Digoda Gairah Masa Lalu
Bab 1 Aku Annisa bukan lagi Alicia

POV Annisa Aku Annisa arsanatha, usiaku sekarang tiga puluh satu tahun, risih dengan nasehat atau pertanyaan seputar pacar, calon suami ,pernikahan. Aku selalu menghindari kumpul keluarga,reuni atau apapun itu yang berbau kumpul - kumpul. Apalagi kalau sampai bertemu teman saat SMP atau SMA, mereka pasti nanya gimana kabar Palma? Aku juga hanya bermain medsos hanya mengunggah puisi curahan hati dan menghindari pertemanan dengan orang - orang di masa lalu. Tak jarang aku merujuk kebodohanku di masa lalu, tapi saat kusadari itu sudah terjadi hanya bisa berusaha menutup lembar hitam itu. Aku hanya mengisi hari ku dengan bekerja kadang melukis di balkon kamarku. Hari ini kenangan yang aku coba lupakan tiba - tiba hadir dihadapan ku dengan segala keindahannya. Cincin putih dijari kanannya sangat menusuk hatiku. Pupus harapanku. Masih lekat panggilan nya.. "Alice" ingin rasanya aku menjawab panggilan nya, dan menanyakan kabarnya. Yups, Palma mengenalku dengan nama Alicia namaku sebelum aku berpindah keyakinan menjadi seorang muslim. Aku besar di keluarga yang sangat membebaskan kepercayaan agama, bukan hanya agama yang tertera di KTP, bagi keluarga ku agama adalah ikatan antara diri kita dengan pemilik alam semesta, bukan dengan manusia. Ibuku bernama Buru Van Halen lahir dari Oma menado dan oppa Belanda, jadilah aku menjadi wanita dengan tinggi 169 cm berkulit putih dan berambut pirang. Sedangkan ayahku Lee Jong geum asli orang Korea, alhasil mataku sipit. Seperti orang Korea lainya yang tidak memiliki agama, aku pun seperti itu, kadang aku ikut mama ke gereja, dan setelah mama meninggal aku ikut dengan kakaknya mama yang aku panggil ibu itupun karena aku tak ada pilihan, dan kakanya mama, bernama ibu muri Kemala Dewi perempuan yang sangat lembut, ibu muri hanya mempunyai seorang putra bernama Benny arsanatha yang sudah menikah dengan mbak Andini Kumala Ningrum yang biasa dipanggil dini. Dan ayahku menikah lagi dengan orang Korea setelah mama meninggal dunia. Aku memilih kembali ke Indonesia walaupun masih sering ayah datang berkunjung atau aku ke Korea, aku cucu kesayangan haramoni dan harabogi, cucu tunggal mereka. Kisah cintaku dengan Palma dimulai dari persahabatan kami dibangku SMP, Palma saat itu dua tingkat diatasku. Aku yang anak baru masuk kelas satu SMP sering di bully karena tinggi badanku dan warna rambutku. Selalu di ejek bule nyasar. Palma yang rumahnya beda blok sering mengantarku pulang atau sekedar menghiburku. Sampai saat SMA Palma menyatakan cintanya, awalnya hubungan kami tidak ada rintangan dari keluarga Palma, sampai saat Palma wisuda dan meminta orang tuanya melamar ku, dan memberitahukan kehamilan ku Om Prasetyo ayah Palma keberatan dengan perbedaan agama kami, Palma berusaha meyakin kan aku untuk belajar agama Islam saat itu, namun aku yang terbiasa melihat perbedaan dikeluarga menganggap penolakan itu hanya dalih dari ketidak sukaan keluarga Palma padaku. Aku dan Palma mengontrak sebuah flat dirumah susun masih didaerah Tebet, perutku tambah besar, aku tak berani pulang. Saat usia kandunganku lima bulan mama mengalami kecelakaan di tol Cipularang, mama meninggal ditempat. Saat berduka itu aku ditemani mbak dini dan mas Benny satu - satunya keluarga mama yang dekat dengan ku. Mbak dini yang curiga dengan perut ku, mulai khawatir dan mengajak ku ke dokter. Kebetulan adiknya mbak dini seorang dokter kandungan. Aku ceritakan semuanya. Palma sangat ingin menikahi ku. Usiaku baru tujuh belas tahun saat itu. Sampai suatu hari saat aku sendirian dirumah susun, Tante Irma ibu nya Palma datang, membawa peralatan sholat dan Qur'an, " Alice kalau kamu mau Tantu restui menjadi istri Palma, belajar lah agama Islam. Kalau sekarang kamu hamil tetap tidak akan Syah saat kalian menikah." Tante Irma memeluk ku. " Perjalanan kalian masih panjang," begitu katanya. Aku tidak berusaha mengerti ucapannya. Yang aku tahu aku ditolak. Setelah kepergian Tante Irma aku menghubungi mbak dini, karena tiba - tiba perutku kontraksi. Saat itu mbak dini juga hamil tujuh bulan. Aku dibawa oleh mbak dini dan mas Benny, aku tidak sempat berpamitan sama Palma. Tiga hari aku dirawat dirumah sakit kasih ibu, mbak dini dengan telaten menjagaku. Setelah keluar dari rumah sakit aku tinggal dengan mbak dini dan mas Benny dikediaman mereka di apartemen Casablanca. Tiba - tiba mbak dini pendarahan dan dilarikan ke rumahsakit. Entah penyebab nya apa mbak dini harus kehilangan bayinya dan juga harus diangkat rahimnya. Akhirnya atas kesepakatan kami bertiga, bayi dalam kandungan ku akan dirawat mbak dini dan mas Benny itu menjadi rahasia besar kami. Lalu mas Benny dan mbak dini mengajak ku sementara tinggal di Singapura sampai aku melahirkan. Setelah aku melahirkan putraku yang ku beri nama Bumi, aku kembali ke Jakarta dan melanjutkan kuliah dijakarta. Namun karena aku merasa tidak nyaman aku minta ayahku untuk sekolah dikorea ayahku sangat senang dengan keinginan ku kembali ke korea, hampir empat tahun aku dikorea aku memutuskan kembali ke Bandung kota kelahiranku. Hanya beberapa bulan di Bandung, aku diterima kerja diperusahan oil company dan ditempatkan di negara Jordan. Yang kebetulan ibunya mas Benny bekerja di KBRI Jordan sebagai kocak staff dan suaminya orang Indonesia keturunan Syria. Akhirnya aku kembali berkumpul dengan ibu muri dan ayah Natha. Aku kembali merasakan hangatnya sebuah keluarga. Ibu muri dana ayah Natha sama sekali tidak tahu kalau aku pernah hamil dan melahirkan. Selama aku dijordan, awalnya tidak ada sedikitpun terpikir berpindah keyakinan, ibu dan ayah tidak pernah memaksakan ataupun mengajak. Namun setiap hari aku melihat betapa damai hidup ayah dan ibu. Walaupun mereka sibuk bekerja tapi tetap menjaga hangatnya keluarga. Saat aku di Jordan aku sering berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia disana, perlahan aku mulai jatuh cinta pada Islam, aku sering ikut acara mereka dari mulai yang paling mudah seperti buka bersama saat Ramadan, mulai lah aku belajar tentang islam Sampai akhirnya aku mengambil cuti hanya untuk belajar agama Islam di Mesir. Saat aku akan membacakan syahadat, aku diberi nama oleh istri syehk Umar, umi khadizah memberiku nama Annisa Khumairah , sejak saat itu aku merubah panggilan ku menjadi Annisa, dan mengurus semua perubahan nama dari Alicia ke Annisa Khumairah namun dikantor aku memakai nama keluarga Annisa arsanatha. Aku menjadi muslim bukan karena pernikahan,tapi menjadi muslim adalah panggilan hatiku keyakinan akan Alloh Subhana wa taala, dan nabi Muhammad Saw adalah rasul nya. Banyak yang berpendapat kalau aku masuk Islam karena aku menunggu Palma. Harapan untuk kembali bersatu memang ada, tapi bukan lantas itu yang menjadi dasar aku pindah kepercayaan. Pertemuan ku dengan palma yang paling aku takuti adalah menjawab pertanyaan Palma tentang kehamilanku dulu. Dimana hubungan kami dulu karena kebodohanmu yang percaya saja ide Palma kalau hamil pasti akan dinikahkan. Entah bagaimana reaksi Palma kalau dia tau ,dia mempunya seorang putra laki - laki. Sampai akhirnya aku menerima dijodohkan dengan radit putra Sahabat ibu muri. Diantara keraguan akan masa lalu, dan keinginan memulai hidup baru, ketakutan akan terbongkarnya rahasia selalu menghantuiku. Walaupun Mbak Dini selalu meyakinkanku untuk percaya diri menyongsong masa depan. Tapi ketakutan ku tak pernah bisa membuatku tenang.

Bab 2 Palma

Bab 2. Bakisah_Digoda gairah POV Palma Namaku Palma punta Winata putra bungsu laki - laki satu - satunya dari lima bersaudara,semua kakakku perempuan. Aku dibesarkan di keluarga muslim yang taat. Walaupun aku sendiri karena terlalu dimanjakan akhirnya aku sering berbuat seenaknya. Apalagi aku ga pernah kekurangan uang. Ayahku salah satu direktur perusahaan asuransi ternama. Hari ini aku melihat sosok cinta pertamaku, wajahnya sangat mirip juga suara nya. Tapi yang berbeda wanita ini berhijab tertutup sempurna, tidak seperti cinta pertamaku yang selalu memakai kalung salib. Aku semakin yakin wanita itu Alicia kekasihku, gelang rantai giok yang dia pakai ditangan kanannya,sama persis dengan yang aku berikan saat universary kami jadian. Kebetulan aku dan keluargaku liburan ke China aku lihat sepasang gelang rantai giok yang unik modelnya, walaupun harus minta uang tambahan sama papah karena harganya ternyata mahal seharga motor baru. Papah hanya geleng - geleng kepala saat aku bilang ini akan aku berikan untuk calon mantu papah. Saat itu papah dan mamah hanya ketawa, papah dan mama menganggap cintaku pada Alicia hanya cinta monyet, saat itu aku masih duduk di bangku SMA dan Alicia masih kelas 3 SMP. Rumah kami hanya beda satu blok, dikawasan villa Tebet mas, lumayan daerah elit didaerah Jakarta Selatan. Alicia sering diganggu teman kompleks maupun sekolah karena tingginya yang diatas rata - rata dan juga mata sipit tapi berambut pirang. Dan bahasa Indonesia yang masih terasa lucu saat dia berbicara. Sampai akhirnya aku mengumumkan Alicia pacarku saat ulang tahun kakaku Yanti, Alicia yang tidak tau arti pacar hanya mengangguk mengiyakan. Sontak saja keluarga ku dan keluarga Alicia tertawa. Alicia gadis cantik, cerdas dan lugu. Dia selalu ingin belajar apapun yang dilihatnya menarik, aku selalu berusaha mengajarinya, menemani dia les bahasa,les piano, les menari. Sampai aku dijuluki ojek cinta oleh keluarga ku. Dan aku yakin wanita yang aku temui tadi adalah Alicia kekasihku yang tiba - tiba menghilang saat dia hamil hampir tujuh bulan, aku menyesal meninggalkan dia dikontrakkan dan pulang kerumah, saat aku kembali ke kontrakan di rumah susun tidak kudapati Alicia kekasihku. Hari ini aku kembali mendengar suaranya. Dan suara lembut itu, aku yakin milik Alicia. Kembali ku lihat lentik bulu matanya dan teduh tatapannya. Tatapan teduhnya, senyumnya. Cara berjalannya. Harapan itu tiba - tiba buyar saat aku dengar siapa namanya. Bukan Alicia gha Eun Lee yang kudengar. Tapi saat pak Abduh memperkenalkan dia adalah Annisa, hatiku tergugu. Apa Alicia mempunyai saudara kembar? Ingin aku tanyakan bagaimana bisa dia memakai gelang rantai giok dengan inisial P. Sampai akhirnya aku tau jawabannya, Annisa mendapatkan gelang itu hadiah dari sahabat nya. Apa Alicia yang memberikan? Wanita anggun itu Annisa ,bukan Alicia kelasihku. Aku mencoba meyakini dia bukan wanitaku. Harapanku untuk kembali dengan Alicia tak pernah pupus sampai sekarang walaupun aku sudah menikah dan mempunyai seorang putri cantik berusia tujuh tahun. Aku benar-benar menyesal telah banyak membodohi Alicia, karena aku takut kehilangan dia , aku ajak dia bersetubuh, aku memberikan pengertian yang salah saat itu, kalau orangtua aku mengetahui kita sudah melakukan hubungan badan, mereka tidak akan menolak lagi. Malam itu sepulangnya dari les piano dari daerah blok m, kami berboncengan naik motor dan tiba-tiba hujan deras.. Tapi kami malah senang berkendara sambil kehujanan,, cinta kami sangat indah.. Sampai dirumahnya hanya ada pembantu, Alicia segera kusuruh mandi dikamar mandi yang ada didalam kamarnya dan aku mandi di kamar mandi bawah setelah Alicia meminjamkan kaos dan celana pendek. Setelah mandi aku dan Alice duduk diruang TV sambil menemaninya mengerjakan tugas, aku yang sudah kuliah saat itu. Aku biasa menginap di rumahnya, aku tidur di depan tv dan Alice dilamarnya. Tapi malam itu, setelah kehujanan dan mandi kami makan berbeque dan aku mengambil sebotol soju dari lemari es lalu kami makan sambil minum soju.. tak terasa habis hampir empat botol soju.. Aku lihat pipi Alice yang meronabuatku ingin mencium nya.. Ini bukan ciuman pertama kami.. Alice pun menyambut ciumanku di bibirnya yang merah ranum.. Aku melumat nya perlahan.. Kudengar desahan nya..m aku semakin terangsang apalagi aku tidak memakai celana dalam dibalik celana pendek milik Alice yang tidak memiliki resleting. Sambil berciuman aku menggesekkan penisnya ke milik Alice sambil berdiri berpelukan dipinggir kolam renang. Tinggi badan kami yang hampir sama membuat gesekan itu semakin terasa,apalagi Alice hanya memakai kaos one peace sepaha. Aku mengeluarkan sosisku yang sudah sangat tegang... Dan menggesekkan nya diantara paha Alice sambil meremas payudara nya yang montok aku angkat kaosnya dan kubuka bra yang membungkus payudara Alice yang indah.. Dengan menempel ke dinding aku menghisap puting susu Alice yang terus mendesah... Sambil tangan ku memegang sosisku dan menggesekkan nya di belahan paha Alice.. Terasa mulai basah.. "Yani.... Hmmmm" desah Alice seperti nya mulai terangsang dengan gesekanku.. Aku coba mencari Liang yang katanya ada disitu,,, ini juga pertama untuk.. Setelah aku rasa menyentuh liang itu.. aku menusukkan sosisku perlahan.. " Ahk  sakit yank.." Alice menarik bokongnya membuat sosisku terlepas.. Aku kembali menciumi leher dan bibir Alice Lalu kami berbaring dipinggir kolam sambil melihat bintang... Aku kembali memeluk Alice dan langsung menindihnya sambil menghisap payudaranya.. Lalu turun ke perut Alice.. aku benar-benar mempraktekkan apa yang aku lihat di video porno yang sering aku lihat dengan kawan-kawanku.. Aku buka paha Alice,aku langsung ciumi vaginanya yang mulai basah.. aku jilati sambil aku amati lobangnya... Sambil menciumi bibir Alice... Aku mengarahkan kembali sosisku menuju liang vaginanya... Sleeeeeb. "Ahk sakit.." Alice sedikit berontak.. aku diamkan dulu sosisku yang baru kepalanya saja untuk beramah tamah dengan Miss v yang mungkin belum kenal dengan sosisku yang ukuranya lumayan besar dibandingkan kawan-kawan.. Setelah kurasa Alice mulai tenang dan mematut bibirku Aku mulai menekan ya lagi.. sleeb Lalu menarik sedikit dan menekan nya lagi sleeeeeb peeeerrrrt sleeeeeb akhirnya masuk semua dengan diiringi rintihan Alice... Aku lumat bibir Alice yang memutih sambil menarik dan menekan perlahan sosisku.. terasa cengkraman didalam sana... Aku tak kuat menahan mayonaise dalam sosisku yang ingin keluar karena cengkraman Miss v nya Alice... Aku segera menarik sosisku dan mengeluarkan isi mayonaise di atas perut Alice.. Lalu menciumi Alice .. kembali' aku melumat bibirnya Sosisku yang tidak juga jera meminta bercengkrama lagi dengan Miss V Alice Sleeeeeb sleeeeeb sleeeeeb... Ahk sayang ... Ahk... Sepertinya Alice mulai bisa menikmati setiap tusukan sosisku.. Aku pun semakin cepat menarik dan menekan dengan sedikit bergoyang saat menekan yang selalu dibalas Alice dengan goyangan dan desahan..  sepertinya Alice suka saat aku menggoyangkan saat menekan... Ahk yank ahk... Aku rasa denyutan Alice menguat dan tangan Alice memegang bokongku erat seolah ingin sosisku menekan lebih dalam.. keju kental dalam sosisku memberontak ingin keluar.. Aku semakin cepat menarik dan menekan sosisku.. Ahk ahk ahk.. Yaaaaannk.. Alice menarik bokong ku membuat sosisku semakin menekan masuk... Dan ahhhhhk keju ku bercampur dengan susu kental manis hangat milik Alice.. Kami berpelukan.. Sejak saat itu.. tiap hari kami melakukan hubungan seks dirumahnya. Apalagi dirumah Alicia hanya ada pembantu, ayahnya Alicia yang orang korea baru malam pulang dari pabrik, tak jarang langsung ke karaoke miliknya dibilangan blok m yang dikelola oleh istrinya, selain karaoke orang tua Alicia juga memiliki beberapa restoran Korea dijakarta Bandung dan Bali, itu sebabnya Alicia sering sendirian dirumah hanya dengan pembantu dan sopirnya. Aku bebas menginap disana, sampai kejadian Alicia hamil. Saat kami berencana memberi tahukan kehamilan Alicia, ibu Alicia Tante vury meninggal dunia karena kecelakaan mobil di jalan tol Cipularang. Akhirnya aku menceritakan keadaan Alicia pada ibuku, ibuku sangat marah dan kecewa. Tapi ibuku menjadi sangat posesif padaku, aku sama sekali tidak di izinkan menemui Alicia. Dan akhirnya Alicia memutuskan untuk melanjutkan sekolah kembali ke Korea,dalam keadaan hamil 3 bulan Alicia diantar ayahnya yang biasa aku panggil ayah Lee ke Korea. Aku tidak punya keberanian untuk bicara dengan ayah Lee padahal hubungan kami cukup dekat, ayah Lee sangat baik. Akhirnya setelah menjual motorku, aku menyusul Alicia ke Korea, hampir tiga bulan aku dikorea , kami begitu khawatir dengan perut Alicia yang semakin membesar, lalu aku putuskan membawa Alicia pulang ke Jakarta dan mengontrak rumah susun di daerah Tebet dekat kediamanku supaya memudahkan aku pulang pergi. Kami berjuang untuk mendapatkan restu keluarga ku, tapi perbedaan keyakinan tidak bisa menyatukan kami. Sampai suatu siang ka Yanti menelponku, menyuruhku pulang ibu sakit. Ada dirumah sakit Tebet. Aku izin pada Alicia untuk melihat ibuku dulu, ternyata saat aku keluar dari rumah susun, ibu mendatangi Alicia. Itupun aku tau dari tetangga sebelah kontrakan. Yang katanya Alicia menangis setelah diomongin sama mama, tapi tetangga ga denger ngomongin apa. Tidak berapa lama mama pergi katanya datang suami-istri dan membawa Alicia pergi. Dua bulan kemudia aku kembali menyusul Alicia ke Korea, tapi paman nya Alicia mengatakan kalau Alicia sudah pulang ke Jakarta. Aku datangi rumahnya , pembantu nya bilang Alicia dikorea, hanya ayah Lee yang dijakarta. Sampai aku lihat rumah Alicia sudah berganti penghuni, dan sejak itu aku kehilangan jejak Alicia kekasihku. Kalau wanita itu memang Alicia, sungguh aku menyesal karena tidak sabar menunggunya. Delapan tahun lalu aku menikahi Dewi Ratna putri dari sahabat ayahku. Dewi wanita modern dengan pergaulan high class, Dewi imut dan cantik. Aku menerima perjodohan itu karena khilafku, malam itu aku dan Dewi pergi clubing disebuah discotik di bilangan Jakarta kota. Sampai kami sama - sama mabuk. Terjadilah kejadian yang seharusnya hanya dilakukan sepasang suami istri. Dan Dewi sama sekali tidak menyesalinya dan itu bukan yang pertama kalinya Dewi lakukan. Tak ada noda darah diranjang, dan saat kutanyakan dengan enteng dia menjawab " hari gini yang masih perawan cuma anak SD" Berbeda sekali dengan Alicia, beberapa bulan kemudian Dewi mengaku hamil, awalnya aku tahu apakah memang darah dagingku, karena saat itu Dewi juga mempunyai kekasih bernama Rio teman kerjanya. Tapi Dewi kukuh kalau itu hasil perbuatanku. Akhirnya kami menikah dan lima bulan setelah pernikahan kami lahirlah mentari rizkia punta. Dewi sangat posesif, apalagi sejak Dewi menemukan album foto dan semua barang kenangan ku dengan Alicia,Dewi marah membabi buta semua barang dibakar. Dan sprei noda darah Alicia pun dibakarnya. Sampai sekarang Dewi selalu mengawasi ku, Dewi sangat takut kalau aku menemukan Alicia. Dewi khawatir kalau ternyata hubunganku dengan Alicia melahirkan seorang anak. Dewi juga ikut dalam perusahaan yang dimodali ayahku. Karena kebiasaan Dewi yang foya - foya, perusahaan kami mengalami krisis keuangan dan Dewi sama sekali tidak mau tau. Aku tahu sebenarnya papah dan mama menyesali perjodohan ini, apalagi melihat kebiasaan Dewi,terlebih saat Dewi menginterogasi mama yang ternyata mama juga menyimpan beberapa foto Alicia saat keluarga kami liburan ke Korea. Dewi sangat marah sampai membanting gelas dihadapan mama. Sejak saat itu keluarga ku berusaha tidak ikut campur dengan apapun yang berbau kecemburuan Dewi. Perusahaan perlahan mulai menuai hutang, Akhirnya aku menjual perusahaan pada Adi jaya group, selama proses akuisisi yang hampir setahun tak sekalipun aku bertemu dengan wanita itu. Baru hari ini dipertemukan, aku menjadi kembali semangat menjalankan perusahaan yang nyaris bangkrut. Berharap akan lebih sering bertemu dengan wanita itu, siapapun dia.. mata teduh itu mata kekasihku, aku yakin anaku masih hidup.

Bab 3 Masa lalu itu datang lagi.

" Palmaaaaa jangan ... Jangaaaaan..." Aku terus berteriak dan mendorong tubuh Palma yang menindih ku... Sementara Palma tidak menggubris ku.. Palma terus saja bergerak liar menjamah tubuhku,,dadaku diremasnya kuat... Hembusan nafas yang berbau alkohol begitu menyengat... "Tolong palmaaaaa,,lepaskan akuuu...." Rintihku Namun rintihan ku tidak menghentikannya.. Sreeet Palma merobek kemeja yang kupakai... Dan dengan rakus meraup isinya menjilati dengan rakus.. "Alice... Kembalilah padaku... " Bisik Palma ditelingaku "Aliiiice..... Ahk... Ahk.... " Palma mulai menggeyangi perutku dan terus meraba diantara belah pahaku... "Anak kita dimana Alice...? Bisik Palma lagi... Lalu mata kami bertatapan... Dan Palma kembali menghujani ku dengan ciuman di pipi leher dan bibir ku.... Aku mendorong tubuh Palma sekuat tenagaku.... Kriiiiiiiiing kriiiiiiiiing kriiiiiiiiing "Ahk... Mimpi itu lagi... " Aku terbangun dengan bersimbah peluh.. Pertanda apa Yaa Rabb... " Nis, hasil audit sudah keluar untuk perusahaan yang akan diakuisisi." Ranti sahabatku yang juga manager keuangan diperusahaan , tanpa mengetuk pintu nyelonong masuk ruanganku seperti biasa. " Kita lembur lagi ini mah, padahal aku udah janjian sama mas Arif mau nonton pulang kantor nanti." " Ajak lembur aja sekalian, itulah enaknya punya pacar satu perusahaan." Jawabku santai. " Ajak lembur gimana caranya, suruh dia bengong liatin kita analisa anggaran gitu? Orang lapangan kok diajak review analisa Anggaran, bisa - bisa kita langsung dipecat. Mas Arif aja udah mulai cari kerja nis, aturan perusahaan kan ketat banget, kecuali kita satu departemen baru boleh. Mas Arif material control manager, baru pacaran saja sudah kena warning." Ranti mengibaskan rambutnya lalu mengikat tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan ada kissmark di leher belakangnya " Memangnya sudah yakin nikah tahun ini ?" Godaku " Rencananya bulan depan ini, keluarga mas Arif ngelamar terus pengennya jangan lama tunangannya. Kalau bisa dua bulan tunangan terus nikah gitu nis." Jawab Ranti terlihat binar bahagia " Syukur lah, biar bisa nambah kiss marknya" jawabku yang kontan Ranti meraba lehernya dan tersipu " Kamu tuh kapan berhenti jadi jomblo, inget umur jangan ngejar karir terus. Apa masih ngincer promosi pindah ke Jakarta?" Atau promosi jadi kepala pabrik Cikarang?" Ranti menjentik pipiku. " Akmal lantai 9 rajin titip salam lho buat kamu, nis!" Goda Ranti padaku sembari  melihat lehernya dicermin Sedang asyik ngobrol, pak Abduh direktur keuangan masuk ruanganku. " Nisa, ini laporan hasil audit sudah terbit, tolong nanti di analisa anggaran kamu periksa lagi anggaran buang diajukan, besok pagi sebelum RUPS kita briefing dulu diruangan saya." "Lembur lagi kitaaaaa" ujar Ranti  sambil membuka dokumen yang menumpuk Pak Abduh melihatku dan mengeringkan matanya pada Ranti lalu Pak abduh keluar ruangan terlebih dahulu menjitak kepala Ranti, pak Abduh sudah seperti bapak kami. Beliau pimpinan yang sangat baik dan wise. ***** " Nisa, ini ada oleh - oleh dari mbak dini." Ibu memberikan shopping bag pemberian mbak dini Kakak iparku. " Mbak dini selalu saja memberi Nisa banyak oleh - oleh Bu, ga enak bisa sama mbak dini. Tiap mbak dini datang pasti bisa ga ada, bisa hanya ketemu sama oleh - olehnya saja." Aku membuka shopping bag dan mengeluarkan isi nya, ternyata satu paket skincare . Tau aja mbak dini kalau aku malas ke salon hanya sekedar facial, lebih baik dirumah praktis dan hemat. " Kamu yang kalau kerja ga ingat waktu libur,coba mulai sekarang Sabtu Minggu itu manjakan diri kamu,Nisa!" Atau sekedar kumpul keluarga, uwak mu, paman- paman mu nanti bisa lupa dengan wajah keponakannya. Sempatkan datang nanti saat walimah akad nikah sepupumu Maya, ibu ga enak selalu saja kamu ditanyakan, kanapa kamu ga pernah kumpul keluarga." Ujar ibu Aku memang enggan kumpul atau bertemu keluarga, karena pertanyaan nya selalu sama, " kapan nih ngenalin calon nya?" Apalagi ketemu mas Benny, paling malas. Rajin banget mas Benny menjodohkan aku dengan teman-temannya. " Nisa pergi dulu Bu, udah terlambat ini." Aku beranjak dan mencium tangan ibu takzim. Kirain kunci mobil di atas meja rias, berjalan keluar kamar menuju garasi. Hari ini rapat umum pemegang saham, dan akan ada perusahaan baru yang baru saja di akusisi akan bergabung. Aku memeriksa tas laptop, jangan sampai ada yang tertinggal, kunyalakan music dalam mobil perlahan, terdengar suara penyiar radio memberi informasi seputar kemacetan kota Bandung dan sekitarnya. Setelah hampir empat puluh menit mengemudi sampai juga aku dihalaman parkir kantor. " Maaf" seorang pria dengan stelan jas biru Dongker dengan wangi yang sangat aku kenal ,menubruk ku dari belakang, aku terdorong masuk ke dalam lift memang selalu seperti kalau pagi berebut masuk lift. Pria itu membetulkan letak maskernya setelah mengangguk padaku. "Degh" Palma? Kenapa ada disini? Kenapa dia ada di gedung ini? Apa ini pertanda dari mimpi-mimpi mimpi ku belakangan ini..? Untung ada masker yang menutupi wajahku, Palma tidak akan mengenali wajahku. Aku menekan angka 7 , pria itu melirik ku, dan terus melihat gelang rantai giok dipergelangan tanganku. Seger aku sembunyikan tanganku ke belakang, semoga dia tidak mengenaliku. Palma pria masa laluku, pria yang tak mampu aku hapus dari hati dan ingatan ku. Setengah berlari aku keluar lift menuju ruangan ku. Degup jantungku tapi bisa kucegah. Setelah meletakan tas dan laptop diatas meja kerjaku, aku pergi ke mushola untuk sholat dhuha. Ranti sudah duluan rupanya, aku segera melaksanakan sholat Dhuha. Saat aku melipat, perlengkapan sholat, kudengar suara Palma berbicara dengan Mira yang juga akan melaksanakan sholat Dhuha. " Mbak, maaf itu Alicia?" Kudengar suara Palma  bertanya pada Mira, " Ga ada yang namanya Alicia disini pak." Terdengar juga jawaban mira " Oh, gitu ya. Mungkin mirip." Ujarnya. Aku segera mengenakan kembali masker untuk kembali ke ruangan ku. Kulihat Palma duduk di ruang tunggu depan resepsionist. Saat aku melalui nya kudengar dia memanggilku. "Alice, Alicia" Palma memanggil ku, aku seolah tak mengenal nama itu, aku terus berjalan keruanganku tanpa menoleh.Kenapa harus kudengar lagi suara itu,? Kanapa ? Susah payah aku melupakan dan bisa seperti sekarang ini. Apakah ini bagian dari harapanku? Bagian dari dimana doa ku dikabulkan? Tiga tahun ini aku sudah bisa hidup tanpa harapan untuk kembali bahkan berharap untuk bertemupun sudah tidak ada. Hari ini waktu serasa berat aku lalui,, bayangan Palma seolah ada dipelupuk mata.. sama sekali aku tidak bisa konsentrasi dan fokus pada pekerjaan ku. Tak juga berani beranjak dari ruangan ku saat Ranti mengajakku makan siang,aku memilih nitip beli itupun tak bisa aku telan. Aku berjalan ke mushola kantor diujung lorong. Kulihat Ranti sedang mengambil air wudhu. Setelah selesai mengambil air wudhu aku tunaikan kewajiban ku sholat Maghrib, masih sempat berjamaah. Kudengar baru komat. Setelah sholat , ranti menghampiri ku. "Pucat amat nis?" " Ran, Palma... Aku lihat dia disini." Ujar ku " Maksudmu Palma masa lalumu, cinta pertama mu , Palma itu?" " Iya ran, " aku menunduk menutup wajahku dengan mukena mencoba menahan tangis yang nyaris pecah. " Apa kalian ngobrol barusan" Aku menggeleng, " Kalau emang kamu masih berharap, coba bicara dengan dia.!" Saran Ranti " Ga dan, aku ga sanggup. Lagi pula sudah bertahun- tahun, mungkin dia juga sudah menikah." Elak ku " Belum tentu nis, buktinya kamu juga masih sendiri. Pasti dia seneng lihat perubahan kamu, dan keluarga nya pasti juga merestui hubungan kalian." " Ranti, aku memilih Islam agamaku bukan karena menginginkan dia menjadi suamiku aku memilih Islam agamaku karena keyakinan ku." Protesku " Maaf nis, bukan bermaksud menyinggungmu, tapi sepertinya dia akan berpikiran seperti itu...udah yuk, kita makan dulu baru lanjut analisa lagi.!" Ajak Ranti menarik tanganku Semoga palma sudah pergi, aku belum siap bertemu dengan dia lagi. Pikiranku begitu blank, sementara aku harus fokus untuk analisa anggaran. Aku lebih banyak diam saat diskusi anggaran. Rasanya ingin cepat selesai dan masuk ke kamarku membenamkan wajah dibantal. Pukul sepuluh malam baru selesai, setelah aku save agenda RUPS hari ini, kumatikan laptop dan segera menuju tempat parkir. Perjalanan dari kantor ke rumah yang biasanya aku nikmati melihat jalan merdeka yang selalu ramai, kali ini semuanya terasa gelap. Sampai dirumah kulihat ibu masih nonton sinetron kesayangannya. " Nisa, makan dulu! Ibu masak SOP kambing tuh."ujar ibu " Nisa sudah makan Bu," jawab ku " Minum susu hangat kalau gitu, jangan sampai kamu sakit, tiap hari kok lembur." Aku cium ibu dan berjalan menuju kamarku dilantai dua. Setelah membersihkan badan dan berganti pijama, aku sholat isya terlebih dahulu. Setelah mematikan lampu kamar, aku mulai berbaring mencoba untuk tidur, tapi rasa takutku bertemu Palma terus mengganggu. Apa Palma masih berharap? Semoga tak diganggu mimpi itu lagi

Lanjut baca