta Laura membanjir dengan cairan kenikmatan, memandikan batang kejantanannya yang begitu jagoan sore itu. Tubuh Laura menggelinjang kegelian ketika cairan kenikmatannya keluar dengan deras. "Tahan, Sayangku ... aku akan menyusulmu sebentar lagi. AARRGGH!" pekik Reynold tertahan agar tidak kedengaran oleh kedua putera mereka dan Mikha. Tubuh pria itu pun ambruk menindih Laura. Reynold terkekeh sembari mengecupi lekuk leher Laura. "Enak sekali rasanya tadi. Terima kasih, Laura," ucapnya. "Sama-sama, Rey. Kau begitu perkasa di ranjang, jagoan sekali!" puji Laura seraya mengulum senyumnya dengan wajah merona. Akhirnya Laura tersadar bahwa hari sudah sangat sore, dia pun berkata, "Rey, sebaiknya aku mandi dulu sebentar sebelum James pulang. Kau berbaringlah di sini sebentar." Laura melepaskan dirinya dari tubuh Reynold dengan gesit lalu bangun dari ranjang. "Apa kau takut Bang James akan marah kalau kita mandi bersama?" tanya Reynold iseng, sekalipun dia sudah tahu jawabannya. YA. "Apa harus kujawab lagi, Rey?" sahutnya. Laura hanya mengangkat jempolnya ke atas seraya melangkah menuju ke kamar mandi dengan tubuh polosnya. Sementara Reynold menutupi setengah ke bawah tubuhnya dengan bed cover sambil berbaring di ranjang, menunggu Laura mandi. Tak lama kemudian, James membuka pintu kamar itu. Dia melihat Reynold berbaring di ranjang dan baju Laura dan Reynold berserakan di lantai kamar. Dia tahu bahwa mereka berdua baru saja menyelesaikan aktivitas panas sebelum dia pulang dari kampus. Ada perasaan cemburu di hatinya. Dia tidak menyapa Reynold dan langsung masuk ke kamar mandi. James melepaskan pakaiannya lalu membuka pintu kaca shower box dimana istrinya sedang mandi di bawah guyuran air hangat dari shower. Lengan kokohnya mendekap tubuh Laura dari belakang dengan posesif. Tentu saja Laura tahu siapa yang memeluknya seperti itu. "Sudah pulang dari kampus, Babyboy?" sapanya. "Hmm ... baru saja. Sepertinya ada yang baru saja selesai olahraga sore," sindir James dengan nada datar. Bibir James mengecupi bahu Laura yang basah oleh air shower. Laura merasakan junior milik James mengeras dan menggesek belahan bokongnya. Dia tahu suami pertamanya itu menginginkannya juga. Ketika dia setuju menjalani pernikahan poliandri, Laura sudah menyadari bahwa dia harus bekerja keras melayani dan menyenangkan kedua suaminya karena dia milik 2 suami. "Aku menginginkanmu, Honey-ku," desah James sembari meremas-remas gunung kembar istrinya yang puncaknya mengeras karena gairah. Laura membalik tubuhnya menghadap James dan membingkai wajah suami yang dicintainya itu dengan telapak tangannya. "Aku milikmu, James ... selalu menjadi milikmu," bisik Laura. Bibir James memagut dalam-dalam bibir istrinya itu sembari menyatukan tubuhnya dalam posisi berdiri dengan tubuh Laura. Tangan Laura bergelanyut di leher James, kepalanya tersentak ke belakang seraya memejamkan matanya merasakan hunjaman kuat tubuh James di dalam lembah cintanya berulang-ulang yang membuatnya serasa melayang-layang dalam kenikmatan ragawi. Laura larut dalam gairah suami pertamanya itu. Lenguhan dan desahan mereka berdua bersahutan menggema di dalam kamar mandi hingga terdengar di kamar tidur dimana Reynold berbaring menatap langit-langit kamarnya. Terkadang Reynold merasa dilema dalam batinnya. Dia ingin memiliki Laura tanpa terbagi, tetapi hal itu tidak mungkin karena cinta sejati Laura adalah James. Dia yakin bila menuntut lebih dari yang berhak dia terima, justru dirinya yang akan tersingkir dari posisinya saat ini, pikir Reynold.

Lanjut baca