Penyesalan Ibu Mertua
Bab 1 Istriku Diam

"Dek," panggilku kepada wanita yang kini tengah berada di dapur. Tidak bisa aku pungkiri, ada perasaan yang tidak nyaman menyeruak begitu saja. Ketika, mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu. "Suf! Ibu minta uang!" Suara teriakan ibuku, membuat perasan ini semakin tidak nyaman. Bagiamana bisa, wanita itu terus meminta uang kepadaku. Bukan ingin menjadi anak yang durhaka, tetapi istriku juga memerlukan uang. untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga kami. "Aku belum gajihan, Bu," jawabku dengan nada pelan. Terlihat sekali, raut tidak sukanya. Kini, dia beralih berbicara dengan istriku yang tengah sibuk memasak. "Febri! Beri Ibu uang! Kamu, pasti punya simpanan 'kan?" Namun, ada hal yang berbeda yang aku tanggap kali ini. Biasanya, istriku akan mengomel atau membalas dengan ucapan kasar kepada sang ibu. Kali ini tidak, ada apa dengan wanita yang telah beberapa tahun ini menemaniku. Walaupun, aku pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Waktu itu, tetapi dia tidak bisa bersikap sedingin ini. "Febri! Kamu gak budek, kan? Jangan jadi, menantu durhaka!" pekik ibuku. Kata-kata yang selalu, dia sematkan kepada istriku adalah menantu durhaka. Bahkan, ibu sering kali mengadu–domba kami. "Bu, jangan ribu-ribut. Ini masih pagi." Aku pun tidak bisa menahan diri dan menegur wanita itu. Tentu saja, ibu tidak akan pernah menerimanya begitu saja. "Yusuf! Ibu juga gak mau cari ribut! Ibu cuma minta uang! Masa, kalian bekerja. Tidak memiliki uang?" Bukan masalah uang yang menjadi pekara, melainkan sikap ibu yang tidak pernah meminta dengan cara yang baik. Hal itu yang terkadang, membuat aku jengah dengan wanita yang telah melahirkanku di dunia ini. "Mas, aku akan berangkat," ucap istriku tiba-tiba dan membuat aku berinsiatif untuk membantunya mengemas kota makanan kami. "kalian gak boleh pergi! Sebelum ... memberi Ibu uang!" Ibuku menghadang kami berdua, membuat aku hanya bisa membuang nafas panjang. Samapi kapan, wanita ini bisa mengerti. Jika, kami bukan anak kecil yang bisa diperlakukan seperti sekarang. Biasanya istriku akan mengeluarkan, kata-kata kasar. Namun, saat ini. Aku melihatnya masih saja diam, seribu bahasa dan dia melewati ibu dengan begitu saja. "Ferbi!" teriak ibuku, namun tidak digubris sama sekali oleh Febri. Istriku malah memeprcepat langakh kainya dan mmebuatku segra menyusul wanita itu. Meninggalkan umpatan kasar dari ibu. "Dasar! Anak durhaka! Menantu durhaka! Kalian akan masuk neraka!" Aku sedirkit meringis, mendengar kata-kata terakhir dari ibu. Mau bagaimana lagi, jika kami tidk pergi. Maka, dia akan semakin mendesak. "Dek, kamu kenapa diam, saja?" tanyaku. Ketika, kami telah berada di atas motor. Aku masih bertanya-tanya, kenapa istriku hanya diam. Tidaka ada lagi keceriaan dan tingkahnya yang mmapu menenangkan hati ini. "Dek," panggilku lagi. Namun, masih tidak ada jawaban dari wanita yang tengah aku bonceng. Hingga, kami telah memasuki area kantor. Aku meraih tangan Febri dan menatap dalam kearah mata wanita yang aku cintai. "Kamu kenapa?" tanyaku pelan. "Mas, kenapa menanyakan sesuatu yang sudah, Mas ketahui? Tidak bosankah?" Aku agak terkejut dngan jawaban yang baru saja dia sampaikan, perasaanku tidak bisa dipungkiri. Jika, merasa agak terrtekan dengan kaliamt tersebut. Namun, aku berusaha untuk menenangkan gejolak ini . Tidak mudah bagiku untuk mendapatkan lagi Febri Ayunda, istriku. "Iya, Mas tahu. Maafkan ibu, ya?" terangku dengan senyuman. Akan tetapi, dia hanya menatap kearahku dengan tatapan dingin. "Kamu, kenapa, Dek?" tanyaku penasaran. "Aku mau masuk, dulu. Masih ada bebeapa berkas yang belum siap." Aku tahu sekali, dia hanya ingin menghindar dnegan mengatakan hal itu. Aku tidka ingin menghalanginya lagi dan menyodorkan tanganku, untuk dia raih. Namun, dengan raut wajah yang tidak sedap dipandang dia meraih tanganku dan menciumnya secepat kilat dan pergi beralu begitu saja. Meninggalkan tanda tanya didalam hati dan benak ini, kenapa istriku berubah. "Biarkan saja, dia mungkin memerlukan waktu untuk meenangkan diri," gumamku di dalam batin. Berusaha untuk memahami keadaan sikis isteriku. KDRT memang bukan hanya tentang kekeasan di dalam rumah tangga yang berbasis pisik saja, tekanan dari sikis pun temasuk. Aku tidak ingin menyakiti wanita yang aku cintai itu, dengan cara mengalah dan membrikan waktu untuknya untuk tenang. Itulah caraku. Teringat akan peekrjaan yang ahrus seegra di selesaikan, aku pun memepercepat langkah. Tidak ingin dimarahi oleh atasan, terlebih aku masih ingin beekrja di sini. Walaupun kedudukan dan jabatanku rendah dari sang istri, tetapi tidak membuatku merasa berkecil hati artaupun minder. Karena, aku akan bertanggung jawab atas pekerjaan yang dimiliki dan berusaha melakukan yang terbaik. Hingga, tidak terasa beekrja jam makan siang pun telah tiba. Aku menunggu dengan sabar, kedatangan istriku. Namun, perasaan kecewa kembali datang dan menghinggapi hati ini. Aku hanya melihat kedatangan Mona, teman istrku yang datang sendirian. Aku tidak berniat untuk bertanya kepada wanita itu, karena sudah dipastikan. Jika, istriku tengah berada di ruangan Pak Martin. Pemilik sekaligus CEO disini, apalah dayaku yang hanya seorang office boy. Dari segi manapun, aku akan kalah saing dengan lelaki itu. Tetapi, beruntungnya aku memiliki Febri Ayunda yang merupakan wanita yang banyak dikejar oleh lelaki. Tidak terkecuali Pak Martin, aku yakin sekali akan hal itu. Karena, semenjak kami pernah terpisah. Pak Martin selalu saja pergi menemui istriku. Kali ini, aku telah bertekat kuat. Tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti kemarin. Bahkan, jika perlu. Aku akan mengikat istriku dengan keturuan, aku yakin jika Febri juga menginginkan hadirnya buah cinta kami. "Pak Yusuf yang etrhormat, Ibu Febri sedang ada meeting dengan Pak Martin.'' Sudah kuduga, tanpa bertanya sekalipun. Mona akan memberi tahuku. Wanita itu, langsung duduk dihadapanku dan memmesan makan siang untuknya. Sedangkan aku, mempercepat gerak tanganku, membuka kota makan siang yang telah dibuat oleh istri tercinta dan memakan dengan lahap. Hingga, semuanya tandas tidak tersisa. "Pak Yusuf, apa benar? Kalian sudah kembali rujuk?" Pertanyaan dari Mona membuatku tersedak, kenapa wanita itu harus menyinggung sesautu yang sanagta sensitif. Aku menghargai Mona, hanya karena dia teman baik istriku. Namun, jika dia ikut camur dengan masalah kami. Itu tidak etis menurutku, padahal dia merupakan wanita yang berpendiddikan. "Pelan-pelan, Pak Yusuf." Aku tidak menggubris ucapannya yang terkesan dengan nada mengejek, aku segera mengeguk air hingga tandas dan tersenyum kecut. Setelah makan siang yang tidak menyenangkan itu, aku kembali bekerja. Dengan perasaan yang sama, memikirkan kenapa istri hanya diam. Tidak terasa, hari telah sore. Semua karyawan pun satu per–satu mulai meninggalkan gedung kantor, begitu pun dengan aku. Seraya menunggu di area parkir. "Dek," panggilku. Ketika melihat sang istri, namun ada sebuah isyarat yang wanita itu lakukan. Tanganku mengepal dengan kuat. "Kenapa, dia bertingkah?" batinku geram.

Bab 2 Uang Gajian

Hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan untuk Febri, bukan hanya di rumah yang penuh akan tekanan. Di Kantor pun begitu, sang bos yang selalu banyak tingkah dan maunya. Membuat Febri harus selalu terlihat baik-baik saja, karena tuntutan pekerjaan. Dimana, profesionalitas dijunjung tinggi. Bahkan, Febri harus melewatkan makan siang bersama sang suami demi bisa menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh Pak Martin. Sang bos yang mengiming-imingi Febri dengan uang gajian yang lebih, tentu saja tidak akan di sia-siakan oleh wanita itu begitu saja. Namun, setelah sore harinya. Disaat semua tugas yang diberikan oleh sang bos telah selesai. Lelaki itu membuat Febri tercengang. "Beb, kamu temani saya bertemu dengan klien malam ini! Kita akan membahas proyek baru." Tentu saja Febri akan menyeruak ketidak–setujannya, karena hal itu merupakan tugas dari sekertaris Pak Martin. Sedangkan dirinya hanya, memenang manejemen pemasaran. Itupun masih dibawah, tidak bisa diajak untuk ke acara formal seperti yang diterangkan oleh sang bos. "mohon maaf jika saya lancang—" "Tidak ada penolakan!" balas Martin dengan cepat, sebelum Febri menyelesaikan ucapannya. Dia saat ini sedang tidak ingin di bantah. "Tapi, Pak," kata Febri dengan memohon. Raut wajah yang memelas, dia tampilkan. Agar lelaki itu mau mengerti dengan keberatan hatinya. "Saya hanya ingin kamu menemani saja, tidak untuk hal lainnya," terang Martin seraya memainkan ponsel miliknya. Hingga, terdengar bunyi notifikasi di ponsel Febri. Wanita itu pun segera mengeceknya dan terlihat sebuah nominal uang yang masuk kedalam m–mengking miliknya. Febri hanya bisa membuang nafas panjang, bagaiaman bisa menolak uang. Namun, dia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi di antara dirinya dengan sang bos. Febri pun memutar otak dan berfikir keras, baiamana caranya. Dia menghindari sang suami, walaupun hubungan rujuk mereka belum diumumkan kepada siapapun. Namun, Febri tidak ingin menyakyi hati suaminya snediri. "Tapi, saya tidak memiliki baju untuk—" "Saya sudah memesankan baju yang akan kamu kenakan malam ini! Tugas kamu hanya mengikuti saya!" balas Martin cepat dan memotong kembali ucapan Febri. Wanita itu hanya bisa pasrah, tidak ada kemungkinan lagi untuknya menghindar. Dia pun segea mengirimkan sebuah pesan chet kepada suaminya. Sebagai bentuk izin, karena Febri yang harus mengikuti perintah sang bos. Setelah mengirim pesa, Febri melanjutkan dnegan menyimpan berkas-berkas yang telah selesai dikerjakan olehnya. Kemudian menunggu Matin yang juga sudah selesai, mereka berdua berjalan beriringan dengan Febri yang membuntuti langkah panjang sang bos dari belakang. Ketika diarea pakir, dia melihat sang suami yangh seolah tengah menunggunya. Dengan memerikan isyarat, menujuk ke arah Martin yang ada dihadapannya. Berharap suaminya mengerti, sampai suara bariton Matrin terdengar memanggil namanya. "Febri! Saya tidak punya banyak waktu!" Martin berkata, seraya menatap jam tangan yang melingkar dengan indah di tanganya. Lalu, menatap kearah Febri yang berlari kecil mendekat. "Maaf, Pak," terang Febri dan mereka pun masuk kedalam mobil. Ada perasaan yang tidak nyaman menyeruak begitu saja, Febri yang sudah beebrapa hari ini mendiamkan sang suami. Karena, merasa kesal akan tindakan Ibu Sella. Sebenarnya, tidak tega. Namun, mau bagaimana lagi. Dia merasa lelah, akan semua tekanan yang dilakukan oleh ibu mertuanya dan bertekad akan membuat wanita itu menyesali. Semua yang pernah dilakukannya, kepada menantunya sendiri. Febri telah berencana, tidak akan mengunakan uang gajihannya untuk keperluan ruamh lagi. Serta, akan memberikan semuanya kepada sang ayah. Febri juga memiliki orang tua yang masih hidup dan ingin berbakti, selama masih bisa. Bukan hanya berbakti kepada suami yang baru saja datang kedalam hidupnya. Sedangkan sang ayah yang telah membesarkannya seama ini. "Beb, kamu kenapa?" Pertanyaan tiba-tiba yang Martin ucapkan membuat Febri yang melamun, sedikit tersentak dan menatap sekilas kearah sang bos. "Apa kamu memikirkan, ayahmu?" tebak Martin yang belum mengetahui. Jika, Febri telah kembali rujuk dengan Yusuf. "Semua anak, tentu saja akan memikirkan orang tuanya, Pak. Karen, mereka adalah malaikat tanpa sayap yang selalu ada untuk anak-anaknya," terang Febri dan membuang wajahnya. Dia menatap langit sore yang berwarna kejinggaan, di balik kaca mobil. Martin tidak meneruskan pembicaraan tersebut, karena menurutnya hal itu terlalu sensitif. Sebab, Martin tidak suka dengan pembahasan tentang orang tua. Dimana lelaki itu, kini tengah bersilih paham dengan sang ibu. Anatasya yang merupakan ibunya Martin, menginginkan sang putra agar segera menikah. Namun, Martin yang memendam rasa kepada Febri dan berharap bisa mendapatkan wanita itu. Hingga, membuatnya tidak ingin menjalani hubungan dengan wanita lain. Sebab, tidak ada yang seperti bawahannya tersebut. Selama perjalanan, mereka saling diam. Larut dengan pemikiran masing-masing, sampai tidak terasa. Mobil yang di tumpangi telah memasuki area rumah yang mengah. Febri mengerutkan keningnya, bingung. Sebab, sang bos yang mengatakan ingin melakukan meeting dengan klien. Malahan, mengajaknya ke rumah tersebut. "Pak, apakah kita tidak salah alamat?" tanya Febri hati-hati. "Tidak! Ayo turun," balas Martin dan segera membuka pintu mobil. Lalu, meninggalkan Febri yang menatap heran. "Apa aku mau dikerjain lagi, seperti waktu itu?" batin Febri dan mulai turun, mengikuti langkah panjang Martin. Masuk ke rumah tersebut, ada perasaan tidak nyaman yang menyeruak begitu saja. Saat, pertama kalinya Febri masuk. "Non, apakah anda Febri?" tanya seorang wanita paruh baya mengagetkan Febri. "Iya, Bu," jawabnya pelan. "Silahkan, ikut saya," ajak wanita itu dan membuat Febri hanya menurut saja. Sampai di sebuah ruangan, Febri semakin bertanya-tanya di dalam hatinya. Tentang ini semua, apa rencana Martin terhadapnya dan muslihat apa yang sang bos sedang lakukan. "Maaf, Bu. Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Febri dengan penuh selidik. "Tuan muda menyuruh saya, untuk menunjukan kamar untuk Bu Febri tempati selama di sini." "Tunggu dulu!" Febri menyela ucapan wanita itu. Dia tidak bisa terima dengan pemaksaan kali ini. "Saya akan tinggal di sini?" tanya Febri ingin memastikan dengan jelas dan mendapatkan anggukan kepala. Dari wanita yang berada di hadapannya. Febri membuang nafas panjang, tiba-tiba saja. Pasokan udara di dalam paru-parunya, terasa kosong seketika. "Maaf, ya Bu. Jika, saya lancang!" terang Febri dan kembali mengatur nafasnya dan melanjutkan ucapannya, "Saya di sini hanya ingin menemani Pak Martin meeting! Bukan, ingin tinggal disini. Siapapun tidak akan bisa menerima keadaan seperti Febri, dengan dalih bekerja. Martin ingin open BO dengannya, hal itu tidak akan pernah terjadi. Geram Febri dengan meremas kedua tangannya erat. "Maaf, Bu. Anda mungkin salah paham, meeting yang dimaksud oleh Tuan Muda. Itu—" "Apa?" tanya Febri memotong ucapan wanita tersebut. Dia tidak menerima alasan apapun juga, karena ini telah melanggar etika dan profesionalitas dirinya. "Bertemu dengan nyonya besar." Mata Febri terbelalak setelah mendengar apa yang disampaikan oleh wanita yang berada dihadapannya. "Dia mau apa, sih?" batin Febri geram.

Bab 3 Bertemu Anastasya.

Siapapun tidak akan bisa menerima keadaan seperti Febri, dengan dalih bekerja. Martin ingin open BO dengannya, hal itu tidak akan pernah terjadi. Geram Febri dengan meremas kedua tangannya erat. "Maaf, Bu. Anda mungkin salah paham, meeting yang dimaksud oleh Tuan Muda. Itu—" "Apa?" tanya Febri memotong ucapan wanita tersebut. Dia tidak menerima alasan apapun juga, karena ini telah melanggar etika dan profesionalitas dirinya. "Bertemu dengan nyonya besar." Mata Febri terbelalak setelah mendengar apa yang disampaikan oleh wanita yang berada dihadapannya. "Dia mau apa, sih?" batin Febri geram. Wanita itu pun menjelaskan dengan pelan, agar Febri tidak salah paham dengan maksud Martin. Dimana lelaki itu ingin melakukan meeting dengan ibu kandungnya sendiri, untuk melanjutkan sebuah proyek. Febri mendengarkan dengan seksama, apa yang pembantu Martin itu coba terangkan. Namun, semuanya masih belum masuk di akal. "Apa Ibu Febri mengerti?" tanya wanita itu. Febri hanya menganggukkan kepalanya kecil dan tersenyum dengan terpaksa, lalu meminta wanita itu untuk meninggalkannya sendiri. "Oh, iya Bu. Pakaian ganti anda, telah tersedia di dalam lemari." Sebelum pergi, wanita itu menyempatkan diri. Memberitahukan, hal tersebut kepada Febri dan menambah perasaan aneh serta curiga. "Terimakasih," balas Febri cepat dan segera menutup pintu kamar. Dia benar-benar geram akan Martin, bosnya itu sudah kelewatan kali ini. Febri tersenyum penuh arti, seolah ada rencana besar yang tengah dia rencanakan. Tanpa membuang banyak waktu lagi, Febri melangkah dan mendekati lemari yang dimaksud oleh pembantu bosnya itu. "Oke, aku akan mengikuti permainanmu!" gumam Febri dengan penuh arogan. Tidak banyak yang mengetahui sisi lain dari Febri Ayunda, bahkan suaminya sendiri yang tidur sekamar dengannya. Tidak mengetahui, jika Febri memiliki sifat yang tersembunyi. Febri pun segera menyambar handuk dan berlalu ke kamar mandi, sebelum hari semakin gelap. Dia sudah harus bergegas, karena akan membuat sebuah kejutan untuk Martin. Angap saja, sebuah unjuk rasa yang Febri suarakan untuk bosnya yang suka bertindak semaunya dan memberi pekerjaan yang aneh-aneh. Febri sangat piawai dalam menoles wajahnya, walaupun dalam keseharian. Wanita itu hanya menggunakan make up tipis dan natural. Namun, kali ini. Dia akan membuat Martin tercengang, emangnya lelaki itu bisa membohongi seorang Febri dengan alih-alih meeting. Apalagi, dengan ibunya sendiri dan dilakukan di rumah. Sungguh, tidak masuk di akal. Pikirnya. Hingga, suara ketukan pintu mengagetkannya. Tok Tok "Beb, apa kamu sudah selesai?" Terdengar suara Martin memanggil namnya, entah mengapa. Febri merasa tidak nyaman dengan panggilan itu, karena bisa disalah artikan. Padahal, lelaki itu hanya memanggil ujung dari namanya saja. "Sebentar lagi!" balas Febri berteriak dan segera mengoles lipstik, lalu segra menyambar tasnya. Kemudian melangkah kearah pintu, ketika Febri membuka pintu. Nampak wajah Martin yang terkejut. "Saya sudah siap, Pak," kata Febri dengan senyum yang mengembang seperti adonan kue. Namun, Martin hanya terpaku di tempatnya. Seolah tengah terhipnotis, saat melihat Febri yang berpakaian gaun dan riasan yang seperti artis Bollywood. "Pak Martin!" Febri sedikit berteriak, agar lelaki itu tersadar. "Dewi Yunani telah turun," kata Martin tanpa sadar memuji Febri yang terlihat seperti Dewi Yunani dimatanya. Hal itu membuat Febri merasa puas diri, karena berhasil membuat bosnya terpana dengan penampilannya. Dengan nakalnya, Febri menyentuh bahu lelaki itu pelan dan bertanya, "Apakah, Bapak akan diam saja? Atau, kita bisa pergi ketempat meeting?" "Aku rasa, akan membawamu ke kamar hotel." Apa yang diucapkan oleh Martin, membuat Febri tertawa lepas dan menepuk bahu bosnya itu. "Hahaha ... plis, Pak. Jangan bercanda," gelak Febri dan menarik tangan lelaki itu, menuju ke pintu utama. Martin masih belum menyangka, jika Febri yang ada di sampingnya adalah anak buahnya yang cerewet dan suka membuat dirinya tidak berhenti mengagumi wanita itu. Namun, kali ini. Martin harus akui, jika Febri benar-benar wanita idaman dan keinginan untuk memiliki wanita itu semakin tinggi. "Pak! Apakah, anda hanya akan diam saja? Atau, menjalankan mobil ini?" decak Febri. Dia ingin eting ini segera selesai dan pulang ke rumah, bisa habis dia. Jika, suaminya merajuk. Kalau, seorang istri merajuk. Palingan diajak berbelanja, akan kembali baik lagi. Tetapi, kalau para suami merajuk. Maka, akan ada bangku hantam di atas ranjang. "Pak!" teriak Febri geram. "Hah! Apa Dewiku?" tanya Martin keceplosan, memanggil Febri dengan sebutan Dewiku. "Jalan!" perintah Febri dan diikuti oleh Martin. Sekarang, seolah Febri lah yang menjadi bosnya. Sedangkan Martin adalah bawahannya, dan anehnya lelaki itu hanya menurut. Martin membawa laju mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalan raya yang telah di hiasi lampu-lampu taman sepanjang jalan. Hingga, tidak berapa lama. Mobil yang mereka tumpangi, memasuki halaman sebuah restoran mewah dan hal itu membuat Febri merasa gugup. Didalam benaknya telah terjadi perang antah–berantah, dimana dia mengira-ngira. Jika, apa yang dijelaskan oleh pembantunya Martin benar adanya. Namun, akal pikirannya menolak hal itu. Karena, tidak logis. Seorang anak melakukan meeting dengan ibunya sendiri. "Ayo, turun," ajak Martin dan kini terasa perubahan iklim dari lelaki itu. Bahkan, Febri menelan silvernya kasar. Sebelum turun dari mobil dan menyusul bosnya tersebut. "Tenang, tarik nafas. Tahan, jangan dibuang. Mumazir." Febri terus memberikan sugesti kepada dirinya sendiri dan setelah merasa tenang kembali. Dia segera menyusul Martin, ketika Febri masuk. Pandangan matanya sudah di suguhkan, oleh keadaan restoran yang sepi. Tentu saja, hal ini membuatnya semakin merasa aneh. Sampai seorang pelayan menghampirinya dan mengajak ke ruangan VIP yang telah dipesan oleh wanita bernama Anastasya. "Silahkan, masuk, Bu. Semoga harianda menyenangkan," terang pelayan lelaki itu. Setelah mengantar Febri di depan pintu dan pergi berlalu begitu saja. Tangan Febri terasa gemetar, dia memutar kanopi pintu tersebut dan mendorong pintu dengan pelan. Sampai dia bisa melihat ada Martin yang tengah duduk di hadapan seorang wanita yang terlihat elegan dan anggun. Walaupun, bisa terlihat telah berusia. "Beb! Ayo kemarin!" panggil Martin, seraya melambaikan tangannya kearah Febri. "Ayo, Beb! Kamu bisa!" Febri terus memberi semangat pada dirinya sendiri dan berjalan perlahan kearah Martin dan duduk di samping bosnya itu. Febri melakukan semuanya dengan angin' dan menampakan aura yang selama ini dipendam olehnya sejak lama. "Maafkan saya, Pak. Apakah, meeting nya sudah bisa dimulai?" tanya Febri pada inti kedatangan mereka ketempat tersebut. "Cih! Belum apa-apa, sudah membahas bisnis?" Decak wanita yang duduk dihadapan mereka, menarik perhatian Febri dan dia pun membalas perkataan wanita tersebut. "Mohon maaf, Bu. Tapi, saya kesini untuk berbisnis. Bukan, mengajak berkenalan." "Hahahaha ... kamu memang hebat, Beb." Puji Martin dan bertepuk tangan, lalu tersenyum mengejek ke arah wanita yang merupakan Anastasya. Ibunya sendiri. "Bagaimana, Ma? Dia hebatkan?" tanya Martin dan memegang kedua bahu Febri, walaupun hal itu membuat Febri merasa risih. Namun, dia tahan demi sebuah eating yang apik. "Bolehlah," balasnya dnegan malas. Setelah pembahasan tersebut, Anastasya memulai meeting mereka. Marin tidak berbohong, dia benar-benar melakukan kontrak kerja dengan ibunya sendiri. Dimana, pihak Anastasya yang menjadi klien dan penyumbang saham terbesar pada proyek yang akan mereka jalankan. Rasa penasaran dan curiga Febri beberapa jam yang lalu, semuanya telah terbantahkan. Bahkan, untuk menutupi semua itu. Febri melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin. Hingga, pihak Anastasya merasakan puas dengan pelayanan Febri dan menyetujui kontrak kerja mereka. "Baiklah, saya akan mentransfer uang yang telah disepakati. Tapi ... saya hanya ingin, kamu yang menjadi jembatannya," terang Anatasya dan menunjuk Febri. "Saya?" tanya Febri yang merasa tidak percaya dengan kesempatan emas itu. "IYa, kamu," balas Anatasya dengan anggukan kepala. "Jangan menolak rezeki," tambah Martin dan membuat Febri tersenyum. Kemudian, menyetujuinya. Setelah pembicaraan tersebut, mereka menyantap makanan yang telah dihidangkan oleh restoran tersebut. Perasaan senang, tidak bisa Febri tutupi. Bahkan, senyuman di wajahnya seakan tidak mau memudar. Sampai mereka meninggalkan tempat tersebut. Selama di dalam mobil, Martin yang mengantarkan Febri pulang. Merasakan kebahagian yang tengah wanita itu rasakan. Ketika, mobil yang ditumpangi mereka telah sampai dihalaman rumah. Martin pun mulai berbasa-basi-basi, berharap Febri mau menerimanya bertamu. "Ehem, Beb. Boleh kah saya—" "Maaf, Pak. Ini sudah malam, saya lelah dan ingin beristirahat," balas Febri cepat, sebelum Martin menyelesaikan ucapannya. Wanita itu telah berlalu begitu saja. "Gagal lagi," batin Martin dan mulai melajukan mobilnya, meninggalkan Febri yang masih berdiri di depan rumahnya. "Akhirnya, aku akan naik jabatan," gumam Febri. "Nak Febri, baru pulang kerja?" Febri segera mencari asal suara yang bertanya tersebut dan melihat tentanganya yang menatap kearahnya dengan penuh selidik. "Bisa jadi gosib, ini," batin Febri dengan memutar bola matanya jengah

Lanjut baca