Sang mentari nampak sudah menyembunyikan diri di kaki langit sebelah barat. Sinarnya yang keemasan, membuat setiap orang akan meresapi kedamaian dalam hidup. Namun, tidak dengan Milea. Dengan langkah gontai, gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah kecilnya, kemudian berlalu meraih pintu kamarnya. "Milea, Ayah mempunyai satu permintaan." Seorang pria berusia sekitar 50 tahun, berkata dengan lantang kepada seorang gadis muda di hadapannya. Milea yang masih membawa tas di bahunya itu segera menoleh ke arah sang ayah. Gadis cantik berkulit putih itu bahkan belum berganti pakaian karena baru saja pulang dari bekerja. "Aku capek, Yah. Besok aja," sahut Milea sembari memutar knop pintu kamarnya. Ia berniat untuk membersihkan diri dan segera beristirahat. "Milea, besok kamu harus menikah." Duarrr. Mata Milea terbelalak lebar. Perkataan sang ayah membuat tubuhnya gemetar ketakutan. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh ayahnya itu. Sadarkah ia dengan perkataanya barusan? Milea segera membalikkan badan dan menatap tajam ke arah ayahnya. "Apa maksud Ayah? Aku harus menikah dengan siapa? Enggak, aku belum siap untuk menikah, Yah." Bertubi-tubi pertanyaan dilontarkannya kepada sang ayah yang suka semena-mena terhadapnya. "Ayah kalah main judi, dan Ayah sudah nggak punya uang lagi untuk membayar hutang-hutang ke Tuan Alexander. Jadi, ayah terpaksa menerima tawarannya ini." Ayahnya Milea yang bernama Hendra itu berkata dengan entengnya. Kali ini Milea terkejut bukan main mendengar pengakuan dari ayahnya. "Apa, Yah? Jadi Ayah menjualku? Ayah ingin menikahkanku dengan Tuan Alexander?" tanya Milea histeris. "Tidak. Ayah tidak menjual kamu, Nak. Ayah hanya ingin membuat kehidupanmu menjadi lebih baik. Jika kamu menjadi istrinya, maka hidupmu akan terjamin. Selain itu, hutang-hutang Ayah juga akan lunas. Jadi, ini adalah kesempatan yang bagus, Milea." Hendra berusaha untuk mempengaruhi pikiran putrinya. "Enggak, Yah. Tuan Alexander tu sudah punya dua istri. Aku nggak sudi jadi istri ketiga dari pria tua itu. Lagipula dia itu lebih pantas menjadi ayahku daripada menjadi suamiku." Milea bersikeras untuk menolak permintaan gila dari ayahnya. Plakk. Sebuah pukulan melayang di wajah gadis cantik berambut panjang itu, hingga membuatnya jatuh tersungkur. Milea memegangi sudut bibirnya yang tampak mengalirkan darah segar. Ia meringis karena merasakan sakitnya pukulan dari sang ayah, sosok yang selama ini membesarkannya seorang diri. Ya, selama ini Milea hanya hidup berdua saja dengan ayahnya. Ibunya pergi meninggalkan mereka berdua sejak Milea masih berusia dua tahun. Mungkin ibunya memang sudah tak tahan dengan tabiat buruk Hendra yang suka berjudi dan mabuk-mabukan. "Ayah tidak mau tahu. Pokoknya besok kamu harus menikah dengan Tuan Alexander. Titik." Milea lalu berusaha untuk berdiri. Sembari memegangi wajahnya yang lebam, ia menatap tajam kepada sang ayah yang berdiri berkacak pinggang. "Aku nggak mau menikah, Yah. Aku nggak ingin terlibat dengan perjudian dan hutang-hutang Ayah itu. Selama ini aku sudah berusaha keras untuk mencukupi semua kebutuhan kita. Aku kerja jadi buruh pabrik, tapi Ayah? Setiap hari Ayah hanya menghabiskan waktu untuk berjudi dan mabuk-mabukan. Ayah sama sekali nggak mau berusaha untuk mencari pekerjaan. Aku lelah dengan semua ini, Yah," papar Milea dengan mata berkaca-kaca. "Hah?" Hendra menatap putrinya itu dengan murka. Dia tidak menyangka bahwa Milea bisa berkata lancang kepadanya. Plakk, plakk. Berkali-kali dihujaninya wajah Milea dengan tamparan. Kini wajah cantik itu telah membiru dan berlumuran darah. Namun, hati ayahnya itu tampaknya memang sudah sekeras batu. Ia sama sekali tak berbelas kasih kepada sang putri. "Ayah tidak mau tahu. Pokoknya besok kamu harus menikah, atau kamu akan mengalami hal yang lebih menyakitkan daripada ini," ancam ayahnya dengan nada kasar. Hendra tak mempedulikan lagi keadaan Milea. Ia segera menuju ke kamar dan membanting pintu sekeras-kerasnya. Brakk. "Ayah!" Milea memekik keras. Hatinya merasa sangat merana karena permintaan ayahnya yang tak masuk akal itu. Tak dapat ditahannya lagi, air mata yang sedari tadi ditahannya kini telah meleleh membasahi wajah yang penuh luka. "Huhuhu. Aku belum siap menikah, Ayah," isak Milea, seraya menelungkupkan wajah diantara kedua telapak tangannya. Malam itu berlalu dengan ratap tangis dari sang gadis bermata indah. "Kenapa ayah tega? Apa salahku?" Karena merasa kelelahan dan kesakitan, akhirnya Milea pun mulai terlelap dengan kedua matanya yang tampak sembab. Keesokan harinya .... Tok, tok, tok. "Milea, buka pintunya!" Suara Hendra membangunkan Milea dari mimpi. Dia buru-buru membukakan pintu karena takut ayahnya itu akan mengamuk lagi seperti tadi malam. Krekk. Pintu pun terbuka. Dengan takut-takut, Milea menatap ayahnya yang sedang berdiri di balik pintu dengan berkacak pinggang. Namun, bukan itu yang membuat ia tercengang. Melainkan beberapa wanita yang berada di balik tubuh ayahnya. Mereka terlihat sedang membawa barang-barang di tangannya. "Cepat mandi dan bersiap-siap. Mereka semua akan segera meriasmu," titah Hendra dengan kasar. Mata Milea terbuka lebar-lebar. Tubuhnya menjadi gemetar, dan jantungnya berdegup sangat kencang. Benarkah apa yang didengarnya barusan? "Apa, Yah? Apa maksudnya ini?" Hendra tampak mendengus kesal. Segera didekatinya sang putri yang masih tampak kebingungan. "Hari ini kamu akan menikah. Jadi para wanita ini yang akan merias kamu," terang Hendra menjelaskan. "Apa, Yah? Ayah pasti bercanda kan? Ayah nggak sungguh-sungguh menjualku kan? Huhuhu," tangis Milea pecah seketika. Dia terduduk di ambang pintu sambil menutup wajahnya yang telah berurai air mata. Hendra berjongkok dan membantu putrinya itu untuk berdiri. "Maafkan Ayah, tapi ini semua demi kebaikan kamu. Sebenarnya Ayah sangat menyayangimu. Sekarang pergilah bersiap-siap. Cup." Herman memeluk Milea dan memberikan satu kecupan di pucuk kepala putrinya. Setelah itu, ia pun berlalu meninggalkan Milea bersama para MUA. "Ayah, jangan tinggalkan aku!" Namun, ayahnya itu tak menggubris perkataanya. Milea berusaha untuk berlari dan mengejar sang ayah, tetapi tubuhnya telah lebih dulu dihadang oleh beberapa wanita perias itu. "Ayo bersiap-siap dulu, Nona," ajak salah seorang wanita. "Tapi, Bu.... Aku nggak ingin menikah," sahut Milea dengan wajah memelas. "Sudahlah. Ini kan permintaan ayah kamu dan juga Tuan Alexander. Kami ditugaskan oleh beliau untuk merias kamu. Jadi, kamu harus menuruti perkataan kami." "Tapi, Bu ...." Para wanita itu menarik Milea dengan paksa. Mereka melucuti pakaian gadis malang itu dan segera membersihkan tubuhnya. Mereka lalu memakaian gaun pengantin berwarna putih di tubuh Milea. Serta memoles wajah gadis cantik itu dengan riasan yang natural, tapi tetap elegan. Milea terlihat begitu cantik, terlebih ketika rambut hitamnya itu dibentuk sanggul, dan hanya menyisakan sedikit helai yang menjuntai di samping telinganya. Untuk menyempurnakan penampilan Milea, para MUA itu memasangkan sebuah mahkota di kepalanya. Tak lupa mereka juga memasangkan perhiasan pada tubuh gadis itu. Setelah itu, mereka pun memakaikan sepasang sepatu berwarna emas di kakinya. Perfect. Milea bak seorang putri raja yang akan dijemput oleh pangerannya. Para perias lalu memeluk Milea dan menciumi gadis jelita itu. "Sekarang kamu sudah siap untuk menikah."
Milea menatap pantulan dirinya di kaca rias. Cantik, tetapi sangat menderita. Itulah kata-kata yang akan terlontar ketika melihat sosok Milea. Dengan mata berkaca-kaca, ia meraba setiap wajahnya yang terasa sakit karena pukulan sang ayah malam tadi. "Aww." Milea merintih kesakitan. Walaupun luka lebam itu sudah tersamarkan dengan polesan yang sempurna, tapi rasa sakitnya masih saja membekas. "Ayo kita keluar. Sebentar lagi rombongan pengantin pria akan segera datang," bujuk salah seorang MUA. Awalnya Milea merasa sangat risih mengenakan gaun pengantin yang mewah ini. Sungguh, ini bukanlah keinginannya. Dia tak akan pernah bahagia seperti layaknya para pengantin di luar sana, batinnya. Para wanita yang berada di kamar itu lalu mengajak Milea untuk keluar, dan menuntunnya menuju ke ruang tamu. Sesampainya disana, betapa terkejutnya Milea ketika menyaksikan kerumunan manusia yang sudah memenuhi rumahnya. Mereka tampak berdesakan untuk masuk ke dalam rumahnya yang sempit itu. Milea terperangah melihat dekorasi di ruang tamu yang sudah diatur sedemikian rupa, untuk menyambut kedatangan sang mempelai. Sepertinya Hendra memang benar-benar berniat untuk menyengsarakan putri kandungnya itu, karena nampaknya ia telah merencanakan pernikahan ini dengan sangat detail. "Duduklah di sana." Milea melihat sang ayah yang memberi aba-aba kepadanya sembari menunjuk ke pelaminan. Gadis cantik itu memalingkan wajahnya dari hadapan ayahnya. Ia benar-benar muak dan kecewa dengan perbuatan ayahnya kali ini. Namun, ia tetap melangkahkan kaki menuju ke pelaminan. Pandangannya hampa dan langkahnya tampak gontai. Dia berusaha memutar otak agar bisa keluar dari musibah ini. Akan tetapi, ia masih belum menemukan jalan keluar untuk masalah yang dihadapinya saat ini. Tak lama setelah itu, datanglah iring-iringan mobil mewah menuju ke halaman rumah Milea. Terdapat beberapa hiasan dan untaian bunga pada mobil yang berada paling depan. Sudah pasti, itu adalah mobil milik rombongan pengantin pria. Milea menjadi gemetar ketakutan. Keringat dingin pun mulai membasahi tubuhnya. Terlebih ketika ia melihat seorang pria berusia sekitar 55 tahun, berjalan menuju ke dalam rumahnya dengan setelan jas lengkap. Disebelahnya berjalan dua orang wanita dengan setelan kebaya dan perhiasan yang serba mewah. "Tuan Alexander," gumam Hendra sambil tersenyum kecil. Milea mendadak lunglai, saat mengetahui bahwa pria itu adalah Tuan Alexander, calon suaminya. Lalu kedua wanita yang berada di sebelahnya pastilah istri dari pria serakah itu. Air matanya tiba-tiba tumpah tak tertahan lagi. Bagaimana mungkin ia bisa menikah dengan pria tua itu? "Enggak. Aku nggak bisa menikah dengan pria tua itu. Huhuhu," tangis Milea seketika. Namun, sepertinya semua orang yang berada di ruangan itu tak ada yang peduli dengan perasaannya. Mereka justru sibuk menyambut kedatangan Tuan Alexander dan kedua istrinya. Cih, benar-benar memalukan! Dengan sukacita mereka menyambut seorang pria beristri yang akan menikah lagi. Dunia ini benar-benar aneh. Suara musik dan terompet mengiringi setiap langkah dari Tuan Alexander dan kedua istrinya. Mereka bertiga tertawa kecil seraya melambaikan tangan ke arah kerumunan warga, bak seorang atlet yang baru saja meraih kemenangan. Tuan Alexander mulai berjalan menuju ke pelaminan. Hal itu membuat Milea merasa sangat khawatir. "Apa yang harus aku lakukan? Ayolah otak. Cepatlah berpikir sekarang juga," harap Milea dengan nada cemas. Beberapa saat kemudian, Milea melihat Tuan Alexander sedang berbincang-bincang dengan Hendra di depan pelaminan. Tak lama lagi pasti pria itu akan duduk menemaninya di atas pelaminan. Tidak. Hal itu tidak boleh terjadi. Milea beranjak dari duduknya. Dia melangkahkan kaki untuk turun dari pelaminan. "Eh, mau kemana, Nona?" tanya salah seorang wanita MUA kepadanya. "Eh, em, mau ke kamar mandi sebentar, Bu. Perutku sakit," dusta Milea. "Oh. Baiklah, tapi jangan lama-lama ya. Pengantin prianya sudah datang." Wanita tersebut menasihati. "I ... iya, Bu," sahut Milea gugup. Dengan langkah tergesa-gesa, ia berjalan keluar dari pelaminan. Ia segera melepaskan sepatu mewah yang sedari tadi menghiasi kakinya. Milea berjingkat-jingkat menuju ke pintu belakang. Syukurlah tak ada seorang pun yang melihat aksinya tersebut. Ia pun melancarkan niatnya untuk kabur dari acara pernikahan yang tak diharapkannya itu. Kritt. Pelan-pelan Milea membuka pintu belakang rumahnya. Saat ini pasti semua orang sedang berkumpul di ruang depan, jadi tak ada seorang pun yang berada di halaman belakang. "Mau kemana?" Degh. Langkahnya terhenti seketika. Suara seorang pria terdengar tepat dibelakangnya. "Gawat! Aku sudah ketahuan," batinnya resah. Milea terpaku selama beberapa saat. Tubuhnya terasa kaku untuk berbalik, dan melihat siapakah yang telah menegurnya. "Hei." Suara itu lagi-lagi mengagetkan Milea, bersamaan dengan tepukan di bahunya. Milea berbalik secepat kilat. Ia takut jika pria itu adalah salah satu dari kawan ayahnya. Namun, Milea tak melihat kawan ayahnya. Melainkan seorang pria berwajah tampan yang tengah mengenakan kacamata hitam dan setelan jas lengkap berwarna senada. Milea terkejut bukan main. Mungkinkah pria itu adalah salah satu anak buah Tuan Alexander? Oh, tidak! Tanpa mengucap sepatah kata pun, Milea segera berlari meninggalkan pria tampan yang masih mematung di hadapannya itu. "Hei, tunggu dulu! Mau kemana?" Terdengar pria itu berulang kali memanggilnya, tapi Milea tak menghiraukannya sama sekali. Ia terus berlari menjauh dari rumah yang selama ini menjadi saksi kehidupannya. Beberapa saat kemudian, ia memberhentikan sebuah angkot yang akan menuju ke kota Jakarta. Dia tak tahu kemana tujuannya sekarang, yang penting ia bisa terbebas dari pernikahan yang mengerikan itu. Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu. Milea yang masih mengenakan gaun pengantin, tampak tertidur pulas di dalam angkot. "Non, bangun, Non!" Ia pun segera terbangun dari mimpi indahnya, ketika suara sang sopir berhasil mengejutkannya. "Eh, iya, Pak," jawabnya dengan sedikit gugup. Ia lalu beranjak dari kursi penumpang, saat menyadari bahwa tak ada orang lain di dalam angkot itu, kecuali dirinya dan si sopir. Milea turun dari angkot dan segera membayar ongkosnya dengan sedikit uang simpanan yang tadi sempat dia bawa. Entah kemana kakinya akan melangkah kini. "Mau kemana, Non? Kok pakai gaun pengantin?" tanya sang sopir dengan ramah. Gadis bertubuh langsing semampai itu kebingungan dengan jawaban yang akan diberikannya kepada sang sopir. Ia bahkan tak mengetahui sedang berada dimana sekarang. "Mm, mau ke rumah saudara, Pak." Milea berdusta. Terpaksa dia berbohong, karena takut apabila identitasnya diketahui. Jika sampai hal itu terjadi, ia khawatir kalau Hendra dan Tuan Alexander akan langsung menangkapnya tanpa permisi. "Kalau saya boleh tahu, ini kota mana ya, Pak?" tanya Milea ragu. "Oh, ini kota Jakarta, Non," sahut sang sopir sembari menutup pintu angkotnya. Hah? Jakarta? "Saya permisi dulu ya, Non," pamit sang sopir angkot. "Baiklah, Pak. Terima kasih." Milea menganggukkan kepala. Setelah kepergian si sopir angkot, Milea masih tercengang menatap hingar bingar lalu lintas di hadapannya. Saat ini ia sedang berada di sebuah halte kota metropolitan. Milea tak tahu banyak tentang Ibukota, karena selama ini ia hanya tinggal di sebuah desa kecil di pinggiran kota. Ia juga tak mempunyai sanak saudara di kota ini. Lalu kemana langkah Milea ini akan berlabuh? "Baiklah. Aku akan memulai kehidupan baru di kota besar ini," tekadnya penuh keyakinan.
Pria berjas hitam itu masih menatap lekat-lekat ke depan sana. Perlahan ia mulai melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi dikenakannya, sehingga terlihatlah sepasang bola mata berwarna hazel yang begitu indah. "Siapa gadis itu?" gumamnya seorang diri. Pikirannya mulai melayang mengingat gadis yang baru ditemuinya tadi. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa penasaran dengan sosok sang gadis. Pria berwajah blasteran itu tampak sedang tersenyum-senyum seorang diri. "Elvan." Ia terlonjak kaget dan segera membalikkan tubuhnya, saat sebuah tepukan mendarat di bahunya. "Eh, Papa," sahut pria bernama Elvan tersebut. "Sedang apa kamu disini?" tanya sang ayah yang segera berdiri di samping putranya. "Emm, enggak, Pa," jawab Elvan dengan gugup. Papanya memperhatikan raut wajah sang anak dengan seksama. "Ada yang kamu sembunyikan? Apa kamu masih memikirkan Riana?" Papanya bertanya lagi. Elvan menoleh ke arah papanya dengan tatapan menyelidik. Ia mengerutkan keningnya pertanda heran. "M.... maksud Papa apa?" tanya Elvan dengan suara tercekat. Papanya tersenyum dan kembali menepuk bahunya. "Sudahlah. Tidak perlu dipikirkan lagi. Sekarang ayo kita temui pengantin wanitanya," ajak sang papa. "Hem, baiklah, Pa." Pria itu menganggukkan kepalanya dengan tak bersemangat. Saat Elvan dan papanya hendak melangkah meninggalkan halaman belakang rumah itu, tiba-tiba saja seseorang datang dengan raut wajah ketakutan. "Tuan Axlexander, Tuan Elvan, ada berita penting, Tuan," tutur seorang pria berkemeja hitam dan berkacamata hitam. "Berita penting apa?" tanya ayah Elvan yang ternyata adalah Tuan Alexander. "Pengantin wanitanya kabur, Tuan. Dia tidak ada di pelaminan. Kami semua sudah berusaha untuk mencarinya, tetapi hasilnya nihil," terang pria berpakaian serba hitam itu dengan wajah ketakutan. Duarr. Mata Tuan Alexander terbelalak seketika. Wajahnya merah padam menahan amarah. Tak kalah kagetnya dengan sang ayah, Elvan tampak mengepalkan tangannya dengan gigi gemeretak karena menahan emosi yang begitu besar. "Berani-beraninya dia!" bentak Tuan Alexander. "Elvan, ikuti Papa," ajaknya kepada sang putra. "Baik, Pa." Elvan menganggukkan kepala. Elvan dan papanya berjalan setengah tergesa menuju ke pelaminan. Disana mereka melihat dua orang wanita yang tak lain adalah istri dari Tuan Alexander, sedang marah-marah dan memaki Hendra habis-habisan. Sementara itu di hadapan penghulu, terduduk seorang pria yang mengenakan setelan jas lengkap. Pria berwajah tampan dan berahang tegas itu hanya terpaku di tempat duduknya dengan pandangan kosong. Ditangannya terdapat sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah. Ia hanya membolak-balikkan kotak perhiasan itu dengan raut wajah datar. Elvan dan papanya segera berjalan menghampiri Hendra yang tengah dimaki-maki oleh kedua istri Tuan Alexander. "Hendra, apa yang terjadi?" Tuan Alexander bertanya dengan nada tinggi. Hendra menundukkan wajah dengan tubuh gemetar ketakutan. Seluruh tubuhnya berkeringat dingin. "Apa yang harus aku katakan pada Tuan Alexander dan keluarganya? Milea benar-benar kurang ajar," batinnya ketakutan. "Jawab!" hardik Tuan Alexander. "Mm, anu, Tuan," ucapnya dengan terbata-bata. Elvan melangkah menghampirinya, dan .... Bughh, bughh. Pria bertubuh kekar itu menghujani Hendra dengan beberapa pukulan. Nafasnya tersengal-sengal karena emosi yang sudah memuncak. Sementara itu, para tamu yang datang di rumah Hendra berteriak-teriak ketakutan. Mereka berlarian meninggalkan lokasi tersebut. Tanpa rasa kasihan, Elvan terus menghujani Hendra dengan bogem-bogem mentah di wajahnya. Selang beberapa saat, ayahnya Milea itu sudah babak belur, dengan wajah dan tubuhnya yang bersimbah darah. "Sudah, Elvan! Cukup!" Tuan Alexander menghentikan putranya yang sudah kalap. Ia benar-benar seperti orang yang sedang kesetanan. "Tapi, Pa. Pria tua bangka ini sudah menghancurkan harapan Kak Erick," tegas Elvan dengan amarah yang memuncak. "Sudah, sudah. Tenang, Elvan. Erick tidak akan suka melihat kita seperti ini," bujuk Tuan Alexander. Setelah dibujuk oleh papanya, akhirnya ia pun mulai bisa mengontrol emosinya. Perlahan-lahan Elvan duduk dengan tenang. Ia menatap ke arah pria yang ada di atas pelaminan dengan perasaan iba. Pria itulah yang bernama Erick, kakak tiri Elvan. Walaupun Tuan Alexander memiliki dua orang istri, tetapi keduanya justru sangat akur. Dia dikarunai satu orang putra dari masing-masing istrinya. Dari istri pertama, ia mendapat buah cinta bernama Erick. Sementara dari istri kedua, ia memiliki putra yang sangat tampan bernama Elvan. Elvan dan Erick tumbuh bersama-sama menjadi seorang pemuda tampan yang mempunyai begitu banyak penggemar wanita. Mereka berdua menjadi pujaan kaum hawa dimana-mana. Namun, mereka berdua ternyata sudah memiliki tambatan hati masing-masing. Namun, karena suatu hal menyebabkan Erick harus menikah dengan Milea. Elvan menatap sang kakak dengan iba. Ingatannya beralih menuju kejadian dua tahun silam. Kejadian yang telah menghancurkan separuh kehidupan Erick. "Erick, kamu harus bahagia," gumam Elvan seorang diri. "Bagaimana ini, Elvan? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tuan Alexander berjalan mendekati Elvan dengan raut wajah penuh kecemasan. "Huft." Elvan menarik napas panjang. "Aku yang akan mencari gadis itu, Pa. Akan kupastikan supaya dia bisa menjadi istrinya Erick. Aku nggak ingin keluarga kita menanggung malu, Pa," ucap Elvan bersungguh-sungguh. Tuan Alexander menatap putra keduanya itu dengan senyum di wajahanya. Ia menepuk bahu Elvan dan segera memeluknya. "Terima kasih, Elvan. Kamu benar-benar adik yang berbakti," puji papanya. Elvan menganggukkan kepala seraya menatap ke arah Erick. "Aku rela melakukan apa pun demi kehidupannya, Pa. Setelah kepergian Maria, hidupnya menjadi berantakan. Aku ingin menata hidupnya kembali seperti dulu," terang Elvan. "Baiklah, Nak. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Tuan Alexander lagi. Elvan membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Hendra dengan sorot mata yang begitu menakutkan. Perlahan-lahan, ia mulai berjalan mendekati pria paruh baya itu. "Hendra, untuk sementara kamu harus berada di bawah pengawasanku. Sampai aku bisa menemukan putrimu yang pembangkang itu." Elvan berkata dengan nada suara yang begitu aneh. "Ma.... maksudnya bagaimana, Tuan?" tanya Hendra berpura-pura bodoh. "Nggak usah pura-pura bodoh!" bentak Elvan. Ia lalu melambaikan tangan, mengisyaratkan kepada anak buahnya untuk mendekat. Beberapa pria bertubuh kekar dan berpakaian serba hitam, datang menghampirinya dengan tergesa-gesa. "Ada apa, Tuan Elvan?" tanya salah seorang anak buahnya. Elvan tersenyum licik seraya menatap ke arah Hendra. "Penjarakan pria tak berguna ini di penjara khusus musuh! Usahakan supaya dia tak bisa kabur kemana-kemana!" Elvan memberikan perintah. "Apa? Jangan, Tuan! Jangan!" Hendra meronta-ronta melepaskan diri, ketika beberapa anak buah Elvan memborgol tangannya dan memasukkannya ke dalam sebuah mobil berwarna hitam. Para warga yang berada di sekitar tempat itu merasa sangat ketakutan melihat perbuatan Elvan yang tak mengenal ampun. Mereka segera berlari meninggalkan keluarga Tuan Alexander yang masih duduk termenung di samping pelaminan. Elvan mengepalkan tangannya dengan mata berkilat-kilat. Napasnya memburu menahan amarah. Ia membayangkan bagaimana nasib kakaknya dan juga nasib keluarganya, jika Erick ak jadi menikah dengan Milea. "Aku pasti akan menemukanmu, dasar gadis tak tahu diri," geramnya dengan amarah yang memucak.