Gairah Suamiku (Jangan Salahkan Aku Selingkuh)
Bab 1 Jangan Mendesah

"Jangan mendesah, Ay!" ingat Dindar, saat Ayana, istrinya tak sengaja mengeluarkan suara desahan akibat dari perlakuan Dindar. Ayana pun segera menggigit bibirnya agar suara yang lumrahnya kebanyakan lelaki sukai saat wanitanya mengeluarkan suara yang menandakan bahwa wanita tersebut merasa menikmati atas perbuatan suaminya tersebut namun dibenci oleh Dindar. Ayana tak pernah tahu apa alasan Dindar selalu melarangnya untuk bersuara disetiap kali mereka melakukan hubungan. Sedangkan Dindar begitu pintar dan lihai saat memancing hasrat bercinta Ayana. Namun ia sendiri melarang Ayana untuk menikmati apa yang ia lakukan. Setelah melihat Ayana yang berusaha mengatupkan bibirnya, agar tak mengeluarkan desahan, Dindar pun melanjutkan permainannya yang masih tahap pemanasan. Tangan kekar Dindar dari dada Ayana turun menggerayangi perut Ayana, lalu selanjutnya makin turun kebawah tepat di area paling sensitif milik Ayana. Ayana sekuat tenaga menahan agar dirinya tak sampai mengeluarkan suara yang sangat dibenci Dindar tersebut saat Dindar melakukan pemanasan yang begitu membuat Ayana tak kuat untuk tak melepas desahannya. Semakin lama, aksi liar Dindar semakin menjadi, semakin membuat Ayana tak tertahankan. Oleh karena itu, Ayana semakin kuat menggigit bibirnya seraya tangannya mencengkeram kuat ke bantal yang ditidurinya. Namun, karena semakin lama semakin menjadi apa yang Dindar lakukan pada tubuh Ayana, akhirnya tanpa Ayana sadari, ia pun melepas suaranya yang sedari ia tahan-tahan. Sontak Dindar segera menghentikan aksinya dan menatap nanar pada Ayana. Seolah-olah ingin menelan Ayana. "Sudah kubilang berapa kali padamu, Ay. Aku sangat benci dengan suaramu itu!" bentak Dindar seraya menarik diri dari Ayana. Jakunnya naik turun menahan emosi. Ayana tentu terkejut dengan bentakan Dindar walaupun itu bukan untuk pertama kalinya. Entah sudah berapa kali Ayana mendapat bentakan selama tiga bulan menikah sebab Ayana tanpa sengaja mengeluarkan desahan karena perbuatan Dindar sendiri. Bahkan tak hanya bentakan, Dindar juga hampir melukai Ayana sebab kesalahan yang tak disengaja oleh Ayana. "Maaf, Mas. Tadi aku gak sengaja." Ayana berucap dengan rasa takut pada Dindar. Beberapa kali ia menahan nafas. "Maaf, maaf. Itu saja yang selalu kamu bilang saat sudah salah. Bukannya aku sudah bilang. Aku tidak suka dengan suaramu itu." Lagi, Dindar membentak Ayana sambil menatap sengit, penuh amarah. Ayana segera duduk dari posisi baringnya. "Suaraku?" Ayana menatap Dindar dengan penuh selidik. Tampak heran dengan kata-kata Dindar. "Iya. Aku tak suka!" Dindar segera memalingkan wajahnya kesembarang arah dengan kedua tangan bertengger di pinggangnya. "Tapi kenapa, Mas?" Kali ini Ayana tak mau diam saja seperti biasanya saat Dindar marah sebab Ayana tak sengaja melakukan kesalahan seperti tadi. Malah menurut Ayana itu bukanlah sebuah kesalahan. Hanya saja Dindar menjadikan itu sebuah kesalahan besar bagi Ayana. "Jangan tanya kenapa, Ay. Yang jelas kau tak boleh mengeluarkan suara yang menjijikan itu," ucap Dindar dengan sengit. "Apa kamu bilang? Menjijikan?" Mata Ayana tampak berkaca-kaca mendengar penuturan Dindar. Yang menurutnya sangat kasar. Dan seharusnya tak pantas bagi seorang suami mengatakan itu, padahal suara itu diakibatkan oleh Dindar. "Iya, menjijikan. Oleh karena itu aku tak mau mendengarnya!" Ayana yang merasa hatinya panas mendengar kata-kata Dindar segera meraih selimut, lalu dililitkan ke tubuhnya untuk menutupi tubuh polosnya, lalu ia berdiri menatap tajam ke arah Dindar. "Suara yang Mas bilang menjijikan itu berasal dari perbuatanmu, Mas!" suara Ayana meninggi. Emosi juga sudah menghinggapi dirinya. "Iya, memang. Tapi bukan berarti kamu—" "Apa, Mas?" potong Ayana cepat. Emosinya juga sudah tak tertahankan. "Bukan berarti kau boleh menikmatinya!" "Apa?" Kening Ayana mengkerut. Merasa heran dengan kata-kata Dindar yang melarangnya untuk menikmati apa yang ia sendiri berikan. Bahkan begitu lihai. "Apa aku tak salah dengar, Mas?" Suara Ayana tampak bergetar saat menanyakannya. Matanya memerah dan berkaca-kaca menahan tangis. "Tidak. Aku memang melarang-mu untuk menikmatinya." Ayana tersenyum getir mendengarnya seraya menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan larangan Dindar, suaminya. "Lalu, untuk apa kau melakukan hal ini jika aku tak boleh menikmatinya, Mas?" tanya Ayana dengan nada rendah. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar sampai tak menetes. Dindar tak menjawab, ia mengusap wajahnya kasar seraya menoleh ke samping. Menghindari tatapan Ayana. "Katakan, Mas! Apa alasanmu melarangku untuk menikmatinya. Jika kamu sendiri menikmati apa yang ada pada diriku. Lalu aku tidak. Katakan sekarang juga. Kenapa kau selalu melarang. Katakan, Mas. Kata—" "Cukup, Ay!" Ayana terlonjak kaget mendengar nada bentakan emosi Dindar. Bahkan saat ini lebih nyaring dari sebelum-sebelumnya. "Kenapa kau segitu marahnya karena ini, Mas. Apa yang sebenarnya menjadi alasanmu." Mata Ayana semakin berkaca-kaca menahan tangis. "Untuk apa kau menikahiku. Bahkan kau datang sendiri padaku. Kau memaksaku agar mau menikah denganmu, bahkan aku sampai tak mendapati restu tulus Papaku. Aku mengabaikan restu Papa demi bisa menikah denganmu, Mas. Tapi apa yang—" "Kubilang cukup, Ay!" Lagi, Dindar memotong ucapan Ayana dengan membentak. Kali ini Ayana tak dapat mencegah air matanya untuk mengalir. Ia benar-benar tak kuasa. Bentakan demi bentakan Dindar dan kata-katanya benar-benar melukai hatinya. "Mas kau…." Bibir Ayana bergetar hebat. Hingga ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia menangis sejadi-jadinya. "Kau tak perlu bertanya apa alasanku, Ay. Yang jelas aku melarang-mu untuk melakukan kesalahan seperti yang tadi disaat kita melakukannya." Dindar menatap sengit. "Tapi aku penasaran, Mas!" ucap Ayana disela-sela isakannya. "Persetan dengan rasa penasaranmu itu, Ay." Suara nyaring dan kasar Dindar menggelegar hingga membuat Ayana terkejut. "Aku tak pernah menyuruhmu untuk penasaran padaku. Aku hanya menyuruhmu untuk tidak melakukan kesalahan yang seperti tadi. Tapi kau malah selalu dan selalu mengulang kesalahanmu ini. Aku sangat benci dengan itu, Ayana." Gigi Dindar bergemeletuk menahan geram dan emosi pada Ayana. Ayana hanya bisa diam tanpa bisa berkata-kata lagi. Sebab ia tahu, sekarang Dindar benar-benar marah. Dan Ayana tak mau kemarahan Dindar akan membuat dirinya lebih sakit lagi. Seperti sebelum-sebelumnya yang sudah terjadi. "Aku ingatkan lagi, Ayana. Jangan pernah mengulangi kesalahnmu lagi." Setelah berucap , Dindar segera membalikkan badan, melangkah keluar kamar meninggalkan Ayana. Ayana hanya bisa terisak. Hatinya benar-benar sakit. Kenapa Dindar tiba-tiba berubah. Dari yang lemah lembut jadi kasar, tepatnya saat malam pertama mereka berlangsung dan Ayana mengeluarkan suara yang menurut Ayana sudah biasa terjadi pada setiap perempuan sebab membuktikan mereka menikmati permainan dari pasangannya. Tapi kenapa Dindar tidak! Apa yang sebenarnya terjadi? Ada misteri apa sebenarnya? Yang tak Ayana ketahui dari suaminya tersebut. ___________

Bab 2 Tanda Merah

"Ayana!" seru Dindar saat sarapan pagi berlangsung. Ayana yang masih merasa sakit hati dengan perkataan kasar Dindar semalam hanya melirik Dindar tanpa berucap. "Kamu masih marah samaku, Ay?" Dindar bertanya sambil terkekeh menatap Ayana. Lagi, Ayana masih bungkam. Wanita mana yang tak sakit hati jika suaminya memarahi dan menyalahkan dirinya sebab melakukan tak kesengajaan disaat mereka sama-sama meneguk madu. "Maaf, ya, Ay!" Ayana menghela nafas seraya menyudahi sarapannya. Sudah biasa Ayana mendengar permintaan maaf Dindar setelah Dindar memarahinya sebab kesalahan yang sama. "Kenapa kau tak menjawab, Ay?" tanya Dindar. "Aku sudah terbiasa dengan permintaan maafmu, Mas!" Nada bicara Ayana tampak lesu. Sekilas mata Ayana melirik ke arah Dindar yang saat ini bergeming dengan mata sama menatap Ayana. Sekali lagi Ayana menghembuskan nafas sebelum akhirnya ia berdiri untuk membereskan meja makan. "Tidak perlu kau lakukan itu, Ay!" Dindar segera berdiri dari kursinya, lalu berjalan menghampiri Ayana dan mengambil alih piring kotor dari tangan Ayana. "Biar aku saja yang melakukannya!" Dindar tersenyum seraya mengecup mesra pipi Ayana sebelum akhirnya Dindar pergi ke dapur dan meletakkan piring kotor di wastafel. Ayana yang keheranan dengan sikap suaminya tersebut hanya bisa menggelengkan kepala. Selanjutnya Ayana mengambil sisa piring di meja makan lalu membawanya ke dapur menyusul Dindar. "Kok kamu bandel, sih. Kan Aku sudah bilang biar aku saja yang melakukannya." Dindar protes saat Ayana sudah tiba di dapur dan menaruh piring kotor di wastafel dimana saat ini Dindar tengah mencuci perabotan kotor. "Sudah, Mas. Biar aku saja yang lanjutkan. Nanti Mas bisa telat datang ke kantor." Ayana sedikit menyunggingkan senyuman. "Ya ampun…perhatian sekali istriku." Dindar berucap dengan sangat manisnya. Selanjutnya ia menyudahi aktivitas mencuci piring, mendekati tempat Ayana berdiri. "Karena kamu nakal. Sini aku beri hukuman." Tangan kiri Dindar meraih pinggang ramping Ayana. "Mas, apaan, sih." Ayana tersenyum dengan perlakuan Dindar. Namun saat tangan kanan Dindar meraih tengkuk Ayana untuk diciumnya, tiba-tiba Dindar lekas mendorong kasar Ayana hingga tubuh kecil istrinya tersebut hampir menabrak meja kalau saja Ayana tak menahan diri. "Mas!" pekik Ayana. "Kenapa ada tanda merah di lehermu, Ay!" Dindar menatap tajam. Bak pedang yang siap melukai musuhnya. "Apa! Kau menanyakan tanda merah ini, Mas?" Ayana tersenyum getir. "Iya!" "Bukankah ini perbuatanmu semalam, Mas!" Ayana menunjuk lehernya penuh kegeraman. "Iya, aku tahu itu perbuatanku, Ay. Lalu siapa lagi. Sebab hanya aku yang boleh menyentuh dirimu. Namun pertanyaannya bukan itu. Tapi kenapa tanda merah itu masih ada." Nafas Dindar tampak memburu. Penuh emosi. "Bagaimana mau hilang, Mas. Sedangkan ini hasil semalam!" balas Ayana. "Ya hilangin, dong, Ay. Bagaimanapun caranya kamu hilangkan itu bekas. Apa kamu sengaja, heum. Mau memajang itu tanda, begitu?" "Apa?" Kening Ayana mengkerut mendengar tuduhan Dindar. "Mas, kok bisanya nuduh aku begitu." Ayana tak terima. "Ya lalu apalagi." "Kenapa apa-apa yang itu dihasilkan oleh perbuatan Mas Dindar tapi selalu aku yang disalahkan? Kenapa, Mas. Kenapa!" "Jangan melawan, Ay. Aku tak suka." Dindar mencengkeram kuat bahu Ayana. "Mas. Kau menyakitiku." Ayana mengaduh kesakitan. "Kenapa kau selalu melawanku, heum?" Rahang Dindar mengeras. Sedangkan tangannya semakin kuat meremas bahu Ayana yang kecil. "Mas. Sakit!" teriakan Ayana seketika langsung membuat Dindar segera melepas cengkeramannya. "Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Aku tak suka." Setelah berucap dengan sengitnya, Dindar segera berlalu tanpa ada pamitan seperti biasanya pada Ayana. Ayana hanya bisa memejamkan mata seraya duduk dengan lemas di kursi meja makan. ***** Ayana segera membuka pintu saat mendengar suara bel rumah. Ia tahu yang datang adalah Dindar, sebab bertepatan pada jadwal kepulangan Dindar dari kantor. Ayana segera menyunggingkan senyuman pada Dindar. Sebab itu perintah dari Dindar saat menyambut kepulangan Dindar. Tak hanya itu, Ayana harus selalu rapi dan dalam keadaan bersih dan wangi saat mau menyambut Dindar. Seperti biasa, Dindar menyibak rambut Ayana dan menenggelamkan wajahnya di leher putih jenjang wanita cantik itu. "Kau benar-benar istri yang mengerti suami. Kau sudah menyingkirkan tanda merah itu," bisik Dindar di telinga Ayana. Ayana hanya tersenyum kecut. Ia memang telah menutupi tanda merah bekas perbuatan Dindar semalam dengan foundations. "Ini, Sayang, buat kamu." Seperti biasa pula, Dindar selalu membawakan bunga untuk Ayana. "Terima kasih." Ayana meraih bunga itu dan menciumnya yang segera disusul oleh Dindar mencium kening Ayana. "Oh ya, aku juga belikan gaun untukmu." Dindar memberikan paper bag pada Ayana. "Buat apa, Mas?" tanya Ayana sambil meraih paper bag tersebut. "Nanti kamu akan aku bawa ke pesta peringatan hari ulang tahun perusahaan terbesar di kota ini. Nanti kamu harus dandan secantik mungkin, ya." Dindar berucap dengan penuh kelembutan dengan tangan membelai hangat kepala Ayana, membuat Ayana menyunggingkan senyuman tulus. ***** "Kamu cantik banget, Ay," puji Dindar saat Ayana keluar dari rumah sudah dalam tampilan yang memukau dalam balutan dress yang dibelikan Dindar tadi. Ayana hanya tersenyum sipu sambil mengucapkan terimakasih. "Cup!" Dindar mengecup pipi Ayana. "Inilah alasanku kenapa aku mau menikahimu, Ay," bisik Dindar. Lagi, Ayana hanya bisa tersenyum sipu. "Yaudah, berangkat, yuk." Dindar meraih pinggang ramping Ayana. Mesra. ***** Suasana pesta tampak bising dengan suara musik disco. Ayana yang sedari tadi berdiri di samping Dindar yang tengah berbincang-bincang dengan temannya berjinjit untuk berbisik di telinga Dindar. "Mas, aku mau ke toilet dulu," izin Ayana. Dindar tak segera menjawab, tampak berpikir. Namun selanjutnya ia menganggukkan kepalanya. Ayana yang sudah kebelet pun segera berlari, namun ia bingung, letak toilet wanita di mana. Karena ia sudah tak tahan, langsung saja masuk tanpa melihat terlebih dahulu tulisan yang tertera kalau toilet itu khusus pria. Setelah selesai dengan hajat kecilnya, Ayana segera keluar. Namun saat ia keluar dari pintu toilet, ia kebingungan sebab banyak para pria yang sedang mengantri. Seorang pria menunjuk sebuah tulisan pada Ayana. Ayana segera menggigit bibirnya tatkala melihat tulisan kalau toilet itu adalah khusus pria. Karena tak tahan menahan malu, Ayana dengan kepala menunduk segera berlari ke arah pintu toilet utama. Namun karena ia tak melihat-lihat, tiba-tiba…. "Brukk!" Ayana tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria yang hendak masuk. Tubuh Ayana yang tak siap sontak mental mundur ke belakang saat terdorong oleh tubuh pria tadi hingga membentur tembok. Alhasil tubuh Ayana dan pria tersebut berdempetan. Kejadian itu hanya berdurasi beberapa detik saja. Sebab tiba-tiba…. "Ayana!" teriak Dindar. Menatap tajam ke arah Ayana. Sontak Ayana segera mendorong tubuh pria tersebut hingga jatuh ke lantai. "Mas Dindar." Bibir Ayana bergetar saat mengucapkannya. Ayana tahu, suaminya yang bertemperamen tersebut sudah salah paham. Dan Ayana juga tahu kalau dirinya akan terkena amarah hebat dari Dindar. ***** "Brukk!" "Akhh…!" Ayana berteriak saat tubuhnya di lempar oleh Dindar hingga membentur meja ruang tamu. Setelah melihat kejadian di toilet tadi, Dindar segera menyeret Ayana untuk pulang. "Dasar jalang!" umpat Dindar sembari mendekati Ayana dan mencengkram rahang wajahnya hingga membuat Ayana meringis kesakitan. "Kau berpura-pura ingin pergi ke toilet, namun kau ke sana hanya ingin bertemu dengan pria selingkuhanmu itu!" Dindar mendorong tubuh Ayana hingga jatuh ke sofa. "Mas. Itu tidak seperti yang Mas Dindar pikirkan!" "Lalu seperti apa, heum? Apa kau—" kata-kata Dindar terhenti saat matanya tak sengaja melihat tanda merah di leher jenjang Ayana. "Dan ini." Mata Dindar memanas seraya tangannya menyentuh leher Ayana. "Jadi, karena aku melarangmu untuk menikmati saat bersamaku, lalu kau mencari pelampiasan lain, Ayana?" Rahang Dindar mengeras. Ayana yang ketakutan hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Kau benar-benar wanita jalang, Ayana!" Dindar menarik tubuh Ayana kasar dan melemparnya. "Tidak, Mas…ahh…," pekik Ayana saat kepalanya terbentur sudut meja dan mengeluarkan darah. "Ayana!" Dindar tercengang saat melihat darah mengalir dari kepala Ayana, sedangkan Ayana sudah tak sadarkan diri. "Ayana…!" Dindar berteriak histeris. Air matanya mengalir. ________

Bab 3 Tali dan Lakban

"Berikan Ayana pengobatan yang terbaik, Dok," ucap Dindar pada Dokter Althan. Dokter yang bekerja pada Dindar. Dokter Althan tersenyum seraya menyimpan stetoskopnya. "Saya sudah melakukan pengobatan yang terbaik untuk Bu Ayana. Dia tidak apa-apa," ujar Dokter Althan sambil mengemasi alat-alatnya. "Tapi kenapa dia belum sadarkan diri juga?" Dindar menatap tajam pada Dokter Althan. Lagi, Dokter Althan tersenyum. "Sebentar lagi dia juga akan sadar, Pak." Dindar tak membalas. Ia mengalihkan pandangannya menatap Ayana yang terbaring di ranjang dengan kepala berbalut perban. "Kalau begitu kau boleh pergi." Dindar berucap tanpa menatap Dokter Althan. "Baik, Pak." "Amplop di meja ruang tengah jangan lupa diambil," ingat Dindar dengan masih tanpa menatap Althan. "Baik, Pak. Terima kasih." Setelah kepergian Althan, Dindar melangkah mendekati ranjang Ayana. Benar apa yang dikatakan oleh Althan, tak berapa lama dari itu, Ayana sadarkan diri. Sontak Dindar tersenyum. "Kau sudah sadar, Ay?" Ayana tak menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa malas untuk menatap wajah Dindar. Tak seperti sebelumnya. Ayana suka menatap wajah pria yang dicintainya tersebut. Hingga ia mengabaikan restu papanya. Ayana jatuh cinta pada Dindar sebab kelembutan Dindar dan sikapnya yang penuh perhatian. Dulu sebelum menikah, Dindar tak seperti setelah menikah. Tepatnya setelah kejadian di malam pertama mereka. Dimana saat itu Ayana yang merasa hanyut dalam permainan Dindar tentu saja mengeluarkan suara khas perempuan saat di cumbu suaminya. Namun Ayana terkejut dengan sikap perubahan Dindar yang dari lembut tiba-tiba kasar. Walaupun sikapnya setelah menikah tak selamanya selalu sama. Kadang lembut dan kadang kasar. Membuat Ayana bingung. Dengan sikap Dindar. "Aku sudah membelikan bubur. Kau makanlah." Suara Dindar terdengar lembut. Namun entah kenapa kali ini Ayana tak terpengaruh lagi. Dindar segera beranjak untuk mengambil bubur yang dimaksud. "Aku tidak lapar." Sontak perkataan Ayana membuat langkah Dindar terhenti. Dan memberikan tatapan tajamnya pada Ayana. "Kau harus sembuh, Ay. Jadi lapar tidak lapar kau harus makan." Gigi Dindar bergemeletuk menahan geram. "Kau tidak boleh memaksa," balas Ayana masih tanpa menatap Dindar. "Aku suka memaksamu. Makanlah. Lalu setelah itu minum obatnya." Setelah berucap, Dindar keluar kamar sambil membanting pintu. ***** Ayana yang sudah mandi atas perintah Dindar, ia segera merapikan diri. Saat melangkah ke arah meja rias untuk ber make up, tiba-tiba…. "Prang!" Ayana terkejut saat Dindar membuang semua alat make up Ayana ke lantai hingga hancur dan pecah. Hanya menyisakan skincare saja. "Mas!" pekik Ayana, "apa yang kau lakukan?" "Membuang make up mu!" "Tapi kenapa?" "Mulai saat ini kau tak boleh ber make up. Kau hanya boleh perawatan saja. Pakai skincare." "Kenapa, Mas? Bukan nya aku sudah terbiasa dari dulu. Bahkan kau menyukainya." Ayana menatap heran. "Iya. Tapi sekarang tidak. Sebab kecantikanmu itu membawa petaka. Kau selingkuh dariku." Gigi Dindar bergemeletuk sedangkan tangannya mencengkeram lengan Ayana kuat. "Mas. Dengar, aku tidak selingkuh. Semalam itu salah paham. Aku dan pria itu—" "Cukup, Ay!" bentak Dindar, "aku tak mau mendengar apapun. Tentang dirimu dan pria brengsek itu." Setelah berucap, Dindar segera meraih ponselnya menelpon seseorang. "Halo. Segera pat4hkan kaki pria yang semalam bersama istriku." Mata Ayana melebar saat mendengar titah Dindar pada anak buahnya tersebut. "Mas. Apa yang kau lakukan?" tanya Ayana setelah Dindar selesai dengan teleponnya. "Seperti apa yang kamu dengar tadi." Dindar menjawab enteng. "Mas. Jangan pernah lakukan itu. Pria itu—" "Kenapa? Kau takut kekasihmu itu tak punya kaki?" Dindar tersenyum tampak mengejek. "Dia bukan kekasihku," sanggah Ayana. "Kalau begitu kamu jangan panik gitu. Toh dia bukan kekasihmu." "Tapi dia tidak salah apa-apa, Mas. Kau tak boleh menyakitinya." Dindar segera menarik tengkuk Ayana dan mendekatkan wajah Ayana pada wajahnya. "Jangan pernah memikirkan pria lain selain diriku, Ay. Jika sampai itu terjadi…maka kau akan menanggung akibatnya." Dindar mendorong Ayana hingga ia mundur beberapa langkah. Setelahnya, Dindar membalikkan badan hendak keluar kamar. Namun sebelum itu, ia menatap Ayana. "Oh ya. Segera lepas perban di kepalamu itu, Ay. Aku tidak suka melihatnya. Mengganggu pemandangan saja." "Lukanya belum sembuh, Mas." "Kala begitu lekas minum obatmu. Nanti malam aku sudah tak ingin melihat perban di kepalamu itu. Membuatmu jelek saja." Dindar kembali melanjutkan langkahnya. Lagi, air mata Ayana jatuh membasahi pipinya. Ia menyesali, kenapa bisa jatuh cinta pada pria seperti Dindar. ***** "Dindar kemana, Ay?" Dina, Kakak Dindar bertanya pada Ayana. Dina tak hanya datang seorang diri, melainkan bersama Mama Dindar juga. "Dia ada rapat mendadak katanya, Mbak," jawab Ayana sambil menyuguhkan minuman pada kakak ipar dan mertuanya tersebut. "Itu kepalamu kenapa, Ay?" tanya Mama Dindar. "Jatuh, Ma!" Sengaja Ayana tak jujur. Sebab tentu Dindar akan marah bila ia menceritakan tentang perilaku Dindar pada Ayana. "Tapi kayak bukan jatuh," tanggap Mama Dindar lagi. Ayana hanya tersenyum hambar. Selanjutnya ia berdiri hendak pergi ke dapur. "Kamu kok belum hamil juga, sih, Ay?" Pertanyaan Dina sontak membuat langkah Ayana terhenti. "Kamu KB, Ay?" Kali ini Mama Dindar yang bertanya. Saat Ayana ingin mengatakan tidak, tiba-tiba Dina menyela. "Sepertinya iya, Ma." Dina berdiri menghampiri Ayana. "Terlihat sekali dari penampilan Ayana yang semakin hari semakin memukau. Badannya semakin ok saja." Dina melipat tangannya di dada sambil menelisik Ayana. "Aku tahu, Ay. Wanita secantik kamu sudah pasti akan menolak untuk punya anak. Sebab takut akan badannya rusak." "Bukan seperti itu, Mbak!" Ayana menyangkal. "Tidak usah mengelak, Ay. Tadi Mbak liat di meja rias kamu hanya ada perawatan. Bahkan sangat banyak dan berbagai macam merk." "Kau boleh menjaga tubuh untuk kecantikanmu, Ay. Tapi bukan berarti mengabaikan kehamilan. Kami butuh keturunan dari Dindar. Putra satu-satunya di keluarga kami." Kali ini mama Dindar yang berucap. "Di Keluarga kami kecantikan wanita tak diprioritaskan. Namun keturunan, oleh karena itu jangan sampai keturunan kau tukar dengan kecantikanmu." Ayana hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan sengit dari ipar dan mertuanya. Ayana tak tahu harus membalas kata-kata mereka dengan apa. **** "Minum, Ay!" Dindar meletakkan obat pada Ayana yang saat ini tengah sibuk membuka perban di kepalanya. Ayana mendesah. Saat lagi dan lagi Dindar memberikan pil KB pada Ayana di setiap mereka ingin melakukannya. "Mas. Sampai kapan Mas Dindar akan memberiku pil ini?" Ayana mengangkat wajahnya menatap Dindar dengan sayu. "Aku tidak mau kau hamil yang nantinya akan merusak badan cantikmu itu." "Tapi keluargamu menginginkan aku hamil, Mas!" Dindar yang awalnya hendak membuka laci terhenti menatap Ayana. "Jangan pedulikan mereka. Ini rumah tangga kita bukan mereka. Aku yang menentukan mau diapakan keluarga, atau rumah tangga kita." "Tapi rumah tangga kita ini tidak normal, Mas?" "Apa katamu?" Dindar memberikan tatapan tajamnya pada Ayana. "Mas gak merasa aneh, ya?" "Gak. Aku senang malah hidup seperti ini denganmu. Asal kau tak membuat kesalahan." "Tapi aku salah di mata keluargamu, Mas." "Biarkan saja. Mereka tidak akan berani menyentuhmu. Kau salah dimata mereka atau lainnya tidak apa-apa, asal jangan salah dimataku." "Tapi, Mas—" kata-kata Ayana terhenti saat melihat tangan Dindar mengeluarkan tali dan lakban dari dalam laci. "Untuk apa itu, Mas?" Tiba-tiba saja perasaan Ayana tak nyaman. "Untuk mengingat tanganmu dan menutup mulutmu!" "Apa?" Mata Ayana melebar. Terkejut. "Aku tidak suka mendengar suaramu yang menjijikan itu, Ay. Suara yang seolah kau sangat menikmatinya." "Kau yang memberikannya, Mas. Lalu kau juga yang mencegahnya. Aku bisa tanpa harus kau ikat dan mulutku kau tutup." Dindar terus melangkah mendekati Ayana berdiri ketakutan. "Mas—" "Diam! Aku tidak suka dibantah olehmu, Ay!" Dindar segera menarik tangan Ayana. Mengabaikan permohonan Ayana. __________

Lanjut baca