Prang!!! Gelas yang dipegang Citra jatuh kelantai dan pecah karena tangannya lemas mendapat pesan dari suaminya. Wanita mana yang tidak lemas ketika suatu hari yang cerah tiba-tiba ponselnya berbunyi, dengan wajah ceria seperti biasanya Citra meraih ponselnya yang berbunyi menandakan notifikasi pesan masuk, dengan senyum dia membuka pesan yang tertera nama sang suami yang mengirimnya pesan. Seketika senyumnya sirna ketika pesan yang dia baca bukan kata-kata cinta romantis yang biasa Elang kirim untuknya melainkan pesan TALAK untuk dirinya. Iya, Elang menceraikan istrinya lewat pesan singkat. Suamiku [Citra, maafkan aku karena aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita, kamu aku TALAK, Citra Prayoga mulai saat ini kamu bukan istriku lagi. Jangan tanya alasannya apa, karena semua bukan salahmu atau salahku. Aku akan urus perceraian kita.] Citra merasa heran dan penuh tanda tanya, kalau suaminya masih mencintainya mengapa dia menceraikan dirinya. Apa kekurangannya, kalaupun ada masalah seharusnya dapat mereka bicarakan baik-baik karena selama setengah tahun ini mereka menikah selalu terbuka, masalah apapun mereka diskusikan sampai ada jalan keluarnya. Bahkan semalam mereka baru saja melakukan hubungan badan berkali-kali, tidak ada gelagat aneh dari Elang yang Citra ingat. Semalam keduanya penuh kehangatan cinta sampai melakukan permainan panas berulang kali. Dan mengucapkan kalimat cinta. Tapi kenapa tiba-tiba pagi ini Elang mengirim pesan seperti itu? Ada apa dengan suaminya, itu yang terus berputar di otaknya. Sepintas Citra berfikir kalau Elang mempermainkan pernikahan mereka, bukan cerita lama kalau pria yang kaya raya sukses mapan dan tampan mempermainkan wanita, mereka akan mengejar satu wanita dan setelah mendapatkan wanita itu dengan seenaknya mereka campakkan begitu saja. Tetapi wanita itu berusaha masih berfikiran positif pada suaminya. Air matanya terus mengalir tanpa dapat dia hentikan, sedih bingung campur aduk. Karena dia dan Elang menikah diam-diam tanpa orangtuanya ketahui. Dia seorang diri sekarang, orang tuanya jauh di kampung halaman, tidak punya saudara ataupun teman karena Citra dan Elang kawin lari, tidak memberi kabar siapapun di mana dia dan Elang tinggal sekarang. Harus mengadu kemana? [Nomer yang Anda hubungi sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.] Citra mencoba menghubungi ponsel Elang. Namun, lagi-lagi hanya operator provider nomer itu yang menjawab. "MAS ELANG ...," teriak Citra dalam isak tangisnya. *** Setelah mendapat kabar talak dari pesan yang di kirim olah Elang, Citra jatuh sakit. Tubuhnya panas tinggi, beruntung ada tetangga dekatnya yang merawat wanita itu. "Kita kerumah sakit ya, Teh," bujuk Lilis, tetangga dekat Citra yang saat ini sedang khawatir dengan kondisi Citra yang dia kenal sebatang kara. Kepala Citra menggeleng lemah. Bersama ibu RT setempat kedua orang itu merawat Citra bergantian, bahkan Lilis sampai menginap menemani Citra karena takut terjadi hal buruk pada wanita yang baru saja di talak suaminya itu. "Kenapa ya, si Aa Elang itu kok tega menalak kamu lewat pesan singkat kek gitu?" tanya Lilis setelah kondisi Citra membaik. Citra tersenyum getir dan menggeleng lemah. "Saya juga gak tau, Teh," jawab Citra Lirih. "Mas Elang tidak mungkin melakukan hal seperti ini tanpa ada sebab yang jelas," lanjut Citra menjelaskan. *** Esoknya Citra mendapat surat dari pengadilan agama, surat yang isinya gugatan cerai dari Elang. Hatinya hancur sehancur-hancurnya, sudah berkali-kali Citra menghubungi ponsel pria yang akan menjadi mantan suaminya itu tapi tidak aktif, kantor kecilnya tutup dan tidak ada seorang pun di sana, dia coba telpon kekantor lamanya di mana dulu dirinya bekerja dan Elang sebagai pemilik perusahaan tapi hasilnya nihil, mereka tidak ada yang tahu di mana Elang atau mereka merahasiakan di mana suaminya kini berada. Citra juga memberanikan diri pergi kerumah besar milik keluarga Narendra tetapi yang dia dapat malah perlakuan kasar dari security rumah itu. Segala cara sudah Citra lakukan hanya untuk sekedar bertemu Elang dan menanyakan perihal perceraian. Tapi pria itu seakan menghilang bak di telan bumi. Langkah kakinya sudah sangat lelah kesana kemari. Sekeras apapun dia tidak menemukan suaminya. "Maaf, Mbak. Pak Elang tidak ada di kantor ini," ucap Receptionis perusahaan keluar besar Narendra. "Maaf, Mbak Citra. Sudah hampir setengah tahun ini aku tidak lihat Pak Elang." "Maaf, Mbak. Kami gak tau Pak Elang di mana, emangnya ada apa? Kenapa Mbak Citra mencari beliau?" "Sebaiknya Anda pergi dari sini karena Pak Elang tidak ada di sini!' "Pergi dari sini!' Penolakan demi penolakan Citra terima dari halus sampai kasar. *** Pada akhirnya Citra pasrah dan mengikuti permainan takdir, dia datang ke Pengadilan Agama sesuai dengan tanggal yang sudah ditetapkan. Disana dia bertemu Elang yang datang bersama Ambar-neneknya. Sekarang Citra tahu di mana selama ini Elang bersembunyi darinya, di rumah besar itu rumah yang Citra datangi tapi dia di usir dari sana oleh pihak keamanan yang menjaga rumah besar itu. Ketika mereka bertemu Elang seakan menjadi pria dingin yang tidak mau menatap Citra sedikitpun. Di ruang mediasi ada dua orang pengacara, di sana mereka saling bicara dan bernegosiasi, sebagai seorang pengacara yang membela hak asasi wanita Deena-pengacara dari Citra meminta hak yang harus kliennya terima, tetapi wanita itu tidak minta apapun, padahal dia berhak menerima biaya hidup setiap bulannya sebagai janda dari Elang. "Saya tidak minta apapun, yang saya mau Mas Elang mengucapkan kata TALAK itu secara langsung di depan saya bukan melalui pesan singkat di ponsel," pinta Citra ditengah-tengah ketegangan kedua belah pihak. Ucapannya sontak membuat rahang Elang mengeras dan tangannya mengepal di dalam saku celananya. Dari awal datang tidak satu kata pun yang keluar dari mulutnya, hanya pengacaranya yang terus berbicara. Elang langsung keluar ketika mendengar permintaan Citra. Citra mengejar Elang sampai di luar ruangan, di sana ada Ambar sang nenek yang sedang duduk manis menunggu urusan cucunya selesai. "Seperti ini kah aslinya suami yang aku cintai? Seperti ini kah pria yang dulu berjanji akan mencintaiku dan bersama denganku sampai maut memisahkan?" ucap Citra dengan suara tertahan, tenggorokannya serasa ada yang mengganjal dan mencekiknya, tapi dia sekuat tenaga agar dapat berucap jelas ditelinga Elang. Langkah Elang terhenti ketika dia mendengar ucapan wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya. "Kalian tidak boleh mempertahankan pernikahan ini karena kalian berdua sedarah! Satu Ibu!" gertak Ambar dengan lantang hingga menggema. Ucapan Ambar sontak membuat kaki Citra lemas seketika, dia berusaha mencari pegangan namun tidak dapat dia raih apapun sampai dia jatuh dan pingsan. Elang ingin menolongnya tapi Ambar menahannya dan membawanya pergi bersamanya. Meninggalkan Citra tergeletak dilantai seorang diri.
Kedua pengacara keluar dari ruang mediasi mereka langsung menolong Citra ketika melihat kliennya pingsan. Pengacara Citra membawanya kerumah sakit ketika melihat kliennya jatuh pingsan di Pengadilan Agama. "Jadi klien saya kenapa, Dok?" tanya Deena pengacara Citra. "Ibu Citra saat ini sedang mengandung, itu sebabnya dia pingsan karena tensi darahnya ya rendah," jawab dokter menjelaskan sebabnya kenapa pasiennya pingsan. "Sa-saya ha-mil, Dok? Be-berapa bulan?" tanya Citra terbata karena shock mendengar dirinya tengah hamil saat sadar dari pingsan. "Menurut perhitungan saya ibu Citra hamil dua bulan, tapi untuk jelasnya kita harus USG untuk mengetahui lebih pastinya," jawab dokter. Dan saat itu juga Citra meminta Dokter itu melakukan tindakan USG, karena dia juga mau tahu berapa usia kandunganya kini, dia mau tahu berapa usia janin yang tumbuh dirahimnya sekarang. *** Air mata Citra kembali mengalir ketika melihat layar monitor memperlihatkan janin yang aktif bergerak dan sudah memiliki detak jantung itu. Dokter mengatakan janin Citra kini sudah masuk usia 8 minggu itu berarti dua bulan sudah usia jiwa baru yang saat ini tumbuh dengan baik di rahim Citra. Citra meminta pengacaranya merahasiakan ini semua dan tetap mengurus perceraiannya dengan Elang. Sepanjang jalan di lorong rumah sakit Citra terus memandangi foto hasil USG yang menunjukan gambar janinnya. "Sayang, maafin mama yah, karena ketika kamu lahir kedunia ini kamu hanya akan ditemani sama mama. Tidak ada papa yang akan mengadzani kamu. Kita hanya hidup berdua saja nanti," ucap Citra lirih sambil mengusap foto itu. "Kalau memang ini sudah takdirMu untukku dan anakku, kuatkanlah kami hambaMu ini ya Allah." Doa Citra dalam hatinya. *** Citra kembali kekampung halamannya guna menemui kedua orang tuanya dan meminta penjelasan dari mereka terutama dari Dewi-ibunya. Pikirannya saat ini sedang kacau, semua pertanyaan berputar diotaknya, pertanyaan terbesar untuknya bagaimana bisa tadi Ambar bilang kalau Citra seperti kedua orangtuanya, apa mereka saling mengenal? Sepanjang jalan menuju rumahnya dia hanya dapat menangis, sampai matanya bengkak dan pandangannya kabur karena tertutup air mata. Dan hal terbesar yang saat ini dia baru ketahui dirinya sedang hamil buah cintanya dengan Elang. *** Citra turun dari angkot yang terakhir dia naiki. Rumah kedua orang tuanya sedikit masuk dari jalan raya sehingga tidak ada angkot masuk ke sana, dan jalanannya sedikit sempit hanya motor dan sepeda yang bisa keluar masuk selain pejalan kaki. Wanita yang tengah berbadan dua itu berjalan pelan sambil menenteng tasnya yang berisikan pakaiannya dan kebutuhannya. Ditengah jalan dia bertemu seorang pria bernama Bintang. Pria yang soleh anak Kepala Desa yang sampai saat ini belum menikah juga, sudah lama dia menyukai Citra hanya saja wanita itu yang tidak meladeninya karena jarak usia mereka yang terpaut jauh. Bukan hanya usia yang berbeda, Citra merasa ilmu agamanya tidak seimbang dengan Bintang yang soleh. Citra minder jika di dekat pria itu padahal pria itu biasa saja, dia menerima Citra apa adanya. "Assalamualaikum, Citra," panggil Bintang ketika dia melihat sosok wanita yang selama ini dia sukai, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Merasa namanya dipanggil, Citra berhenti dan menoleh kearah asal suara yang menyebut namannya. "Citra," sekali lagi Bintang memanggil namannya karena Citra melanjutkan langkahnya ketika tahu siapa yang memanggil namannya tanpa menjawab salam yang dilontarkan pria itu. "Citra, stop! Mengapa kamu menghindariku?" tanya Bintang yang berhasil mengejar wanita itu lalu menarik lengannya. Langkah Citra terhenti karena lengannya ditarik pria itu. "Maaf, Mas. Tapi aku sedang buru-buru," elak Citra berbohong. "Baiklah, tapi bisakah aku minta nomer ponselmu? Aku akan mengirimmu pesan jika mau bertemu nanti setelah kamu sudah bertemu dengan kedua orang tuamu nanti," tanya Bintang dengan sopan. "Iya, Mas Bintang datang saja kerumah besok," jawab Citra setelah dia memasukan nomer ponselnya pada ponsel Bintang. Mendengar ucapan gadis yang dia cintai sejak lama akhirnya Bintang melepaskan Citra, dan membiarkan gadisnya itu pergi. *** Sepanjang jalan Citra berfikir ulang, jika dia bertanya langsung pada ibunya otomatis dia membuka aibnya dan aib Elang. Dia menikah diam-diam dengan pria pilihannya tanpa restu kedua belah pihak. Kedua orang tuanya pasti sangatlah terpukul mengetahui kenyataan pahit ini. Citra dilema memikirkan masalahnya, tapi dia juga tidak dapat menyembunyikan kehamilannya. Perutnya akan semakin membesar seiring usia janinnya dan dia tidak bisa menutupinya. Tidak terasa langkah Citra membawanya sampai di depan sebuah rumah dengan bangunan antik dan kuno. Rumah klasik yang tidak besar namun nyaman untuk pemiliknya tinggali. "Assalamualaikum, Ibu," panggil Citra lirih ketika dia melihat ibunya sedang sibuk merapihkan sembako yang baru saja dia beli dari agen lalu merapihkannya di etalase warungnya. "Waalaikumsalam, Citra," jawab Dewi dia terkejut melihat putrinya pulang. "Masya Allah, putri kesayangan ibu akhirnya pulang juga, ibu kangen banget sama kamu, Nak," ucap Dewi lembut sambil memeluk dan mencium kedua pipi Citra. "Kamu apa kabar, Sayang?" lanjut Dewi bertanya. "Alhamdulillah aku baik, Bu," jawab Citra. "Siapa Bu yang datang?" teriak Sakti dari dalam kamar menanyakan siapa tamu yang datang berkunjung kerumahnya. "Citra pulang, Yah," jawab Dewi. Mendengar nama putrinya disebut, Sakti langsung beranjak dari kasurnya dan menemui Citra di depan rumahnya. Mata Sakti berkaca-kaca karena putri satu-satunya, kesayangan mereka akhirnya ingat pulang, dia ingat rumah dan kedua orangtuanya. Citra langsung menarik tangan ayahnya dan mencium tangan yang sudah bekerja keras menghidupinya sampai dia besar, tangan yang sudah menyayanginya sedari bayi. Dia menahan tangisnya dan masalahnya agar kedua orangtuanya tidak ikut bersedih. "Ibu, putrinya pulang kenapa gak di ajak masuk?" sindir Sakti. "Astaga, aku sampai lupa Ayah saking senangnya," jawab Dewi lalu dia mengajak Citra masuk dan Sakti membawakan tas milik sang putri. Citra duduk disofa bersama Sakti sedangkan Dewi sibuk membuatkan es teh manis kesukaan Citra. "Kamu pulang untuk selamanya atau hanya beberapa hari, Citra?" tanya Sakti. "Ayah, orang baru sampai sudah ditanya begitu sih," protes Dewi sambil menaruh segelas es teh di meja dan secangkir teh panas untuk suaminya. "Bukan begitu maksud ayah, Bu. Ayah lihat tas yang dibawa Citra itu sangat berat, isinya pakaian dia banyak berarti dia mau lama di sini, ayah cuma mau memastikan," balas Sakti. "Aku mau tinggal di sini selamanya, Yah ... Bu ...," jawab Citra. Sontak senyum bahagia merekah diwajah Dewi. Tapi tidak dengan Sakti karena dia merasa curiga dengan kedatangan putrinya yang mendadak. "Kontrak kerjaku di Jakarta sudah habis, dan aku gak tau lagi harus melamar kerja di mana karena semua kantor sedang mengurangi karyawan, jadi aku milih pulang kampung saja tinggal sama Ayah dan Ibu, siapa tau di sini aku bisa dapat pekerjaan," ucap Citra menjelaskan kepulangnnya karena dia melihat wajah ayahnya yang penuh tanda tanya. "Kamu mau kerja apa di Desa seperti ini?" tanya Sakti sembari menyeruput teh yang disajikan istrinya.
Setelah berbincang dan tahu alasan kedatangan Citra, putri tunggal mereka yang sebelumnya memutuskan untuk merantau ke Kota, Sakti akhirnya melepas kecurigaan tak berdasar yang ia miliki. "Beristirahatlah jika lelah. Kita akan pikirkan rencana apa ke depannya selama kamu di sini," kata Sakti lembut. "Kamu baru pulang, pasti letih setelah perjalanan panjang." Di satu sisi, berbeda dengan Dewi. Entah mengapa, semakin mendengar Citra mengutarakan niatnya tinggal bersama mereka, justru balik dirinya yang mencurigai si putri. "Ada apa, Bu?" "Mengapa menatapku seperti itu?" bisik Citra, mengalungkan tangannya ke Dewi. "Apa ada yang salah? Ibu tidak bahagia melihatku pulang?" Wanita berwajah teduh itu menggeleng, mengusap penuh kasih putrinya. "Apa yang kamu katakan?" Meskipun nyatanya ia tidak bisa menepis fakta tengah menangkap sesuatu yang terasa janggal dari kalimat Citra, menjaga perasaan anaknya adalah yang terpenting. "Mengapa Ibu tidak bahagia melihatmu pulang? Ibu sangat merindukanmu. Melegakan rasanya bisa berkumpul kembali." *** Saat makan malam berlangsung, banyak yang keluarga kecil itu bahas. Citra berencana mengambil alih perkebunan yang dimiliki keluarganya, dan mengembangkan bisnis baru dengan modal uang yang ia miliki. Sakti juga ikut memberi beberapa saran. Mau bagaimana pun, dunia tetap harus berlanjut tidak peduli di mana Citra memutuskan untuk mencari nafkah. Baik di Kota, maupun di Desa, cara bertahan hidup tetaplah sama. Menghasilkan uang. "Karena aku ingin tinggal selamanya bersama kalian, heum, aku berharap bisnis yang kita rancang bisa bertahan hingga waktu yang lama, Yah, Bu." Ini yang kedua kalinya. Dewi menangkap Citra mengatakan hal yang serupa. Gadis itu menggunakan kata kerja 'selamanya' pada kalimat yang ia lontarkan, seolah berusaha menekankan hal tersebut. Aneh. Untuk ukuran seseorang yang telah menyimpulkan pilihannya, itu lebih terdengar seperti sedang memantapkan hati. Kalimat yang digunakan itu jelas salah. Dewi semakin takut alasan pulangnya Citra karena ada sesuatu, bukan kembali karena ingin, tetapi seperti tidak punya pilihan lain. "Kenapa sejak tadi diam saja, Bu?" Sakti menegur Dewi, melamun di meja makan adalah hal yang dilarang. "Apa yang sedang dipikirkan?" "Tidak ada, Yah. Ibu juga sedang menyimak apa yang kalian berdua bahas." Sakti mengangguk paham, "Setidaknya, beri saran untuk usaha putrimu." "Benar, Bu," timpal Citra, menekuk wajahnya. "Aku akan memulai semuanya dari awal. Harusnya Ibu mengatakan sesuatu, memberiku semangat atau semacamnya." Putrinya yang masih seringkali bermanja padahal tlah dewasa itu membuat Dewi seringkali was-was. Mereka melanjutkan acara makan bersama dalam hening. Helaan napas Dewi membuat momen itu terasa berbeda. Tidak lama, Dewi akhirnya mengutarakan apa yang membebani pikirannya. "Kamu yakin mau tinggal di sini, Nak?" Sakti dan Citra langsung saling tatap. "Apa tidak boleh, Bu?" "Apa maksudmu tidak boleh?" Sakti menanggapi lebih dulu. "Ini rumahmu, jelas saja boleh. Kamu tidak perlu bertanya apakah kami keberatan atau tidak." Dewi yang terdiam karena tidak dapat mengatakan kecurigannya hanya mengangguk setuju. "Ibu bertanya karena terakhir kali kamu mengatakan sangat suka bekerja di Kota. Itu sebabnya —" "Suka bukan berarti aku harus tinggal selamanya di sana, Bu," ucap Citra, memotong cepat. "Aku tetap harus pulang." Itu benar, hanya saja, Dewi tidak tahu semangat Citra akan memudar secepat ini. Hal yang sebelumnya begitu putrinya syukuri, mendadak berubah dengan cepat. Apa sesuatu terjadi pada Citra selama bekerja? Sungguh, memikirkannya membuat dada Dewi merasa sesak. "Terlebih lagi, memikirkan kondisi kalian di sini, tanpa siapapun yang menjaga dan merawat masa-masa tua ibu dan ayah. Lebih baik bagiku untuk tidak egois dan pergi jauh, 'kan?" Sakti satu suara terhadap penuturan putrinya. "Ibumu sangat khawatir selama kamu tinggal di Kota, terus sakit-sakitan memikirkanmu." "Keputusan yang tepat kamu pulang." Secara tidak langsung, Sakti memperingati Dewi untuk tidak membahas hal yang sama berulang kali. Ibunda Citra itu hanya bisa menunduk, menyimpan kembali kecemasannya. Berdoa jikalau memang benar tidak ada yang perlu dikhawatirkan. *** Pria yang masih terlihat tampan diusianya yang tidak lagi muda itu meraih pergelangan tangan istrinya, memberi usapan lembut. "Sudah lama tidak bicara berdua, di bawah langit malam seperti ini." "Enggak enak kalau Citra lihat, Mas." Saat Dewi hendak melepaskan genggaman itu, takut bila Citra mengejek kemesraan yang terjalin diantara keduanya, Sakti malah semakin erat menggenggam jemari-jemari mungil itu. "Lho, memang kenapa, ada yang salah dengan ini? Bukankah hal yang wajar kalau semakin menua semakin romantis, Bu." Sakti tidak setuju dengan Dewi yang tidak pernah berubah, selalu malu-malu. Wajah istrinya itu tersipu, memerah. "Kamu memang enggak pernah berubah, Mas. Dulu dan sekarang, tetap sama." "Tetap mencintaimu," goda suami Dewi itu, tersenyum sampai matanya menyipit. Spontan Dewi menepuk dada bidang Sakti, "Mas, hentikan!" Melihat wanita yang ia cintai itu tertawa membuat Sakti melanjutkan apa yang sebenarnya sejak tadi ingin ia katakan. "Aku melihatmu, saat makan tadi. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu mengenai pulangnya Citra?" Selama hampir dua puluh tahun tinggal bersama dengan pria itu, Dewi sudah berbagi banyak hal. Meski awal kedekatan yang terjalin diantara keduanya tidak pernah direncanakan ada cerita panjang di balik itu Sakti sama sekali tak pernah gagal menjadi suami yang baik, untuknya. "Aku hanya sedikit khawatir." Dewi yang selalu terbuka, untuk hal ini ia juga menceritakan kegelisahan hatinya. Pernyataannya sempat terjeda, "Aku memang senang dia kembali, Mas, tapi tidak menyangka dia akan mengakhiri kariernya dan tinggal dengan kita seperti ini." Sulit menjawab perkataan Dewi yang terdengar masuk akal. Sakti hanya diam. "Kita sama-sama tahu, Mas. Betapa senangnya ia diterima bekerja," ungkit Dewi, karena bukan hanya dirinya, Sakti juga tahu benar akan hal itu. "Benar, ini memang terdengar aneh. Kamu mencurigai ada yang dia tutupi dari kita?" tanya Sakti. Sesuai dugaan, Dewi tidak merubah keyakinannya. "Aku takut ada yang sengaja disembunyikan dari kita karena tidak ingin kita khawatir." "Bayangkan jika kita begitupun memimpikan sesuatu, lalu mendadak menyerah untuk itu, hal besar pasti terjadi, 'kan?" Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan tersebut kecuali Citra sendiri. Hanya dia yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, menimpanya di Kota tempatnya bekerja. Dewi semakin tak tenang, ia mengusap dadanya yang berdebar kencang. "Aku harus apa, Mas? Aku sangat takut putriku terlibat dalam masalah yang serius." Memikirkannya saja membuat wanita itu gelisah tanpa henti, bagaimana bila memang benar terjadi? Sakti tersenyum, menampilkan wajah damainya. Jika saat ini ia ikutan panik, memenuhi pikiran dengan hal-hal yang sama negatifnya dengan Dewi, keadaan akan jauh lebih kacau. "Kenapa berpikir begitu? Mari kita percayakan hal ini pada putri kita. Itu terdengar jauh lebih baik." Keduanya tidak tahu bahwa sejak tadi Citra berdiri tak jauh dari mereka, mendengarkan. Tatapan gadis yang dunianya hancur itu kosong, tanpa ekspresi. "Bagaimana aku bisa memberitahu kalian, Yah, Bu?" cicit Citra, "Aku bahkan tidak tahu kapan mimpi buruk ini dimulai."