Fantasi Gilaku
Bab 1 Satu

BAB 1 Tujuh tahun lalu aku dinikahi seorang laki laki pilihan almarhum Papa Mamaku. Dalam waktu tujuh tahun itu aku belum pernah merasakan apa itu orgasme. Kenapa? Bukankah hal seperti ini sangatlah penting dalam sebuah rumah tangga. Setiap kali Mas David memintaku untuk melayaninya, memang aku tak pernah menolak. Namun tak bisa ku pungkiri, aku menginginkan lebih dari apa yang selalu dilakukan oleh suami sah ku. Namaku Alice, aku putri tunggal sekaligus pewaris perusahaan kedua orangtuaku yang telah tiada akibat kecelakaan yang mereka alami dua tahun lalu. Sebelum mereka pergi meninggalkanku sendiri disini, mereka menjodohkan ku dengan laki laki pilihan mereka. Memang sikapnya sangat manis, membuat siapa saja yang menjadi pasangannya akan merasa sangat beruntung. Dia tak pernah meninggikan suara saat berbicara, tak pernah membuatku merasa terbebani, namun satu kekurangannya. Dia tak mahin memuaskan pasangan di atas ranjang. Selama ini tuhan belum menitipkan benih cinta dalam rahimku, entah mengapa, dia pun tak banyak meminta. Kami pasrahkan semuanya pada tuhan yang maha kuasa. Sebagai istri yang baik, aku selalu berpura pura mendesah agar suamiku mengira bahwa aku menikmati setiap permainannya. Namun lama lama aku pun merasa jenuh dan bosan. Aku mencoba mencari tahu tentang apa yang tengah ku alami dengan dokter pribadiku, setelah melalui beberapa pemeriksaan, nyatanya organ intim dan rahimku sehat, tak ada kurang suatu apapun. "Apa masalahnya terletak pada Mas David?" gumam ku. Seperti biasa malam ini Mas David mulai menggerayangi tubuhku, meminta sesuatu yang tak pernah memuaskan ku. "Ck.. Mas!" Untuk pertama kalinya aku malas melayani Mas David, ku belakangi tubuhnya menghadap jendela kaca berukuran besar di sudut kamar tidur kami. "Ada apa? Apa hari ini kamu kelelahan?" tanya Mas David. "Hmm.." jawabku singkat. "Ya sudah, tak apa.. Mas ngerti," balasnya seraya melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping ku. Sesekali jari Mas David menyentuh area sensitif ku, membuat libidoku memuncak. Namun jika ku minta dari Mas David, tak akan kurasakan kepuasan yang selama ini ku cari. "Aaargghh.. Sialan!" umpat ku. Ku lepaskan pelukan Mas David, lantas beranjak menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Glek.. Glek.. Glek.. Ku habiskan segelas penuh air putih yang ku ambil hingga tandas tak tersisa. Ku hempaskan bokong padat ku di atas sofa ruang TV, rasanya malas sekali melihat suamiku yang ku anggap sangat egois dalam hal seperti ini. Ku nyalakan televisi, kulihat jam menunjukan pukul 01.00 dini hari, tak sengaja channel televisi menayangkan adegan panas, seketika mataku terpaku ke layar televisi tersebut. Libidoku perlahan naik kembali, mataku tak lepas menyaksikan adegan demi adegan yang diperankan oleh sepasang manusia yang tengah dimabuk asmara. Tak terasa tanganku refleks meraba setiap inci area sensitif ku yang mulai basah oleh cairan alami. Pikiranku gelap, aku tak peduli jika nanti seseorang memergoki ku melakukan hak seperti ini. Ku lebarkan sedikit kakiku agar jemariku menjangkau belahan sensitif milikku. "Aaahh..." tak terasa desahan keluar begitu saja dari mulutku. Sensasinya jauh berbeda dengan apa yang sering dilakukan Mas David terhadapku. Aku menginginkan lebih dari ini. Akal ku semakin tak waras, ku buka celana dalam ku yang menghalangi aksi jemariku. Ku mainkan daging kecil yang merupakan puncak sensitif vaginaku. Ku buka lebar lebar kakiku, kumainkan klitorisku sambil menatap layar televisi yang masih menayangkan adegan panas. Hingga vaginaku dipenuhi oleh cairan hangat. Ku masukkan satu jariku yang kebetulan tadi siang baru ku potong kukunya di salon langganan. "Aaaaggghhh..." Benar benar nikmat, kenikmatan yang baru ku rasakan selama aku melayani Mas David. Ku naikkan tempo kocokan ku, hingga tubuhku menggelinjang. Tak puas disitu saja, ku masukkan dua sekaligus jariku agas semakin terasa pergerakannya. Ku naikkan kembali tempo kocokan ku mengikuti siaran yang tengah ku tonton, hingga posisiku kini sudah terlentang dengan membuka kedua kaki ku lebar lebar. "Aaa... Aaahhhh... Ssshhh... Aaahhh..." Aku terus saja mendesah merasakan kenikmatan yang ku buat sendiri. Hingga sepertinya sesuatu akan keluar dari dalam lubang vaginaku. "Aaaaahhhhh.... Ssshhh...." Seluruh tubuhku seperti tersetrum oleh jutaan volt listrik. Kurasakan denyutan pada lubang vaginaku, karena kedua jari ku belum ku keluarkan dari dalam sana. Sangat nikmat, sangat berbeda jauh dengan apa yang selalu Mas David lakukan terhadap ku. Baru kali ini aku merasakan kenikmatan yang luar biasa seperti malam ini. Ku kenakan kembali CD yang menutupi segitiga tak berbulu ku. Gegas ku langkahkan kaki menuju kamar, aku takut Mas David curiga terhadapku. Malam ini aku tidur sangat nyenyak. Pengalaman tadi merupakan pengalaman pertamaku setelah sekian tahun tak pernah mendapatkan orgasme dari pasangan sah ku. Esoknya.. "Sayang, kok kamu keramas sih pagi ini? Padahal semalam kan kita gak jadi ngapa ngapain," ungkap Mas David seraya memelukku dari belakang. "Memangnya keramas harus ngapa ngapain dulu gitu?" tanyaku balik. "Ya ga gitu sih sayang, hmmm... Rambut kamu wangi," ucap Mas David mengendus endus rambutku yang masih sedikit basah dengan penuh nafsu. "Ck. Mas, apaan sih, aku lagi masak ini," balasku. "Iyaa, Mas tau kamu lagi masak, yang enak ya.. Biar sekalian kamu nanti ku lahap juga," balas Mas David seraya mencubit gemas bokongku yang menurutku tak besar besar amat. Aku hanya memutar bola mata malas. Sarapan sudah tersaji, ku buatkan nasi goreng telor ceplok khusus untuk Mas David, sedangkan untukku hanya sereal dan susu, menu yang biasa ku makan setiap sarapan. "Enak sayang, makasih ya," ucap Mas David di sela ritual sarapannya. Aku hanya membalas dengan senyuman. Piring telah kosong oleh menu sarapan, seperti biasa Mas David selalu menghargai usaha istrinya yang setiap pagi membuatkannya menu sarapan. "Mas berangkat ya sayang, cup" pamit Mas David seraya mengecup lembut keningku. Ritual yang setiap hari tak pernah absen dia lakukan. "Iya Mas, hati hati, bekalnya sudah ku siapkan di mobil," balasku. "Makasih sayang," Gegas aku kembali menuju dapur untuk membereskan kembali sisa sisa sarapan tadi. Namun tak lama sepasang tangan kekar memeluk tubuhku dari arah belakang. "Loh Mas, kok gak jadi berangkat?" tanyaku. "Mas kangen sama kamu, boleh ya," pintanya. Tanpa menunggu persetujuanku, Mas David menggendongku hingga posisiku di atas meja makan yang kokoh. Aku sedikit heran, tumben sekali Mas David melakukan ini, apa karena semalam aku menolaknya. Lidah kami saling bertaut, kali ini aku sampai kewalahan dengan aksinya yang sedikit kasar. Dengan cepat dia membuka seluruh kancing bajuku hingga dua gunung kembar ku yang berukuran 34B menyembul keluar. Tak ia sia siakan kesempatan ini, dihisapnya puting kemerahan milikku hingga aku menggelinjang kenikmatan. Lidahnya menyapu setiap inci bagian tubuhku, hingga sampai didepan segitiga bermuda ku yang masih berbalut hotpants. Ia gesekkan satu jarinya hingga aku merasakan geli yang teramat sangat. "Aaaah... Geli Mas," racauku. Dengan brutal ia melepaskan hotpants ku hingga terlihatlah vagina tanpa bulu yang selama ini selalu memuaskan hasratnya.

Bab 2 Dua

BAB 2 "Aaa.. Aahh.." Aku terus saja mendesah, pura pura menikmati setiap permainan yang ia lakukan denganku. "Baby.. Kamu seksi banget pagi ini," bisiknya di telingaku. Tempo goyangannya semakin cepat, kurasa Mas David akan mencapai puncaknya namun tidak denganku. Crott.. Crott... Cairan hangat putih kental keluar dari penis berukuran besar milik suamiku, namun aku belum mencapai orgasme ku. "Cup.. Makasih baby.. Kamu memang yang terbaik," ucapnya lantas membenarkan kembali celana dan baju yang akan ia kenakan ke kantor. "Lho, gak ganti Mas?" tanyaku. Mas David menggelengkan kepalanya, "Biar wangi tubuh kamu nempel di baju Mas," balasnya. Ia lantas pergi menuju kantornya menggunakan mobil yang biasa Mas David gunakan. "Lagi lagi seperti ini, huff.." Hasratku belum sepenuhnya tersalurkan, rasanya aku ingin sekali mencapai orgasme. Aku beranjak ke kamar meninggalkan kekacauan di dapur yang belum sempat ku bereskan semuanya. Ku buka gawai ku mencari link situs film biru yang ku dapat dari temanku. Kulihat satu persatu video yang seketika menaikkan kembali libidoku. Tak terasa jariku mengelus vagina yang masih basah akibat cairan sperma Mas David yang belum sepenuhnya ku bersihkan. Ku regangkan kedua kaki ku lebar lebar, ku bayangkan seseorang memainkan klitorisku sesuai dengan apa yang ku lakukan. Vaginaku semakin basah dengan keluarnya cairan putih bening dari dalam sana. Ku percepat tempo gerakan jariku aaahh.. Rasanya nikmat sekali. Jauh lebih nikmat dari apa yang dilakukan Mas David terhadapku. Kumasukkan satu jariku ke dalam lubang vaginaku, terasa hangat. Ku lempar ponsel yang ku pegang ke sembarang arah, sekarang kedua tanganku lihai memainkan vagina yang sudah mulai berdenyut merasakan nikmat yang luar biasa. Ku percepat gerakan jariku, sesekali ku kocok bagian dalam vaginaku yang membuat tubuh ku refleks mengejang. "Aaaahhh..." desahan demi desahan keluar dari bibir mungilku, merasakan nikmat untuk yang kedua kalinya. Tiba tiba aku teringat sesuatu, dengan cepat aku berlari menuju dapur mencari sesuatu. "Yashh.. Dapat.." Sebuah mentimun yang ukurannya lumayan berada di genggamanku. Ku cuci terlebih dahulu. Ku lihat dengan seksama, ukurannya masih dibawah penis Mas David, namun aku yakin dengan ini aku bisa mencapai orgasmeku. Ku buka pahaku lebar lebar di atas meja makan, ku jilat terlebih dahulu mentimun tersebut sebelum ku masukkan kedalam vaginaku yang sudah siap menerima sodokannya. Setelah dirasa sudah basah, ku arahkan timun tersebut ke arah lubang vaginaku, "Sssshhh... Aaahh..." terasa dingin, sebab ku ambil dari dalam kulkas, namun rasanya sangat enak dan unik. Ku masukkan sampai timun tersebut tenggelam sepenuhnya dalam vaginaku. Sesekali ku remas payudaraku yang semakin mengeras, sensasi yang sangat ku harapkan ketika bercinta dengan Mas David. Ku mainkan klitorisku kembali sambil sesekali ku putar timun dalam lubang vaginaku, hingga tubuhku menggelinjang keenakan. Ku maju mundurkan dengan tempo pelan, ku rasakan kerasnya timun dingin yang memasuki area lubang milikku. "Aaaa... Aaaahhhhh...." aku telah mencapai orgasmeku, cairan putih keluar dari dalam vaginaku di iringi dengan denyutan di dinding dalam vagina. Rasanya sangat nikmat, membuatku bahagia dan selalu ingin melakukannya. *** Seperti biasa, keseharianku hanya berdiam diri di rumah, semenjak aku menikah, aku jarang sekali bertemu dengan teman sekolahku. Bukan karena Mas David melarangku, namun aku merasa sangat malas jika bertemu dengan teman teman ku dulu. Mungkin hanya satu dua saja yang sekarang masih menghubungiku. Itupun jarang, sebab kami terlalu sibuk mengurus rumah tangga. Ting... Sebuah notifikasi muncul di ponsel yang diberikan Mas David sebagai kado ulang tahun pernikahan ku tahun lalu. Terlihat disana nomorku dimasukkan salah satu admin ke dalam grup alumni sekolah SMA ku dulu. Aku hanya menyimak percakapan mereka tanpa ikut berkomentar, hingga akhirnya ada salah satu temanku yang menyarankan untuk mengadakan reuni besar besaran. Semua anggota grup seperti antusias dengan rencana yang akan di adakan tersebut. [Ehh kita semua udah fix yaa mau pada hadir, kok kembang sekolah kita dari tadi cuma nyimak aja sih,] [Ehh iya. Alice udah kalian masukin ke sini kan] [@Alice gimana ni, dari tadi nyimak terus. Ikut yaaa yaa yaaaa... ] Aku memutar bola mata malas, jariku hendak mengetik sesuatu. [Iya, kalo ga ada halangan aku pasti ikut,] balas ku. [Halangan apa siih, kalau perlu aku yang mintain ijin sama Mas David,] balas Nabila, salah satu teman sekelas ku dulu. "Mas david? Sepertinya Nabila sangat akrab sama suamiku," gumamku. [Gak usah! Nanti ku bilang sendiri,] balasku. Ponsel ku alihkan ke mode silent, semenjak aku dimasukkan ke grup alumni, ponsel tak henti berbunyi. Pikiranku tertuju pada panggilan Nabila terhadap Mas David. Setauku dulu dia tak hadir dalam pesta pernikahanku, bahkan aku tak pernah mengenalkan Mas David pada Nabila. Tapi kenapa seolah dia sangat akrab dengan Mas David. "Gak mungkin.. Gak mungkin!!!" ku buang jauh jauh pikiran negatif terhadap suamiku. Selama ini sikapnya sangat romantis, tak menunjukkan sifat mencurigakan. Di rumah sebesar ini aku hanya tinggal berdua dengan suamiku. Ditambah satu orang penjaga kebun yang setiap pukul 7 pagi membersihkan halaman rumahku yang cukup luas, selesai pukul 4 sore. Arya, pemuda kampung seberang yang menjadi tukang kebun ku. Badannya tegap berisi, kulit sawo matang dan wajah yang lumayan tampan. Mungkin karena setiap hari ia selalu berjalan kaki menuju rumahku untuk merawat tanaman di halamanku. Sebetulnya sudah ku tawarkan agar ia menetap tinggal di sini, namun ia menolak, alasannya karena ibunya di rumah tak ada yang menemani. Ayahnya sudah lama meninggal, kini ia yang menghidupi ibunya seorang diri. Beruntung ia tak memiliki adik, sehingga beban keluarganya tak seberapa. Seketika aku terbangun dari mimpi indah ku, aku teringat dapur yang masih belum sepat ku bereskan tadi pagi. "Astagaa.. Kenapa bisa sampai kelupaan gini," tukas ku. Aku berlari menuju dapur, ku bereskan kekacauan yang ku buat tadi pagi. "Eh.. Dimana benda itu," Aku mencari mentimun yang tadi pagi ku gunakan untuk mengobok-obok vaginaku hingga aku menggelinjang keenakan sampai orgasme. "Sepertinya tadi ku taruh disini," Aku mengingat ingat terakhir kali ku simpan timun tersebut, tepat di atas meja makan yang ku gunakan untuk melakukan masturbasi tadi pagi. "Masa diambil kucing? Apa iya kucing suka timun bekas vagina?" batin ku. "Ah bodo amat lah. Timun doang!" Aku tak banyak berpikir, buru buru ku bereskan semuanya, hingga aku kelelahan sendiri. Setelah selesai ku rebahkan tubuhku di atas sofa televisi sambil menikmati camilan yang ku sediakan dalam toples. ***

Bab 3 Tiga

BAB 3 "Hmmmmppsss... Wangi banget," gumam Arya. Hidungnya tak henti mengendus aroma timun yang ia genggam sedari tadi dalam kamarnya. Ya, tadi pagi tak sengaja ia melihat langsung majikannya melakukan masturbasi di atas meja makan. Untuk pertama kalinya ia melihat langsung wanita onani di depan kedua matanya, Posisi dapur yang menuju langsung ke jendela taman,membuat Arya leluasa melihat vagina majikannya yang putih mulus kemerahan dimasuki oleh sebuah timun yang sangat beruntung tersebut. Mungkin karena terlalu menghayati, majikannya tak menyadari jika ia mengintip dari balik jendela dapur. "Sungguh beruntung kamu mun," ucap Arya pada sebuah timun yang masih beraroma vagina Alice. "Hiss.. Padahal ukurannya masih lebih besar punyaku, kenapa harus benda ini yang ngerasain vagina Non Alice," gumam Arya. Semalaman ini Arya tidur dengan ditemani oleh sebuah mentimun special yang ia curi dari majikannya. Arya berharap agar malam ini ia akan memimpikan majikannya tersebut. *** Drrrttt... Drrrttt... Bunyi telepon dari ponsel Mas David membangunkan ku dari bunga tidurku. Mataku mengerjap mencari keberadaan ponsel suamiku, kulihat Mas David masih terlelap,mengingat jam masih menunjukkan pukul 2.00 dini hari. Raut wajah lelah tergambar jelas di wajah suamiku. Aku berusaha meraih ponsel Mas David tanpa menimbulkan gerakan yang bisa membuatnya terjaga. "Siapa sih malem malem gini telpon, ganggu orang istirahat aja!" Gumam ku dalam hati. Sebuah nomor yang tak suamiku simpan, tanpa foto profil dan tanpa keterangan lainnya terus saja memanggil nomor Mas David. Hingga akhirnya ku putuskan untuk mengangkat, "Halo sayang.. Kok lama banget sih ngangkatnya, aku kangeen," Deg.. Mataku membola sempurna, nafasku terasa sesak, sosok diseberang sana ternyata seorang wanita yang dikenal suamiku. "Mas? Kamu masih di sana kan? Baiklah, aku faham.. Pasti kamu takut istrimu bangun kan? Yasudah, kamu gak usah bicara, biar aku aja yang cerita ya, kamu cukup dengerin aku aja," ucap wanita tersebut. Sementara mulutku masih terkatup, tak menyangka jika Mas David melakukan hal ini terhadapku. "Mas.. Aku kangen banget sama kamu, walaupun kita selalu bertemu saat di kantor, tapi entah kenapa aku ingin sekali kamu nemenin aku dan calon bayi kita tidur di sini," "Besok seperti biasa aku bakalan kasih surprise yang pastinya bikin kamu makin tergila gila sama aku, hehe.. Besok aku bakalan pake hadiah dari kamu," Hatiku semakin panas, air mataku tak mampu lagi ku tahan. Hamil? Jadi suamiku selingkuh dengan teman kantornya sampai hamil?. "Aku pengen banget kita bisa serumah Mas, emm.. Aku harap kamu gak lupa ya sama janji kamu buat menceraikan istri kamu itu," Telingaku tak mampu lagi menampung perkataan wanita simpanan Mas David. Aku menatap tajam wajah yang selalu ku hormati di rumah ini. Laki laki yang membuatku terkurung di sini selama beberapa tahun ini, Laki laki yang membuatku membatasi pergaulanku dengan teman temanku, karena aku sangat menghargai posisinya sebagai kepala rumah tangga. Ku seka kasar air mataku, aku tak boleh cengeng seperti ini, air mataku terlalu berharga untuk menangisi laki laki culas seperti Mas David. Mas David bisa melakukan hal sekeji ini, aku pun bisa melakukan yang lebih dari ini. Tak bisa ku pungkiri, hatiku rasanya sakit, selama ini bahkan aku berpura pura mendesah agar suamiku merasa dirinya hebat, namun apa yang kudapatkan? Hanya pengkhianatan. Ku taruh kembali ponsel milik Mas David di tempat semula, ku benamkan tubuhku dibawah selimut tebal. Ku naikkan suhu AC dalam kamarku, "Hmm.. Kali aja dia mati kedinginan!" Gumam ku. Aku tau betul bahwa Mas David tak tahan dengan suhu yang terlalu dingin. Itu bisa menyebabkan ia bersin bersin hingga demam saat pagi nanti. Ku tarik semua selimut, tak ku sisakan untuk Mas David. "Lihat saja Mas, kamu yang pertama mengacungkan bendera perang, aku dengan senang hati akan mengikuti permainanmu," gumam ku dengan senyum menyeringai. Keesokan harinya.. "Ha... Hacihhh.. Hacihh..." Ku lihat hidung Mas David berwarna kemerahan, aku lantas berlari berpura pura peduli terhadapnya. "Yaampun Mas, kamu kenapa?" Tanyaku. "Gak tau ini Yang, tiba tiba hidung Mas mampet, badan Mas juga rasanya gak enak," tukasnya. Kuraba dahinya, "Astaga Mas, panas banget," teriakku pura pura kaget. "Kayaknya Mas sakit yang," Dalam hati aku bersorak, "Mampus kamu Mas! Baru gini aja kamu udah tumbang," "Yasudah Mas istirahat aja ya hari ini di rumah, gak usah ke kantor dulu," ucapku. Mas David hanya menganggukkan kepalanya pelan, "Ciee.. Yang gak jadi dikasih surprise sama ayang," bisikku. "Kamu bicara apa yang,/Mas gak denger," ucapnya dengan mata setengah terpejam. "Ah ini Mas tadi aku bilang mau buatin kamu bubur dulu," kilah ku. "Emm.. Makasih ya sayang," Aku memutar bola mata malas, lantas pergi menuju dapur untuk membuatkannya bubur spesial buatan ku. Yaa.. Sangat spesial. Satu mangkuk bubur dengan topping ayam dan kerupuk sudah terhidang. Tentunya aku tak melupakan rasa spesial yang sengaja ku buatkan khusus untuk suami tercintaku. "Mas, aku suapin ya," ucapku lembut. Perlahan mata Mas David terbuka, ia lantas menganggukkan kepalanya. Ku bantu agar ia di posisi duduk, "Aaaa....." Aku menirukan seorang ibu yang tengah menyuapi bayi kecilnya. Satu suapan mendarat di mulut Mas David, Ia terlihat mengrenyitkan dahinya. "Pahit yang, kok buburnya pait banget," ucapnya. "Masa sih Mas, itu lidah kamu aja lagi pait, kamu kan lagi sakit," kilah ku. Aku sengaja menaburkan bubuk amoxylin ke dalam bubur buatan ku. Tak bahaya bukan? Sebab suamiku juga perlu obat tersebut, namun aku hanya memvariasikan cara pemberian obatnya. Sedikit sadis, namun itu tak sebanding dengan rasa kesal ku terhadapnya. "Emm. I-iya yang.. Mungkin seperti itu," jawabnya pasrah. Aku melanjutkan menyuapi Mas David hingga bubur tak tersisa. Walaupun kerap kali wajahnya mengisyaratkan bahwa bubur buatan ku tak sesuai dengan seleranya seperti biasa. "Aaargghhh.. Aku masih penasaran, kira kira apa yang akan dihadiahkan oleh wanita jalang di kantor Mas David," gumam ku melamun di ruang televisi. Seketika sebuah ide muncul di otak cerdasku, ku putuskan untuk menggantikan suamiku hari ini di kantor, lagian aku juga masih punya kuasa atas perusahaan yang diwariskan kedua orang tuaku yang tentunya atas namaku. Aku bersiap menuju kantor suamiku, ahh.. Maksudku kantor warisan orang tuaku. Ku pilih mini dress, sepatu high heels dan polesan make up natural agar terlihat anggun. Ku pantau diriku di cermin, wajahku tak jelek, tubuhku masih sexy, power ku di atas ranjang tak usah ditanyakan, tapi kenapa Mas David masih bisa tergoda. "Mau kemana yang.. " tanya Mas David parau. "Keluar sebentar, kamu disini gak apa apa kan aku tinggal sendiri?" Jawabku. "Kamu yakin dengan dandanan seperti itu...." "Kenapa Mas? Aku cantik ya? Sudah ya.. Aku buru buru," ucapku lantas berlalu keluar. Ku lihat dari sudut mata, pandangan Mas David tak henti memindaiku hingga aku menutup pintu kamar. "Hmm.. Baru tau apa kalau istrinya juga bisa cantik," gumam ku.

Lanjut baca