Skandal Pengawal Dan Nona Muda
Bab 1 Menghilang Sebentar

Pria dengan seragam anti peluru itu menyipit, fokus pada tujuan di depan sana. Bukan hanya membaca semilir angin, namun target yang berdenting di arah ratusan meter juga ikut jadi pertimbangannya. Ritme gerakan, suara, detik-detik sebelum ... Duar! Tembakan dilepaskan. "Yash!" pekik Arthur, puas. Mengepalkan tangan dengan perasaan lega sebab berhasil melumpuhkan target. Seseorang menepuk pundaknya dan tersenyum lebar, entah sejak kapan berada di sana. "Kemampuan menembak jarak jauh kau makin bagus, Arthur. Pertahankan!" tukas sosok itu, berkomentar bangga. Menyaksikan secara langsung anak asuh yang telah tumbuh menjadi pentolan di pasukan ini membuatnya tak bisa berhenti kagum. Yang dipuji melengkungkan senyuman tipis. "Kau terus berlatih walau libur?" "Saya masih harus terbiasa melakukannya diantara gelap, Komandan. Ini bukan apa-apa," balas pria itu, merasa sungkan menerima penghargaan dengan satu bakat saja. Komandan mengangguk. "Sebagai seorang prajurit, cepat puas adalah kebiasaan yang harus dihindari. Bagus kau mengerti itu." Jika mampu menembak target jarak jauh, maka tidak hanya punya keahlian itu, anggota pasukan khusus seperti Arthur dididik punya kemampuan mumpuni lainnya. Menembak dalam gelap, misalnya. Baru dikatakan luar biasa. "Bagaimana tugasmu di gedung biru? Kau ada dapat kesulitan selama di sana?" tanya Komandan, berceletuk tiba-tiba. Arthur yang dapat pertanyaan spontan merubah raut wajahnya, senjata yang ia gunakan menembak disimpan kembali. "Ya begitulah, Dan." "Kau tak suka di sana?" selidik sang senior. "Siap, suka Komandan!" Arthur menjawab tegas, sedetik kemudian lesu kembali. "Lalu?" Pria yang bergelar komandan itu penasaran, meletakkan kedua tangannya di pinggang seraya memerhatikan lamat-lamat prajurit andalnya satu ini. Kenapa Arthur punya keraguan saat ditanya suka atau tidak bertugas di sana? "Kau ditugaskan jaga VIP, 'kan? Ada masalah? Ada tindakan yang kau curigai?" Sang Komandan memberi kesempatan juniornya ini mengajukan keluhan, Komandan itu berharap Arthur jujur padanya. Sayangnya, dia enggan memperpanjang topik, Arthur justru menggeleng, usai menghela napas pria itu bertekad, menjawab tanpa ragu. "Tidak ada, Dan! Semuanya aman, terkendali." Arthur Rivaldo Gibson. Seorang prajurit yang kali ini ditugaskan menjaga orang-orang penting berdarah biru sebagai pimpinan pasukan khusus untuk senantiasa mengawal aktivitas para VIP itu membantin. Bukan soal musuh, hal lain membuatnya berat dalam menjalankan tugas. "Arthur!" Komandan berteriak sebelum pria itu kembali ke tempatnya bertugas. Dengan raut wajah tegas, memerintah, "Ingat! Kau tak boleh melibatkan hatimu dalam misi kali ini. Kau paham?!" Soal hati. Arthur tak bisa berkata banyak. Hanya berusaha membentengi dirinya, tetap jadi si kaku dan dingin pada siapa saja. Tugasnya kali ini, akan sangat berbeda dengan tugas militer mana pun. *** Melihat Lintang berpakaian bak seorang putri usai menghadiri acara pertemuan kenegaraan saja membuat Arthur mempertanyakan debaran di jantungnya. Apa ini normal? Apa ini hal yang wajar? "Apa akan ada iring-iringan?" bisik Lintang, mengajukan pertanyaan pada pengawal pribadi yang memiliki tubuh tegap nan tinggi itu. Arthur membalas sesingkat mungkin. "Presiden memberi pasukan tambahan agar Nona sampai dengan selamat, sebagai ucapan terima kasih." Lintang cemberut, menekuk wajahnya sebal. Ia tak suka keramaian yang diciptakan hanya untuk mengantarnya sampai ke rumah. Seperti orang penting saja. "Untuk apa? Kan sudah ada kamu di sini," selorohnya, menolak perlakuan istimewa yang tidak didapat sembarang orang. "Huftt, perjalanan ini akan terasa melelahkan." "Perlu menepi dari pengawalan, Nona?" Arthur mengajukan ide, wajahnya sangat datar saat mengatakan itu. Merasa ada seseorang di pihaknya, Lintang tersenyum bahagia. Arthur memang yang terbaik dari yang paling baik! "Kamu yakin bisa pergi dari iring-iringan itu?" Lintang yang duduk dengan menggemaskan di dalam mobil mengamati pengawal tampannya ini, terpesona. Hanya berselang sedetik, Lintang mendengar kabar baik. "Beristirahatlah. Kita pergi satu menit lagi," ucap Arthur, menjawab keraguan Lintang tanpa keberatan. Arthur tahu tindakannya akan menimbulkan kericuhan besar untuk beberapa saat hilangnya Nona muda dari radar jelas menimbulkan kepanikan bagi semua orang yang bertugas mengawalnya tetapi, ia tetap tidak akan menyesal melakukannya. Demi Lintang. Wanita yang selalu merasa tak nyaman bila jadi pusat perhatian. Yang tidak pernah punya waktu istirahat sebab dituntut mengerjakan banyak hal, sebagai orang penting. "Kapten," bisik Lintang, kedua matanya tertutup sempurna, suara lirihnya menegaskan ia begitu letih. "Aku ingin tidur sebentar saja." "Kenapa di dekatmu aku selalu ingin tidur?" Wanita dengan gaun putih itu terus berceloteh, menandakan ia hampir terlelap. Meringkuk, tubuh mungilnya bisa nyaman di mana pun asal dekat dengan pria ini. "Apa karena aku nyaman di dekatmu?" Katanya, lagi. Menimpali kalimat sebelumnya dengan meracau. "Atau karena aku mencintaimu?" Arthur terbatuk saat kalimat wanita ini menyentuh indranya. Kata-kata asing yang seharusnya tidak dilontarkan dengan mudah. Apa Lintang tidak sadar dengan yang baru saja ia katakan? Mengapa begitu mudah baginya mengutarakan perasaan di hadapan Arthur, orang yang tidak sepatutnya menerima pernyataan cinta itu. Selain pandai dalam bertarung dan menggunakan senjata, Arthur juga pandai mengemudi. Ini yang membuatnya jadi kepercayaan Komandan untuk mengemban tugas mengawal keturunan Adiwilaga, Lintang Candraningtyas Adiwilaga. Lintang bergumam, sulit baginya membedakan yang nyata dan mimpi. "Sudah berapa lama aku tidur?" tanya wanita itu, penasaran. Arthur melirik sekilas, menebak bahwa Lintang pasti akan terkejut saat ia mengatakan hampir dua jam lebih sang Nona tertidur di dalam mobil. Candra Adiwilaga adalah mantan Komisaris angkatan bersenjata yang begitu dihormati, putrinya menjadi VIP dimana penjagaan yang melibatkan Lintang senantiasa diprioritaskan. "Dua jam, Nona." "Kau bercanda?!" Selama dua jam itu Arthur bisa menebak semua orang pasti kelimpungan mencari VIP yang hilang dari radar. "Aku mau mampir makan es krim," cicit wanita yang menatap takut pada Arthur. Dari matanya berharap keinginan itu dikabulkan. "Boleh berhenti dulu? Lagi pula, kita sudah terlanjur pulang telat, 'kan?" imbuh Lintang, masih merayu. Karena lokasi mereka yang tidak jauh dari taman, Lintang mengajukan permintaan untuk berhenti sebentar makan es krim. Arthur hendak menolak, ia tidak bisa menerima pelanggaran lagi. Tetapi melihat wajah sedih Nonanya ini, pria itu jadi tidak tega. Di taman, seperti tujuan utama, tidak ada yang keduanya lakukan kecuali makan es krim. Sibuk dalam pikiran masing-masing. Lintang berceletuk diantara kegiatan makan es krimnya. "Terima kasih, Kapten. Sudah mau membantuku melarikan diri, memberiku waktu tidur. Juga untuk es krimnya." Bersama dengan Arthur memang tidak pernah mengecewakannya. "Tidak perlu berterima kasih. Saya hanya menjalankan tugas," jawab Arthur dingin, citra prajurit kaku melekat begitu kental padanya. Sosok yang duduk di sebelah Arthur cemberut, gemas. "Tetap saja, aku akan berterima kasih." "Oh, ya, Kapten." Lintang mendadak punya pertanyaan serius. "Boleh aku tahu wanita seperti apa yang jadi idamanmu?" === Mampir juga dong di ceritaku yang judulnya Nenek Mertua Yang Culas, Mars & Venus Fall In Love ... ^^ makasih ya ...

Bab 2 VIP Kabur

"Boleh aku tahu wanita seperti apa yang jadi idamanmu, Kapten?" Arthur hampir tersedak es krimnya sendiri saat mendengar pertanyaan itu diberikan padanya, secara tiba-tiba sekali. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Begitu saja, dilontarkan oleh sosok yang diam-diam menempati hatinya. Lama pria itu menatap wanita idamannya, tanpa mengatakan apapun. Bibirnya kelu, ingin mengutarakan yang sebenarnya tapi tahu batasan. Bahwa kejujurannya, mungkin akan menimbulkan masalah, nanti. "Nona," jawab Arthur, setelah diam cukup lama. Lintang membulatkan matanya. "A-aku?" "Ada noda es krim. Mau saya bersihkan atau dibersihkan sendiri?" sambung Arthur, benar-benar menyebalkan dengan tingkah polosnya. Menatap lekat ujung bibir Lintang, ranum, cantik sekali. Untuk beberapa saat, Lintang mengira bahwa balasan itu memang diperuntukkan sebagai jawaban dari pertanyaannya. Tipe wanita idaman Arthur. Rupanya bukan. "Aku bisa bersihkan sendiri!" ucapnya, terdengar kesal, menghentak. "Kenapa tiba-tiba membahas es krim saat aku bertanya serius, sih? Tidak bisakah pokus pada pertanyaanku saja?" Arthur yang merasa biasa saja dan tidak mengerti sama sekali dengan kode itu hanya mengangguk. "Aku mau pulang!" tukas Lintang, mengakhiri sesi kabur hari ini. Tepat usai membersihkan es-krim dan menghabiskannya sekaligus. "Sekarang juga, Nona?" "Menurutmu?!" Wanita bergaun putih itu bangkit, tanpa ba-bi-bu segera melangkahkan kaki menjauh dari pria yang ingin sekali diterkamnya kali ini. Mood wanita itu hancur seketika saat Arthur membuatnya melayang ke awan kemudian dijatuhkan begitu saja. Jahat sekali. Di satu sisi, Arthur yang ditinggalkan begitu saja hanya bisa menatap kosong ke arah perginya wanita cantik itu. Arthur tahu apa yang ingin Lintang dengar dari bibirnya, pria itu paham sekali. Hanya saja menurutnya ini salah. Lintang bukan seseorang yang bisa ia katakan sebagai idamannya. Dirinya terlalu sempurna bagi Arthur. *** Sesampainya di rumah, sang Nona yang mendadak ngambek membuat Arthur harus menghadap pada Candra seorang diri, ayah Lintang. Ia harus menjelaskan apa yang terjadi, mempertanggung jawabkan kesalahannya telah menculik VIP selama dua jam, tanpa pemberitahuan apa pun. "Kau membawa Lintang kemana?" tanya Candra, suara baritonnya tegas. Penekanan konsonan kata dalam kalimatnya masih terdengar bagai prajurit. Arthur menjawab pertanyaan Candra dengan memberinya penjelasan sedetail mungkin, namun tak bertele-tele. Candra ingin acuh karena ia sangat percaya pada Arthur, tetapi sayangnya Yasmin terlihat tak menyukai itu. Berulang kali istrinya mengatakan agar tegas pada pengawal putrinya ini. Harus bisa membedakan yang mana tugas, yang mana batasan besar diantara keduanya. Pria bertubuh tegap itu mendekat pada Arthur, berbisik serius. "Kenapa kau melakukannya? Membawa Lintang diam-diam. Kau tahu ini salah, 'kan?" "Kau tahu benar tidak boleh sampai menimbulkan keraguan di keluargaku, Arthur. Meskipun aku sangat percaya padamu, jangan sampai hal seperti ini terus terulang." Candra memperingati. "Ini terakhi kalinya." Menepuk pundak Arthur, Papa Lintang itu pergi dengan helaan napas panjang. "Tugasmu hanya mengawasi dan melindungi Lintang, Kapten," timpal Yasmin, masih berada di sana. "Bukan menculiknya apalagi membawanya pergi tanpa sepengetahuan siapapun!" sungut Ibunda Lintang itu, jengah. Wanita ini terlihat masih tidak puas meski suaminya sudah menegur kesalahan Arthur. Ia ingin secara langsung berkomentar juga. Dengan dua tangan di dada, menatap lurus pada prajurit handal ini. "Bagaimana jika terjadi sesuatu saat kalian bersama? Siapa yang bisa pastikan Lintang akan baik-baik saja selama pergi denganmu?" seloroh Yasmin, masih terus menyerang Arthur. "Orang-orang memang tahu kau hebat, kemampuanmu tidak diragukan. Tetapi bukan itu maksudku, melainkan hal yang lainnya. Kau paham, 'kan, Kapten?" "Tolong jangan dekati Lintang," lanjut Yasmin, mengakhiri. Sementara tidak ada kalimat bantahan atau protes dari Arthur yang sejak tadi terus mendapatkan kritik dari kedua orang tua VIP yang ia jaga. "Hal seperti ini saya pastikan tidak akan terulang. Maaf atas keteledoran saya hari ini. Nona Lintang ke depannya, saya akan lebih berhati-hati," kelakarnya, melontarkan janji. Tidak ada pilihan lain bagi Arthur selain mengaku dan meminta maaf, agar urusan tidak jadi panjang dan Lintang juga aman. Posisinya sebagai pengawal pribadi Lintang membuatnya lebih paham mengenai apa yang jadi keinginan nonanya tersebut. Sayangnya, meski pun tahu, Arthur tidak bisa memberi banyak. *** "Kau dimarahi lagi?" tanya seorang teman, saat keduanya sedang berjaga tepat di depan kamar Lintang. "Aku dengar ada keributan saat kalian datang." Arthur hanya memejamkan matanya, mendongak ke langit-langit. "Tetapi saya tidak menyesal, Bram. Nona Lintang, dia pantas dapat waktu istirahat setelah melakukan rangkaian kegiatan padat di hari-harinya yang melelahkan." "Tapi tidak harus bersama kau, Arthur." Pria yang dipanggil Bram menyahut kembali. "Tidak ada di daftar tugas, mengharuskan dirimu memberinya waktu istirahat itu." "Tugasmu hanyalah—" "Mengawasi dan melindunginya," Arthur menimpali cepat, belum Bram selesai bicara. Perlu berapa kali orang-orang mengingatkan soal tugasnya? Ia tahu, ia paham sekali. "Memang apa salahnya, Bram?" Bram menyipitkan matanya. "Kau belum dengar rumornya? Bahwa Nona Lintang menyukaimu?" selidik pria itu, menatap lekat, membaca perubahan raut wajah sang rekan. Arthur mengerjap, terlalu mendadak baginya mendengar ini dari Bram. "Apa maksudmu?" tanyanya balik, tidak begitu saja mengiyakan. "Nona Lintang terlihat dekat dengan pengawal pribadinya. Nona Lintang dikabarkan selalu bertindak perhatian pada Kapten tim yang menjaganya." "Kabar seperti itu kau belum dengar?" Sekali lagi, Bram memastikan. "Jujur padaku, Kapten. Kau belum dengar rumor yang tersebar?" Sepertinya pria itu mencurigai sesuatu. Arthur nampak waspada. Selama ini, hanya dirinya sendiri, tidak ada yang tahu bahwa ia menyukai Lintang. Dan akan selalu seperti itu. Arthur tidak ingin sampai ada yang menyadari mengenai perasaannya. Pertama, karena takut cintanya bertepuk sebelah tangan. Kedua, karena status sosial mereka yang jelas saja berbeda. Sekali lagi, Lintang bukan orang yang ditakdirkan bersama dengannya, sampai kapan pun. "Saya tidak tahu menahu soal rumor! Saya juga tidak tertarik, Bram," kata Arthur, memberi komentar pada pernyataan yang baru saja Bram sampaikan. Bram awalnya tidak ingin langsung percaya, ia menatap lama dulu pada rekan yang berpangkat lebih tinggi darinya ini. "Kalau begitu, kau harus tahu." "Dengar, Kapten. Bagi seorang prajurit seperti kita, tugas adalah bagian dari jiwa. Keberadaan kita di sini hanya untuk melindungi VIP, mengorbankan diri, jika diperlukan." "Bukan untuk menaruh rasa padanya, menyukainya, terlihat dekat atau membantunya dengan melibatkan perasaan. Kau mengerti maksudku, 'kan?" Panjang lebar Bram menjelaskan. Bukan mencoba untuk menggurui, sama sekali tidak. Ini ia lakukan sebab tidak ingin Arthur mengalami kesulitan selama menjalani bagian dari misi dan tugasnya. Sebagai pengawal pribadi keluarga Adiwilaga. Sebatas itu, tidak lebih. *** "Kode satu, Tim Alfa, masuk. Kapten Arthur," earpiece yang terpasang ditelinga membuat Arthur dengan ligat menjawab panggilan. "VIP Kabur?!"

Bab 3 Lintang Ditemukan

Kedua mata pria itu membulat sempurna saat mendengar kabar bahwa Lintang meninggalkan ruangan tanpa sepengatahuan siapapun. "VIP kabur?!" pekiknya. Apa lagi ini? Kenapa mendadak wanita itu terus mengusik ketenangan milik Arthur? Tidak bisakah sekali saja membiarkan dirinya tenang sebentar? "Lokasi terakhir, bukankah Nona Lintang masuk ke dalam?" Arthur berujar serak. "Bahkan CCTV memperlihatkan VIP masuk ke kamarnya!" "Benar, ta-tapi saat aku memberi makanan ini dan masuk, Nona sudah tidak ada," terang salah seorang pelayan, gemetar takut. "A-aku tidak tahu Nona pergi ke mana!" "Kamar jendela terbuka, Kapt," ucap bawahan Arthur, mengatakan cara Lintang kabur. "Ada tali yang dibiarkan terurai sampai bawah," tambahnya, melampirkan bukti itu ke hadapan Arthur. "Yang digunakannya kabur pergi dari sini," cicit Arthur. "Kemana sebenarnya Nona Lintang pergi?" bisik pria itu, mengusap dagunya tegang. Tanpa ba-bi-bu, Kapten tim itu langsung segera pergi. mengikuti instingnya, menebak di mana keberadaan sang VIP dengan memusatkan pokus, mengibaratkan jadi Lintang seseorang yang baru saja dikabarkan menghilang. "Bukan kemana Lintang pergi, tapi alasannya pergi. Pikirkan sesuatu, Arthur!" Tekannya pada diri sendiri, cemas, pria itu tak bisa menyia-nyiakan waktu jika tidak ingin hal yang buruk sampai terjadi. Semakin lama Lintang menghilang, akan semakin berbahaya untuknya, nyawa wanita itu mungkin terancam. Apalagi jika hilangnya VIP itu dikarenakan niat jahat seseorang. "Tidak ada yang melihatnya pergi melewati gerbang utama, Kapten. VIP pergi lewat pintu belakang." Bram menjelaskan, wajahnya menegang. "Pintu belakang?" ulang Arthur, menimpali pernyataan rekan setimnya. "Apa yang Nona cari di hutan belantara?" Kediaman Adiwilaga memang unik. Rumah besar bagai istana itu diapit perbukitan, dimana wilayah belakangnya adalah hutan yang tembus langsung lautan lepas. Arthur terdiam untuk beberapa saat, berpikir apa yang kali ini mungkin dipikirkan Lintang. "Apa kita harus mencarinya ke dalam hutan, Kapt?" Bram memastikan sekali lagi, tak salah dengar ucapan yang baru Arthur lontarkan. "Perlu anggota tim tambahan?" "Saya akan masuk untuk cari Nona Lintang. Tim Alfa akan berpencar sesuai instruksi." Ini bukan pertama kalinya Lintang berulah. Akan tetapi, baru kali ini wanita itu pergi tanpa Arthur di sisinya. Membuat pria itu khawatir. Sesuatu pasti terjadi. "Kita harus segera menemukannya sebelum malam. Mengerti?!" Aba-aba Arthur sebelum benar-benar masuk, melakukan pencarian. Tidak pergi dengan tangan kosong, pria itu memilah senjata yang bisa ia gunakan lebih dulu. Bahayanya bukan saja manusia, hewan buas juga bisa ditemui selama mencari Lintang di dalam sana. "Nona!" "Nona Lingtang, anda dengar saya?!" Langkah kaki Arthur terus menyisiri hutan, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Barangkali bisa menemukan jejak atau petunjuk kecil yang berguna. Earpiece miliknya kembali mengeluarkan suara, tanda bahwa anggota tim pencari mencoba menghubunginya. "Apa sudah ada tanda-tanda Nona Lintang kalian temukan?" "Belum, Kapt. Daerah utara, bersih." Arthur memejamkan matanya, memijat pelipis. Tekanannya semakin besar, apalagi matahari mulai tenggelam. Cuaca akan berubah jadi gelap beberapa saat lagi. Apa Lintang akan baik-baik saja? Bagaimana jika wanita itu gagal ia temukan? "Nona!" "Hiks, hiks!" Gerakan kaki Arthur terhenti, rerumputan kering yang ia injak menimbulkan suara gemerisik. "Saya salah dengar atau memang seperti ada yang menangis, ya?" Di dekati, perlahan tapi pasti Arthur melihat sebuah bayang wanita bergaun di balik pohon rindang. Dekat tebing besar yang mengarah ke lautan. "Nona Lintang?" panggil Arthur, kala tahu siapa yang ia temui diantara gurat senja. Duduk di tebing dengan menyembunyikan tubuh mungilnya, meringkuk gemas. Mengais jejak tanah dengan tangisan kecil. "Kapten! Kenapa lama sekali!" pekik wanita itu, terdengar lega. "Aku menunggumu sejak tadi." "Astaga. Syukurlah! Syukurlah saya bisa melihat anda di sini." Arthur juga mengutarakan kegelisahan hatinya, ikut merapalkan sebuah kalimat syukur. "Bagaimana kamu bisa tahu aku ada di sini?" Lintang bertanya, matanya masih menatap lurus hamparan rumput yang terlihat menyegarkan, sisi lain dari arah barat tebing. Pemandangan cantik itu jadi penyelamatnya sebab tidak harus bersinggungan langsung dengan mata tajam Arthur. Sang kapten mendekat, memposisikan diri di sebelah Lintang. "Yang terpenting, saya di sini sekarang," balasnya, datar. "Anda harus kembali, Nona. Semua orang-" "Bisakah bicara biasa saja denganku, Ar?" sela wanita itu, memotong cepat kalimat Arthur. "Aku sangat tidak nyaman dengan caramu bicara. Begitu formal," kata Lintang, tidak ragu sama sekali. Ia terlihat jengah, sikap terlalu kaku dan formal yang ditunjukkan oleh Arthur begitu menegaskan jarak diantara mereka. Lintang hanya ingin diperlakukan layaknya seorang teman, jika memang pria itu menolak memiliki hubungan yang lebih. Sementara Arthur tidak bisa memberikan apa yang wanita itu pinta. "Bagaimana Nona bisa sampai di sini?" "Panggil aku dengan namaku, Arthur. Apa kamu tidak dengar apa kataku tadi? Kita sedang tidak berada di rumah." "Lantas apa yang membuatmu bisa masuk ke hutan seperti ini?" Kali ini, Arthur mengoreksi kalimatnya dengan baik. "Bagaimana jika terjadi sesuatu. Ini bukan tempat yang bisa didatangi sembarang orang, seorang diri," lanjutnya, khawatir. Jangan tanya bagaimana cara Arthur menatap Lintang, begitu sendu. Matanya sampai berlinang saat membayangkan tidak bisa melihat wanita itu lagi. Persis seperti seseorang yang bahkan rela memberikan segalanya, bahkan berkorban nyawa, demi kebaikan dari wanita yang ia cintai. "Aku yakin kamu bisa menemukanku jika aku menghilang. Lalu apa yang aku khawatirkan?" Lintang bergantung pada Arthur, mengandalkan pria itu dalam segala hal. Entah itu hatinya, hidupnya. Sementara pria yang masih memandang teduh wanita berkulit putih itu tidak mampu berkata-kata. "Tetapi tetap saja-" "Kamu berjanji akan menemukanku, dimana pun. Bahkan di ujung dunia sekali pun, Ar,"  potong Lintang, tiba-tiba. "Aku berpegang pada ucapanmu. Jadi kali ini mencoba membuktikannya," terangnya, penjelasan tak masuk akal itu hanya dibalas helaan napas panjang dari pria di hadapannya. Senyuman melengkung di wajah indah itu membuat Arthur terpaku beberapa saat.  Lintang memiliki wajah yang mungil, namun begitu nyaman dilihat. Bibir ranumnya bergerak, melantunkan melodi dengan intonasi yang lembut. "Terima kasih sudah menemukanku di sini," ucap VIP yang terus menyulitkan Arthur ini, tulus. "Aku mungkin akan bermalam sendirian jika tidak ditemukan." "Apa terjadi sesuatu, Nona?" "Wajahku terlihat sekali sedang bermasalah, ya?" tanya balik Lintang, terkekeh pelan. Memainkan jemarinya saat gugup, menghembuskan napas. Arthur tidak membalas, hanya diam mendengarkan. Ia tahu butuh waktu bagi Lintang mengutarakan apa yang sebenarnya tengah membebani hatinya. "Arthur?" "Ya?" "Kalau aku bilang aku menyukaimu, apa yang akan terjadi diantara kita?" Bersamaan suara hewan nokturnal yang sedang berpesta, pernyataan cinta itu dilontarkan dengan nada tenang oleh Lintang. Wajahnya serius, "Apa aku bisa tetap memiliki perasaan ini padamu?"

Lanjut baca